I Love You, But…

Author: minnieasmilkyway

Title:  I Love You, But…

Main Cast: Kim Jong Dae (EXO-M’s Chen); Han Nari (OC); Wu Yi Fan (EXO-M’s Kris)

Genre: Angst, Romance

Length: Oneshot (1.763 word)

 

 

– oOo –

Aku mengingat semuanya dengan jelas. Ucapanmu dengan sebuah senyuman yang menghangatkan, dan membuatku diam seribu bahasa. Hanya kau yang mampu membuatku seperti itu. Selalulah di sampingku, dan aku akan menjadi orang yang sangat bahagia di dunia ini.

Cuaca agak mendung dan membuat angin lebih kencang dari biasanya. Namun, hal itu tidak mengurungkan niatku untuk mengunjungi tempat ini. Padang ilalang di belakang sekolah. Sendirian.

Akupun memilih untuk duduk di bawah pohon rindang yang paling besar. Menatap danau di hadapanku, sambil sesekali menjatuhkan pandanganku ke arah ilalang di sekitarku. Inilah kebiasaanku saat pulang. Duduk sendirian sambil menenangkan pikiran yang berkelebat sedemikian rupa.

Suara langkah seseorang yang perlahan mulai terdengar, mengusik pendengaranku. Membuatku mau tidak mau melempar pandang ke asal suara. Akupun menangkap sosok Kim Jong Dae yang sedang berjalan ke arahku.

“Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau ada disini” tuturnya yang kemudian menaruh asal tasnya dan ikut duduk di sebelahku.

Aku hanya menatapnya sekilas. Lalu melihat ke arah danau lagi. Sedangkan Chen -nama yang kuberikan untuknya- mempersempit ruang antara aku dengan dirinya. Aku menatapnya bingung, namun ia hanya memberiku senyum khasnya.

“Kau… jangan membuatku takut” ucapku terus terang padanya, dan iapun hanya tertawa.

“Yaaak! Kau benar-benar meakutkan, Chen” lanjutku.

Iapun menarik nafas kemudian berhenti tertawa sepenuhnya. Tangan kirinya meraih sesuatu di bawah sana. Kemudian menyembunyikannya di belakang tubuh. Iapun beralih ke hadapanku. Menatapku dengan tidak biasa. Hal itu membuatku membisu seketika.

“Ja… Jangan menatapku seperti itu…” ucapku ragu.

Tangan kanannya meraih puncak kepalaku dan membelai rambutku pelan. Mataku menangkap kembali bayangan tubuhnya dan mendapati dirinya sedang tersenyum. Disibakkannya rambut yang menutupi daun telingaku. Kemudian, ia menyelipkan bunga di antara daun telingaku itu.

Sungguh, aku masih bingung dengan apa yang ia lakukan kepadaku saat ini. Ia menarik tanganku dan mengecupnya,

“Would you be my girlfriend?” tanyanya masih dengan senyuman khasnya tersebut.

Aku benar-benar terdiam lebih dari diamku yang sebelumnya. Chen yang merupakan sahabatku sejak kecil, kini berada di hadapanku dan mengatakan hal yang benar-benar berada di luar dugaanku.

Matanya menatap lurus ke arahku. Menandakan bahwa ia sedang menunggu jawaban dariku. Aku masih tertunduk malu dan perasaanku bercampur aduk tidak karuan. Membuatku sulit untuk berpikir jernih dan menjawab pertanyaannya tersebut dengan jelas.

“Emmm… I do oppa”  ucapku malu dan masih tidak berani untuk menatap wajahnya.

Aku ingin melihat langit malam bersamamu lagi. Tapi, bukan yang seperti ini…

Jam hampir menujukkan angka 11 sekarang. Aku masih dengan setianya menunggu seseorang yang akan menjemputku. Aku agak kecewa karena ia sudah terlambat 10 menit. Sudah beberapa kali pula aku melihat keluar jendela, namun tidak ada suara motor yang menderu.

Tidak seperti biasanya. Pagi ini, eomma sudah meminta izin kepadaku dengan pakaiannya yang lengkap. Di umurnya yang sudah mencapai kepala tiga, ia masih terlihat muda. Bahkan seperti remaja berusia 17 tahun sepertiku. Ia tidak memberitahu alasannya pergi sepagi itu. bahkan, tidak membuatku curiga sedikitpun kepadanya.

Begitulah ceritanya mengapa aku hanya berdiam diri di rumah sendirian. Tak lama kemudian, Chen datang dengan mengendarai motor sport hitamnya itu. Iapun melepas helm yang ia kenakan dan menyungginkan senyuman hangat khas dirinya padaku.

Aku dengan sigap langsung menghampiri Chen dan mengenakan helm yang ia berikan kepadaku. Kemudian duduk di belakang.

Hari ini Chen berencana untuk mengajakku ke COEX untuk sekadar makan siang dan ia bilang, ia ingin memberikan sesuatu untukku. Aku sudah tahu bahwa dia orang yang penuh dengan kejutan.

Setelah sampai di COEX, ia segera menarikku ke toko perhiasaan dan memperbolehkanku untuk memilih satu diantara banyaknya gelang yan tertata di etalase toko tersebut. Setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan, ia menarikku kembali ke area food court. Ia bilang, perutnya sudah minta diisi, dan aku hanya tersenyum melihat tingkahnya itu.

Aku sempat menangkap bayangan sepasang namja-yeoja yang umurnya sekisaran 30-40an sedang berbincang dengan asyiknya. Belum lagi, aku sangat mengenal sosok yeoja itu. Tak lain adalah eommaku sendiri.

Pemandangan tersebut sungguh menyakitkan. Pasca meninggalnya appa, eomma berjanji padaku untuk menjagaku sebaik mungkin dan tidak akan berniat untuk menikah lagi. Tapi, pemandangan di depanku membuat hatiku seolah terbelah. Namja itu memegang kedua tangan eommaku seolah ia adalah istrinya sendiri.

“Appa…” lirih Chen.

Aku hanya menatapnya heran. Ya, aku tahu bahwa kami adalah sahabat baik. Tapi tentang orang tua masing-masing, kami tidak saling mengetahui atau memberitahu. Aku mengikuti langkahnya yang mulai mendekati pasangan yang sedang duduk di depan kami.

Aku tidak mendengar apa yang pria tua tersebut katakan kepada eommaku. Tapi, aku bisa mendengar eommaku yang baru saja berucap bahwa ia mau. Mau? Apa maksud dari jawabanny tersebut?

“Eomma…” lirihku begitu sampai di hadapan eomma dan pria yang tidak kukenal.

Tangan antara pria tua dan eommanya itu masih bersatu. Bahkan, bisa dibilang semakin erat saja.

“Apa maksud semuanya eomma?” tanyaku to the point.

Eomma berusaha menenangkanku. Ia sudah tahu bahwa aku pasti akan menolak jika ia bilang akan menikah lagi.

“Eomma berani sekali mengkhianati mendiang appa…”

Aku tahu perkataanku sebelumya sudah melebihhi batas. Tapi, itulah yang aku rasakan sekarang. Akupun berlari dari hadapan mereka sambil terus menyeka air mata yang terus menerus keluar dari pelupuk mataku.

Langkah besar Chen mampu mengejarku meskipun aku telah lari dengan maksimal. Ia menarik tanganku sehingga aku berhenti dan berakhir di pelukannya. Tangisanku mulai susut perlahan karena bibirnya menyapu bibirku. Membuatku tidak bisa terisak seperti apa yang kulakukan beberapa menit lalu.

3 Minggu kemudian…

Aku berencana untuk mencari udara segar dan melihat bintang dari balkon kamar. Saat aku keluar, aku melihat namja itu dengan lirih menyanyikan lagu yang sepertinya adalah buatannya sendiri. Seketika, ia menghentikan petikan gitarnya dan senandungnya lalu menatap ke arahku.

“Bintang yang indah, bukan?” ujarku basa-basi.

Kulihat ia hanya menatapku sebentar, kemudian mengangguk sambil terseyum. Namun, aku bisa melihat dari sorot matanya bahwa ia merasakan kegelisahan yang mendalam. Atau mungkin, dia memiliki masalah yang tidak kuketahui?

“Aku tahu sekali tentangmu. Kau tidak seperti biasanya” ucapnya kemudian.

Aku menatapnya heran. Tidak. Tatapannya yang seperti itu… Kukira ia memiliki masalah. Jadi, selama ini ia sedang… memikirkanku?

“Sudah lama aku tidak melihat bintang, aku ingin melihatnya lagi”

Ia tersenyum sebentar, “Kau benar. Terakhir kita melihatnya bersama sebulan yang lalu. Sudah cukup lama”

Akupun ikut tersenyum mendengar jawabannya. Kemudian melempar pandanganku kembali kepada sosok namja yang berada di balkon sebelah.

“Oppa, kalau ada sesuatu yang terjadi di antara kita berdua… apa yang akan kau lakukan?”

“No matter what happen, I’ll always love you dear”

Jika semuanya berubah menjadi suatu hal yang jauh dari apa yang kita genggam selama ini,apa yang harus kita lakukan?

Tak lama setelah kudengar jawaban dari Chen, teriakan eomma memaksa kami berdua untuk turun dan berkumpul di meja makan. Seperti biasa. Makan malam bersama.

Kupastikan telingaku terpasang dengan baik saat eomma dengan jelasnya mengatakan bahwa ia akan mengumumkan suatu hal yang penting.

“Eomma akan menjodohkanmu dengan anak dari salah satu teman kolega appa, Nari”

Mataku terbelalak mendengar pernyataan eomma. Tidak mungkin. Bahkan usiaku masih 17 tahun. Apa yang ada di pikiran eomma? Agar aku bisa terpisah dengan Chen?!

“Aku tidak mau!!!” bantahku dan mendapat kecaman keras dari eomma.

“Kau harus menikah dengannya. Mereka sudah mempersiapkan semuanya. Tepat esok malam, kau akan menjadi pengantin baru” jelas eomma lagi.

Chen seperti bisa membaca pikiranku. Ia hanya tersenyum seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Keesokan harinya…

Benar saja, eomma bilang bahwa ini adalah permintaan terakhir darinya. Membuatku merasa tidak enak. Sehingga, aku memutuskan untuk menyetujui perjodohan ini. Sebelumnya, aku meminta pendapat kepada Chen akan hal ini. Ia menghembuskan nafas beratnya sebelum berkata iya.

Namja yang akan mejadi suamiku sudah berdiri di altar. Aku berjalan dengan langkah kecil. Berusaha menangkap bayangan para tamu dan berusaha untuk menemukan Chen tentunya. Namun nihil. Au tidak melihatnya datang ke acara ini. Padahal, aku ingin ia hadir. Meskipun itu akan sakit baginya.

 

Aku ingin menangis bersamamu. Bukan membiarkan dirimu menangis sendiri karenaku. Mianhae, Jeongmal mianhae. Ini bukan mauku, ataupun maumu…

Tentu saja. Dulu kami sering bermain di tempat ini. Berkejaran satu sama lain. Serta tempat dimana ia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Semua terlintas begitu saja. Seolah Tuhan sedang memutar kisah kehidupanku sejak pertama kali aku lahir.

Kini, aku tidak bersamanya. Namja berperawakan lebih tinggi dari dirinya, kini sedang menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya heran. Sedangkan ia hanya balas menatapku tanpa berkata apa-apa.

Kulihat kembali pemandangan di hadapanku. Dirinya, seseorang yang sangat aku rindukan. Seseorang yang belum pernah kutemui kembali setealh hari pernikahanku dua minggu yang lalu. Ia sedang duduk menghadap danau yang tenang. Tangannya memainkan ilalang yang sengaja ia petik sebelumnya.

“Aku ingin bertemu dengannya” pintaku kepada Kris.

Dengan tampangnya yang kaku, ia hanya mengangguk pelan. Lalu, ia melepaskan genggaman tangannya dan masuk ke dalam mobil.

“Aku menunggu di mobil saja” ucapnya sambil menyunggingkan seulas senyum setengah terpaksa kepadaku.

Akupun mulai berjalan mendekati Chen dan mulai mendapati bahwa ia sedang menangis. Sepertinya ia juga menyadari kehadiranku. Karena, tak lama kemudian ia menghadap ke belakang. Tepat ke arah dimana aku berdiri. Bibirnya mengulas senyum pahit.

Akupun duduk di sebelahnya. Sama seperti yang ia lakukan sebelumnya. Aku menghadap ke arah danau.

“Sedang apa di sini?” tanyanya datar.

Aku menatap heran ke arahnya. Dia tidak seperti biasanya. Tidak ada eyes smile seperti biasanya dan senyuman yang manis dari bibirnya itu. Sungguh, aku tidak ingin melihatnya menderita seperti ini. Ini semua bukan keinginanku.

“Saeng-i, harusnya kau pulang dengan suamimu”

“Saeng-i? begitu ya?” ulangku yang kemudian menunduk.

Hatiku mencelos seketika. Kenapa aku belum bisa menerima kenyataan bahwa kini, aku hanyalah adik tiri baginya. Bukan sebagai sepasang kekasih lagi. Butiran beningpun mulai keluar dari pelupuk mataku.

Ia yang mendapati diriku yang sedang menangis, kemudian mengangkat wajahku pelan. Menyapu bersih kedua sungai tersebut dengan tangannya dan mencoba tersenyum meski aku tahu hatinya masih sakit untuk melakukan hal itu.

Ia menatapku dengan tatapan sendu seolah ini adalah terakhir kalinya kami bertemu. Aku juga tidak berani jamin. Mungkin, akan benar adanya. Setelah hari ini, aku tidak akan melihat dirinya lagi.

Tangannya mengelus pipiku dan aku hanya dapat menatap matanya yang berkaca-kaca. Aku masih sedikit terisak sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mencium bibirku lembut. Basah. Ia menangis lagi.

Aku tidak peduli apakah Kris akan melihat kejadian ini atau tidak. Aku tidak peduli. Karena, setelah ini tidak akan lagi cerita cinta tentangku dengan Chen. Tidak ada lagi ciuman. Kata sayang atau bahkan hanya sekadar bertemu satu sama lain.

Kulihat Kris keluar dari mobilnya. Aku terkesiap dan kemudian bangun dari dudukku. Chen yang berada di sebelahku juga ikut terbangun karenanya. Tanpa pikir panjang, kupeluk tubuhnya dan kucium sekilas bibirnya.

“Aku sangat mencintaimu” bisikku sebelum akhirnya berlari menuju Kris yang tampak menyeringai melihatku.

Biarpun kita tidak saling terikat lagi, tapi hati kita mengatakan yang sebaliknya. Sekali lagi, maafkan aku. Jika aku bisa memilih jalan hidupku sendiri, aku akan lebih memilih untuk tidak menerimamu. Tapi perasaan ini, aku tidak akan pernah bisa untuk melarangnya. Selamat tinggal, aku akan selalu mencintaimu…

 

– oOo –

Ini ff yang author kirim sewaktu ada lomba pemilihan admin. mian kalo ada kekurangan dan typo dalam ff iniRCL ditunggu, panjang2 juga gpp kok ‘-‘)b

Iklan

29 pemikiran pada “I Love You, But…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s