Wedding Dress (Chapter 3)

Wedding Dress (Chapter 3)

NOTE             : Sequel of ‘Fall for You’ (Half of My Heart Chanyeol version)

Author             : Inhi_Park (@Inhi_Park)

Main casts       : Park Chanyeol & Song Yejin

Length             : Multichapter

Genre              : Romance, Drama, Marriage life

Rating             : PG-17

A.N                 :

Anyeong… ^^

Maaf karena udah ngebiarin reader nunggu kelanjutan FF ini lama banget… #bow

Kemaren2 author bener2 lagi ga semangat buat nulis, jadi FF ini terpaksa harus di pending.
Maaf yaa… semoga reader ga pada kecewa dan kabur… hahaha

Buat yang lupa sama cerita sebelumnya, nih author sediain link buat flashback ke 2 chapter sebelumnya.. (semoga ini berfungsi ya Allah… Amin)

Chapter 1 | Chapter 2

Makasih buat yang udah setia nunggu…

Happy Reading… n_n

Summary         : I’ll do anything for you…

(Chanyeol’s side)

Mataku perlahan terbuka saat indra penciumanku menangkap aroma yang sangat lezat menyeruak dari luar kamar. Aku hanya tersenyum. Sudah hampir seminggu ini, aroma masakan seperti inilah yang selalu berhasil memaksaku meninggalkan tempat tidurku yang nyaman ini. Itu artinya sudah seminggu pula lah usia pernikahanku dengan Yejin.

Aku masih dalam masa cuti pernikahan. Masa liburan ini seharusnya bisa kami manfaatkan untuk berbulan madu. Tapi kenyataannya, seminggu ini kami hanya bisa berdiam diri di apartemen.

Aku berdiri terpaku menatap punggung gadisku, atau lebih tepat jika dia ku sebut istriku yang sedang berdiri di konter dapur sambil memasak sarapan untuk kami.Terkadang aku masih merasa kalau semua ini adalah mimpi. Melihat orang yang kau cintai di setiap awal harimu itu sesuatu yang sangat menyenangkan. Saking senangnya, aku benar-benar sangat ingin berlari menghampirinya, memeluknya, lalu mengatakan padanya kalau aku benar-benar mencintainya.

Tapi aku hanya bisa tersenyum dingin saat kembali tersadar kalau aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak boleh melakukan lagi kebodohan yang ku perbuat beberapa minggu yang lalu.

-Flashback-

Berulang kali aku mengerjapkan mata, mencoba mengenali ruangan yang terlihat asing bagiku. Ah, iya… Aku ingat. Ini kamar baruku di apartemen yang di hadiahkan oleh orang tuaku sebagai hadiah pernikahanku dengan Yejin.

Dan Yejin… Aku menoleh ke sebelah kiriku. Kosong. Sepertinya Yejin sudah bangun. Dan aku semakin yakin dengan perkiraanku itu saat aku mendengar suara sedikit gaduh dari luar. Dari suara yang terdengar seperti benturan benda yang terbuat dari logam, aku hampir yakin kalau dia pasti sedang memasak di dapur.

Ku hampiri Yejin yang sedang berdiri di konter dapur sambil membelakangiku. Aku berjalan nyaris tak bersuara karena aku memang berniat untuk mengejutkannya. Saat aku sudah berdiri di belakangnya, segera ku dekap tubuh mungilnya dari belakang dan lalu mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanannya.

Dapat kurasakan tubuhnya tersentak sehingga beberapa alat masak terlepas dari genggamannya dan membuat suara gaduh saat mereka menabrak lantai.

Dengan segera ia menghentakkan tanganku yang melingkari pinggang rampingnya lalu berbalik menatap tajam kearahku. Sedetik kemudian ia berlari memasuki kamar.

~BLAM~

Ia membanting pintu lalu menguncinya dari dalam.

Aku mengikutinya dengan sekian banyak tanda tanya di kepalaku. “Yejin-ah… Kau kenapa?” Tanyaku.

Dia tidak menjawab.

Aku coba mengetuk pintu itu pelan sambil menajamkan pendengaranku. Dan kau tahu apa yang ku dengar… “Yejin… Kau menangis?” Aku panik saat dari dalam sana terdengar suara isak tangis yang tertahan.

Dan saat itulah aku ingat semuanya. Ya, aku ingat kalau Yejin masih mengalami trauma karena kejadian yang menimpanya dulu.

“Yejin… Aku minta maaf. Sungguh aku tidak berniat menyakitimu. Maafkan aku…”

Bodoh. Kau memang benar-benar bodoh Park Chanyeol.

Bisa-bisanya yang bertindak seperti tadi padahal kau sendiri tahu, jangankan untuk kau sentuh, kau dekati saja dia sudah sangat ketakutan.

“Yejin… Maafkan aku…” Bisikku.

Dan setelah kejadian itu, hampir 3 hari Yejin menghindariku. Jangankan berbicara, jika kami tidak sengaja berpapasan saat ia akan ke dapur dan aku akan ke kamar mandi pun ia pasti mengalihkan pandangannya.

Dan kau tahu, itu sungguh sangat membuatku tersiksa.

-Flashback ends-

“Kau sudah bangun oppa…” Sapanya membuyarkan lamunanku.

Aku tersenyum lalu berjalan menghampirinya yang sedang menghidangkan masakannya di meja makan.

“Emh…” Anggukku sambil tersenyum tipis. Mataku berbinar melihat beberapa piring berisi berbagai jenis makanan berjejer rapi di atas meja makan. “Looks delicious.” Kataku yang berhasil membuatnya tersenyum manis.

Yejin menarik kursi tepat di seberangku setelah sebelumnya memberikan semangkuk penuh nasi putih hangat. Tangan kecilnya menggeserkan beberapa piring berisi lauk pauk ke hadapanku. Begitulah yeojaku itu, dia tidak akan mulai makan sebelum aku memulainya terlebih dahulu.

“Apa kau tidak bosan setiap hari hanya diam di rumah saja?” Tanyaku sambil memasukkan sesendok penuh nasi yang sudah di lengkapi dengan lauk pauknya.

Yejin, lagi-lagi, hanya merespon pertanyaanku dengan senyum tipisnya.

“Besok kan hari minggu… Emh… kau mau tidak bersepeda ke tepi sungai Han denganku?” Aku menatapnya intens. Mencoba menerka jawaban apa  yang mungkin ia berikan.

Gadis itu masih menancapkan pandangannya ke mangkuk nasi di hadapannya. Dia sedang berpikir. Terlihat jelas dari bola matanya yang bergerak-gerak tak karuan.

Aku menyerah. Sepertinya ideku mengajaknya jalan-jalan belum tepat. “Kalau kau tidak mau…”

“Aku mau.”Sambungnya cepat.

Jawaban yang ia ucapkan dengan suara yang teramat pelan itu sukses membuat senyum lebar mengembang di bibirku. “Jeongmal?” tanyaku memastikan.

Yejin mengganggukkan kepalanya. Meski dengan tanpa menatap kearahku, tapi aku sudah cukup senang dengan keputusannya. Bukankah ini sebuah langkah awal yang cukup baik?

<><><>

Gadis itu langsung melemparkan tubuhnya ke sofa ruang tamu sesaat setelah pintu apartemen terbuka lebar. Kami baru saja pulang bersepeda menyusuri tepian sungai Han.

Yejin menutup rapat kelopak matanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Dadanya naik turun. Wajahnya memerah. Peluh mengucur deras dari pelipisnya. Beberapa kali ia juga mendesah pelan saat menghembuskan nafas. Dan kesemua itu berhasil membuatku menelan ludah.

Aku mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala berkali-kali, berusaha menyingkirkan pikiran aneh yang dengan seenaknya menggerayangi otakku.

Setelah berhasil mengendalikan jiwa laki-lakiku, aku berjalan menghampirinya yang kini sudah terduduk dengan segelas air putih di tangannya. “Kau kecapean?” Tanyaku.

Ia tersenyum setelah meneguk habis air mineral dalam gelasnya. “Ani. Aku malah merasa sangat segar sekarang.” Katanya.

“Bagaimana kalau kita jadwalkan untuk berolah raga setiap minggu pagi?” Usulku.

“Emh…” Yejin mengangguk dengan mata yang berbinar.

Aku tersenyum. Melihat tingkahnya yang seperti ini membuatku lupa akan masalah yang sedang kami hadapi.

“Kemana?” Tanyaku saat melihat Yejin beranjak dari duduknya.

“Mau mandi oppa. Tidak enak berkeringat seperti ini.”

Sekali lagi, ia melemparkan senyum sesaat sebelum menghilang di balik pintu kamar. Kali ini senyum itu sungguh membuatku tertegun cukup lama. Apa dia sudah bisa menerima kehadiranku?

<><><>

“Oppa, kau sedang apa?”

Yejin menghampiriku yang sedang berkutat di daerah yang biasanya adalah daerah kekuasaannya. Dapur. Penampilannya sudah jauh lebih segar sekarang.

“Seperti yang kau lihat. Aku sedang memasak.” Jawabku sambil meliriknya sekilas lalu kembali fokus dengan kegiatanku.

“Aku tahu, tapi maksudku…” Ia berdiri sambil menumpukan lengan di tepian kitchen set tempatku berkarya.

Sejenak ku hentikan aktivitasku dengan pisau dan wajan, dan menghadap kearahnya. “Kau pasti cape setiap hari mengurusi segala keperluanku. Jadi, setiap akhir pekan biarkan aku yang melakukannya untukmu.”

Ia menyipitkan matanya yang sebenarnya sudah sipit.“Kau yakin?” Tanyanya.

“Tentu saja.” Jawabku yakin. “Sekarang kau duduk disana dan perhatikan.”

Ia tersenyum lalu perlahan menarik kursi di salah satu sisi meja lalu mendudukinya. “Ngomong-ngomong kau mau masak apa oppa?”Katanya sambil menopang dagu. Aku tersenyum melihatnya.

“Macaroni schotel dan salad. Bagaimana? Kau suka tidak?” Kutatap wajahnya, menunggu reaksi yang akan dia berikan.

“Sounds good. I like it.” Katanya dengan senyum yang merekah di bibir merahnya. “Tapi… Sejak kapan oppa suka masak?” Lanjutnya.

“Emh… Sebenarnya aku tidak bisa memasak.” Ujarku sambil menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.“Tapi aku masih bisa belajar.” Tambahku meyakinkan.

Aku kembali memfokuskan diri padatujuan utamaku. Membuatkan makan siang untuk aku dan Yejin.

Beberapa kali aku mengintip kedalam buku catatan kecil yang terbuka lebar di atas meja. Buku catatan berisi resep membuat macaroni schotel yang tadi di diktekan oleh eomma melalui sambungan telpon.

“Oppa, apa macaroninya sudah kau rebus?” Tanya Yejin yang entah sejak kapan berdiri di sampingku dan memperhatikan kegiatanku mengolah bahan makanan yang sebagian besar tidak ku kenal itu.

“Hah? Apa harus di rebus dulu?” Tanyaku seraya menghentikan aktivitas tanganku yang sedang mengaduk beberapa bumbu.

“Tentu saja.” Tegasnya. “Lalu ini apa?” Tanyanya sambil menunjuk mangkuk kaca berisi sayuran untuk membuat salad yang sudah ku iris kecil-kecil. “Ini sayuran untuk salad?” Tanyanya lagi. Kali ini wajahnya terlihat agak ragu.

“Emh. Kenapa?” Aku balik bertanya saat melihat ekpresi yang menunjukkan kalau sebenarnya ada yang tidak beres disini.

“Eung… Ani…” Katanya sambil mengulum senyum.

Sebenarnya aku sedikit canggung karena Yejin sama sekali tidak melepaskan pandangannya pada semua yang sedang aku lakukan. Dan yang membuatku semakin canggung adalah karena saat ia melakukannya, tak sedetikpun senyum itu terlepas dari bibir tipisnya.

“Oppa, apa kau tidak mencium bau sesuatu?” Tanya Yejin. “Seperti… ada yang terbakar…” Katanya lagi.

Aku mengerutkan alis, menajamkan penciumanku. “Aaarrgh… Macaroni schotelku…” Sahutku saat ku cium bau terbakar yang berasal dari microwave.

Yejin tertawa memperhatikanku yang berlari menyambar serbet lalu membuka microwave yang langsung mengeluarkan asap gelap sesaat setelah aku membukanya.

“Ottoke…? Sepertinya ini tidak bisa dimakan…” Kataku lesu sambil menatap seloyang macaroni schotel yang berwarna cokelat gelap. Ah tidak, ini hitam. “Aku menyerah… Biar ku telpon restaurant delivery saja ya. Kau mau makan apa?” Tanyaku pada Yejin yang sedang tersenyum geli melihat hasil karyaku yang gagal total itu.

“Tidak usah Oppa, biar aku saja yang memasak.” Aku mengalihkan pandanganku dari gagang telpon saat Yejin bicara barusan.

“Kau yakin?” Tanyaku.

Dan seperti biasa, ia menjawab dengan senyum manis yang selalu terlihat

Akhirnya, yang seharusnya aku melayaninya hari ini, malah dia yang kemabali memanjakanku dengan segala rupa masakan lezat yang berhasil ia hidangkan dalam waktu yang cukup singkat.

<><><>

Aku melongokkan kepala melalui celah pintu yang sengaja tak ku buka sempurna. Senyum terulas di bibirku saat mendapati tempat tidur king size-ku sudah berpenghuni. Seperti biasanya, Yejin selalu masuk kamar dan tertidur lebih dulu dariku. Entah apa alasannya. Emh… Tidak, sebenarnya aku paham betul mengapa dia seperti itu. Dia menghindariku.

Ku langkahkan kaki mengitari sisi lain tempat tidur ini lalu berjongkok tepat di hadapan istriku yang terlihat tengah tertidur pulas. Sekali lagi, aku tidak bisa menolak untuk tersenyum melihat wajah manisnya

“Chagi… Terima kasih untuk hari ini.”

Tanganku berhenti di udara, tepat sebelum aku mendaratkannya di pipi Yejin yang selalu berona merah itu. Aku tersadar kalau aku tidak bisa melakukan itu, atau dia akan semakin kesulitan untuk menerima keberadaanku.

Aku segera berdiri sebelum keinginanku untuk menyentuhnya kembali muncul. Setelah ku tarik selimut tebal hingga batas leher, aku memutar posisi tidurku dan menghadap Yejin. Atau lebih tepat punggungnya.

“Kau tahu, melihatmu tersenyum tanpa menghindari tatapan mataku seperti tadi sungguh membuatku bahagia. Dan bukankah itu suatu kemajuan?” Tuturku. “Kau sudah tidak menghindari kontak mata denganku.” Aku tersenyum saat kembali teringat bagaimana tadi kami berbincang cukup akrab di meja makan.

Perlahan senyum itu memudar saat ingatan mengenai kondisi hubungan kami yang sebenarnya. “Hhh… Chagi… Sampai saat ini aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri. Karena aku kau mengalami kejadian menyakitkan itu. Karena aku kau menjadi seperti ini sekarang. Aku benar-benar menyesal…” Ku pejamkan mataku, merasakan sakit yang perlahan tapi pasti menyayat perasaanku. “Aku minta maaf.” Gumamku pelan.

“Aku janji akan menjagamu selamanya. Saranghae Yejin-ah…”Kataku, sebelum akhirnya aku tertidur dalam keadaan menahan perih yang selalu kurasa setiap kali melihat kondisi keluarga kecil yang baru saja kami coba untuk jalani ini.

<><><>

Aku terjaga saat merasakan Yejin yang tertidur di sebelahku bergerak-gerak gelisah.

“Yejin-ah…” Ku coba membangunkannya. Dia pasti mimpi buruk.

Yejin masih belum membuka matanya. Ia bergerak semakin gelisah. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

“Andwe…” Gumamnya sambil masih menutup rapat kedua matanya.

“Yejin-ah…” Panggilku lagi.

“Jebal… jangan sentuh aku…” Air mata menetes dari sudut matanya.

“Yejin-ah… Bangunlah…”

Ku beranikan diri menyentuhnya, mengguncangkan tubuhnya pelan.

“Aaaarrgghhh…” Ia terbangun sambil menjerit.

Refleks aku langsung mendekapnya yang kini sedang memeluk lutut. Tubuhnya bergetar hebat.

Tiba-tiba Yejin menepis dan mendorongku yang sedang memeluknya.

“Jangan sentuh aku… hiks… Ku mohon…” Katanya sambil terisak.

“Ini aku Yejin… Aku Chanyeol…” Kataku.

“Andwe… Pergi… Ku mohon tinggalkan aku…”

Ia masih terus berteriak padaku yang bersikeras mencoba mendekatinya untuk menenangkannya.

Dengan hati yang terasa amat sangat perih, aku beranjak meninggalkannya yang masih terisak sambil memeluk selimut untuk menutupi dirinya.

Aku putus asa. Sungguh. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.

“Yejin-ah… Mianhae…”

<>끝<>

Author’s talk:

Author bener2 harus, perlu, wajib, kudu bilang makasih banyak sebanyak-banyaknya buat reader yang masih bersedia baca kelanjutan cerita ini walau harus nunggu sekian lama… #bow

Author ga akan muluk2 minta kritik dan saran deh, asal reader bersedia baca aja author udah seneeeeeng banget :’)

Makasih yaa…

Sekali lagi makasih… n_n

34 pemikiran pada “Wedding Dress (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s