100 Ducks (Chapter 4)

Tittle    : 100 Ducks

Part  4  :  “Oh,No Jung Hwa!!

Lenght : Chaptered

Rating : T

Genre : School, Comedy and Romance

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Main Cast : D.O EXO-K (Do Kyung Soo)

                   Song Hye Ji (You)

                   Kris EXO-M (Kris Wu)

                   Yoona SNSD

 

(Mohon komentar dan sarannya *bow* ^^)

 

PART  4

Oh, No Jung Hwa!!’

==================================================================

“Hyeji-ya, jadi selama ini kamu ingin menjadi pacarku?.” Kata seorang laki-laki jangkung blasteran yang mengenakan tuxedo putih.

            Hyeji hanya mengangguk kecil sambil malu-malu dengan baju seragam sekolah yang masih melekat di badannya. Tiba-tiba, laki-laki di hadapannya itu berlutut di hadapannya dan mengeluarkan sebuah cincin emas putih.

            “Maukah kau menikah denganku?”

“IREONA…………….” teriakan keras dari bocah kecil berumur 6 tahun bernama Jung Hwa mengejutkan Hyeji yang tersentak dari tidurnya.

“Nuna, nuna….” panggil adik laki-lakinya yang asik menggoncang-goncang tubuhnya yang kembali tenggelam dalam selimut. Karena merasa terus di usik, ia terbangun dan memicingkan mata pada adiknya.

“Ya! Kau merusak mimpiku tau!. Oh…padahal Kris ingin melamarku.” Keluhnya dengan wajah cemberut.

Sementara itu, Jung Hwa sibuk membersihkan meja belajar Hyeji, selagi kakaknya mandi. Ia mendapati sebuah buku berwarna kuning, ia membuka dan membaca isi bukunya.

Hyeji telah kembali ke kamar, ia ingin mengganti baju. Namun sebuah tatapan aneh datang dari adiknya.

“Keluar sana, nuna mau ganti baju.” Perintahnya.

“Nuna, kalau mau taruhan jangan sembarangan. Cinta itu bukan barang taruhan.” Kata Jung Hwa di hadapannya dengan tatapan serius.

“Anak SD kayak kamu tahu apa sih. Udah, keluar sana. Nuna mau ganti baju.”

“Walaupun aku masih kecil, tapi aku laki-laki nuna. Aku bisa saja sih, bantu nuna untuk menang taruhan itu. Tapi ada dua syarat. Ya, bisa di bilang barteran.” Katanya.

“Emang apa?.” Kata Hyeji pura-pura tidak peduli.

“Pertama, selama proses ini, nuna harus menggantikan semua pekerjaanku di rumah, seperti membersihkan setiap kamar, mengantar pesanan kue, dan setiap sabtu menjaga peliharaan Pak Han. Yang kedua, nuna dilarang jatuh cinta dengan orang lain. Gimana?”

Tanpa menjawab Hyeji langsung mengangguk dan berjabat tangan dengan adiknya, tanda mereka saling setuju satu sama lain.

 

@ Namsan Hakkyo

 

Di parkiran sekolah Wooyoung, G.O dan Eunhyuk sedang menunggu kedatangan Hyeji. Mereka ingin mengajaknya bolos hari ini.

“Tuh…tuh…, dia datang dengan anak mami.” Tunjuk Wooyoung yang melipat tangannya.

Setelah mendekat, Wooyoung, G.O dan Eunhyuk menarik kerah baju milik D.O yang baru saja turun dari sepeda Hyeji.

“Ya! Lepasin…” teriak Hyeji.

Dengan terpaksa mereka membebaskan D.O.

“Ayo kita cabut!.” Kata Eunhyuk.

“Sorry, aku sedang sibuk.” Kata Hyeji yang langsung menyusul D.O. Mereka bertiga hanya menatap satu sama lain. Mereka merasa ada sesutau yang aneh dengan sohibnya.

Hyeji dan D.O berpisah di tangga, mereka saling bertatapan tajam.

“Hari ini tidak perlu mengantarku pulang!.” Seru D.O.

“Cih!!, gayanya selangit.”

 

@ SNU ( Seoul National University)

 

            Pertemanan Kris dan Yoona hampir genap dua tahun. Mereka saling mengenal karena satu kampus, selain itu juga rumah mereka searah. Kebetulan ujian di kampus sudah selesai, mereka iseng mengikuti lomba fotografi.

“Pantai terlalu umum menurutku. Bagaimana kalau kita cari sesuatu yang berbeda?. Yang belum pernah ada. Konsep yang ada ceritanya gitu?.” Yoona menyampaikan pendapatnya pada Kris. Mereka sedang berdiskusi sambil berjalan keluar dari area kampus. Kris mengangguk-ngangguk sambil tersenyum. Ditengah jalan ia mengangkat kameranya dan memotret langit yang begitu cerah.

“Huh!, Selalu saja berjumpa dengan Kyung Soo.” Keluh Yoona sambil mengurut lehernya.

“Anak SMA yang itu?” tanya Kris.

“He’eh…, nuna..nuna..,auuh…pusing.” Yoona mengacak-ngacak rambutnya.

“Haha, mantan pacarmu ya?” selidik Kris.

“Aniyo…, ah…jinja!. Micheoseo?. Bagaimana ya, kalau di bilang seperti adik sendiri juga tidak. Dibilang sahabat juga tidak. Tapi kami sangat dekat.”

“Dia suka sama kamu tuh.” Goda Kris.

Mendengar perkataan Kris, ia merasa telah di rendahkan. Wajahnya jadi semakin cemberut.

Mereka berpisah di dua lorong yang berbeda. Kris melambaikan tangannya pada Yoona sambil tersenyum.

***

Kris berjalan sendirian, sesekali ia melirik jam tangannya. Dari jauh ia melihat beberapa anak SD mengerumuni sebuah gerobak es krim. Ia mendekat, dan mengantri seperti anak SD yang lain.

“Vanila satu.” Katanya.

Es krim telah di dapat, ia memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang yang tidak jauh dari tempat es krim tadi.

“Hmm…enak.” gumamnya saat menjilati es krim. Matanya melirik ke sebelah kanan. Ada seorang bocah laki-laki yang duduk dalam posisi seperti orang sedang yoga, ia memejamkan matanya. Kris menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Hei, sedang apa?” tanya Kris sambil memegang pundak bocah itu.

“Sedang menenangkan diri di tengah keramaian. Aku perlu meditasi pencerahan pikiran  untuk dapat membantu nunaku.” Jelas bocah itu masih dalam posisi yoga.

“Memang nunamu kenapa Song Jung Hwa?.” Tanya Kris yang membaca nama bocah laki-laki itu di seragam sekolahnya.

“Hyung siapa?, kenapa bertanya masalah orang lain. Kita kan baru pertama kali berjumpa.” Dengan nada soknya, ia berkata pada Kris.

Rasanya Kris ingin mencubit kedua pipi Jung Hwa, ia merasa Jung Hwa begitu cute. Gaya bicaranya sudah seperti orang dewasa dari kalangan terpandang.

“Hyung sekolah di mana?”

“Aku?, aku tidak sekolah lagi. Tapi aku kuliah di Seoul University.”

“Huh!, Seoul University itu besar sekali ya hyung. Murid laki-lakinya juga banyak. Bagaimana caranya aku bisa menemukan laki-laki yang bernama Kris.” gumam Jung Hwa lesu.

“Untuk apa kau mencari orang yang bernama Kris?.” tanyanya hati-hati.

“Nunaku taruhan dengan majikannya, itu anaknya bapak mentri luar negri yang namanya Do Kyung Soo. Nah, nunaku bertaruh untuk bisa menjadi pacar si Kris itu. Dan majikannya bertaruh untuk bisa menjadi pacar perempuan yang namanya kalau tidak salah Yoona.” Jelas Jung Hwa panjang lebar dengan penuh semangat.

Pembicaraannya dengan Jung Hwa membuatnya semakin bingung. Anak itu menyebutkan namanya dan juga nama Yoona, mengapa semuanya terasa begitu akrab dan tidak asing. Taruhan?, ia semakin pusing memikirkannya.

“Hyung dengar dulu. Hyung tahu tidak yang namanya Kris di tempat kuliahnya hyung?” Jung Hwa terus mendesak Kris yang tidak menjawab sepatah katapun.

“Nama nunamu?”

“Song Hyeji, ia sekolah di namsan hakkyo. Wae?”

“A..aniyo.., chakkaman.”

Kris mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan nomor hpnya ke Jung Hwa.

“Ini apa hyung?”

“Kalau perlu bantuan Hyung hubungi saja kesini ya.” Kata Kris yang lalu bangkit dan pergi dengan terburu-buru.

 

Dalam perjalanan ke rumah Jung Hwa terus menatap kertas pemberian Kris tadi. Pikirannya melayang-layang mengagumi ketampanan Kris.

“Yang tadi manusia bukan ya?, tampannya.” Gumamnya.

“Jung Hwa!! Jung Hwa!!.” Panggil seseorang di seberang jalan. Jung Hwa mengerutkan dahinya mencari arah suara yang memanggilnya.

“Hyuuuuung….” Wajahnya berubah menjadi begitu senang saat melihat orang tersebut adalah D.O.

Tanpa ada yang mengetahui, D.O dan Jung Hwa begitu akrab. Jung Hwa lebih kelihatan seperti adiknya, dari pada adik Hyeji. Selain itu, D.O juga anak tunggal, jadi tidak punya saudara kandung.

“Hyung…” Jung Hwa langsung berlari kerah D.O yang baru saja menyebrang jalan. D.O langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.

“Kenapa tidak pernah kerumah hyung lagi hah?” D.O menunjukkan rasa kecewanya.

“Mianhae hyung.” Kata Jung dengan menaikkan alisnya sambil sedikit menahan tawa.

“Ada apa?”

“Hahahahahaha…..”

Jung Hwa tertawa begitu keras, membuat D.O semakin bingung.

“Hyung taruhan ya sama nunaku?, hahahaha…”

“Dia cerita ya?.” Raut wajahnya tak tergambarkan lagi.

Jung Hwa melipat tangannya dan mengintrogasi D.O. Ia bertanya banyak hal.

“Ya!, hyung benar-benar suka dengan Yoona. Hyung tulus..” protes D.O.

“Araseo..araseo, aku bisa saja sih bantu hyung untuk menang. Asal ada barterannya aja. Hehe..”

“Mau apa?”.

Ia lalu menarik D.O untuk sedikit menunduk dan berbisik sesuatu padanya.

“Ottokhe?, yang kedua sih oke. Ottokhe?” Komplain sang anak mami.

Tanpa peduli apapun Jung Hwa pergi dari hadapan D.O yang sedang mengacak-ngacak rambutnya, ia tampak begitu frustasi. Dengan senyuman lebar dan kepuasan batin, Jung Hwa berjalan menuju rumahnya.

“Manfaatkanlah sesuatu sebaik mungkin.” Batinya.

 

***

Betapa terkejutnya Wooyoung, G.O dan Eunhyuk. Dari mulai tadi di kelas Hyeji tidak merespon satupun perkataan mereka. Sampai-sampai berjumpa di jalanpun ia tidak memperdulikan sapaan mereka.

“Ada apa sih dengan dia?” tanya Eunhyuk.

“Kalian pasti ada buat salah.” Tuduh G.O.

Hyeji pergi dengan sepedanya menuju sebuah rumah. Ia harus mengantarkan pesanan kue. Mau tidak mau, ia harus menjalankan perjanjiannya dengan Jung Hwa, yaitu menggantikan tugasnya. Saat berada di depan rumah besar itu, ia baru sadar bahwa rumah ini adalah rumah D.O.

“Aish…rumah si anak mami.”

Dengan langkah berat ia memasukinya. Saat pintu terbuka, sebuah senyuman hangat tergambar dari raut wajah seorang wanita cantik, yang tidak lain adalah ibunya D.O.

“Aigoo… gumawoyo Hyeji-ya. Ayo masuk dulu, Kyung Soo tadi pulang sendiri, kenapa tidak di antar ya?, lagi marahan ya?.” Nada bicara ibunya yang lembut namun sedikit centil membuat Hyeji merasa geli mendengarnya.

“Mau minum apa?, jus?, teh?”

“Apa saja.” Jawabnya.

Ia duduk di sebuah ruang tamu yang begitu besar.

“Mom, aku mau belajar, buatkan susu ya.” Sebuah suara datang dari arah tangga, Hyeji berbalik, dan benar saja suara tersebut adalah suara D.O.

Hyeji terkekeh, sambil menahan tawanya.

“Araseo, naik saja, nanti mommy antarkan. Mau rasa kue buatan ibunya Hyeji?.” kata ibunya dari arah dapur. Saat merasa nama Hyeji di sebut, D.O baru menyadari bahwa di ruang tamu ada sesosok makhluk yang sangat tidak ingin dilihatnya saat ini.

“Tidak usah mom.” Ketusnya sambil memandang jijik ke arah Hyeji. Yang di tatap malah asik sendiri, tidak peduli.

Ibu D.O datang membawa segelas jus jeruk dan segelas susu.

“Bawa ke kamar Kyung Soo saja. Sekalian kalian bisa bicara. Masa sih, orang pacaran bentar-bentar berantem.”

“A..a..aniyo..ka..ka..mi..” Belum sempat menjelaskan, ibunya langsung menarik tangan Hyeji menaiki tangga menuju kamar D.O.

“Ketuk saja..” kata ibunya dengan senyuman tersirat penuh makna.

Mau tidak mau ia terpaksa mengetuk pintunya. Namun tiba-tiba saja, ada rasa semangat saat mengetuk pintu kamar D.O.

“Sayaang…, mommy bawain susunya.” Kata Hyeji sambil meniru suara ibunya.

Saat yang empunya kamar membuka, matanya terbelalak. Ia berusaha untuk menutup kembali pintunya, namun kaki Hyeji menghalangi.

“Dasar tidak tahu sopan santun.” Ketus Hyeji yang langsung nyelonong masuk.

Di pandanginya seluruh isi kamar D.O, yang tergambar jelas adalah kamar seorang kutu buku. Kamarnya penuh dengan rak-rak buku, dan tidak ketinggalan satu bingkai foto Yoona dengan dirinya di dekat tempat tidurnya.

“Udik, keluar sana.” Kata D.O tanpa basa-basi.

“Kau yakin gadis itu bakalan jatuh cinta denganmu?.” Tanya Hyeji yang menunjuk foto Yoona.

“Bukan urusanmu.” Jawabnya singkat.

“Hahaha, o.k o.k, jangan ngambek gitu dong. Aku pulang dulu ya sayang. Jangan lupa minum susunya ya, nanti mommy marah lho.” Ledeknya sambil meninggalkan kamar D.O.

Tawa Hyeji meledak di depan pintu kamar D.O. Wajahnya terlihat puas.

“Aneh rasanya, sehari tidak bertengkar dengannya.” Gumamnya.

 

@ Kris’s House

Matahari yang begitu lelah menyinari setengah hari, telah kembali ke peraduannya. Kini bulan datang untuk menggantikannya. Angin malam memasuki seluruh sudut di kamar Kris. Ia mengambil sebuah jaket berwarna hijau yang berada di kursi dekat meja belajarnya. Ia duduk di samping jendela sambil menyelesaikan rubiknya.

“Huh!, Seoul University itu besar sekali ya hyung. Murid laki-lakinya juga banyak. Bagaimana caranya aku bisa menemukan laki-laki yang bernama Kris.”

Kata-kata yang terucap dari Jung Hwa tadi siang tiba-tiba terlintas. Suasana rumah yang sepi membuatnya diam terpaku dan mengingat kembali semua yang di ucapkan Jung Hwa.

Namun tiba-tiba Kris tersenyum saat mengingatnya.

“Huh….” Kris menarik napas panjang. Ia menatap anjing kesayangannya yang duduk manis di hadapannya.

“Gae Yu, nasibku masih tidak berubah ya. Seorang anak SMA menjadikanku barang taruhannya. Kalau aku membiarkannya mendapatkanku, apa yang akan terjadi setelah itu?. Gae Yu, jangan memandangku seperti itu. Walaupun aku tidak pernah mengerti dan merasakan apa itu cinta. Tapi aku bisa merasakan, bagaimana rasanya di sakiti.” Ia berbicara dengan Gae Yu anjingnya.

Ia turun dan mendekati Gae Yu.

“Gae Yu-ya, apa aku harus bermain-main juga?”

 

 

 

 

To be continued..

29 pemikiran pada “100 Ducks (Chapter 4)

  1. ┡┦a◑.◑҉=D┡┦a◑.◑=))҉┡┦a◑.◑ adik hejiy lucu ßδ♌ǥέэ³³ϑ† curhatnya ama yng ♏ăăª◦°˚˚°◦ǚǚ dibuat taruhan.kris Ъќ ngaku lgi makin seru ăjĴ⪪ªħ.lanjut

  2. ya ampun jung hwa kyk org dewasa bgt yakkk….
    hahahaha…
    pinter bgt dy…
    jgn2 dy mw bkn D.O n hyejin jadian lagi…
    hahaha…
    wah, kris ikt permainan mrk nih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s