Everything is You

Tittle                 :  Everything is You

Cast                 :  Chen (EXO M), Lee Ji Eun

Genre               :  Romance

Rating               :   PG-13

Length              :  OneShot

Author              :  Yen Yen Mariti

Disclaimer        :  ff ini sudah pernah di beberapa blog maupun facebook, tapi dalam versi yang berbeda (re : castnya) dan authornya tentu saja saya (Yen Yen Mariti)

 

.

.

.

 

Everything is You

“Kau menangis ?”

“Tidak.”

“Tapi matamu merah dan membengkak.”

“Aku hanya mengantuk.”

Ji Eun berbaring menyamping, kemudian menarik selimut hinga menutupi seluruh tubuhnya. Gadis itu sengaja menyembunyikan wajahnya yang basah karena air matanya yang tidak berhenti mengalir sejak kemarin malam.

“Ji…”

“Apa?”

Chen mendesah menatap Ji Eun yang berbaring sambil memunggunginya. Pelan-pelan, Chen mencoba menarik selimut yang membungkus tubuh kekasihnya…

“JANGAN GANGGU AKU !!”

Dia mengelus dada mendengar teriakan gadis di balik selimutnya.

“Hey Ji, kau marah ?” Chen bertanya dan gadis itu hanya menggelengkan kepala dengan cepat dibalik selimutnya.

“Ji Eun. Jangan begini, ayolah,” Chen merengek. Mengguncang pelan tubuh gadisnya.

“Aku tidak akan lama Ji Eun -ah, percayalah.”

Ji Eun menyingkap selimutnya, membalikkan tubuhnya hingga berbaring berhadapan dengan Chen. “Kau selalu berkata seperti itu. Kau pikir aku senang kau tinggal sendirian ?”

Chen mengulum senyum, tangannya mengusap lembut pipi gadisnya yang lembab, “Mianhae aku selalu meninggalkanmu, aku juga tidak ingin seperti ini Ji Eun -ah. Tapi pekerjaan mengharuskanku.”

“Kau bisa menolak kan ?” tanya Ji Eun, dia menggosok hidungnya yang berair dengan punggung jarinya.

Chen meletakkan telapak tangannya di ubun-ubun Ji Eun, “Gurae, aku bisa menolak. Tapi jika aku dipecat bagaimana ? Kau mau membayar sewa apartemenku ? Mau membiayai biaya makanku sehari-hari ?”

Ji Eun mengerucutkan bibir. Dahi dan hidungnya juga, berkerut bersamaan. “Arrasso !” gadis itu cemberut.

“Kau marah lagi, Hey Lee Ji Eun….”

“TIDAK!” teriaknya seraya kembali membalikkan badan, memunggungi pria itu lagi. Chen berdecak kesal.

“Hanya satu minggu Ji…”

“Terserah !”

Diam. Ji Eun memejamkan mata, pura-pura tidur. Chen bergerak, melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Dagunya dia sandarkan di bahu gadis itu.

Ji Eun sedikit bergidik  ketika merasakan embusan nafas Chen yang hangat menjalari tengkuknya. “Jangann menggodaku !” desisnya, Chen tersenyum lucu.

“Kau takut kesepian jika kutinggal nanti ?” Chen bertanya dan Ji Eun hanya menjawab dengan anggukan.

“Aku akan menelepon setiap pagi dan malam Ji, tenang saja.”

“Tapi itu berbeda. Apartemen akan terasa sepi. Aku tidak suka makan sendiri Oppa !”

“Kalau begitu biar Bada tinggal di apartemenmu saja selama seminggu nanti. Dia bisa menemanimu makan, nonton TV, atau apa saja. Bagaimana ?”

“Cihh ! kau pikir anjing bisa seperti manusia apa ?” Ji Eun mencibir.

“Dasar Ji Eun cerewet,” Chen mengacak rambut Ji Eun sebelum dia bangkit dari tempat tidur.

Gadis itu duduk di tempat tidurnya, menatap Chen masih dengan mata yang basah. “Kau mau kemana ?” tanyanya saat melihat Chen memakai jaketnya kembali.

“Pulang, aku harus membereskan barang-barangku untuk besok. Kau jaga diri baik-baik, jangan lupa sarapan dan makan malam tepaat waktu. Oh ya, kau harus sikat gigimu arra ?”

“Kau bukan Appaku. Jangan mengoceh terlalu banyak,” wajah Ji Eun kembali terlihat kusut. Gadis itu menghempas tubuhnya ke tempat tidur lagi.

Chen tersenyum. Pria itu merangkak perlahan menaiki tempat tidur.

“Hey, kau membuatku terkejut !” Ji Eun berteriak ketika mendapati kekasihnya sudah berada di atas tubuhnya.

“Kau tidak ingin menciumku ?” tanya Chen dengan wajah polos.

“Tidak akan, cepat pergi sana!”

“Kalau begitu biar aku saja yang menciummu,” ucap Chen cepat lalu menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.

Ji Eun terdiam, dia tidak ingin memulai jadi dia memilih untuk tidak melakukan gerakan apapun hingga akhirnya Chen yang memulai. Rasanya begitu manis dan lembut melebihi rasa permen kapas yang selalu Chen dan Ji Eun habiskan saat pergi berkencan ke taman bermain setiap minggunya.

“Sudah ya, aku kehabisan nafas,” Chen menyudahi ciuman mereka. Melepas tautan bibir mereka. Dan kata-katanya tadi membuat Ji Eun malu, wajah gadis itu merah padam mengingat dia begitu menikmati dan sulit melepas ciuman tadi.

“Sana pergi,” dia menendang pelan paha Chen membuat pria itu berangsur turun dari tempat tidur.

“Annyeong uri Ji Eun-nie.”

Ji Eun baru bangun dari tidurnya saat jam sudah menunjukkan tengah hari. gadis itu berjalan terseok-seok ke arah dapur karena pengaruh kantuknya yang belum sepenuhnya hilang. Dia agak terkejut saat mendapati meja makannya sudah dipenuhi banyak makanan sebagai santapan sarapan sekaligus makan siangnya.

“Ini semua pasti ulah Chen Oppa,” gumamnya pelan.

Sesuatu yang berbulu halus dan lembut menyenggol kakinya, dan ketika gadis itu menundukkan wajah ke bawah dia melihat seekor anjing bermanja dengan kakinya.

“OMO ! Bada ?”

Anjing itu bernama Bada. Anjing yang sudah sangat lama tinggal bersama Chen. Ji Eun bergerak, tangannya mengelus kepala anjing tersebut. Diam-diam dia tersenyum senang. Lalu kemudian keduanya menyantap hidangan bersama.

 

“Aku akan pulang lusa.”

“Aku tahu.”

“Kau mau oleh-oleh apa?”

“Tidak usah, kembalilah dengan selamat.”

“Ya, jika itu maumu.”

Chen mendengar suara gonggongan anjing di seberang sana.

“Itu suara Bada kan ?”

“Iya.”

“Kau apakan dia hingga menggongong seperti itu? ah atau Bada melihat hantu?” suara Chen terdengar khawatir.

“Hey apa yang kau pikirkan. Kami sedang bermain !” sanggah Ji Eun dengan suara agak jengkel.

“Bermain? Apa ?”

“Kau tidak harus tahu Tuan Jung,” jawab Ji Eun dengan suara mengejek. Tingkahnya persis seperti anak-anak.

“Oh baiklah, aku tidak akan berusaha mencari tahu Nona Lee. Tapi nona Lee tahukah kau, kau itu pembohong.”

“Pembohong katamu?” dahi Ji Eun berkerut.

“Ya, PEM-BO-HONG ! kau bilang kau tidak menyukai Bada. Tapi apa yang kudengar tadi ? kau bermain bersama Bada? Haha.”

“DIAM ! KAU MENYEBALKAN !!” Ji Eun tertangkap basah, merasa malu dia memutus sambungan secara sepihak.

Chen masuk ke dalam kamar Ji Eun dengan langkah pelan. Dia menemukan gadisnya masih berada dalam selimut dan masih pula dengan piama pink yang melekat di tubuhnya. Chen  menggeleng pelan seraya tersenyum kecil, “Padahal ini sudah tengah hari,” gumamnya.

Dia berbaring di samping tubuh gadisnya, membelai rambut gadis itu dengan hati-hati.

Ji Eun memicingkan mata, dan tersenyum lebar saat melihat Chen di hadapannya.

“Aku merindukanmu,” gadis itu memeluk Chen dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. Chen tersenyum, sangat jarang Ji Eun bersikap seperti ini. Gadisnya itu sulit mengakui apa yang dirasakannya.

“Aku juga Ji.” Chen balas memeluk gadis itu. Mencium rambut gadisnya.

Beberapa saat kemudian mereka saling menatap, saling melempar senyum. Ji Eun hampir meneteskan air mata saking bahagianya bisa melihat kekasihnya lagi.

Tubuh Chen bergerak tanpa dikomando, dia menghembuskan nafas tepat di depan wajah Ji Eun. Gadis itu menutup mata, dan Chen juga melakukan hal yang sama saat bibir mereka bertemu.

Tidak lama, hanya sekitar satu menit durasi ciuman mereka.

“Kau asin,” ucap Chen setelah keduanya melepas bibir.

“Apa?”

“Kau tidak sikat gigi, bibirmu asin,” ulang Chen setengah tertawa.  Gadis itu bermuram wajah, dan Chen tertawa melihat wajah gadisnya.

“Ji..”

“Mmm?”

“Ayo menikah,” sontak Ji Eun mendongakkan kepala demi melihat mata kekasihnya. Tidak ada wajah bercanda di sana, Ji Eun tahu wajah Chen saat itu menunjukkan keseriusan.

“Kenapa kau mendadak seperti ini?”

“Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak lama, aku sudah berpikir dengan matang soal ini. Menikahlah denganku. Agar kau bisa melepas rindumu setiap saat, agar aku bisa memelukmu setiap detik dan agar aku bisa membahagiakanmu seumur hidupku. Ayo menikah.”

Ji Eun tersenyum. Matanya berkaca-kaca, dia merasa terharu.

“Bagimana ?” tanya Chen lagi. Ji Eun tidak mampu menjawab dengan kata jadi dia hanya menganggukkan kepalanya. Chen tersenyum, Ji Eun juga. Mereka berpelukan lalu berciuman lagi.

Chen mengecap bibur gadisnya dengan lembut. Rasanya begitu manis dari ciuman-ciuman yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Ji Eun merasakan hal yang sama.
“Gukk…gukk…”

Bada datang entah sejak kapan, ikut bergabung bersama kedua insan yang tengah berbahagia. Dengan cepat Chen melepas tautan bibir mereka, lalu keduanya tersenyum malu. Pipi Ji Eun bahkan sudah merona.

Bada menjilati wajah Chen, “Kau merindukanku hm ?” dia mengacak bulu tebal yang menutupi kepala anjingnya. Ji Eun juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Mereka tertawa, begitu bahagia. Lalu Chen memeluk Ji Eun tidak begitu erat karena ada bada di tengah-tengah pelukan mereka.

“Saranghae…”

—THE END—

“Semuanya baik-baik saja—Jika kau memelukku erat

Aku baik baik saja—Jika ada dirimu

Seperti hari yang cerah—Seperti hari yang indah”

(Everything’s alright—IU)

Iklan

21 pemikiran pada “Everything is You

  1. Aduuh, baru kali ini aku baca ff chen yg karakternya romantis. Biasanya aku baca si chen agak error mulu.. Tp dia slalu b.hasil buat aku meltingg.. Huaaaa.. Cheeennn.. My Troll.. >_____< *hugchen*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s