Hard to Say ‘I Love You’ (Chapter 1)

Hard to Say ‘I Love You’

 

 

Author: Cho Yoomin

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Byun Namhyun (OC), other.

Genre: Romance, Angst, Friendship, Family, School-Life, Hospital-Life

Length: Multi-Chapter

Rated: T

Pair: Chanbaek/Baekyeol

Warning: Yaoi, Boy x Boy, OOC, Typo(s), No Siders, No Plagiat, etc.

.

.

.

Fanfiction is started! Happy Read!^^

.

.

.

 

Di sebuah sekolah ternama di Seoul, terdapat seorang namja imut yang tengah memperhatikan seorang namja tampan yang sedang bermain basket sendirian di lapangan. Sesekali namja itu tersenyum sendiri disaat namja tampan itu berhasil memasukkan bolanya ke ring. Ucapan panjang lebar dari guru kimianya sama sekali tidak diperhatikannya. Sampai akhirnya, terdengar deheman dari sang guru.

“Ehem.” Deheman Kim Songsaenim menyadarkan Baekhyun -namja cantik tadi- dari lamunannya.

“Byun Baekhyun, posisi saya didepan bukan diluar jendela.” Ucap Kim Songsaenim dengan tegas.

“Ah, mianhae songsaenim.” Ucap Baekhyun dengan santainya.

“Kau. Keluar kau dari kelas saya!” bentak Kim Songsaenim. Baekhyun pun hanya berjalan dengan malas-malassan keluar kelas padahal hatinya sangat senang jadi ia bisa memperhatikan Chanyeol –namja tampan tadi- lebih lama. Baekhyun pun melangkahkan kakinya menuju lapangan yang dekat dari kelasnya. Ia duduk lesehan dipinggiran lapangan sambil terus memperhatikan Chanyeol yang sibuk bermain basket. Namja itu sangat tampan disaat ia bermain basket, rambutnya yang berterbangan menambah kesan tampan dalam dirinya. Tapi sayangnya ia tidak cukup populer dikalangan para siswa karena masalah keluarganya.

“Hey!” tiba-tiba Chanyeol sudah berada didepan Baekhyun membuat Baekhyun tersadar dari lamunannya sekaligus jantungnya berdetak lebih cepat karena wajah Chanyeol berada sangat dekat dengan wajahnya.

“O-oh, Halo.” Ucap Baekhyun terbata-bata namun sepertinya tidak diperdulikan Chanyeol karena namja tampan itu lebih memilih untuk duduk disamping Baekhyun.

“Omong-omong, siapa namamu? Aku kok tidak mengenalmu yah?” tanya Chanyeol seraya menyerahkan satu tangannya kehadapan Baekhyun dan menengokkan kepalanya kearah Baekhyun.

“Eumm. Aku Byun Baekhyun.” Ucap Baekhyun seraya menjabat tangan Chanyeol. Pipi putihnya mulai bersemu merah disaat tangan mereka bersentuhan.

“Aku Park Chanyeol.” Ucap Chanyeol seraya memamerkan senyuman khasnya membuat pipi Baekhyun semakin bersemu merah bahkan sampai ketelinganya.

“Loh, kau kenapa Baekhyun-ah? Mukamu merah, apa kau sakit?” ucap Chanyeol seraya menangkupkan wajah Baekhyun dengan kedua tangannya. Namun Baekhyun dengan segera menurunkan tangan Chanyeol yang ada diwajahnya dan memalingkan wajahnya kearah lain.

“Anniyo.” Kilah Baekhyun yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Chanyeol.

“Oh.” Balas Chanyeol sebelum terjadi keheningan diantara mereka berdua.

Tiba-tiba, cacing diperut Chanyeol berbunyi memecah keheningan. Baekhyun pun hanya terkekeh kecil dan Chanyeol hanya bisa mendengus kesal.

“Kau lapar? Baiklah, ayo kita kekantin.” Ucap Baekhyun seraya menarik tangan Chanyeol menuju kantin. Chanyeol pun hanya mengikuti namja bertubuh mungil yang menarik tangannya ini.

 

_Skip Time_

 

Pagi ini, matahari bersinar dengan cerahnya. Terlihat Baekhyun sedang berlari-lari menuju sekolahnya. Ternyata ia telat bangun karena kemarin asik bermain ps. Sesekali Baekhyun melirik jamnya dan berharap supaya ia tidak telat. Akhirnya, sampai juga dia disekolahnya. Baekhyun berlari-lari di lorong yang mulai sepi dan akhirnya ia sampai didepan kelasnya. Dengan perlahan, Baekhyun membuka pintu kelasnya. Beruntung gurunya belum datang, Baekhyun pun melangkahkan kakinya menuju mejanya yang berada di belakang bersama dengan temannya sekaligus sepupunya, Kyungsoo.

Dengan segera, Baekhyun mendudukan dirinya diatas kursi setelah meletakkan tasnya. Disaat menyadari bahwa sebelahnya kosong, yang ada dalam fikiran Baekhyun adalah, temannya itu sedang berpacaran dengan anak kelas sebelah, Jongin atau yang biasa dipanggil Kai.

Baekhyun menyenderkan tubuhnya ke kursi sambil melihat pemandangan diluar. Lagi-lagi, Chanyeol terlihat sibuk bermain basket. Baekhyun pernah berfikir, apakah namja itu tidak lelah terus bermain basket?

Sudah lewat 20 menit dari jam pelajaran pertama tapi tidak ada tanda-tanda guru biologi mereka akan datang. Kyungsoo pun tidak kunjung kembali ke kelas menandakan bahwa guru mereka sedang ada rapat. Akhirnya, Baekhyun pun melangkahkan kakinya menuju lapangan dan kembali memperhatikan Chanyeol yang sibuk dengan basketnya.

“Hai! Kau kesini lagi?” sapa Chanyeol seraya menepuk pundak Baekhyun.

“Hmm.” Gumam Baekhyun.

“Kenapa kau suka sekali memperhatikanku sih?” tanya Chanyeol membuat pipi Baekhyun bersemu merah.

“Eh, i-itu karena permainan basketmu sangat bagus. Yah seperti itu.” Bohong Baekhyun dengan terbata-bata.

“Oh begitu yah. Omong-omong, kau bisa bermain basket?” tanya Chanyeol yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Baekhyun.

“Sedikit.” Gumam Baekhyun. Tiba-tiba, Chanyeol sudah menarik tangan Baekhyun menuju tengah lapangan.

“Bagaimana kalau kita tanding?” tanya Chanyeol membuat Baekhyun membulatkan matanya. Sebenarnya ia mau, tapi ada suatu masalah yang membuatnya tidak diperbolehkan bermain basket. Tapi melihat wajah memelas Chanyeol membuatnya tidak tega untuk menolaknya.

“Eh, baiklah.” ucap Baekhyun sebelum mereka memulai bermain basket. Bagi Chanyeol yang bertubuh tinggi mudah saja untuk memasukkan bola ke ring sedangkan Baekhyun harus bersusah payah memasukkan bola ke ring karena tubuhnya yang mungil dan ringnya itu terlalu tinggi untuknya. Akhirnya setelah bermain selama 1 jam, mereka pun memutuskan untuk istirahat.

“Hah, seru juga yah. Ternyata kau pintar juga bermain basket.” Ucap Chanyeol yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Baekhyun.

“A-aku. Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..” ucap Baekhyun yang terputus karena batukannya. Baekhyun memegang dadanya yang terasa sesak, ah pasti penyakitnya kambuh lagi.

“B-Baekhyun-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Chanyeol dengan panik yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Baekhyun. Muka Baekhyun yang pucat membuat Chanyeol langsung menggendongnya ala bridal style menuju mobilnya. Setelah meletakkan Baekhyun di jok belakang dan mendudukan dirinya di jok supir, Chanyeol segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit yang cukup dekat dari sekolahnya.

Sesampainya di Seoul International Hospital, Baekhyun segera dilarikan ke UGD. Sudah 30 menit Chanyeol menunggu akhirnya dokternya pun keluar.

“Maaf, anda siapanya?”
“Saya temannya.”

“Oh, apakah ia pernah memberi tahumu bahwa ia mengidap penyakit kanker stadium 2?”

“Mwo? Tidak, dia tidak pernah memberi tahu saya.”

“Oh begitu.”

“Apakah ia masih bisa disembuhkan?”

“Kalau ia rajin terapi dan meminum obat, pasti bisa. Tapi sekarang keadaan pasien sedang tidak sadar, kita tunggu dalam waktu 3 hari dulu, kalau ia tidak sadar juga, berarti ia koma.” Ucap Kim Uisanim membuat hati Chanyeol mencelos.

“Tapi, apakah saya boleh menjenguknya?” tanya Chanyeol dengan nada penuh harap.

“Boleh saja, tapi tunggu sebentar lagi ia akan dipindahkan keruang perawatan.” Ucap Kim Uisanim seraya berjalan meninggalkan Chanyeol. Chanyeol pun mendudukkan tubuhnya dikursi rumah sakit, ia menutup mukanya dengan kedua tangannya.

‘Harusnya tadi aku tidak usah mengajaknya bermain basket.’ Sesal Chanyeol dalam hati. Tapi memang penyesalan itu selalu datang di akhir, jadi tak ada gunanya Chanyeol menyesal.

 

_Skip Time_

 

Sudah 1 minggu Baekhyun tak kunjung sadar yang menyimpulkan satu hal bahwa namja imut itu sedang koma. Chanyeol memperhatikan wajah imut Baekhyun yang kini pucat. Hatinya terasa kosong tanpa keberadaan sahabatnya ini. Chanyeol merindukan sosok Baekhyun yang selalu tersenyum, sosoknya yang selalu menghiburnya, sosoknya yang friendly, dan juga Chanyeol merindukan sosoknya yang selalu mau mendengarkan segala keluh kesahnya. Chanyeol sangat menyayangi Baekhyun layaknya saudaranya sendiri, karena ia sendiri tidak mempunyai keluarga lain selain kakaknya, atau lebih tepatnya kakak sepupunya, Suho.

Chanyeol menggenggam jemari Baekhyun dengan eratnya, seakan takut kehilangan. Sampai akhirnya Kim Uisanim datang untuk mengecek keadaan Baekhyun yang membuat Chanyeol harus menunggu diluar. Akhirnya Chanyeol memutuskan untuk berjalan keluar menuju taman rumah sakit, katanya disana ada danau kecil yang indah. Dan benar saja, memang ada danau yang indah disitu. Chanyeol pun melangkahkan kakinya menuju depan danau itu dan berjongkok disana. Sesekali ia melemparkan batu kedalam danau itu seperti seorang anak kecil. Tiba-tiba, ada sebuah suara yang menginterupsinya.

“Jangan mengotori danau itu.” Tegur suara itu yang lebih mirip suara yeoja membuat Chanyeol menolehkan kepalanya kebelakang. Chanyeol sedikit terpana dengan wajah yeoja itu yang sangat mirip dengan Baekhyun. Yeoja itu duduk dikursi roda dengan menggunakan baju rumah sakit, wajahnya yang pucat tidak mengurangi kesan cantik diwajahnya. Rambut panjangnya yang terurai sangatlah indah disaat terkena sinar matahari.

“Halo?” ucap yeoja itu membuat Chanyeol tersadar dari lamunannya.

“Ah mian.” Ucap Chanyeol dengan gugup.

“Ne, gwaenchana. Omong-omong, siapa namamu?” tanya yeoja itu.

“Aku Park Chanyeol. Kau?” tanya Chanyeol seraya mengulurkan tangan kanannya kehadapan yeoja itu.

“Aku Byun Namhyun.” Ucap Namhyun seraya tersenyum membuat hati Chanyeol berdesir. Bukan apa-apa, hanya senyuman yeoja itu mirip sekali dengan senyuman Baekhyun.

“Omong-omong, kenapa kau dirawat dirumah sakit ini?” tanya Chanyeol membuat raut wajah Namhyun berubah menjadi lesu.

“Aku terkena penyakit kanker stadium akhir. Waktuku tinggal sedikit didunia ini. Jadi aku ingin bersenang-senang selama aku masih ada.” Ucap Namhyun dengan nada sedih.

“Oh begitu. Lalu, dimana keluargamu?” tanya Chanyeol lagi.

“Keluarga yang kupunya tinggal kakakku saja, dia bernama Byun Baekhyun.” Ucap Namhyun membuat Chanyeol tersentak.

“Baekhyun?” tanya Chanyeol tidak percaya.

“Ne, dia juga mengidap penyakit yang sama denganku, tapi ia masih stadium 2. Tapi entah kenapa ia pagi ini tidak menjengukku. Aku merindukannya.” Lirih Namhyun. Tiba-tiba, Chanyeol sudah berdiri dibelakang Namhyun dan memegang kedua pundak Namhyun.

“Kau mau melihat kakakmu? Akan aku antar kalau begitu.” Ucap Chanyeol dengan nada riang.

“Jinjja? Ayo cepat, aku ingin cepat-cepat bertemu dengannya.” Ucap Namhyun seraya mengulas senyum diwajahnya.

Chanyeol pun mendorong kursi roda Namhyun masuk lagi kerumah sakit dan akhirnya berhenti dikamar nomor 605. Chanyeol membuka pintunya perlahan dan mendorong kursi roda Namhyun masuk kedalam. Namhyun hanya menutup mulutnya dengan satu tangan melihat keadaan kakaknya yang terbaring lemah ditempat tidur dengan berbagai alat medis ditubuhnya. Satu tangan Namhyun mengelus surai brunette milik kakaknya itu.

“Kau… Bagaimana kau bisa tau Baekhyun Oppa ada disini?” tanya Namhyun dengan raut wajah bingung.

“Aku teman Baekhyun disekolahnya.” Ucap Chanyeol setelah mendudukan tubuhnya dikursi.

“Ooh begitu. Tapi bagaimana penyakit Baekhyun Oppa bisa kambuh?” tanya Namhyun lagi.

“Waktu itu aku mengajaknya bermain basket. Aku tidak tahu ternyata ia mengidap penyakit kanker. Mianhae.” Ucap Chanyeol dengan nada bersalah.

“Eum ne gwaenchana. Lagipula itu sudah yang lalu, lupakan saja.” Ucap Namhyun dengan bijak.

Setelah itu terjadi keheningan diantara mereka. Sampai akhirnya Namhyun meminta Chanyeol untuk mengantarkannya ke kamarnya. Setelah mengantarkan Namhyun kekamarnya, Chanyeol kembali kekamar Baekhyun. Ia mendudukkan dirinya dikursi yang berada disamping tempat tidur Baekhyun.

“Baekhyun-ah, tadi adikmu menjenguk. Cepatlah sadar, katanya Namhyun sangat merindukanmu.” Ucap Chanyeol seraya mengelus surai brunette milik Baekhyun.

“Eung.. Chanyeol-ah, Namhyun, kalian mau kemana? Jangan tinggalkan aku.” Igau Baekhyun membuat Chanyeol refleks menggenggam jemari tangan Baekhyun.

“Baekhyun-ah aku disini. Aku akan selalu disini menemanimu sampai kau sadar.” Ucap Chanyeol menenangkan Baekhyun. Setelah Baekhyun tenang, Chanyeol pun beranjak menuju sofa dan menidurkan dirinya disitu yang memang kurang tidur akhir-akhir ini. Setelah beberapa menit, akhirnya terdengar dengkuran halus darinya.

 

TBC~

 

 

o-p�\:e�� ���a.. Kau terlalu jago. Ini terlalu susuh untukku.”

 

“Ah.. Ne.. Aku ajari kau shooting saja.” Kataku.

“Coba kau dulu.” Dia mencoba tapi tak sampai ke ring.

“Pertama tanganmu harus seperti ini.” Kataku dari belakang sambil memegang tangannya. Ini sangat dekat sekali. Jantungku sudah berdetak tak karuan dibuatnya.

“Setelah itu kakimu seperti ini. Ini untuk memperkuat lemparanmu. Sekarang coba.” Dia mencobanya lagi. Lagi dan lagi. Sampai sekali dia bisa memasukkan 1 kali. Dia lalu melihat jam yang ada di tangannya.

“Oppa. Ini hampir waktu jam lesku. Aku pergi dulu ya?”

“Hyemi-ah.. Kita jalan bersama. Ne? Aku juga mau pulang. Scooter-ku sedang rusak di rumah. Tempat lesmu 1 arah dengan rumahmu kan?”

“Ne. Kajja.” Kita lalu keluar dari sekolah. Kita lalu berjalan. Hanya hening yang kudapat.

Tak lama rintik-rintik hujan turun. Semakin deras dan deras.

“Mwo? Aish.. Jinjja. Aku lupa bawa payung.” Katanya membuka-buka tasnya. Aku langsung mengeluarkan payung dan membukanya. Aku lalu merapatkan badannya ke badanku. Kita lalu berjalan lagi. Beberapa menit kami tiba di tempat les Hyemi.

“Oppa, aku masuk dulu. Ne?”

“Chakkaman. Kau nanti pulang sendiri atau dijemput?”

“Pulang sendiri. Wae?”

“Bawa payung ini. Kalau-kalau nanti masih hujan. Aku masih bawa mantel. Bawalah.” Kataku sambil menyodorkan payungku. Dia lalu mengembilnya.

“Gomawo. Aku.. Masuk dulu.” Katanya lalu masuk ke dalam. Aku lalu mengambil mantelku dan memakainya. Aku lalu menunggu bis lalu pulang.

***

Hyemi POV

Aku sedang berkutat dengan laptopku. Di malam mendekati tahun baru ini aku malah menghabiskan waktuku di rumah. Kulihat layar monitor menunjukkan hampir pukul 11 malam. Aku sudah merasa ngantuk. Aku langsung mematikan laptop inii dan langsung beranjak ke tempat tidur.

Saat aku ingin menarik selimutku tiba-tiba ponselku yang ada di atas nakas berbunyi. Aku langsung mengambilnya. Ternyata ada pesan masuk dari Baekhyun oppa.

From : Baekhyun Oppa

Hyemi-ah.. Bisakah kau pergi denganku malam tahun baru besok. Aku tidak punya teman sama sekali.. 😦

 

From : Hyemi

Sepertinya aku bisa. Memang mau kemana??

 

From : Baekhyun oppa

Ke suatu tempat.. Lihat saja besok.. Tapi sebelumnya kita bermain dulu di pasar malam..

 

From : Hyemi

Ne.. Sampai jumpa besok oppa.. Aku mau tidur dulu.. Good night.. ^^

 

Asik.. Malam tahun baru dengan Baekhyun oppa. Pasti sangat menyenangkan. Aku langsung menaruh ponselku lagi lalu menarik selimutku dan tidur

***

Sekarang belum jam 9 malam tapi aku sudah siap dengan pakaianku. Baekhyun oppa akan menjemputku jam 9. Sebentar lagi. Aku menunggu di ruang tamu. Karena bosan mungkin aku minta ijin dulu dengan eomma.

Aku berjalan menuju ruang keluarga. Kulihat eomma yang sedang menonton tv. Aku lalu menghampirinya.

“Eomma, malam ini aku pergi melihat perayaan tahun baru. Boleh ya eomma.” Pintaku memelas.

“Kau pergi dengan siapa? Sendiri?”

“Ani.. Dengan temanku.”

“Temanmu? Temanmu siapa?” gimana ya jawabnya? Kalau aku jawab jujur kalau aku pergi dengan namja pasti tidak boleh.

“Hmm.. Dengan teman-temanku yang biasanya. Tapi.. nanti aku dijemput oleh 1 temanku.. Lalu.. Kita ketemuan di suatu tempat.” Kataku sedikit berfikir.

“Ne. Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Pulang sebelum jam 2. Ne?”

“Ne eomma.” Kudengat ponselku berbunyi. Ternyata itu Baekhyun oppa. Dia sudah sampai.

“Eomma, aku pergi dulu ya.”

“Ne.” aku lalu berlari kecil menuju luar rumah. Kulihat Baekhyun oppa sudah siap. Aku langsung menghampirinya.

“Kajja, kita berangkat. Sebelum eomma melihat kita.”

“Mwo? Eomma-mu tidak mengijinkan?”

“Ani.. Aku takut dia marah kalau tau aku pergi dengan seorang namja. Palli.”

“Ne.”

Kita lalu pergi ke pasar malam. Di sini sangat ramai. Orang-orang yang menunggu tahun baru kebanyakan pergi ke sini.

Kita lalu menghabiskan waktu disana berdua. Andai saja kita pacaran pasti lebih romantis.

“Hyemi-ah.. Kajja kita ke situ.” Katanya sambil menunjuk sebuah permainan. Aku menurutinya dan mengikutinya dari belakang.

“Ahjussi, bagaimana cara mainnya?” tanya Baekhyun oppa dengan bersemangat.

“Jika Anda bisa memasukkan 3 bola basket ini kedalam ring yang bergerak maka Anda akan mendapatkan hadiah utama yaitu boneka. Jika memasukkan 1 atau 2 Anda bisa memilih hadiah sendiri jumlahnya sesuai dengan bola yang anda masukkan.” Kata ahjussi itu.

Baekhyun oppa hanya mengangguk paham. Dia lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan kepada ahjussi itu. 3 bola diberikan padanya. Ring basket mulai bergerak. Aku hanya menyemangatinya.

Bola pertama masuk.. Bola kedua masuk.. Sekarang bola ketiga..

“Ayo oppa hwaiting!! Oppa pasti bsia.” Teriakku menyemangatinya.

Bola ketiga akhirnya masuk juga.

“Oppa daebak!!” kataku. Ahjussi itu lalu mengambil sebuah boneka teddy bear lumayan besar dan memberikannya pada Baekhyun oppa. Dia lalu menghampiriku.

“Oppa hebat sekali..” kataku sambil bertepuk tangan.

“Kau mau boneka ini?”

“Mwo? Jinjjayo?” kataku kaget.

“Ne. Ambillah.” Katanya sambil menyodorkan boneka itu. Aku lalu mengambilnya sedikit ragu. Untuk apa ini? Apakah dia menyukaiku?

“Kenapa kau berikan ini padaku?”

“Aku tidak mungkin menyimpannya. Jadi kau saja. Kajja, kita pergi. Aku ingin pergi ke suatu tempat.”

“Ne.” kataku sedikit lemas. Apakah harapanku pupus selama ini? Hanya itukah alasannya?

Kita lalu pergi ke suatu tempat. Tempat yang tidak pernah aku kunjungi. Kita berhenti di sebuah bukit. Aku turun dan masih memegangi boneka ini. Dia lalu mengambil bonekanya.

“Taruh di sini dulu. Ayo ikut aku.” Katanya lalu menarik tanganku. Aku hanya bingung.

Dia menarikku ke sebuah pohon. Kulihat ada rumah pohon di sana.

“Naiklah. Bisa kan?” katanya.

Aku hanya mengangguk lalu mulai memanjat. Setelah sampai di atas tak lama Baekhyun oppa sudah sampai juga.

“Sini.” Katanya sambil menuju salah satu sisi yang terbuka. Hanya ada 1 batang kayu sebagai pelindung. Kulihat pemandangan di sini. Sungguh sangat indah. Pemandangan lampu-lampu bangunan di sebagian kota Seoul.

“Oppa.. Nomu yeppeo.” Kataku sambil duduk. Kakiku kugantungkan di udara. Sesekali aku mengayunkannya. Aku tak henti-hentinya tersenyum.

“Hyemi-ah..”

“Ne?” kataku tanpa melihatnya.

“Jangan begitu. Lihat aku.”

“Ne. Wae?” aku lalu mengangkat kakiku dan menghadap dia.

“Aku tak bisa bilang apa-apa.. Tapi.. Yang jelas aku sudah menyukaimu sejak kau masuk ke sekolah.. Saranghaeyo.. Please be my girlfriend.”

Benarkah itu? Baekhyun oppa menyukaiku? Apa aku tidak salah dengar? Pasti dia hanya bercanda.

“Oppa bercanda? Oppa tidak serius kan?”

“Aku tidak bercanda. Aku serius. Jeongmal saranghaeyo. Please be mine.” Katanya sambil memegang tanganku erat. Ini tidak mimpi? Ya Tuhan! Terimakasih banyak.

“Ne oppa. Nado saranghaeyo. Aku juga sudah menyukaimu sejak awal bertemu denganmu.”

Baekhyun oppa langsung memelukku. Pelukannya sangat hangat dan nyaman. Setelah itu terdengar surara kembang api dengan meriah. Tanda sudah tahun baru. Dia lalu melepaskanku. Kita lalu menikmati pemandangan yang indah ini. Dia lalu menarikku ke dalam dekapannya dan menaruh kepalaku di pundaknya.

Setelah kembang apinya sudah habis Baekhyun oppa mengantarkanku pulang. Aku langsung turun sambil membawa boneka tadi. Saat aku ingin berbalik menuju pintu Baekhyun oppa menarikku dan membalikkan badanku. Langsung saja bibirnya menempel pada bibirku. Reflek aku memejamkan mataku.

Dia lalu melepaskan ciuman ini. Aku membuka mataku. Sepertinya pipiku sudah memerah sekarang.

“Wae? Kenapa kau malu? Ini bahkan bukan first kiss-mu.”

“Mwo? Kenapa bisa begitu?” kataku kaget. Seingatku ini kali pertamanya aku ciuman.

“Saat kau tenggelam dulu. Aku melakukan nafas buatan untukmu mouth to mouth. So it’s your second kiss.” Aku hanya terdiam.

“Aku pulang dulu ya. Annyeong.” Katanya lagi lalu pergi. Setelah dia menghilang dari pandanganku aku langsung masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarku.

Aku hanya berteriak tanpa suara karena takut dimarahi. Sangat senang hari ini. Tanpa ganti baju aku langsung tertidur sambil memeluk boneka dari Baekhyun oppa ini.

***

Baekhyun POV

Sekarang sudah masuk sekolah lagi. Saat istirahat kulihat Hyemi yang sedang duduk di kantin sendiri. Aku langsung menghampirinya. Dari belakang kututup matanya.

“Nuguseyo?” katanya. Aku langsung melepaskannya dan duduk di sebelahnya.

“Your beloved boyfriend.” Dia hanya memukulku pelan. Kulihat dia membawa buku lukisnya. Aku masih penasaran dengan buku itu.

“Chagiya.. Aku masih penasaran dengan buku itu. Karena aku namjachingu-mu aku boleh melihatnya kan?”

“Ne. Buka saja.”

Aku lalu mengambilnya dan membukanya. Kulihat lembar-demi lembar. Ternyata ini kumpulan gambar diriku semua. Dasar Hyemi ini.

“Ya! Kau menggambarku tanpa ijin rupanya. Pantas saja kau tidak mau melihatkannya waktu itu. Kau takut perasaanmu terbongkar bukan?”

“Tentu saja. Aku takut jika kau ternyata tidak menyukaiku.”

“Kau salah. Aku sangat-sangat mencintaimu.”

“Tidak usah berlebihan oppa.”

KRRIINNGG.. KRRIINNGG

Bel istirahat usai sudah berbunyi. Kami langsung berjalan bersama dan pergi ke kelas masing-masing.

-THE END-

P.S : Mian kalau jelek dan feel nggak dapet sama sekali.. Maklum author pemula.. :p Kalau mau lagi silakan mention di twitter..

kh? �(i,���D�tea itu free-refill,” katanya lalu kembali kebelakang tirai. Entah ada apa disana atau entah tempat apa itu.

 

Setelah meneguk greentea tersebut, aku membayar minumannya dan pergi keluar. Aku tak tahu bahwa persis didepan kedai ini ada sebuah taman. Aku menatapnya terus-menerus hingga siluet seorang gadis yang tengah berlari menggagetkanku. Gadis itu berlari ditengah hujan dan akhirnya duduk dibangku taman tersebut.

Bukan hantu, kan? Lagipula mana ada hantu yang hujan-hujanan? Ditahun seperti ini itu semua sudah kuno—aku tak bisa membayangkan hantu yang kehujanan.

Aku berjalan kearah Volvo-ku, berharap bisa menemukan payung lebih cepat karena aku ingin segera melangkahkan kakiku kearah taman itu. Rasa-rasanya aku seperti mengenal seorang gadis yang berlari ditengah hujan itu. Yah, kalaupun bukan aku masih harus memastikannya.

Entahlah, aku merasa aku harus memastikannya.

Setelah mencari ke beberapa plastik belanjaan, aku menepuk jidat. Baru tersadar bahwa satu-satunya payung yang ada hanyalah payung yang selalu kusimpan diatas dash mobil. Secepatnya aku berjalan dan membuka pintu mobil bagian depan. Mataku tepat melihat sebuah bentuk seperti tabung berwarna abu-abu.

Aku juga tersadar kalau aku lupa memasukan ‘payung’ kedaftar belanjaanku. Mungkin aku akan membelinya, kapan-kapan.

Segera saja aku membuka payungnya dan berjalan menuju taman. Melangkah dengan hati-hati karena aku tidak mau sepatuku terkena kubangan air. Dan tidak mau juga sedikitpun dari tubuhku terkena air. Apalagi yang warnanya kecokelatan.

Mataku menatap siluet gadis yang tengah duduk sambil merunduk. Seperti sedang menangis, namun aku tak dapat mendengar suara tangisnya. Dan aku sepenuhnya menyalahkan hujan karena aku tak bisa memastikannya. Masih berjalan dengan kehatian-hatian hingga aku tahu siapa gadis tersebut. Park Yoojun, gadis yang membuat Kai aneh beberapa hari bahkan minggu ini. Sedang apa gadis innocent ini berada ditaman yang sepi dan ditengah hujan?

“Wah, wah, lihat ini siapa yang sedang menangis,” ujarku sok sarkatis.

Gadis itu lalu mendongak sambil sesekali menyeka wajahnya yang penuh dengan air hujan—dan mungkin air mata. Kulihat matanya membulat kaget saat melihat wajahku dihadapannya.

“Kau… lagi,” desah Yoojun. Nada awalannya kaget namun berangsur kecewa. Sebegitu mengecewakannyakah aku disini?

Aku berdecak karena kesal. Nada bicaranya membuat moodku turun, mendadak tidak ada minat lagi berbicara—akhirnya aku menatapgadis dihadapanku sinis. Menekankan lagi dengan tatapan tak suka; karena nada bicaranya.

“Wajahmu jelek kalau sedang menangis, kau tahu?” Lidah tajamku mulai beraksi lagi. Namun untuk yang kali ini aku sedikit bersyukur karena setidaknya ini merupakan aksi pembalasanku untuk gadis itu. Masih menatapnya sinis, akupun sedikit simpati padanya.

Jeoriga[10]!” teriaknya.

Cih. Mendadak rasa simpatiku menghilang. Aku tak mau berbagi payung dengannya; aku merasa dirugikan untuk hal ini. Sedikit menyesal kenapa aku bisa-bisanya menuruti kata hatiku. Harusnya kubiarkan saja menganggap gadis ini hantu yang sedang hujan-hujanan.

Tapi tidak bisa. Lidahku tak bisa diajak kompromi, “Ayo, aku akan mengantarmu.

“Aku tidak mau pulang kerumahku,” sergah Yoojun cepat.

Sepersekian detik kepalaku terisi oleh beberapa fantasi hebat. Yah, mungkin cukup untuk menjadi tontonanku pribadi. Dan aku menyetujuinya.

“Siapa bilang aku ingin mengantarkanmu kerumahmu? Kau percaya diri sekali,” ujarku dengan nada sedikit mengejek. Menatap gadis ini remeh—gadis ini malah menghela napasnya, membuatku makin gemas untuk meninggalkannya sendirian disini.

Mwo?” akhirnya aku bertanya.

“Aku juga tidak mau ke Apartemenmu.”

Sontak aku tertawa. Bayangkan betapa lucunya pernyataan yang ia lontarkan barusan! Tidak, jelas aku tidak marah. Pada dasarnya apartemenku bukanlah untuk umum dan aku hanya membiarkan orang-orang yang sudah kukenal dengan baik untuk masuk kedalam apartemenku.

Apalagi membawa orang yang tengah basah kedalam apartemenku, rasanya tidak mungkin. Dan tidak akan terjadi.

“Kau benar-benar percaya diri!” seruku dengan nada mengejek. “Aku tidak mau membawamu ke Apartemenku, nanti apartemenku kotor!”

Mengibas-ngibaskan tanganku agar semuanya jelas. Semoga gadis ini mengerti maksudku. Semoga.

Ya! Neo!” teriak Yoojun. “Lalu kau ingin mengantarkanku kemana?”

Dan gayung pun bersambut. Inilah yang ingin kudengar; dan berharap reaksi gadis itu tak berlebihan karena jawaban yang akan kulontarkan nanti. Segera saja kukatakan dengan mantap, “Tentu saja ke Rumah Kai.”

Mworago?!” pekik Yoojun.

Ssst, nawa[11]!”

YAKK!”

Kulajukan mobilku perlahan karena hujan masih saja turun. Tak mengerti mengapa hujan tak henti-henti mereda, juga udara yang semakin dingin. Tak mau mengebut juga karena aku tak mau mati konyol terlebih dengan gadis yang sekarang berada dibelakangku.

Mataku jahil melirik spion. Melihat pantulan gadis yang basah kuyup sedang duduk sambil memeluk dirinya sendiri. Tiba-tiba aku merasa simpati.

“Ambil handuk yang ada dikantung berwarna putih. Ada dibelakangmu.” kataku setenang mungkin. Sedikit menyesal juga. “Pakai saja.”

Gadis itu menurut lalu kulihat ia mulai mencarinya. You’re the lucky one who can wear my future towel, you know.

Aku masih menyetir tak memperdulikannya. Melihat jalanan yang semakin sepi karena hujan yang semakin lama semakin lebat. Aneh, bahkan hujannya nampak seperti badai karena ada semilir-semilir angin yang menyertainya; pohon-pohon itu bergerak kearah timur karena angin.

Lampu merah.

G-Gomawo,” kata Yoojun dengan menggigil.

Melirik lagi kespion yang berada tak jauh dari atas kepalaku; menatap gadis itu dengan tatapan datar, “Jangan berlebihan, aku hanya tidak mau kau sakit karena kau harus membersihkan mobilku terlebih dulu.”

“Dasar gila!” Ya, aku gila lalu kenapa?

Alih-alih menjawabnya dalam hati, aku malah mengernyit, “Kau meneriakkannya tanpa menggigil, aku jadi ragu kalau kau kedinginan.”

Sepersekian detik kemudian aku mendengar tawa dari gadis dibelakangku ini. Yoojun tertawa setelah mendengar perkataanku barusan—apa-apaan?! Memangnya yang tadi kulontarkan itu sebuah lelucon, ya? Aneh.

Yoojun dan Kai sama-sama aneh, tsk.

“Apa rumah Kai masih jauh?” tanya Yoojun tiba-tiba. Membuatku refleks melirik spion. Lagi.

Hmm sebentar lagi sampai,” jawabku mencoba kembali fokus pada jalanan, lalu membelokkan stir mobil kearah kanan jalan. “Kenapa?”

“Tidak, aku hanya penasaran.”

Hoo,” paparku. Melihat beberapa belokan yang familiar membuatku makin ingin cepat-cepat sampai ke Rumah Kai. Setidaknya aku butuh sesuatu yang hangat untuk tubuhku—mungkin juga untuk Yoojun.

Lalu lampu lalu lintas itu berganti warna menjadi, hijau.

END

Q&A dulu ya, baru cuap-cuap hihihi

Q: Kenapa kok sidestory dan kenapa nggak langsung part 6 aja?
A: Iya, ini saya buat karena Love Sign part 6 nya sendiri belum rampung. Tapi tenang, disini ada dialog yang sengaja saya tulis untuk Love Sign part 6 yang akan dipublish nanti.

Q: Kenapa genrenya semi-comedy? Sehun kan…
A: Sehun memang dingin, tapi pemikirannya nggak karena sebenarnya pemikiran Sehun sendiri itu lucu. Terlalu realistis hingga dampaknya bikin ketawa—tapi karena sifatnya yang nggak bisa dibilang ‘lucu’ maka dari itu jadinya semi-comedy.

Q: Terus kapan Love Sign part 6nya rampung?
A: Jawabannya adalah, secepatnya. Karena saya juga ngerjainnya sambil mikir-mikir. Jujur deh, Love Sign udah mau tamat; untuk memikirkan endingnya saya masih bingung :S ew, semacam curhatan ya. Intinya lagi-lagi saya kena writers block /brb garuk tanah.

Q: Sehun suka Yoojun ya? Lho, kenapa nggak sama Hyesung aja?
A: Sehun nggak suka sama Yoojun. Menurut saya sih gitu /leditabok.

Cuap-cuap (dengan sedikit curhatan secara tidak langsung):

Absurd. Yah, biasa deh dampak-dampak writer’s block plus ngerjainnya dengan terburu-buru. Maaf ya kalau ada typo atau bahasa yang tidak dimengerti, itu semua saya salahkan sepenuhnya pada keyboard /heh

By the way banyak yang penasaran sama Sehun, kan? Hehe secara nggak sadar saya selalu buat dia muncul tiba-tiba. Maka dari itu, disini saya buat penjelasan kenapa dia selalu muncul tiba-tiba—terlebih dia muncul disaat nggak ada Kai.

Hmm, saya juga butuh pendapat nih. Menurut kalian lebih baik buat Yoojun sama Kai, Yoojun sama Sehun atau Sehun sama Kai Yoojun nggak sama siapa-siapa?

Jangan lupa comment ya, atau kalau ada yang ingin ditanyakan, silahkan aja jangan ragu ataupun bimbang karena saya nggak gigit ^^


[1] Apa-apaan

[2] Jangan beritahu pamanku, ya?

[3] Paman (dari ayah)

[4] Anak bandel ini!

[5] Tunggu sebentar

[6] Hei, Kau ingin mati ya?!

[7] Serangkaian upacara untuk mempersiapkan, menyajikan dan minum teh

[8] Apa kau orang Jepang?

[9] Aku setengah Korea dan setengah Jepang.

[10] Pergi(lah)!

[11] Ikut aku!

3 pemikiran pada “Hard to Say ‘I Love You’ (Chapter 1)

  1. Wah, penasaran sama ending nya nanti gimana *jiah baru aja mulai udah ngomongin ending …

    Tp kq Baekhyun triak2 supaya Chanyeol sama ade nya jangan pergi waktu Baekhyun mengigau?
    Apa nanti nya Baekhyun cuma hidup sendiri? Waaaahhh sediiiiihhh, jangan bikin sad ending donk thor, pliiiiiiiiiiiissssss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s