It Feels Like Paradise (Chapter 2)

It Feels Like Paradise 2

Title : It Feels Like Paradise

Casts : You and EXO

Author : Dira

Rating : PG-13

Length : Multichapter

Genre : Romantic, happy

(tadaaa, author kembali lagi *tebar eyeliner baekhyun*
Kali ini It Feels Like Paradise 2. Uuuu…udah pada menebak-nebak pastinya >.<

Mian…sebenernya ini multichapter tapi lupa nyantumin kalo ini bakal dipisah ceritanya hehe…
Kali ini author membawakan yang paling so sweet, so beautiful deh hehe
Selamat membaca chingudeul

________

Waktunya pulang. Kamu berdiri di halte itu dan berniat untuk mengambil uang di kantung tasmu.

Lalu…

Jarimu menyentuh sesuatu…

Menimbulkan bunyi gemersik…

Bulat dan…

Kamu mengintip ke dalam sana…

Tidak mungkin…

 

 

“Tidak mungkin…” Ulangmu.

Kamu menarik benda yang terasa di jarimu. Berharap bahwa itu adalah permen cokelat. Kamu sangat berharap temanmu berbohong soal permen itu.

Dengan perlahan kamu membuka telapak tanganmu dan…

 

Itu…

 

Benda itu adalah sebuah kancing yang terbungkus plastik. Kamu baru ingat bahwa kemarin kamu membeli kancing untuk seragammu.

Kecewa, sangat kecewa. Kamu ingin menangis, namun kamu menahannya dan malah meninggalkan halte.

Kamu tidak peduli dengan seragammu yang basah. Kamu terus berjalan dan tanpa sadar kembali ke jalan menuju toko CD itu.

Pikiranmu kacau, hatimu sangat sakit. Kamu melihat poster itu lagi, membuang wajah dan bertemu pandang dengan seorang pengemis.

Kamu bermaksud untuk memberinya uang receh dari kantungmu. Tidak ada salahnya beramal walaupun hatiku sedang sedih.

Kamu mengulurkan tangan memberinya uang itu ke dalam genggaman tangan kotor pengemis itu,  lalu berjalan kembali dengan tubuh lunglai seakan tanpa tulang.

Belum jauh melangkah, tiba-tiba kamu mendengar pengemis itu berkata.

 

“Kau memberiku permen?”

 

Kamu berhenti melangkah, membeku seperti ada kulkas di sekitarmu. Kamu membalikkan tubuhmu perlahan dan langsung menghampirinya.

Si bundar berwarna cokelat yang membuatmu bisa melihat surge bersama enam laki-laki tampan berada di sana, di telapak tangan pengemis itu.

“Demi planet EXO…kau…”

Kamu mengambilnya dan memberikan pengemis itu semua uang jajan yang ada di dompetmu.

Dia tidak berbohong. Dia memberikan semuanya. Batinmu mengingat temanmu yang misterius sambil membuka bungkus permen.

Kamu menatap permen yang kini ada di tanganmu. Mengamatinya terharu.

“Surga, surga, surgaaaaa!!!” Pekikmu gembira.

Permen itu masuk ke dalam mulutmu,melumer seiring dengan cahaya putih yang membutakan matamu.

_______

Cahaya putih itu begitu cepat menghilang, tersedot ke satu titik hingga meninggalkanmu di dalam kegelapan.

Sepi.

Sunyi.

Seperti biasa, kamu kebingungan. Itu tidak ada apa-apanya karena kamu telah enam kali merasakannya. Tapi kali ini lebih condong pada ketakutan karena kamu baru saja mendengar petir menyambar.

Lalu kamu melihat seseorang jatuh di depanmu. Entah siapa dia, wajahnya tidak bisa terlihat. Kamu berteriak sekencang-kencangnya.

Beberapa orang menyergapmu dan membawamu bersama mereka.

“Tolooonnggg!! Tolong aku!!” Jeritmu ketakutan karena kamu tidak mengenal orang -orang ini.

“Lepaskan dia!”

Kamu melihat sesosok bertubuh tinggi berada diatas mobil. Pakaian serba hitam, juga tongkat di tangannya.

“Tao…” Katamu saat wajahnya tersorot lampu. Dia seribu kali lipat lebih tampan dari siapapun. Jika semua orang mengatakan bahwa dia mempunyai wajah yang seram, garang, dan mengerikan. Namun bagimu…

Di dalam kenyataan ini…

Tao sangat tampan.

Dia melompat ke arah orang-orang ini. Berkelahi dengan mereka, menendang, memukul jatuh lawannya dengan mudah.

Setelah semua orang ambruk, Tao mendekatimu yang berdiri di tengah jalan.

Sekejap kakimu seperti jeli, lemas tak berdaya. Entah karena terpesona akan ketampanannya, atau aksinya di depan matamu, yang jelas saat kamu bisa mencium aroma menyenangkan saat Tao menghampirimu dengan tubuh tingginya, kamu  tidak bisa berpikir apa-apa.

Dia mengangkat tubuhmu seolah kau adalah benda teringan yang ada di bumi.

“Aku menyelamatkanmu.” Ujar Tao menebar pesonanya. Wajahnya begitu maskulin dan tampan dengan rambut hitam gelapnya.

Kamu mengangguk senang. Kamu tidak bisa mengambarkan perasaanmu saat itu, hanya bisa mengaitkan tanganmu pada Tao dan berbisik padanya.

“Ini terasa seperti surga…”

Di ujung jalan, setitik cahaya menyirami kalian berdua.

Tao melepaskanmu dan kamu jatuh seperti daun pada musim gugur…

________

Cahaya putih itu menghilang, berubah menjadi butiran air.

Butiran air itu memercik ke wajahmu. Kamu terpaksa membuka matamu, menggeram kesal, karena ini terasa seperti ibumu yang membangunkanmu pada pagi hari untuk pergi ke sekolah.

Matahari begitu terik, tapi kacamata hitam melindungi matamu. Kamu menemukan dirimu sedang berbaring di sebuah kursi santai dengan pemandangan laut yang menakjubkan.

Ternyata kamu sedang berada di atas kapal pesiar.

Kamu beranjak dari sana karena tidak nampak satu orang pun disana. Kapal begitu putih bersih menyilaukan dan kamu mencari kesana-kemari.

“Mencari seseorang?”

Kamu mendengar suara itu. Suara ringan yang membuatmu langsung tahu kamu tidak sendiri, kamu bersama dengan seseorang ini.

Kemudian kamu membuka kacamata hitammu karena kamu baru saja melihat…

“Lay…”

Lay mengangkat gelas cocktailnya dan tersenyum. Dia menghampirimu membawa satu gelas cocktail.

Dia mengajakmu pergi ke ujung kapal dan merangkulmu sambil menikmati pemandang laut di depanmu.

“Aku bersumpah…ini terasa seperti surga.” ucapmu meminum cocktail itu. Rasa manisnya mencubit lidahmu, tapi belum seberapa ketika kamu menolehkan sedikit kepalamu untuk melihat Lay.

Kamu gagal menahan senyumanmu. Lay tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya, membuat kamu merasa tidak akan ada orang yang bisa melakukannya selain Lay.

Tiba-tiba semuanya menjadi lautan cahaya yang menyilaukan. Lay menghilang beserta senyumannya itu.

Terlalu terang dan…

________

Hembusan angin laut itu berubah menjadi alunan musik klasik yang lembut di telingamu.

Kamu memakai dress hitam yang panjang dan rambutmu tertata dengan cantik. Kamu merasa menjadi ratu sejagat malam itu.

Gelas cocktail yang kamu pegang kini adalah gelas champagne, berbuih lucu. Kamu menyesapnya sedikit sambil mengedarkan pandangan ke ruangan yang hanya ada satu meja, dua kursi, bunga mawar, dan piano. Tirai-tirai merahnya menutupi bulan yang bersinar di luar.

Kamu terus menunggu.

Menunggu siapa yang selanjutnya bersama kamu, membuatmu terbang dan mengintip seperti apa surga yang kamu rasakan sebelumnya.

Kamu sangat sabar menunggu, walaupun kamu bukan tipe orang yang suka menunggu.

Sampai akhirnya kamu merasakan seseorang memegang bahumu.

“Maaf membuatmu menunggu.”

Kamu menoleh untuk melihat siapa pemilik suara indah itu. Suara yang memabukanmu dan kamu yakin jika dia menyanyi, suaranya dapat melemparkanmu jauh-jauh ke bulan.

“Chen…” Kamu tersenyum senang melihatnya.

Chen mengulurkan tangannya, “Maukah kau berdansa denganku?”

Kamu cepat-cepat mengangguk dan menerima ajakannya. Lalu kalian berdansa di tengah ruangan itu.

Kamu tidak bisa berhenti mengoceh dalam hatimu, betapa senangnya dirimu. Chen tampak tampan malam itu dengan tuksedo dan rambutnya yang tertata rapi.

Kamu tidak bisa menari, apalagi berdansa. Tapi saat itu tangan dan tubuh Chen menggerakanmu seakan kamu adalah boneka dan ya, kamu senang menerima semuanya itu.

Kamu tersenyum di bahunya, “Ini…terasa seperti surga.” Bisikmu ditelinganya.

Bulan di luar semakin membesar, memberikan cahaya terang yang menerpa kulitmu.

Bulan seolah terurai menjadi serpihan debu yang menerbangkanmu pergi dari sana.

_______

Kamu tidak tahu apa yang terjadi. Semuanya sepi dan kamu menutup mata lagi ketika matahari terlalu terang bersinar, menyakitkan matamu.

“Aawww…” keluhmu menyipitkan mata.

Beberapa saat setelah matamu terbiasa dengan cahaya matahari itu, kamu membuka mata.

Lalu kamu merasakan tanganmu menyentuh sesuatu.

Sesuatu yang lembab dan lengket. Ternyata kamu sedang duduk di dalam sebuah ruangan penuh keramik.

Kamu membentuk sebuah tanah liat dengan tanganmu. Sebenarnya kamu tidak tahu bagaimana cara membuatnya. Pelajaran seni di sekolah adalah salah satu pelajaran yang kamu harap segera dihapuskan.

Namun tiba-tiba seseorang menuntun tanganmu dari belakang.

Dia seperti memelukmu dari belakang, namun tangannya mengajarkanmu bagaimana membentuk tanah liat itu menjadi sebuah bentuk sederhana.

Bulat memanjang, seperti vas bunga.

Kamu menoleh sedikit dan menemukan orang itu di bahumu.

“Luhan…”

Dia tidak menjawab, hanya membalas tatapanmu dengan senyuman yang sangat indah, melebihi apapun.

Jantungmu berdegup dengan cepat, tidak ada yang bisa menghitung kecepatannya. Kamu berharap tidak akan terserang penyakit jantung saat itu, karena Luhan terus tersenyum, begitu dekat dan kamu bisa melihat kulitnya yang lembut tertimpa cahaya matahari.

Tangan Luhan menyentuh tanganmu begitu lembut hingga kamu merasa bahagia akan hal itu. Dia tampak tampan memakai kaus merah itu.

Saking senangnya, kamu sampai lupa mengatakan kalimat itu.

“Aku merasa seperti di suatu tempat yang membuatku damai.” Ujar Luhan seolah mengingatkanmu.

Kamu tersenyum membalasnya.

“Ini terasa seperti surga…”

Kamu terus menatapnya. Semua keramik-keramik berjatuhan ke lantai, berubah menjadi serbuk-serbuk yang berkelipan.

Kamu tersedot bersama serbuk itu keluar jendela.

Menjauh dari Luhan…

________

Setiap perpindahan memang selalu terasa aneh, namun kali ini udaranya dingin dan kamu menggigil karena angin dingin baru saja meniup kulitmu.

Semua bulu kudukmu berdiri seiring dengan pandanganmu yang menyapu sekeliling.

Kini kamu berada di arena permainan ice skating, lengkap dengan sepatu seluncur berwarna putih.  Namun kamu tetap kedinginan karena tentu saja…

Kamu hanya mengenakan kaus tipis lengan panjang yang dapat membunuhmu.

Kamu tidak tahu mengapa berada disitu, tidak ada orang. Suaramu menggema, mengulang kata-kata itu sampai sesuatu yang hangat menutupi tubuh dinginmu.

Itu sebuah jaket ungu dan disusul sebuah genggaman hangat ditanganmu.

“Xiumin…” Gumammu melihat dia muncul disampingmu.

Lalu dia menarikmu ke tengah-tengah ice ring. Senyumannya meluluhkanmu dan kamu tidak bisa berjalan sendiri.

Kamu terus berpegangan dengannya, namun dengan sabar Xiumin menuntunmu. Tampak seperti di dalam film-film remaja romantis, tapi kamu boleh menyombongkan diri karena ini nyata. Semuanya terasa nyata ketika Xiumin memutarmu dan menangkapmu ke dalam pelukannya.

Akhirnya terjadi juga, kamu jatuh menimpanya. Dia tidak marah, malah tertawa. Berbaring disana bukanlah sesuatu yang enak bagi Xiumin, pikirmu.

Lalu tiba-tiba dia tampak seperti menyatu dengan es dibelakangnya.

Cahaya itu datang menjemputmu…

Kamu tidak lagi kedinginan.

_________

Perubahan suhu begitu cepat. Beberapa detik yang lalu kamu merasa kedinginan, namun detik ini kamu merasa cuaca tropis yang hangat.

Kamu membuka mata dan menemukan dirimu terbaring diatas pasir basah.

Pantai luas membentang di depanmu, matahari terbenam hampir menyentuh permukaan laut.

Langit begitu bersih dengan semburat merah dihiasi burung-burung yang kembali ke sarangnya.

Deburan ombak menyentuh dress putihmu yang sudah basah.

Dari kejauhan kamu mendengar sesuatu seperti derap kaki kuda. Suaranya semakin terdengar jelas dan mendekat.

Kamu melihat ke sekeliling dan menemukan seseorang mengendarai kuda itu, berjalan pelan ke arahmu.

Kamu bersumpah tidak akan ada yang bisa membangunkanmu dari mimpi ini atau jika ini kenyataan, kamu akan tetap berada disana sampai penunggang kuda itu menghampirimu.

Penunggangnya memakai kemeja putih dengan beberapa kancing terbuka, memperlihatkan kulit indahnya yang tereskpos matahari.

Tubuhmu seakan luluh lantah ketika dia sampai di dekatmu dan mengulurkan tangannya.

“Kris…”

Dia memberikan senyuman yang mematikan aliran darahmu. “Aku datang untukmu.” Ujarnya.

Kamu naik di bagian belakangnya. Tidak ada yang kamu lakukan selain memeluk pinggangnya agar tidak terjatuh saat kuda mulai berjalan lagi.

Kamu tidak bisa mengenyahkan aroma tubuh Kris yang maskulin, merasuk ke dalam paru-parumu. Aroma sabun, parfum, setengah aroma air laut yang menyegarkan.

Kamu bersumpah bahwa ini adalah surga dunia yang tidak akan pernah kamu temukan dimana pun.

Seharusnya kamu mengucapkan kalimat itu, namun kamu tampak tak sanggup mengatakannya.

Kamu ingin selamanya seperti ini, tapi kalimat itu akhirnya meluncur begitu saja dari mulutmu.

“Ini…terasa seperti surga. Aku tidak akan pernah melupakannya.” Bisikmu di punggung Kris.

Lalu tiba-tiba Kris memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Kamu terombang-ambing walaupun sudah memegang Kris kuat-kuat.

Tanganmu terlepas, seakan ada yang menariknya. Kris terus melaju bersama kudanya, sedangkan kamu terangkat ke langit.

Cahaya putih itu seolah tidak pernah berakhir.

Surga…

Apakah ini surga yang sesungguhnya?

_________

 

“Hei…hei!! Ayo pergi dari sini!”

Seorang pria tua mengusirmu yang duduk di depan toko.

Kamu menyadari betapa kotornya seragammu ketika melihat pantulan dirimu di kaca toko CD itu.

Kamu tersenyum sendiri ketika melihat bungkus permen di tanganmu, juga poster EXO-K dan EXO-M.

Mimpi atau bukan, kamu menganggap itu terasa seperti surga.

Tapi…

Kamu menatap bungkus permen itu lagi dengan sedih.

Dimana pangeran itu? Aku tidak menemukannya…

Kamu sangat sedih dan kecewa. Rasanya ingin memukul teman misteriusmu itu, namun…

Kamu melihat seseorang di seberang jalan.

Laki-laki itu tampak lebih spesial dari apapun dan bersamanya adalah surga yang sebenarnya.

Mungkin suatu hari akan ada saatnya menyeberangi jalan ini dan memegang tangannya, lalu menjalani kedua belas pengalaman yang kamu lewati bersama member EXO.

Entah apakah akan menonton di bioskop, atau berbaring di tempat tidur seharian bersamanya, atau dia akan menyelamatkan dirimu, apakah akan melewati liburan musim panas di atas kapal pesiar, atau menunggangi kuda di sepanjang pesisir pantai.

Dialah pangeran yang sesungguhnya.

________

#THE END#

________

Gimana chingudeul? Seru? Seru? Ayo jangan pingsan ngebayanginnya hahaha
Aduuhh rada bingung bikin akhirnya. Tapi chingudeul ngerti kan, kalo pangerannya itu terserah kalian. Mau ngebayangin gebetan, pacar, ato bias dari grup lain…
Seterah deh, suka-suka chingudeul hehe

Hayo, author mau tahu lagi nih, siapa yang paling romantis?

Kalo author milihnya Lay, sama Xiumin. Kapan lagi kan naik kapal pesiar sama Lay trus jatoh nimpa si gembul Xiumin 😀 hahaha

Udah puas kan?
Jangan lupa tinggalkan comment kalian. Entar di respon sebagai masukan dan tanda terima kasih
Gamsahamnida *bow with do kyungsoo O.O*

Hangukffindo

Iklan

17 pemikiran pada “It Feels Like Paradise (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s