Power Users (Chapter 3)

Power Users

(Part 3)

Author:

@ridhoach

Main Cast:

–          Kim Jong Dae (EXO-M)

–          Nam Shin Ra (OC)

–          Do Kyung Soo (EXO-K)

Support Cast:

–          All members of EXO.

–          Kim Jae Hyun (OC).

Previous Chapter:

“Ah, sambutan pertamaku sudah sukses besar.Yah, walaupun dua orang namja itu sangat mebosankan.Tapi setidaknya dia bisa memanasi tubuhku yang sudah lama tida menggunakan special power ini.Nah, selanjutnya siapa lagi yang mau ku beri sambutan? Pria api itu atau Ketuanya langsung? Ah, rasanya aku tidak sabar lagi untuk menghabisi mereka semua dengan kedua tanganku ini. Hahahahaha”.

—–

Author’s POV

Namja misterius itu pun pergi.Seiring dengan kepergiannya, salju yang ada di daerah itu pun mencair lalu hilang tanpa bekas.Cuaca kembali seperti semula.Cerah dengan matahari yang bersinar dengan teriknya.Beberapa menit setelah kepergian namja misterius itu, muncul dua namja yang mendekati 2 bongkahan ‘es’ yang tersisa.

“Ternyata, kekuatan mereka sekuat ini.Aku tidak menyangangka dia bisa mengalahkan duo maknae kita tanpa menggunakan kekuatannya yang sesungguhnya”, kata namja dengan wajahnya yang imut.

“Yah.Aku juga kaget melihatnya.Aku pikir kita menang dari segi kekuatan.Ternyata salah”, jawab namja yang tinggi satunya.

“Hati – hatilah. Sepertinya target selanjutnya adalah kamu”.

“Yah, aku tau hyung.Tapi dilihat dari jenis special power yang dimilikinya, aku menang.Apiku bisa melelehkan esnya”.

“Yah.Aku tau itu. Tapi berjaga – jaga tidak ada salahnya kan?”.

“Ne. Aku mengerti hyung”.

“Baiklah.Kamu bawa Kai, biar aku yang bawa SeHun. Palli! Sebelum manusia – manuisa itu menyadari kejadian ini”.

Sosok namja tinggi itu pun memegang ‘es’ yang berisi kai.Lalu dari punggungnya muncul sepasang sayap berapi.Dia pun terbang membelah langit siang itu.Sedangkan namja satunya memegang ‘es’ berisi SeHun lalu mengilang bersama cahaya menyilaukan yang muncul entah dari mana.

*****

Sorenya..

Jong Dae’s POV

Aku masih saja ‘terjebak’ disini.Di café tempatku bekerja.Harusnya sudah dari sejam yang lalu aku bisa pulang. Tapi apa mau dikata, diluar cuacanya sedang tidak mendukungku untuk kembali ke rumah. Hujan  salju masih saja berlangsung sejak dua jam yang lalu. Padahal tadinya cerah, tapi kenapa tiba – tiba bisa menjadi hujan salju begini?Dan lagipula hujan salju ini terasa memiliki aura yang berat di setiap butir salju yang turun.Auranya sangat mirip dengan aura dari XiuMin-hyung.Jangan – jangan hujan salju ini ulahnya lagi.Ada – ada saja tingkahnya.

Sepertinya hujan salju sebentar lagi akan berakhir. Dilihat dari menyedikitnya jumlah salju yang turun, sepertinya sekitar 15 menit lagi hujan salju ini akan benar – benar reda. Saat aku membereskan barang – barangku, aku mendapati sesosok yeoja yang ku kenal di ujung ekor mataku.Yeoja itu sedang menyeruput secangkir lemon tea dan duduk di pojok kiri ruangan café ini.Ya, dia adalah ShinRa-ssi.Teman adikku, JaeHyun-ah.

“Hey, annyeong haseo”, sapaku.

“Ah, annyeong haseo JongDae-ssi”, jawab ShinRa-ssi.

“Sedang apa disini? Kau bukan sedang mengikutiku kan ShinRa-ssi?”, candaku.

“Jinjja?!Aku mengikuti JongDae-ssi?Ani ani, aku tidak berminat padamu JongDae-ssi”, jawabnya.

“Hahahaha.Aku hanya bercanda ShinRa-ssi.Jangan dianggap serius”.

“Haha. Oh ya, JongDae-ssi sedang apa disini? Sedang bekerja?”.

“Ah, tadinya aku sedang bekerja. Tapi sudah selesai sejak satu jam yang lalu”.

“Bekerja sebagai apa JongDae-ssi? Waiter? Chef?”.

“Ah, mana mungkin aku bekerja sebagai itu.Wajahku terlalu tampan untuk pekerjaan seperti.Disini aku bekerja sebagai penyanyi ShinRa-ssi”.

“Aissh PD sekali JongDae-ssi ini.Sama saja seperti JaeHyun-ah”.

“Ya! Kami pasti mirip, dia kan dongsaengku? Bagaimana sih kau ShinRa-ssi?”.

“Ngomong – ngomong, kenapa JongDae-ssi bisa menjadi penyanyi?Setauku suara JaeHyun-ah itu sangat memekakkan telinga.Kalau kalian saudara, harusnya suara kalian tidak begitu jauh berbeda”.

“Kata siapa suaran JaeHyun-ah memekakkan telinga?Suaranya itu adalah suara kedua terbagus di keluarga kami, setelahku.Dia memiliki keakuratan penempatan nada yang sangat baik.Selama ini dia hanya tak mau menunjukkan bakatnya itu.Dia berpikir bahwa segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan bidang akademik itu tidak ada guna dan manfaatnya.Begitu pun dengan suara emasnya”, jelasku panjang lebar.

“Wae?JaeHyun-ah pabbo.Punya bakat seperti itu tapi tidak digunakannya.Dasar, gengsinya mengalahkan apapun”.

“Yah, kau tau sendiri lah bagaimana perangai dongsaengku itu.Bahkan dia lebih keras kepala daripada aku, hyungnya”.

“Ah, kau benar JongDae-ssi”.

“Oh, iya ShinRa-ssi. Belum mau pulang?”.

“Ah, ini sudah mau pulang. Wae JongDae-ssi?”.

“Ah, ani.Mau pulang bersama?Aku membawa mobil.Nampaknya suhu di luar masih sangat dingin.Aku tak tega melihatmu kedinginan di luar”.

“Ah, kau baik sekali JongDae-ssi”.

“Ah, tidak..tidak.. Ini hal biasa ShinRa-ssi”, kataku sedikit tersipu.

“Ne. Aku akan membayar ini dulu.JongDae-ssi tunggu saja di pintu keluar”.

“Ah, baiklah”.

Aku pun berjalan menuju pintu keluar. Entah ada anginapa aku ingin mengantarkan ShinRa-ssi. Hanya saja rasanya aku hanya ingin sedikit lebih lama bersamanya.

*****

Kami akhirnya sampai di sebuah rumah berlantai 2 dengan nuansa Jepang yang sangat kental di setiap sisinya.Bahkan, di perkarangan rumahnya tterdapat dua pohon bunga sakura yang kelihatannya baru berusia beberapa tahun.

“Jadi, ini rumahmu ShinRa-ssi?”, tanyaku.

“Ne. Wae? Kau pikir aku akan turun dimana kalau bukan dirumahku sendiri?”, jawabnya.

“Ah, hanya saja rumah ini sedikit..emm.. berlebihan bagiku”.

“Ah, bagiku juga begitu.Tapi mau bagaimana lagi, appaku akan mengusirku dari rumah kalau berani mengomentari design rumah hasil karyanya ini”.

“Jadi, appamu arsitek ShinRa-ssi?”.

“Ani, dia hanya seorang HRD di restoran yang ada di ujung jalan ini. Design ini hanya hasil kerjanya di waktu senggang”.

“Ah, ada – ada saja appamu ini.Ya sudah, aku hanya bisa mengantarmu sampai sini saja ShinRa-ssi”.

“Ne? Kau tidak mau mampir sebentar?”.

“Ah, rasanya tidak perlu”.

“Baiklah. Gomawo JongDae-ssi”.

“Gwenchana”.

END of Jong Dae’s POV

*****

Author’s POV

Di dalam sebuah mobil hitam yang sedang terparkir di ujung jalan itu, terdapat seorang namja yang sedang mengawasi sepasang anak manusia yang baru saja turun di depan sebuah rumah bergaya dan bernuansa Jepang. Namja itu memandang tajam kepada sepasang mausia itu.Terutama terhadap namja yang mengantarkan yeoja itu.Tatapannya dingin dan mengisyaratkan keinginan membunuh yang sangat besar.Sepertinya dia memiliki sebuah dendam pribadi pada namja yang dia awasi sejak tadi.

“Ah, akhirnya dia berpisah juga dengan yeoja itu.Aku bisa membalaskan dongsaengku dengan sepuasnya.Tanpa perlu melibatkan yeoja itu”, kata namja yang ada di dalam mobil itu.

Namja itu pun mengikuti dari belakang mobil namja tadi dengan menggunkana mobilnya. Namja itu sengaja mengambil jarak sedikit jauh agar ia tidak diketahui oleh namja yang dia awasi dari tadi. Walaupun mata namja itu tidak pernah lepas dari mobil yang dia ikuti, tetapi pikirannya terus melayang ke sana kemari. Memikirkan cara balas dendam yang paling fantastic untuk dia lakukan.

Setelah beberapa lama dia namja itu mengikuti mobil di depannya, dia sudah sampai pada salah satu ruas jalan terpadat di kota Seoul. Di badan kanan jalan terdapat beberapa pohon besar yang berjarak sekitar 10 meter antara 1 pohon dengan pohon lainnya. Melihat pohon itu, namja itu pun mendpat sebuah ide dalam cara membalaskan dendam dongsaengnya.

*****

Jong Dae’s POV

Aku sudah sampai di salah satu ruas jalan terpadat di kota Seoul. Semenjak aku meniggalkan rumah ShinRa-ssi tadi, rasanya aku merasa ada sebuah mobil yang mengikuti kemanapun aku pergi.Mobil itu berawrna hitam dan berada di belakangku sekitar 600 meter jauhnya.Aku merasakan firasat buruk dari tadi.Tapi dari tadi aku juga tidak merasakan aura power user ataupun aura aneh sedikitpun.Hal ini membuatku semakin bingung, siapa yang mengikutiku?Kalau dia dari ras Summer-K, kenapa auranya tidak bisa aku rasakan?Apa dia manusia biasa?

Derrt.. Derrt.. Grakk…

Tiba – tiba saja ada gempa yang membuat Mobilku oleng kesana kemari.Bagian depannya terangkat dan membalikkan serta menggulingkan aku beserta mobilku ke belakang berkali – kali. Aku sudah tidak bisa mengingat dengan jelasapa yang sedang terjadi. Tatapanku kabur.Dari dahiku keluar cairan hangat berwarna merah yang aku percaya itu adalah darahku sendiri.Setelah berkali – kali aku terputar, akhirnya mobilku pun berhenti dalam keadaan bagian atasnya dibawah dan bagian bawahnya berada di atas.Belum sempat aku menarik nafas lega, tiba – tiba saja aku melihat pohon yang ada tepat di seberang posisiku terangkat dan jatuh mengenai mobilku.Saat itu juga, aku merasa kepalaku terasa berat.Dan kesadaranku pun mengilang sedikit demi sedikit.

END of Jong Dae’s POV

*****

Jae Hyun’s POV

Aku dan eommaku langsung bergegas masuk ke dalam mobil XiuMin-ssi begitu mendengar kabar yang dibawanya.Tak ku hiraukan lagi rumput – rumput yang masih belum selesai ku potong di halaman itu.Sudah lama aku tidak menemui XiuMin-ssi dan begitu bertemu, dia langsung membawa kabar buruk begini? Tak adakah cara menyapa yang lebih bagus? JongDae-hyung kecelakaan?Dan lagi, nyawanya sedang dalam kondisi kritis?Aku sungguh tidak bisa bernafas saat mendengar kata – kata itu keluar dari mulut XiuMin-ssi.

Ku lihat eomma hanya bisa terduduk lemas sambil menangis di sebelahku.Aku sangat paham bagaimana perasaan yang dirasakan eomma saat ini.Terpukul itu sudah pasti.Kami langsung saja bergegas menuju Seoul Center Hospital bersama XiuMin-ssi.Aku berharap nyawa hyungku masih bisa tertolong.Bahkan, aku pun berdoa bahwa saat aku sampai disana, aku beraharap melihat wajah hyngku sambil berkata, “Aku baik – baik saja”.

Begitu sampai di rumah sakit, aku langsung turun dan berlari menuju ruang UGD.Disana, aku melihat tubuh hyungku sedang diiring masuk menuju ruang UGD. Wajahnya penuh darah segar. Bajunya sudah sobek di bagian lengan atas. Mungkin, sekilas orang lain tidak bisamengenali sosoknya. Namun aku hafal benar warna dan bentuk mata dari hyungku itu. Tidak ada orang lain yang memiliki bentuk mata sepertinya.

“Maaf, tidak boleh ada yang memasuki ruangan UGD selama operasi dilakukan.Silahkan tuan menunggu disini”, kata salah satu suster yang berada di dekat pintu.

“Tapi, dia itu hyungku”.

“Ya, tapi serahkan saja kepada kami.Kami aka bersuaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa hyung anda”.

“Ah, baiklah.Tapi, sampai nyawa hyungku tidak bisa kalian selamatkan, akan aku tuntuk kalian”.

“Ya!Kau tidak boleh begitu JaeHyun-ah. Mereka tidak salah apa – apa”, kata XiuMin-ssi yang baru tiba.

“Tapi, XiuMin-ssi….”.

“Ah, kau ini.Hyungmu kecelakaan bukan karena mereka.Jadi jangan menyalhkan mereka tentang kondisi hyungmu. Mereka tidak tau apa – apa”.

“Tapi…”.

“Sudahlah!Lebih baik kita berdoa saja demi keselamatan hyungmu”.

“Itu benar JaeHyun.Doa adalah satu – satunya yang bisa kita lakukan saat ini. Tenang dan berdoalah untuk hyungmu”, kata eommaku dengan tenang.

“Ah, baik eomma”.

Aku pun duduk di sebelah eommaku.Berbeda denganku, eomma terlihat lebih tenag dan tidak terbawa emosi.Meski dari tadi dia tidak berhenti menangis, tapi dia lebih bisa mengontrol dirinya daripada aku.Mungkin karena aku masih muda dan labil.Emosiku masih belum bisa sepenuhnya aku control.Dan lagi, yang kecelakaan itu hyungku.Hyung yang sangat aku sayangi setelah eommaku.Bagaimana mungkin aku bisa tenang?

Aku melihat XiuMin-ssi tertunduk lesu di hadapanku.Wajahnya tidak menunjukkan kesedihan.Tapi raut wajah itu menunjukkan penyesalan. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa dia bisa memasang raut wajah seperti itu? Dia menyesali apa?

“Maafkan aku JongDae-yah.Kalu bukan karena aku, kamu tidak mungkin seperti ini”, kata XiuMin-ssi pelan.

Karena Dia? Apa maksudnya? Bukannya JongDae-yah kecelakaan karena gempa yang terjadi di daerah situ?Kenapa dia berkata seperti itu?Apa maksudnya?

Beberapa jam kemudian aku melihat lampu diatas ruang UGD berubah menjadi warna hijau. Tanda kalau operasi telah selesai.Aku lansung berdiri disusul oleh eomma dan XiuMin-ssi.

“Bagaimana keadaan hyung sayadok?”, tanyaku begitu dokter keluar dari pintu ruang UGD.

“Ah, syukurlah.Nyawanya tertolong.Sekarang dia sedang tidak sadarkan diri. Nampaknya dia terus begitu sampai 3 hari ke depan. Tapi tenanglah, itu hal yang wajar”, jelas dokter itu.

“Wae? Yes!! Bolehkah aku melihatnya ahjussi?”, tanyaku kesenangan.

“Ah, silahkan.Tapi jangan terlalu lama.Biarkan saja dia bersitirahat”.

“Ah, baiklah dok”.

Aku, eomma dan XiuMin-ssi segera mmasuk ke dalam ruangan UGD.JongDae-hyung masih ku lihat terbaring di atas kasur dengan diselimuti kain berwarna hijau.Mukanya sangat pucat.Aku sangat kasihan melihtanya dalam kondisi begini.

“Hyung, cepatlah sadar.Dan pulang ke rumah.Aku janji akan melakukan apapun asalkan kau cepat sadar hyung”, kataku.

“Itu benar JongDae-yah.Cepatla sadar.Aku ingin mendengar ceritamu”, ujar XiuMin-ssi.

“Ya!Kau pikir ini suatu pengalaman yang baik XiuMin-ssi?Bercerita hanya membuat hyungku semakin lemah nantinya”.

“Ah, iya.Kau benar”.

“Ya sudah hyung, kami aka pulang dulu. Nanti malam aku akan kemari lagi menemanimu. Cepatlah sadar hyung”, ujarku seraya meninggalkan ruangan UGD

END of Jae Hyun’s POV

*****

Keesokan harinya..

Xiu Min’s POV

Sabtu pagi ini aku berencana mengunjungi para dongsaengku yang ada di apartemen milik appa dari JongDae-yah.Aku sudah memutuskan untuk bergabung dengan mereka.Semenjak kecelakaannya JongDae-yah kemarin, aku sudah mantap memutuskan untuk bergabung bersama mereka.Yah, walaupun itu berarti aku harus melibatkan mereka ke dalam dunia yang sebetulnya tidak aku inginkan.Sebagai hyung tertua, aku tidak ingin para dongsaengku menjadi pembunuh dan mengotri tangan mereka dengan balas dendam.Lebih baik aku saja yang membalaskan dendam mereka dan mengotori tanganku dengan pembunuhan. Tapi, setelah kecelakaan JongDae-yah kemarin, aku jadi sadar bahwa cepat atau lambat ras Summer-K akan menemukan dan menghancurkan kami satu persatu. Kalu sudah begitu, akan susah bagiku melindungi para dongsaengku secara bersamaan.

Ting.. Tong.. Ting.. Tong..

Aku menekan bel kamar apartemen itu berkali – kali.Sampai akhirnya pintu itu dibuka, dan aku melihat dongsaengku yang termuda, Tao-yah.

“Ah, XiuMin-hyung!Dari mana saja kau? Kenapa baru muncul?”, ujar Tao.

“Ah, biarka aku masuk dulu.Baru aku aka menjelaskan semuanya”.

“Ah, baik hyung.Duduklah disitu. Aku akan memanggil hung yang lain”.

Tak berapa lama muncullah dongsaengku sau persatu. Dimulai dari Kris, Lay, LuHan dan terakhir Tao.

“Ah, hyung.Aku kangen sekali denganmu.Sudah lama sekali aku tidak melihatmu hyung”, kata LuHan seraya merangkulku.

“Ya!Kau terlihat aneh LuHan-ah. Apa kau masih normal?”, ujarku.

“YA! Kau pikir aku sudah tidak normal hyung?”.

“Ah, hyung kau tidak banyak berubah. Tetap dingin seperti dulu”, ujar Lay.

“Jadi, apa yang membuat hyung mendatangi kami?Maafkan JongDae-yah yang tidak bisa menemuimu sekarang.Bebrapa hari ini dia tidak bisa dihubungi”, ujar Kris.

“Dia sedang di rumah sakit.Tidak sadarkan diri”, kataku datar.

“Wae?!! Apa maksudmu hyung?”, tanya Tao dengan tampang terkejut.

“Kemarin dia kecelakaan.Dan bisa dibilang secara tidak langsung akulah penyebab kenapa dia bisa sampai mengalami kecelakaan mobil”, ujarku.

“Sebentar, sebentar. Maksud hyung itu apa sih? Aku sama sekali nggak mengerti”, ujar LuHan.

“Begini..Kemarin aku memberikan sedikit sambutan kepada 2 orang anggota ras Summer-K.mereka berdua ku kalahkan dan ku jadikan mereka es. Tanpa aku duga, ternyata anggota ras Summer-K yang lainnya membalaskan dendam anggotanya yang ku kalahkan dengan cara mencelakai JongDae-yah. Mereka pikir JongDae-yah lah yang menyerang 2 anggota mereka.Dan selanjutnya seperti yang sekarang ini terjadi.JongDae-yah kecelakaan dan sekarang daia belum sadarkan diri di rumah sakit”, ujarku panjang lebar.

“Hyung, sudah berapa kali sih aku peringatkan?Jangan berbuat sesuatu sesuka hati hyung tanpa memikirkan efek sampingnya.Untung saja JongDae-yah tidak sampai mati. Kalau sudah begitu, apa yang mau hyung perbuat? Tidak ada bukan?”, Kris-ah menceramahiku.

“Yah, kau memang benar Kris-ah.Tapi asal kalian tau, aku melakukan ini semua hanya demi kebaikan kalian semua.Aku tidak ingin melihat kalian menjadi sosok pembunuh yang melumuri tangan dengan darrah.Aku tidak mau.Sebagai hyung kalian, aku merasa gagal jika kalian menjadi begitu”, kataku.

“Terus apa bedanya kalau hyung yang melakukan semuanya demi kami? Kami yang justru merasa tidak berguna sama sekali kalau hyung membalaskan ras kita seorang diri. Justru kita ada di sini adalah untuk menghancurkan mereka bersama – sama .kami ada disini bukan hanya duduk melihat kebaikan hyung. Kami juga ingin membalaskan dendam ras kita.Bukan demi kita saja, tapi juga demi orang tua kita, teman kita dan demi seluruh anggota ras kita yang sudah dibunuh mereka.Oleh karena itu, ayo kita balas dendam bersama –sama hyung”, kata Kris-ah panjang lebar.

“Kalian..Mianhe.Maafkan keegoisanku ini”, kataku.

“Nah, hyung. Kami sudah menemukan beberapa tempat yang memiliki aura paling aneh di kota ini. Ayo, kita selidiki satu persatu”, ujar Lay-ah.

“Tidak perlu Lay-ah.Aku sudah tau dimana tempat 5 orang itu berada.Hanya ada 1 orang yang belum ku temukan.Orang yang menyebabkan kecelakaan JongDae-yah.Aku sempat melihat mobilnya, tapi mukanya sama sekali tidak bisa ku lihat”, ujarku.

“Wah, kau daebak hyung.Bisa – bisanya kau sudah menemukan hampir semua orang yang kita cari.Padahal kami untuk menemukan tempat – tempat itu saja sangat susah”, kata LuHan.

“Nah, ayo kita pergi membereskan mereka semua”, kata Tao bersemangat.

“Tunggu dulu Tao-yah.Jangan tergesa – gesa.Sekarang kita ke rumah sakita dulu. Menjenguk sekaligus ‘menyembuhkan’ dia. 6 orang lebih kuat daripada 5 orang kan?”, kata Kris-ah.

“Ah, baiklah.Ayo kita pergi”, ajak Lay-ah.

END of Xiu Min’s POV

*****

Di lain tempat..

Shin Ra’s POV

Hari ini aku akan pergi menuju Seoul Central Hospital. Menjenguk appaku sekaligus menjenguk hyungnya JaeHyun-ah, JongDae-ssi yang kudengar baru saja mengalami kecelakaan dan belum sadarkan diri.Aku sudah membelikan satu keranjang buah untuk sekedar buah tangan mengunjunginya.

Entah kenapa, begitu mendengar kabar bahwa Jongdae-ssi kecelakaan, ada separuh dari diriku yang merasakan sakit dan sedih. Sedangkan sebagian lainnya tidak merasakan apa – apa. Entah apa yang aku rasakan. Padahal baru saja aku menggenal sosok JongDae-ssi, tapi rasanya aku begitu sakit mendengar berita itu.

Aku sudah sampai di depan pintu masuk rumah sakit. Sebelum aku sempat memasuki pintu itu, aku melihat JongDae-ssi sedang duduk di kursi taman rumah sakit bersama 5 orang namja yang tidak ku kenal. Tampaknya mereka sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat serius.Tungg, kenapa JongDa-ssi sudah sesehat itu? Bukannya dia harusnya masih belum sadarkan diri sampai 2 hari ke depan? Kenapa dia bahkan tidak terlihat sakit sama sekali? Secepat itu kah dia bisa sembuh?

Bzzt.. Zzrt..

Aku mendengar suara aneh dari arah tempat JongDae-ssi berada.Terlihat seberkas cahaya berwarna putih kekuningan ada di tengah mereka.Lebih tepatnya itu seperti listrik. Ommo, listrik itu berasal dari tangan kanan JongDae-ssi! Bagaimana caranya? Dia manusia biasa kan? Kenapa dia bisa mengeluarkan listrik seperti itu?Dan, kenapa namja – namja lainnya tidak aneh melihat ‘itu’?Sebenarnya siapakah mereka?

-TBC-

Mianhe kalau gaje. RCL ya readers, jangan lupa.

Iklan

21 pemikiran pada “Power Users (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s