Love Sign – Sehun’s Side

Tittle : Love Sign – Sehun’s Side

Author : Shane

Main Cast : Oh Sehun

Support Cast : You’ll know them while you reading this

Genre : General, Family, Semi–comedy

Length : Oneshoot

Rating : T

BSM : Yoo Hee Yeol – At The Park

Disclaimer : Plot is mine, i mean MINE. It’s pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. No plagiarism and bash please. Semuanya dilihat dari sudut pandang Sehun, oke?

P/S: arti bahasa korea disini saya pakein footnote tapi, baru coba-coba sih. Kalau banyak yang bingung karena artinya dibawah semua, nanti saya pake cara lama ^^

Happy Reading! *winks

_________________

Johahae! Jadilah pacarku!”

Aku tak perlu berpikir panjang untuk menjawab yang satu ini. Oh, tolonglah, ini sudah kesekian kalinya aku ditanya—bahkan aku lebih merasa dipinta untuk menjadi seorang pacar.

“Tidak,” kataku seraya mengambil cokelat dari tangan gadis itu. “Tapi terima kasih untuk cokelatnya.”

Tanpa basa-basi lagi, aku pergi meninggalkan gadis tersebut. Aku tak peduli dia menangis atau bahkan dia akan menamparku karena aku menolaknya —lalu mengambil cokelatnya—dan pergi begitu saja. Toh, menurutku aku tidak salah. Jika aku menggengam tangannya lalu kukatakan tidak justru aku akan merasa sebagai laki-laki paling payah.

Cokelat ini mau ku apakan? Aku lupa kalau aku tidak suka yang manis-manis. Cih, dasar bodoh. Kubuang saja.

“Sehun-ie!” teriak Kai. Aku sudah hafal sekali suaranya. Aku tak perlu mengira-ngira siapa yang memanggilku kali ini. Lagipula, hanya Kai yang memanggilku dengan panggilan imut begitu.

Aku mendesah. Menatap laki-laki berperawakan tinggi itu dengan tatapan ingin ku makan hidup-hidup, “Mwoya[1]…”

“Hari ini kau akan pergi ke Supermarket, kan?” tanya Kai excited.

“Iya, kali ini tidak ada list untukmu,” kataku sambil melepas tangan Kai yang berada dibahuku. Aku tak begitu suka skinship dengan orang yang satu ini—err entahlah beberapa gadis senang melihat kami begitu.

Aku berjalan menjauh tanpa melihat belakang. Langsung saja aku pergi kesebuah pintu dimana hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya. Yah, inilah pintu sebagai akses menuju atap sekolah. Setelah pintu ini ada sebuah tangga yang banyak orang bilang bahwa tangga itu menyeramkan.

Aku sepenuhnya tak percaya.

Jika ada yang mengatakan hal itu padaku, aku hanya berkata; “bagaimana bisa kau berasumsi bahkan kau sendiri belum pernah berdiri ditangga tersebut?” Lalu mereka akan diam dengan wajah tak suka dan perlahan mereka akan bilang kalau mereka ingin pergi ke Toilet.

“Sehun-ssi, lagi?” tanya seorang pria paruh baya dengan sapu ditangan kirinya.

Aku membungkuk. “Yeah, as usual,ahjussi.”

Aku sungguh bersyukur bahwa pria ini sangat mengerti bahasa inggris. Ah, seingatku semua tukang kebun disini bisa berbahasa inggris dengan baik.

“Kau bawa kuncinya, kan? Akan kukunci setelah kau masuk kedalam,” kata pria ini lagi. Lalu segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci berwarna platina. Refleks, aku melakukan hal yang sama dan menemukan kunci yang sama juga. Namun kunci milikku terhiasi oleh sebuah gantungan dengan inisial huruf S.

Setelah memperlihatkan kunciku padanya, aku tersenyum singkat lalu segera menggerakan engsel pintu perlahan. Biasanya pintu ini terkunci, namun kali ini tidak dan entah kenapa bisa begitu.

Ahjussi,” panggilku. Pria itu menoleh, ia menatapku bingung. “Samcheonege malhajima, Arrachi[2]?”

Pria paruh baya ini lalu tersenyum. Aku pun tak banyak waktu, jadi segera saja kututup pintunya dan melangkah menuju tangga. Iya, aku harus berjalan perlahan, kalau tidak aku bisa tersungkur. Tangga ini tak terawat. Lantainya memang terbuat dari marmer namun karena jarang dirawat dan banyak debu, jadi lantai tangga ini licin.

Lembab juga.

Secercah cahaya terlihat tak lama setelah aku hampir menyelesaikan tangga ini. Aku mempercepat langkah dan… Sebuah hamparan rumput buatan terlihat jelas olehku. Atap di Kelas khusus memang berbeda. Atap ini memiliki rumput buatan dan sebuah kursi taman. Setelah itu ada beberapa pagar yang terbuat dari kayu.

Rasanya seperti sudah lama tidak tidur disini. Aku mulai jarang ke Atap sekolah karena beberapa guru memergokiku saat ingin membuka engsel pintunya.

Menyebalkan? Hmm, sangat.

***

Kling.. Kling..

Kesan pertamaku saat membuka pintu adalah; pintu ini berisik sekali. Aku akan protes pada si Librarian itu untuk menggantinya. Atau jika perlu, aku akan protes pada samcheon[3].

“Wah, kau datang lagi,” pekik pria yang selama ini kukira seorang librarian. Tampangnya tidak seperti librarian, sih—dengan gaya rambut jabrik dan headset berwarna neon— terlihat sangat muda.

Aku tak menghiraukannya, malah berjalan menuju rak-rak yang menjulang. Disinilah tempat yang selalu kusukai; Perpustakaan kelas reguler. Perpustakaan ini begitu klasik berbeda dengan perpustakaan kelas khusus yang terlalu banyak alat teknologi dibandingkan dengan bukunya.

Hebatnya, di Perpustakaan ini selalu menyediakan tempat dimana ada sebuah kotak berisikan banyak kertas dan pulpen—bahkan sebuah perkamen namun tak begitu banyak. Dan kau bisa mengambilnya secara gratis.

Grep

Tangan siapa ini?

Aku menoleh. Melihat seorang gadis berambut cokelat gelap yang juga mengambil kertas yang sama denganku. Sesaat setelah melihatku, gadis itu melepaskan tangannya dari kertas ini.

“Maaf, kau ambil saja,” katanya lalu mengambil kertas yang lain dan berlalu. Yeoja yang aneh.

Tapi untuk yang ini aku harus menghela napasku lega. Kukira gadis itu akan mempermasalahkan kertas yang tadi, namun kenyataannya berbeda. Jarang-jarang seorang gadis akan ‘tidak ambil pusing’ pada kejadian seperti ini. Rasanya aneh.

Setelah mengambil kertas, aku langsung duduk disebuah bangku beserta meja yang kosong. Tidak dipojok karena aku tak suka dengan tempat seperti pojokan. Tempat yang kupilih cukup strategis karena aku tertutup oleh sebuah rak buku yang lebih besar daripada rak buku yang lainnya.

Tiba-tiba seseorang duduk dihadapanku. Aku mendongak, melihat orang itu dengan saksama hingga akhirnya aku tahu orang ini siapa.

Shin Hyesung, begitulah tulisan yang tertera ditanda pengenal yang tersemat dialmamaternya. Dialah gadis yang mengambil kertas—tanpa sengaja—bersamaan denganku. Untuk apa dia berada disini? Apa dia seorang stalker?

Gadis itu lalu meletakkan tumpukan buku diatas meja. Jelas membuat meja ini bergetar karena buku tersebut tebal dan jumlahnya lebih dari satu. Aku refleks menatap gadis ini tak suka. Iya, dia sangat menganggu.

Mencoba sopan, aku pun bertanya. Namun tak dapat dipungkiri jika mulutku—lidahku berkata sebelum otakku memerintah, “Kau sedang bolos?”

Kau yang membolos, Oh Sehun.

Gadis itu tak menoleh, tetap membaca bukunya. “Apa aku terlihat seperti sedang bolos?”

“Ambil faktanya saja, disini hanya kita berdua.” Perpustakaan sepi, malah aku tak melihat orang lain lagi selain aku, dia dan si Librarian.

“Oh, Geurae? Tapi pada kenyataannya aku tidak membolos, sir.” Gadis bernama Hyesung itu tetap tidak menoleh saat berbicara padaku. Lembaran demi lembaran buku tersebut ia buka dan ia tatap lekat-lekat.

Aku diam. Gadis ini menyebalkan sekali. Baru pertama kalinya aku merasa seperti diacuhkan oleh seorang gadis. Padahal biasanya aku yang sering mengacuhkan gadis-gadis yang berada disekitarku.

Tanpa ingin memikirkannya lebih lanjut, aku meletakkan secarik kertas dan pulpen yang tadi kuambil. Lalu tak lupa sebuah buku—yang kukira ada tiga ratus halaman—disamping kertas. Sebenarnya, tujuanku kesini hanyalah membaca buku sambil menulis daftar belanjaanku untuk hari ini. Well, aku membolos karena tujuan ini, pasti samcheon tidak akan marah. Mungkin.

Srek… srek…

Aku sudah menulis daftarnya hingga ke-23. Mulai dari yang terpenting hingga yang tak penting dan, menurutku ini sudah cukup banyak. Aku tak mau menghabiskan seluruh uangnya. Bisa-bisa aku tidak makan dan tidak jajan.

“Kau menulis daftar belanja?”

Aku mendongak, “Seperti yang kau lihat.”

Hoo.” Gadis itu menganggukkan kepalanya. Ia lalu kembali fokus pada lembaran dibukunya. Membaliknya satu persatu namun sangat teliti. Kalau ditilik-tilik lagi, gadis ini seperti membaca memindai. Seperti membaca buku telepon.

Aku mendongakkan kepalaku lebih keatas. Sedikit ingin tahu buku apa yang sedang ia baca. Hingga akhirnya aku menemukan banyak angka disana.

Sial, ternyata buku itu benar-benar buku telepon.

Gadis itu lalu menuliskan beberapa angka disebuah kertas kosong dan mulai membaca lagi. Sepersekian detik kemudian, mata cokelat itu menatapku. Gadis bermanik cokelat ini menatapku.

“Jangan berpikiran jika aku ini seorang stalker atau apapun itu.” Matanya masih menatapku serius. Tidak, tatapannya selalu seperti ini begitu juga tadi saat kami mengambil kertas secara bersamaan. Tanpa sadar aku menatap mata itu terus-menerus.

Entahlah, matanya sangat menarik perhatianku. Kesannya dingin namun aku dapat menemukan kehangatan saat menatap matanya—tepat dimatanya.

“Ini semua untuk orang tuaku, kau puas?”

Aku menggeleng keras. Sial, bagaimana bisa aku menatap seorang gadis begitu lama! Dasar bodoh.

“Bagaimana kau tahu aku berpikiran bahwa kau seorang stalker?” tanyaku mengalihkan pembicaraannya. Aku sebenarnya tak peduli alasan dia menulis nomor-nomor tersebut, kembali lagi, aku sangat tertarik dengan manik matanya.

Gadis itu berhenti menulis. Menatapku lagi, “Just feeling.”

Feelingmu hebat sekali berarti, ya.” Aku kembali fokus pada secarik kertas dihadapanku. Melipatnya menjadi beberapa bagian lalu memasukannya kedalam saku celanaku. Akhirnya, datang juga waktu untuk membaca.

Drrrt drrrt, getaran ini tidak berhenti berarti ada panggilan masuk. Saat masuk perpustakaan, dipintunya tertera berbagai macam rules yang harus kita taati saat masuk perpustakaan. Termasuk men-silent ponsel, Yeah.

Aku mengernyit ketika melihat nama dilayar ponselku. Telpon ini dari samcheon—tapi kenapa? Samcheon ‘kan jarang menelponku.

Eo Samcheon!” pekikku sengaja dengan suara cukup keras.

Gadis dihadapanku itu menatapku sinis sebelum melanjutkan menulis nomor-nomor yang tertera dibuku telepon tersebut.

I Jashik[4]! Sopanlah kalau sedang berbicara denganku!” kata samcheon dari seberang sana. Ya ampun, bahkan dia sendiri sedang berteriak denganku.

“Aku sedang berada dikelas,” alihku bohong.

“Aku tahu kau tidak sedang dikelasmu—bahkan tidak sedang berada dilingkungan kelas khusus! Keruanganku sekarang!”

Jamshimanyo[5], samch—” BEEEEEEP… Hubungan telepon itu mati seketika. Aku tak mengerti mengapa samcheon senang sekali memutuskan hubungan telepon padahal lawan bicaranya belum mengatakan iya atau tidak. Kalau begini, aku harus pergi ke Ruangannya.

Mwo?” tanyaku saat kedua manik mata itu menatapku. Gadis itu hanya menggeleng pelan lalu kembali melanjutkan bacaannya.

Tak lama kemudian si Librarian itu meneriakan nama gadis dihadapanku ini. Gadis itu kemudian berjalan santai menuju meja si Librarian lalu mengangguk perlahan. Setelah itu dia kembali lagi dan membereskan seluruh bukunya dan kertas itu.

“Waktuku sudah habis,” kata gadis bersurai cokelat gelap itu. Dia lalu berjalan begitu saja tanpa pamit ataupun membungkuk padaku. Aku masih meratapi punggung gadis tersebut. Rambut ikal berwarna cokelat gelap dengan manik mata yang sama.

Kling.. Kling..

Oh, dia sudah pergi. Pertemuan yang cukup singkat tapi, sangat mengensankan. Aku terkesan dengan kedua manik mata itu.

Manik yang selalu menatap dingin lawan bicaranya.

***

Dihadapanku, dua pintu berdiri kokoh. Dengan papan bertuliskan “Headmaster” dengan nama samcheon dibawahnya. Inilah ruangan kepala sekolah yang jarang kudatangi. Selama ini, biasanya samcheon sendiri yang akan datang ke Apartemenku.

Aku membuka pintu tersebut perlahan. Terlihat olehku seorang pria paruh baya dengan secangkir kopi dimejanya. Lalu tanpa permisi, aku melangkahkan kakiku masuk kedalam. Wajah pria itu kaget sambil sesekali mengelus dadanya. Oh iya, aku lupa mengetuk pintu. Lagi.

“Hai, samcheon,” ucapku datar. Pria dihadapanku ini langsung mengangkat tangannya seperti ingin memukulku dan sepersekian detik kemudian, ia turunkan lagi tangannya dan mengelus dada. Melihat hal itu aku malah biasa saja—lalu duduk dikursi yang disediakan. Aku memundurkan kursi tersebut agar tak terlalu dekat dengan pria ini. Tidak, aku tidak suka aroma kopinya.

Samcheon meneguk kopinya, “Ayahmu tidak bisa datang ke acara peringatan kematian ibumu. Kau gantikan dia, ya?”

Ayah selalu begitu. Pribadinya telah berubah semenjak bercerai dengan ibu. Yah, ibuku meninggal setelah beberapa minggu bercerai dari ayah. Kecelakaan itu merenggut nyawa ibu dan supir pribadinya. Ayah yang mendengar hal itu hanya diam walaupun aku bisa tahu dari sorot matanya, ia sangat terpukul. Aku tahu ayah masih mencintai ibu. Entahlah, aku hanya merasa bahwa aku tahu hal itu.

“Oh, hanya itu saja?” Aku melirik jam dipergelangan tanganku. Sekarang sudah jam tiga lewat lima belas menit dan harusnya aku sudah berada diparkiran mobil. Aku harus pergi ke Supermarket kali ini.

Tanpa pikir panjang lagi, aku berjalan hendak keluar dari ruangan samcheon. Namun suara samcheon menghentikan langkahku. Aku menoleh dan menatapnya.

“Kali ini jangan sampai tidak datang,” kata pria itu.

Aku tak menjawab, lalu menggerakan engsel dan membuka pintunya. Aku ingat betul tanggal dimana ibuku mengalami kecelakaan dan meninggal. Hari-hari itu adalah hari paling menyakitkan diantara hari-hari yang kubenci.

“Nanti kita lihat sunset sama-sama, ya?”

Yah, aku masih mengingat kata-kata terakhir ibuku. Kata-kata yang terucap manis dan membuatku sangat tertarik pada suasana sunset di Pantai. Aku tak dapat melihatnya, bahkan saat kuajak ayah untuk melihat sunset, beliau malah memakiku.

Segera kugelengkan kepalaku. Kembali pada kesadaraanku sebagai seorang Oh Sehun, Oh Sehun yang dingin serta tak peduli dengan sekitarnya.

Kulajukan saja mobil Volvo-ku dengan kecepatan diatas rata-rata. Melaju dijalan raya Seoul memang mengasyikkan. Yah, setidaknya cukup untuk memacu andrenalin jika ingin menyalip mobil ataupun truk-truk besar.

Ah, sebentar. Kurasa aku harus ke Rumah Kai untuk menjelaskan tentang Jihye noona dan Yoojun. Aku tak mau Kai salah paham—walaupun sebenarnya aku lebih suka melihat Kai marah karena jujur saja, Kai jarang marah padaku. Tapi kalau menyangkut Jihye noona, aku tak ingin main-main.

Segera saja kubanting stir ke-kiri dan masih dalam kecepatan diatas rata-rata. Ayolah, bagiku waktu adalah segalanya. Jika aku tidak mengatur waktu untuk hari ini maka aku tidak bisa mendapatkan apa yang kuinginkan.

Iya, aku memikirkan Supermarket. Aku memikirkan nasib-nasib daftar belanjaan yang sudah kutulis tadi.

Aku sangat bersyukur karena beberapa orang dirumah Kai sudah kenal denganku dan plat mobilku. Aku tak perlu memasang tampang konyol sambil tersenyum lalu kukatakan bahwa aku adalah temannya Kai—kalaupun iya aku melakukan hal seperti itu, aku yakin pasti aku tidak akan diizinkan masuk.

Semua orang disini tahu sifatku, dan parahnya mereka tahu kebiasaanku.

Dan kalau bertanya tentang keberadaan Kai sekarang, jelas aku mengetahuinya. Bukan, bukan feeling tapi aku memang tahu apa yang sedang ia lakukan. Pemuda itu jarang keluar dari kamarnya. Dia akan duduk dibalcon atau sofa didekat ranjangnya.

Aku tahu karena aku sering melihatnya begitu. Dan kebiasaanku yang buruk karena tidak mengetuk pintu dan berjalan perlahan—bahkan bisa dibilang seperti mengendap-endap—membuatku selalu muncul tiba-tiba. Aku tak peduli, sih. Setidaknya aku belum pernah mendapatkan korban atas kebiasaan burukku itu.

Kulihat Kai sedang duduk dibalcon kamarnya lalu sesekali menatap layar ponselnya. Sejak kapan ia begitu tertarik dengan ponselnya sendiri?

Aku berjalan menuju beberapa rak buku dan Wah, aku menemukan buku ‘sakral’ ini. Buku Sophie’s World yang sangat ingin Kai lindungi dari tangan siapapun termasuk tanganku sendiri. Kai pernah cerita bahwa buku tersebut adalah buku pertama yang ia beli dengan uang hasil sendiri. Tapi kalau mendengar ceritanya itu, rasanya aku ingin memukul wajahnya.

Bagaimana bisa uang itu dikatakan hasil sendiri kalau Kai meminta uang pada beberapa pelayan rumahnya?

Setelah membolak-balikkan lembaran buku itu, aku duduk diatas sofa. Sesekali kulirik Kai yang masih saja duduk dibalcon. Aku disini dan dia tidak menyadarinya, lucu sekali.

Segera saja kukirimkan pesan singkat dan well, aku mendengar jelas ringtone dari ponselnya. Segera kutahan tawaku dan kembali membaca buku ‘sakral’ ini. Beberapa detik kemudian Kai berbalik dan terlonjat kaget. Aku menatapnya datar.

“Sejak kapan kau berada disini?!” bentak Kai.

Tsk. Aku melihat jam tanganku lalu menganggukkan kepalaku. Sok berpikir padahal aku sendiri tahu bahwa aku sudah berada disini selama lima belas menit.

“Sekitar lima belas menit yang lalu, sih.”

Yak! Neo jukgeshipeo[6]?!” teriak Kai. Lagi dengan nada tinggi.

Selalu saja. Memangnya kenapa kalau aku muncul tiba-tiba. Toh, wajahku tak berubah. Malah pandangan mataku juga tidak berubah. Sebenarnya aku malas menanggapinya, tapi tak apalah. Demi tujuanku.

Ah, ternyata benar, orang yang sedang gelisah mudah naik emosinya pada hal-hal sepele.” Aku lalu menutup buku tersebut dan menaruhnya asal. Letak buku ini disimpan saja aku tidak tahu dan kalau kukembalikan ketempat semula, aku lupa.

Asal saja. Toh, Kai tidak akan membunuhku kalau buku ini diletakkan bukan ditempat semula. Beberapa detik kemudian buku itu terjatuh, kuambil lagi dan kuletakkan dibuffet. Aku tak peduli aku ini nanti dibunuh atau tidak yang jelas aku sudah meletakkan buku tersebut ketempat yang tidak benar.

Sepertinya aku akan membicarakannya sekarang. Mengulur waktu bukanlah hal yang tepat untuk situasi begini, karena aku harus pergi ke Supermarket. Semasa bodo.

Aku berjalan perlahan.

“Aku sudah mengatakannya semua kepada Yoojun. Tentang Jihye noo—” Baru saja aku ingin menyelesaikan perkataanku, Kai sudah menarik kerahku dengan wajah penuh dengan amarah. Wajah ini jarang sekali diperlihatkan padaku. Sekalipun ia marah karena barang-barangnya kuambil tanpa izin, dia tidak akan mengeluarkan raut wajah begini.

Masih menarik kerahku dan masih dengan semua amarahnya, Kai berteriak, “Apa yang kau lakukan?!”

Cih. Anak ini apa kepekaannya itu minim? Atau dia hanya peka terhadap kata-kata yang mengangkut ‘Jihye’? Bodoh. Kau memang bodoh, Kai.

“Lepaskan.”

Aku menatapnya dingin. Bahkan semenjak ia menunjukkan wajah penuh amarahnya padaku, aku hanya menatapnya dingin. Lalu tak lama kemudian, ia melepaskan kerah bajuku. Haish, berantakan! Aku malas sekali keluar dengan kerah berantakan begini. Dan terlebih ini adalah seragam sekolah, memakai pakaian resmi dan ada bagian yang berantakan bukanlah gayaku.

Perlahan, aku kembali duduk disofa. Menatap langit-langit kamar Kai yang berwarna cream dan menatap Kai—tentu saja dengan tatapan dingin. Aku dibuat badmood olehnya.

“Yoojun harus tahu semua yang kau rahasiakan, itu yang pertama dan kedua kenapa aku memberitahunya tentang Jihye noona agar ia tak mengetahui dirimu yang sebenarnya,” jelasku tenang.

Sekilas aku melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan. Sudah 30 menit dan aku sudah merasa tidak betah berada disini. Apalagi dengan kondisi seperti ini dan rumah Kai yang mirip sekali dengan rumah Ayah. Lagi-lagi terbayang oleh rumah Ayah yang menyeramkan. Tidak.

Kai memalingkan wajahnya. Aku tak mengerti maksudnya tapi sepertinya dia sedikit tersadar dengan perkataanku. Well, mulut tajamku ini ada gunanya juga.

Sekelebat perkataan Yoojun sewaktu jalan di Hongdae memenuhi benakku. Yoojun bilang bahwa Kai pernah membentaknya. Itu artinya Kai sudah mengeluarkan emosinya pada seorang gadis. Kemajuan. Karena Kai belum pernah—bahkan akan kukatakan tidak pernah—berbicara dengan nada tinggi sekalipun pada Jihye noona. Kai terlalu menyayanginya hingga tak dapat mengeluarkan emosinya, sedikitpun.

Yeah, kecuali pada tiga gadis yang tadi pagi mengusiknya dikelas.

“Kau pernah membentak Yoojun ‘kan?” tanyaku spontan. Kali ini dengan nada menggoda, aku menanyainya lagi, “Ah, apa kau sudah mulai menyukai Yoojun, eo?”

Y-ya! Jangan berasumsi yang bukan-bukan!”

Lihat saja, bahkan wajahnya sudah seperti orang yang ketahuan mencuri. Hahaha, benar-benar pemuda yang satu ini. Kenapa tidak mengaku saja? Cih. “Terserahlah, tapi jangan bohong pada dirimu sendiri.”

Pemuda itu diam. Aku jadi merasa menang; one for me then.

Aku melenggang keluar kamar Kai. Menatap pemuda yang masih terdiam itu dengan pandangan meremehkan lalu berteriak, “Aku pergi!”

***

Aku mendorong troli ini sampai ketempat parkir. Sebenarnya sih tidak boleh—sejak kapan boleh membawa troli hingga ketempat parkir? Tapi aku tak peduli. Dengan aku berlaku seperti ini, mungkin semua orang akan mengikutinya dan tidak ada yang bisa disalahkan akan hal ini. Terkutuklah wahai plang pembatas troli.

Sambil sesekali mengecek barang-barang yang baru saja kubeli dari Supermarket, aku juga memasukkannya kedalam bagasi. Duapuluh tiga lebih jenis barang kubeli. Lebihnya karena uang yang sudah kuhitung-hitung untuk belanja masih ada lebihnya lalu tanpa rasa dosa sedikitpun, kubelikan beberapa buku berlabel; limited edition.

Hidup seperti ini lebih mengasyikkan ketimbang aku diam lalu semua barang sudah berada didepan mataku. Tidak ada seninya. Maksudku, tidak harus mengitung dan mengira-ngira berapa dan jumlah serta total barang yang akan dibeli.

Tes… tes… tes…

Hujan, ya? Err,sepertinya lebih condong kegerimis. Airnya hanya sekedar rintik-rintik, walaupun sepertinya lama-lama ada angin yang menyertainya.

Aku menutup pintu bagasi setelah memasukkan plastik-plastik berisikan barang belanjaan. Lalu berjalan santai kearah kanan, bermaksud untuk masuk kemobil. Tapi pandanganku menangkap dua wanita—yang sepertinya umur mereka sudah duapuluh limaan—yang sedang mengobrol. Hmm samar-samar aku mendengar mereka membicarakan tentang kedai minuman. Menarik juga.

Annyeonghaseyo,” sapaku mencoba sopan.

Mereka membalasnya lalu menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Oh, mungkin mereka menganggapku aneh karena aku masih memakai seragam.

“Apa kau seorang artis? Ulzzang?” tanya wanita berbaju merah muda. Wanita yang lain menyikut lengan wanita berbaju merah muda itu sambil sesekali tersenyum padaku. Jujur saja, ini baru yang namanya menyeramkan bagiku.

“Bukan, aku pelajar,” jawabku lagi-lagi mencoba sopan. Karena hujan semakin lama semakin lebat, aku akan mempercepat semua ini. “Kudengar kalian sedang membicarkan kedai minuman, boleh aku tahu namanya?”

Kedua wanita itu mengangguk senang lalu menjawabnya sambil tersenyum-senyum, “Namanya Kedai SamJins. Tempatnya memang biasa saja, tapi minuman yang disediakan lengkap dan pelayanannya bagus.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku mendengar perkataannya. Sepertinya tempat yang menarik, aku akan kesana.

“Kalian tahu alamatnya? Kalau kalian tahu alamatnya tolong tuliskan disini,” kataku seraya menyodorkan ponselku pada mereka. Wanita dengan baju merah muda menatap layar ponselku dengan tatapan berbinar sedangkan wanita yang lain mengetiknya dengan antusias.

Selesai mengetiknya, wanita itu mengembalikan ponselku. Masih dengan mata berbinar, para wanita itu menatapku. Aku tak mengerti maksudnya apa tapi ini menyeramkan. Semoga mereka bukan pedofil atau wanita gila sayang anak.

“Boleh kuminta nomor ponselmu?” tanya Wanita dengan baju merah muda itu. Dan masih dengan tatapan berbinar.

Tanpa berpikir panjang, aku melontarkan jawabanku pada mereka. “Tidak, terima kasih alamatnya.”

Segera saja aku berlari kecil kearah mobilku. Tepat saat aku masuk kedalam, hujan bertambah deras. Dengan begini resmi sudah aku tak bisa melaju dengan kecepatan tinggi.

Jalan raya pasti licin dan berair.

Akhirnya mobilku keluar dari tempat parkir. Disinilah aku masih merasa bingung. Hujan membuat moodku jadi turun untuk pergi ke Kedai itu namun entah aku merasa harus kesana. Kulihat lagi alamat yang diberikan wanita tadi; ini seperti alamat rumah orang yang kukenal.

Benarkah?

Kupijak sedikit lebih kencang pedal gas mobil. Kecepatan awalnya naik 10km/jam. Yah, sedikit ekstrim tidak apa-apa, kan?

Aku memasang GPS sesuai dengan alamat yang tertera dilayar ponselku. GPS ini membawaku kedaerah yang nampak familiar denganku—bahkan aku tahu minimarket yang beru saja kulewati ini.

Setelah masuk kedalam lagi dan lagi, akhirnya aku menemukan kedai beserta toko-toko lainnya. Setelah memakir mobil, aku lantas masuk kedalam; selain udara yang semakin dingin, aku juga haus. Aroma kedai minumannya sangat nikmat. Sepuluh kali lebih nikmat daripada aroma kopi samcheon tadi. Dan aku berani bertaruh.

Saat masuk, kau bisa melihat beberapa bangku kayu yang warnanya seperti kayu redwood. Ada beberapa kursi sepasang dengan mejanya, dan ada kursi memanjang seperti yang ada pada bar.

Kakiku melangkah kearah kursi panjang itu sebelum otakku memerintah. Hangat. Semakin dekat semakin hangat.

“Mau pesan apa?” tanya si Pelayan sambil tersenyum.

Kulihat tanda pengenal pelayan itu. Oh, namanya Woo Yeojin.

Aku tak balas tersenyum, masih terpana dengan semua yang berada disini. Hingga aku menemukan apa yang harus kupesan. “Aku ingin greentea. Kalau bisa suhu airnya jangan sampai terlalu tinggi.”

Pelayan itu mengangguk tanpa meninggalkan senyumnya. Aku bisa melihatnya bagaimana cara membuatnya. Menuangkan beberapa rempah—dengan aroma yang tercium olehku sendiri—kesebuah mangkuk kecil, lalu dengan perlahan menumbuknya. Setelah agak hancur, pelayan itu menuangnya kedalam sebuah mangkuk. Aku berani bertaruh bahwa mangkuk keramik itu asli handmade.

Dulu, ayah mengajarkanku bagaimana cara menilai karya seni; terlebih tanah liat. Bagaimana membedakan handmade atau produksi mesin. Dan bagaimana cara membuatnya. Ayah mengajarkannya padaku yang waktu itu masih menginjak umur 9 tahun.

Ketelnya berbunyi, berarti airnya mendidih. Aku jadi khawatir kalau dia melupakan pesananku bahwa air suhunya tidak terlalu tinggi, melihatnya mulutku refleks bersahut, “Kau yakin kalau air itu suhunya tidak tinggi?”

Pelayan itu tersenyum. Sedikit terkikik lalu melanjutkan pekerjaannya. “Air yang baik untuk minuman hangat ataupun panas sekalipun adalah air yang mendidih. Warna, rasa, tekstur dan hasilnya akan berbeda dibandingkan bukan dengan air  yang mendidih.

Untuk masalah suhu kau tak perlu khawatir, tuan. Suhu bisa diturun-naikkan sesuai selera,” lanjutnya. Jujur saja, aku cukup terkesima mendengar penjelasannya.

Pelayan ini sepertinya seorang yang ahli Chanoyu[7], Karena dia sangat detail dari segi pembuatan hingga penyajian. Semua alat yang ia gunakan sangat tradisional—walaupun ada yang modern-nya juga. Pelayan itu lalu menuangkan air dari ketel berwarna kecolekatan itu kemangkuk tadi dan mulai menuangnya kesebuah poci.

Nihonjin desuka[8]?” tanyaku spontan. Sengaja dengan bahasa Jepang, dan kalau-kalau dia tak mengerti berarti dia bukan orang Jepang.

Nan ban hangukgwa ban ilbon saramieyo[9],” jawabnya sambil tersenyum. Lalu menyediakan sebuah cangkir keramik dan menuangnya kecangkir tersebut.

Aku masih menatap cangkir yang telah berisi greentea yang terletak tak jauh dariku; sampai pelayan bernama Yeojin itu melambaikan tangannya.

“Kau bisa Chanoyu?” tanyaku yang lagi-lagi spontan. Keluar begitu saja.

“Aku tidak bisa dibilang ‘bisa’, hanya dapat menerapkannya sedikit.” Pelayan itu setelah menyodorkanku secangkir greentea, ia cepat-cepat berbalik, mengambil poci yang bening seperti kaca itu dan meletakkannya dihadapanku. “Tuan bisa menuangkannya sendiri, kan?”

“Err, apa pakaianku tidak dapat memperjelas statusku?” tanyaku asal. Terlalu tak suka dengan panggilan tuan; kesannya aku sudah berumur tiga puluh tahun dan mempunyai seorang istri. Juga dua anak.

Pelayan itu menutup mulutnya lalu membungkuk minta maaf. Sepersekian detik kemudian dia menatap seragamku dengan tatapan kagum.

“Benarkah ini seragam? Joeseoghaseyo, aku tak tahu kalau yang kau pakai adalah seragam sekolah. Seragam itu formil sekali,” katanya sambil menggaruk tengkuknya.

Pria yang aneh. Masa iya, baju seperti ini terlalu formil? Bukankah wajar?

“Jangan khawatir, greentea itu free-refill,” katanya lalu kembali kebelakang tirai. Entah ada apa disana atau entah tempat apa itu.

Setelah meneguk greentea tersebut, aku membayar minumannya dan pergi keluar. Aku tak tahu bahwa persis didepan kedai ini ada sebuah taman. Aku menatapnya terus-menerus hingga siluet seorang gadis yang tengah berlari menggagetkanku. Gadis itu berlari ditengah hujan dan akhirnya duduk dibangku taman tersebut.

Bukan hantu, kan? Lagipula mana ada hantu yang hujan-hujanan? Ditahun seperti ini itu semua sudah kuno—aku tak bisa membayangkan hantu yang kehujanan.

Aku berjalan kearah Volvo-ku, berharap bisa menemukan payung lebih cepat karena aku ingin segera melangkahkan kakiku kearah taman itu. Rasa-rasanya aku seperti mengenal seorang gadis yang berlari ditengah hujan itu. Yah, kalaupun bukan aku masih harus memastikannya.

Entahlah, aku merasa aku harus memastikannya.

Setelah mencari ke beberapa plastik belanjaan, aku menepuk jidat. Baru tersadar bahwa satu-satunya payung yang ada hanyalah payung yang selalu kusimpan diatas dash mobil. Secepatnya aku berjalan dan membuka pintu mobil bagian depan. Mataku tepat melihat sebuah bentuk seperti tabung berwarna abu-abu.

Aku juga tersadar kalau aku lupa memasukan ‘payung’ kedaftar belanjaanku. Mungkin aku akan membelinya, kapan-kapan.

Segera saja aku membuka payungnya dan berjalan menuju taman. Melangkah dengan hati-hati karena aku tidak mau sepatuku terkena kubangan air. Dan tidak mau juga sedikitpun dari tubuhku terkena air. Apalagi yang warnanya kecokelatan.

Mataku menatap siluet gadis yang tengah duduk sambil merunduk. Seperti sedang menangis, namun aku tak dapat mendengar suara tangisnya. Dan aku sepenuhnya menyalahkan hujan karena aku tak bisa memastikannya. Masih berjalan dengan kehatian-hatian hingga aku tahu siapa gadis tersebut. Park Yoojun, gadis yang membuat Kai aneh beberapa hari bahkan minggu ini. Sedang apa gadis innocent ini berada ditaman yang sepi dan ditengah hujan?

“Wah, wah, lihat ini siapa yang sedang menangis,” ujarku sok sarkatis.

Gadis itu lalu mendongak sambil sesekali menyeka wajahnya yang penuh dengan air hujan—dan mungkin air mata. Kulihat matanya membulat kaget saat melihat wajahku dihadapannya.

“Kau… lagi,” desah Yoojun. Nada awalannya kaget namun berangsur kecewa. Sebegitu mengecewakannyakah aku disini?

Aku berdecak karena kesal. Nada bicaranya membuat moodku turun, mendadak tidak ada minat lagi berbicara—akhirnya aku menatapgadis dihadapanku sinis. Menekankan lagi dengan tatapan tak suka; karena nada bicaranya.

“Wajahmu jelek kalau sedang menangis, kau tahu?” Lidah tajamku mulai beraksi lagi. Namun untuk yang kali ini aku sedikit bersyukur karena setidaknya ini merupakan aksi pembalasanku untuk gadis itu. Masih menatapnya sinis, akupun sedikit simpati padanya.

Jeoriga[10]!” teriaknya.

Cih. Mendadak rasa simpatiku menghilang. Aku tak mau berbagi payung dengannya; aku merasa dirugikan untuk hal ini. Sedikit menyesal kenapa aku bisa-bisanya menuruti kata hatiku. Harusnya kubiarkan saja menganggap gadis ini hantu yang sedang hujan-hujanan.

Tapi tidak bisa. Lidahku tak bisa diajak kompromi, “Ayo, aku akan mengantarmu.

“Aku tidak mau pulang kerumahku,” sergah Yoojun cepat.

Sepersekian detik kepalaku terisi oleh beberapa fantasi hebat. Yah, mungkin cukup untuk menjadi tontonanku pribadi. Dan aku menyetujuinya.

“Siapa bilang aku ingin mengantarkanmu kerumahmu? Kau percaya diri sekali,” ujarku dengan nada sedikit mengejek. Menatap gadis ini remeh—gadis ini malah menghela napasnya, membuatku makin gemas untuk meninggalkannya sendirian disini.

Mwo?” akhirnya aku bertanya.

“Aku juga tidak mau ke Apartemenmu.”

Sontak aku tertawa. Bayangkan betapa lucunya pernyataan yang ia lontarkan barusan! Tidak, jelas aku tidak marah. Pada dasarnya apartemenku bukanlah untuk umum dan aku hanya membiarkan orang-orang yang sudah kukenal dengan baik untuk masuk kedalam apartemenku.

Apalagi membawa orang yang tengah basah kedalam apartemenku, rasanya tidak mungkin. Dan tidak akan terjadi.

“Kau benar-benar percaya diri!” seruku dengan nada mengejek. “Aku tidak mau membawamu ke Apartemenku, nanti apartemenku kotor!”

Mengibas-ngibaskan tanganku agar semuanya jelas. Semoga gadis ini mengerti maksudku. Semoga.

Ya! Neo!” teriak Yoojun. “Lalu kau ingin mengantarkanku kemana?”

Dan gayung pun bersambut. Inilah yang ingin kudengar; dan berharap reaksi gadis itu tak berlebihan karena jawaban yang akan kulontarkan nanti. Segera saja kukatakan dengan mantap, “Tentu saja ke Rumah Kai.”

Mworago?!” pekik Yoojun.

Ssst, nawa[11]!”

YAKK!”

Kulajukan mobilku perlahan karena hujan masih saja turun. Tak mengerti mengapa hujan tak henti-henti mereda, juga udara yang semakin dingin. Tak mau mengebut juga karena aku tak mau mati konyol terlebih dengan gadis yang sekarang berada dibelakangku.

Mataku jahil melirik spion. Melihat pantulan gadis yang basah kuyup sedang duduk sambil memeluk dirinya sendiri. Tiba-tiba aku merasa simpati.

“Ambil handuk yang ada dikantung berwarna putih. Ada dibelakangmu.” kataku setenang mungkin. Sedikit menyesal juga. “Pakai saja.”

Gadis itu menurut lalu kulihat ia mulai mencarinya. You’re the lucky one who can wear my future towel, you know.

Aku masih menyetir tak memperdulikannya. Melihat jalanan yang semakin sepi karena hujan yang semakin lama semakin lebat. Aneh, bahkan hujannya nampak seperti badai karena ada semilir-semilir angin yang menyertainya; pohon-pohon itu bergerak kearah timur karena angin.

Lampu merah.

G-Gomawo,” kata Yoojun dengan menggigil.

Melirik lagi kespion yang berada tak jauh dari atas kepalaku; menatap gadis itu dengan tatapan datar, “Jangan berlebihan, aku hanya tidak mau kau sakit karena kau harus membersihkan mobilku terlebih dulu.”

“Dasar gila!” Ya, aku gila lalu kenapa?

Alih-alih menjawabnya dalam hati, aku malah mengernyit, “Kau meneriakkannya tanpa menggigil, aku jadi ragu kalau kau kedinginan.”

Sepersekian detik kemudian aku mendengar tawa dari gadis dibelakangku ini. Yoojun tertawa setelah mendengar perkataanku barusan—apa-apaan?! Memangnya yang tadi kulontarkan itu sebuah lelucon, ya? Aneh.

Yoojun dan Kai sama-sama aneh, tsk.

“Apa rumah Kai masih jauh?” tanya Yoojun tiba-tiba. Membuatku refleks melirik spion. Lagi.

Hmm sebentar lagi sampai,” jawabku mencoba kembali fokus pada jalanan, lalu membelokkan stir mobil kearah kanan jalan. “Kenapa?”

“Tidak, aku hanya penasaran.”

Hoo,” paparku. Melihat beberapa belokan yang familiar membuatku makin ingin cepat-cepat sampai ke Rumah Kai. Setidaknya aku butuh sesuatu yang hangat untuk tubuhku—mungkin juga untuk Yoojun.

Lalu lampu lalu lintas itu berganti warna menjadi, hijau.

END

Q&A dulu ya, baru cuap-cuap hihihi

Q: Kenapa kok sidestory dan kenapa nggak langsung part 6 aja?
A: Iya, ini saya buat karena Love Sign part 6 nya sendiri belum rampung. Tapi tenang, disini ada dialog yang sengaja saya tulis untuk Love Sign part 6 yang akan dipublish nanti.

Q: Kenapa genrenya semi-comedy? Sehun kan…
A: Sehun memang dingin, tapi pemikirannya nggak karena sebenarnya pemikiran Sehun sendiri itu lucu. Terlalu realistis hingga dampaknya bikin ketawa—tapi karena sifatnya yang nggak bisa dibilang ‘lucu’ maka dari itu jadinya semi-comedy.

Q: Terus kapan Love Sign part 6nya rampung?
A: Jawabannya adalah, secepatnya. Karena saya juga ngerjainnya sambil mikir-mikir. Jujur deh, Love Sign udah mau tamat; untuk memikirkan endingnya saya masih bingung :S ew, semacam curhatan ya. Intinya lagi-lagi saya kena writers block /brb garuk tanah.

Q: Sehun suka Yoojun ya? Lho, kenapa nggak sama Hyesung aja?
A: Sehun nggak suka sama Yoojun. Menurut saya sih gitu /leditabok.

Cuap-cuap (dengan sedikit curhatan secara tidak langsung):

Absurd. Yah, biasa deh dampak-dampak writer’s block plus ngerjainnya dengan terburu-buru. Maaf ya kalau ada typo atau bahasa yang tidak dimengerti, itu semua saya salahkan sepenuhnya pada keyboard /heh

By the way banyak yang penasaran sama Sehun, kan? Hehe secara nggak sadar saya selalu buat dia muncul tiba-tiba. Maka dari itu, disini saya buat penjelasan kenapa dia selalu muncul tiba-tiba—terlebih dia muncul disaat nggak ada Kai.

Hmm, saya juga butuh pendapat nih. Menurut kalian lebih baik buat Yoojun sama Kai, Yoojun sama Sehun atau Sehun sama Kai Yoojun nggak sama siapa-siapa?

Jangan lupa comment ya, atau kalau ada yang ingin ditanyakan, silahkan aja jangan ragu ataupun bimbang karena saya nggak gigit ^^


[1] Apa-apaan

[2] Jangan beritahu pamanku, ya?

[3] Paman (dari ayah)

[4] Anak bandel ini!

[5] Tunggu sebentar

[6] Hei, Kau ingin mati ya?!

[7] Serangkaian upacara untuk mempersiapkan, menyajikan dan minum teh

[8] Apa kau orang Jepang?

[9] Aku setengah Korea dan setengah Jepang.

[10] Pergi(lah)!

[11] Ikut aku!

Iklan

25 pemikiran pada “Love Sign – Sehun’s Side

  1. Wah, emang bener pemikiran Sehun lucu banget, hahahha
    Suka banget peran Sehun di sini, jadi makin suka deh sama Sehun kwkwkwkwk *malah curhat*
    oke, komen lanjut ke chap 6 *teleport*

  2. aku mau nya sehun sama yoojun…!!!
    aku baru baca yang ini kekeke^^
    kira-kira love sign sampe chapter berapa eonni?
    ditunggu loh happy ending nyaa

  3. Sehun&Yoojin
    Kai&Adek kelas di chapter 8
    Hyesung&Taejun
    AUTHOR tolong kabulkanlah keinginan reader yang khilaf ini…hehehe
    semuanya tergangtung feel autor aja deh ok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s