The Legend of The Knights (Chapter 1)

The Legend of The Knights :

The Tree of Live PART 1

Cast:

Sehun Exo K as Lee Sehun

Kris Exo M/ Wu Yi Fan

Lee Yoon Hee (OC)

Other Cast:

Kangta as Lee Kangta

Lee SooMan as Lee Aboji

Park Jungsoo /Leeteuk SuJu as Butler Jungsoo

Seo Joo Hyun / Seohyun SNSD

Genre: Action, Sci-Fi, Fantasy, Romance, Friendship

Author: @riezka03 / Rizka

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Disclaimer: The Story isn’t all mine, maybe inspired by Exo’s MV MAMA and some other stories. The casts belongs to SMEnt. If you mant to copy, make sure you have my permit! No SIDERS! No PLAGIARISM!

Anneyong yorobeun.. gimana kabarnya? #sokakrab. Oke, author datang dengan chap 1. Karena comment readers, author jadinya semangat deh ngelanjutin FF ini. Oke, langsung saja..

 _________________________

Haeundae, Busan, South Korea 2012

Legenda pohon kehidupan. Mungkin bagi orang-orang jaman sekarang. Itu hanyalah sebuah legenda. Hanya sebuah dongeng pengantar tidur. Ya, banyak dari mereka tidak peduli akan nasib alam semesta. Yang mereka huni namun luput untuk mereka rawat. Tapi ketahuilah. Meskipun hanya segelintir. Namun masih ada dari mereka yang percaya akan legenda tua ini. masih ada yang berpikir bawa legenda ini bukan hanya isapan jempol belaka. Melainkan sebuah amanat.

Seorang pria tua berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Sebuah meja tua yang berada di tengah sebuah ruangan usang yang dipenuhi oleh buku-buku kuno.

Pria itu perlahan duduk di kursi dibalik meja tuanya. Seraya memandangi sebuah buku tua yang sudah usang. Dia membuka halaman demi halaman buku berwarna cokelat itu.

Jari-jari rapuhnya menelusuri setiap kata yang ada dalam buku itu. Dahinya berkernyit.

“Hm..” gumamnya seraya melanjutkan membaca buku itu.

“Seorang dewi?” ujarnya lagi.

“Harabeoji!!” terdengar teriakan seorang gadis dengan langkah tergesa-gesanya. Sang pria tua itu tersentak.

“Harabeoji!! Eodiseo?!” terdengar lagi suara itu. Kini pria tua itu berdiri dan berjalan menuju pintu ruangannya.

Ia buka pintu itu seraya menjawab panggilan yang ditujukan untuknya.

“Yoon Hee-ah!! Harabeoji di ruang kerja.” Balas pria tua itu dengan nada yang cukup keras di umurnya yang menginjak 80 tahun itu.

Lalu, terlihat seorang gadis cantik memakai rok abu-abu berjalan tergesa-gesa ke arah kakeknya itu.

“Waeyo Yoon Hee-ah? Kenapa berteriak.” Tanya pria tua itu dengan suara serak khasnya.

“Harabeoji. Lihat, apa yang kutemukan.” Gadis itu menunjukkan sebuah batu berwarna biru tua yang cantik.

“Igeo.. mwoya..?” tanya pria tua itu seraya memperhatikan batu biru tua itu dengan seksama.

“Molla. Aku menemukannya saat aku membantu ahjussi membersihkan gudang. Ini aku temukan di kardus pemberian eomma.” Jelasnya.

Pria tua itu terdiam. Raut wajahnya kini berubah menjadi serius. Tak terdengar sepatah katapun dari mulutnya.

“Waeyo? Harabeoji?”

“..”

“Masuklah Yoon Hee-ah.” Ajak sang pria tua kepada cucu kesayangannya itu. Dengan wajah masih penuh tanda tanya. Yoon Hee mengkuti harabeojinya untuk masuk ke ruang kerja harabeojinya.

“Waeyo? Ada yang salah?” tanyanya seraya duduk di sofa beludru yang terdapat di dekat jendela.

Harabeoji berjalan perlahan mendekati rak buku tuanya. Ia terlihat sedang mencari sesuatu. Lalu, ia menarik sebuah buku kecil dari jajaran buku-buku tua berdebunya, danmemberikannya pada Yoon Hee.

“Mwo?.” Yoon Hee menerima buku itu dengan hati bertanya-tanya. Lalu ia membuka buku itu halaman demi halaman.

Harabeoji hanya memandangi cucunya itu dengan wajah serius. Begitupun Yoon Hee. Ia membaca kalimat-demi kalimat buku yang dipegangnya. Lama, sunyi. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut keduanya. Yoon Hee yang hanyut membaca buku kecil itu. Sedangkan harabeoji yang duduk dengan dipenuhi kegelisahan.

Airmatanya menetes. Tangannya bergetar. Ia terus memnbaca buku peninggalan ibunya itu dengan buliran air yang turun membasahi pipinya itu. Ia menelan ludahnya. Lalu memandang harabeojinya dengan raut wajah sendu.

“Mianhae harabeoji tidak memberitahumu dari dulu.” Sesal harabeoji. Yoon Hee mengangguk lesu. Kini, wajah cerianya berubah dengan raut wajah sedih.

Yoon Hee memandangi batu biru tua itu dengan seksama lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Dengan sekuat tenaganya, ia membentuk sebuah senyum di bibir mungilnya. “Gwenchana harabeoji. Harusnya aku tahu jika eomma tidak meninggalkanku begitu saja.” Ucapnya pelan.

Meskipun kini wajahnya berubah ceria, tapi orang lain tahu bahwa hatinya kini sakit. Mengingat ia tak memiliki kesempatan untuk melihat wajah orang yang disayanginya, ibunya.

“Baiklah. Aku rasa harabeoji sibuk. Maaf mengganggu..” ujarnya seraya menutup pintu ruang kerja harabeojinya itu.

~~~~~

Kututup perlahan pintu ruang kerja harabeoji. Aku terdiam. Kusandarkan punggungku ke pintu tua itu. Selagi memandangi kembali buku tua pemberian ibuku.

Terlihat tulisan-tulisan rapinya yang membentuk baris-demi baris kata-kata penuh makna. Sebuah pesan dan penyesalan seorang ibu yang harus meninggalkan anaknya demi suatu hal yang bahkan ia tidak tahu. Tapi, semua itu telah terjadi. Eomma pergi. Tak ada kabar. Lalu, apa yang bisa aku lakukan?

Aku termenung. Dan masih di depan pintu ruang kerja harabeoji. Aku bingung, apa yang akan kulalukan dengan batu ini? kuperhatikan lagi batu biru ini.

“Jika dilihat. Ini seperti leontin..” gumamku sendiri.

“Ah!” seruku tiba-tiba. Lalu mengeluarkan kalung dari saku rokku. Kalung usang ini aku juga temukan di gudang. Kalung ini tak memiliki leontin. Lalu, aku pasangkan batu biru itu pada kalung itu dan memakainya.

Terlihat cantik. Wah, memang ibuku hebat!

~~~~

“Hhh.. apa yang aku lakukan?” gumamku pada diri sendiri.

Aku menggelengkan kepalaku lalu berjalan menuju meja kerjaku. Berniat melanjutkan membaca buku yang sempat tertunda.

Aku buka halaman terakhir yang kubaca tadi. “Sampai mana ya?”.

Kini, jari-jariku menelusuri setiap kalimat yang ada pada buku pemberian ayahku. Seorang filosofi dan seorang sejarawan. Beliau dan seorang temnnya adalah segelintir orang yang masih percaya akan legenda pohon kehidupan.

Kini, terlihat gambar lambang-lambang aneh tertera pada halaman buku itu. Kubaca keterangan demi keterangan yang ada. Dahiku berkernyit. “Demigod? Manusia setengah dewa..” gumamku lagi setelah membaca kata yang mengawali keterangan lambang-lambang itu.

Menurut legenda. Para kesatria pohon kehidupan itu mewariskan kekuatannya pada keturunan mereka yang dianggap pantas. Banyak dari mereka merupakan keturunan dewa atau Demigod. Namun tak semua. Dan ketika semua kesatria berkumpul. Batu itu akan bersinar dan membawa kesatria-kesatria beserta sang dewi membangkitkan pohon kehidupan. Keduabelas kesatria itu dapat menjadi siapa saja dan dimana saja. Kekuatan mereka akan muncul jika saatnya tiba. Ketika kedua bagian pohon kehidupan bersatu.

 

 

Ket tulisan: The twelve forces divide into two and create two suns that look alike. Into two world that seem alike, the legends travel apart.

Keduabelas kekuatan yang dimiliki oleh sang kesatria akan bersinar jika batu kehidupan, yang merupakan bagian dari jiwa pohon kehidupan bertemu dengan sang dewi, bagian lain dari jiwa pohon kehidupan.

Batu kehidupan

“Hah?!” aku tersentak. Batu ini.. itu berarti…

“Tidak! Tidak. Yoon Hee-ah!” aku segera menutup buku itu dan berlari keluar untuk menemui Yoon Hee.

Aku berlari tanpa arah di koridor rumahku ini. “Dimana dia?”. Aku mencari di segala arah. Tapi dia tidak ada.

“Harabeoji. Waeyo?” aku membalikkan badanku. “Ah, Jongsoo-ah!” ujarku pada butlerku yang satu ini.

“Waeyo harabeoji?” tanyanya. Aku berjalan menghampirinya.

“Dimana Yoon Hee?” tanyaku to the point.

“Ah, itu. Barusan ayahnya menjemputnya dan adiknya. Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Seoul.” Dan.. aku terbelalak.

“Apa?! Pulang ke Seoul!” bentakku pada pria ini. jungsoo terkaget.

“Ha..harabeoji?” ujarnya gugup.

Kuatur nafasku yang mulai tersengal. Tidak, asmaku kambuh lagi. Aku memegangi dadaku yang terasa sesak. Kepalaku menjadi berat dan pusing. Badanku limbung. Untung Jongsoo dengan sigap menangkapku.

“Harabeoji.. bertahanlah. Aku akan membawamu ke kamar.” Ujarnya lalu membopongku ke kamarku.

~~~~~

“Cih.. membosankan.” Gumam seorang pemuda di balik jaket birunya.

“Bersabarlah. Dua jam lagi kita sampai.” Ujar seorang gadis yang duduk di sebelahnya.

“Bagaimana liburan kalian?” tanya seorang pria yang sekarang menyetir mobil yang mereka tumpangi.

“Appa. Kenapa kau buru-buru menjemput kami sih? Aku kan masih mau main di rumah harabeoji?!” ujar sang pemuda dengan kesal dan nada merengek. Persisi seperti anak kecil yang minta dibelikan permen.

“Haha. Sehun-ah. Kau bukan anak kecil lagi. Tak perlu merengek.” Balas sang ayah kalem.

“Tau ah. Masa’ adik kakak ini masih aja manja?” tambah gadis itu seraya mencubit pipi adiknya gemas.

“Ya! Yoon Hee noona! Appo..” keluhnya sambil memegangi pipinya yang memerah.

“Cih, sudah 18 tahun masih seperti 8 tahun.” Sahut seorang pemuda lagi dari kursi sebelah kursi pria itu yang sedang mengemudi.

“Maklum. Keterbelakangan mental..” gumam Yoon Hee sambil cekikikan.

“Ish..” Sehun melayangkan tinjunya ke lengan kakaknya itu.

“Ya! Sakit tahu..” Yoon Hee tidak tinggal diam. Ia balas memukul adiknya itu. Meskipun rasa sakit yang dirasakan adiknya tidak sepadan dengan rasa yang ia rasakan. Lebih sakit karena namja yang memukulnya. Belum lagi, si baby face itu ahli karate dan judo.

“Sudahlah. Sekarang kau juga seperti anak kecil Yoon Hee-ah!” bentak pemuda tadi. Kini ia menoleh kearah kedua anak manusia itu.

“Mian oppa. Habis dia nakal!” jawab Yoon Hee seraya membetulkan posisi duduknya.

“Kau juga. Jangan memukul kakakmu sembarangan. Dia itu perempuan. Tinjumu itu bisa membununya.” Kini giliran si baby face kena semprot sang kakak tertua.

“Sudahlah Kris. Mereka hanya bercanda.” Lerai sang ayah yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran ketiganya dari kaca spion.

Yoon Hee hanya dapat mendengus kesal atas perilaku adiknya yang satu ini. belum lagi kena marah kakanya. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Memandangi indahnya panorama alam sepanjang perjalanan. Ia teringat akan kalung yang ia temukan pagi ini. ia mengeluarkan kalung itu dari bajunya dan memandanginya. Kalung itu bersinar. Lebih tepatnya hanya berpendar sejenak. Yoon Hee tersentak. Kenapa kalung itu bersinar.

“Argh…” terdengar geraman kecil dari Sehun.

“Waeyo?” tanya Yoon Hee.

“Molla. Tiba-tiba badanku seperti tersetrum. Dan, aku.. merasa aneh.” Jawabnya sambil memijit tengkuknya.

“Mungkin kau kelelahan. Kegiatanmu banyak.” Jawab Yoon Hee lalu mengalihkan perhatiannya lagi pada kalungnya.

~~~~~~

Pria tua itu membuka matanya perlahan. Dengan tertatih. Ia mencoba untuk duduk dari posisi berbaringnya.

“Hrabeoji..” ujar seorang pria yang langsung memegangi pria tua itu seketika.

Pria tua itu sedikit merintih kesakitan dengan terus memegangi dadanya yang sudah tidak merasa sesak itu.

“Harabeoji. Minumlah.” Pria yang sedari tadi mendampinginya itu menyodorkan segelas air putih dan beberapa tablet obat.

“Gomawo Jungsoo-ah.” Ujar pria tua itu. Kini ia sudah dapat mengatur nafasnya yang sempat tersengal itu.

“Harabeoji. Saya minta maaf karena tidak memberitahukan anda tentang kepulangan Yoon Hee agashi. Seharusnya saya bilang terlebih dahulu.” Sesal pria yang dipanggil Jungsoo itu dengan menunduk.

“Gwenchana Jungsoo. Aku seharusnya tahu bahwa ayahnya akan menjemputnya. Aku Cuma lupa.. maklum. Aku sudah tua.” Jawab pria tua itu dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.

“Tapi.. kalau boleh saya tahu.. mengapa anda sampai berteriak begitu.. harabeoji?”

“…” sunyi. Raut wajah pria tua itu berubah.

“Apa.. ini ada hubungannya dengan kalung yang ditemukan Yoon Hee agashi tadi pagi?” tambahnya.

Pria tua itu tersenyum. Ia memegang bahu butler kepercayaannya itu.

“Kalung itu.. aku melihatnya di buku itu.” Jawabnya singkat.

Mata Jungsoo terbelalak. Ia adalah salah satu orang yang juga percaya akan legenda pohon kehidupan itu. Dan ia juga tahu maksud ‘buku itu’. Buku yang merupakan satu-satunya kitab penjelas legenda itu.

“Lalu.. apa artinya? Apakah Yoon Hee agashi juga..”

“Aku tidak tahu. Jungsoo-ah.” Harabeoji memotong perkataan Jungsoo yang dinilainya belum tentu benar.

“Menurut buku itu. Kalung itu akan berpendar jika sudah menemukan tuannya. Dan jika salah satu pemegang kekuatan kesatria itu ada di dekatnya. Dan.. aku belum melihatnya berpendar.” Tambah pria tua itu.

~~~~~~~

“Pagi!” pekik Yoon Hee sambil berlari menuruni tangga rumahnya itu.

“Ya, Yoon Hee-ah. Jangan berlari!” jawab appanya mengingatkan.

Yoon Hee hanya meringis lalu duduk di salah satu kursi di ruang makan. Di depannya telah terhidang ommelette, daging panggang dan segelas susu yang pastinya adalah menu sarapan favorit Yoon Hee. Dan siapa lagi yang bisa membuatnya jika bukan ayahnya.

Yoon Hee mengedarkan pandangannya mencari-cari kakak dan adiknya yang masih belum muncul itu.

“Appa, Sehun mana?”

“Ah, dia di belakang. Tuh, cari-cari sepatunya yang hilang satu.” Tunjuk appa Yoon Hee ke arah rak sepatu yang terletak di belakang teras.

“Ya! Sehun-ah? Sedang apa kau?” teriak Yoon Hee yang ditujukan pada dongsaengnya itu. Sedangkan Sehun hanya meringis sambil mendengus kesal.

“Ya! Noona, kau tidak tahu sepatu olahragaku?” tanya Sehun.

Yoon Hee menggeleng. “Mungkin ada di kamar Kris oppa. Sepatumu kan hampir sama dengan sepatunya..” jawaba Yoon Hee seadanya sambil melahap ommelettenya.

“Ya, sepatuku hilangnya cuman sebelah. Masa iya Kris hyung mengambil sepatu cuman sebelah.” Jawab Sehun dengan nada sedikit kesal karena tak kunjung menemukan sepatunya.

Yoon Hee mengangkat bahunya. “Molla! Appa, aku berangkat ya..” pamitnya pada appanya itu seraya bangkit dan mencium pipi appanya.

“Ya, sarapanmu tidak kau habiskan?” tanya appanya. Sedangkan Yoon Hee sudah berlari keluar rumah.

“Aish! Dasar!” gumam appanya geram.

“Appa, kau yakin tak tahu sepatuku?” tanya Sehun lagi dengan ekspresi kesal plus sedih dan hampir saja menangis.

~~~~~~

Aku terkikik pelan jika mengingat ekspresi Sehun tadi pagi. Sungguh menggelikan. Bayangkan saja, namja seperti dia yang sok cool ternyata hampir menangis saat sepatunya hilang sebelah. Haha! Rasakan itu. Siapa suruh menyembunyikan sepatuku minggu lalu. Sekarang giliranku balas dendam!

Perjalanan menuju kampusku tidaklah lama. Hanya menunggu bisnya saja yang menyebalkan setengah mati. Hampir setengah jam aku duduk di halte ini. mana ada kelas pagi juga.

“Yoon Hee!” terdengar teriakan seorang yeoja yang menyambutku begitu aku sampai di kampus.

Ya, suara itu aku sangat mengenalnya. Dengan geram aku menoleh ke arah sumber suara.

“Lee Yoon Hee-ah!” yap, gadis itu menabrakku. Untung saja kami tidak jatuh.

“Waeyo?” tanyaku setengah kesal karena tabrakannya tadi.

“Aku senang!!” ujarnya berseri.

“Ya! Seo Joo Hyun-ah. Setiap pagi, ani. Setiap hari. Kau selalu datang dengan berteriak kepadaku lalu bilang kau sedang senang. Apakah hidupmu sesenang itu ya?” ujarku memborbardir sahabatku itu dengan kalimatku.

Bukannya kesal, Seohyun hanya tertawa. “Hahah.. kau itu. Hidupmu saja yang tak pernah senang.” Ejeknya balik.

“Ish!” Aku hampir saja menjitak gadis yang ada di depanku ini kalau saja aku tidak ingat dia sahabatku.

“Yoon Hee-ah. Kau tahu tidak. Apa yang aku lakukan saat liburan?” tanyanya dengan berseri. Aku melanjutkan perjalananku menuju gedung kampus.

“Mana aku tahu. Memangnya aku peramal apa?” jawabku seadanya.

Seohyun mencibir. “Tahu tidak. Kyuhyun sunbaenim mengajakku kencan lho..” ujarnya dengan semangat.

“Jinjja? Ah, chukkae. Akhirnya Kyuhyun sunbae meresponmu juga. Tapi, apa tidak aneh jika langsung kencan?” tanyaku tiba-tiba.

Seohyun menggeleng. “Ani, dia romantis sekali. Aku diajak ke lotte world. Lalu ke sungai han… bla bla bla..”

Aku tak memperdulikan perkataan Seohyun. Karena tiba-tiba aku melihat seekor anjing kecil di tengah jalan.Sekarang, perhatianku tertuju pada seekor anjing kecil yang duduk di tengah jalan itu. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Memastikan jika ada pemiliknya. Namun nihil, tidak ada orang yang mencarinya.

“Ya, Yoon Hee-ah! Kau dengar tidak sih?” ujar Seohyun mengagetkanku.

“Ah.. mian.. aku heran sama anjing itu. Anjing siapa ya?” tanyaku.

“Eo, anjing?” Seohyun menggeleng.

Aku memutuskan untuk membawa anjing itu ke pinggir saja. Meskipun ini jalanan kampus. Tapi kendaraan di sini berbahaya.

Namun, sesaat ketika aku menghampiri anjing itu, hak sepatuku patah.

“Aish! Patah deh.” Gumamku geram lalu berjongkok membetulkan sepatuku.

~~~~~

Yoon Hee berjongkok membetulkan hak sepatunya yang lepas. Dari arah kanan, ada sebuah sepedah motor melaju dengan kecepatan tinggi menuju Yoon Hee.

“Yoon Hee awas! Ada motor!” pekik Seohyun.

Yoon Hee menoleh ke arah sumber suara. Lalu menoleh ke arah datangnya motor itu. Yoon Hee tak bisa berbuat apa-apa. Terlambat jika ia bergerak sekarang.

Yoon Hee hanya pasrah sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

CKIITT!!!

SRAK!!

To Be Continue

Fuih.. alhamdulillah selesai! Gimana part satunya? Kepanjangankah? Kependekankah? Gak serukah? Author masih baru nih buat FF macam gini (Fantasy) jadinya masih super amatir. Oke, lanjut! Komen dong. Author minta saran.. ^^

Iklan

20 pemikiran pada “The Legend of The Knights (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s