Eyes That Couldn’t Lie

Eyes That Couldn’t Lie

Author : Kreasee

Cast :

–          Kim Jongin

–          Do Kyungsoo

–          You

Genre : sad, romance

Length : Oneshot

Yang mau author ucapin pertama adalah : big thanks buat admin nya yang sudi (?) nge post ff abal ini hehe. Karena ini masih ff pertama author, masih kurang sana-sini, please tinggalin jejak dengan komen yaa. Saran dan kritik diterima bangettt ^^ no bash, no plagiat, just RCL. Happy reading ^^ gomawo! #teleport

You POV

Mata itu…

Mata bulat itu…

Aku selalu kenal siapa pemiliknya.

Dia, seorang pria tampan bertubuh mungil. Yang selalu ada kala aku butuh. Selalu ada disisiku tanpa banyak bicara. Yang akan selalu menjadi sandaranku ketika aku terjatuh. Dan yang akan selalu tersenyum kala aku membuka mata…

Pria itu. Do Kyungsoo…

Aku tak mungkin melupakannya. Tak akan pernah. Mustahil bagiku melupakan seseorang yang selama 6 tahun sudah menemaniku di setiap kondisi. Separuh hidupku hanya tentang dia, untuk dia, dan dari dia. Kebiasannya mehrong ketika menolak permintaanku, kebiasaannya memelototkan mata ketika aku menciumnya, kebiasaanya mengomel ketika aku membatalkan kencan secara sepihak. Bahkan aku hafal semua kebiasannya itu. 6 tahun memang bukan waktu yang singkat.

Dan selama 6 tahun itu aku belajar banyak hal. 6 tahun yang terlewat dengan indah. 6 tahun berselang dan kemudian aku sadar, bahwa…

Aku mencintai pria itu. Lebih dari apapun juga.

“Nyonya Kim Jongin, kajja kita berangkat sekarang menuju dokter kandungan. Kau kan harus memeriksakan kandunganmu”

Aku hanya mampu tersenyum. Tanpa anggukan kepala, tanpa suara. Namun pria di depanku itu tau bahwa aku tak menolak perintahnya. Lebih tepatnya tak kuasa menolak.

Kim Jongin, suamiku, menggandeng tanganku lalu mengajakku pergi menuju dokter kandungan. Ya, aku kini tengah mengandung. Mengandung anak dari Kim Jongin suamiku ini. Mengandung anak dari pria yang jujur saja tak kucintai. Kalian ingat kan bahwa hatiku hanya terpatri untuk Kyungsoo seorang? Namun bagaimana lagi. Orangtuaku kala itu begitu mendesakku untuk segera menikahi Kim Jongin. Hanya karena tak ingin melihatku terus-terusan sendiri.

Mungkin kalian bertanya-tanya, lalu bagaimana dengan Do Kyungsoo? Apa yang terjadi padanya? Kenapa aku jadi harus menikahi Jongin yang jelas-jelas tak kucintai, bukannya Kyungsoo?

Ahh, aku bahkan tak tau mau memulai ceritaku dari mana… Yang kutau cerita ini serasa tak masuk akal. Semuanya terjadi begitu saja tanpa kuduga…

“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi…”

Samar-samar aku mendengar suara orang bernyanyi dari luar jendela mobilku. Aku dan Jongin kini berada di jalan, sedang menunggu lampu hijau menyala pada kami. Suara itu… entah kenapa aku mengenalnya. Suara indah itu… suara manis itu ketika bernyanyi… serasa mendengar ‘dia’ kembali bernyanyi untukku. Tapi rasanya tak mungkin. Benar-benar tak mungkin.

“Aku tenggelam, dalam lautan luka dalaam… Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Aku tanpamu, butiran debu…”

Kini aku menoleh ke kaca mobilku. Ternyata seorang pengamen lelaki bertubuh mungillah yang tadi menyanyi. Wajahnya tertutup saputangan, membuatku tak bisa menatap keseluruhan wajahnya. Humm, ternyata aku memang lagi-lagi melantur. Mana mungkin ‘dia’ ada disini? Apalagi menyanyi di jalan seperti pengamen begitu. Dia kan orang kaya.

Tapi… tunggu dulu! Mata itu… mata itu… bulat sekali. Persis seperti milik… Do Kyungsoo ku dulu. Matanya bulat jernih, meskipun terhalang kabut putih pada bola matanya. Aku baru sadar lelaki itu buta. Apa itu memang Kyungsoo?

Lelaki itu sudah berjalan pergi, namun aku masih merasa penasaran. Aku sepertinya yakin bahwa pria itu… Kyungsoo oppa ku. Mata itu tidak akan pernah berbohong… Mata itu… mata yang sama seperti mata Kyungsoo ku dulu. Kemudian aku berpikir, ketimbang penasaran berkepanjangan lebih baik aku memeriksanya. Lalu dengan nekatnya aku membuka pintu mobilku kala lampu merah nyaris berubah menjadi hijau. Pria yang kuyakini sebagai Do Kyungsoo ku tadi sudah berjalan jauh meninggalkan mobilku. Ia berjalan dengan sedikit meraba-raba. Ya Tuhaan, kasian sekali dia. Bagaimana kalau dia memang Do Kyungsoo ku? Dia… buta? Kudengar Kim Jongin berteriak ke arahku, namun tak kuhiraukan. Dia hanya berteriak dari dalam mobil, membuatku tambah malas meladeni. Kyungsoo ku jauh lebih penting daripada mengurusi suami macam dia.

Aku sedikit berlari ketika menghampiri pria itu. Kutepuk bahunya lalu pria itu berbalik menghadapku. Aku benar-benar terpana menatap wajahnya. Wajah itu… sungguh seperti wajah Kyungsoo oppa ku. Matanya yang bulat sangat besar, kulitnya yang putih layaknya kulit bayi…  Saking terpananya aku melihatnya, aku sampai diam saja. Matanya kemudian melengkung, eyesmile. Dia pasti sedang tersenyum.

“Permisi, anda siapa ya? Ada perlu apa dengan pria buta sepertiku?”

Aku terperangah mendengar suaranya. Suara itu… lagi-lagi persis seperti suara Do Kyungsoo ku! Ya Tuhan, kini aku sudah lemas. Gemetaran. Takut kalau-kalau pria ini memang benar-benar Do Kyungsoo ku dulu. Takut kalau lelaki buta ini memang Do Kyungsoo yang kucari-cari selama 1 tahun ini… 1 tahun semenjak dia pergi tanpa kabar…

“Kumohon, ijinkan aku melakukan ini…”

Dengan hati-hati dan sedikit gemetar, aku mencoba membuka saputangan yang menghiasi wajahnya. Pria di depanku itu terlihat was-was. Matanya berkilat-kilat ketakutan. Mungkin ia takut aku akan macam-macam dengannya. Namun sebelum saputangan itu berhasil kulepas dari wajahnya, sebuah tangan menyentakku kasar.

“Awww!”

“Chagiya! Apa yang kau lakukan disini? Dengan seorang pria buta pula!” hardik Kim Jongin membuatku melotot. Jemarinya menekan urat pada tanganku kencang, membuatku kesakitan.

“Apaan sih! Lepasin!”

“Kau mau apa dengannya chagiya?”

“Kubilang lepasin!” saat itu juga Kim Jongin melepaskan tanganku yang tadi dicekalnya. Kuelus sebentar tanganku yang sedikit memerah.

“Apa-apaan kau ini!” bentakku tak suka. Jongin malah memainkan matanya gusar. Dia pikir dia saja yang gusar? Aku juga! Dasar pria menyebalkan! Aku kembali mengarahkan pandanganku ke Do Kyungsoo ku tadi.

Namun pria itu tak ada di tempat.

Ia pergi!

“Kyungsoo oppa! Kyungsoo oppa!”

Tin tin!

Suara klakson mobil membahana dari segala penjuru jalanan besar ini. Aku tau klakson-klakson itu ditujukan untuk mobil yang berada di barisan paling depan. Mobil milik Kim Jongin. Mobil Kim Jongin yang sengaja ia tinggalkan begitu saja di tengah jalan dengan keadaan mesin yang masih menyala. Aku mengabaikan namja itu yang jadi bingung sendiri antara menemaniku yang juga sedang bingung mencari Kyungsoo atau menjalankan mobil.

“Hey kau! Cepat jalankan mobilmu! Malah berhenti seenaknya di tengah jalan!”

“Hey bodoh, cepat minggirkan mobilmu! Kami mau lewat”

“Hey bocah! Minggir kau dari tengah jalan! Apa mobilmu ini mau kutabrak?”

“CHAGIYA!” dengan sedikit berat hati, Jongin berlari kecil menuju mobil lalu menjalankannya menjauh dariku. Naah begitu lebih baik. Kulihat lelaki itu pergi dengan mobilnya entah kemana. Mungkin dia hanya ingin menghindari amukan pengendara lain. Berarti dia akan kembali tak lama lagi. Aku harus segera menemukan Kyungsoo ku.

Dan dapat! Pria bertubuh mungil itu kini sedang menghitung uang di trotoar. Rasa sesak dan haru tiba-tiba menghimpit dadaku. Apa ia sekarang benar-benar mengamen? Lalu kemana semua uangnya dulu?

Tanpa suara aku duduk di sebelahnya. Aku terus memandanginya yang tengah menghitung uang lecek itu. Tangannya gesit sekali menghitung uang. Meskipun ia tak bisa melihat berapa nominal uang yang sejak tadi dihitungnya, namun entah bagaimana caranya ia bisa menghitungnya dengan benar. Mulutnya komat kamit menghitung uang.

Selama hampir 20 menit aku terus memperhatikannya. Mata itu… mata bulat itu… sungguh aku mengenalnya. Mata sebulat dan sebagus itu hanya Do Kyungsoo seorang yang memiliki. Aku yakin aku tidak salah orang.

“Permisi?” sapaku ramah. Do Kyungsoo mendangah lalu tersenyum. Kabut putih yang ada di matanya benar-benar terlihat jelas dari tempatku duduk. Kabut putih itulah yang menghalangi pemandangannya. Wajah innocent itu tersenyum sangat manis.

“Wah sepertinya kau yeoja yang tadi itu ya? Yang marahan dengan pacarnya itu?” tanyanya ramah. Senyum benar-benar terukir manis di bibirnya, membuatku gemas.

“Humm dia bukan pacarku” kilahku berbohong. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke lain arah, mencoba terlihat biasa.

“Bohong” ucapnya singkat namun membuatku merasa telak. Dia… tau yang sebenarnya?

“Maksudmu?” tanyaku pura-pura bodoh.

“Humm lupakan. Aku tak berhak berbicara seperti ini dengan yeoja orang. Apalagi aku buta”

Aku terperangah mendengar kalimatnya itu. Hatiku berdesir mendengarnya. Sungguh kalimatnya terdengar sedikit merendahkan diri. Kalau buta kenapa? Toh aku tetap mencintaimu bagaimanapun juga keadaanmu.

Lelaki yang kuyakini sebagai Do Kyungsoo ku terlihat akan pergi lagi. Namun sebelum ia beranjak dari duduknya, aku mencekal tangannya.

“Humm boleh aku tau siapa namamu?”

“Namaku? Untuk apa agasshi ingin tau nama orang buta sepertiku?”

“Tak apa. Hanya ingin tau saja” jawabku tak sabar. Tinggal menyebutkan nama saja kok susah sih. Pria itu berpikir sejenak lalu menatapku dengan mata bulatnya yang berkabut itu.

“Kyungsoo”

DEG!

“Apa?”

“Apanya yang apa, agassi?”

“Siapa namamu tadi?” tanyaku tak percaya. Kyungsoo oppa menatapku bingung.

“Kyungsoo. Do Kyungsoo”

“Kyungsoo oppa?!” dengan sedikit lancang aku kemudian memeluknya. Tak kupedulikan semua tatapan pengguna jalan yang mulai memperhatikan kami. Yang kupedulikan hanyalah perasaan bahagiaku bertemu lagi dengan lelaki yang kucintai ini, Do Kyungsoo.

“Hah? Oppa? Memang siapa kau?” tanyanya agak risih. Ia mencoba melepaskan pelukanku, membuatku sedih.

“Aku yeojachingumu dulu oppa. Kita sudah bersama selama 6 tahun! Sejak kita SMA! Kau lupa?” kini aku sungguh tak dapat menahan isak. Reaksi Kyungsoo oppa sangat dingin, seolah aku adalah yeoja yang baru ditemuinya.

“Kauu…”

Tanpa kuduga, Kyungsoo oppa berlari meninggalkanku yang masih shock. Aku yang tak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya langsung berusaha mengejar.

TOENGG!

Kyungsoo oppa tanpa sengaja menabrak tiang rambu sangat keras, membuatnya menjerit kesakitan. Aku yang melihatnya langsung berlari mendekat.

“Oppa! Oppa! Kau baik-baik saja?” tanyaku panik sambil meraba dahinya yang mulai membengkak karena benturan keras itu. Kyungsoo oppa hanya meringis.

“Kauu…”

“Iya ini aku oppa hiks”

“Kenapa kau bisa ada disini?”

“Kenapa oppa bertanya seperti itu? Seharusnya oppa bahagia bisa bertemu denganku lagi disini. Selama oppa meninggalkanku tanpa kabar, aku terus menunggu oppa tanpa henti. Dan sekarang tanpa kuduga Tuhan mempertemukan kita lagi. Oppa tak bahagia bertemu lagi denganku?” ucapku sambil menangis tak karuan. Kyungsoo oppa kini tengah berada di pahaku, tiduran sambil menahan sakit pada dahinya. Dasar bodoh, sudah tau buta masih sok berlari hingga terbentur.

“Seharusnya kita tak bertemu lagi”

“Kenapa?” tanyaku sangat sedih. Jujur ucapan Kyungsoo oppa sangat menyakiti hatiku. Sakit.

“Aku buta, kau tau! Aku BUTA! Aku tak pantas untukmu! Hiks hiks” jerit Kyungsoo oppa sambil sesenggukan. Aku melihatnya menjadi miris. Sesak.

“Aku selama ini pergi darimu karena setelah kecelakaan mobil dulu, dokter memvonisku tidak dapat melihat lagi! Aku malu kalau kau tau! Aku tak mau kau terbebani mempunyai namjachingu buta sepertiku! Setelah aku memutuskan untuk pergi darimu, semua keluargaku meninggalkanku. Mereka menyuruhku tinggal di panti jompo saja sekalian, biar ada yang merawat. Aku jelas tak mau! Sehingga begini keadaanku sekarang. Tak lebih dari sekadar sampah masyarakat hiks hiks”

Hah? Kecelakaan mobil? Kapan? Ya Tuhaann, ternyata Kyungsoo oppa dulu pernah mengalami kecelakaan! Jadi… itu alasannya kenapa ia buta seperti sekarang? Aigoo aku sama sekali tak tau soal itu! Yang aku tau hanyalah ketika aku membutuhkan Kyungsoo oppa, untuk pertama kalinya dia tak ada disana. Di tempat dia biasanya berada. Tepat disisiku lalu menyemangatiku. Tiba-tiba ia menghilang tanpa kabar. Rumahnya kosong tak berpenghuni. Semua nomornya tak ada yang aktif. Dan itu membuatku gila.

“Oppa, seharusnya kau tau cintaku lebih besar dari apapun juga. Aku tidak peduli akan fisikmu. Yang terpenting bagiku oppa terus disini, di sisiku. Bersamaku. Hiks hiks. Seharusnya oppa memberitauku soal kecelakaan itu. Aku bahkan tak tau oppa kecelakaan hingga buta seperti ini” selesai mengucapkan semua isi hatiku selama hampir 1 tahun ini tertahan, aku langsung memeluk kepala Kyungsoo oppa. Kubenamkan kepala mungil itu di dadaku, memberinya kehangatan setelah berbagai kerikil-kerikil tajam menghantam hidupnya bertubi-tubi. Ia pasti sangat lelah menghadapi semuanya. Ya Tuhan, ternyata begitu ceritanya. Berarti aku sudah salah menikahi Kim Jongin. Toh Kyungsoo oppa masih disini. Masih mencintaiku sama seperti perasaanku yang tak pernah berubah untuknya. Kyungsoo oppa hanya diam, ia sudah menangis sesenggukan sama sepertiku.

“Chagiya, kajja sekarang kita pulang!”

“Yak andwaeeeee!” tiba-tiba sebuah tangan menyentak tanganku keras, membuat pelukanku terurai. Kyungsoo oppa terlihat kaget.

“Siapa kau?”

“Aku suami dari dia! Kau sendiri siapa, buta?!”

“JONGIN!!!”

“Humm aku bukan siapa-siapanya” ucap Kyungsoo oppa dengan tatapan kosong. Aku melotot mendengar jawaban Kyungsoo oppa yang terdengar pasrah dan putus asa. Apa-apaan ini?

“Oppa, kenapa kau tak bilang yang sebenarnya?”

“Chagiya, kajja kita pulang sekarang!”

“Andwaeeeee! Jongin, aku mau bersamanya saja!” rengekku tak ingin jauh lagi dari Do Kyungsoo ku. Cukup sudah 1 tahun pencarianku terhadap Do Kyungsoo ku yang selalu berbuah hasil nol. Kali ini tanpa disengaja Tuhan justru mempertemukan kami. Aku jelas tak ingin pergi lagi.

“Tapi kau sudah mengandung anakku! Kau milikku!” bentak Jongin membuat nyaliku ciut seketika. Hatiku panas, sakit. Aku yakin tadi Kyungsoo oppa mendengarnya. Bahwa aku sudah mengandung anak pria lain. Ketika aku menatapnya, kulihat raut wajahnya sudah pucat. Shock. Rasanya tubuhku mati rasa sudah. Aku sudah dianggap tak pantas untuknya. Aku sudah hamil, namun bukan hamil anaknya. Aku menangis begitu memilukan. Sakit pada dadaku begitu terasa nyeri.

“Oppa…” akhirnya aku pasrah saja dibawa pergi Jongin. Aku menangis tak karuan. Sakit rasanya harus kembali berpisah dengan Kyungsoo ku yang selama ini selalu kucintai tanpa putus. Yang kabarnya selalu kunanti. Yang kehadirannya selalu kuinginkan. Namun karena jabang bayi sial ini, aku terpaksa pergi. Pergi jauh-jauh dari hidup seorang Do Kyungsoo. Jongin benar. Aku sudah sah miliknya…

7 months later…

“Selamat nyonya Kim. Anakmu laki-laki. Sehat”

“Terimakasih dokter. Terimakasih telah membantu persalinanku”

“Ya sama-sama. Kalau aku boleh tau, anakmu akan kau beri nama siapa nyonya?”

“Kim Kyungsoo. Ya, Kim Kyungsoo. Itu jelas nama yang bagus”

“Wah ya, itu nama yang bagus nyonya. Selamat atas kelahiran anakmu. Aku turut senang”

“Terimakasih sekali lagi dokter”

Do Kyungsoo…

Seorang lelaki tangguh yang sampai matipun tak akan pernah kulupakan…

Cintanya yang besar padaku membuatnya kuat menjalani semuanya…

Menjalani semua batu sandungan dalam hidupnya…

Harus merasakan sakitnya menjadi orang buta, ditinggal orang-orang yang selama ini dekat dengannya, dipaksa tinggal di panti jompo, lalu berujung menjadi pengamen  jalanan…

Matanya yang bulat itu…

Matanya yang besar itu…

Matanya yang indah itu…

Matanya yang selalu menatapku cinta…

Matanya yang selalu memancarkan kehangatan…

Sampai kapanpun pemandangan itu tak akan pernah menghilang dari memori otakku…

Sampai kapanpun mata itu akan selalu menjadi kenangan terindahku…

Karena mata itulah, yang selama ini membuatku ingat padanya…

THE EYES THAT COULDN’T LIE…

(END)

Critics, suggestion, or maybe compliment (?) are welcomed ^^ please no siders!

20 pemikiran pada “Eyes That Couldn’t Lie

  1. huahaha maaf aku ga galau bacanya thor habisnya kenapa D.O bisa nyanyi butiran debu sih? ffnya semacem sinetron indo gimana gitu hehe tp bagus kok. keep writing thor 😀

  2. disini kyungsoo dinistakan :(. Tp aku suka thor,palagi kalau sad ending,makin angst makin bagus, hahaha #plaakk. Bkin lagi yg beginian thor 😀

  3. Unnie! Aku hadir disini memberikan komentar untuk FFmu ^^
    Ceritanya bener-bener mengejutkan,D.O jadi pengamen… omg o_o
    Kai jahat deh 😛 , cinta itu gk boleh dipaksakan #ceramah
    D.O buta,di tengah jalan,haduuhh…bener2 miris bayanginnyaaaaa….
    DAEBAK unn!!!!!!!
    Tapi..tapi..kurang panjang dikit,heheheh,coba unn panjangin dikit pasti jadi lebih bagus ^^
    Overall,aku sukaaaaa ❤

  4. /lempar semua cast ke Jurang kecuali kyungsoo/ /pukpuk kyungsoo dg kasih sayang/ kurang ajar banget cast lainnya nyia-nyiain abang kyungsoo-ku (w==)w
    tapi iya sih aneh si kyungsoo nyanyi butiran debu dg tampang melas, kumel, buta pula T T
    dan pas dia lari-lari di jalan dg kondisinya yg ga bisa liat rasanya pengen cegah, megangin dia takut kenapa-napa.. Dan setuju sama dirahasiakan(?) pas kyungsoo nabrak aku juga ngakak-ngakak aneh gitu author (“-_-)v
    but.. It’s oke~ fighting for the next ff~~

  5. Yaampun D.O jd org buta(╥﹏╥) kasian amat dia dibilang sampah masyarakat ditinggalin keluarganya dan disuruh tinggal di mana tadi diiii panti jompo (?) Mending tinggal dirumah gw aja deh #plak *piss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s