Hello Mr. Wu! (Chapter 3)

Title: Hello Mr. Wu!

Part 3 – The Dragon’s Best Friend

Cast:
Song Yeon Ah (you)
EXO-M Kris
and EXO boys.

Author: @rollingkris

Genre: romance, comedy

Prolog (https://exofanfiction.wordpress.com/2012/08/01/hello-mr-wu-prolog/ ) | Part 1 (https://exofanfiction.wordpress.com/2012/08/16/hello-mr-wu-chapter-1/ )

*

“Suho hyung… Aku kecelakaan… Aku tidak bisa pergi kerja hari ini…”

“Ah..gak serius kok, tadi aku jatuh di kamar mandi dan… kepalaku.. kepalaku terbentur.”

“A-aniyo! Tidak usah panggil doktor, aku baik-baik saja..”

“Ne..ne… makasih ya. Dah.”

Dari balik pintu kamarmu, kamu mendengarkan perbincangan Kris dengan asistennya.Ih dasar penipu, batinmu.Lalu kamu meninggalkan pintu itu dan berbaring di tempat tidur, kamu sudah mengunci kamarmu tentu saja.Kamu tidak mau ambil resiko kalau-kalau Kris menyayatmu gara-gara insiden tadi.Kamu mendengus mengingatnya kemudian berguling-guling lagi di tempat tidur.

“Heh pendek, sampai kapan kau mau mengunci dirimu di dalam hah??”

Kamu melirik pintu dengan pandangan irritated. Lalu menjawab, “Aku belum mau mati!”

“Hah? Yak! Memangnya siapa yang mau membunuhmu hah?! Cepat keluar!”

“Waeyo?”

“Aku mau belanja!”

“Apa?Lalu kenapa aku harus keluar?Belanja saja sendiri!” pekikmu.

“Kau harus beli baju, mahkluk kecil!Cepat keluar!”

Dan kau pun membuka mulutmu, membentuk huruf ‘o’.Lalu berjalan keluar kamar.Kamu mendapati Kris sedang duduk di sofa sambil memainkan handphonenya.Ia sudah siap pergi dengan kaus hitam ketat lengan panjang dan jeans hitam.

“E-ehem.” kamu berdeham dan tatapan tajam Kris langsung menusukmu.

“Cih.Keluar juga akhirnya.”Kris berdiri dari sofa dan berjalan santai mendekatimu.Kamu bisa melihat ada plester di keningnya, agak tertutupi oleh poninya tapi cukup besar hingga terlihat.Pasti gara-gara tadi, batinmu.Kamu agak merasa bersalah, namun kamu masih takut dengan manusia tidak terduga itu.Habis dia selalu memasang wajah kaku dan expressionless. Kamu mundur seiring Kris maju.

“Apa sih!Jangan sok malu-malu begitu, ayo pergi!” dan Kris berlalu begitu saja, hendak keluar tapi kamu menahannya.

“YAK tunggu!” pekikmu dan Kris menengok padamu.

“Apa?”

“Aku… Aku kan tidak punya baju pergi…” ucapmu, tidak lebih dari sekedar bisikan. Kris medengus lalu ia berjalan ke kamarnya, tak lama ia keluar dengan beberapa pakaian di tangannya.

“Pakai ini dulu.Cari yang paling kecil.”Kris melemparkannya lagi padamu.Untung kamu termasuk wanita yang atletis, sehingga daya tangkapmu bagus.

Kamu masuk ke kamarmu lalu mulai meneliti baju-baju Kris yang -tentu saja semuanya segede-gede nabi (?)- kamu mendesis.

“Eish.. Tidak ada yang kecil..” kamu melihat nanar pada tiga kemeja lengan pendek itu. Dua di antaranya berwarna biru dengan tingkat keterangan yang berbeda dan satu lagi adalah kemeja kuning pucat. Oh well, setidaknya kemeja kuning ini yang paling terlihat girly, dan memang memiliki ukuran yang setidaknya lebih kecil sedikit. Kamu pun memutuskan menggunakan kemeja itu.Dan oh, ternyata kemeja itu tetap berhasil mencapai pertengahan pahamu.Lengannya juga melebihi sikumu.

“Dasar gajah.” gumammu.Lalu sekarang tinggal bawahan, kamu memutuskan memakai rok hitam sepanmu yang kemarin.Kamu memasukkan kemejamu ke dalam rokmu itu, lalu sedikit menggulung lengan kemejanya.

“Hey, aku sudah siap.” kamu keluar dari kamarmu, menghampiri Kris yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya. Ia melirikmu, lalu menaikkan alisnya.

“Ternyata muat juga.Dasar pendek.” ujarnya dan kamu langsung merasa terhina.

“Itu karena aku menggulung lengannya dan memasukkan kemejanya ke dalam rok.Kau badan gajah.”

“Mwo?Badan gajah?!Yak, itu karena kamu terlalu kecil tau tidak?Ish mana ada wanita sepertimu, kurus kerempeng dan tidak berdada.Mengerikan.”

“MWO!!TIDAK BERDADA?!” kamu kesal setengah mati dengan topik kali ini, kamu memelototi Kris.Sementara pria itu balik menantangmu dengan mengangkat kepalanya. Oh betapa ingin kamu meninjunya.

“Apa?”Kris masih menantangmu, kamu mendengus.

“Memangnya kau pikir kau tidak aneh hah?Lihat lenganmu yang terlalu panjang itu!” Kris yang kini terhina, ia menautkan kedua alisnya dengan rahangnya mengeras. Kalian berdua saling berhadapan, seakan siap meninju satu sama lain.

“Omo!Kalian kenapa seperti ini?!Bertengkar eh??” kalian berdua langsung menoleh pada suara berat yang terdengar dari samping.

Chanyeol melihat kalian dengan mata besarnya, kebingungan.Sampai kamu menyadari kalau dia sedang menyikat giginya, tangan kanannya menggenggam sebuah sikat gigi pink yang masih ada busanya. Kamu meliriknya aneh, lalu Chanyeol menyadarinya, ia tertawa.

“Hahaha aku sedang sikat gigi dan aku mendengar ribut-ribut di luar kamar jadi aku buru-buru keluar.”Chanyeol menyikat lagi giginya tanpa malu, membuatmu terkikik.

“Tidak, tidak ada apa-apa kok..Sana, lanjutkan sikat gigimu.” kamu memberikannya senyuman dan Chanyeol membalasnya dengan senyuman lebar yang creepy. Lalu ia kembali ke kamarnya. Kamu sadar Kris sedang memandangimu.

“Cih.Lihat siapa yang telah menjadi tetangga baik hati, tetangga favorit bulan ini.” celotehnya sambil berjalan pergi.Kamu kaget dia pergi begitu saja, jadi kamu langsung mengikutinya.

“Yak tunggu aku!” kamu kerepotan sendiri mengejarnya karena kaki-kakimu yang hanya bisa mengambil langkah kecil.

“Aku tidak menemukan keanehan pada Chanyeol.” kamu membuka topik di dalam mobil Kris.Kris melirik sesaat lalu balik memperhatikan jalanan.

“Kau baru satu hari tinggal disitu, bagaimana kau bisa langsung tau sifat remaja penuh obsesi itu.”

“Obsesi?”Kamu menaikkan alismu.

“Sejak pertama kali bertemu denganku, hingga sekarang, dia akan mengikutiku setiap ada kesempatan.Bocah mengerikan.”Kris menjelaskan dan kamu cuma mengangguk.

“Well let’s see. Karena aku belum menemukan keanehannya.” balasmu.

Kemudian tidak lama porche biru laut Kris berhenti di shopping mal kawasan Dongdaemun, distrik shopping Korea Selatan. Setelah menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet, kau dan Kris masuk ke dalam mall luas itu.

“Hal pertama yang kita cari…. pakaian.”Kris dengan laga sok pintarnya berjalan duluan menuju ke kawasan department store sementara lagi-lagi kamu harus mengejarnya. Dan Kris mendapati kamu harus susah payah berjalan cepat demi untuk bisa sejajar dengannya. Kris mendesis lalu tiba-tiba ia menggenggam tanganmu, menempelkan telapak tangan kalian. Tentu saja kamu terkesiap, kamu membelalakkan matamu pada Kris yang kini mengembangkan smirk-nya.

“Ige… mwoyeyo?” kamu menatap pegangan tangan kalian.

“Supaya anak pendek tidak hilang.Karena kau kecil, nanti kalau kau hilang akan sangat sulit untuk mencarimu.”

Kamu membuka mulutmu lebar, siap protes keras namun tiba-tiba Kris berjalan lagi, memaksamu tertarik mengikutinya.

“Ish! Lepaskan! Aku tidak akan hilang kok!” kamu memekik dari belakang Kris dan tanganmu meronta-ronta ingin lepas tapi Kris malah mengeratkan pegangannya.Ia juga pura-pura tidak mendengarmu dan terus berjalan.

“Selamat pagi tuan Wu.”

Setibanya di dalam departemen store, para karyawan langsung menyambut Kris dengan hangat dan langsung membungkukkan badan mereka pada Kris hanya membalasnya dengan senyuman tipis.Kamu kebingungan, memandangi para karyawan itu. Kenapa mereka membungkuk pada Kris..

“Tidak usah bingung kenapa mereka mengenalku, aku pemilik 50% saham department store ini.” jelas Kris, tanpa melihatmu. Kamu pun terbengong-bengong dibuatnya,betapa tidak, ternyata Kris bukan sembarang orang kaya. Dia BENAR-BENAR kaya.

Sementara itu kalian berdua masih berpegangan tangan, mengarah ke bagian wanita.Memang rasanya aneh, tangan Kris yang besar dan kuat menggenggam tanganmu yang mungil dan rapuh.Seakan dilahap oleh jemarinya yang juga panjang. Tidak mengerikan, tapi..hangat. Dan ada perasaan aneh yang menjalar dari tanganmu ke jantungmu.Nampaknya jantungmu tidak biasa dengan sentuhan seperti ini, membuatnya berdenyut terlalu cepat.Kamu akhirnya hanya menundukkan kepalamu karena malu.Hingga kamu baru sadar kalau Kris sudah berhenti berjalan dari tadi.Pria itu melepaskan kaitan tangan kalian.Ia menoleh dan melihatmu.

“Kau pilih baju sendiri.Yang mana saja, berapa saja. Aku akan pergi ke bagian pria dan kembali ke sini lagi. Jadi, take your time.” ujar Kris cepat lalu ia pergi dan sudah menghilang lagi dari pandangan. Kamu memandanginya saja.

Matamu terkunci pada sosoknya yg tegap dan tangguh, yang begitu menawan hingga bisa langsung menjadi pusat perhatian sekitarnya tanpa banyak gaya. Kamu malah melamun jadinya, tapi segera menggelengkan kepalamu untuk menyadarkan diri.Kamu mulai mencari pakaian.

*

Kris POV

Kris berjalan cepat keluar dari toko pakaian itu.Dia ternyata tidak menuju area pakaian pria, melainkan menemui seorang detektif di sebuah restoran masih di dalam mall itu.Detektif muda kepercayaan Kris sejak dahulu, Detektif Kim Jong In.

“Hey” Kris menarik kursi di hadapan Jong In dan pria itu melirik Kris. Dia berhenti memainkan i-padnya lalu membungkuk pada Kris.

“Selamat siang tuan Wu!”

Kris hanya membalas dengan senyum tipisnya seperti biasa lalu ia mengangkat tangannya menunjuk kursi, meminta Jong In duduk lagi. Jong In menurut.

“Jadi?Kau sudah mendapatinformasi?”Kris memulai pembicaraan lalu Jong In mengangguk.Kris melebarkan matanya.

“Apa?” tanyanya.

“Nona Song Yeon Ah ini, ia adalah seorang pelajar di kampus elit Ekitoho di Jepang.Ia memang orang Korea, namun sudah tinggal di Jepang sejak pertama masuk kampus. Seminggu terakhir dia pulang ke Korea, entah untuk alasan apa. Ia sebelumnya bekerja sambilan di kafe Moonbucks, namun saya tidak berhasil menemukan keterangan dimana tempat tinggalnya. Ini, tuan Wu,” Jong In menyerahkan sebuah map tebal, “..Keterangan lebih lengkap.”

Kris meraihnya lalu langsung meneliti map itu. Semuanya berisi data-data Song Yeon Ah, mulai dari ijasah kampusnya dan CV untuk melamar pekerjaan.Tapi dari semua berkas-berkas tersebut, tidak ada satu pun yang menyertakan alamat rumahnya.Kris menaikkan alisnya.Siapa sebenarnya gadis ini… pikirnya keras.Lalu Jong In di seberangnya bicara lagi.

“Saya yakin gadis itu bukan gadis sembarang, tuan Wu.Yang bisa masuk ke kampus se-elit kampus Ekitoho hanya orang-orang dengan intelejensi tinggi dan merupakan orang-orang terpilih yang masih memiliki darah biru saja. Jadi..nona Song ini… bukan seorang yang bisa diremehkan. Ia bisa jadi merupakan orang penting di Korea..Ataupun seorang juru kunci dari pusat intelejensi Korea Selatan.”

Tidak disadari, Kris sudah membuka mulutnya lebar sekali sepanjang spekulasi Jong In. Ia menelan ludahnya begitu mengetahui siapa gadis yang tinggal dengannya dua hari ini.

“Se-sepenting itukah gadis pendek itu..” batinnya.

*

Your POV

Kamu tidak tahu apa yang harus kamu pilih di toko baju itu. Sudah hampir setengah jam, dan kamu hanya berhasil membeli satu kaus saja.Kamu menghela nafas di antara gantungan-gantungan pakaian, fashion itu bukan kamu banget. Well setidaknya sifat alamimu tidak hilang bersama ingatanmu.

“Heh pendek.” dari belakangmu terdengar suara berat khas itu.Kamu berbalik dan mendapati Kris yang tinggi menjulang, menunduk untuk melihat wajahmu.

“Sudah selesai belum?”Kris melirik ke arah kantung belanja di tanganmu namun kamu menyembunyikannya karena malu.Kris merebutnya tentu saja.

“Mwo?!Kau hanya dapat satu daritadi?? Eish… Kau ini benar-benar.”Kris melirikmu sewot dan kamu menyembunyikan wajahmu.

“Habis..aku tidak tau harus pakai apa..” ujarmu, dengan suara terkecil yang bisa kamu keluarkan. Kamu terlalu malu untuk mengatakan pada Kris kalau kamu adalah wanita yang buta fashion.Kris berdeham.

“Ya sudah.Biar aku yang pilihkan.”Kris mengambil kantung belanjaanmu dan menghilang lagi dari pandanganmu secepat kilat.Kamu mengerjap-ngerjapkan matamu, kenapa pria itu cepat sekali kalau soal membeli baju?pikirmu. Lalu kamu pun akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi department store, menunggu Kris.

Hingga kira-kira 15 menit kemudian, Kris sudah kembali dan kantung belanjaannya tadi sudah penuh oleh pakaian.Kamu membelalakan matamu.

“Ke-kenapa sebanyak itu?!” kamu melirik ke dalam kantungnya tapi Kris menariknya lagi.

“Kau harus cantik dan stylish kalau mau tinggal dengan pangeran tampan di Korea kau tau?” kamu agak jijik dengan ucapan Kris lalu kamu mendengus.

“Tapi kan tidak usah sebanyak itu, lagipula aku yakin ingatanku akan kembali tidak lama lagi.”Kris melebarkan matanya seakan syok dengan pernyataanmu.Kamu mendelik, bingung kenapa dia terlihat kaget begitu.

“Wae?”

“Ah..t-tidak.” Kris tiba-tiba gugup, tapi dia langsung menutupinya dengan menyerahkan kantung belanjaan itu pada seorang karyasan toko itu, sekaligus kartu kreditnya.

“Bayar semua itu.”

“Baik, tuan..” wanita itu membungkuk lalu pergi ke arah kasir. Tidak butuh waktu lama hingga wanita itu kembali lagi dengan kantung special.Kris mengambilnya.

“Nah, sekarang ayo makan. Aku lapar.”Kris lagi-lagi berjalan duluan. Kamu menarik nafasmu sambil mulutmu menggumam, “eish..gajah.”

Kamu mengejar Kris lagi sebelum ia semakin jauh, lalu pria itu berhenti mendadak. Hampir kamu menabraknya kalau saja kamu tidak cepat tanggap.Pria itu menengok padamu.

“Apa?”

“Sepertinya aku masih takut kau menghilang, …” Kris menggenggam tanganmu lagi. Seketika wajahmu memanas “..jaga-jaga kalau ada yang mau menculikmu.” Kris mengeluarkan smirknya dan kamu cuma menggumam-gumam tidak jelas.

Kalian berdua berjalan menuju restoran cepat saji, masih di wilayah mall itu, Burger Prince.

“Kau suka kan?” tanya Kris, matanya entah kenapa jadi berbinar-binar. Jangan-jangan itu makanan kesukaannya.Mau bagaimana lagi, kamu mengangguk saja.Lagipula memang kau juga pecinta makanan cepat saji.

Akhirnya kalian berdua masuk dan memesan makanan, lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan jendela. Kamu memandang takjub ke arah jendela yang menampakan pemandangan kota Seoul yang cantik itu. Sambil menyantap burgermu, matamu tak berhenti menelusuri Seoul.Sementara mata Kris sendiri sedang menelusuri wajahmu.Di dalam pikirannya, masih terpatri jelas ucapan Jong In tentang gadis di hadapannya ini.Kris menjadi resah dan gugup di hadapanmu, entah kenapa.Dia tidak tahu kalau kau adalah seorang yang dulunya memiliki kekuasaan seperti itu, membuat Kris merasa takjub denganmu. Namun ia menggelengkan kepalanya dan hanya melanjutkan makan makanan kesukaannya. Kris berencana mengatakan masa lalumu semua nanti malam.Setelah makan, kalian berdua mengobrol ringan sambil menghabiskan coke-nya.

“Eo.Hampir lupa.Ini.”Kris mengeluarkan sebuah kantung dari sisinya.Kamu menaikan sebelah alismu.

“Apa itu?” tanyamu dengan pandangan meneliti ke arah kantung itu.Kris cuma menyodorkannya.

“Ambil saja dan kau akan tau.”

Kamu memandang Kris sebentar lalu akhirnya mengambil kantung itu.Kris cekikikan.Kamu mulai curiga.

“Apaan sih?” hardikmu dan Kris pun tersenyum, menahan tawanya.

“Buka saja.” ujarnya singkat.Kamu mengendikan bahumu, lalu akhirnya membuka kantung itu.Dan alangkah kagetnya kamu begitu kau buka kantungnya.Kamu melotot memandangi isinya, dengan mulutmu terbuka lebar.Lalu kamu memelototi Kris, lalu memelototi isi kantung itu lagi. Kris kali ini menahan mulutnya dengan tangannya, ia benar-benar ingin meledak saat itu juga. Masalahnya, yang kamu temukan di dalam kantung itu adalah..beberapa pasang celana dalam dan bra. Barang-barang yang sangat pribadi bagimu.Kamu melihat Kris lagi dengan pandangan mematikan.

“Kenapa kau memberikan ini?!!Kapan kau membelinya hah?!”

“Tadi.Waktu lagi nyari baju.”Kris menjawab santai sambil menghisap coke di tangannya.

Kamu memandangi pakaian dalam itu dengan tidak percaya. Lihat saja, warnanya merah….

“Ish!” kamu membanting kantung itu ke kursi sebelahmu.

“Awas kau ya!”Kamu memelototi pria yang cekikikan terus itu lalu kamu meminum coca colamu dengan nafsu karena kesal.

“Ngomong-ngomong Yeon Ah ssi..Tidak usah memanggilku Wu Fan lagi.Panggil aku Kris. Atau oppa kalau perlu, karena aku lebih tua satu tahun darimu kan?”

“Berharap saja.” jawabmu singkat. Kris memicingkan matanya lalu tiba-tiba ia mengangkat tangannya dan menarik sedotan dari mulutmu. Kamu naik pitam.

“APAAN SIH!”

“Panggil aku Kris.” katanya lagi lalu dengan seenaknya ia menaruh sedotan di bibirmu.

“Eish!” kau lepas lagi sedotannya.

“Kenapa namamu ada dua? Dan… kebarat-baratan gitu??”

Kris menaikkan sebelah alisnya sok ganteng lalu menjawab, “Aku ini lahir dan besar di Canada.” kemudian mengeluarkan smirk sombong.Kamu memutar matamu.

“Memangnya orang-orang Amerika tidak bisa bilang Wu Fan Wu Fan apa? Kenapa harus punya dua nama? Jadi sasaran teroris baru tau rasa.”

“Mwo?!Tampang sempurna seperti ini dicurigai polisi??Kau pasti bercanda!” Kris menatapmu tidak percaya tapi kamu juga menampakkan smirk.

“Tidak.Aku tidak bercanda.” ujarmu sambil tersenyum puas.Kris merasa terpojok.

“Eish.Kau tau?Yang boleh memanggilku Kris cuma orang-orang terdekatku tau.Jadi kau itu beruntung.”

Srrttt!

Pas sekali, seusai Kris selesai bicara, coca colanya habis.Begitu juga punyamu.Jadi kalian berdua memutuskan untuk pulang.

*

Kamu membereskan seluruh pakaian-pakaian barumu ke dalam lemari, sambil matamu berbinar-binar melihatnya.Baiklah, harus kau akui kalau selera berpakaian Kris memang bagus. Pakaian yang ia pilihkan untukmu semuanya cantik dan sangat bergaya. Gaun-gaun, mini dress, pakaian santai, dan pakaian tidur yang menarik, semua ini adalah pilihan Kris.Kamu tersenyum sambil menggantung semuanya di dalam lemari.Lalu karena hari sudah malam, kamu pun keluar kamar untuk mandi.

Kamu berendam di dalam bathup cukup lama, sekitar setengah jam.Merilekskan tubuh, sekaligus menjernihkan pikiran dari pertengkaran-pertengkaran kecilmu dengan Kris. Lalu kamu berfikir, sebenarnya tidak baik untuk menghina dan mencaci maki Kris, karena ia adalah penolongmu. Dia yang menemukanmu di jalan saat kau hampir mati, dia yang akhirnya memberikanmu makan dan membawamu pulang ke rumahnya, dan dia juga yang membelikanmu pakaian begitu banyak, supaya membuatmu nyaman bersamanya.Kamu menghembuskan nafasmu.Kamu merasa menyesalmembuatnya marah selama ini, sementara pria itu begitu baik padamu. Baiklah, batinmu, aku tidak akanmempersoalkan apapun lagi tentang Kris. Aku akan membuatnya tenang dan bahagia sebagai balasan telah merawatku seperti ini. Kamu tersenyum lalu memasukkan lagi kepalamu ke dalam airnya dan akhirnya turun dari bathtup.Kamu melilitkan handuk di sekitar tubuhmu, menyisir rambutmu, kemudian keluar dari kamar mandi.

Tapi, seiring kamu keluar dari kamar mandi, kamu melihat seorang asing masuk ke dalam apartemen.Kamu membelalakkan matamu.Pria besar dengan jaket kulit hitam dan wajahnya sangar.Matanya mencari-cari ke segala arah dengan misterius. Jangan-jangan…. pencuri… Kamu menelan ludahmu.Kamu berpikir keras, mencari sesuatu yang bisa kau pakai untuk melindungi diri.Dan kamu menemukan… sapu lidi.Baiklah.Sapu lidi bisa menjadi senjata yang bagus.Kamu pun mengambilnya. Lalu setelah mengumpulkan keberanian, kamu mendekati pria menyeramkan itu, dengan sapu lidi diacungkan ke depan. Kamu mengeratkan handuk di tubuhmu seiring kamu berjalan.

Krieet…!

Kamu membeku di tempat.Kakimu menginjak lantai yang berderit.Matamu melebar sempurna sekarang, apalagi ketika kamu melihat pria itu sudah menyadari kehadiranmu. Dia juga syok melihatmu, dengan sapu lidi di depan wajahnya.

“K-kau siapa?” tanya pria itu. Kamu tidak menjawab, kamu memicingkan matamu.

“Harusnya aku yang bertanya kau siapa!Kenapa kau sembarangan masuk rumah orang hah?” tanyamu sambil menekan-nekan bahu pria itu dengan sapu lidimu.Dia mendengus dan menatapmu tidak percaya.

“SEENAKNYA SAJA KAU PADAKU!” tiba-tiba pria itu menerjangmu, membantingmu ke tembok dengan tangannya mengunci tanganmu.Kamu benar-benar kaget kali ini, wajahmu pucat pasi.

“Kau yang siapa! Aku tidak pernah melihat wanita sepertimu di apartemen sahabatku! Dan apa ini, hanya memakai handuk? Apa kau wanita penghibur??”

“MWO?!! APA KAU BILANG TADI!!!” kamu meneriaki pria kurang ajar itu hingga ia harus memejamkan matanya sejenak. Tapi pria itu malah semakin emosi dan ia menekanmu semakin kuat, kamu meringis kesakitan.

“AKU TAU KAU PASTI WANITA PENGHIBUR! CEPAT KELUAR DARI RUMAH SAHABATKU!!”

“YAK ADA APA INI?!!!!”

Bentakkan menggelegar terdengar dari belakang dan kalian pun menengok ke arah yang sama. Di sana, tampak Kris. Wajahnya sudah sangat kesal dengan kedua alisnya menukik tajam ke bawah dan rahangnya tertarik ke belakang.Matanya juga sangat tajam menatap kalian.

“Yak Tao!!Apa yang kau lakukan hah?!” Kris menarik Tao dari tubuhmu.Dan kamu mendelik pada pria itu.

Tao?Kenalan Kris kah? Eh tadi cowok brengsek itu bilang Kris sahabatnya kan?

“Siapa dia gege??”Tao menunjuk wajahmu.Kamu mulai geram. “Apa dia menggodamu?! Aigoo gege! Kau bukan orang yang seperti ini!”

“SIAPA YANG MENGGODA SIAPA HAH?? SEENAKNYA SAJA MENGHAKIMI ORANG! MAU KUHAJAR KAU?!!” kamu mengangkat sapu lidi itu lagi ke arah Tao dan pria itu langsung bersembunyi di balik Kris.Kamu mendengus, ternyata dia seorang penakut?!

“Yak yak yak!Sudah cukup!”Kris menarik dirinya dari Tao hingga kau dan Tao berhadapan lagi.Kamu memandangnya sengit, begitu juga dia.

“Kalian salah berspekulasi oke. Yeon Ah, ini Huang Zitao, sahabatku. Dan Tao ini…” Kris melirikmu karena bingung mau memperkenalkanmu sebagai apa, “..ini sepupu jauhku, Yeon Ah.”

Tao melongo melihatmu.Kamu juga terbengong-bengong pada pria itu. Kalian sama-sama freeze dan perlahan kamu menurunkan sapu lidi itu. Kris menghembuskan nafasnya.

“Kalian… sepupu?”Tao masih tidak percaya, memperhatikan Kris dengan mata yang terbuka lebar.

“Ngg.. ya.”

“Bukannya kau sudah kehilangan semua keluargamu?” tanya Tao. Kris membulatkan matanya dan mulutnya membentuk “O” lagi. Kamu juga terkejut dengan satu fakta ini, Kris..tidak memiliki keluarga?

“A-aku juga… baru mengetahuinya…” Kris langsung melirik ke arah yang lain dari mata Tao. Hening sejenak. Kamu juga jadi bingung sendiri harus berbuat apa.

“Rupanya begitu..” ujar Tao akhirnya. Pria dengan wajah bandit namun berhati hello kitty itu kini memandangmu.Kamu balas menatapnya.

“Mianhaeyo..” ujarnya kemudian, membuatmu kaget. Kamu tidak menyangka dia akan mengucapkan maaf.

“Ah..ah.. ne.. Aku juga..minta maaf..” Kamu tersenyum malu-malu sambil tanganmu memainkan handukmu.Lalu kamu pun menyadari satu hal.Kamu sedang semi-telanjang di hadapan dua pria.Dan dua pria itu kini sedang memandangimu aneh.Sial, batinmu.Kamu pun segera pamit undur diri.

“A-aku..Sebaiknya aku berpakaian dulu.Permisi.” dan kamu pergi begitu saja.

*

Author POV

“.. Aku benar-benar tidak percaya! Ternyata ayahku suka mencabut bulu kakinya! Kupikir hanya aku di keluargaku.. Baiklah gege, memang ungkapan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu benar! Tapi memang iya sih.. Kalau aku beda dari ayahku, kan itu berarti aku anak pungut…”

Kris tidak memperhatikan celotehan Tao yang tidak kunjung usai dari awal mereka berduaan. Padahal Kris tidak merespon sama sekali, tapi bocah itu terus mengeluarkan kata-kata. Dan sekarang, Kris melamun saja.Ia memandangi cocktailnya tanpa ekspresi. Sebenarnya ia sedang memikirkan Yeon Ah. Yeon Ah dan tubuhnya yang basah setelah mandi..

“.. Dan aku bersumpah aku akan mengupilinya! Kau setuju kan gege??’Tiba-tiba Tao menarik bahu Kris dengan dua tangannya.Kris terkesiap.

“A-ah..ne..!” Kris reflek menjawab lantang lalu melepaskan diri dari Tao sambil mengeluarkan cengiran khasnya, cengiran “yeah..maybe next time”-nya. Dan kembali melamun.

“Aigoo gege.. Aku lapar… Buatkan aku ramyeon… ne? Ayolah…” Tao menggelayut manja di lengan Kris sementara Kris tidak bisa menolaknya, ia hanya tersenyun ramah. Dari dulu Kris memang paling tidak bisa menghindari Tao, entah kenapa.Kris berjalan menuju dapur untuk memasakkan ramyeon.

Sementara itu, Yeon Ah sudah selesai berpakaian dan ia keluar dari kamarnya. Gadis itu mengintip ke ruang tamu dan mendapati Tao duduk sendirian disana.Yeon Ah dengan santai duduk di sampingnya.

“Hai..” panggil Yeon Ah dan tiba-tiba ekspresi Tao mengeras. Ia bahkan tidak mau melihat ke arah Yeon Ah. Yeon Ah mengerutkan alisnya. Kenapa dengan bandit hello kitty ini?, pikirnya lalu Yeon Ah pun hanya bersantai di sofa itu saja, tidak mempedulikan Tao.

“Hey Tao!Kau mau pedas atau tidak??”
Kris berseru dari dapur dan Tao menjawab, “Tidak, jangan pedas, terima kasih!”

“Ngg.”

Yeon Ah melirik Tao.

“Dia sedang memasak untukmu?” tanyanya dan Tao akhirnya melihat Yeon Ah walaupun hanya segelintir. (?)

“N-ne..”Lalu Tao langsung menyembunyikan wajahnya lagi, tangannya meremas lututnya karena gugup.Pipinya yang berkulit pucat juga memerah.Karena gadis di sebelahnya itu.

“Cha…. Ramyeonmu sudah jadi..”Kris dengan suara ramahnya keluar dari dapur, tampak panci kecil di tangannya.

“Oh! Ne, xie xie gege!”Tao meraih panci itu dan langsung membuka tutupnya.Asap segera mengepul keluar dan wangi khas ramyeon merebak kemana-mana. Yeon Ah cuma melemparkan glare, tapi lalu kembali menonton televisi, ia tidak lapar.

“Ngg..Yeon Ah ssi… Kau mau?”Tao menggeser pancinya ke arah Yeon Ah dengan malu-malu.Yeon Ah pun langsung mengangkat kedua tangannya pada Tao, sambil menggeleng, “eo aniyo, chon anpegopayo.” tolakmu halus sambil memberikan senyum singkat.Tao yang melihatnya menelan ludah, lagi-lagi wajahnya memanas.

“Eo..Arraseo.”Tao dengan grogi mengembalikan letak pancinya dan melahapnya dengan rakus.Dia kelaparan sekali.

“Hey, minggir, aku mau merebahkan kakiku.”Kris menyuruh Yeon Ah bergeser dengan paksa. Awalnya gadis sensitif itu mau membentaknya, tapi tidak jadi karena ia sudah janji tidak akan marah-marah pada Kris lagi. Ia pun dengan kalem menuruti ucapan Kris dan bergeser ke samping kiri, menempel dengan Tao yang sedang makan. Kris pun selonjoran di sofa itu dengan puas.Tapi entah kenapa tiba-tiba Tao tersedak begitu kulitnya bersentuhan dengan kulitmu.Ia langsung berdiri dari tempatnya dengan kuah mie masih belepotan di sekitar bibirnya. Kamu hampir kena serangan jantung karena tingkah bocah itu.

“Yak waeyo?!” kamu menghardik pria itu hingga ia terlonjak. Di sebelahmu, Kris yang sedang tiduran tertawa. Kamu melemparkan death glare padanya.

“Kau tidak mengerti?Bahkan Tao pun tidak mau dekat-dekat dengan wanita kecil dan berisik sepertimu.”

“MWO?!”Yeon Ah merasa terhina dan dia marah pada Kris, tapi Tao yang merasa sangat bersalah.Dia langsung menghentikan pertengkaran.

“Ti-tidak kok..Aku suka berada di samping Yeon Ah ssi…” lalu Tao tersenyum pada Yeon Ah.Senyum dengan wajahnya yang bersemu merah.Yeon Ah mengerutkan alisnya pada jawaban Tao, tapi kemudian Yeon Ah merasa tersentuh, dia membalas senyuman Tao.

“Maaf ya..” ujar Tao lagi, sambil menundukkan kepalanya. Dan dua orang itu tidak tahu, Kris sudah hampir meninggal terkena serangan jantung gara-gara tingkah Tao.Kris membuka mulutnya seakan engsel rahangnya lepas. Matanya tidak percaya atas apa yang sudah dilakukan Tao.

Dari bertahun-tahun ia habiskan waktunya bersama Tao, manusia bawelyang suka iseng itu tidak pernah sekalipun merasa malu. Dalam artian malu-malu seperti ini.Tao memang orang yang out-going, dan mudah diajak bicara.Manja dan selalu menarik perhatian. Dia juga disayang semua orang karena selera humornya yang tinggi dan kepintarannya dalam meraih hati orang lain. Intinya, dia bukan tipe yang pendiam maupun kalem.Dialah pihak yang agresif.Dan saat ini, jelas saja Kris hampir meninggal.

“Tao…. Apa ada racun tikus di dalam ramyeonmu…” gumam Kris.Tao bingung, “Hah?Racun tikus?Apaan?”

Kris menggelengkan kepalanya.Semua sudah jelas, Tao menyukai Yeon Ah.

*

“Ehm..Yeon Ah noona?”

“Ada apa Tao?” kamu menghaluskan bicaramu pada Tao begitu akhirnya kamu tau kalau ia lebih muda darimu sekitar tiga tahun.

“Apa kau benar-benar sepupunya Kris?” tanyanya.Saat itu hanya tinggal kau dan Tao berdua di ruang tamu, Kris pergi entah kemana setelah Tao selesai makan.

Kamu agak blanked out setelah mendapat pertanyaan itu, kamu bingung mau menjawab apa.

“Ah.. Ya.. Kami bertemu dua hari yang lalu..” akhirnya kamu memulai, “saat itu aku kecelakaan. Dan untungnya, Kris yang menemukanku dan entah bagaimana, dari segala pemeriksaan yang keluar, kami berdua… ternyata saudara..” wajahmu memucat seiring kamu merangkai kebohonganmu itu. Kemana perginya si gajah itu disaat seperti ini?!batinmu.

“Owh..Lalu?”

“Aku..karena kecelakaan itu.. aku hilang ingatan, Tao. Sehingga aku tidak tau apapun soal keluargaku.”

Tao mulai terkesiap. Lalu ia mencengkram bahumu tiba-tiba.

“Jinjja!?Jinjja jinjja???Kau hilang ingatan?! Wuah… Keren…” Tao excited sekali, ia berpikir kalau ini semua seperti di film-film. Tapi kemudian dia sadar kalau jarak wajah kalian berdua menjadi sempit dan ia merasa tegang lagi. Tao buru-buru menarik tangannya dari tubuhmu.

“Ehm.. Tao?” kamu memanggil bocah yang kini menatap lurus ke depan itu. Dia melirikmu sedikit, “ya?” jawabnya.

“Apa kau tau..soal Kris? Maksudku bagaimana ia kehilangan keluarganya?” kali ini kamu menyerongkan tubuhmu pada Tao, menghadapnya. Tao semakin tegang, tapi lalu ia bercerita juga.

“Aku bertemu Kris..di Korea, waktu kami berdua masih SMP. Aku kelas satu dan Wu gege kelas 3 SMP. Saat itu dia adalah kapten tim basketnya dan sejak aku ikut klub basket, aku jadi dekat dengannya karena hanya kami yang berdarah cina, jadi bisa mengerti bahasa kami satu sama lain. Aku sering main ke rumahnya, dan memang, di rumahnya hanya ada seorang remaja lagi, lebih tua dari Kris satu tahun dan sekarang adalah kakak angkat sekaligus seorang ayah buat Kris.Di rumah yang besar itu hanya ada dua orang itu.Lalu saat kami SMA, aku memberanikan diri untuk bertanya tentang keluarganya.” Tao terdiam sejenak setelah bicara satu paragraf panjang, lalu ia lanjut lagi. “Keluarga Wu..tinggal di Amerika sejak Kris masih bayi. Keluarga tersebut hanya terdiri dari ayah Kris, ibu Kris, dan Kris sendiri.Keluarga kecil itu tidak memiliki keluarga lagi, kecuali memang jika ada tapi di tempat yang jauh.Pokoknya keluarga Wu di Amerika hanya mereka bertiga. Hingga suatu saat, waktu Kris masih kelas 5 SD, kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan mobil..”

Tao berhenti sebentar lagi karena dia melihatmu membuka lebar mulutmu dan matamu.Ya, kamu terkejut.Kehilangan orang tua di umur yang begitu muda…. pastilah sebuah bencana.Walaupun kamu bahkan tidak ingat kalau kamu sudah meninggalkan orang tuamu sejak saat kamu masih anak SMA.Ya, meninggalkan orang tuamu ke Jepang.Sekarang kamu hanya bisa merasa sedih dan prihatin.

“Lalu..siapa kakak angkat Kris itu?” tanyamu setelah rasa syok itu berangsur-angsur menghilang.

“Suho.Dia sekarang adalah asisten pribadinya Kris.Suho sendiri adalah anak tunggal dari asisten pribadi ayah Kris, mereka berdua selalu bersama sejak Kris lahir.”

Kamu mengangguk mengerti sambil kemudian menatap kosong ke arah lantai ruang tamu.Lalu kamu sadar Tao terus memperhatikanmu, dia tidak pernah melepaskan matanya darimu.Kamu merasa agak risih diperhatikan seperti itu, walaupun sedikit banyak kamu senang karena yang melihatmu adalah pria tampan.Tapi kamu sok jual mahal saja.

“Kenapa?” kamu menanyainya dan dia langsung tegang, membuang mukanya lagi darimu.

“Ngg.. aniyo.. hanya.. ada.. ada semut.. ah ya, ada semut di rambutmu..”

“Jinjja?!” kamu langsung menepuk-nepuk seluruh bagian rambutmu seakan semut itu sangat nista tapi tiba-tiba Tao menggenggam pergelangan tanganmu, dia terkekeh iseng.

“Aku hanya bercanda..” ujarnya, dengan senyum yang manis sekali. Kamu agak terdiam sesaat.Tangan Tao yang masih menggenggam tanganmu, membuatmu berdebar.Juga melihat senyum di wajah sangar Tao itu yang ternyata sangat menyegarkan (?).

“Yeon Ah noona..” panggil Tao lagi, dengan tangannya masih erat memegang tanganmu. Kamu bisa merasakan keringat dingin di jemarinya.”Apa?” Tao menunduk malu untuk kesekian kalinya, ia tidak kuat melihat kedua matamu terlalu lama. Kamu terlalu cantik menurutnya.Tao menelan ludahnya. Kemudian ia mencengkram bahumu.

“Aku..sepertinya aku.. suka pada..”

TING TONG!

Baik kamu dan Tao, kalian berdua terlonjak kaget.Tao buru-buru menarik tangannya dari bahumu lagi, dan tak lama muncul Kris.Ia keluar dari kamarnya lalu sambil melirik kalian judes, ia menghampiri intercom di sebelah pintu.

“Siapa?” tanyanya kasar.Seorang wanita tampak di layar intercom, dan itu membuat Kris sangat syok.

“Ini aku, oppa, Ahn Ye Seol.”

Kris diam membeku.Wajahnya langsung pucat.Ia tidak menyangka wanita itu akan datang. Kamu dan Tao juga saling melirik satu sama lain, nama tadi terdengar asing di telinga kalian.
Kris masih diam, tangannya hanya menempel di gagang pintu, tanpa keinginan untuk membukanya. Cukup lama ia disitu, hingga akhirnya wanita di luar tidak sabar.

“Oppa?” panggilnya yang langsung menyadarkan Kris dari lamunannya.Pria itu tergagap-gagap menjawabnya.

“A-ah ne.. tunggu..”

Sebenarnya Kris sedang berada dalam kegalauannya. Apakah baik untuk menyembunyikan Yeon Ah atau sekali lagi menipu Ye Seol kalau ia adalah sepupunya? Tapi sebelum Ye Seol sempat bicara lagi, Kris segera menarik selot pintunya dan membukanya, tampaklah gadis dengan dandanan berlebihan itu.Kris mengernyit melihat bagaimana wanita itu berpakaian, terlalu mini.Seperti gadis murahan.Namun Kris hanya bisa menyembunyikan ketidaksukaannya dengan berdeham.Kris meremas sisi kaus santai warna cokelat tanahnya dengan gugup, lalu akhirnya bergeser untuk membiarkan wanita itu masuk.

“Eo nuguya??”Tao menatap wanita itu dengan pandangan tidak suka.Kris hanya menghela nafasnya sambil menutup pintu.

“Memang kamu siapa?”Ye Seol menaikkan alisnya padamu dan Tao.Kamu sendiri tidak bisa bicara.

“Tenanglah sedikit Tao.Ini Ahn Ye Seol. Dia…” Kris kini melirikmu.Di matanya terpancar rasa takut dan bersalah.Kamu hanya bisa mendengarkan saja.

“Dia tunanganku.” ujar Kris akhirnya yang sukses membuat Tao hampir muntah di tempat.

“A-apa katamu?!!” Tao naik pitam, ia tiba-tiba melompati sofa supaya bisa melihat wanita itu lebih dekat.

Kamu sendiri, kamu terdiam.Kamu memandang nanar pada Kris dan gadis di sebelahnya.Gadis itu memang cantik, sangat cantik.Serasi sekali dengan Kris.Kamu menunduk.Tidak tahu kenapa, kamu merasakan kesedihan yang tiba-tiba.Kamu tahu kamu tidak seharusnya seperti ini, seharusnya kamu bisa menanggapinya dengan biasa saja, karena Kris bukan siapa-siapa untukmu.Tapi… kamu merasa sedih.Ada bagian di dalam dirimu yang menolak untuk berpura-pura. Bagian di dalam dirimu yang menginginkan… Kris.

“Dia pacarku.” tangan yang kokoh tiba-tiba merangkulmu. Kamu syok karena dirangkul saat sedang melamun, apalagi setelah kamu sadar apa yang dikatakan padamu. Kamu menoleh, dan melotot habis-habisan pada orang yang melakukan itu.Dan itu Tao.Semakin terkejutlah dirimu. Tao sedang memandangimu dengan senyumnya yang barusan kamu bilang manis. Dengan matanya yang mengerikan namun sangat menusuk tepat ke hatimu.Kamu membisu.

“Jangan khawatir, dia pacarku.Kebetulan kami sedang main kesini hari ini.” ujar Tao lantang, yang membuatmu ingin pingsan saja.

“Oh. Begitu.Baguslah.” si gadis tampak tidak tertarik.Lalu kamu melirik laki-lakinya.Dan segera kamu merasa lemas ketika sadar bahwa pria itu memandangmu tidak suka.Ia menyipitkan matanya dangan alis yang menukik. Rahangnya mengeras, dan pandangan membunuh itu ia berikan padamu. Kamu merasa jantungmu tidak berdetak satu kali.Ia terlalu mengerikan. Kamu tidak tahu apa artinya, tapi kamu menangkap satu hal. Kris tidak menyukai ucapan Tao.

TBC

a/n: wah udah part 3 ajah ya. Sementara otak gue masih stuck di part 4…. /brb semprot baygon ke muka/ dan ngomong-ngomong… THANKS FOR ALL THE COMMENTS!! ;A; author ga nyangka banget bisa ada yang suka sama ff abal yang bagusnya musiman ini T^T makasih semuanya yang udah sempet2in komen walaupun beberapa gak dibales karena saya malas /salah/ makasih semua yang udah like dan bahkan publish di twitter juga T^T saya sebenernya tidak pantas mendapatkan itu semua, jadi makasih ya :* forever loving you~

Buat yang rela komen di twitlonger dan sering lupa dibales @surfeivor, my yeobo, I sarang you :*

57 pemikiran pada “Hello Mr. Wu! (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s