Den (Chapter 7)

Den [ Chapter 7]

Title                 : Den

Author             : isanyeo

Main Cast        : Kim Hyosung [OC] ; Kim Jongin/ Kai  [EXO];

Support Cast    : Kim Jongdae/Chen [EXO]; Kim Joonmyun/Suho [ EXO ]  find it.

Genre              : Drama, Romance, Family.

Length             : Chaptered

Rating              : PG15

Fanfict             :

 

Chapter 7

~Author’s Point Of View~

                Mobil yang dikendarai Jongin sudah beberapa kali mendapat hujaman kata-kata kasar dari pengendara mobil lainnya. Pasalnya sudah beberapa kali mobil Jongin hampir menabrak mobil lainnya, mengendarai dengan tidak ada aturan. Dia hanya ingin pulang cepat, dia ingin sampai pulang ke rumah, dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Hyosung, adiknya.

                “Ah, sial!!” Jongin memukul setir mobilnya, lagi-lagi lampu merah membuatnya harus berhenti.

                Jongin melihat ke arah belakang melalui spion mobilnya, tidak ada tanda-tanda bahwa dia dikejar,tidak ada mobil yang dilihatnya tadi sewaktu pergi dari tempat parkir yang ditumpangi oleh Suho. Entah mengapa perasaannya semakin resah, tidak enak. Hanya bisa berharap kalau semua akan baik-baik saja.

                Lampu hijau menyala, langsung saja Jongin menancap gas dan menambah kecepatan laju mobilnya. Hyosung. Hyosung. Nama itu yang ada di pikirannya sekarang.

                “Ya! Hyosung-ah!” Jongin sedari tadi berteriak-teriak di rumahnya.

                Tidak ada sahutan. Nafasnya berderu. Degup jantung Jongin bertambah cepat bersama semakin lamanya dia tidak mendengar suara Hyosung yang biasanya menyahutnya. Jongin menaiki tangga dengan cepat, berharap dia akan segera melihat Hyosung seiring dia menaiki tangga. Namun nihil, Hyosung tidak ada di sana. Diperiksanya kamar Hyosung dan kamarnya, tidak ada pula dia di sana. Jongin semakin panik, anggapan-anggapan negatif akan apa yang terjadi pada Hyosung saat ini berkelibat di pikirannya.

                “Ya! Eodisoyo?” lirih Jongin.

                Jongin merasakan bahunya bergetar, nafasnya masih berderu, sesekali terdengar desahan yang keluar dari mulutnya karena ketakutan. Jongin merogoh sakunya, mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya. Dilihatnya beberapa pesan singkat diterimanya, dan itu dari Jongdae.

                Jongin membuka pesan singkat itu, matanya menatap tajam layar ponselnya, selang beberapa detik kemudian matanya terpejam dan sebelah tangannya menyentuh dadanya, kemudian terdengar helaan nafasnya lembut. Lega. Itulah yang ia rasakan. Pesan singkat dari Jongdae yang mengatakan bahwa adiknya sekarang bersamanya. Entah apa yang ia lakukan bersama Hyosung, yang terpenting adalah, Hyosung tidak berada pada Suho.

                “Kenapa tadi kau langsung pergi? Kau yang meminta bertemu kemudian kau pergi begitu saja?”Suara Suho di seberang sana terdengar santai di telinga Jongin.

                “Mianhaeyo. Aku hanya merasa aku belum siap menemuimu.” Alasan yang bodoh, pikir Jongin.

                “Em, apa karena kau mendengar pembicaraanku dan anak buahku, itu sebabnya kau langsung pergi?”Strike. Ucapannya benar.

                Jongin terdiam. Memang itu yang terjadi, dia tidak memiliki alasan lain untuk menyanggah apa yang dilontarkan Suho. Niatnya untuk mengakhiri ini dan berbicara baik-baik pada Suho gagal begitu saja setelah diddengarnya ucapan Suho tadi.

               “Bisakah kita mengakhiri ini? Untuk apa kau menggambil dongsaengku? Kau bisa memilih yeoja lain untuk kau miliki, dan itu tidak harus yeodongsaengku, ‘kan?” tanya Jongin hati-hati.

                “Akhiri ini? Cih. Untuk apa mengambilnya? Tentu saja untuk balas dendam, bukankah aku sudah katakan itu padamu, Jongin-ssi? Kalau itu bukan yeodongsaengmu, aku tidak bisa balas dendam, ‘kan?”

                Kekanakan. Itulah yang Jongin pikirkan, Suho terlalu kekanakan, dia keterlaluan.

                “Apakah balas dendam begitu penting bagimu? Lalu apa yang kau dapatkan setelah itu? Bisakah kau lupakan itu semua?” pinta Jongin.

                “Ya! Kim Jongin! Aku tidak akan melupakan apa yang Appamu perbuat kepada Appaku?! Tentu saja, aku ingin kau merasakan hal yang sama denganku, kehilangan orang yang kau sayangi, aku ingin kau merasakan itu! Kau hanya tinggal menunggu kapan waktunya akan tiba! Ketika semuanya berubah menjadi kelam!” bentaknya.

                Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Suho. Lalu bagaimana sekarang? Dendam Suho begitu besar. Jongin mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, kemudian menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tanggannya. Ini terlalu rumit. Tidak bisakah dia hidup normal dan bahagia bersama Hyosung? Tidak ada masalah seperti ini. Tidak ada pria gila itu. Tidak ada seorangpun yang menganggu mereka. Dan satu lagi, tidak ada ikatan darah di antara mereka.

                Jongin membuka matanya perlahan. Matanya sedari terpejam, namun dia tidak tidur. Otaknya tidak bisa berhenti untuk terus berpikir jalan keluar dari masalah ini. Tetap mempertahankan Hyosung di sampingnya dan membuat Suho melupakan dendamnya? Atau meyerahkan Hyosung begitu saja? Konyol. Itu semua konyol.

                Pikirannya tertuju bagaimana keadaan Hyosung. Dia sengaja untuk menyuruh Jongdae untuk tak membiarkan Hyosung pulang, bahkan keluar dari rumah Jongdae. Setidaknya rumah Jongdae cukup aman untuk Hyosung. Dia tidak bisa membayangkan apabila ketika Hyosung berjalan pulang lalu anak buah Suho mengambilnya begitu saja.

                Ini terlalu rumit untuknya. Terlalu berat. Dia berharap ada sosok Appa di sampingnya saat ini, memberinya petunjuk tentang apa yang akan dia lakukan kedepannya.

                Sejak tadi pagi, Hyosung meminta Jongin untuk menjemputnya. Ragu. Itu yang ia rasakan, ragu karena bisa saja anak buah Suho mengikutinya dan menemukan Hyosung. Kemungkinan-kemungkinan buruk seperti sudah ia pikirkan. Ia tidak mau membahayakan Hyosung juga dirinya. Setidaknya untuk saat ini, dia bisa menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan Hyosung, meski hatinya meraung ingin segera bertemu dan memeluk Hyosung.

                Jongin berjalan ke arah pintu depan setelah didengarnya pintu diketuk beberapa lagi. Tanpa pikir panjang, Jongin membuka pintu rumahnya dengan malas. Matanya membulat sempurna ketika dilihatnya Suho berdiri dengan senyum liciknya di depan rumahnya, lengkap dengan jasnya yang berwarna hitam.

                “Dimana kau sembunyikan dia?” Tanpa basa-basi Suho langsung bertanya pada Jongin.

                Jongin terdiam sejenak. “Dia tidak bersamaku.”

                “Aku tahu dia sedang tidak bersamamu, dan aku bertanya dimana kau sembunyikan dongsaengmu? Atau lebih tepatnya …. dimana rumah seseorang bernama Jongdae?”

                Jongin terhenyak. Darimana Suho tahu tentang Jongdae? Darimana dia tahu Hyosung sedang bersama Jongdae? Darimana?

                “Aku… akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, sekalipun harus membunuh setiap orang yang menghalangi jalanku, termasuk kau.” Dengan sangat pelan, Suho membisikkan kata-kata itu tepat di sebelah telinga Jongin.

                Jongin terdiam, dilihatnya Suho pergi dari hadapannya. Tubuhnya membeku sesaat, kata-kata Suho tadi membuatnya semakin takut, dia takut kehilangan Hyosung. Tanpa pikir panjang, Jongin segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman rumahnya, menghidupakannya dan menancap gas ke arah rumah Jongdae. Hyosung. Menyelamatkan Hyosung. Itu yang ada dipikirannya. Kalau Suho tahu tentang Jongde, pasti dia mencari tahu tumah Jongdae dengan sumber apapun, dan kalau dia tidak salah, mungkin Suho sudah tahu di mana rumah Jongdae sekarang.

                Jongin dengan kasar membuka pintu rumah Jongdae. Dilihatnya Jongdae yang tengah membaca bukunya terlonjak kaget dan menatap ke arahnya heran. Jongdae melepaskan kacamata bacanya dan mengendikkan dagunya, bertanya apa yang terjadi.

                “Dimana Hyosung?” tanya Jongin.

                “Dia di dalam, mungkin sedang melakukan hobinya selama di sini, mengacaukan dapurku,” ucap Jongdae.

                Jongin langsung berlari ke arah dapur rumah Jongdae. Dilihatnya Hyosung di sana dengan celemek hijau yang sudah kotor akibat tepung. Hyosung yang menyadari akan kehadiran seseorang, mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Hyosung tersenyum lebar ketika dilihatnya Jongin berdiri di depannya, kemudian dia melepaskan celemeknya dengan cepat.

                “Tidak ada waktu lagi,” lirih Jongin.

                Hyosung hanya mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang Jongin ucapkan tadi. Namun kebingungannya buyar ketika Jongin menarik tangannya dan berlari keluar rumah Jongdae. Dilewatinya Jongdae begitu saja yang melihat mereka berdua dengan pandangan herannya.

                “Gomawo, Jongdae-ya. Aku harus pergi,” teriak Jongin sebelum menutup pintu rumah Jongdae.

                Jongdae hanya bisa menganguk, dengan cepat dia bisa mengerti situasinya sekarang.Raut wajahnya yang semula bingung kemudian menjadi panik, dilihatnya mobil Jongin yang perlahan pergi meninggalkan rumah Jongdae. Jongdae hanya bisa menghela nafas panjang.

                “Semoga kalian baik-baik saja, Jongin-ah, Hyosung-ssi.”

                Jongin masih melajukan mobilnya denga cepat. Hal itu membuat Hyosung sedari tadi memegang erat sabuk pengaman yang sudah terpasang. Dia tidak berani membuka suara, dia takut, padahal banyak sekali yang ingin ia tanyakan kepada Jongin, termasuk mengapa Jongin mengebut sekarang, dan akan kemana mereka pergi. Matanya sesekali melirik Jongin dengan takut, bisa dilihatnya Jongin dengan air muka yang tidak mengenakkan, alisnya yang mengkerut, matanya yang fokus ke arah jalan, dan desahan nafasnya yang kasar.

                “O-Oppa,” panggil Hyosung takut-takut.

                Jongin tidak menjawab. Hyosung menelan ludah, beranggapan bahwa Jongin tidak mengindahkan panggilannya. Hyosung mengalihkan pandangannya ke depan, di pikirannya tengah berkelibat tentang apa yang tengah terjadi, sempat dia beranggapan bahwa ada masalah yang sedang ditutupi Jongin darinya.

                “O-Oppa,” panggilnya. Namun sama saja, Jongin tidak menyahut.

                Hyosung mendecak kesal. Jongin tersentak sejenak setelah mendengar decakan Hyosung, Jongin melirik ke arah Hyosung yang terlihat kesal.

                “W-waeyo, Hyosung-ah? Ada apa?” tanyanya kaku.

                Hyosung? Kini panggilan Jongin padanya menggunakan namanya terdengar aneh di telinga Hyosung. Dia sudah biasa dengan panggilan kesayangannya. Hyosung menghela nafas perlahan, merasa bahwa sesuatu benar-benar terjadi dan membuat Jongin bertingkah aneh seperti ini.

                “Aniya.” Hyosung menjawabnya singkat dan tidak ingin berbicara lebih panjang lagi dengan Jongin.

                Mata Jongin masih berfokus pada jalan, namun  telinganya mendengar dengan jelas jawaban Hyosung tadi. Jongin hanya menganguk singkat dan menambah kecepatan laju mobilnya.

                “Ya! Bisakah kau mengurangi kecepatan mobilmu? Memangnya kita mau kemana? Kenapa mengebut seperti ini? Seperti penjahat dikejar polisi saja!” Hyosung menggerutu karena kaget dengan mobil yang tiba-tiba menjadi semakin kencang.

               Jongin terdiam sejenak, di pikirannya mencoba untuk merangkai kata-kata yang akan dilontarkannya pada Hyosung. “K-Kita akan pergi.”

                “Pergi kemana?” tanyanya lagi.

                Jongin melirik Hyosung sekilas. “Kita akan pergi jauh, sejauh mungkin yang kita bisa, kalau perlu meninggalkan Seoul, meninggalkan Korea Selatan.”

                Hyosung tertegun, ditatapnya Jongin dengan pandangan bingung. Untuk apa mereka pergi jauh? Apakah sesuatu terjadi pada kakakknya itu? Namun ia lebih memilih diam, entah kenapa dia tidak mau tanya lebih jauh lagi, perasaan takut menyelimutinya dan melarangnya untuk bertanya lebih pada kakakknya, suara Jongin saat menjawab pertanyaannya tadi benar-benar … membuatnya takut, nada suara Jongin yang sudah tidak dia dengar semenjak kematian Appa itu terdengar lagi. Hyosung takut.

                Sementara Jongin tak ada hentinya mendesah kasar. Pikirannya penuh oleh Suho dan apa yang akan terjadi selanjutnya.

                “Bukan seperti penjahat yang dikejar polisi, tapi seperti penjahat yang mengejar mangsanya,” ucap Jongin dalam hati.

                Jalanan semakin sepi, kendaraan tak banyak memadati. Sudah tengah malam, namun Jongin tak memutuskan untuk beristirahat sejenak. Matanya memang lelah, tangannya sudah kemang karena tak ada hentinya menyetir, sesekali dia menggerakkan jari-jarinya untuk menghilangkan rasa pegalnya. Kepalanya juga sudah mulai kaku untuk digerakkan karena tak disempatkannya untuk istirahat sejenak.

                Kecepatan laju mobilnya mulai dikurangi. Dia berpikir bahwa Suho tidak mungkin mengejar mereka sampai sejauh ini, itu terlalu membuang-buang waktu. Keluar dari Seoul dan memulai kehidupan baru, mungkin itulah jalan keluarnya. Melupakan kejadian sebelum-sebelum ini dan menjalani hidup baru di negara lain. Ya, mungkin mereka akan segera pergi meninggalkan Korea Selatan.

                Diliriknya Hyosung yang tengah terlelap di sebelahnya. Jongin tersenyum kecil melihat wajah Hyosung yang tengah terlelap. Tangan kanan Jongin meraih sebelah tangan Hyosung, digenggamnya erat tangan itu. Dingin. Tangan Hyosung terasa dingin. Jongin melepaskan genggamannya dan menghentikan mobilnya. Dilepasnya jaket denim yang dikenakannya, kemudian ditutupinya tubuh Hyosung dengan jaket denimnya. Dilihatnya Hyosung yang menggeliat dan berusaha menenggelamkan tubuhnya di jaket denim Jongin. Jongin tersenyum kecil kemudian memberanikan dirinya mendekat ke arah Hyosung. Jongin mengusap lembut kepala Hyosung, didekatkannya wajahnya ke arah Hyosung, tak perlu waktu lama hingga bibirnya sudah menempel dengan bibir tipis milik Hyosung. Jongin menahan nafasnya, merasakan degup jantungnya yang tidak berirama. Selalu seperti itu ketika dia berada di saat-saat seperti ini. Jongin meraih tengkuk Hyosung dan semakin menekan bibirnya, hingga dirasakannya Hyosung menggeliat kecil dalam sentuhannya, dilepaskannya tautan bibir mereka dan tangan Jongin ditariknya kembali ke arah setir mobil.

                Jongin kembali menghidupakan mesin mobilnya dan tersenyum sekilas ke arah Hyosung.

                “Setelah ini, kita akan memulai hidup baru.” Jongin menghela nafas panjang dan tersenyum lega, berpikiran positif bahwa setelah ini tidak akan ada hal seperti ini lagi setelah mereka memulai kehidupan baru. Semoga saja.

                6 months later ….

                “Ya! Oppa, irreonayo!!” teriak Hyosung dari arah dapur.

                Dengan malas Jongin bangun dari tidurnya dengan mata yang masih belum sempurna terbuka.Mulutnya terbuka lebar karena menguap dan segera ditutupinya dengan punggung tangannya. Jongin masih mengantuk, namun teriakan Hyosung membuatnya harus segera bangun.

                Hyosung berlari ke arah kamar mandi yang masih kosong, disampirkannya handuk tebal di gantungan kamar mandi itu. Tak lama kemudian dilihatnya Jongin berjalan ke arah kamar mandi, Hyosung hanya tersenyum ketika dilihatnya wajah Jongin yang masih kusut itu.

                “Sudah cepat, Oppa. Bukannya hari ini kau harus ke gedung kesenian lagi?” tanya Hyosung.

                “Ah, ne,” jawab Jongin masih dengan matanya yang belum terbuka sempurna.

                Hyosung menganguk singkat lalu berjalan ke arah dapur lagi. Namun langkahnya terhenti karena tangannya ditarik kebelakang oleh Jongin. Hyosung menatap lengannya yang digenggam tangan Jongin dan mata Jongin bergantian. Mata Jonginsudah membuka sempurna, namun wajahnya begitu datar.

                “Wae?” tanya Hyosung singkat.

                Jongin tersenyum kecil dan mendengus, didekatkannya kepalanya ke arah Hyosung. Hyosung hanya diam saja sembari matanya tak lepas dari mata Jongin.Jongin mengecup pipinya sekilas kemudian masuk ke kamar mandi. Hyosung tersenyum malu sembari menyentuh pipinya.Meskipun hal itu sudah biasa dilakukan Jongin terhadapnya setiap pagi, namun selalu saja Hyosung tersipu dan merasa senang, debaran di jantugnya juga tak pernah berubah setiap kali berada sangat dekat dengan Jongin.

                Hyosung kembali ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka. Waktu menunjukkan jam 9 pagi. Keadaandaerah sekitar Gwangju juga belum terlalu ramai. Ya, mereka pindah ke daerah kecil tersebut. Meskipun Hyosung tidak tahu alasan mereka pindah kemari, Hyosung lebih memilih diam dan tidak bertanya apapun kepada Jongin. Mereka tidak membawa apa-apa kemari selain uang mereka untuk membeli sebuah apartemen sederhana, dan membeli barang-barang keperluan mereka. Sebenarnya, Hyosung sudah menyimpan rasa penasarannya itu sejak 6 bulan lalu, tapi entah apa yang membuatnya untuk tetap diam dan berpura-pura baik-baik saja dan tidak menunjukkan bahwa dia merasa aneh selama ini.

                Beruntungnya Jongin mendapat pekerjaan sebagai guru musik di salah satu tempat kursus, dan sesekali mengisi acara di gedung kesenian setiap akhir minggu. Penghasilan Jongin tersebut cukup untuk biaya mereka hidup selama ini. Sedangkan Hyosung bekerja di salah satu butik sebagai perancang desain, berkat appanya yang memasukkan dirinya ke sekolah kepribadian dan deibekali tentang tata busana.

                “Sungie-ya,” panggil Jongin.

                “Ne?”

                Jongin masuk ke arah dapur dan duduk di meja makan yang memang dekat dengan dapur apartemen mereka. Dilihatnya roti bakar sebagai menu makan mereka, seperti bisa semenjak mereka tinggal di sini. Jongin mengambil roti itu dan memakannya cepat, tak sampai 5 menit dia sudah menghabiskan sarapannya dan berniat untuk segera pergi. Sedangkan Hyosung yang sedari tadi melihat Jongin makan tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya yang berada di depan Jongin.

                “Sungie-ya, aku berangkat dulu, ne?” Jongin berdiri sambil merapikan pakainnya.

                Hyosung ikut berdiri dan mengambil tasnya yang ada di sebelahnya. Jongin melihat Hyosung membawa tas memandang Hyosung bingung. “Kau mau ke mana?”

              Hyosung tertegun, dia terlihat berpikir sejenak kemudian tersenyum canggung. “Ah, i-igo, aku mau ke minimarket,” jawabnya, “untuk belanja,” tambahnya.

                Jongin menganguk tanda mengerti, kemudian mengancingkan lengan kemejanya sambil berjalan ke arah pintu. Hyosung mengikuti dari belakang. Mereka berdua berjalan bersama keluar gedung apartemen. Jongin meraih sebelah tangan Hyosung dan menggandengnya erat, sedang Hyosung hanya bisa menatap tautan tangan mereka. Hyosung tersipu malu dan hanya menunduk menutupi wajahnya yang kini bersemu merah.

                “Wah lao, Jongin dan Hyosung semakin mesra saja,” sahut sebuah suara.

                Jongin dan Hyosung menoleh ke sumber suara, tampak di sana seorang wanita paruh baya tengah tersenyum ke arah mereka dan tangannya yang bertumpu pada pintu apartemen wanita itu.

                “Ah, ajhumma bisa saja.” Jongin mengelus tengkuknya dan tersenyum malu.

                “Kalian memang pasangan yang serasi, dan mungkin kalian sudah benar-benar berjodoh, lihat saja wajah kalian mirip, padahal kalian sepasang kekasih,” pujinya.

                Hyosung hanya bisa diam, dia tertegun, dia tak bisa menjawab perkataan bibi tadi.Sedangkan Jongin masih tersenyum dan tidak merasa ada hal yang aneh.

                “Baiklah, Ajumma. Kami pergi dulu.” Jongin menarik tangan Hyosung dan segera ke area parkir gedung apartemen, namun entah kenapa Hyosung melepaskan genggaman Jongin tiba-tiba. Jongin hanya bisa memandangnya heran.

                Hyosung masih terdiam. Pandangan matanya kosong. Ucapan wanita tadi seolah-olah menjadi anak panah yang kini berhasil menusuk jantungnya, membuatnya merasa sakit. Semenjak datang kemari, Jongin berkata padanya bahwa Hyosung hanya perlu diam dan menurut, tidak boleh membantah apapun pernyataan Jongin tentang mereka. Hyosung sudah diam. Dia tidak protes ketika tetangga baru mereka menanyakan hubungan mereka, Jongin mengatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang akan menikah tidak lama lagi. Jongin mengatakan bahwa mereka pindah karena Hyosung ingin tinggal di sini, padahal itu bohong. Jongin mengatakan bahwa marga mereka sama dan wajah mereka yang terlihat persis hanya sebuah kebetulan dan menyatakan bahwa mereka mungkin memang sudah berjodoh. Padahal bukan itu, mereka saudara, itulah sebabnya mereka terlihat persis dan marga mereka sama. Mereka saudara.

                Masih diingatnya ucapan Jongin beberapa hari setelah mereka pindah kemarin. Jongin mengatakan bahwa dia harus melupakan semuanya setelah itu, tidak ada masa lalu yang disimpan, memulai hidup baru di sini, sebagai sepasang kekasih, bukan sebagai adik dan kakak.

                “Ya! Kim Hyosung!” teriak Jongin.

                Hyosung tersadar dari lamunannya dan memperbaiki posisi duduknya kemudian menatap Jongin dengan tatapan kaget. “Ah, ne?”

                “Apa yang kau pikirkan?” tanya Jongin.

                “Ye? Ah, aniyo.” Hyosung mengelus lengannya dan mengalihkan pandangannya dari Jongin.

                “Lalu, kenapa kau tidak segera menyahut setelah beberapa kali aku panggil. Kau melamun. Apa yang kau pikirkan?” tanya Jongin.

                “Ani, Oppa. Tidak ada apa-apa, hanya saja aku memikirkan tentang desainku di butik.” Hyosung berbohong.

                Hyosung tersenyum canggung sekilas ke arah Jongin dan kembali mengalihkan pandangannya. Bisa didengarnya helaan nafas Jongin yang kasar.

                “Oppa, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga kita pergi dari Seoul. Dan jujur, aku tidak bisa melupakan begitu saja masa lalu tanpa alasan yang jelas. Apa yang kau sembunyikan dariku?”lirihnya dalam hati.

                Hyosung memperbaiki posisi duduknya di mobil dengan sekelibat hal-hal yang membuat kepalanya pening kahir-akhir ini. Helaan nafas panjang beberapa kali terdengar darinya, menandakan bahwa dia benar-benar penat, dia lelah. Lelah akan semua rasa penasarannya. Dia ingin bertanya tapi ada perasaan yang menyelimutinya dan membuatnya untuk tidak bertanya akan semua rasa penasarannya tersebut.

                Meskipun Jongin mengatakan bahwa dia tidak perlu menganggap mereka saudara lagi namun sebagai kekasih. ‘Anggap saja kita ini adalah sepasang kekasih, Sungie-ya. Lupakan semua masa lalu.’Ucapnya kala itu.  Namun jujur saja, perasaan bahwa Hyosung masih menganggap Jongin sebagai seorang kakak itu masih ada hingga kini, dia tidak bisa melupakan itu begitu saja. Namun setiap kali dia merasakan sentuhan Jongin dan kasih sayang yang dia berikan pada Hyosung membuatnya bisa melupakan itu sejenak.

                “Oppa,” lirihnya hampir tak terdengar.

                Hyosung merasakan pundaknya disentuh oleh seseorang. Dia menoleh dengan cepat, sentuhan itu membuyarkan semua pikirannya. Dilihatnya wajah Jongin yang berjarak sangat dengannya, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan satu sama lain. Matanya terbelak di saat kondisi seperti ini. Cukup lama mereka di posisi seperti itu tanpa suara, senyuman dan tatapan Jongin membuat Hyosung tak berkutik sedikitpun, hingga akhirnya Jongin membuka suaranya.

                “Chagiya, sedang memikirkan apa?” tanyanya lembut.

                Hyosung hanya bisa menggeleng pelan, namun matanya masih tak lepas dari pandangan Jongin yang tajam namun lembut itu. Jongin hanya bisa tersenyum simpul sambil menganguk pelan, merasa bahwa Hyosung tidak ingin bercerita tentang apa yang dipikirkannya sehingga mengabaikan panggilannya berkali-kali dan helaan nafas pajang berkali-kali yang didengarnya pula. Jongin meraih pipi Hyosung dan mendekatkannya ke arah wajahnya, Jongin hendak mencium kening adiknya itu namun mata Hyosung terpejam dan kepalanya ditariknya mundur, seolah-olah tidak mau dicium oleh Jongin. Jongin melepaskan kedua tangannya dari pipi Hyosung dan menarik dirinya jauh dari wajah Hyosung. Jongin menatapnya heran sedangkan Hyosung hanye menunduk dan berusaha untuk tidak menatap mata Jongin.

                “Ah, sudah sampai rupanya. Gomawo, Oppa.” Didengaranya suara pintu mobil tertutup menandakan bahwa Hyosung sudah turun dari mobilnya.

                Jongin hanya melihat Hyosung yang berjalan pelan ke dalam Minimarket. Hyosung bersikpa aneh, pikir Jongin.

                Hyosung memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki, entah rasanya dia tidak ingin naik bis, ingin berlama-lama di luar rumah selagi Jongin tidak ada di rumah, pasalnya Jongin sering sekali membatasinya untuk tidak keluar rumah lama-lama. Dan ini adalah kesempata kecilnya untuk sekedar jalan-jalan. Dan kini ia tengah melewati sebuah toko baju. Hyosung berhenti sejenak dan menatap toko itu dari luar. Eksterior toko itu begitu persis dengan salah satu toko baju di Hongdae. Dia tersenyum simpul sambil mengingat ketika dia dan Jongin tengah berbelanja di Hongdae namun akhirnya tidak ada satupun barang yang dibelinya.

                Hyosung tertawa kecil ketika mengingat bagaiamana dia ingin baju ini dan itu namun rasanya tak ingin membelinya. Matanya fokus pada suasana di dalam toko tersebut. Sampai akhirnya senyumnya itu menghilang tiba-tiba, pandangannya kini mengarah ke seorang namja dengan kemeja abu-abu dengan tangannya yang digandeng oleh seorang perempuan yang tingginya lebih pendek daripada lelaki itu.

                “Oppa,” lirih Hyosung.

                Hyosung masih berdiri di sana dengan tatapan tak percaya. Oppanya tengah memilih-milih pakaian di toko itu bersama perempuan yang tidak ia ketahui siapa dan dengan tangan Jongin yang digandeng perempuan itu, lengkap dengan tas-tas baju yang dibawakan Jongin.

                Hyosung menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa yang dilihatnya adalah Jongin. Hatinya berharap bahwa itu bukanlah Jongin, namun matanya melihat dengan jelas bahwa itu adalah Jongin. Dilihat dari pakaian yang juga dikenakan Jongin sewaktu berangkat sekitar sejam yang lalu. Hyosung menggelengkan kepalanya cepat, otaknya dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif tentang Jongin, Hyosung berusaha menepis pikiran-pikiran negatif itu.

                “Jongin Oppa tidak mungkin seperti itu,” liirhnya.

                Hyosung merasakan kedua kakinya terasa lemas. Digenggamnya belanjaannya yang masing berada di tangan kanan dan kirinya erat-erat. Entah kenapa dia merasa sakit, ada sesuatu sakit di dalam sana, rasa sakit yang membuat matanya terasa panas dan sesuatu ingin medesak keluar, membuatnya harus mengatur nafasnya yang entah mengapa menjadi tidak teratur.

                Dilihatnya Jongin berjalan ke arah kasir. Hyosung berusaha mengontrol dirinya, menahan perasaan yang campur aduk di dalam dadanya. Hyosung membalikkan badannya dan pergi menjauh dari toko itu, dia berusaha menyeret kakinya yang entah mengapa terasa berat. Dirasakannya orang-orang di sekitarnya berjalan tertalu cepat daripada dirinya, atau memang Hyosung yang berjalan lambat? Kepalanya setengah menunduk, tatapan kosongnya berhadapan dengan jalan yang dilaluinya, sementara tangannya masih berusaha untuk membawa belajaannya agar tidak jatuh, karena efek rasa sakit di dadanya setelah melihat Jongin bersama wanita lain tadi.

                “Ash,” pekik Hyosung.

                Hyosung mengerang ketika dirasakannya tubuhnya terjatuh akibat terpental oleh sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Belanjaannya jatuh begitu saja dan bisa dipastikan 1 lusin telur yang dibelinya sudah pecah semua. Hyosung hanya mendesah dan membereskan barang-barangnya yang terjatuh. Ia yakin bahwa orang yang mungkin tidak sengaja menubruknya itu sudah pergi dan tidak berniat menolongnya. Ingin rasanya dia berdiri namun tubuhnya terasa berat, dia terlalu lemah hanya untuk berdiri saja.

                Sebuah tangan menjulur ke arahnya. Hyosung menatap tangan itu lemah. Sedetik kemudian dia meraih tangan itu dan berusaha berdiri, namun tetap saja tidak bisa, hingga tangan yang lainnya membantunya berdiri dengan melingkarkan tangannya di pinggang Hyosung.

                Seorang lelaki tengah beridiri di depannya dengan senyumannya yang lebar. Hyosung tersenyum simpul dan dipaksakan.“Khamsahamnida.

                “Gwenchanayo?” tanya lelaki itu.

                Hyosung yang hendak pergi mengurungkan niatnya ketika didengarnya sura lembut lelaki itu. Hyosung menatap dengan jeli lelaki tersebut. Lelaki itu masih tersenyum ke arahnya, senyuman menawan yang dilontarkan lelaki itu membuatnya tertegun untuk sesaat. Senyuman bagaikan seorang malaikat yang entah mengapa membuat Hyosung merasa tenang untuk sejenak hingga diingatnya lagi kejadian yang barus saja dia lihat di toko pakaian tadi.

                “Ah, gwenchanayo, khamsahamnida telah menolongku.” Hyosung membungkuk lemas dan hendak pergi

                Lelaki itu menyentuh pundaknya, menahannya untuk pergi. Hyosung mendongakkan kepalanya dan melihat lelaki itu. Dilihatnya senyuman lelaki itu makin lebar saja, kali ini menunjukkan giginya dan membuat matanya semakin telihat sipit. Jujur saja, Hyosung merasa suka dengan senyuman itu, senyuman yang mungkin bisa membuatnya tenang. Tak lama lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Hyosung, sedangkan Hyosung menatap bingung dengan mengerutkan keningnya.

                “Sepertinya aku pernah melihatmu, siapa namamu?” tanyanya.

                “Ah ne, joneun Kim Hyosung imnida. Neo?” tanyanya lemas.

                Bukan maksudnya untuk tidak sopan, tapi perasaan hatinya yang membuatnya merasa malas dan lemas, tatapannya yang menjadi sayu dan membuatnya tidak bersemangat.

                “Ah, Hyosung?” lirihnya, “joneun, Kim Joonmyun imnida, atau kau bisa memanggilku Suho.”

                Hyosung menganguk ringan. Suho memasang wajahya yang terlihat begitu lega, merasa apa yang selama ini dicarinya dengan menghabiskan waktu selama 6 bulan terkahir tidak sia-sia.

TBC

                ARGH! Eothokkae?!I get no insipiration T_T so aku buatnya ini berantakan~ Nyambung kagak sih? Udah panjang belum? Mianhae kalau belum ㅠ_ㅠ Alurnya kecepetan kagak? Nyambung nggak? Nyambung nggak? Iya? Nggak? *diatbok readers*

                Ah mianhae, aku ngebut buat part ini semalem karena perbuahan alur ceritaㅋ_ㅋ. Thanks buat readers yang mau nunggu ff ini ya *bow* Keep waiting for the next part ㅎㅅㅎ.

53 pemikiran pada “Den (Chapter 7)

  1. Eoh? Jadi aku nu reader banget (?) ini ff udah dri tahun 2013 tpi aku malah baru baca, ugh malang huhuhu 😦
    tpi bagus authornim, aku sukaaaa :*
    author, krna ff ini blom end n bru d update smpe chapt 9, aku boleh saran gk? Jongin jangan sama hyosung.. Aku gk tega (?) mreka sedarah sih 😀 aku masih kbawa culture nih jadi gk suka klo mreka jdi kekasih. Ah mian authornim… Apa aku banyak ngomong? *kepo* kkkkk~
    ok deh, semoga saran aku dipake. Keep writing neeeee ^^
    oya, satu lagi, biarin hyosung sama suho n jadiin prasaan jongin n hyosung jadi kakak-adik lgi, ok? Tpi suho nya jangan jahat, hiks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s