I Refuse to Lose You! (Chapter 4)

I Refuse to Lose You! (Chapter 4)

Author : @kim_mus2

Note : Sequel of HMH: Luhan Version

Main Casts: Xi Luhan & Lee Myung Hee

Other Casts:

  • Lee Taemin (SHINee)
  • Oh Sehun (belum terlalu eksis di chapter ini)
  • Kim Myungsoo (L Infinite)
  • Kamiki Ryunosuke
  • Shida Mirai (gak eksis di chapter ini)
  • Etc.

Length: Multi Chapter

Genre: Romance, Comedy, School Life

Rating: PG-15

Sebelumnya di IRTLY (kepanjangan deh -_-“):

Seperti biasanya, hari itu Myunghee mendapat beberapa kesialan, ralat: ketidakberuntungan^^.

Setelah beranjak dari tempat duduknya selesai makan siang di kantin, Myunghee berpapasan dengan Shida yang berakhir dengan wajahnya yang terguyur jus jeruk.

Sore harinya, saat hendak pulang dari kampus, Myunghee pingsan karena terbentur bola yang ditendang oleh Ryu saat bermain sepak bola bersama Luhan.

Tapi sayangnya, setiap kali Luhan akan menolong Myunghee, Myungsoo (tunangan Myunghee) selalu datang dan menolongnya lebih dulu.

Oh iya, ketidak beruntungan Myunghee tidak sampai disitu saja. Malam harinya setelah usai mengerjakan tugasnya di klub jurnalis kampus, Myunghee menunggu bis di halte dekat kampusnya sendirian sampai akhirnya datang 3 orang preman yang hendak menggodanya. Untunglah Luhan datang dengan motor Vespa antic pinjamannya.

Luhan dan Myunghee mulai bersandiwara untuk mengecoh para preman. Tapi, acting Myunghee yang terlalu menjiwai perannya sebagai istri yang kecewa pada suaminya, malah membawa malapetaka. Luhan terpental ke dekat para preman itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Cekidot yuu… 😀

=♡♡♡=

Myunghee’s Side

“Lepaskan aku!” Pekikku sambil mendorong kuat tubuh Luhan oppa.

Aish! Aku salah arah, Luhan oppa malah mengenai preman – preman itu. Pabo! Pabo! Pabo! Ya Tuhan… tolong selamatkan Luhan oppa… Jebaal…. Kenapa aku selalu membuat masalah sih? Niatku sebenarnya kan ingin membantu Luhan oppa. Acting saja aku gagal begini.

“Hey nona!” Bentak salah seorang preman. Aku terlalu takut dan memilih untuk membalikan badanku. Aku tak tega kalau harus melihat Luhan oppa disakiti orang-orang itu.

“Hey nyonya kecil!” Bentakannya semakin keras dan sebuah tangan sudah mencengkram bahu kananku dengan sangat kuat. Hyaaa! Aku takut sekali! Eotteokhae? Luhan oppa dimana? Kenapa dia tidak menolongku? Jangan-jangan Luhan oppa sudah dihabisi mereka. Andwaeyo!

Pria yang ada di belakangku itu kini berhasil memutarkan badanku untuk berhadapan dengannya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Orang yang ada di hadapanku ini sepertinya sangat marah padaku. Terserahlah apa yang akan terjadi padaku nanti, aku sudah pasrah. Yang penting, sekarang aku sedikit lega karena ternyata Luhan oppa masih baik-baik saja. Aduh… tapi aku benar-benar takut… Eomma!

“Hey Nona! Jangan menangis!” preman ini membentakku terus. Aku capek… capek hati… sumpah….

“Kenapa kau membentakku terus tuan? Aku salah apa padamu huh?” Aku berteriak sekuat tenaga pada namja berambut gondrong itu. Seluruh tubuhku bergetar hebat, aku sendiri tak percaya sudah berkata sekeras itu. Aku kesal! Tapi… aku takut… huhuhu….

“Kesalahanmu banyak nona! Kau tidak sadar huh? Kau meninggalkan bayimu, tidak memberinya ASI, membentak suamimu, dan barusan kau mendorong suamimu! Kau keterlaluan. Hatiku sakit melihat kelakuan seorang istri sepertimu nona!”

Krik… Krik… Krik… Krik…

Author’s Side

Suara jangkrik mendominasi keheningan malam itu. Tak ada yang berniat menanggapi ungkapan hati sang preman berhati hello kitty.

“Fyuuhhh… lelah sekali. Sepertinya aku memang terlalu banyak berteriak.”

“Nona, sekarang cepat kau minta maaf pada suamimu. Ya! Ppalli!” lanjutnya sambil menarik tangan Myunghee untuk berjalan ke arah Luhan. Dengan sedikit terbata-bata, mungkin karena sedikit shock, bingung dan takjub, Myunghee pun meminta maaf pada Luhan sambil mencium tangan kanan suami pura-puranya itu.

“Luhan oppa… jeongmal mianhae… “

“Gwaenchanayo chagiya… saranghae…” Luhan memberikan tatapan yang lembut pada Myunghee. Entah itu hanya acting semata, ataukah karena memang hatinya terdorong untuk melakukan itu. Hanya Tuhan dan Luhanlah yang tahu.

“Nah… begitu kan lebih baik. Cepat pulang sana! Bayi kalian pasti sangat kelaparan.” Preman gondrong itu kembali bersuara.

“Hey nona! Sebaiknya kau makan lebih banyak. Badanmu kurus sekali, dadamu juga terlalu rata. Kasihan anakmu,” salah satu preman gundul yang sejak tadi tak bersuara kini memberikan nasihatnya.

“N- ne… “ jawab Myunghee sambil tersenyum kaku, berusaha menahan tawa.

“Kau juga, sebagai seorang laki-laki, kau harus bekerja dengan giat. Kuliahmu memang penting, tapi ingat kau sudah menjadi kepala keluarga. Tanggung jawabmu bukan hanya dirimu sendiri, tapi juga istri dan anakmu. Camkan itu!“ Kini giliran satu preman gundul lagi yang mengucapkan ceramah singkatnya.

Luhan hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman yang langsung membius ketiga namja garang yang ada di hadapannya itu.

“Kawaii…”  (cantik/cute), ujar ketiga preman itu bersamaan.

“Kalau begitu kami pulang dulu ya… tuan-tuan….” Luhan kembali menyunggingkan senyuman malaikatnya dan kemudian berjalan bersama Myunghee ke tempat si vespa antic diparkirkan.

Ketiga preman itu terpaku melihat dua sejoli yang berlalu di hadapannya. Seolah mereka sedang melihat sepasang malaikat yang berjalan sambil memancarkan sinar kebahagiaan di hati mereka. (Author lebay kkk :P)

Tanpa banyak pikiran lagi, Luhan langsung menaiki vespa pink yang tadi dibawanya dan mempersilahkan Myunghee untuk duduk di jok belakang. Karena Myunghee menggunakan rok, terpaksa dia harus duduk menyamping di jok yang sempit itu dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Luhan semata demi keselamatannya.

“Apa kau sudah siap Myunghee?”

“En… ne…” jawab Myunghee sambil mengatur detak jantungnya yang dag dig dug tak karuan, karena ini pertama kalinya ia dibonceng oleh seorang namja selain oppanya. Apalagi, yang akan membawanya itu adalah Luhan, namja yang pernah sangat ia cintai. Bahkan mungkin sampai saat ini.

“Baiklah… kajja!”

~Bruumm… beretek…~

~Bruumm… beretek…~

“Aduh, kenapa tak bisa dinyalakan ya? perasaan tadi baik-baik saja.”

“Kenapa oppa?” tanya Myunghee dari balik punggung Luhan.

“Emhh… entahlah, mesinnya agak aneh. Biar aku coba lagi ya…”

~Bruumm… beretek… ~

“Kok, masih begini saja ya?” gerutu Luhan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ada apa dengan motor kalian?” ketiga preman tadi menghampiri Luhan dan Myunghee.

“Oppadeul… tolong kami, motornya tidak mau jalan nih…” pinta Myunghee tiba-tiba sambil memasang wajah manjanya. Entah sejak kapan yeoja ini jadi jago acting, ketiga preman itu pun seketika menuruti permintaan Myunghee.  Setelah beberapa kilometer mendorong, akhirnya si motor antik yang dinaiki sepasang suami istri bohongan itu dapat menyala kembali. Luhan dan Myunghee pun melambai pada ketiga preman yang membantunya dan kemudian pergi dengan hati bahagia bersama si pinky vespa.

=♡♡=

Sesampainya di depan rumah Myunghee, seorang namja yang sedang mondar – mandir tak tenang di depan pintu rumah itu langsung berlari menghampiri para pengendara si vespa pink.

“Yaa! Kau kemana saja Myunghee?!” Saking khawatirnya, Taemin langsung mengomeli adik semata wayangnya itu, bahkan sebelum gadis itu turun dari motor.

“Tenanglah min, dia baik-baik saja. Tadi ada sedikit masalah di jalan.”

“Ah, Luhan… jeongmal gomawoo sudah menemukan gadis ceroboh pembuat masalah ini.”

“OPPA!” pekik Myunghee geram.

“Hei… hei… kalian jangan bertengkar saja. Cepat masuk, ini sudah malam. Aku pulang dulu, Annyeong….”

~Bruumm… beretek…~

“Oppa, kau yakin mau pulang sekarang?” tanya Myunghee pada Luhan dengan wajah tanpa ekspresi.

“Haha, ne…”

~Bruumm… beretek…~

“Pfftt… sudahlah oppa, ayo kita masuk ke rumah saja.” Ajak Myunghee sambil menahan tawa.

“Ne… sebaiknya kau menginap di rumah kami saja han, ini sudah larut malam. Otte?” tawar Taemin.

Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya Luhan pun mengikuti ajakan kedua kakak beradik itu.

=♡♡=

Di ruang tamu

Kini Luhan sudah berada di ruang keluarga rumah minimalis milik Taemin dan Myunghee. Suasana di ruangan yang didominasi warna cream ini terasa sangat hangat. Mungkin karena orang-orang itu sudah terlalu lama berada di luar rumah.

Karena merasa sangat lelah, Myunghee langsung menjatuhkan dirinya pada sofa empuk di samping kiri meja TV, dekat alat penghangat ruangan. Awalnya, Myunghee hanya ingin melepas lelah, tapi setelah bantal berwarna orange itu menempel di kepalanya, jiwa raga Myunghee pun tanpa sadar sudah berkelana ke dunia mimpi.

Tanpa menyadari keadaan Myunghee yang sudah tertidur pulas, Luhan dan Taemin terus mengobrol  dengan  santai sambil menikmati susu pisang panas yang selalu Taemin buat setiap malam, sebelum ia tidur.

“Sekarang elo kuliah di departemen apa han?”

Science and Technology Studies, konsentrasinya di Creative Informatics, gue suka banget hal yang berbau IT, apalagi soal game dan robotic. Elo sendiri min?” (Ini jurusannya beneran ada di Tokyo University ya readers…)

Finance. Sebenernya gue males banget ngambil jurusan ini, abis banyak ngitungnya. Tapi ya, apa mau dikata, orang tua gue pengen gue nerusin perusahaannya. Si Myunghee gak bisa diandelin, dia sukanya dunia jurnalis sih.”

“Ckckck Elo anak berbakti juga ya rupanya, salut deh. Oh ya elo kan jago matematika, dulu aja ngalahin nilai gue, kenapa males itung-itungan?”

“Yaelah, masih inget aja soal itu. Hahaha, masih takut ya kesaingin sama gue? Lo udah kalah telak sama gue han! Myunghee seringan dipeluk sama gue daripada sama elo hahaha.”

“Ehem!” Luhan langsung berdehem dan memalingkan wajahnya dari Taemin.

“Sorry! Sorry! Gue gak maksud, sumpah.”

“Santai aja min!” Luhan hanya bisa tersenyum untuk menyembunyikan perasaannya. Sementara Taemin sibuk merutuki kesalahannya.

~ngik… hmm… ngik… hmm… ngik… ~

Seketika suasana di ruangan itu menjadi hening dan hanya suara aneh itulah yang terdengar sangat nyaring. Akibat suara itu, kecanggungan Taemin dan Luhan akhirnya mulai berkurang. Keduanya saling bertatapan penuh arti. Kedua pipi namja berperawakan agak kurus itu mulai mengembang dan bergetar tak karuan, sampai akhirnya….

“Bwuahahahahahahaha… Myunghee… dia… hahahahaha” Tawa keduanya meledak mendengar bunyi khas yang dikeluarkan Myunghee saat ini.

“Hahaha… aduh… haha… udah min udah, kasian… Myunghee pasti kecapean. ”

“Hahahaha… Myunghee pabo! Malu-maluin aja, dari dulu kalo kecapean bikin suara aneh mulu. Kasian sih kasian han, tapi bunyinya itu loh, kayak cicak kejepit pintu hahahaha.”

“Udah… min, udah… stop ketawanya…”

“Gak bisa han, gak bisa… hahahahahaha… “

“Okey! Jawab dulu pertanyaan gue, elo pasti berhenti.”

“Iya, hahaha ayo coba, apa pertanyaannya? Ppalli!”

“Dimana pusat keuangan Amerika Serikat?”

“New York! Hahahahaha….”

Pertanyaannya tak boleh berhubungan dengan ekonomi pikir Luhan.

“What is the capital city of Canada?”

“Ot… tawa… hahahahahaha”

Baiklah, Taemin memang pintar. Pertanyaan untuk Taemin harus pertanyaan spesial, pikir Luhan lagi.

“Apa gambar boxer yang gue pake sekarang?”

“Gambar Sehun, hahahahaha…” Tawa Taemin malah makin menjadi akibat pertanyaan Luhan. Kali ini Luhan benar – benar keheranan darimana Taemin bisa tahu tentang motif boxernya, padahal kan itu barang pribadi yang jarang terlihat orang.

“Okey, pertanyaan pamungkas. Siapa nama pacarnya Lee Taemin?”

~Ting ~ Tong~

Gelak tawa Taemin seketika berhenti.

“Ya! Gue kan gak punya pacar! Nyindir lo ya?” sungut Taemin dengan raut wajah yang menyeramkan tapi tetap menggemaskan itu.

“Tapi ketawanya berhenti kan? Hehehe… ayo kita bawa Myunghee ke kamarnya. Disini dingin.”

“Bawa aja sendiri!” Jawab Taemin ketus.

“Heh? Yakin? Gue mantan pacarnya loh… kalau gue ngelakukan hal – hal aneh sama Myunghee gimana?”

“Bilang aja gak kuat! Sini, gue aja yang angkat!”

Taemin menahan nafasnya dalam – dalam sambil mengerahkan semua kekuatan dari tubuh kering kerontangnya itu, untuk menggendong sang adik. Tapi, beberapa detik kemudian…

“Bantuin gue han!”

“Hahahaha… dasar!”

=♡♡=

Luhan’s Side

Ini kamar Myunghee. Suasana kamarnya yang ini tak jauh berbeda dengan kamarnya di Seoul. Dinding dan dekorasi kamar pun masih tetap didominasi warna hijau muda, warna kesukaannya. Tapi, semakin lama kupandangi setiap sudut ruangan ini, akhirnya aku sadar, ada sesuatu yang hilang. Tak ada lagi foto – fotoku bersamanya dan mungkin memang sudah tak ada lagi cinta yang tersisa di hatinya, untukku.

“Han… elo tidur di kamar gue aja ya, kamar tamunya gue jadiin gudang sementara soalnya hehe… gak apa-apa kan?”

“Iya, gak apa-apa ko. Sebagai tamu yang baik, gue ikut apa kata tuan rumah aja deh.”

“Bagus… bagus… bagus… kajja!” ajak Taemin sambil tersenyum dan berjalan mendahuluiku menuju pintu keluar kamar ini. Kamar gadis yang pernah dan masih aku cintai hingga detik ini. Selamat malam Myunghee… tidurlah yang nyenyak.

=♡♡=

Akhirnya aku bisa istirahat juga sekarang. Meskipun malam ini aku tidur di kamar orang lain, rasanya seperti di kamar sendiri. Taemin ternyata orangnya sangat rapih, malah lebih rapih dariku. Mungkin dia sudah terbiasa mengurus rumah. Ah iya, sekarang aku tidur bersama Taemin, aku jadi kangen Sehun. Anak itu sudah tidur belum ya? Aku akan menelponnya besok.

“Han, udah tidur belum?”

“Mmh… belum, waeyo?”

“Gue pengen ngomong sesuatu sama lo. Tapi… gue gak enak bilangnya.”

“Mwo? Katakan saja.”

“Baiklah. Pertama, gue mau bilang makasih karena elo udah bantuin gue buat nyariin Myunghee dan nganter dia sampai rumah dengan selamat.”

Taemin diam sejenak. Kenapa ya? Apa dia mau mengatakan hal yang penting?

“Satu lagi han, gue mau minta maaf atas nama Myunghee. Please maafin kebodohan adik gue itu. Gue tahu dia bener – bener pabo udah ninggalin lo buat tunangan sama si Myungsoo, tapi please… maafin dia ya…. Jujur, gue ngerasa gak enak banget sama lo, han!”

“Oh… soal itu… gak apa-apa min. Gue ikhlas bantuin lo dan gue ikhlas Myunghee sama namja itu. Keputusan Myunghee udah bener. Dia gak bakalan bisa bahagia kalo sama gue, soalnya gue orangnya ngebosenin min. Gue rasa, Myungsoo lebih tepat buat Myunghee. Dia bisa bikin Myunghee bahagia tiap hari. Gue ikut seneng liatnya.” Jawabku panjang lebar sambil tetap berusaha menahan rasa sakit di dada ini.

“Han… boleh gue jujur lagi sama lo?”

“Boleh banget min, ada apa lagi memangnya?” tanyaku, berusaha sesantai mungkin.

“Gue Cuma bisa mercayain adik gue sama lo. Bukan orang lain.”

“Min, apa gue juga boleh jujur sama lo?”

Aku langsung bangkit dan duduk sambil memeluk kedua lututku. Aku hanya mencoba untuk menguatkan diriku untuk mengatakan hal ini.

“Bilang aja han!” Taemin ikut duduk di sampingku dan menepuk bahu kiriku pelan.

“Gue masih cinta sama Myunghee…”

“Han…” lirih Taemin. Sepertinya dia sangat khawatir dengan perasaanku. Aku tak boleh membiarkan ini berlarut-larut. Harusnya aku menyimpan semua ini sendiri saja.

“Tenang aja min, gue bakal baik-baik aja ko. Mian, gue malah bikin lo ikutan galau. Lupain aja ya kata-kata gue tadi. Ok!” Aku langsung menunjukkan wajah ceriaku di hadapan Taemin. Mudah-mudahan saja ini berhasil meyakinkannya.

“Maafin gue han, gue gak bisa bantu apa-apa.”

“Gwaenchana… apapun yang terjadi, gue harap elo bisa tetep jadi sahabat gue ya min!”

“Pasti!”

=♡♡=

“Myunghee… sarapan dulu!” teriak Taemin dari ruang makan.

Taemin benar – benar rajin. Tadi pagi saat aku bangun, namja itu sudah tak ada. Dia sudah sibuk di dapur sejak pagi-pagi buta. Jeongmal daebakk!

“Sebentar oppa, aku sedang menelpon Myungsoo!”

“Buruan! Bukannya kamu ada kuliah pagi, huh?”

“Oh iya, aku ke meja makan sekarang oppa!”

Hari ini sangat berbeda. Aku bisa melihat Myunghee sepagi ini. Aku senang.

“Oppa, nanti siang aku mau ke apartemen Myungsoo ya, sepertinya dia sedang sakit. Oppa siapkan makanan ya… Oppa kan tak ada kuliah hari ini. Ya… ya… ya…” Rengek gadis itu pada Taemin. Rupanya tunangannya sedang sakit. Pantas saja dia khawatir seperti itu. Ah… apa yang kau pikirkan Luhan? Ini tak ada hubungannya denganmu.

“Kalau sempat ya… soalnya oppa juga banyak kegiatan. Habis ini, oppa mau nganter Luhan ke bengkel, terus ke apartemennya. Kalau boleh kasih saran sih, mendingan kamu beli makanan di luar aja.”

“Ah… oppa… baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya…”

“Ya! Kenapa makanannya tak dihabiskan, Myunghee?” bentak Taemin, tak rela hasil jerih payahnya dibiarkan begitu saja.

“Aku sudah telat oppa. Mianhae… makan malam nanti pasti aku habiskan makanannya.”

“Aish anak itu, benar-benar ya!” gerutu Taemin. Rupanya begini keseharian mereka berdua. Mereka punya dunia sendiri, Myunghee bahkan tak sadar kalau aku ada disini. Memangnya apa yang kuharapkan?

=♡♡=

Author’s Side

Saat ini Taemin dan Luhan sedang berada di sebuah bengkel dekat rumah Taemin. Mereka berdua hendak memperbaiki Vespa antik milik pak Yamada. Di tempat itu, Luhan melihat seseorang yang dikenalnya. Orang itu mengenakan baju montir berwarna biru tua dan kini ia menghampiri Luhan dan Taemin sambil tersenyum ramah.

“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya namja itu, lagi-lagi sambil tersenyum ramah.

“Ryu?” ucap Luhan dengan ekspresi wajah tak percaya.

“Luhan?” namja yang dipanggil Ryu itu sama terkejutnya dengan Luhan.

“Kalian saling kenal?” Taemin menyambung pembicaraan Luhan dan Ryu yang tiba-tiba terputus.

“Ne… Taemin-ah, dia sahabatku Ryu. Dia orang Tokyo asli. Kami juga satu departemen.”

“Oh begitu… senang bertemu denganmu Ryu…” ujar Taemin sambil membungkuk dan kemudian dibalas dengan bungkukan yang sama oleh Ryu.

“Bangapseumnida… Naneun Kamiki Ryunosuke imnida, kau bisa memanggilku Ryu.” Taemin tercengang dengan apa yang dikatakan oleh orang Jepang di hadapannya ini. Dia bisa berbahasa Korea.

“Bangapseumnida…” Jawab Taemin, masih dengan ekspresi takjubnya.

“Hahaha… Taemin-ah, jangan kaget seperti itu. Bahasa Korea yang dia kuasai Cuma itu, aku baru mengajarkannya sedikit.” Jawaban Luhan nampaknya memberi sedikit pencerahan pada Taemin. Hal itu terbukti dengan mulutnya yang tidak lagi menganga.

“Ryu… apa yang sedang kau lakukan? Apa kau kerja disini?”

“Iya han…  sudahlah, nanti akan kuceritakan semuanya. Apa kau mau memperbaiki motor itu?”

“Oh… iya! Tolong ya…”

=♡♡=

Setelah motor Vespa itu selesai diperbaiki, Luhan berterima kasih pada Taemin dan Ryu dan kemudian pulang ke apartemennya sendirian. Saat sampai di depan apartemennya, Luhan tak lupa mengembalikan motor yang dipinjamnya itu kepada sang pemilik. Sudah menjadi resiko bagi Luhan, jika bertemu dengan pak Yamada, setidaknya dia harus mendengar ocehan lelaki paruh baya itu selama 25 menit. Tapi kali ini, waktu 5 menitnya diberikan pada Luhan untuk menceritakan pengalaman konyolnya tadi malam bersama sang Vespa.

Segera setelah menyelesaikan ceritanya pada pak Yamada, Luhan langsung beranjak menuju apartemennya di lantai delapan dengan menggunakan lift. Saat Luhan melangkahkan kakinya utuk keluar dari lift, sebuah pemandangan yang ia saksikan berhasil membuatnya membeku di tempat.

Seorang namja dan yeoja yang ia kenal sedang berpelukan dengan begitu erat. Sang yeoja menangis begitu dalam, sementara sang namja yang terlihat pucat hanya mampu memejamkan matanya sambil mengusap lembut rambut yeoja yang ada di dalam dekapannya. Yeoja itu perlahan melepaskan pelukannya dan berlari menuju lift yang tadi Luhan naiki sambil terus menunduk untuk menahan tangisannya.

“Naeun-ah…  Kajjima! Kajjima!”

~Bruukkk~

“Myungsoo-ya! Sadarlah! Myungsoo-ya!”

Bersambung…

Cuap-cuap author:

Reader-deul… mian… mian… chapter 4-nya dikit kah? Author lagi gak bisa bikin panjang-panjang nih. Chapter selanjutnya juga kayanya gak bakal terlalu panjang hehe ^^ tapi mudah-mudahan ceritanya masih ngena ya… udah hampir mau ke klimaks  ko, meskipun klimaksnya gak bisa disebut klimaks juga sih kkk 😀

Mudah-mudahan chapter ini masih bisa menghibur ya… dan mudah-mudahan masih mau nungguin chapter selanjutnya. Diusahain buat next chapter publishnya aga cepet, Aamiin deh ya…

Oke deh, sekarang waktunya komen-komenan,  Don’t be silent readers ya Guys! 😀

Iklan

6 pemikiran pada “I Refuse to Lose You! (Chapter 4)

    • kyaaa makasih udah mampir dan jd the only reader disini
      makasih yang sebanyak2nya pokonya dari author
      BOW
      Oya chingu, karena author khawatir ga ada yg baca lg disini dan author lebih pengen nyimpen ff ini jd koleksi pribadi, FF ini udah author stop publishnya di wp ini
      so, kalo mau lanjutannya silahkan berkunjung ke:

      dinimtq.wordpress.com

      kalo mau berkunjung, jangan lupa komen ya 😀 hehe ^^

  1. wawawawa ga di publish lagi kenapa thor kenapa…….
    padahal aku penasaran banget thor sama ceritanya…
    oh iya sebelumnya maaf baru baca soalnya aku kira belum di publish
    jadi klo mau baca kelanjutannya baca di wp nya author ya ok deh ok….
    nanti aku ke wpnya author

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s