I Found You, For Me and My Dad (Chapter 2)

Title                    :  I Found You, For Me and My Dad {Chapter 2}

Author                :  Lyka_BYVFEGS

Main Cast           :  Kim Joon Myun aka Suho EXO-K

Kim Eunhyo (OC)

Kim Haena (Suho’s Daughter)

Other Cast          :  Xi Luhan EXO-M

Oh Sehun EXO-K

Kim Jong In aka Kai EXO-K

Park Jihyun (OC)

Han Hyejin (OC)

And Others

Genre                 :  Romance, Family

Rating                :  PG15

Length                :  Chapter

A/N                    :

Annyeonghaseyo….. J

Maaf jika lama banget lanjutannya. Sebagai warga negara (?) yang baik, saya juga harus dan wajib antri. Kekeke…

Oiya! Umur member EXO rata-rata disini aku tuakan 9-10 tahun. Jadi jangan bayangkan mereka dengan wajah mereka yang masih unyu-unyu seperti sekarang.:D. Satu lagi, kalian juga boleh manggil mereka dengan sebutan ‘ahjussi’. J #plak *dicincang fans EXO.

Mianhe untuk typo, kata-kata berantakan dan bahasa yang kurang dimengerti.

Mianhe juga jika mengecewakan dan tidak sesuai harapan kalian.

HAPPY READING!!!!

* * *

“APPA!!! AYO BERANGKAT!” Teriakan Haena membahana di halaman rumahnya. Tampak gadis itu berdiri disamping mobil sang appa dengan wajah cemberut sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sepertinya gadis itu telah bosan menunggu appa nya yang tak kunjung keluar. Dia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.

“OMO! 30 menit lagi pelajaran dimulai. Aku bisa terlambat. Aish! Appa!” Gerutu Haena.

“APPA! AKU SUDAH TERLAMBAT! CEPATLAH!” Teriak Haena –lagi.

Beberapa saat kemudian tampak seorang laki-laki yang keluar dengan tergesa-gesa. Kemeja yang masih terlihat berantakan, dasi yang belum terpasang dengan benar, serta jas yang masih tersampir di lengan kirinya dan tas kantor yang di bawanya. Sedangkan tangan kanannya sibuk memasangkan atau lebih tepatnya membenarkan sepatu yang tengah dipakainya. Haena hanya bisa melongo melihat kelakuan appa nya. Dia tidak heran jika setiap pagi Suho harus kerepotan. Mengurus rumah, membuat sarapan, membantu Haena menyiapkan kebutuhan sekolah, juga kebutuhannya sendiri. Tapi untuk pagi ini appa nya itu benar-benar kacau. Haena menghela nafas berat, kemudian menghampiri appa nya.

Dia merebut tas serta jas yang dipegang oleh Suho dan meletakkannya di kursi kayu yang terletak di teras tepatnya dekat pintu rumah mereka. Setelah itu Haena menunggu hingga Suho selesai menggunakan sepatunya.

“Sudah?” Tanya Haena menatap Suho dengan wajah polosnya. Sedangkan Suho hanya mengangguk.

“Sekarang appa benarkan dulu kemeja appa!” Perintah Haena.

“Baiklah.” Jawab Suho yang kemudian merapikan kemeja yang tadi dipakainya asal.

“Berlututlah, appa!” Perintah Haena –lagi setelah Suho selesai merapikan pakaiannya.

“Untuk apa?” Tanya Suho bingung.

“Aish! Menurut saja, appa!” Gerutu Haena kesal. Suho pun menuruti perintah Haena, berjongkok di depan putri semata wayangnya itu.

“Kenapa hari ini appa sangat kacau? Lihatlah! Dasi yang appa pakai tidak benar sama sekali. Bagaimana mungkin appa yang sudah bertahun-tahun bekerja di kantor tidak bisa memakai dasi?” Omel Haena seraya merapikan dasi yang dipakai Suho.

“Maaf. Semalam appa sibuk menyelesaikan proposal untuk project baru. Dan appa baru tertidur pukul 3 dini hari tadi.” Sesal Suho.

“Sebaiknya appa tidak perlu menyuruh Park ahjumma pulang. Biarkan dia tinggal di sini dan menyelesaikan pekerjaan rumah serta mengurus keperluan kita. Appa tidak ada waktu untuk mengurus semua itu. Lihatlah, sekarang! Appa sendiri yang kerepotan.”

“Ne, appa tahu.”

“Lalu kenapa appa masih mengurusku seorang diri?” Tanya Haena.

“Itu adalah janji appa terhadap eomma untuk merawatmu dengan baik.”

“Huh!” Haena menghembuskan nafas berat. “Seandainya saja eomma masih hidup. Appa tidak perlu merawatku seorang diri, tidak perlu repot-repot menyiapkan kebutuhanku setiap pagi. Dan appa tidak akan terlambat sampai di kantor dan aku juga akan tiba di sekolah tepat waktu.” Cerocos Haena tanpa menyadari perubahan ekspresi di wajah Suho.

“…”

Haena yang menyadari tidak ada reaksi apa-apa dari Suho mendongakkan kepalanya. Dilihatnya mata Suho yang berkaca-kaca.

“Appa! Appa menangis?” Tanya Haena sambil mengangkat kedua tangannya menyentuh pipi Suho. Tapi belum sempat niatnya tercapai, Suho sudah lebih dulu menarik Haena ke dalam pelukannya.

“Maaf. Appa tahu appa bukanlah appa yang baik. Appa tidak bisa merawatmu seperti orang tua lain pada umumnya. Appa selalu membuatmu susah, merepotkanmu. Tapi berikanlah appa kesempatan untuk menjadi orang tua yang baik untukmu. Appa janji appa akan menjadi seorang appa dan juga eomma seperti yang kau harapkan.” Kata Suho mempererat pelukannya.

“Tidak, appa. Appa adalah appa terbaik di dunia ini. Bahkan appa terlalu baik untuk putri kecil appa yang nakal ini. Maaf, appa. Maaf, jika perkataanku menyingung perasaan appa.” Kata Haena membalas pelukan appanya.

“Tidak apa-apa. Appa juga minta maaf jika selama ini appa tidak merawatmu dengan baik.” Kata Suho melepas pelukannya.

“Ne. Ayo kita berangkat, appa! Aku sudah terlambat.” Kata Haena melirik jam tangan yang dikenakannya.

“Baiklah.” Kata Suho yang kemudian beranjak berdiri.

“Appa, tunggu!” Cegah Haena saat Suho mulai melangkah menuju mobilnya.

“Ada apa?” Tanya Suho berbalik.

“Appa melupakan ini.” Kata Haena menyerahkan jas serta tas milik Suho. “Dan juga jangan lupa menghapus air mata appa. Aish! Appa kata karyawan appa nanti mengetahui direkturnya menangis? Benar-benar. Sudah tua masih saja cengeng.” Kata Haena yang diakhiri dengan menjulurkan lidahnya, mengejek Suho dan mendahului appanya menuju ke dalam mobil.

“YA! KIM HAENA! KEMARI KAU! BERANI-BERANINYA KAU MENGEJEK APPAMU SENDIRI!” Teriak Suho berlari menyusul Haena.

Saat memasuki mobil, Suho disambut oleh senyuman manis dari putri semata wayangnya.

“Appa!” Panggil Haena.

“…”

“Suho appa!” Panggil Haena sekali lagi.

“…”

“APPA!” Teriak Haena.

“Hmm…” Respon Suho.

“Karena sekarang jam pelajaran pertama pasti sudah dimulai. Aku ingin appa yang menjelaskan kepada seonsaengnim kenapa aku terlambat.”

“Tidak mau.”

“APPA!”

“Pokoknya appa tidak mau. Kau saja tadi mengejek appa, kenapa sekarang meminta tolong kepada appa?”

“Aish! Appa benar-benar kekanak-kanakan.” Gerutu Haena.

“Terserah.”

“Appa, ayolah…”

“Tidak mau! Sekali tidak tetap tidak.”

“SUHO APPA!”

* * *

“Jihyun-ah, benar kau tidak ikut makan siang?” Tanya Eunhyo kepada teman sekaligus partner usaha butik yang dibukanya.

“Tidak, eonni. Aku akan makan siang dengan Kai oppa. Sebentar lagi dia datang.”

“Baiklah. Tapi setelah makan siang, eonni harus kembali ke kantor. Eonni titipkan butik kepadamu.” Kata Eunhyo kemudian meraih tas selempangnya yang terletak di meja kerjanya.

“Ne, eonni. Hati-hati di jalan.” Kata Jihyun sebelum Eunhyo menghilang dari balik pintu yang terbuat dari kaca itu.

Eunhyo pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju caffe langganannya. Dia sama sekali tidak berniat untuk menggunakan kendaraan umum ataupun mobil miliknya. Dia lebih suka berjalan kaki sambil menikmati pemandangan sekitar. Menurutnya banyak yang bisa menjadi inspirasi untuk membuat desaign baju saat dia berjalan daripada menyetir mobil.

Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, sampailah Eunhyo di tempat tujuan. Suara gemericik terdengar dari gantungan yang diletakkan di dekat pintu saat dia membuka pintu caffe itu.

“Annyeong, Eunhyo noona.” Sapa seorang pelayan begitu melihat Eunhyo memasuki caffe.

“Annyeong, Sehun-ah. Bagaimana kabarmu?” Tanya Eunhyo ramah.

“Seperti yang noona lihat, aku sangat baik. Bukankah aku bertambah tampan? Itu artinya kabarku sedang baik.” Jawab Sehun dengan penuh percaya diri.

“Jadi jika kau menjadi jelek kabarmu tidak baik begitu?”

“Aish! Pernahkah noona melihatku jelek? Aku selalu tampan noona. Lihatlah! Banyak gadis-gadis yang menggilaiku.” Kata sehun menunjuk sekumpulan gadis-gadis SMA yang tengah berbisik-bisik dan tersenyum tidak jelas ke arah Sehun. Bahkan ada yang sampai melambaikan tangannya kepada Sehun. Dan entah karena ingin menggoda atau apa Sehun pun membalas lambaian tangan gadis itu dengan tidak lupa menambahkan ‘cium jauh’. Membuat gadis-gadis itu berteriak histeris.

“YA! OH SEHUN! KAU MEMBUAT ULAH LAGI, HUH?” Teriak seorang laki-laki sambi berkacak pinggang. Sehun pun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Eunhyo hanya terkekeh geli.

“Kau membuat tamu yang lain terganggu dengan teriakan gadis-gadis genit itu, Sehun-ah.” Kata Luhan, pemilik caffe itu sekaligus kakak kelas Eunhyo sewaktu kuliah.

“Sudahlah, Luhan oppa. Bukankah karena adanya Sehun caffe oppa jadi ramai?” Bela Eunhyo.

“Huh! Jika bukan karena seperti yang dikatakan Eunhyo kau sudah ku pecat sejak dulu Oh Sehun. Tidak peduli kau adalah adik sepupuku.”

“Mian, hyung.”

“Kembalilah bekerja. Kau tidak lihat sedari tadi Hyejin sudah melotot ke arahmu?” Tunjuk Luhan kepada seorang gadis yang berdiri di belakang meja kasir.

Sehun pun menatap Hyejin dengan tatapan maaf-kau-tahu-kan-aku-tidak-serius-saat-melakukannya. Tetapi hyejin malah membuang muka mendapat tatapan seperti itu dari Sehun.

“Aish! Sepertinya dia marah.” Gerutu Sehun.

“Rasakan!”

“Cepat minta maaf kepadanya. Kau tidak boleh menyakiti hati gadis sebaik Hyejin, ara?” Kata Eunhyo menasihati.

“Ne. Aku permisi dulu, Luhan hyung, Eunhyo noona.” Pamit Sehun sambil membungkukkan badannya.

“Apa yang membawamu kesini?” Tanya Luhan begitu mereka telah berdua.

“Tentu saja untuk makan siang. Memang apa lagi, oppa?” Tanya Eunhyo heran.

“Yah! Siapa tahu saja kau ingin mengajak oppa mu ini jalan-jalan.” Tebak Luhan.

“Aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi maaf kita menjadi jarang jalan bersama seperti dulu. Lagipula aku tidak enak dengan Nara eonni yang sibuk mengurus Nari dirumah sedangkan suaminya malah berduaan dengan wanita lain.”

“Aish! Nara tidak mungkin punya pikiran seperti itu. Kau itu sudah kami anggap seperti adik kami sendiri.” Kata Luhan sambil mengacak-acak rambut Eunhyo.

“Aish! Luhan oppa! Kau membuat rambutku berantakan. Padahal setelah ini aku ada janji dengan clien penting.” Gerutu Eunhyo kesal sambil merapikan rambutnya.

“Mian. Ayo kita duduk disana. Tidak enak dengan pengunjung lain jika kita tetap berdiri disini.” Kata Luhan menunjuk meja kosong di pojok caffe yang menghadap langsung ke jalanan.

“Bagaimana pekerjaanmu? Apa ada masalah?” Tanya Luhan begitu mereka telah duduk dan memesan makanan.

“Tidak ada. Hanya saja beberapa hari ini sangat banyak tawaran dari beberapa perusahaan yang menginginkan desaign baju yang khas untuk produk mereka. Dan itu semua membuatku sedikit kerepotan.” Jelas Eunhyo sambil menghela nafas berat.

“Istirahatlah! Aku rasa kau butuh waktu istirahat. Tidak mungkin kau terus memfokuskan dirimu pada pekerjaan dan butik.” Saran Luhan.

“Tapi oppa, itu semua adalah tanggung jawabku.”

“Oppa tahu, tapi bukankah Jihyun sudah membantumu di butik? Jadi kau tidak perlu terlalu memforsir tenagamu seperti ini. Kau itu juga manusia yang butuh istirahat dan penyegaran.”

“Ne, aku tahu. Setelah ini aku akan ambil cuti.”

“Ah! Bagus itu! Sebaiknya kau pergi ke tempat yang banyak laki-lakinya. Supaya kau tidak jadi perawan tua.” Ejek Luhan.

“YA! OPPA!” Kesal Eunhyo sambil memukul lengan Luhan.

“Aduh, sakit! Kau ini! Badan sekurus itu tapi tenagamu kuat sekali.” Umpat Luhan sambil mengelus lengannya yang menjadi sasaran tangan Eunhyo.

“Biarkan saja. Salah sendiri oppa mengejekku.” Bela Eunhyo.

“Oppa tidak mengejekmu. Oppa benar-benar mengkhawatirkanmu, Kim Eunhyo. Oppa lihat kau sama sekali tidak dekat dengan laki-laki, oppa hanya ingin kau cepat menyusul oppa. Lagipula sudah sepantasnya oppa menerima keponakan darimu.” Kata Luhan.

Melihat kesungguhan dari kata-kata Luhan membuat Eunhyo hanya bisa menghela nafas. “Aku tahu, oppa. Tapi sampai saat ini aku belum menemukan seseorang yang tepat. Seseorang yang aku inginkan untuk menjadi teman hidupku.” Kata Eunhyo sambil menatap lurus ke depan.

“Baiklah. Oppa tidak akan memaksamu, kau sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidupmu sendiri. Benar kan?” Tanya Luhan sambil tersenyum.

“Ne.” Eunhyo pun membalas senyuman Luhan.

“Eunhyo noona, ini pesananmu.” Sebuah suara menginterupsi percakapan singkat antara Eunhyo dan Luhan.

“Terimakasih, Sehun-ah.” Kata Eunhyo sambil tersenyum.

“Ne. Selamat makan, noona. Aku permisi.” Sehun menyempatkan diri untuk tersenyum dan sedikit membungkuk ke arah Eunhyo dan Luhan sebelum pergi meninggalkan meja mereka.

“Makanlah!” Perintah Luhan setelah Sehun menghilang dari hadapan mereka.

“Ne, selamat makan!”

Mereka pun menikmati makanan mereka dalam diam. Eunhyo yang sibuk menghabiskan spaghetti pesanannnya serta Luhan yang memilih untuk menyesap secangkir Hot Coffee.

“EUNHYO EONNI!!!” Teriakan seseorang menghentikan aktifitas si pemilik nama. Eunhyo pun menatap sekitar mencari siapa yang telah memanggilnya. Dan senyum mengembang begitu mengetahui siapa yang memanggilnya.

“Haena.” Gumam Eunhyo.

“Kau mengenalnya?” Tanya Luhan.

“Ne.” Jawab Eunhyo tanpa mengalihkan pandangannya dari Haena dan tetap tersenyum kepada gadis kecil itu yang berjalan menuju ke arahnya.

“Eunhyo eonni, aku senang bisa bertemu dengan eonni disini.” Kata Haena yang langsung memeluk Eunhyo.

“Ne, eonni juga.” Kata Eunhyo membalas pelukan Haena.

“Apakah kau baru saja pulang dari sekolah?” Tanya Eunhyo melepaskan pelukan mereka dan menyuruh Haena untuk duduk disampingnya.

“Ne.”

“Dengan siapa kau kemari?”

“Park ahjussi. Aku lapar dan ingin makan disini. Makanya aku datang kesini. Dan aku bersyukur bisa bertemu eonni disini.”

“Eonni juga. Kau ingin makan apa? Pesanlah!”

“Aku sudah memesannya tadi.” Jawab Haena.

“Oh! Kalau begitu kau duduk disini saja dan makan bersama eonni, bagaimana?”

“Tentu saja aku mau.” Jawab Haena dengan senyum manis yang tersungging di wajah polosnya.

“Ehem…ehem… Sepertinya aku tidak dibutuhkan disini.”

“Ah! Luhan oppa, mianhe.” Kata Eunhyo dengan nada bersalah. “Kenalkan ini Haena, gadis kecil yang aku temui beberapa hari lalu ditaman.” Lanjut Eunhyo. “Haena-ah, kenalkan ini teman eonni, namanya Wu Yi Fan tapi kau bisa memanggilnya Luhan ahjussi.”

“Ya! Kim Eunhyo! Aku tidak setua itu untuk dipanggil ahjussi.” Kata Luhan tidak terima.

“Senang berkenalan dengan ahjussi. Namaku Haena. Kim Haena.” Kata Haena sambil mengulurkan tangannya.

Luhan pun menyambut uluran tangan Haena dengan senyuman. “Wu Yi Fan, kau bisa memanggilku Luhan oppa.”

“Tapi bukankah lebih tepat aku memanggil ahjussi dengan sebutan Luhan ahjussi? Bagaimana?” Tanya Haena dengan wajah polosnya yang membuat Luhan mendengus kesal, sedangkan Eunhyo hanya terkekeh geli.

“Terserah kau saja.” Kata Luhan pasrah.

“Tapi kau tampan ahjussi, meskipun lebih tampan appa.” Puji Haena kepada Luhan sekaligus menjatuhkannya.

“Terimakasih. Tapi ahjussi yakin ahjussi lebih tampan dibanding appamu.”

“Tidak. Appa lebih tampan.” Haena tetap pada pendapatnya.

“Kalau begitu, lain kali kau ajak appamu kemari dan biarkan Eunhyo yang menilai lebih tampan ahjussi atau appamu. Bagaimana?” Saran Luhan.

“Setuju.” Jawab Haena.

Dan obrolan mereka pun berlanjut hingga hal-hal sepele. Haena yang baru bertemu dengan Eunhyo sebanyak 2kali sudah merasa dekat dengan gadis itu, sedangkan Luhan yang baru ditemuinya hari ini mampu membuatnya tersenyum dan tertawa dengan lelucon yang dilontarkannya.

* * *

Seperti biasa sebelum pulang kerumah, Eunhyo akan menyempatkan diri duduk barang sejenak di taman dekat rumahnya. Menikmati udara sore di taman yang asri dan ramai pengunjung itu. Baik anak-anak beserta kedua orang tua mereka ataupun sepasang kekasih yang ingin menghabiskan waktu berdua.

Eunhyo pun memilih duduk di bangku favoritenya. Sebuah bangku yang terletak dibawah  pohon besar rindang yang mampu melindunginya dari sinar matahari. Tepat didepan matanya disuguhi pemandangan air mancur yang sangat indah. Membuat Eunhyo tidak pernah bosan untuk selalu datang ke taman itu meski seorang diri.

Beberapa kali gadis itu terlihat bermain-main bersama beberapa anak kecil yang memang sudah dikenalnya. Bersama mereka, Eunhyo bisa melupakan sedikit beban akan tanggung jawab besar yang dipikulnya sebagai desaigner ternama. Setelah puas menikmati pemandangan sore itu, Eunhyo memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Dia pun beranjak dari duduknya dan tidak lupa membawa tas serta beberapa lembar dokumen yang dia letakkan disampingnya.

Saat menyusuri jalan setapak di taman itu, matanya tertuju pada sebuah benda berwarna hitam yang diyakininya adalah sebuah dompet. Dipungutnya dompet itu dan melihat sekeliling siapa tahu ada yang sedang mencarinya. Tapi nihil. Dia tidak menemukan tanda-tanda pemilik dompet itu disekitarnya. Dengan sedikit ragu Eunhyo membuka dompet itu. Bukan apa-apa hanya ingin mengetahui identitas pemilik dompet itu supaya dia bisa segera mengembalikannya. Dan betapa tertegunnya dia melihat isi dompet itu. Bukan uang yang banyak, tapi sebuah foto dirinya. Tapi dia sendiri tidak ingat pernah berfoto dengan pakaian dan pose seperti yang terlihat di foto. Tapi bukankah ini dirinya? Gadis di foto ini sangat mirip dengannya.

“Jeosonghamnida, bisakah aku melihat dompet itu?” Sebuah suara membuyarkan lamunan Eunhyo.

“Ne?” Tanya Eunhyo sambil mengangkat kepalanya agar bisa melihat orang di depannya.

“Eunhyo?”

TBC

* * * * *

Gimana? Masih setiakah menunggu kelanjutannya?

Maaf ya kalau kependekan? Memang sengaja sich, kalau aku bikin FF chapter pasti setiap chap-nya tidak lebih dari 10 halaman Ms. Word.

Comment dan like aku tunggu selalu.

Sampai jumpa di FFku selanjutnya

Dadah….*peluk dan cium dariku untuk kalian semua

Iklan

47 pemikiran pada “I Found You, For Me and My Dad (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s