Hey, Mr. Arrogant

Cast       :               Kris (EXO), Hayoung (Apink)

Judul     :               Hey, Mr. Arrogant

Genre   :               Drama, romance

Author  :               CindyChingu

Annyeong readers-deul. Ini pertama kalinya aku mengirim FF EXOFANFICTION. Aku buat cerita dari salah satu film Korea tahun 2004, tapi ceritanya aku ubah sedikit. Maaf kalau bahasanya acak-acakan. Dan kalau gak suka cerita ini maaf ya!

                                                                                                (***)

Chapter 1

Hayoung’s POV

                Namaku Oh Hayoung. Aku gadis SMU kelas 3. Yah, sebentar lagi aku harus menghadapi ujian kelulusan. Doakan saja agar aku lulus, aku ini kan siswi pemalas dan sering tertidur di jam pelajaran. Kalau aku lulus itu suatu mukjizat.

Hari ini di dalam kelas aku berpangku tangan sambil melamun dan tidak memperhatikan guru sejarah-ku yang sedang menerangkan, lebih tepatnya mendongeng. Daripada mengantuk karena mendengarkan dongengannya dan ketiduran lebih baik aku melamun (?)

Cita-citaku adalah menjadi seorang puteri yang tinggal di istana, di kenal semua orang, cantik, berbakat, kaya raya, dan yang terpenting bisa berkenalan dengan pangeran tampan. Wah, pokoknya jadi puteri itu suatu keberuntungan.

“Oh Hayoung, ceritakan tentang sejarah agama buddha di Korea!” suara guru-ku membuatku tersadar dari lamunanku.

“Mwo? Ah, ng, anu..” aku menggaruk tengkuk-ku yang tidak gatal.

“Kau mendengarkan tidak saat aku menjelaskan?”

“Aku.. aku dengar kok”

“Kalau begitu coba ceritakan!”

“Anu, seogsanim, aku tidak pintar bercerita”

“Alasan. Berdiri di koridor sampai pelajaranku selesai!” guru ku berkacak pinggang di depan meja ku. Aku menyeret kaki ku menuju koridor. Teman-teman satu kelas menatap ke arahku dan itu membuatku malu.

(***)

“Huaaahhh… kenapa di dunia ini ada pelajaran sejarah sih??!” gumam-ku sedikit jengkel.

Sekarang aku sedang pulang berjalan kaki bersama kedua sahabatku, Jieun dan Soo Ji.

“Ditambah lagi yang mengajar itu Hyun Woo-seogsanim. Si pria berkacamata setebal botol susu sapi.” Sambar Jieun.

“Udah gitu gaya mengajarnya membosankan sekali” tambah Soo Ji. “Eh, ngomong-ngomong hari minggu kalian ada acara tidak?”

“Memangnya kenapa?” tanyaku penasaran.

“Aku ingin kencan buta dengan seseorang. Dia punya dua teman yang single dan keren, kalian mau ikutan?”

“Jeongmal? Ah, kata-katamu tidak bisa dipercaya. Waktu itu kau mengenalkanku pada seorang pria yang kau bilang keren, tapi ternyata tak ada bedanya dengan Hyun Woo – seogsanim” kata Jieun mengerucutkan bibirnya. Aku terkekeh mendengar ucapannya.

“Kali ini beneran lho, aku punya fotonya, mau lihat?”

Soo Ji menunjukan foto ketiga pria itu di handphone-nya. Ternyata mereka lumayan juga.

“Not bad.” Aku berkomentar.

“Lumayan. Kalau gitu aku ikutan” kata Ji Eun

“Aku juga”

(***)

Hari H pun tiba. Aku berpakaian simple dengan kaos putih bermotif lengan panjang dan hotpans biru. Teman-temanku sudah menunggu di sebuah cafe. Sesampai disana aku mencari-cari meja mereka. Aku melihat Soo Ji dan Jieun yang duduk dengan ketiga pria asing.

“Itu dia Hayoung!” Soo Ji berdiri sambil melambaikan tangannya padaku. Aku lekas bergabung dengan mereka.

“Ah, jadi ini yang bernama Oh Hayoung” ujar salah satu pria berkulit hitam manis dengan senyuman yang manis juga.

“Ne. Perkenalkan, namanya Kim Jongin.” Soo Ji memperkenalkan nama pria itu padaku.

“Kim Jongin imnida. Kau bisa memanggilku Jongin-ah saja. Supaya terdengar akrab”

“Oh Hayoung imnida. Salam kenal.”

Kami berbincang-bincang cukup lama sambil menikmati makanan yang kami pesan. Setelah makan kami berkaraoke.

“Aku ke toilet dulu” kataku seusai satu lagu selesai ku nyanyikan. Aku meninggalkan teman-temanku dan pergi menuju toilet. Aku jalan sempoyongan. Aku mabuk karena terlalu banyak minum arak. Sekelilingku terlihat kabur dan tidak sengaja aku menabrak seorang pria tinggi berambut blonde. Kelihatan dari bajunya kalau dia seorang dari keluarga konglomerat.

“Yaa! Lihat-lihat kalau jalan!!” dia membentakku dengan kasar

“Jeosonghamnida” aku berbungkuk lalu meninggalkan pria itu dan masuk ke toilet.

Setelah selesai dari toilet aku kembali menemui teman-temanku. Tapi tiba-tiba aku merasa mual. Aku berbalik arah menuju toilet lagi dan menabraki pria tadi, tidak sengaja aku muntah di blazer yang ia kenakan.

“Yaa!! Neo!! Terkutuk kau!!”

“Ahhh..jeosonghamnida. Aku tidak sengaja.”

“Kau, anak kecil, dimana orang tuamu?? Kenapa kau dibiarkan minum arak sebanyak itu”

“Aku bukan anak kecil!”

“Kau tau?! baju ini baru saja ku beli seminggu yang lalu dari Paris dan harganya mahal!” ujarnya dengan nada sombong.

Aku menyogoh-nyogoh tas selempangku dan mengeluarkan tissue. Aku membersihkan bekas-ku di blazernya.

“Sudahlah!” pria itu menepis tanganku dan melepas blazernya. “Ini, ambil!”

“Mwo?”

“Blazer ini kotor dan aku tidak ingin memakainya lagi. Kalau kau mau ambilah! Kau bisa menjualnya atau memberikannya pada saudara lelakimu!”

“Kau pikir aku sehina itu?”

“Dengar gadis kecil, sudah lebih baik aku memberikan ini padamu daripada meminta ganti rugi.”

“Huh, memangnya berapa sih harga baju mu itu?”

“3 ribu won.”

“Mwo? Kau pasti ingin membodohi ku ya?! Mentang-mentang aku ini masih SMU. Enak saja”

“Terserah kau, tapi aku bisa menuntutmu kapan saja kalau aku mau”

“Apa? Ku mohon, jangan!!! Aku ini masih kelas 3 SMU. Aku gadis baik-baik dan masih polos” aku bertelut memohon pada pria itu.

“Cih, kau pikir aku akan tersentuh dengan kata-katamu!?”

“Jebal, aku akan lakukan apa saja!!”

“Apa saja?” tiba-tiba pria itu tersenyum jahil.

Aku memeluk tubuhku dan menutupi bagian dadaku. “Kecuali keperawananku”

Pria itu terkekeh, “Kau pikir aku ini pria pervert..!!? Lagipula kau bukan tipeku. Sebenarnya ini bukan masalah besar jadi aku memaafkanmu kali ini.”

Huft, syukurlah, pria itu akhirnya pergi. Aku mengelap kening-ku. Tapi pria itu tampan juga, walau sifatnya sombong.

(***)

Aku berada di antara pohon-pohon cemara. Seperti dalam negeri dongeng. Kupu-kupu berterbangan. Tempat ini sejuk dan indah. Lalu ada suara kaki kuda melangkah mendekatiku. Dari kejauhan ada seorang pria tinggi yang menunggangi kuda putih itu. Ternyata pria itu yang kemarin aku temui di kafe, si pria berambut pirang yang bertabrakan denganku. Hah? Apa aku bermimpi? Dia turun dari kuda dan mengeluarkan bunga mawar dari balik badannya, lalu dia bertelut di depanku.

“Oh Hayoung, maukah kau jadi yeoja-chingu ku?”

“Mwo? K, kau bercanda?”

Pria itu tersenyum. Ah, senyumannya manis sekali. “Wanna dance?” katanya sembari mengulurkan tangan. Aku meraih tangannya dan kami berdansa.

“Oh Hayoung”

“Oh Hayoung”

“Oh Hayoung”

Suara itu terdengar makin kencang. Aku terbangun dari mimpiku. Aku tersadar bahwa yang tadi itu hanya mimpi. Hyun Woo-seogsanim sudah berdiri di depan meja ku sambil berkacak pinggang dan menatapku tajam.

“Hehehe..”aku mencoba terkekeh agar ia tidak marah padaku.

“Berdiri di koridor!!!” ucapnya lantang.

(***)

“Kau ini selalu saja membuat masalah di pelajaran sejarah!” omel Jieun. Aku dan Jieun hari ini hanya pulang berdua tidak seperti biasanya bertiga dengan Soo Ji. Hari ini Soo Ji ada kencan sepulang sekolah. “Tadi sewaktu kau di hukum kami ada tes mendadak, dan nilai nya akan masuk ke daftar nilai”

“Mwo? Kalau aku tidak ikut tes berarti aku dapat nol dong?”

Jieun mengangkat bahu-nya.

Aku merasa jengkel sekali dan melampiaskan rasa jengkel ku pada sebuah batu kerikil di jalan. Aku genggam erat batu itu. “Hyun Woo-seogsanim, rasakan ini” gumamku sambil melempar batu itu.

“Yaa!! Kalian berseragam!!” suara yang berasal dari belakang sepertinya dia memanggil aku dan Jieun. Aku berbalik badan.

“Neo?! Kau lagi??”

“Kau yang di cafe waktu itu?” aku sedikit kaget bisa bertemu dengan pria tinggi berambut pirang itu lagi.

“Kau yang melempar ini?” dia menunjukan batu kerikil yang tadi aku lempar. “Batu ini membuat mobil ferrari ku rusak!”

“Eo,” aku mulai panik.

“Hayoung-ah, kau kenal dia?” tanya Jieun.

“Anio. Aku tidak kenal. Dia orang gila. Dalam hitungan ketiga kita lari bersama, ne?! Hana, dul, set.”

Aku dan Jieun berlari sekencang mungkin.

Kris’ POV

Anak kecil brengsek. Batu kerikil ini telah membuat kaca mobil ku pecah. Dia harus menggantinya karena harga mobil ini sangat mahal.

“Mwo? Apa itu? Sebuah agenda? Apa ini milik anak tadi?” Aku mengambil sebuah agenda hitam yang tergeletak di jalan. Di dalamnya ada kartu pelajarnya. Disana ada nomor ponsel dan alamat sekolahnya. Hmm, aku punya ide.

Keesokan harinya…

Hayoung’s POV

                Saat istirahat ponselku bergetar. Sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. “Yoboseyo?” aku mengangkatnya.

“Yoboseyo”

“Siapa ini?”

“Aku? Siapa? Aku pemilik mobil ferrari yang kau rusaki”

“Mwo?”

Cepat-cepat aku menutup ponselku. Ottoke???

29 pemikiran pada “Hey, Mr. Arrogant

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s