Exoplanet Games (Prolog)

Members of EXO (K and M) are not mine, but Gods and themselves

EXOPLANET GAMES by Eka Kuchiki

Inspiration from ‘The Hunger Games’ by Suzanne Collins

Genre: Fantasy, Adventure, Little Sci-fiction, Friendship, Family, Game.

Cast: All members of EXO

Rating: PG 13+

Warning: OOC, OC (hanya sebagai pendukung), alur loncat-loncat, (mungkin) death character (?!), Alternate Universe (sekitar tahun 2066).

Don’t like? Don’t Read!

….

/Dua belas pemuda dari 3 distrik di Korea Selatan dan 3 distrik di Cina terpilih untuk menjadi kandidat…

Bertempur dengan ‘kekuatan asing’ yang menuntun mereka untuk menjadi pemenang.

—bahkan nyawa pun harus dikorbankan dalam ‘seleksi alam’./

[Prologue]

[1]

 “Mianhae, Se Hunie,” ucap seorang remaja kepada seorang anak laki-laki yang tingginya hampir menyamainya. Tangis anak laki-laki itu pun pecah.  “Hyung harus pergi sekarang ….”

Wae, Lu Han-hyung?” tanya sang adik diiringi dengan isak tangis. Air matanya membasahi jaket coklat kusam milik sang kakak. Tangan lembut si kakak mengusap punggung adiknya yang cengeng itu, sementara tangan satunya lagi mengusap air mata yang meleleh di bawah mata sang adik.

Setelah sang adik mulai tenang, remaja berambut coklat pirang itu memasangkan sebuah pin berbentuk heksagonal di kerah baju hitam adiknya. Benda berwarna perak itu berkilau tertimpa sinar matahari. Sang adik menyentuh permukaan pin, dan rasa dingin pun menyapa kulitnya. Sekarang iris mata coklat tuanya menatap penuh tanya kepada sang kakak.

“Apa ini, Hyung?”

Mata kelam si kakak mengarah pada pin heksagonal itu sebelum menatap lembut sang adik. “Ini pin EXO.” jawabnya sembari menyentuh permukaan pin itu dengan jari telunjuknya.

“Ini untuk menjagamu, Se Hun-ah.”

Mata sang adik membulat tak percaya. “Mwo? Bagaimana bisa?”

Si kakak tersenyum simpul—ia sudah tahu respon dari adiknya yang satu ini. “Anggap saja aku selalu berada di dekatmu saat kau memakai pin itu,” jawabnya. Bibirnya masih menyunggingkan senyum lembut, sementara tangannya membelai rambut coklat adiknya.

(“Tiga menit lagi, kereta menuju distrik Haidian, Cina, akan segera berangkat.”)

Suara wanita yang bergaung di stasiun kereta Seoul itu sebagai tanda perpisahan kakak beradik itu. Xi Lu Han memeluk sekali lagi adiknya, Oh Se Hoon, dengan erat, lalu berbisik pelan di telinga sang adik. “Aku pergi, Se Hun-ah! Jaga dirimu dan Umma!”

Pelukannya dilepas dan tak lupa mencium tangan ibunya yang juga tak kuasa menahan leleran air mata. Dengan langkah bergegas, remaja itu menyeret koper lalu memasuki pintu masuk kereta kapsul itu. Sang adik berlari menyusul, dengan napas terengah-engah dan berusaha mengambil napas sedalam-dalamnya untuk berteriak,

Hyung! Berjanjilah kau akan kembali ke Seoul!”

Gema suara itu lenyap, tertinggal jauh oleh laju 200 km per jam kereta kapsul. Air mata sang adik kembali merembes melewati pelupuk mata, karena masih tak rela melepas kepergian sang kakak. Tanpa diketahui oleh sang adik, mata sang kakak mulai berkaca-kaca  ketika duduk di dekat jendela kereta.

—karena suara Oh Se Hoon masih bergema jelas di telinga Lu Han.

.

.

.

.

.

[2]

Sudut distrik Korea bernama Incheon menawarkan sisi metropolitan dan ekspresi gemerlap kota di dalam distrik tersebut. Seluruh sudut kota penuh gemerlap dengan dengan lampu warna-warni yang menjadi matahari kala langit gelap menyelimuti kota. Pilar-pilar gedung pun menjadi lilin raksasa yang mencoba untuk menerangi kota.

Dua remaja, dengan umur hanya terpaut tujuh bulan, sedang memandangi  kelap-kelip lampu jalanan di atas balkon apartemen lantai 21. Angin malam menampar pipi, mencoba mengusik keheningan kedua remaja itu. Sampai seorang remaja bertubuh tinggi membuka pembicaraan dengan berdehem dan memanggil nama remaja berwajah imut di sampingnya.

“Baek Hyun-ah.”

“Ya, Chan Yeol-ah?” sahut remaja itu.  “Apa hal yang ingin kau bicarakan?”

“Tiga tahun lagi kita akan merasakan  bermain di permainan maut itu.”

Wajar jika remaja bernama Chan Yeol itu berkata demikian. Enam hari lagi akan ada sebuah permainan yang diadakan di negara persekutuan Yin Yang, sebuah negara fusi dari Cina dan Korea. Sebuah permainan yang bukan hanya memacu adrenalin,

… tetapi juga menantang maut dan melawan ‘seleksi alam’.

“Aku ingin mengikuti permainan itu,” Suara berat itu terdengar ambisius dan menyimpan sejumlah impian yang meletup-letup. “Aku ingin menjadi pemimpin pasukan perang.”

“Kalau kau jadi jendralnya, aku tidak keberatan jadi letnannya,” sahut remaja di sampingnya. Seringai jahilnya disunggingkan. “Atau … jangan-jangan sebaliknya?”

Remaja tinggi itu menyikut lengan sahabatnya.“Ya! Bahkan mukamu sama sekali tidak cocok menjadi jendral, Byun Baek Hyun!” protesnya.

“Tapi aku lebih tua beberapa bulan darimu,” Cengiran kini menghiasi wajah imut Byun Baek Hyun. “dan tentu saja lebih tampan darimu.”

Remaja pemilik suara berat tadi hanya berdecih menanggapi kenarsisan sahabatnya yang satu ini. Hening membunuh sejenak pembicaraan mereka. Park Chan Yeol pun hanya melirik sekilas Byun Baek Hyun.  Sahabatnya dari kecil, sahabatnya yang narsisnya tidak ketulungan, sahabatnya yang humoris …

—dan sahabatnya yang setia hingga kini.

“Kita akan bersama terus kan, Baek Hyun-ah?” Tangan kiri remaja berambut pirang itu mulai menggenggam erat tangan kanan remaja bertubuh lebih pendek di sampingnya. Remaja itu menoleh ke arahnya, dan wajah imut itu mengulas senyum.

“Tentu saja, Chan Yeol-ah.”

.

.

.

.

.

[3]

“Joon Myun-hyung, mau sampai kapan kau terus melamun seperti itu?”

“Kyung Soo?” Remaja yang dipanggil Joon Myun itu terkejut, seperti baru saja terseret dari lamunannya. Ia menolehkan kepala dan menemukan sosok remaja berambut hitam kelam itu didepannya. Seperti yang ia duga, mata hitam didepannya menghunus tajam.

“Jangan bilang kalau kau galau karena ejekan Hyeok Min sinting itu,” sinis remaja yang dipanggil Kyung Soo itu. “Sudah kubilang, jangan kau dengarkan dia!”

“Untuk apa aku menggalaukan hal tidak penting seperti itu?” balas Joon Myun dingin. “Dia hanya berusaha menginjak harga diriku dengan mengatakan bahwa aku gay! Dan—”

“Jangan bohong! Aku bisa melihatnya dari matamu!” bentak Kyung Soo memotong argumen Joon Myun. Kedua tangan remaja itu merenggut bahu Joon Myun. Dua pasang iris mata kelam itu berhadapan, mencoba mengail kebenaran dari pikiran lawan bicara mereka.

Tidak ada masalah yang berarti pada mereka. Joon Myun normal. Begitu juga dengan Kyung Soo. Namun hubungan mereka yang disalahartikan.

Kyung Soo tidak bisa jauh dari Joon Myun, seperti sepatu kanan yang saling melengkapi dengan kehadiran sepatu kiri. Tapi, hubungan mereka yang terlalu dekat dianggap sebagai hubungan homoseksual

… yang dianggap sebelah mata oleh distrik Myeongdong.

Kyung Soo memang satu-satunya kawan yang ia miliki. Walaupun Kyung Soo lebih muda dua tahun darinya, ada saat dimana sikapnya bisa membalikkan kenyataan umurnya—seperti yang dilakukannya saat ini.

—dan Kyung Soo satu-satunya orang yang bernasib sama dengannya.

(Orangterabaikan,orangterlecehkan,orangyang—)

“Dengarkan aku, Hyung.” Renggutan tangan Kyung Soo sedikit mengencang. Mata bulatnya menatap fokus obsidian Joon Myun yang tersentak melihat sikapnya.

“Aku adalah orang yang beruntung,” Ucapan remaja berambut hitam kelam itu seakan memotong pikiran negatif dari isi kepalanya. Tak lama kemudian, bibirnya menyunggingkan senyum.  “Karena aku beruntung mempunyai hyung yang perhatian dan berhati lembut sepertimu.”

Joon Myun pun menyunggingkan senyum. Kedua tangannya kini meraih tubuh Kyung Soo, dan mendekapnya. Bibirnya didekatkan pada telinga kanan Kyung Soo, dan ia berbisik dengan nada lembut,

“Justru akulah yang beruntung mempunyai adik sepertimu, Kyung Soo-ah.”

—dan Kyung Soo merasakan matanya mulai terhalangi kabut, berseberangan dengan hati yang diliputi luapan rasa gembira.

.

.

.

.

.

[4]

“Jong In-ah? Kau sedang apa?”

“Min Seok-hyung?”

Kim Min Seok, tetangga di samping rumahnya, memergoki dirinya sedang berjongkok untuk mengambil benda berkilau di antara sela-sela rerumputan halamannya. Sungguh tidak elit.

“A-aku tadi sedang mengambil uangku yang jatuh.” jawab Jong In dengan cepat sebelum Min Seok sempat bertanya lagi.

“Oh.” Min Seok tidak bertanya lebih lanjut. Jong In bernapas lega.

—tunggu sebentar.

Jong In merasa janggal dengan penampilan Min Seok hari ini. Baju kemejanya nampak disetrika licin. Rambut kecoklatan berlapis gel yang disisir rapi. Jangan lupa ada dua koper yang tengah dibawa di tangan kanan dan kirinya.

“Aku akan pergi ke Distrik Guanzhong, Jong In-ah,” Remaja empat tahun lebih tua darinya itu menyunggingkan senyum, membuat pipi gempalnya terlihat semakin gempal. “Karena itu, aku ingin berpamitan denganmu.”

Jong In mengerutkan dahi. Setahunya, tetangganya ini akan ke Cina seminggu lagi. “Kenapa dipercepat, Hyung?”

Min Seok terkekeh mendengar pertanyaan Jong In. “Karena mereka tidak mau menunggu lama, Jong In-ah,”jawabnya santai. Tak lama kemudian, wajahnya disetel serius.  “Jaga dirimu baik-baik ya! Jangan sampai sakit! Salam untuk Ahjumma dan Ahjussi ….”

Min Seok melambaikan tangan seperti layaknya seseorang ingin pergi jauh. Tak ada pelukan karena Min Seok bukanlah tipe orang yang mudah menghamburkan air mata. Jarak mereka yang tadinya hanya dibatasi oleh pagar rumah keluarga Kim kin semakin merenggang seiring dengan langkah kaki Min Seok yang meninggalkan rumah keluarga Kim.

Setelah tubuh Min Seok menjauh dari pandangannya, Jong In mengelus dadanya sembari menghela napas. Dengan tergesa-gesa, ia memungut kembali benda yang sengaja ia jatuhkan.  Mata kelamnya melirik sekilas pada sebuah kalung berbandul heksagonal yang kini berada di genggaman tangan kanannya, kemudian berlari menyusul Min Seok sebelum remaja itu benar-benar menghilang dari pandangannya.

.

.

.

.

.

[5]

Ni hao. Wo shi Kim Jong Dae,” Remaja dengan aksen korea itu terbata-bata memperkenalkan diri dengan bahasa mandarin. Remaja berkewarganegaraan Cina di depannya mengerutkan dahinya sekilas—karena aksen yang digunakan remaja Korea itu terdengar asing baginya. Ia balas menyunggingkan senyum dan mengulurkan tangannya.

Ni hao. Wo shi Zhang Yi Xing,” jawab pemuda murah senyum itu. “Kau baru datang dari Korea?” tanyanya dengan bahasa Korea. Hanya sedikit bahasa Korea yang  diketahuinya—termasuk yang baru saja ia ucapkan.

Pemuda bernama Jong Dae itu mengangguk perlahan. Dua hari yang lalu ia meninggalkan Korea Selatan. Kini kakinya telah menginjak Distrik Guanzhong. Sebelumnya ia  tak pernah berpikir akan menginjakkan kaki di tanah yang merupakan salah satu bagian wilayah distrik Cina yang terletak paling ujung dibandingkan dengan distrik  Cina lainnya. Seperti sewajarnya distrik pinggiran—karena letaknya yang paling ujung, distrik Guanzhong tidaklah sekaya distrik Cina lainnya. Tetapi dari segi kemakmuran, mereka hampir setara.

Tui bu jie. Aku harus pergi sekarang.” Yi Xing melambaikan tangan ke arah Jong Dae, dan remaja Korea itu pun mengangguk sebagai tanda tidak keberatan. Tak lupa dengan senyuman hangat dari kedua pihak untuk menutup pertemuan mereka.

Itulah pertemuan pertama mereka. Pertemuan sederhana yang seharusnya tidak begitu berkesan. Singkat dan begitu simpel.

—tapi mengapa Jong Dae mempunyai firasat bahwa ia akan bertemu dengan remaja itu lagi?

.

.

.

.

.

[6]

Distrik Beijing merupakan salah satu distrik yang sedang menata pembangunan begitu pesat. Setelah empat tahun tertatih karena gencatan senjata dengan negara persekutuan Korus*, Beijing—perlahan namun pasti—memegang kembali gelar sebagai salah satu distrik termaju diantara distrik-distrik Cina lainnya.

Ada dua orang remaja. Ada remaja bersurai hitam yang tingginya hanya kurang lima sentimeter dari  remaja tampan berambut pirang yang berdiri di samping kirinya. Mereka berdua memokuskan pandangan mereka pada suatu kerumunan pemuda yang tengah mengantri di depan meja registrasi. Mereka adalah calon-calon pemimpin perang masa depan.

Satu sikutan di lengan membuat remaja bertubuh tinggi itu menoleh ke arah remaja bersurai hitam malam yang menyikutnya. Remaja itu membuka mulut dan bertanya,

“Fan-ge, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu?”

Remaja berambut pirang itu tersenyum simpul, kontras dengan wajah dinginnya jika tidak ada ulasan senyum. “Mereka sedang menghadapi nasib sekaligus masa depan mereka.”

Remaja yang lebih muda itu mengerutkan dahinya—tidak menangkap maksud dari kakaknya karena pemilihan bahasa yang tersirat. “Aku tidak mengerti maksudmu, Gege ….”

Remaja yang dipanggil ‘kakak’ itu hanya tetap menyunggingkan senyum, kemudian menjawab dengan mata yang menatap lurus ke dalam iris mata sang adik. “Jadi begini, mereka akan bermain di sebuah permainan maut—”

“Ya?” sahut si adik tak sabar. Mata hitamnya berbinar penuh rasa keingintahuan. Sang kakak tersenyum tipis, lalu melanjutkan jawabannya.

“Di mana setiap pemainnya akan terus beradu kekuatan satu sama lain dan berakhir sampai didapatkan satu pemenang.”

Sang adik mengangguk. Ia mengerti sekarang maksud dari kalimat kakaknya tadi. Mendadak kedua belah bibir merah itu kembali membuka,

“Apakah aku dan Fan-ge akan bermain bersama dalam permainan itu?”

Sejenak remaja tinggi berambut pirang itu membisu. Lalu helaan napas berat dibuang, senyum dikulum sehingga menjadi senyum tipis, tangan mengacak surai hitam sang adik dengan lembut, dan ia siap untuk menjawab.

“Tentu saja, Tao-di.

Kita akan bermain bersama di sana.”

Diam-diam di dalam hati, Wu Yi Fan mengukuhkan janjinya. Sementara pandangan Huang Zi Tao—orang yang terikat dengan janjinya—sedang terfokus pada kerumunan pemuda-pemuda terpilih itu.  Ia tidak tahu bahwa remaja disampingnya sedang tersenyum miris untuk dirinya dan memilih untuk meneruskan janjinya dalam hati.

                                                    ‘… Karena aku harus menjagamu di sana, Tao.’

.

.

.

.

.

[7]

/Selamat datang di—

EXOPLANET GAMES!

Sebuah permainan yang bukan hanya memacu adrenalin, tetapi juga menantang maut dan melawan ‘seleksi alam’.

Dua belas tributes , pemuda yang berusia 18-22 tahun, yang terpilih akan dibagi menjadi dua kubu berdasarkan domisili. Masing-masing tributes akan ditempatkan pada tempat yang terisolasi dan terpisah. Tanpa alat komunikasi, perbekalan makanan, dan persenjataan,

karena senjatanya adalah diri sendiri.

Dalam waktu dua puluh empat hari, kedua kubu tersebut akan memperebutkan posisi menjadi kubu pemenang. Dan pemenang tunggal adalah tribute yang berhasil mendapatkan poin terbanyak. Sementara kubu yang menang apabila mendapatkan jumlah poin terbanyak dan keenam tributes dalam kubu tersebut masih hidup atau jumlah tributes yang terbanyak yang masih hidup.

Tidak diperbolehkan membunuh tributes lain, kecuali dalam keadaan terancam.

Masing-masing tributes dari kedua kubu dilarang untuk berinteraksi antar tributes dari kubu lain. Kedua kubu bukanlah kawan, tetapi lawan.

Semua perilaku tributes diawasi oleh kamera tersembunyi. Apabila ada tributes yang melanggar, maka akan diberikan hukuman dari pihak penyelenggara permainan.

—bahkan nyawa menjadi taruhannya.

Bagi semua tributes yang terpilih, selamat datang di ‘EXOPLANET GAMES’! Selamat menjadi pemimpin pasukan perang masa depan!

(—dan selamat menyambut ajal kalian.)/

.

.

.

.

[To be Continued]

.

.

.

.

Eka’s rambling:

Ini fanfic perdana saya di exofanfiction~ Sebenarnya sih saya sudah publish fic ini di Archiveofourown.com dengan nama Eka_Kuchiki. Tapi sepi komentar di sana… (pundung) Ini bukan fic yaoi/shonen-ai, omong-omong. Lebih ke brothership sama friendship. Tergantung mood saya nanti mau dibawa kemana… *dibakar*

P.S. 1: Umur mereka di prolog ini berkisar 13-17 tahun. Chapter selanjutnya maju 5 tahun ke depan, dimana usia mereka di sini sama dengan usia mereka yang sebenarnya… ^^

P.S. 2:  Pada bagian [1], [2], [3], [4], [5], dan [6], itu bukan pairing yang tetap. Jadi bisa saja diganti. Walaupun saya seneng ngeliat hints HunHan dan TaoRis (Atau KrisTao?) sebagai kakak adik … #plisguelagistress,mohonabaikan

 Comment? :3

20 pemikiran pada “Exoplanet Games (Prolog)

  1. keren thor ffnya~ aku udh pernah nonton filmnya dan keren bgt, pas tau ada ff exo terinspirasi dr hunger games asli seneng banget XD *lebay* chapter selanjutnya sangat ditunggu ya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s