All Cries on Midnight

Tittle                :  All Cries on Midnight

Cast                 :  Chen (Exo-M) and yeoja

Genre              :  Marriage, Angst

Length             :  OneShot

PG                   :  All Age

Author             :  Yen Yen Mariti

“If I lose you, I’d have lost my best friend, my soul mate, my smile, my laugh and my everything”

.

.

.

Harapanku jika aku terbangun dari lelapku, aku hanya ingin melihat wajahmu. Walau tidak menciummu ataupun memelukmu, aku akan baik-baik saja hanya dengan melihat wajahmu.

“Jong-dae—” suara serak milikku dapat kudengar dengan jelas ketika mataku melihat sosoknya berada tepat di sampingku—mengisi kekosongan ranjang ini yang hampir tiga bulan kutiduri sendirian saja.

Dia-Kim Jong-dae-suamiku  tengah tidur dengan nafas yang teratur dan wajah yang tampak lelah. Jelas saja dia lelah, dia pasti sangat sibuk dengan kegiatan Exo-M di China yang menyebabkan dia tidak bisa pulang kerumah selama berbulan-bulan. Tapi mungkin saja ada alasan lain…..

.

.

.

“Tidakkah kau merindukanku?” pertanyaan yang sedari kemarin ingin sekali kulontarkan padanya akhirnya tersampaikan juga secara langsung. Jong-dae mengalihkan perhatiannya dari ponselnya kemudian menatapku datar.

“Tentu saja aku merindukanmu,” seulas senyum terukir indah di bibirnya.

“Oh…” kepalaku mengangguk-angguk tak jelas setelah mendengar jawabnya.

BOHONG ! hatiku mendengus kesal. Aku tahu Jong-dae berbohong. Dia tidak merindukanku sama sekali, percayalah. Meski tadi dia tersenyum, tapi aku tahu dengan sangat jelas itu bukanlah senyuman yang tulus. Dia bisa membohongi semua orang dengan senyum manisnya karena memang dia sering melakukannya di depan kamera, tapi tidak denganku.

Selama hampir tiga bulan tidak bertemu, dia ternyata tidak merindukanku. Semenjak dia pulang kemarin dia hanya sibuk dengan ponselnya, bukunya dan laptopnya.

Jong-dae-ku benar-benar berubah..

Usia pernikahan kami baru seumur jagung, satu tahun enam bulan. Kami bertemu di bangku kuliah dan jatuh cinta lalu memutuskan untuk menikah. Tidak banyak yang tahu mengenai pernikahan kami, hanya keluarga kami dan sahabat terdekat yang tahu. Ini demi Jong-dae. Demi karirnya sebagai seorang idola. Aku begitu sabar menghadapi pernikahan ini dengan tidak pernah menuntut apapun darinya. Aku baik-baik saja meski semua orang beranggapan bahwa Kim Jong-Dae atau yang lebih dikenal dengan Chen salah satu member Exo-M masih lajang. Aku tidak mempermasalahkan semua itu karena kutahu dia mencintaiku dan itu cukup bagiku.

Walau aku sering kesepian ketika dia kembali ke China, walau selalu merindukannya setiap malam aku tidak pernah mengatakannya padanya. Itu bisa mengganggunya, dan aku mengerti.

Aku cukup bahagia dengan pernikahan ini, tapi itu dulu. Sekarang semua terasa berbeda. Kim Jong-dae suamiku bertingkah laku seperti orang asing.

.

.

.

“Aku keluar sebentar, kau tidak perlu menungguku di ruang tengah lagi. Cepat tidur,” itu pesan Jong-dae sebelum dia menyambar kunci mobilnya dan sebelum aku sempat menyahut apapun.

Sudah seminggu dia pulang kerumah, tapi yang dilakukannya hanyalah bangun tidur-nonton tv-makan malam-dan pergi entah kemana—seperti malam ini dan malam-malam kemarin. Dan sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan keadaannya yang seperti ini.

Telepon rumahku berdering, membuatku bergerak keruang tengah dengan tergopoh-gopoh.

“Halo?”

“Eonnie sudah dengar beritanya?”

“Ne?”

“Jong-dae oppa dan gadis china itu….”

Tanpa harus menyalakan TV ataupun membuka tabloid aku sudah tahu apa kabar beritanya. ‘Chen Exo-M terlihat sedang berkencan dengan seorang aktris China…bla..bla….’ lebih baik jangan membacanya dan mendengarnya daripada aku harus sakit hati dan…menangis.

Sejujurnya pernikahan kami yang baru berumur satu tahun enam bulan ini sudah tidak sehat lagi. kenapa? Karena hati Jong-dae yang berubah, yang berani mendua atau bahkan menghilangkan namaku di sana.

Aku sudah mengetahuinya sejak sebulan yang lalu, ketika aku berada di China—mengunjungi suamiku. Aku melihatnya, dengan balutan kostum penyamaran yang sempurna, yang semua orang tidak dapat mengenalinya namun aku dapat mengenalinya, dia berkencan dengan seorang gadis cantik berdarah china.

Dan aku diam saja, berharap Jong-dae akan menghentikan semuanya dan kembali padaku seperti dulu lagi. Saat kami saling mencintai dan percaya satu sama lain, namun tidak kusangka ia masih mempertahankan hubungannya dengan gadis itu.

.

.

.

‘Kau bahkan tidak diakui sebagai istrinya. Tidak ada yang mengetahui pernikahan kalian. Di mata publik Chen tetaplah bagian dari Exo-M yang kini sedang menjalin dengan seorang gadis china…’

Astaga !

Peluh mengucur deras, membanjiri tubuhku dan tiba-tiba aku merasakan sebuah ketakutan yang amat sangat. Aku tidak tahu suara siapa yang mampu mengganggu tidur lelapku. Tapi semua yang diucapkannya benar….

Deruan mobil di luar sana membuatku tersadar dari semua lamunanku. Kuputuskan untuk membukakan pintu untuknya. Dia masuk ke rumah dengan mata yang tampak sangat berat. Aku mengikuti langkahnya hingga masuk ke kamar kami. Dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan aku duduk di sampingnya.

“Jong-dae ah…” dia memejamkan matanya, mungkin tidur jadi aku hanya menggumamkan pelan namanya.

“Mmm..?”

“Kau belum tidur?”

“Belum. Ada apa?” tanyanya tanpa membuka mata. aku mengambil nafas beberapa saat.

“Bisakah kau berhenti?” aku betanya dengan sangat hati-hati dan suara yang sangat pelan. dia membuka mata dan memiringkan tubuhnya ke arahku.

“Apa maksudmu?”

“Kau dan gadis itu. Bisakah kau putus darinya, mengakhiri segalanya dan kembali seperti dulu yang hanya melihat kearahku saja?” mata kami bertemu, aku menatapnya dengan sabar. Dia menghembuskan nafas pelan dan aku dapat mencium aroma alkohol dari mulutnya. Aku tidak tahu bahwa mungkin saja dia ini sedang mabuk.

“Aku lelah, bisakah kita bahas itu lain kali?” dia membalik tubuhnya hingga membelakangiku dan tidak mengatakan apapun lagi setelah itu.

Aku menyerah, aku juga tidak ingin mengucapkan apapun lagi malam ini. Kuraih selimut dan menutupi sebagian tubuhnya. Aku mematikan lampu sebelum merebahkan diri. Kami tidur saling membelakangi. Udara musim gugur malam ini cukup dingin dan itu sangat senada dengan suasana hatiku sekarang.

.

.

 .

Malam ini Jong-dae menghilang lagi tanpa pamit dan itu artinya aku sendirian dan kesepian lagi meski suamiku sudah pulang kerumah. Sejak kemarin malam, setelah aku mencoba bicara padanya sikapnya semakin dingin.

Drrt…drrt…

“Halo?”

“Ayahku memintamu untuk segera datang kerumah.” Itu suara Jong-dae yang dingin.

“Ada hal apa malam-malam seperti ini?”

“Kau akan tahu nanti, datanglah.” Sambungan terputus dan aku melangkah malas ke kamar untuk berganti baju.

Udara malam ini semakin dingin saja, membuatku harus merapatkan mantelku berkali-kali sebelum sampai kerumah mertuaku.

Angin musim gugur menerbangkan anak rambutku. Aku tiba di depan pintu rumah mertuaku dan segera menekan bel rumah. Aku juga menemukan mobil Jong-dae terparkir di depan, apa mungkin dia juga ada di sini?

“Ibu,” aku tersenyum pada ibu mertuaku yang membukakan pintu untukku.

“Ayo masuk, diluar pasti dingin sekali.” Ibu menuntunku masuk kedalam rumahnya yang hangat. Kami duduk di ruang keluarga hanya berdua.

“Sebenarnya ada apa ayah memintaku datang?” aku mengukir senyum, mencoba sesopan mungkin pada mertuaku ini. Beliau menggenggam tanganku erat, dan belum sempat ia menjawab pertanyaanku telingaku sudah terlebih dahulu mendengar suara berat ayah yang memenuhi rumah ini.

“Ibu, ayah…ada apa dengannya. Apa..Jong-dae juga ada di sini?” cepat-cepat aku bertanya saat mendengar suara meja yang dipukul dengan keras.

“Ayahmu sedang bicara pada Jong-dae. Maaf, anakku pasti sangat menyakitimu, maafkan dia.” Tiba-tiba saja ibu mertuaku menangis dan genggaman tangannku semakin erat.

“Ibu..ada apa dengan ibu. Ada apa?”

“Kau pasti sangat menderita selama ini. Jong-dae mengkhianatimu, dia tega sekali berselingkuh di belakangmu.” Kugigit bibir bawahku, aku juga ingin menangis ketika melihat butiran air mata ibu mertuaku semakin banyak. Ternyata beliau begitu peduli padaku.

“Tidak apa-apa ibu, tidak apa-apa. Jangan menangis lagi, semuanya akan baik-baik saja.” Aku berbohong. Tidak ada yang berjalan dengan baik sekarang. Semuanya berantakan, Jong-dae yang menghianatiku dan aku yang tiba-tiba merasa semakin lelah dengan semua ini.

“Kau akan tetap bertahan kan, aku tidak ingin kalian bercerai. Aku sangat bersyukur memiliki menantu yang begitu sabar sepertimu.” Manik mata ibu yang begitu indah seakan menghipnotisku dan aku menganggukkan kepala berkali-kali seraya mengeratkan genggaman tangan kami.

Pintu terbuka, dan kulihat sosok Jong-dae berjalan mendekat. Mataku menyipit, mencoba memastikan apa yang kulihat sekarang. Segera kulepaskan genggaman tangan mertuaku kemudian menghampiri Jong-dae.

“Kenapa wajahmu seperti ini. Siapa yang memukulmu?” wajahnya memar, sepertinya dia baru saja dipukuli. “Jong-dae ah jawab aku ! kau kenapa ? kenapa kau terluka seperti ini. Siapa yang melakukannya hah?” dia diam seribu bahasa bahkan menatapku pun tidak, aku jadi berpikir bahwa aku sungguh sangat tidak berarti lagi dimatanya. Dia tidak memperdulikanku bahkan saat aku mengkhawatirkannya setengah mati.

Kemudian datang ayah mertuaku, aku jadi ingat dengan suara-suara yang tadi kudengar selama aku duduk dengan ibu. Mungkinkah ayah yang memukulinya ?

“Ayah apa ayah yang melakukannya pada Jong-dae, ayah memukulinya?” aku beralih pada ayah mertuaku, bertanya dengan nada khawatirku, dengan mataku yang berkaca-kaca dan dengan hatiku yang begitu pilu.

“Dia pantas mendapatkannya. Laki-laki tidak bertanggung jawab sepertinya pantas untuk dipukuli seperti itu.” jawaban ayah membuatku tercengang. Jadi benar ayah yang memukulinya tadi.

“Kenapa ayah melakukannya. Ayah tidak berhak melakukannya pada Jong-dae. Ayah tidak tahu masalah kami, ayah tidak bisa bersikap semau ayah. Kami bisa menyelesaikan semuanya dengan cara yang lebih baik !” aku kehilangan akal melihat laki-laki yang kusayangi terluka. Aku berteriak dengan marah pada ayah mertuaku sendiri.aku lupa akan sopan santun, aku lupa akan rasa maluku.

“Tapi dia pantas mendapatkannya.”

“Ayah tidak pantas untuk mencampuri urusan kami. Jadi kuharap ayah jangan mencampuri apapun lagi mengenai rumah tangga kami!” air mataku bercucuran seraya berhentinya suara tinggiku berteriak. Aku menarik tangan Jong-dae meninggalkan rumah mertuaku tanpa berpamitan lagi. Aku tidak ingin ayah menyakitinya lagi.

.

.

.

Aku sibuk menggeledah kamar demi mendapatkan kotak P3K yang lupa kutaruh dimana. Setelah beberapa menit mencari akhirnya kutemukan juga, aku segera menghampiri Jong-dae yang duduk di atas tempat tidur kami.

“Asshh…” dia meringis pelan saat kusentuh ujung bibirnya yang memar dan berdarah.

“Sakit ya? Maaf,” aku mencoba lebih hati-hati agar tidak menyakitinya lagi.

“Tidak. Sudah jangan obati aku. Aku tidak apa-apa.” Dia menjauhkan tanganku dari wajahnya tapi aku kembali mengobatinya lagi. “Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi. Aku tidak apa-apa !” dia membentakku, untuk pertama kalinya dan itu membuat hatiku begitu sakit.

Aku berhenti mengobati lukanya dan membereskan kotak P3K. dia meraih tanganku dengan tiba-tiba, “Maaf.” Aku terdiam mendengar satu kata itu dan mendadak mataku rasanya berair. “Aku terlalu banyak menyakitimu.” Lanjutnya lagi dan itu sukses membuatku menitikkan air mata.

“Tidak Jong-dae, kau tidak menyakitiku.”

“Aku menyakitimu terlalu banyak. Aku minta maaf, aku menyesal.” Dan dia juga menitikkan air mata sepertiku. Hatiku bergetar karena melihat air matanya untuk yang pertama kalinya.

“Jangan menangis, kumohon jangan menangis Jong-dae ah.” Jari-jariku menghapus air mata yang mengaliri wajahnya dengan sangat hati-hati meski tanganku bergetar karena menahan isakan. Aku memeluk tubuhnya erat, mencoba menenangkannya sekaligus menenangkan hatiku.

Aku merasa damai saat memeluknya. Entah sudah berapa lama kami tidak berpelukan seperti ini. Aku begitu merindukannya.

Jong-dae melepaskan pelukanku, ibu jarinya menghapus air mataku dan kami saling bertatapan. “Aku sudah memutuskan semuanya…” dia menggenggam tanganku erat “Kita akhiri saja semuanya.”

“Jong-dae ah.. apa maksudmu?”

“Ayo bercerai.”

Seluruh tubuhku bagai dihantam badai. Lemah tak berdaya dan air mataku kembali berjatuhan. “Tidak aku tidak bisa.”

“Kau harus bisa. Ini untuk kebaikanmu, kau tidak bahagia denganku. Kau tidak akan pernah menemukan kebahagiaan.”

“Tapi aku mencintaimu, Jong-dae ah kau juga mencintaiku kan. Kumohon jangan melakukan ini.” Aku menangis begitu kencang dan menggenggam tangannya begitu erat.

“Tapi aku tidak. Maaf, aku tidak bisa berbohong lagi. Tidak ada lagi cinta di pernikahan ini. Jadi mari berpisah.” Dengan perlahan Jong-dae menarik tangannya dari genggamanku dan turun dari tempat tidur meninggalkanku sendirian.

Aku tidak percaya ini. Hal yang tidak kuinginkan akhirnya terjadi. aku harus bagaimana ya tuhan ? aku ingin bertahan tapi bagiamana caranya, dia bahkan tidak lagi mencintaiku. Aku terus menangis sepanjang malam hingga mataku bengkak dan saat fajar datang aku keluar kamar dan menemukan Jong-dae tertidur di atas sofa dengan wajahnya yang tampak lelah.

Aku hanya duduk di lantai di dekat sofa tempat dia tidur. Memandangi wajahnya selama yang kubisa. Merekam dengan sebaik-baiknya wajah indahnya yang selalu kurindukan. Jemari tanganku mulai menelusuri wajahnya secara perlahan dan hati-hati. Seiring dengan itu air mataku mengalir perlahan dan paru-paruku mendadak sesak.

Aku mengingat dengan jelas bagaimana cara dia mengucapkan kata cerai padaku, bagaimana cara dia mengatakan bahwa dia tidak lagi mencintaiku. Dan itu semua membuatku berfikir banyak hingga aku tidak tidur semalaman.

“Enghh…” matanya mengerjap berkali-kali. Dengan cepat kutarik jemariku dari wajahnya. Dia segera mengubah posisinya menjadi duduk di atas sofa.

“Kenapa kau duduk di sini dan ada apa dengan wajahmu, matamu bengkak.” Dia menangkup wajahku, mengamatinya dengan bola mata indahnya. Aku hanya tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa, aku hanya tidak bisa tidur,” ujarku dan melepaskan tangannya dari wajahku. “Jong-dae ah..”

“Mmm…?” pandangan kami bertemu, aku sungguh senang sekali melihat matanya yang damai ini.

“Ayo kita lakukan apa yang kau inginkan. Ayo bercerai,” aku tulus mengatakannya. Aku sudah berlatih semalam, aku siap menghadapi semua ini.

“Kau…” matanya membulat tidak percaya.

“Aku sudah memikirkan semuanya semalam, kau benar ini untuk kebaikan kita masing-masing jadi ayo kita lakukan.” Aku tersenyum, menggenggam tangannya erat. Merasakan denyut nadinya yang damai.

“Maafkan aku,” ujarnya sebelum merengkuh tubuhku ke pelukannya. Aku terdiam tapi hanya untuk beberapa saat karena aku tidak bisa menahan air mataku. Aku menangis di dadanya, membasahi kemejanya dan dia membiarkanku menangis selama yang kumau. Setidaknya hanya ini yang dapat dia lakukan sebelum kami benar-benar berpisah.

.

.

.

“No matter what happens, no matter what stands between us, no matter what we’re going through, I always love you.”

Iklan

34 pemikiran pada “All Cries on Midnight

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s