Saranghae Sehunnie

Saranghae Sehunnie
Author: JuicyBbuing (PhyromaniacsBabyLime)
Genre: Romance, Sad
Length: Oneshoot
Main Cast:
– Oh Sehun EXO-K
– Choi Sulli F(x)
Other Cast:
– Choi Family
– Xi Luhan
Annyeong~!! ♬
Author yang sok kece dateng ~(≧∇≦~) (~≧∇≦)~ #lupakan
Ini FF Oneshoot pertama aku dan ini pertama kalinya aku bikin FF sad uhuhuuu… Di buat kebut hanya dalam 15 menit~!! #fantastic baby ◕ᴥ◕
Tapi author jugak kurang ngerti, ini feelnya dapet ato ga? Komen,komen~!! Hargai perjuangan seorang Author dalam membuat fan fiction~!!  #semangat 45′
Btw, mianhae buat poster nya yaa ≧^≦ Author belom bgitu berpengalaman ~
Happy Reading ♡ ♬
*Sehun POV*
Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak itu.
Hamparan bunga lavender membentang di sepanjang pinggir jalan setapak, matahari bersinar lembut di atas kepalaku, dan hal itu mengingatkanku akan seorang yeoja …

‘Oppa! Tahukah kau? Aku sangat menyukai matahari! Menurutku, matahari melambangkan sesuatu yang damai! Matahari selalu mengikutiku setiap aku pulang dan berangkat sekolah! Matahari menjagaku oppa ah! Jadi, bila kau hendak membeli bunga untukku, pilihlah bunga matahari! Arraso?’
Aku hanya tersenyum begitu mengingat kenangan manis itu.
Bau bunga lavender yang semerbak mengelilingiku, membungkusku dalam harumnya.
Hamparan lavender itu seakan tidak berbatas, matahari menyinari lembut kelopak ungu bunga tersebut.
Kujejakkan telapak kakiku menginjak segerumbul lebat lavender.
Kelopak mungilnya menggesek lembut telapak kakiku, membuatku kegelian.
Aku pun menyusuri padang luas itu. Harum, hangat, damai ….
Apa yang di katakan yeoja itu benar.
Langkahku terhenti begitu melihat seorang yeoja tengah duduk di antara gerumbulan lavender 5 meter di depanku. Yeoja itu mencabut bunga lavender, memainkannya, lalu tertawa kegirangan.
Aku hanya dapat tersenyum melihatnya.
” Hey! Sulli ah? ” panggilku memulaskan senyum manis pada bibirku.
Yeoja itu mendongak, melihatku, dan melambaikan tangan putih susunya ke arahku.
” Sehunnie oppa! Kemarilah! Ada suatu hal yang ingin kubicarakan! ” perintah Sulli sembari menepuk petak kosong di sebelahnya. Aku pun bergegas mendekatinya, lalu mendudukkan diri di sebelah Sulli.
” Apa yang ingin kau katakan Sulli ah? ” tanyaku lembut menatap mata cokelat gelapnya.
” Oppa, kau berjanji tidak akan membuatku sedih? “
” Ne, tentu saja. “
” Oppa berjanji untuk selalu bahagia? “
” Pasti Sulli ah. “
” Oppa harus menepati janji ne? Karena aku akan pergi… ” ucap Sulli lirih sembari menunduk menatap gaun putih bermotif ranting bunga yang dikenakannya.
Otomatis kuangkat alisku tinggi-tinggi, jantungku serasa berhenti berdetak. Apa maksudnya dengan ucapannya barusan? ” Mwo? Kau akan pergi kemana Sulli ah? ” tanyaku heran mengelus lembut rambut cokelat pekatnya yang halus.
” Ke sebuah tempat yang sangat jauh, dan aku tidak akan pernah melihatmu lagi Oppa… ” jawabnya menatap mataku dalam. Tersirat kesedihan dalam mata indahnya.
” M-mwoya? Apa-apaan kau ini Sulli ah? Aku kan sahabatmu! Kenapa kau meninggalkanku? Tidak ingatkah kau dengan janji mu? ” tanyaku kesal sembari mencabuti bunga lavender. ‘ Sebenarnya aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar sahabat Sulli ah… ‘ ucapku pahit dalam hati.
Sulli menatapku, memamerkan senyum terbaiknya padaku. ” Mianhae oppa, aku harus pergi. Bogoshipo. ” ucapnya memelukku erat. Aku tidak merespon, kubiarkan kehangatan menjalari tubuh dan hatiku.
Sulli berbalik, dan dalam sekejap mata, yeoja manis itu menghilang bagai kabut.
” Yaaa!! Sulli ah!! Andwe!! Kemana kau pergi? Yaaa!! ” teriakku menatap sekelilingku. ” Jangan tinggalkan aku Sulli ah! Sulli, sulli … ” kegelapan menyelimutiku.
<><><><><><><><><><><><><><>
” Aaaaaah!! ” teriakku duduk di atas ranjang hangatku. Oh, hanya mimpi. Andweee!! Oh Sehun, makan apa kau semalam sehingga memimpikan bahwa Sulli akan meninggalkanmu? Kusingkapkan selimutku ke samping.
Tubuhku banjir keringat, tengkuk, lengan semuanya basah akan keringatku. Bahkan t-shirt katun tipis yang kukenakan menempel lekat pada kulitku karena keringatku. ” Omona… Bagaimana mimpi itu bisa terjadi? Paboya Sehun! Sulli tidak akan meninggalkanmu! Dia kan berjanji! Lagi pula itu hanya mimpi. Pabo!! ” rutukku mengingat mimpiku di saat aku memimpikan kedua orang tuaku meninggal, tetapi nyatanya mereka masih sehat walafiat hingga sekarang.
Kuraih iPad yang terletak di samping tempat tidurku, menyalakannya, lalu menyinari seputar kamarku. Berantakan. Berarti tadi betul hanya mimpi? Syukurlah…
Aku pun kembali berbaring, tetapi mimpi itu tidak kunjung menghilang. Kutatap layar iPad ku, jam 3. Mwo? Hari ini adalah hari ulang tahunku! Kini aku berumur 19 tahun! Tetapi masih terlalu pagi untuk bangun dan menggegerkan orang serumah. Untuk memastikan bahwa Sulli tidak meninggalkanku, kukirimkan pesan singkat padanya. kurebahkan tubuhku di atas ranjang berwarna biru laut milikku.
Dapat kulihat lukisan yang berpendar di langit-langit kamarku. Dan hal itu sekali lagi berhasil membuatku teringat akan Sulli.
*Flashback*
Sulli dan aku tengah melukis langit-langit kamarku dengan cat glow in the dark berwarna perak. ” Oppa? Bolehkah aku menggambar bintang di langit-langitnya? ” tanya Sulli. Pipinya tercoret cat. Lucu.
” Ah? Ne! Tentu saja! Lukislah sepuasmu. ” ucapku senang sembari bergegas mengambilkan sekaleng cat baru untuknya. Sulli pun mulai melukis.
Tangan kecilnya yang memegang kuas mergerak-gerak di seputar dinding kamarku. Kini Sulli membuat sebuah bintang berukuran besar tepat di tengah-tengah langit kamarku.
” Oppa? “
” Hum? “
” Aku menggambarkan bintang ini untukmu. “
” Whoaa, bagus sekali. Tetapi kenapa kau tidak membuat ukurannya sama seperti bintang yang lain? ” tanyaku mendongakkan kepalaku ke atas dan mengamati hasil karyanya.
” Jika kau ingin mengingatku oppa, tataplah bintang ini. Arraso? Bintang ini akan menenangkan perasaanmu. ” …..
” Mwoya? Jinjjayo? Baiklah … “
*Flashback End*
Kutatap bintang itu lama-lama, karena kami menggunakan cat glow in the dark, bintang itu kini bersinar dalam kamarku yang gelap. Kutatap bintang besar di tengah langit-langit kamar. Bintang itu berpendar menenangkan. Aku pun mengulum senyum. Indah, damai …
Kusembunyikan kepalaku ke dalam selimut, berusaha untuk kembali tidur dengan cara mengingat cahaya bintang buatan Sulli. Dan berhasil! Aku pun langsung terlelap.
<><><><> SKIP <><><><>
” Sehun ah! Cepat sarapan! Kau ingin meninggalkan sarapan minggu kita? ” teriak suara Luhan hyung dari lantai bawah. Aku mengerang, ku balikkan tubuhku. Sudah pagi. Kuraih iPadku, pukul 7. Tetapi Sulli belum juga membalas pesanku. Dasar yeoja lemot. Gumamku tertawa kecil. Setidaknya aku ingin mendapatkan pesan singkat berisi ucapan selamat ulang tahun atau sebagainya dari Sulli.
‘ Sulli ah, jujur aku merasa tidak pantas denganmu, kau itu sempurna. Cantik, pintar, multi talented, berbadan ideal, dan … ‘
” Oh Sehun!!! Kau mendengarku atau tidak? Cepat turun!!! ” teriakan Luhan hyung membuatku tersentak dari lamunanku. ” Mwo? N-ne hyung! Aku akan segera datang! ” teriakku balas. Kusingkap selimut yang membebat tubuhku erat, lalu berlari menyusuri tangga.
Dari atas, dapat kulihat Appa, Eomma dan Luhan hyung tengah duduk mengelilingi meja makan, Appa tengah membaca koran, Eomma yang tengah menyesap kopi, dan Luhan hyung, dengan tangan terlipat memelototi ku tajam. ” Hey! Saengil chukkae namja lemot. Aigooo!! Namja lemot!! Cepat sarapan!! ” perintah Luhan hyung saat aku mendudukkan diri di hadapannya.
” Ne hyung, gomawo. ” gumamku kesal karena mendengar ucapan selamat beserta omelan panjangnya. Mimpi semalam masih bergelayut dalam ingatanku. Sulli ah, ghewenchana?
Tanganku meraih gelas berisi susu full cream di hadapanku, ku minum habis, lalu memulai sarapan minggu ku. Kutuangkan cornflake ke dalam mangkuk snoopy ku, setelah itu Luhan hyung membantuku menuang susu di atasnya. Aku pun memulai sarapanku dengan tidak berselera. Sendok ku isi penuh-penuh dengan cornflake, dan saat aku hendak menyuapkannya, telepon rumah berdering,
” Hyung, angkat sana teleponnya. ” suruhku memandang mangkuk cornflake ku muram. ” Aish, pabo dongsaeng, seenaknya saja menyuruh kakak nya. ” gerutu Luhan hyung sebelum berjalan menuju ruang tengah, dimana telepon portabel biru berada.
” Eomma, kau mau kemana? ” tanyaku menatap Eomma ku yang telah berdandan rapi. Senyumnya mengembang pada bibir berlipstick nya. ” Ah, sebelumnya saengil chukkae anakku sayang… Eomma ada pekerjaan pagi ini Sehun ah … ” jawab Eomma anggun sembari menyesap kopi pahitnya. Appa pun juga mengucapkan selamat padaku. Mata beliau tampak berbinar di balik koran paginya.
” Yoboseyo? “
” …. “
” Mwo!? Sulli!? “
” …. “
” Ne, kami turut berduka cita tentangnya. ” aku dapat mendengar suara Luhan hyung yang bergetar menahan tangis.
” ….”
” Ne noona, kami akan menghadiri pemakamannya. A-annyeong … ” ucap Luhan hyung memutuskan pembicaraan.
Aku tidak dapat menelan serealku, rasanya seperti sedang menelan kerikil. Jantungku berdegup kencang. Mwo? Pemakaman? Siapa yang meninggal? Ada apa dengan Sulli!?
Luhan hyung memasuki ruang makan dengan gontai. ” Sehun ah, Sulli, sulli. “
” Mwoya!? Ada apa dengannya hyung? ” tanyaku cemas menatap hyung-ku dalam-dalam. ” Sulli meninggal karena kanker otak. Pemakamannya akan di mulai pada pukul 8.30 …. “
<><><><> SKIP <><><><>

Aku berusaha menahan tangisku saat berada di acara pemakaman Sulli. Aku tidak rela melihatnya, seseorang yang sangat kucintai, meninggalkanku pada hari ini, hari ulang tahunku.

Sakit Sulli ah …
Itukah sebabnya kau tidak membalas pesan dariku?
Mengapa kau menyembunyikan penyakitmu itu dariku?
Mengapa kau tidak pernah berterus terang jika waktu hidupmu tinggal 1 tahun lagi?
Waeyo Sulli ah!?
Wae!?

Kutahan air mataku yang hendak mengalir lagi. Sooyoung noona, kakak Sulli tadi menjelaskan tentang semuanya padaku. Tentang penyakit yang di idap Sulli sejak kecil. Kini aku hanya dapat menahan marahku. Sulli ah!! Paboya!!! Tidakkah kau mengerti bagaimana perasaanku sekarang ini?

Kuarahkan mobilku menuju pantai Haeundae, pantai favoritku dan Sulli. Ku parkir asal mobilku ke tepi jalan. Aku pun melangkah lunglai, kulempar jaket beserta sepatuku ke dalam mobil. Kusambut pasir pantai di sela-sela jari-jariku. Damai, indah …

Aku pun kembali berjalan, ku lesakkan tanganku ke dalam kantung celana jeans ku. Debur ombak menghantam bebatuan karang di sepanjang bibir pantai. Hawa sejuk menghempas tubuhku lembut. Ku arahkan langkah kaiku menuju batu karang pipih yang menjorok ke bibir pantai.

Dapat kulihat kelebatan samar akan masa lalu yang ku jalani bersama Sulli. Aku hanya dapat mengerang pelan begitu mengingat masa silamku. ‘ Choi Sulli, si pembawa damai. ‘ dapat ku ingat jelas perkataanku waktu itu sembari mendudukkan tubuhku di atas karang pipih yang berisi kenangan kami. ‘ Choi Sulli, bogoshipo … Kau tega meninggalkanku? ‘ pikirku pahit. Bulir kristal bening langsung meleleh dari ujung mataku.

Pedih, hati ini terasa di sayat-sayat setelah mendengar kabar dari Luhan hyung. Ku elus batu karang itu, membuatku kembali teringat akan kejadian 1 tahun silam…

*Flashback*

” Oppa!! Buka mulutmu!! A… ammm!!! ” Sulli menyuapkan kue beras ke dalam mulutku.

” Hummm… apa-apaan kau ini Sulli ah? Mengganggu orang saja. ” ucapku berpura-pura kesal sembari melemparkan tatapan sengit ke arah Sulli.

Sulli hanya tertawa melihatku. Rambut cokelat pekatnya tertiup angin. Deburan ombak terasa di antara jari-jari kaki kami yang tercelup ke dalam air. Ku kulum senyumku. Ne, aku merindukan senyum mu Sulli ah…

” Oppa? ”

” Ne? ”

” Coba lihat matahari itu! ” perintah Sulli sembari menunjuk pemandangan matahari tenggelam di hadapan kami. Indah…

” Mwo? Neomu kyeopta!! ” komentarku tersenyum lebar.

” Kalau oppa merindukan dan merasa membutuhkanku, lihatlah matahari ne? ” ucapnya membuatku tersedak. Mwo? Apa maksudnya? Memangnya dia mau pergi kemana?

” Yaaa!! Untuk apa? Kau kan selalu berada di sampingku, seperti janjimu padaku!? ” protesku menatap wajah putihnya dalam-dalam.

” Ani, hanya saja turuti permintaanku. Arraso oppa? ” tanyanya menolehkan wajahnya ke arahku. Senyum sedih terpampang pada wajah manisnya. ” Sulli ah, jangan pamerkan senyum itu padaku. ” gumamku sembari memeluknya erat.

” N-ne oppa… ” jawabnya sengau.

Aku dapat merasakn sesuatu yang hangat merembes pada t-shirt tipisku. Sulli menangis? ” Omo, Sulli ah, jangan menangis ne? Sulli kan seorang yeoja manis yang selalu tersenyum. Bukan yeoja lemah seperti ini… ” ucapku menenangkannya, melepaskan pelukanku, lalu menghapus air mata dari wajahnya dengan ibu jariku.

” Uhuk .. uhuk. ” tiba-tiba Sulli terbatuk sembari menutupi mulutnya.

” Hyaaa!! Sulli ah, ghewenchana? ” tanyaku cemas, menunduk menatap wajahnya.

” A-aniyo Sehunnie oppa. ” jawabnya parau lalu berbalik dan membuka tangannya. Tampak cairan merah membasahi telapak tangannya. Mwo!? Merah!? Aku yakin itu adalah darah…

” Yaaa!! Apa itu Sulli ah? Kau batuk darah? ” tanyaku khawatir, berusaha menatap matanya. Tetapi Sulli menolak, yeoja itu berlari meninggalkanku menuju toilet pantai.

‘ Sulli ah, waeyo? Kenapa akhir-akhir ini kau tampak kesakitan? Katakan padaku apa masalahmu, aku berjanji untuk membantu dan melindungimu dengan segenap hatiku!! ‘

*Flashback End*

Aku hanya dapat menghela napasku berat setelah mengingat kejadian itu. Ternyata kau sakit Sulli ah? Kenapa kau tidak jujur padaku? Ku tundukkan kepalaku dalam-dalam. Dan aku kembali menangis. Kini tidak ada lagi yang menemaniku, tersenyum untukku, membantuku jika kesusahan, memelukku, menenangkanku, memarahiku, menangis untukku….

Sulli ah, dimana kau sekarang? Ku harap kau mendengarkan tangisan hatiku saat ini. Bahkan kau tidak mengucapkan selamat untukku? Ini hari ulang tahunku bodoh!!!

Tinjuku terkepal, kupukul karang piph itu berkali-kali sehingga buku-buku jariku lebam di buatnya. Aku hancur tanpamu Sulli ah, aku tidak bisa hidup tanpamu. Kutatap matahari yang bersinar lembut di hadapanku. Ku lihat jam tanganku, pukul 4 sore… Memang, setelah pemakaman Sulli selesai, aku tidak kunjung pulang ke rumahku.

” Kalau oppa merindukan dan merasa membutuhkanku, lihatlah matahari ne? ”

Aku pun mengingat perkataan Sulli. Lihatlah matahari? Ini terdengar konyol. Aku bukan lagi anak kecil yang suka menghayal! Tapi biarlah, lagi pula tidak ada orang yang tahu bukan?

Ku jilat bibirku yang mengering. Lalu aku pun berteriak …

” Choi Sulli!? Kau mendengarkanku bukan!? Aku ingin menyatakan suatu hal padamu!! Dengarkan baik-baik ne!? ”

” Choi Sulli ah!! Saranghae!! Jeongmal Saranghae!!! ”

<><><><><><><><><><><><><><>

” Ne! Nado saranghae Sehunnie oppa!! Saranghae, saranghae, saranghae!!! Saengil chukkae! ”

” Mwoya? Benarkah Sulli ya? ”

” Ne!! Aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu oppa! Menurutku, kau seperti matahari, yang membawa kedamaian di hatiku ini!! Jeongmal saranghae Oh Sehun… ”

<><><><><><><><><><><><><><>

♡END♡

♬ Readers sekalian, bagus kaga FF oneshoot aku? ~(≧∇≦~) (~≧∇≦)~
Kamsahae, uda baca FF abal-abal aku. Mian yaah, kalo feel nya kurang dapet. Uhuhuuu ( ̄□ ̄;)
Author mendapat inspirasi dari sebuah cerpen anak-anak dan, TARAA!! Jadilah FF abal-abal ini (T▽T)
Tinggalkan Jejak!! Arraso?? (・∀・)♬

Iklan

15 pemikiran pada “Saranghae Sehunnie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s