Lacrimoso (Chapter 5)

LACRIMOSO

Author                           : Keybummie

Cast                             : Kim Jong In  (Kai)

Kris  ( Wu Yi Fan)

Han Seung-Hee

Genre                           :  Romance  / Angst / Action

 

Readers anyeoooong 😀 ,, ga kerasa tau tau udah sampe chapter 5 yaaaaa hehehehe ,, di chapp ini author memutuskan untuk mengklimakskan (?) permasalahan cinta bersegi segi antara kris-seunghee-kai . So , cekidot ! *authorkebanyakanNgomong*

 ___________________________________________

Chapterr 5

“Bertemu dengan orang yang kusukai .. “

Hey .. Kau .. wanita berbalut gaun orange terang .. bagaimana bisa kau mengatakan hal itu padaku ? bagaimana bisa kau ingin bertemu dengan orang yang kau sukai , tepat didepan mataku ? kau menyukai orang yang menjadi sainganku ? orang yang sama sepertiku .. menginginkan nyawamu ? mengapa kau suka sekali menjalin hubungan dengan monster ? Aku kira .. senyumanmu hanya untukku . Ternyata aku salah ..

DORR !!

“ aaakkhh .. ! “

Seung-Hee menjerit keras ketika mendadak—terjadi begitu cepat, bahkan aku sendiri tidak bisa mengantisipasinya, sebuh peluru berdesing dan tepat mengenai pintu bertuliskan angka 1024, hanya berjarak 30 cm dari kepala Seung-Hee .

Darah berdesir kencang di belakang kepalaku ketika refleks kutarik Seung-Hee kedalam pelukanku, membanting tubuh kami berdua ke lantai, karena feeling-ku tidak pernah salah . Ya , feeling seorang monster sepertiku tidak akan pernah salah untuk menebak apa yang akan terjadi berikutnya, setelah peluru pertama meleset dari target .

“aaaakkkhhhh … !!!! “

DORR !! DORR !! DORR !! DORR !!

Teriakan Seung-Hee bergaung di koridor rumah sakit, bersaing dengan suara desingan peluru yang ditembakkan secara beruntun kearah kami . Otakku berpikir keras, ditengah hujan serpihan pintu kamar 1024, peluru peluru ini pasti ditembakkan dari jarak kurang dari 50 m , jika dilihat dari suara yang dihasilkan dan keakuratan peluru . Siapapun mereka, pasti posisinya tidak jauh dari sini .

“Seung-Hee ! can you run with me ?

Aku berteriak keras berusaha mengalahkan suara berondongan peluru diatas tubuh kami berdua. Seung-Hee mendongakkan kepalanya—wajahnya pucat pasi. Bibirnya bergetar, seperti tidak sanggup menjawab pertanyaanku.

DORR !! DORR !! DORR !!

Tubuhnya sedikit terhentak ketika berondongan peluru kembali datang. Lalu dengan mantab, Seung-Hee menganggukan kepalanya .

“dalam hitungan ketiga, kita berlari ! oke ! 1 .. 2 .. 3 .. ! “

Tepat pada hitungan ketiga aku dan Seung-Hee bangkit berdiri, berlari menerobos serpihan kaca jendela dan pintu kamar rumah sakit .

DORR !! DORR !! DORR !!

SHIT !

Aku memaki ketika kusadari tembakan peluru mereka kini mengikuti kami . Alhasil, semua kaca koridor rumah sakit pecah dan kurasakan pipiku sedikit perih—tergores kaca. Genggaman tangan Seung-Hee semakin erat di tanganku, dan hatiku berkata bahwa aku harus melindunginya .

Ya .. apapun caranya .. dia tidak boleh mati disini !

“HEY ! “

Mendadak, pintu emergency yang berada persis 2 meter didepan kami terbuka . Seorang lelaki Korea dengan kulit agak gelap berteriak memanggilku, dan menggunakan isyarat tangan untuk mengikutinya . Mataku membulat menghadapi fakta ini, Begitupun Seung-Hee karena kini genggaman tangannya semakin erat di tanganku .

“Jong In-ssi ?? “

Pria itu mengacuhkan Seung-Hee ketika dia memanggil namanya . Sedangkan aku ? ya, aku menarik tangan Seung-Hee dan melemparkannya memasuki emergency-exit .

BLAM !

Jong-In membanting pintu emergency, dan berbalik menghadapiku dan Seung-Hee—tersengal sengal mengatur nafas . Mata Jong-In bertemu dengan mataku , kami menghabiskan 1 menit penuh hanya untuk saling menatap .

Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Seung-Hee saat ini, namun yang ada di pikiranku hanya satu.

Aku sedang bekerja sama dengan pesaingku  hanya untuk menyelamatkan nyawamu, Han Seung-Hee .

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

Asal kau tahu, goresan goresan di tubuhmu itu tidak seberapa dengan rasa sakitku ketika melihat pria lain yang menyelamatkanmu sementara seharusnya, aku lah orang yang melakukannya ..

 

“ Kim Jong In-ssi ? “

Aku menoleh, menatap Han Seung-Hee setelah suara lirihnya memanggil namaku . Wajahnya yang kini penuh dengan debu menatapku nanar. Kulirik tangannya, dan kujumpai luka luka goresan kaca disana . Bahkan kini kakinya tidak berbalut apapun . Gadis pintar, dia pasti melepas stiletto-nya ketika akan berlari .

“ Mereka orang orang-mu .

Aku berbicara pada pria berambut pirang terang didepanku . Mungkin ini memang frontal, tapi tidak ada gunanya untuk menutup-nutupi masalah ini didepan Seung-Hee mengingat nyawanya sedang diujung tanduk saat ini.

“Aku tahu . “

Kris, pria itu sepaham denganku . Karena dia memilih untuk menanggapi perkataanku dan mengacuhkan keberadaan Seung-Hee .

“Bawa dia .”

Kris berucap sambil melepaskan tangannya yang sedari tadi masih menggenggam erat tangan Seung-Hee . Aku mengangkat sebelah alisku .

“Tentu saja aku akan membawanya “ Kuakui, nada bicaraku memang sedikit melecehkan .

“Kau pikir dia lebih aman bersamamu daripada bersamaku ? “ Kris menaikkan nada bicaranya sambil sedikit berjalan menghadapiku .

“ mungkin , dia juga berpikir seperti itu . “ Aku berkata tenang, walaupun aku tahu sangat mudah untuk mengontrol emosi Kris .

BRAKK !!

Tebakanku tidak salah . Kini Kris mencengkram kerah jaketku dan menghimpitku di dinding .

“Dia tidak tahu apa apa brengsek !! “ Kris berteriak kencang, dan kulihat raut wajah Seung-Hee seperti ingin menangis .

“ a .. apa .. yang tidak kuketahui ?? “

Suara Seung-Hee mengalun lirih dibalik punggung Kris, membuatnya sedikit demi sedikit melepaskan kerah jaketku.

Hening sejenak, aku melirik Seung-Hee dan kini kulihat tubuhnya sedikit bergetar . Kulepas jaket dan topiku, kuhampiri Seung-Hee dan kupasangkan topi dan jaketku di tubuhnya . Seung-Hee bahkan tidak melawan ketika perlahan, kubawa tubuhnya menuruni tangga untuk keluar dari gedung rumah sakit.

“ Yi Fan ? “

Langah kami sedikit terhenti ketika mendadak Seung-Hee berbalik untuk melihat Kris yang masih memunggungi kami berdua . Kini Kris menolehkan kepalanya dan sedikit tersenyum.

I’ll see you later 

Kulirik Seung-Hee mengangguk singkat, seolah dia percaya bahwa Kris benar benar akan menemuinya lagi nanti. Sebagai balasannya, Kris membuka cepat pintu emergency dan menghilang dibaliknya.

Perih ..

Saat ini, aku tidak tahu apa yang ada di kepala Seung-Hee , namun yang jelas perih itu muncul dan dengan jelas terasa di dadaku.

 

 

Uap air masih dengan jelas terlihat dari cangkir cokelat hangat yang berada di tanganku. Kulirik gadis bergaun orange yang kini terduduk di kasurku sambil mendekap kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya dari pandanganku. Aku memilih untuk mengambil cangkir cokelat hangat miliknya yang sedari tadi hanya dibiarkannya berada di meja. Kutarik lengan yang menutupi wajahnya, menyodorkan cangkir itu dan memaksanya untuk meminum cairan hangat tersebut. Gadis bermata almond itu hanya tersenyum lemah, lalu meraih cangkir di tanganku, menyeruputnya singkat lalu meletakkan kedua telapak tangannya di dinding cangkir—mencari kehangatan .

“ Aku sudah tahu, kau memang menyembunyikan sesuatu dariku . “

Han Seung-Hee , sang pemilik sepasang mata almond tiba tiba berbicara memecah keheningan. Jika aku boleh meminta, bukan perkatan seperti itu yang kuharapkan darinya.

“ Tidurlah, kau terlihat lelah . “ Dengan bodohnya aku masih berusaha menyembunyikan fakta menjijikan dari Seung-Hee .

“ Tolong jangan seperti ini .. “

Aku sedikit tersentak karena mendadak tangan Seung-Hee mencengkram erat tanganku. Sebutir air mata bergulir di pipinya, membuatku berusaha ekstra keras untuk menahan diri agar tidak merengkuh wajahnya .

“Jangan biarkan aku dalam keadaan seperti ini Jong In-ssi ! Kau tidak tahu betapa bingungnya aku .. betapa takutnya aku .. aku merasa seperti sedang dibohongi !! Tolong beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi .. jebal-yeo Jong In-ssi .. jeball-yeo ….

Air mata Seung-Hee berjatuhan membasahi wajahnya ,, turun kedagunya dan menetes ke tanganku yang kini berada di dekapannya . Entah apa yang akan kukatakan padanya mengenai hal ini .. terlalu banyak fakta yang harus kuungkap padamu Seung Hee-ah ..

siapa kau sebenarnya ? ”

Dengan bibir yang bergetar, suara lirih Seung-Hee mengalunkan sebuah pertanyaan yang dapat dengan jelas kuketahui , berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam . pertanyaan yang merupakan sebuah hasil dari kebingungan, ketakutan, dan kecurigaan yang dirasakannya selama ini. Aku .. mungkin telah merusak hidupnya ..

“ Seung Hee-ah .. “

Suaraku berat dan parau .. dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengucapkan namanya . Memanggil namanya . Memanggil nama gadis yang sudah mampu meporak porandakan pertahanan diriku . Aku, seorang Kim Jong-In yang hatinya sudah terbakar menjadi abu sejak lama ..

Tanganku yang berada didekapannya kini berbalik menarik tubuh Seung-Hee hingga berada di dekapanku. Kupeluk tubuhnya perlahan .. dan dera tangis Seung-Hee semakin menjadi .

“ Kau tak akan sanggup jika mengetahui siapa aku sebenarnya .” Kutempelkan bibirku ke telinganya, mengucapkan sesuatu dengan harapan bisa membuka jalan baginya untuk mengerti maksud hatiku . perlahan, kutempelkan bibirku ke bahunya , menciumnya pelan ..

Tubuh Seung-Hee bergetar dalam pelukanku, bahunya naik turun seirama dengan tangisnya yang mulai mengisak. Sesaat kemudian isak tangisnya mulai berhenti, namun aku tahu air mata masih menderas disana. Kurasan tangan halusnya mengelus tengkukku, membuatku memejamkan mata menikmati sentuhan tangannya.

“ bukankah .. kau sudah bisa melihat perasaanku dengan jelas ? “

Aku sedikit terkejut dan mengangkat bibirku dari bahunya . mengapa mendadak Seung-Hee berbicara seperti itu ? perkataanya seolah olah menjelaskan benang tak terlihat yang menghubungkanku dengannya .

“apa yang akan kau lakukan ketika seorang wanita telah menjatuhkan pilihannya padamu ?”

Seung-Hee kembali bertanya, dan kini aku mengeratkan pelukanku. Kami terdiam lama,, aku tahu dia masih menunggu jawabanku. Kubuka mataku ketika usapan tangan Seung-Hee di tengkukku berhenti. Aku tidak mau kehilangan dia .. aku mau tangan itu tetap mengusap tengkukku, aku mau hanya tangankulah yang berhak merengkuhnya seperti ini ..

“aku, akan terus percaya pada wanita itu apapun yang terjadi . “

Hening. Terjaga. Detik jarum jam terdengar nyaring. Suara klakson dan deruman kendaraan 5 lantai dibawah kami pun silih berganti memenuhi ruangan. Seung-Hee bergerak pelan ingin melepaskan diri dariku, namun buru buru kutahan tubuhnya.

“jangan lepaskan. Aku mohon .. tetaplah begini untuk sementara waktu ..”

Seung Hee-ah .. jika kau melepaskan pelukan ini, aku tidak tahu apa aku masih bisa memelukmu seperti ini lagi di kemudian hari, jadi aku mohon.. untuk sekali ini saja biarkan aku merasakan detak jantungmu di dadaku ..

“Aku menjatuhkan hatiku padamu Jong In-ssi .. “

Tes !

Sebutir air mataku terjatuh.

nan neo nugunji molla, naega neo maeum-meul jal moleugessjiman, nae maeum-eun imi neo wihae beomhaess-eoyo .. ( aku tidak tahu kau siapa, aku tidak tahu hatimu, tapi hatiku sudah jatuh padamu .. ) “

Seung Hee-ah .. hentikan .. aku mohon ..

“ Apakah kau percaya padaku ? “ Bibirku kini berganti mengecup tengkuknya ,, menekankan bibirku lebih keras dari yang sebelumnya , berusaha menyalurkan perasaan hatiku untuk Seung-Hee .

Seung-Hee meregangkan pelukannya dan merengkuh wajahku dengan kedua tangannya . Jantungku berdebar tidak karuan, dan aku yakin begitu juga dengan jantungnya . Darah berdesir dibelakang telingaku ketika mataku bertemu dengan mata almond miliknya . Sedikit kumajukan wajahku, hingga kini ujung hidungku bertemu dengan ujung hidungnya .

“ Apakah kau percaya pada hatiku ? ” Aku kembali bertanya pada Seung-Hee . Hening sejenak ,, matanya sudah berheti mengeluarkan air mata hingga kini aku bisa menikmati sepasang almond beriris cokelat terang yang hangat itu .

Seung-Hee mengangguk pelan, namun terlihat mantab sambil menggesekan kedua ibu jarinya di pipiku, lalu suaranya kembali mengalun lembut.

“kalau begitu kau akan terus mempercayaiku apapun yang terjadi kan ? siapapun dirimu yang sebenarnya,, apapun yang sedang terjadi saat ini,, walaupun kau membiarkanku untuk mengetahuinya,, aku akan terus disampingmu … kau akan terus memiliki hatiku .. apapun yang terjadi ..

Seung Hee-ah .. tolong .. jangan berkata apa apa lagi .. jangan pernah menyatakan hal yang tidak bisa kubalas dengan jawaban yang kau mau ..

“ Aku .. tidak akan pernah menyakitimu .. tidak akan pernah “ Kedua lenganku kini bergerak melingkari pinggangnya, membawa tubuhnya lebih dekat denganku .

“Jika membiarkanmu mengetahui siapa aku sebenarnya akan membuatmu sakit, maka aku tidak akan pernah memberitahumu .. “

Aku berbicara sambil membiarkan hidungku bertemu dengan pipinya, dahinya, dagunya, lalu kembali lagi ke hidungnya .

“Jika suatu saat nanti kau mengetahui bahwa aku berbohong padamu, berarti aku sedang berbohong agar kau tak merasa sakit .. “

Dia kembali menangis, karena kini kurasakan pipiku basah terkena air matanya. Hatiku sedikit tenang karena 2 kalimat yang baru saja kukatakan pada Seung-Hee bukanlah merupakan sebuah kebohongan. Memang itulah fakta yang ingin sekali kuutarakan padanya, fakta yang mendorongku untuk menyembunyikan semua laptop dan alat sadap di gudang apartemenku tepat sebelum aku membawa Seung-Hee kesini. Hatiku miris membayangkan apa yang akan terjadi, setelah aku memutuskan segala bentuk komunikasi dengan Tuan Kagiwara, mengingat ponselku pun sudah kuhancurkan dan serpihan nya berserakan diluar jendela apartemenku.

 

L.A.C.R.I.M.O.S.O

Hey kau, perempuan bermata almond ! aku, Wu Yi Fan, bersedia melakukan apa saja asal di dunia ini, senyumanmu hanya untuk aku saja ..

 

BUAAGGHH .. !!

Tinju yang entah untuk keberapa kalinya kembali menghantam wajahku, membuatku tersungkur menabrak gunungan kardus dibelakangku. Aku mencoba bangkit berdiri, dan aku berhasil. Selusin pria berstelan jas hitam yang mengepungku tampak terkejut, tidak menduga aku bisa kembali bangkit setelah babak belur dibuatnya.

Cuih !

Aku meludahkan darah yang memenuhi mulutku, dan kini kuperhatikan salah satu dari mereka berbicara di ponselnya, mengangguk singkat lalu berjalan ke pintu gudang tempat penyimpanan bahan peledak—tempat dimana aku sekarang berada.

Sebelas pria tersisa berjalan mendekat kearahku, dan beberapa detik kemudian perutku mual merasakan tendangan dan tinju tinju lainnya pun segera mendarat ketubuhku .

BUAAGHH !! BUAAGGHH !! BUAAGGHH !!

SRRAAAKKK !!!

.” aaakkkhh … “

Erangan meluncur dari mulutku kala tubuhku kembali terhempas, terguling dua kali dan terhenti setelah kurasakan sekujur tubuhku lemas dan tak berdaya .

“agen-mu memang luar biasa Bos, perlu 3 jam lebih bagi kami untuk melumpuhkannya .”

Sebuah suara terdengar jelas di telingaku, membuatku berguling kesamping dan menjumpai sesosok pria Kanada tinggi besar dengan cerutu di mulutnya, memandangku bengis . Tangannya terayun merogoh saku celananya .. lalu ..

DORR !!

Sebuah peluru berdesing kencing dan tepat mengenai lantai yang berjarak 20 cm dari kepalaku. Aku memejamkan mata, berusaha menghalau debu dan serpihan semen yang porak poranda terkena tembakan . Aku mendengar derap langkah berat yang semakin lama semakin mendekat, lalu sedetik kemudian erangan kembali meluncur dari mulutku.

“aaakkkhhh ..”

Tangan Mr.Blanchett, menjambak keras rambutku dan menarik wajahku agar bertatapan langsung dengan wajahnya .

you choosed the wrong way, Kris . “

Satu fakta menyergapku. Dia bukanlah Mr.Blanchett yang selama ini kukenal.

“kau mengulur waktu begitu lama, kau membuang 3 bulan dengan percuma, dan beberapa jam yang lalu kau MENYELAMATKANNYA .”

Bau tembakau swedia tercium jelas di hidungku ketika Mr.Blanchett berbicara setengah berbisik padaku. Darah terus mengucur dari pelipis dan ujung mulutku, membuat mataku tidak lagi bisa melihat dengan jelas .

“ apakah kau ingin mati secepat ini ? “

Kepalaku mulai terasa pusing karena mencium aroma tembakau yang kini bercampur dengan bau amis darahku sendiri. Oh, aku lupa . Jambakan Mr.Blanchett bisa juga menjadi penyebab kepalaku serasa terbelah dua .

“Kau tahu pengorbananmu ini tidak ada gunanya. Gadis itu akan tetap mati. Kris, you choosed the wrong way .

BUAAGGHH !!

Mendadak Mr.Blanchett bangkit berdiri dan menendang perutku keras, membuat beberapa cairan darah keluar dari mulutku. Dalam hidupku aku tidak pernah berhalusinasi, namun kali ini sepertinya aku sedang mengalaminya karena perlahan aku seperti mencium wangi parfum khas Han Seung-Hee . Ya …. ini memang halusinasi .

“kau masih ada waktu hingga 3 hari kedepan untuk memastikan Han Seung-Hee sudah tewas. Biasanya agen yang gagal langsung mati begitu aku menembaknya seperti aku menembakmu beberapa menit yang lalu. Tapi kau Kris .. aku masih memberimu kesempatan. 3 hari kedepan pukul 7 malam. Jika kau tidak bisa memastikan kematiannya, bendera perang antara kita sukses kau kibarkan . “

“ Hey Mr.Blanchett .. “

Bagus. Bahkan sekarang aku tidak bisa mengontrol omonganku sendiri. Aku mendengar suara gesper sepatu berputar di lantai.

“ Butuh lebih dari 12 orangmu untuk membunuhku , tolol . “

Hening.

Tak ada suara lain selain nafasku yang makin berat.

Sedikit rasa senang menyusup kehatiku sehabis mengatakan sebaris kalimat tadi pada Mr.Blanchett. Suara ketukan sepatu itu kini berjalan menjauh dariku .

“ 3 hari lagi, Kris . “

Pintu gudang mengalun tertutup, membiarkanku yang kini berusaha mempertahankan wangi parfum Seung-Hee dikepalaku. Aku lebih takut kehilangan hal yang berhubungan dengan Han Seung-Hee daripada mengibarkan bendera perang .

 

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

“ apakah jendela lebih menarik daripada aku ? “

Aku terlonjak kaget dari kesibukanku menatap jendela kamar apartemen Jong-In, membalikkan tubuh dan mendapati Jong-In sedang berdiri sambil melipatkan kedua tangannya sembari menatapku cemburu .

Aku tertawa kecil melihat ekspresi wajahnya. Salah satu ujung bibir Jong-In tertarik keatas, seperti menahan senyum yang ingin terlukis disana.

“ walau bagaimanapun juga kekasihmu itu aku .. bukan jendela .. “ Jongin kini bersandar di tiang tempat tidur,, memainkan jari jarinya sambil sesekali melirik kearahku.

Astaga .. sejak kapan dia bisa bertingkah seperti anak kecil begini ?? bukankah dia Kim Jong In ?? lelaki sombong angkuh dingin  dan datar ?

“Aku hanya melihat keadaan luar sebentar, ternyata pemandangannya indah dari sini .. apakah kau mau melihatnya juga ? sini … sini .. “

Tanganku mengisyaratkan padanya untuk mendekat kepadaku, namun dia hanya mendengus pelan sambil terus menatapku.

“Buat apa melihat keluar kalau objek yang lebih indah kini sudah ada di depan mataku ?”

Mataku membulat mendengar perkataan Jong-In, lalu sedetik kemudian senyum kembali menghias bibirku, begitupun di bibirnya. Sesuatu menarikku untuk berjalan maju mendekatinya, dan tahu tahu bibirku sudah menempel lembut di bibirnya. Jong-In membalas ciumanku, karena kini aku merasakan bibirnya membuka dan menutup seiring dengan bibirku. Dan tahu tahu dia sudah melepas ciuman kami tepat ketika nafas kami berdua sudah mulai memburu.

Well, dia memang pintar mengontrol nafsunya sendiri.

Aku menggigit bibir, menahan malu.

Ketahuan sekali bahwa aku menginginkannya …

“Aku sedang menunggu Yi Fan sebenarnya. “ kuputuskan untuk mengangkat wajahku dan berkata jujur padanya.

Ini sudah selang 3 hari sejak kejadian di rumah sakit, dan belum ada kabar apapun mengenai Yi Fan. Tentu saja aku mengkhawatirkannya, melebihi kekhawatiranku pada Mr.Lee yang mungkin kini sedang menyisir seantero Korea untuk menemukanku. Beruntung, kemarin aku sudah menelfonnya dan memberitahukannya bahwa aku dalam keadaan aman. Sudah cukup pengorbanan yang dilakukan Mr.Lee, aku memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini sendirian

“kau bukan satu satunya yang belum jujur padaku. Dia juga. “ Aku buru buru menambahkan ketika kulihat raut wajah Jong-In yang sedikit berubah.

“Jika tidak terjadi apa apa, dia akan tiba disini jam 5 sore nanti “ Jong-In berkata tenang lalu beranjak menuju dapur, memulai rutinitas barunya membuatkan cokelat hangat untukku.

“bagaimana kau bisa tahu ? kau berkomunikasi dengannya? Bagaimana bisa ?” aku memberondongnya sambil menengok lewat jendela, kalau kalau saja Yi Fan datang sesuai dengan apa yang dikatakan Jong-In, walaupun jam masih menunjukkan pukul 3 sore .

“aku tidak harus jujur padamu bukan, Nona Han ?” Jong-In menengokkan wajahnya sambil tersenyum nakal.

Aku baru saja ingin membalas perkataan Jong-In ketika suara ketukan terdengar dari arah pintu. Sontak aku dan Jong-In saling berpandangan, kepalanya mengedik kearah belakang lemari menyuruhku untuk bersembunyi. Aku segera beranjak kebelakang lemari, sekilas kulihat Jong-In mencabut pistol yang menempel dibawah meja dan mengacungkannya kearah pintu sambil berjalan untuk membuka selotnya.

Jantungku berdegup kencang, dalam hati aku bersiap siap untuk lari seperti 2 hari yang lalu. Tubuhku sekarang sudah terbiasa berlari dalam rangka menyelamatkan diri.

“ jangan buang buang pelurumu untuk menembakku. Diluar sana masih banyak orang yang seharusnya kau habisi “

Jantungku seperti mencuat keluar mendengar suara yang sangat familier di telingaku. Sontak, aku menggeser tubuhku dari belakang lemari, dan kujumpai sesosok pria jangkung berambut pirang menyala dengan ujung pistol Jong-In menempel di keningnya.

“ Yi Fan ! “

Aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku ketika kulihat sosok tingginya berdiri diambang pintu, dengan sweater hijau botol dan jaket putih bersih membalut tubuhnya. Rambutnya yang pirang keemasan disisir keatas persis seperti ketika pertama kali kami bertemu. Ini semua adalah fakta bahwa aku merindukannya ..

Aku sedang berlari kearahnya ketika sesuatu menghentikanku.

“ wajahmu kenapa ? “

Bekas bekas luka perkelahian nampak jelas di wajah Kris. Bahkan dari jarak sejauh ini luka itu terlihat jelas di wajahnya . Aku melanjutkan langkahku dan kini, luka luka itu terlihat semakin jelas.

“ apa yang mereka lakukan padamu ? “ Kali ini Jong In yang berbicara, sedangkan aku dan Yi Fan hanya terdiam .

Jong In kini berjongkok dibawah meja, menempelkan kembali pistolnya dan beranjak ke lemari tempat aku bersembunyi beberapa menit yang lalu.

Aku mengalihkan tatapanku ke Yi Fan yang kini sedang tersenyum nakal padaku . Alisku terangkat.

“ Kau merindukanku ? “

PLAAKKK !!

“ aww ! Yaa Han Seung-Hee !! “ Kris mengaduh kencang ketika tanganku mendarat keras di lengannya .

“ aku tidak merindukanmu tapi aku mau marah padamu !! bagaimana bisa kau meninggalkanku dan tidak memberi kabar selama 3 hari !! “ Aku berteriak keras dan tiba tiba tubuhku tertarik sehingga berbalik membelakangi Yi Fan .

Jong In sedang menatapku sembari menyodorkan sebuah kotak putih bersih berisikan obat obatan dan perban .

“ Obati dulu dia, aku pergi sebentar . “

Jong In berkata singkat, meraih jaket yang tersampir di kepala tempat tidur lalu keluar sambil menutup pintu rapat. Aku menatap punggungnya yang menghilang dibalik pintu. Kenapa dia ? apakah dia marah ? kenapa ketika Yi Fan datang emosinya langsung berubah ?

Kutengok Yi Fan disampingku yang entah mengapa juga sedang menatapku. Aku menggandeng tangannya menuju sofa terdekat .

“Pelan pelan ya .. it’s really hurt . “ Yi Fan berkata ketika tanganku mulai mengobati lukanya .

“ Kau , kemana saja sejak tiga hari ini ? “

Hening. Yi Fan terdiam . Tanganku yang sedang mengobati dagunya pun terhenti karena dia tak kunjung menjawab pertanyaanku . Yi Fan , kau kenapa ?

 

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

“ Kau , kemana saja sejak tiga hari ini ? “

Hatiku mencelos mendengar pertanyaan Seung-Hee .

“ Seung Hee-ah . “ hatiku bergetar ketika bibirku mengucap namanya. Kuputuskan untuk melanjutkan perkataanku . “ waktu dirumah sakit, kau bilang kita akan mengunjungi orang yang kau sukain bukan ? “

Seung-Hee, yang sedang menempelkan plester di dahiku, menurunkan pandangannya dan menatap mataku. Dalam hati aku bersyukur karena masih bisa mendapat kesempatan melihat sepasang biji almond yang hangat miliknya. Perlahan, Seung-Hee tersenyum, membuat darahku mengalir keras ke kepalaku.

“ dan aku tidak menyangka ternyata dia juga menyukaiku . “

Seung-Hee berkata riang dan sedikit malu malu. Khas wanita yang sedang jatuh cinta. Sedangkan aku? Aku memikirkan bagaimana caranya untuk tersenyum ketika hatiku serasa dirobek jadi dua.

“ Jong In kah orangnya ? “

Kalimat itu meluncur bebas dari bibirku, melawan kehendak otakku sendiri.

Seung-hee berhenti tersenyum, dan memandangku dengan bingung. Aku sendiri bingung mengapa aku bertanya tentang hal ini. Walaupun aku tahu jawabannya akan menyakitkan.

yes, he’s the one

Diam . semuanya diam . aku diam, dia pun diam .

why ?

Seung-Hee mengangkat alisnya, namun tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak tahu seperti apa bentuk wajahku sekarang. Yang ada di otakku hanyalah Seung-Hee, Jong In, dan bagaimana caranya untuk bunuh diri.

I know that you’ll be happy for me. You’re a good friend , Yi Fan . I know since the first time we met . “

Tangannya memang menggenggam erat tanganku, namun perkataanya seolah melemparku dari jendela apartemen ini. Apa tadi dia bilang ? friend ? good friend ?

“ kau mau kopi ? i’ll make it for you . “ Tubuh Seung-Hee kini berdiri dari sofa dan berjalan menuju dapur, meninggalkanku dengan entah perasaan apa yang kini bercokol di hatiku.

Hari sudah mulai gelap, dan ini sudah hari ketiga sejak aku terkapar nyaris tidak bernyawa di gudang penyimpanan bahan peledak.  Dan hari ini, aku datang mengunjungi gadis yang kucintai lengkap dengan pistol dibalik jaketku.

Apa yang akan kau lakukan ketika orang yang kau cintai ternyata tidak punya hati untukmu ?

Aku datang kesini dengan segala persiapan yang lengkap, namun aku tidak menyiapkan apapun untuk menjawab pertanyaan itu. Aku sudah melangkah sejauh ini, namun aku tidak membawa bantal atau apapun sehingga ketika aku jatuh, aku jatuh keras sekali.

Dan perih sekali ..

Dan menyakitkan sekali ..

Pistolku mendadak terasa berat dibalik jaketku. Namun pada akhirnya tanganku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan ponselku.

Sebentar lagi pukul 7 malam .. dan aku harus menunaikan tugasku pada sang Big Boss .

Kukeluarkan pistolku, mengelus larasnya pelan, sedangkan tanganku yang satunya mulai mengetik kabar kepada Mr.Blanchett .

Selesai mengetik kabar, ponselku kembali kumasukkan kedalam saku celanaku. Pistolku masih berada di tanganku, menunggu salah satu pelurunya terlepas. Ingatanku kembali pada kata kata yang kukirimkan pada Mr.Blanchett .

 

 

Han Seung-Hee masih hidup. Dan akan terus hidup selama aku ada disampingnya “

 

 

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

-tbc-

 

Readerss !! oh my God !! author mewek mewek gajelas waktu Kris tau Seung-Hee udah sama Kai !! T_____T *gimanasihthor* *ceritajugaLusendiriyangbikin*

Author juga mau ngucapin terimakasih sebesar besarnya sama readers yang udah setia ngikutin ff author ini … *deepbow* semoga ceritanya tidak berakhir mengecewakan .

Akhir kata see you next chapterr and comment pleeeaaaasseeeeee ^^

 

Iklan

26 pemikiran pada “Lacrimoso (Chapter 5)

  1. Thoooorrr ini kelanjutannya manaaaa?? T^T kasian gegeku yg tampan itu kalah sama si pantat panci #plak (mianhae, Kai~) ayo lanjutin dong, thooorrr hueee

  2. kyaaaaa><! aku baru baca lanjutan ff ini…. gimana nasib kris selanjutnya? gimana kisah cinta kai sama seunghee?? apa yg bakal dilakuin seung hee kalo dia tau semuanya? duhhh kerenn bangettt thorr!!!!!!! penasaran banget ama lanjutannya ff ini….. feelnya dapet bgt pas kris tau kalo kai sama aku /digampar author/ eh sama seung hee maksudnya… aku sempet bisa ngerasain apa yg dirasain kris/? cepetan updatenya thor jan lama lamaaaa…. mian sebelumnya jadi curhat ㅋㅋㅋㅋ

  3. Authorrrrr paraaaah its been more than a yearrr lanjutin plisssss jebal kepikiran terus niih atau kalau emg ga dilanjutin atleast kasi kita para pembaca kabar huhuhuhu i hope ini ada lanjutannya saranghe author

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s