Fall (Chapter 2)

Title: Fall (Chapter 2)

Author: zelowifey

Length: Multi Chapter

Genre: Drama, Romance, Friendship

Main Cast: Luhan (EXO-M), Jinri (OC)

Support Cast: Sehun (EXO-K), Kai (EXO-K), Kris (EXO-M)

Fall Chapter 1 (exofanfiction.wordpress.com/2012/08/14/fall-chapter-1/)

————————————

Seminggu berlalu semenjak Jinri dan Luhan selalu bertemu sepulang sekolah, dan tidak dapat dipungkiri bahwa nampaknya mereka terlihat lebih dekat dari sebelumnya, ya walaupun mereka berdua tidak pernah berbicara banyak hal, setidaknya kecanggungan diantara mereka sudah mulai lenyap, dan dalam seminggu belakangan ini, ada beberapa hal yang dapat Jinri pelajari dalam diri Luhan. Pertama, dibanding bertingkah, berpose keren, mainstream seperti  teman-temannya disekolah, Luhan justru bertindak layaknya kebanyakan orang biasa, walaupun apa yang dilakukannya memang terlihat lebih keren tanpa harus dibuat-buat.
Kedua, Jinri juga tidak pernah menduga bahwa orang seperti Luhan mau bergaul dengan orang seperti dirinya, bahkan dia mau menyapa Jinri terlebih dahulu. Ketika mereka secara tidak sengaja berpapasan di sekolah, Luhan pasti akan memberikan senyum seringai khasnya kepada Jinri, dan ketika sekolah usai, Luhan akan selalu menunggu Jinri di dekat gerbang sekolah.
Luhan juga tidak pernah sedikitpun berkata hal buruk di depan maupun di belakang Jinri, dia memperlakukan Jinri sama dengan cara dia memperlakukan teman-temannya yang lain.
Dan karena hal itu Jinri pun sama sekali tidak keberatan jika berada didekat Luhan, mungkin karena ini adalah pertama kalinya Jinri merasa diterima oleh orang lain.

Sebelumnya Jinri bisa saja membuat dirinya diterima oleh siapapun dengan mudah, namun ketika kebanyakan orang menyukai suatu hal, Jinri hanya bisa bertanya-tanya dengan mata yang seolah berkritik, dan ketika dia menyukai suatu hal, tidak ada yang benar-benar menyukai hal tersebut selain dirinya, maka dari itu Jinri lebih memilih untuk sendiri, dibandingkan harus berpura-pura menyukai suatu hal yang orang lain sukai selain dirinya hanya demi diterima oleh mereka.

Namun Luhan nampaknya jelas berbeda dari mereka semua, dia berbeda dengan kebanyakan teman-temannya di sekolah, dia berbeda dari keramaian, dan dia sangatlah berbeda dari apa yang pernah Jinri bayangkan tentang dirinya sebelum mereka berdua bertemu. Kini Jinri jelas paham mengenai makna dari “don’t judge a book by it’s cover”, sekarang dia mengerti bahwa tidak seharusnya bahkan tidaklah pantas jika seseorang menilai orang lain hanya dari penampilan luar mereka saja, tanpa terlebih dulu mengenal lebih dalam siapa mereka yang sebenarnya.

Tapi semua itu hanya apa yang dapat Jinri observasikan sejauh ini, dia belum bisa dikatakan sebagai orang yang telah mengenal Luhan, namun tidak ada salahnya mencoba mengenal orang lain lebih dekat untuk pertama kalinya bukan? pikir Jinri.

Keesokan harinya saat Jinri sedang mengembalikan Ipod milik Luhan di sekolah, ada hal yang berbeda dari Luhan, dia tidak terlihat sama seperti biasanya, hal itu jelas terlihat dari tatapan matanya yang begitu gelap dan dingin, hari ini Luhan tidak terlihat bersemangat seperti biasanya, hari ini Luhan terlihat berbeda. Saat ini Jinri telah menemukan hal baru pada diri Luhan yang sebelumnya tidak pernah dia ketahui, namun sayangnya hal tersebut jelas bukan apa yang Jinri harapkan. Ingin rasanya dia menanyakan bagaimana kondisi Luhan saat ini, didalam benaknya Jinri berpikir, bagaimana caranya menanyakan keadaan Luhan yang membuatnya cukup penasaran ini, apakah lebih baik jika dia diam saja? atau justru menanyakan bagaimana kondisinya? namun Jinri merasa binggung memilih kalimat yang cocok untuk dia utarakan kepada luhan dengan bahasa yang terdengar bersahabat, apakah sebaiknya dia bilang “bagaimana keadaanmu hari ini Luhan-ssi?” atau “kenapa kau tidak terlihat bersemangat seperti biasanya Luhan?” tapi sayangnya Jinri merasakan suaranya yang seperti tersangkut di tenggorokannya. Akhirnya belum sempat Jinri membuka mulut, Luhan telah lebih dulu mengeluarkan suaranya, Luhan berkata kepada Jinri bahwa hari ini dia telah menggunakan mobil pribadinya kembali seperti semula, maka dari itu mulai hari ini Jinri tidak perlu repot-repot lagi menghampirinya sepulang sekolah, karena mereka berdua toh tidak akan pulang bersama lagi.

“oh… chukkae” hanya kalimat itu yang dapat keluar dari mulut Jinri, setelah itu Luhan juga mengembalikan Ipod milik Jinri, dan entah mengapa Jinri pun mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Luhan mengenai kondisinya, lalu setelah itu mereka berdua melangkahkan kaki mereka menuju kelas masing-masing.

Setelah mendengar ucapan Luhan beberapa saat yang lalu, Jinri beranggapan bahwa sepertinya mulai saat ini dia tidak akan bisa melihat Luhan lagi sepulang sekolah, dan entah mengapa perasaannya berubah menjadi sedikit kecewa, mungkin karena dia baru saja kehilangan teman sepulang sekolahnya, atau mungkin ini adalah cara bagaimana pertemanan diantara mereka berakhir.  Tapi tunggu dulu, Jinri berpikir sejenak mengenai kata ‘teman’ yang baru saja terlintas dibenaknya. Apakah itu berarti dia telah menganggap Luhan sebagai temannya? namun apakah Luhan bahkan menganggapnya sebagai seorang teman? atau justru sejak awal Luhan memang tidak pernah mempunyai rencana sedikitpun untuk berteman dengannya, seharusnya sejak awal dia sadar bahwa tidak mungkin orang seperti Luhan ingin berteman dengan orang seperti dirinya. Pikiran Jinri saat ini begitu dipenuhi dengan berbagai dugaan mengenai Luhan yang belum tentu akan kebenarannya. Jinri memalingkan wajahnya kebelakang, lalu saat ia melihat punggung luhan yang sudah mulai menjauh dari pandangannya, dia hanya bisa menghela napasnya panjang.

Saat sekolah usai, Jinri segera mengambil tasnya kemudian berjalan keluar dari kelas, lalu ketika sedang berjalan dilorong, Jinri tidak sengaja mendengar suara perbincangan yang berasal dari kerumunan murid namja, dan sepertinya murid-murid tersebut terlihat familiar, tentu saja karena mereka adalah teman-teman Luhan yang pernah menggoda Jinri waktu itu, termaksud Sehun. Baru saja jinri hendak melangkahkan kakinya kembali, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika salah satu diantara mereka menyebut nama Luhan.

“jadi Luhan membuat masalah lagi hah?” tanya salah satu diantara namja itu, “molla, sejak dulu dia memang tidak pernah akur dengan hyungnya” ujar namja yang bernama Sehun. Jinri berpikir sejenak saat mendengar perkataan para murid namja tersebut, mungkinkah hal ini yang menyebabkan Luhan terlihat berbeda? Ingin rasanya Jinri pergi mencari Luhan, namun hal itu tentu saja tidak mungkin dilakukannya, dia pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu, lagipula untuk apa mencampuri urusan orang lain.

Keesokan harinya, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, karena akhirnya para senior di Seoul High School akan segera memulai semester akhir mereka tahun ini, termaksud Jinri dan Luhan. Namun terdapat program yang bernama semester tambahan yang diperuntukan bagi para murid senior. Program semester tambahan ini telah ditetapkan oleh kepala sekolah, maka mau tidak mau murid-murid senior harus mengikuti program kegiatan yang dinamakan semester tambahan ini. Walaupun sebagian besar diantara mereka terlihat menggerutu, merengek, dan juga khawatir saat mengetahui bahwa mereka semua akan mendapatkan kelas yang berbeda dari kelas sebelumnya, mereka takut jika tidak mendapatkan kelas yang sama dengan teman-teman mereka seperti kelas mereka terdahulu. Bukan hanya itu, mata pelajaran mereka juga bertambah, sehingga mereka semua akan pulang lebih larut dibandingkan dengan para murid junior, maka dari itu program tersebut dinamakan semester tambahan.

Setelah  mendapatkan jadwal mata pelajarannya yang baru, Jinri segera melangkahkan kakinya menuju kelas barunya, dia tidak peduli jika teman sekelasnya masih sama seperti yang lama atau tidak, karena dia tidak perduli dengan hal-hal semacam itu. Lalu saat hendak membuka kenop pintu kelasnya, suara kerumunan terdengar begitu nyaring terngiang dari balik pintu, Jinri menggerakkan kenop pintu kelasnya dengan perlahan, dan ternyata dugaannya benar, wajah-wajah asing satu demi satu menoleh dan menatap kearahnya, sebagian menghiraukan kehadiran Jinri dan sebagian lagi memberikannya tatapan yang tidak ramah. Andai saja Jinri tahu bahwa kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang mainstream, namun sayangnya Jinri memang tidak tertarik dengan hal semacam itu, dia tidak menyukai dunia yang berbau mainstream, semua orang tahu bahwa Jinri adalah bagian dari orang-orang yang berbeda dari keramaian, jadi walaupun ketika teman-temannya disekolah dengan berbaik hati mengundangnya ke acara-acara pesta atau acara-acara lainnya yang biasa dilakukan oleh kebanyakan anak muda seusianya, mereka semua pasti tahu bahwa jawaban Jinri akan seperti “maaf, tapi aku sudah ada janji lain dengan temanku” atau “maaf, hari ini aku ada acara keluarga” atau alasan-alasan lainnya yang dapat dia buat. Maka dari itu cepat atau lambat tidak akan ada lagi teman-temannya disekolah yang akan mengundangnya, namun Jinri sama sekali tidak keberatan, Jinri lebih memilih untuk pergi ketempat yang jauh dari keramaian dan melakukan hal yang dia sukai, sendiri.

Akhirnya setelah menemukan kursi kosong yang berada dibagian belakang, Jinri segera meletakkan barang-barangnya diatas meja dan duduk, setelah itu dia mengeluarkan buku psokologi yang baru saja dia pinjam dari perpustakaan kemarin, dan membacanya sebelum pelajaran pertama dimulai, sebenarnya hal yang paling Jinri sukai didunia ini adalah membaca, dan buku yang paling dia sukai adalah buku-buku yang bertema psikologi, misteri dan lain sebagainya, kebanyakan waktu luang yang Jinri punya dia habiskan untuk membaca, namun baru saja Jinri hendak menikmati kegiatan membacanya ini sampai tiba-tiba tiga orang murid datang menghampirinya, dua diantara mereka duduk didepan Jinri, sedangkan satu orang lagi duduk tepat disampingnya. Jinri terkejut saat salah satu diantara mereka duduk bersebelahan dengannya, faktor utamanya adalah karena dia lebih memilih untuk duduk sendiri, sedangkan faktor lainnya adalah karena Jinri tidak pernah memiliki teman sebangku sebelumnya, dan rasanya begitu aneh ketika ada keberadaan orang lain yang mengisi kursi kosong disampingnya. Melihat hal tersebut Jinri segera mengalihkan perhatiannya dari buku-buku yang sedang dia baca kehadapan orang disampingnya, dan betapa terkejutnya Jinri saat mendapati bahwa orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah… Luhan.
Namun tentu saja Jinri bisa menyembunyikan rasa terkejutnya itu dengan bakat pokerfacenya.

“hai” sapa Luhan saat melihat Jinri yang sedang menatapnya lekat, rawut wajah Luhan terlihat sama seperti terakhir kali Jinri melihatnya, matanya terlihat gelap dan dingin, dan tidak ada sebuah senyuman yang terukir dibibirnya, “apa yang kau lakukan disini?” tanya Jinri binggung, “tentu saja duduk didalam kelas, belajar, bukankah itu yang dilakukan seorang pelajar?” tanya Luhan, dengan intonasi yang berbeda, suara Luhan kali ini terdengar seperti sedikit kasar dan dingin, layaknya orang-orang arogan, saat ini Jinri pun menemukan hal baru yang ada pada diri Luhan lagi. Jinri mengerutkan keningnya “maksudku, kenapa kau duduk disini?” tanya Jinri dengan intonasi suara yang tidak kalah dinginnya. “itu karena dia tertarik padamu, arraseo?” ujar Sehun secara tiba-tiba yang kemudian disusul oleh jitakan yang diberikan oleh teman sebangkunya, Kai. “aish! Kai nomu pabo ya!” rintih Sehun sambil mengelus kepalanya, “abaikan saja dia, Luhan dan kami memang selalu duduk dibagian belakang” ujar Kai, Luhan mengangguk setuju, sedangkan Sehun terlihat kesal sambil mengumpat pelan. “apa kau keberatan?” tanya Luhan, Jinri terdiam sebentar seolah berpikir, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Beberapa saat kemudian seongsaenim pun datang dan pelajaran pun dimulai.

Aneh… pikir Jinri, sebelumnya bus kemudian teman sebangku, sepertinya belakangan ini Luhan selalu mengisi tempat kosong yang sebelumnya tidak pernah berpenghuni didekat Jinri, namun anehnya lagi Jinri sama sekali tidak merasa keberatan, dia memang berniat untuk mengenal lebih dalam siapakah Luhan yang sebenarnya, namja yang satu ini nampaknya selalu memiliki watak yang berubah setiap kali Jinri bertemu dengannya, maka dari itu, Jinri ingin tahu sebenarnya seperti apa watak asli namja ini.

Seminggu berlalu, dan semenjak hari itu Jinri menemukan berbagai hal baru yang dapat dia teliti dari diri Luhan, salah satunya dalam hal bagaimana dia berpenampilan. Luhan memang selalu terlihat tampan, namun nampaknya Luhan terlihat jarang dapat memakai seragamnya dengan baik, hal itu jelas terlihat kemeja bajunya yang selalu keluar dari pinggang celananya, namun hal tersebut tidak membuat Jinri terkejut, karena sejak awal Jinri memang tidak pernah melihat Luhan mengenakan seragam sekolah dengan utuh dan rapih, rambut coklatnya juga terlihat berantakan, namun semua itu justru membuat Luhan benar-benar terlihat sangat tampan. Dikelas Luhan jarang memperhatikan pelajaran, Jinri sering sekali melihatnya terus-menerus mengecek ponselnya berulang-kali, dia juga sering tertidur disaat pelajaran sedang berlangsung, bahkan terkadang dia suka membolos dan setelah itu menghilang dari kelasnya, dan sayangnya hal-hal tersebut jelas bukan apa yang pernah Jinri bayangkan sebelumnya. Namun bukan hanya Luhan yang sering melakukan hal-hal tersebut, namun juga teman-temannya, apalagi kedua teman seperjuangannya, Sehun dan Kai. Apakah orang-orang mainstream selalu melakukan hal-hal seperti ini? pikir Jinri.

Jinri pernah secara tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Luhan dengan orang diponselnya, Luhan memanggil orang tersebut dengan panggilan hyung, Kris hyung. Maka bisa jadi bahwa orang yang bernama Kris itu adalah kakak Luhan. Jinri juga tidak pernah tahu sebelumnya bahwa ternyata terdapat sisi pemberontakan pada diri Luhan, karena setiap Luhan menerima panggilan dari orang yang Jinri prediksikan sebagai hyungnya itu, Luhan selalu berubah menjadi kesal bahkan terdengar marah, namun Jinri tidak tahu apa sebabnya, tapi yang jelas Jinri menemukan dirinya semakin penasaran untuk mengetahui siapa Luhan yang sebenarnya.

“haaah” Jinri menghela napasnya secara tidak sengaja saat melihat Luhan yang untuk kesekian kalinya sedang tertidur lelap di tempat duduknya, Jinri takut jika Luhan akan ketahuan dan terkena omelan seongsanim, walaupun sebelumnya dia memang tidak pernah ketahuan, namun Luhan sendiri nampaknya tidak peduli, dia selalu tertidur dengan wajahnya yang ditenggelamkan pada kedua tangannya di atas meja, rambutnya juga terlihat berantakan sama seperti biasanya. Walaupun pelajaran sedang berlangsung, Jinri nampaknya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari figur Luhan yang sedang tertidur ini.

“bentuk tengkuk di belakang lehernya terlihat lucu, walaupun berantakan tapi rambutnya terlihat begitu lembut” ujar Jinri dalam hatinya. Entah mengapa saat ini Jinri memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menyentuh rambut Luhan dan merasakan apakah rambutnya memang lembut seperti yang dia lihat, Jinri pun mulai membawa tangan kanannya untuk menyentuh rambut Luhan secara diam-diam agar tidak membangunkannya, dan baru saja ujung jemari Jinri hampir menyentuh rambut Luhan, tiba-tiba saja Luhan membuka kedua matanya, sontak salah satu tangan Luhan menggenggam jemari Jinri yang hampir saja menyentuh rambutnya, menghentikan aktivitas yeoja ini, Jinri pun terkesiap dan menelan ludahnya.

DEG

Jinri merasakan jantungnya berdenyut dengan begitu keras dan juga sesak saat melihat kedua mata Luhan yang sedang menatapnya dengan begitu lekat, Jinri sama sekali tidak bisa menebak apakah tatapan yang diberikan Luhan padanya menunjukkan perasaan yang kesal atau marah karena ulahnya yang lancang, namun nampaknya ekspresi Luhan sama sekali tidak menunjukkan kedua hal tersebut, Luhan tetap menatapnya lekat tanpa mengangkat kepalanya dari atas meja, dia menatap Jinri dengan tatapan yang sulit ditebak.
Mereka pun saling menatap satu sama lain, dan sedikit mereka berdua tahu bahwa masing-masing dari mereka kehilangan bagian dari dalam hati mereka pada setiap detik mata mereka berdua terhubung, dan hal tersebut membuat jantung Jinri semakin sesak.
Akhirnya setelah waktu yang berjalan bagaikan berabad-abad, Luhan mengalihkan pandangannya kearah jemari Jinri, lalu berkata “jari-jarimu kecil sekali”.

Jinri menarik tangannya kembali dengan cepat dengan ekspresi masih nampak terkejut, melihat hal tersebut Luhan memberikan seringainya kepada Jinri, seringainya kali ini terkesan meledek, Jinri merasakan kedua pipinya yang mulai memanas, dia menyesal berniat menyentuh rambut Luhan tadi, seharusnya dia tidak melakukan hal lancang seperti itu, Luhan menghiraukan Jinri dan kembali melanjutkan aktivitasnya barusan, tidur.

Setelah kejadian barusan, Jinri mencoba berusaha untuk menstabilkan detak jantungnya, Jinri membawa tangannya perlahan ke arah dadanya dan merasakan detak jantungnya yang berdenyut tidak karuan, beberapa waktu yang lalu saat Luhan menatapnya seperti itu, jantungnya terasa begitu sakit dan sesak, anehnya Jinri sama sekali tidak membenci rasa sakit tersebut, ini adalah pertama kalinya Jinri merasakan jantungnya bereaksi seperti ini.
Sedikit dia tahu, sepertinya Jiinri bukan hanya menemukan berbagai hal baru pada diri Luhan, namun juga dirinya sendiri.

Saat bel istirahat berbunyi, semua murid segera keluar dari kelasnya masing-masing, terkecuali Jinri yang terlihat sedang asyik membaca buku psikologinya, Kai dan Sehun tidak terlihat sejak jam pelajaran pertama, walaupun tas mereka sejak pagi sudah berada diatas meja.
Luhan pun juga telah menghilang entah kemana, pasti mereka membolos lagi, pikir Jinri.
Karena lapar Jinri pun memutuskan untuk membeli beberapa cemilan, setelah itu sambil membawa cemilannya dia berjalan kembali kedalam kelas, berniat melanjutkan aktivitas membacanya yang tertunda, namun langkahnya terhenti, saat dia melihat Luhan sedang memanjat pagar sekolah, ya memanjat… memanjat pagar… memanjat pagar sekolah… memanjat pagar sekolah?! Jinri terkejut dan langsung pergi berlari kearah Luhan.

“yah Luhan-ssi apa kau gila?! bagaimana kalau kau ketahuan?!” tanya Jinri panik kepada Luhan, Luhan sedikit terkejut saat mendengar suara Jinri, namun kemudian dia merasa lega setelah melihat Jinri dan bukan penjaga sekolah, Luhan pun berhasil memanjat pagar tersebut dan menginjakkkan kakinya ditanah, keluar dari batas sekolah. “asalkan kau bisa menjaga volume suaramu itu, aku tidak akan ketahuan” ujar Luhan dingin sambil menepuk-nepuk celananya yang sedikit kotor akibat terkena debu. Jinri juga binggung kenapa suara yang dia keluarkan tadi begitu keras, namun belum sempat Jinri menasihati Luhan, tiba-tiba saja penjaga sekolah membunyikan peluitnya dan berlari kearah Luhan dan Jinri, mereka berdua membulatkan mata mereka, terkejut, apalagi Jinri yang terlihat begitu ketakutan, karena sebelumnya dia tidak pernah berada pada situasi seperti ini. Melihat ekspresi diwajah Jinri, Luhan pun tidak tega untuk meninggalkannya, “apa yang kau tunggu? cepat naik!” perintah Luhan, Jinri membulatkan matanya, disisi lain dia tidak ingin memanjat pagar tersebut, namun disisi lain dia juga tidak ingin tertangkap oleh penjaga sekolah itu, lalu dengan sangat ragu Jinri mulai memanjat pagar tersebut dengan kaki yang sedikit gemetar, ingin sekali dia menampar dirinya sendiri saat dia menuruti apa yang diperintahkan Luhan barusan, untuk apa dia ikut membolos seperti Luhan? toh dari awal dia memang tidak punya niat sama sama sekali untuk membolos, Jinri nomu pabo ya! ujar Jinri mengutuk dirinya sendiri.

Setelah berada diatas pagar, penjaga sekolah yang terlihat begitu menakutkan itu hampir saja berhasil menarik kaki Jinri, namun untungnya Jinri telah lebih dulu melompat kebawah, dan untung saja Luhan berhasil menangkapnya tepat waktu. “kajja” sontak Luhan menarik tangan Jinri dan membawanya berlari menjauhi kawasan sekolah.

Sambil berlari Jinri menatap tangannya yang sedang digenggam oleh Luhan dengan begitu erat, waktu seakan berjalan dengan sangat lambat saat dia berlari, lalu tanpa Jinri sadari, dia juga ikut mengenggam tangan besar Luhan, jemari Luhan terlihat begitu panjang melilit bersamaan dengan jemari Jinri yang kecil, ini adalah pertama kalinya Jinri mencoba mengenggam tangan seorang namja selain appanya, dan rasanya… tidak buruk.

Tanpa arah tujuan yang jelas, Jinri hanya bisa berlari dan membiarkan Luhan pergi membawanya.

TBC

Annyeong chingu! 😀 mianhe kalau ceritanya lama di publishnya T.T sebelumnya cerita ini memang mengutamakan dua main castnya aja yaitu Luhan dan Jinri, jadi part support castnya (Sehun, Kai, Kris) memang sedikit hehe, tapi akan aku usahain untuk memperbanyak part mereka di chapter selanjutnya, oh iya ngomong-ngomong soal Jinri, you guys can imagine yourself as Jinri, and I hope you can enjoy this story so far 😀

Comments are loved ❤

 

 

23 pemikiran pada “Fall (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s