Don’t Worry, I’ll Be Fine

Title                 : Don’t Worry, I’ll Be Fine

Author             : Byun Baek-hee

Main Cast        : Park Chanyeol (EXO-K’s Chanyeol)

Other Cast      : Choi Jinri (F(x)’s Sulli as EXO-K’s manager. Jadi disini ceritanya Sulli bukan member F(x) tapi manager EXO-K yaaa, dan dipanggilnya tetap Sulli, biar readers ga bingung), Wu Yi Fan (EXO-M’s Kris), Oh Sehoon (EXO-K’s Sehun)

Genre              : Friendship? Nggak yakin juga sih-__-v

Rated              : T

Length            : ONESHOOT

Disclaimer    : EXO punya tuhan yang maha kuasa, kalo FF ini sih MURNI buatan author, cerita ini bisa dibilang hampir songfic karena selain terinspirasi dari rumor  tentang matanya Chanyeol (kenapa rumor? Karena author ga tau bener apa enggak), juga terinspirasi dari lagunya SE7EN yang When I Can’t Sing, tentang kekhawatiran dan ketakutan seorang artis kalo dia udah ga famous lagi. tapi ga gitu juga sih ceritanya, makanya tadi aku bilang hampir songfic.. (readers: lah, jadinya songfic apa bukan?) ini bukan songfic yah, ceritanya ga persis kaya gitu (readers: tau ah! Kebanyakan sambutan elo nih thor!) yaudah deh, cekidot ._.

 ~O_O~

 “Do you know that who I am on screen isn’t really my everything?”

Lelaki itu menghentikan langkah kakinya lalu menatap tajam kepada seorang gadis yang berada disampingnya.

“Sudah kubilang aku tidak apa-apa! Berhentilah mengikutiku!”

“Aku tidak mengikutimu, hanya berjalan disampingmu.”

“Kalau begitu berhentilah berjalan disampingku!”

“Baik, tapi kau juga harus berhenti berjalan.”

“Tidak.”

“Kalau begitu aku tidak mau berhenti.”

Lelaki itu terus berjalan dengan kesal. Ia mempercepat langkahnya, berharap gadis itu terlalu lelah untuk mengejarnya. Namun usahanya sia-sia. Gadis itu tetap berhasil menjajarinya.

“Ya Choi Sulli! Apa kau tidak punya pekerjaan lain? Kenapa kau mengikutiku terus?!” bentaknya kesal.

“Justru aku sedang melakukan pekerjaanku. Aku kan managermu.” Jawab gadis itu kalem.

“Apakah menguntit artisnya termasuk pekerjaan para manager?” balasnya sengit.

“Menguntit? Kejam sekali kata-katamu itu Park Chanyeol.” Gadis itu mengerucutkan bibirnya, tidak terima dengan tuduhan yang ditujukan padanya.

“Lagipula aku tidak menguntitmu kok. Aku memayungimu. Jadi seharusnya kau berterimakasih padaku.”

“Berterimakasih? Aku kan tidak pernah memintamu melakukannya.”

“Memang, tapi kan ini untuk kebaikanmu juga. Bukankah sudah kubilang matamu tidak oleh menerima terlalu banyak cahaya?”

“Cukup! Aku bosan mendengarnya!”

“Kalau bosan, kenapa tidak kau lakukan saja apa yang kusuruh?”

“Melakukan apa? Berdiam di dorm seharian, lalu keluar rumah hanya pada malam hari ketika matahari sudah tidak bisa lagi menyilaukan mataku?”

“Aku kan tidak pernah bilang begitu,” Sulli menghela napas. “Aku bilang kau harus pakai kacamata hitam kalau mau keluar rumah.”

“Haruskah? Lalu bagaimana kalau aku tidak mau melakukannya?”

“Maka aku akan memayungimu terus seperti ini.”

“Sudah kubilang berkali-kali aku baik-baik saja! Tidak perlu menghawatirkanku seperti itu!”

“Kau tidak sedang baik-baik saja, Park Chanyeol. Dan kau tau benar hal itu.”

~O_O~

Flashlight dari kamera para jurnalis langsung menyerbu begitu pintu masuk S.M.ART Exhibition dibuka. Menerpa keduabelas lelaki yang berjalan memasuki ruangan.

Keduabelas lelaki itu membentuk formasi memanjang kesamping, bersiap menyerukan jorgan andalan mereka.

“Hana, dul, set.” Suho, sang leader memberi aba-aba.

“We are one! Annyeonghaseyo EXO imnida!” pada member berseru serentak. Membuat yang ada di ruangan tersebut tidak bisa untuk tidak bertepuk tangan. Sekaligus membuat puluhan, bukan, ratusan flashlight kamera menghujani mereka dalam hitungan detik.

Chanyeol menyipitkan kedua matanya. Mencoba meminimalisir cahaya yang diterima matanya sambil masih tersenyum. Senyum yang biasanya, senyuman Chanyeol yang ceria dan menggemaskan.

Sudah beberapa menit berlalu sejak mereka berdiri di hadapan para wartawan, namun suara jepretan kamera dan cahayanya yang menyilaukan belum juga mereda, bahkan tidak ada tanda-tanda akan berhenti.

Chanyeol mengedipkan matanya beberapa kali. Berusaha menemukan fokus matanya kembali. Bukan apa-apa, matanya berair dan ia tidak bisa melihat dengan jelas. Bertahanlah Park Chanyeol, semua ini baru dimulai.

Press screening hampir dimulai. Chanyeol memalingkan wajahnya ke belakang untuk sekedar mengedip-kedipkan matanya sedikit lebih lama. Ia harap segalanya akan tampak lebih jelas. Namun kenyataannya sama saja.

Kris berada di samping kanan Chanyeol menyadari hal tersebut,lalu menoleh pada Chanyeol. Ia tau Chanyeol seharusnya tidak berada di tempat yang terlalu terang seperti ini. Karena bisa jadi keadaan matanya bertambah buruk.

Kris menyenggol bahu Chanyeol dengan maksud ikuti-saja-kearah-mana-aku-menghadap. Ia bermaksud memberi tahu Chanyeol dimana kameranya berada. Tentu saja selain untuk memudahkan Chanyeol, juga agar fans tidak menyadari kerusakan mata Chanyeol telah memberikan dampak yang begitu besar.

Surga cahaya yang serasa neraka bagi Chanyeol itu akhirnya berakhir. Para member sudah akan beranjak dari tempat mereka berada. Namun langkah kaki Chanyeol terhenti sejenak, ia mengedip-kedipkan matanya lagi, berusaha memperjelas pandangannya. Tentu ia tidak mau menabrak seseorang atau tersandung sesuatu. Hal ini menyebabkan Sehun yang berada tepat di belakangnya menabrak punggung Chanyeol yang tegap.

“Ada apa,hyung?” tanya Sehun.

Chanyeol hanya tersenyum tipis, lalu kembali berjalan.

~O_O~

Hari sudah menjelang larut malam. Rangkaian acara yang melelahkan telah berhasil mereka lewati. Kini ia tengah duduk di dalam mobil sembari meregangkan otot-otot kakinya yang tegang akibat berdiri seharian.

Diliriknya Kyungsoo yang sibuk dengan smartphone miliknya. Baekhyun yang biasanya berisik pun kini sudah terlelap. Mungkin saking lelahnya.

Bingung mau melakukan apa, akhirnya ia memutuskan membuka fanboard EXO-K. Ditulisnya beberapa kalimat pesan disana.

Hello! I am EXO-K’s Happy Virus Chanyeol!

Today’s event was so tiring. Thank you for coming! Sleep well everybody!^^

(Halo! Aku Happy Virus dari EXO-K, Chanyeol! Kegiatan hari ini sangat melelahkan. Terimakasih sudah datang! Tidur yang nyenyak ya semuanya!^^)

Beberapa detik setelah ditulisnya pesan itu, ratusan balasan mulai masuk.

Kau juga, Oppa! Kau telah berusaha dengan sangat baik! Fighting!

Kenapa kau belum tidur,oppa? Tidurlah, kau harus bersiap untuk aktivitasmu besok,kan? Fighting!

Chanyeol tersenyum. Dilanjutkannya lagi membaca balasan pesannya.

Kemeja itu sangat cocok untukmu,oppa! Kau tampan sekali!

Ah, rasanya aku ingin merubah formasi kalian. Seharusnya kau berdiri disamping Baekhyun oppa! Kalian manis sekali

Namun tak lama kemudian senyum Chanyeol lenyap. Sebuah pesan mengejutkan dirinya. Tidak, beberapa pesan sebenarnya.

Apa matamu baik-baik saja,oppa? Jangan terlalu memaksakan dirimu

Istirahatlah dengan baik,oppa! Semoga kau cepat sembuh

Tidurlah,oppa. Temanku bilang kau harus banyak istirahat agar matamu tidak terus memburuk.

Kalau aku sudah besar, aku akan menciptakan kamera super canggih yang dapat memfoto dengan sangat bagus tanpa flashlight, agar tidak menyilaukan matamu,oppa! Istirahatlah oppa!

Chanyeol terdiam. Apakah kabar itu sudah menyebar? Secepat itukah?

Setelah lama merenungi hal itu,ia lalu sign out dari akunnya, mencolokkan kabel headset, lalu bersiap untuk tidur. Perjalanan masih agak jauh, jadi ia memilih all song untuk diputar di iPodnya. Ia lalu memejamkan matanya. Sebuah lagu mengalun pelan di telinganya.

Maega modeunkeol irheodo nae ingiga tteoreojyeodo

(Even if I lose everything, if my popularity drops)

Deo isang norael mothago dareun jikeobeul kajyeodo

(Even if I can’t sing, if I get different job)

Naraneun iyumaneuro nal kyesok saranghae jul su inni

(Will you will be able to love me for who I am?)

Hwahmyeone naoneun nae moseubi jincha nae jeonbuga aniran geon algo inneunji

(Do you know that who I am on screen isn’t really my everything?)

Jashinkam neomchineun nae moseubi nal deo buranhage haneun geon algo inneunji

(Do you know that my overflowing makes me even more anxious?)

Hwahryeohan jomyeong soge seoinneun moseub dwiie jinhan geurimjaga jigo isseo

(Standing under the flashing lights, there’s a thick shadow behind me)

Eonjenkan oge dwehketji 

(Someday the day will come)

Hamseong soriga jureodeun mudaereul naeryeowahseo

(I’ll come down from the stage where the cheers have decreased)

Nae eokkaega cheojimyeonseo

(As my shoulders drop down)

Kogaega tteolkwojil ttae (keuttaedo) 

(My head hung low)

Nae yeope niga seo isseulleonji

 (Will you stand by my side?)

[SE7EN – When I Can’t Sing]

 ~O_O~

“Park Chanyeol! Mau kemana kau?” Sulli menghampiri Chanyeol yang sudah bersiap-siap pergi.

“Mau jalan-jalan.” Jawab Chanyeol singkat.

“Kemana?”

“Ke taman kota.”

“Bersama member lain?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Sendirian.”

“Kalau begitu aku ikut ya! Tunggu sebentar!”

Chanyeol tidak menggubrisnya. Bukannya menunggu, ia malah sudah berangkat duluan.

Sampai di taman kota, Chanyeol memilih duduk di salah satu bangku taman. Yang menghadap ke danau. Hari ini cuaca cerah sekali. Banyak orang yang datang ketaman untuk bermain atau sekedar berjalan-jalan. Anak-anak kecil juga sedang bermain bersama teman-teman sebayanya. Dan Chanyeol menikmati pemandangan itu.

Pluk.

Sebuah topi mendarat diatas kepala Chanyeol. Tanpa menoleh pun Chanyeol sudah tahu siapa yang melakukannya.

“Ya! bukannya sudah kuminta kau menunggu? Kenapa kau meninggalkanku?” protesnya sembari duduk disamping Chanyeol.

Chanyeol diam saja. Percuma meladeni gadis itu. Sulli selalu menang hampir pada setiap perdebatan dengannya.

“Apa ini?”

“Apanya yang apa?”

“Topi ini,” Chanyeol melepas topinya. “Untuk apa kau membawa-bawa topiku kemari?”

“Kalau kau tidak mau memakai kacamata hitam saat bepergian, setidaknya pakailah topi.” Jawab Sulli.

“Aku tidak tau topi mana yang kau suka, jadi aku ambil saja salah satu yang ada di koleksi topimu. Hehe.” Sulli tertawa garing.

Belum sempat Chanyeol menjawab, datanglah beberapa orang yeoja menghampiri mereka berdua. Diantara mereka ada yang membawa camdig dan sisanya membawa buku tulis dan pulpen. Tebak apa yang akan mereka lakukan.

“Chanyeol oppa!” seru mereka.

Chanyeol melemparkan senyumnya yang ceria pada penggemar-penggemarnya itu.

“Oppa, maukah kau menandatangani bukuku?”

“Oppa! Bolehkah kami berfoto denganmu? Sekali saja!”

Chanyeol mengangguk, lalu satu persatu dari mereka berpose disamping Chanyeol yang sedang tersenyum riang seperti biasanya.

“Gamsahamnida!”

Setelah puas, akhirnya yeoja-yeoja itu pun pergi.

“Ada apa?”Chanyeol menyadari Sulli memperhatikannya sejak tadi.

Sulli menggeleng. “Ani, tidak apa-apa.”

“Kenapa kau selalu tersenyum seperti itu?”

“Apa?” Chanyeol memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.

“Kau… dan member lain, ketika kalian lelah, sedih, atau sedang tidak enak adan sekalipun, kenapa kalian selalu tersenyum di hadapan mereka?”

Chanyeol terdiam agak lama. Kemudian ia menjawab.

“Karena aku suka tersenyum. Kata orang-orang, aku terlihat lebih tampan kalau sedang tersenyum lebar seperti itu.”

Sulli menatap ke arah Chanyeol dengan tatapan tak percaya.

“Kau tidak jago berbohong, Park Chanyeol,”

“Baekhyun, Jongin, Luhan oppa, dan dirimu… kalian pernah, bukan, sering melakukan hal yang sama. Sering menggunakan senyuman sebagai topeng kalian. Haruskah kalian melakukan itu? Membohongi mereka?”

“Orang-orang yang menyayangiku, orang-orang yang meneriakkan namaku dan memberikan semangat serta doa untukku, aku tidak mau mereka menghawatirkanku. Mereka… sudah seperti keluargaku sendiri.”

“Kalau kau anggap mereka seperti keluarga, bukankah seharusnya kau tidak perlu bersandiwara seperti itu?” Sulli mengambil jeda sejenak. “Yang namanya keluarga, kau harusnya berbagi suka dan duka yang kau alami kepada mereka. Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya? Bahwa kau sedang sakit?”

“Aku tidak mau mereka mengasihaniku,” Chanyeol menghela napas berat. “Semua idola, pasti punya ketakutan dimana mereka akan kehilangan penggemar yang menyayangi mereka. Begitupun aku. Aku tidak ingin mereka meninggalkan aku. Maka, aku harus melakukan yang terbaik untuk mereka. Dan kalau aku mau melakukan yang terbaik, aku tidak boleh menunjukkan sisi lemahku.” Jelasnya panjang lebar.

“Mereka.. penggemarmu itu bukannya mengasihanimu, mereka menghawatirkanmu, itulah sebabnya mereka menunjukkan perhatian yang lebih kepadamu.”

“Tetap saja. Aku tidak ingin mereka mencemaskanku. Aku ingin orang-orang mengenalku karena kemampuan yang kumiliki. Aku ingin semua orang senang melihatku. Itulah sebabnya kenapa orang memanggilku Happy Virus kan?” Chanyeol cengengesan.

“Kalau kata-kata bijak itu Joonmyun oppa yang bilang sih, mungkin aku akan percaya. Tapi, karena ini kau yang mengatakannya.. hahaha”

Chanyeol melirik tajam kearah Sulli yang membentuk tanda peace dengan kedua jarinya.

“Omong-omong, berarti aku termasuk keluargamu juga dong? Aku penggemarmu nomor satu!” kata Sulli.

“Iya, kau adalah dongsaengku yang paling cerewet sedunia. Sekarang pergilah belikan aku minuman. Aku haus setelah berpidato panjang lebar.”

Sulli mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya. Tapi beberapa detik kemudian dia kembali lagi.

“Mana minumannya?”

“Anu, aku tidak bawa dompet. Hehehe. Boleh pinjam uangmu?”

-______-

THE END.

Gimana readers? Kayaknya Chanyeol OOC banget ya? uri yeol yang selalu living happily forever jadi agak judes gimana gitu.. maafkan author yang nista ini ._.

Karakter Yeol yg judes ini author buat biar dapet aja feel ceritanya kok, aslinya Yeol tetap Yeol yang baik hati suka menolong dan murah senyum, haha. Yang udah sempet baca, tolong comment ya, soalnya aku masih baru nih, jadi comment sekecil apapun akan sangat berarti 😀 gamsaa~

Iklan

24 pemikiran pada “Don’t Worry, I’ll Be Fine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s