Stand By Me (Chapter 3)

STAND BY ME CHAPTER 3

TITLE: STAND BY ME

AUTHOR: VENUS_228

MAIN CAST

  1. WU YI FAN ( KRIS EXO M)
  2. HAN SOO MI
  3. CHOI SEUNG HYUN ( TOP BIG BANG)

OTHER CAST: CAN YOU FIND IT BY YOUR SELF

GANRE: ROMANCE

LEGHT: CHAPTER

Author talk: Annyeong chigudeul J ini FF pertama yang author buat jadi mian klo banyak kesalahan dan ceritanya gak jelas atau alurnya terlalu cepat. Semoga kalian suka. Satu lagi FF ini murni hasil imajinasi author yang kelewat tinggi dan gak jelas tapi di tulis dengan hati* senyum manis bareng Kris* I hope you like it.

WU YI FAN POV

Ahh… yoeja itu benar-benar hobi memotret orang secara diam-diam. Aku pikir dia sedang sibuk di club fotografi ternyata dia justru sibuk memotret ku dari tempat yang tak begitu terlihat dari tengah lapangan. Tapi mau bagaimanapun dia bersembunyi aku pasti dapat merasakan kehadirannya dan menemukan sosoknya.

Aku meliriknya sekilas yang masih asik memotret ku. Sebenarnya aku ingin langsung menghampirinya dan merebut kameranya. Tapi aku tak bisa karena sedang bermain basket dengan murid-murid lain. Tak mungkin aku langsung menghentikan permainan yang sedang seru ini kan. Entah ini sudah yang keberapa kalinya dia memotretku secara diam-diam. Aku juga sudah lupa berapa banyak foto diriku yang ku hapus dari memori kameranya. Tapi sepertinya dia masih belum jera juga.

Ahh sudahlah. Nanti saja aku mengurus yoeja itu. Yang penting sekarang aku harus mengakhiri permainan basket ini dengan kemenangan untuk tim ku. Dan beruntung bagi yoeja itu karena dia pasti mendapatkan gambar-gambar yang bagus dari aksiku ini. Yah hitung-hitung untuk membalas perbuatannya tadi saat di kelas. Dia pasti akan senang sekali sampai akhirnya aku akan menghapus semua hasil karyanya itu. Hahahaha…. Dia pasti akan sangat kesal.

Dan akhirnya permainan pun selesai dengan hasil yang sesuai dengan harapanku. Aku lalu menatap kearah tempatnya bersembunyi dari tadi dan aku terkejut. Dia tak sendirian. Dia sedang bersama seorang namja tinggi yang tak kukenal. Tapi sepertinya wajah namja itu sangat fameliar. Aku sepertinya pernah melihat namja itu di suatu tempat.

Siapa namja itu? Apa dia teman Soo mi? Tapi setauku Soon mee tak memiliki teman seorang namja selain diriku. Selain itu sosok namja itu tak lagi seperti seorang murid. Apa dia salah satu alumni yang datang ke sini untuk menghadiri acara club fotografi seperti yang dikatakan Soon mee tadi?

Aku terus menatap kedua orang itu. Terutama Soo mi. Ekspresi yoeja itu selalu berubah. Dari terkejut, tertawa, malu dan kesal. Sementara namja itu terus tersenyum dan hanya sekali terlihat kesal lalu dia kembali tersenyum. Mereka terlihat sangat akrab untuk ukuran orang yang baru saja bertemu. Apa mereka sudah saling mengenal cukup lama?

DING DONG DING DONG

Lalu aku melihat Soon mee tersenyum lega dan mengatakan sesuatu pada namja itu lalu segera berlari. Mungkin dia akan kembali ke kelas. Tanpa memperhatikan namja itu lagi aku langsung berlari mengejar Soon mee dan segera menyusul yoeja itu. “ Soon mee.”

Yoeja itu menoleh dan tersenyum lalu menghentikan larinya. “ Kris. Kau sudah selesai main basket?” dia tampak senang. Apa karena dia baru saja bertemu namja itu. Tiba-tiba saja aku merasa sangat kesal.

“ Siapa namja itu?” tanyaku dingin sambil menatapnya tajam.

“ Namja yang mana?” dia terlihat bingung mendengar pertanyaanku.

“ Namja yang tadi bersama mu di pinggir lapangan.”

“ Oh yang itu. Kau tidak mengenalnya?”

Aku semakin kesal mendengar pertanyaan yoeja ini. “ Pabo. Kalau aku mengenalnya aku tak mungkin bertanya pada mu.”

“  Tak mungkin kau tak mengenalnya. Seluruh Korea dan dunia mengenal namja itu.”

Aku sedang tak ingin bermain tebak-tebakan dengannya sekarang. Yoeja ini betul-betul tak bisa membaca situasi. Apa dia tak sadar kalau aku sedang sangat kesal dengannya. “Sudahlah. Lupakan.” Aku langsung pergi meninggalkannya.

“ Kris.” Aku mendengarnya memanggilku tapi aku tak menghiraukannya. Bahkan saat dia berhasil kembali menyusulku. “ Ya!! Pabo!! Kenapa kau tiba-tiba marah padaku?” aku tak menjawab pertanyaannya. Dan dia pun diam dengan ekspresi bingung atas sikap ku ini.

HAN SOO MI POV

Aku melirik Kris yang sedang focus menyetir dan seperti tak menyadari kehadiranku. Aku bingung pada namja ini. Kenapa dia tiba-tiba marah padaku? Memangnya aku melakukan kesalahan? Tapi kesalahan apa?

Aku menghela napas dan kembali meliriknya yang masih tetap focus menyetir. Keterdiamannya ini lama-lama membuat ku kesal. Kalau memang aku melakukan kesalahan dia hanya tinggal menegurku kan. Tidak perlu mendiami ku seperti ini seolah aku tak ada. “Hentikan mobilnya.”

Dia sama sekali tak merespon perkataanku dan justru menambah kecepatan mobil. “KRIS!!! HENTIKAN MOBILNYA!!” bentak ku dengan suara tinggi. Dan dia langsung menghentikan mobilnya. Membuatku sedikit terdorong ke depan. Sementara dia hanya melirikku sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan.

“ Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau marah padaku?” dia tetap diam dan tak menatapku sama sekali. Aku menghela napas frustasi. Siapa yang tidak akan frustasi kalau tiba-tiba teman dekatnya marah tanpa alasan seperti ini.

“ Baiklah.” Aku langsung melepas sabuk pengamanku dan meraih tas ransel ku yang berada di jok belakang. “ Kalau kau tak mau menjelaskan padaku alasana kenapa kau marah lebih baik aku turun di sini dan mencari taksi untuk pulang.” Lalu aku membuka pintu mobil dan hendak keluar.

Pintu mobil baru terbuka setengahnya saat Kris menggenggam pergelangan tanganku dengan keras. Aku menoleh dan menatapnya sementara dia masih tetap tak menatap ku. “Wae?” tanyaku dingin.

Dia melirik ku sekilas dengan tatapan tajam yang mengancam. “ Kau tidak akan melakukannya.”

Aku membanting pintu mobil dengan keras hingga menutup lalu merubah posisi duduk ku hingga menghadapnya. Sementara tanganku masih digenggam sangat erat olehnya. “Kenapa aku harus menuruti perkataan mu?”

Dia tak menjawab dan mulai menghidupkan mesin mobil kembali. Aku semakin kesal karena diacuhkan olehnya dan berusaha melepaskan tanganku. Semakin aku berusaha melepaskan tanganku semakin dia menguatkan genggamannya. Membuat tangan ku terasa begitu sakit. Mungkin tanganku akan memar karenanya. “ Lepaskan tanganku!!”

Dia tetap tak menghiraukan ku dan mulai melajukan mobil. “ Kris!!!! Lepaskan tanganku!!!!!”

Kris akhirnya menoleh dan menatapku tajam lalu melepaskan tanganku dengan kasar. “Apa mau mu sebenarnya?” katanya dingin dan menusuk hati. Namja ini benar-benar keterlaluan.

Aku mulai emosi dan balas menatapnya dengan dingin. “ Aku mau kau menjelaskan padaku kenapa tiba-tiba kau marah.” Dia kembali diam dan tak menghiraukan ku. “ KRIS!!!!!! Answer me!!!!!! Kenapa tiba-tiba kau marah? Apa aku melakukan kesalahan?!! Jangan membuatku bingung seperti ini, pabo!!!!!!” aku betul-betul marah sekarang dan berteriak padanya.

Kris kembali menoleh dan menatap ku. Sementara aku mengatur napas. Semua amarah ini membuat dadaku sesak dan napas ku memburu. Lalu tatapannya tiba-tiba saja melembut dan membuatku semakin bingung. “ Kau sama sekali tak melakukan kesalahan.”

“ Lalu kenapa kau tiba-tiba marah padaku?”

“ Mungkin aku hanya kesal karena kau memotret ku lagi tanpa izin.” Mendengar jawabannya itu membuatku otomatis mendekap erat tas ransel ku. Melindungi kamera kesayanganku yang ada di dalamnya dari jangkauan namja itu.

Dia tertawa kecil melihat reaksi ku itu lalu menepuk kepalaku pelan. Membuatku menghela napas lega karena akhirnya dia kembali lagi menjadi dirinya. “ Tenang saja. Aku tak akan menghapus semua hasil karya mu hari ini. Anggap saja sebagai permintaan maafku atas sikap buruk ku tadi.”

“ Hanya itu?” pertanyaanku membuatnya menatap ku bingung. “ Kau marah seperti ini hanya karena aku memotret mu tanpa izin seperti biasanya?”

Dia tampak berpikir lalu mengangkat bahunya. “ Mungkin.”

“ Kau ini benar-benar konyol.” Sindirku dan dia hanya tersenyum kecil.

“ Jadi, siapa namja itu?”

Aku menatapnya bingung. “ Namja yang mana?”

“ Yang bersama mu di pinggir lapangan tadi.”

“ Oh yang itu. Kau pasti kenal dia karena aku sangat mengidolakannya dan sering menceritakan semua tentang dia yang ku tau padamu.”

“ Jangan-jangan dia T.O.P Big Bang?”

Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. “ Dia alumni sekolah kita dan anggota club fotografi. Awalnya aku pikir dia tak akan datang menghadiri acara itu tapi ternyata dia datang. Aku merasa sangat beruntung. Apalagi aku berhasil memotretnya beberapa kali tanpa dia sadari.”

“ Kalian terlihat sangat akrab untuk ukuran orang yang baru pertama kali bertemu. Kau punya hubungan apa dengannya?”

“ Aku? Aku tak punya hubungan apapun dengannya selain jadi penggemarnya. Lagi pula walaupun aku sangat mengidolakannya tapi aku tak ingin punya hubungan khusus dengannya.”

“ Waeyo?”

“ Selain karena dia sangat narsis dia juga orang yang sangat terkenal. Aku sama sekali tak ingin berhubungan dengan orang yang terkenal sepertinya. Semua fansnya pasti akan meneror ku dan semua wartawan akan mengejarku hanya untuk mendapatkan sebuah berita. Aku tak ingin hidupku yang nyaman terusik dengan hal-hal seperti itu. Selain itu dia juga pasti selalu sibuk dan melupakan ku.”

“ Bagaimana denganku?”

“ Memangnya kau kenapa?” aku bingung dengan pertanyaan Kris itu.

“ Kalau aku terkenal apa kau juga tak ingin berhubungan denganku lagi?”

Pertanyaannya membuatku terdiam. Aku bingung bagaimana harus menjawabnya. Dia seorang trainer di sebuah entertaimen yang sangat besar dan akan segara debut bersama teman-temannya yang lain. Dan tentu saja dia akan terkenal. Apa aku masih ingin tetap berada di sampingnya saat dia terkenal nanti? Aku tak pernah memikirkan hal itu hingga dia menanyakannya.

Aku tersenyum manis padanya yang menatapku menunggu jawaban. “ Tentu saja aku tetap ingin berhubungan dengan mu. Dari dulu hanya kau yang ku miliki. Jadi tidak mungkin aku akan menjauhimu kan.” Sebenarnya aku sendiri tidak yakin dengan jawaban ku ini. Aku hanya ingin membuatnya senang.

Dia tersenyum lembut lalu mengacak rambutku gemas. “ Aku harap kau tidak berbohong.”

Aku mengangguk mantap walaupun sebenarnya hatiku sendiri ragu. Apa aku bisa tetap berada di sisinya jika dia terkenal nanti? Tidak. Itu bukan pertanyaan yang tepat. Apa dia tetap ingin aku berada di sisinya jika dia terkenal nanti? Sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini padanya. Tapi aku tak berani mendengar jawabannya nanti jadi aku hanya diam dan bersikap seperti biasanya.

Lalu mobil yang dikendarainya berhenti tepat di depan rumahku, seperti biasanya. Sebenarnya aku sering bingung dengan kebiasaannya yang selalu mengantarku sampai di depan rumah seperti ini. Padahal rumah kami bersebelahan. Seharusnya dia langsung menaruh mobilnya di dalam garasi rumahnya dan aku akan berjalan kaki ke rumahku. Tapi entah kenapa dia selalu memilih untuk mengantarku lebih dulu.

Aku melepaskan sabuk pengamanku dan hendak keluar tapi sudah lebih dulu ditahan olehnya. Aku menoleh dan menatapnya. “ Waeyo?”

“Besok hari sabtu, kan?”

Aku mengangguk dengan tampang bingung. “ Memangnya kenapa?”

“ Kau ada kegiatan besok?”

Aku menggeleng. “ Besok dan lusa aku akan di rumah seharian. Lagi pula sabtu dan minggu kan akhir pekan jadi sekolah libur.”

“ Bagus kalau gitu. Kau mau keluar bersamaku?”

“ Ke mana?”

Dia mengankat bahunya. “ Entahlah. Aku juga masih bingung mau ke mana. Besok kau tunggu saja aku di halte bus depan daerah perumahan kita. Aku akan menjemputmu di sana.”

“ Kenapa harus tunggu di sana? Aku kan bisa langsung ke rumahmu.”

“ Sebenarnya aku akan menginap di tempat latihan malam ini. Makanya aku menyuruhmu menunggu di sana.”

Aku tersenyum lalu mengangguk. “ Baiklah. Jam berapa kita akan pergi besok?”

“ Jam sepuluh.”

“ Dan kalau kau tak datang?”

Dia tertawa kecil. “ Aku pasti datang. Kalau pun aku tak datang kau kan bisa langsung pulang.”

Aku mendengus kesal. “ Kalau kau tak datang atau membuatku harus menunggu lama di halte bus, aku tak akan menegur mu untuk waktu yang lama.”

Dia mengacak rambutku sambil tersenyum singkat. “ Baiklah. Tidurlah dengan nyenyak malam ini.”

Aku mengangguk lalu membuka pintu mobil. “ Kau juga. Jangan sampai lupa makan dan tidur yang cukup.”

Dia kembali tersenyum singkat. “ Ne omma.” Dia menggodaku. Namja ini benar-benar menjengkelkan. Aku hanya mendengus kesal lalu keluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan keras.

Mobil itu lalu berlalu dari hadapan ku. Tidak kembali ke rumahnya lebih dulu. Sepertinya dia langsung pergi ke tempat latihannya. Aku mendesah lalu masuk ke dalam rumahku yang sepi. Sepertinya kedua orang tua ku akan pulang larut malam lagi hari ini. Aku kembali mendesah lalu langsung masuk ke kamarku di lantai dua.

Hidup sendirian di rumah besar seperti ini membuatku kesepian. Kedua orang tua ku biasanya pergi bekerja pagi-pagi sekali dan akan pulang begitu tengah malam. Membuat kami jarang sekali bertemu padahal kami tinggal serumah. Hidup seperti ini membuatku benar-benar bosan. Kapan hidup ku ini akan berubah?

Aku menatap jam dinding sekilas. Masih jam 03.00 KST. Aku lalu membanting diriku sendiri ke atas kasur yang nyaman lalu tertidur. Lagi pula aku tak ada kerjaan lagi selain sekolah dan Kris tak ada di rumahnya. Tidur adalah satu-satunya pilihan yang sangat bijak untuk menghabiskan waktu hari ini.

ppeogigayo ppeogiga aju ppeogigayo ppeok ppeok
aju ppeogigayo aju ppeokppeokppeokppeok ppeogigayo
dulman bomyeon nado mollae ppeogigayo ani sonigayo
urigayo? neon ppeogigayo
this is double double double double (combo)
double double double (combo)
this ain’t bubble bubble bubble bubble (gum)

Aku terbangun dan menatap ke sekeliling. Sementara handphone ku terus berbunyi entah dari mana. Jam berapa ini? Berapa lama aku tidur? Aku menatap kamar ku yang gelap gulita lalu menatap jendela ku yang terbuka lebar. Sepertinya aku lupa menutup jendela tadi.

Sudahlah tak usaha memikirkan hal itu. Sekarang yang harus di pikirkan adalah menemukan handphone ku yang masih melantunkan lagu knock out dari GD dan TOP Big Bang. Siapa yang menelpon malam-malam begini. Tanpa menyalakan lampu dan hanya mengandalkan cahaya dari bulan yang masuk ke kamarku akhirnya aku menemukan handphone ku. Tergeletak di atas meja belajarku tepat di samping kamera kesayanganku.

Aku menatap layar handphoneku sebentar. Menatap jam yang tertera di sana. Sudah jam dua belas malam. Siapa orang kurang kerjaan yang menelponku tengah malam begini. Aku langsung mengangkat telpon itu sambil berjalan menuju balkon kamarku. Sepertinya pemandangan langit malam ini cukup bagus untuk di lihat.

“ Yeoboseo?”

“ Ahh…. Akhirnya kau angkat juga telpon ku. Kemana saja kau? Kenapa lama sekali mengangkat telponnya?”

Aku mengernyit bingung mendengar perkataan namja yang menelponku ini. Apa mungkin namja ini salah sambung. “ Nuguya?”

“ Kau tidak mengenaliku? Itu membuatku sakit hati.”

Aku mulai kesal mendengar jawaban orang ini. Mungkin dia benar-benar salah sambung. “ Aku sedang tak ingin bercanda sekarang. Kalau kau tak menyebutkan namamu sekarang aku akan mematikan telponnya.”

“ Baiklah kau menang. Ini aku, Choi Seung Hyun.”

Aku terkejut mendengar pengakuannya. Apa benar orang yang menelpon ku ini adalah T.O.P Big Bang? Tapi sepertinya tidak mungkin. Pasti hanya orang iseng yang ingin mengerjaiku. “ Oh seriuslah ahjussi. Katakan siapa sebenarnya kau dan mau apa menelpon ku malam-malam begini?”

Aku mendengar namja yang menelponku itu berdecak kesal. “ Sudah ku bilang aku belum setua itu untuk di panggil ahjussi. Seharusnya kau memanggilku oppa seperti perjanjian tadi pagi.”

“ Kau benar-benar Choi Seung Hyun? Kau tidak bercanda kan?” aku masih belum percaya dengan perkataannya. Seingatku aku sama sekali tak memberikan nomor telponku pada Choi Seung Hyun saat dia memintanya. Dari mana dia mendapatkan nomorku?

“ Kalau kau tak percaya kau bisa melihat ke bawah sekarang. Lagi pula pemandangan langit malam tak begitu bagus malam ini.”

Mengikuti kata-katanya aku langsung menatap ke bawah dan terkejut. Tepat di depan gerbangku berdiri seorang namja yang sangat ku kenali sedang bersandar pada kap Ferarri merah menyala. Dia melambai kearah ku sambil tersenyum lebar. Sepertinya dia sangat senang karena berhasil membuatku terkejut hingga tak bisa berkata apa-apa. “ Hei, kau mau tetap di atas sana atau turun ke sini menemui ku? Kau tau malam ini cukup dingin dan sepertinya jaket yang ku pakai tak begitu berfungsi. Kalau kau tak mau ke luar dan menemuiku setidaknya izinkan aku masuk ke dalam.”

Aku masih terkejut melihat kehadirannya hingga tak bisa mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama. Dan begitu tersadar pikiran pertama yang terlintas di benak ku adalah untuk apa dia ke sini. “ Sunbae sedang apa kau malam-malam ke rumah ku?”

“ Untuk menemui mu. Tidak boleh?”

“ Kau tau dari mana alamatku dan juga nomor telponku? Sunbae apa kau menguntitku dari sekolah tadi?”

Ku dengar dia mendesah pelan. Sementara sosoknya terus menatapku sambil memasukkan tangannya yang bebas ke dalam saku jaketnya. “ Sudah berapa kali aku menyuruhmu memanggilku oppa tapi kau tak pernah menurut. Selain itu aku bukan penguntit. Aku tak punya waktu untuk melakukan hal yang kurang kerjaan seperti itu.”

“ Lalu dari mana kau dapat alamat dan nomor telpon ku?”

Dia tertawa kecil. “ Aku menyuruh orang lain untuk mencarinya.”

“ Sunbae itu sama saja dengan penguntit.”

“ Yah sesuka mu lah mau menyebutnya apa. Ngomong-ngomong kau akan menghampiri ku atau kau akan mengizinkan aku masuk ke dalam? Karena di luar sini betul-betul dingin.”

“ Bagaimana kalau kau masuk saja ke dalam.”

“ Baiklah. Tapi orang tua mu tak masalah?”

“ Mereka tak ada di rumah. Tunggu sebentar. Aku akan segara turun dan membukakan pintu untuk mu.” Lalu aku mematikan telpon dan segera berlari keluar.

 

CHOI SEUNG HYUN POV

Aku tersenyum menyambut yoeja yang membukakan gerbang untuk ku. Dan senyum ku semakin lebar melihat penampilannya. Yoeja itu masih menggunakan seragam sekolah lengkap sama seperti tadi pagi. Yang membuatnya berbeda hanya tatanan rambutnya yang acak-acakan dan wajah khas baru bangun tidur.

Seperti aku yang sedang mengamatinya, dia juga sedang mengamati penampilanku. Dan kulihat keningnya sedikit berkerut. “ Wae geurae?”

Yeoja itu masih menatap aneh diriku lalu menunjuk penampilanku dari atas sampai bawah. “ Kau mau ke mana sampai berpenampilan seperti ini? Pakai topi, syal dan juga kaca mata hitam malam-malam begini?”

Aku tersenyum kecil. “ Aku orang yang sangat terkenal seperti yang kau tau. Jadi aku tak bisa dengan santainya menunjukkan wajah ku di depan umum. Bisa-bisa keadaan akan kacau kalau aku pergi ke luar tanpa penyamaran seperti ini.”

“ Omo omo, kau ternyata sangat narsis, sunbae.”

“ Sudah ku bilang panggil aku oppa. Kau ini sangat susah untuk mematuhi orang lain ya.”

Dia mendelik kesal lalu membuka pintu gerbangnya lebar-lebar. “ Masuklah. Sebelum kau membuat kacau keadaan hanya dengan kehadiranmu di sini.”

Aku tersenyum lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah yang ternyata cukup besar dan megah. Tapi yang membuatku bingung adalah rumahnya terkesan begitu sunyi. “ Rumah mu sunyi sekali.”

“ Aku hanya tinggal sendiri di sini. Sementara kedua orang tua ku terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sampai mereka lupa kalau mereka memiliki seorang anak.” Dia tersenyum saat menjelaskan hal itu. Ternyata yoeja ini sangat tegar. Lalu dia mempersilahkan aku duduk.

Aku membuka topi, syal dan juga kaca mata hitam ku lalu duduk di sofa yang nyaman. Sementara dia duduk di hadapan ku. “ Sunbae, kau mau minum apa?”

Aku menggeleng. “ Tidak usah repot-repot.”

“ Baiklah kalau itu mau mu. Lalu kenapa kau ke sini malam-malam begini? Selain untuk menemuiku.”

“ Sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”

“ Mwo? Malam-malam begini? Kau sudah gila.”

Aku tersenyum kecil. “ Sebenarnya aku ingin mengajakmu keluar sore tadi tapi ternyata aku ada jadwal dan baru selesai jam sebelas tadi.”

“ Memangnya tak bisa lain kali? Seharusnya kau istirahat dan bukannya langsung keluyuran tengah malam begini ke rumah orang.”

“ Mau bagaimana lagi besok dan seterusnya jadwal ku sangat padat. Jadi aku memutuskan mengajakmu keluar sekarang.”

“ Kau sadar diri kalau kau itu orang yang sibuk sih bagus tapi sunbae kau telah mengganggu jam tidurku.”

“ Tapi sekarang kan kau sudah bangun. Selain itu melihat penampilanmu yang masih pakai seragam lengkap seperti itu pasti saat pulang sekolah tadi kau langsung tidur. Itu artinya kau sudah mendapatkan tidur yang cukup.”

Kulihat dia berdecak kesal dan aku semakin tersenyum. “ Baiklah. Kau mau mengajak ku ke mana?”

“ Lebih baik kau siap-siap saja dulu. Aku tak ingin pergi berdua dengan yoeja yang masih memakai seragam dan tampang baru bangun tidur seperti itu.”

“ Aish kau ini benar-benar menyebalkan. Baiklah. Tunggu sebentar di sini.” Dia lalu bangkit dan berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.

Aku kembali tersenyum lalu menyandarkan punggungku pada sandaran sofa. Berusaha membuat diriku senyaman mungkin sambil menunggunya bersiap-siap. Sebenarnya apa yang ku lakukan sekarang sama sekali tak seperti diriku. Biasanya aku memperlakukan para fans ku dengan cara selayaknya para idola memperlakukan penggemarnya.

Tapi sikap ku pada yoeja ini berbeda. Aku yang bertekat tidak akan menjalin hubungan dengan penggemarku sendiri justru melupakan tekat ku itu hanya karena yoeja itu. Dia berbeda. Tak seperti para penggemarku yang lain yang langsung histeris saat melihatku, dia justru terlihat begitu tenang. Cara bicaranya pada ku seolah aku bukan orang terkenal yang jadi idolanya tapi lebih seperti teman dekatnya. Dan aku menyukai caranya yang menganggapku seperti teman dekatnya itu.

Tapi semua itu bukan alasan sebenarnya aku melakukan hal ini. Satu hal yang penting dan menjadi alasan terbesarku untuk melakukan hal ini adalah karena yoeja itu berhasil menarik semua perhatianku saat pertama kali bertemu. Membuatku sangat penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh lagi.

 

HAN SOO MI POV

Aku menoleh dan menatap sosoknya yang sibuk menyetir. Entah mau dibawanya aku ke mana malam-malam begini. Dia sama sekali tak menjelaskannya dan hanya tersenyum kecil setiap kali aku bertanya. Membuatku kesal sendiri dan akhirnya memilih diam. Lama-lama namja ini mirip seperti Kris. Sangat susah untuk di tebak jalan pikirannya. Ngomong-ngomong tentang Kris, sekarang dia sedang apa ya? Apa dia sudah tidur atau masih terjaga dan latihan?

Lalu mobil sport yang ku tumpangi ini berhenti tepat di depan tempat ice skating yang sudah tutup dari tadi. Jelas saja karena ini sudah tengah malam dan tak ada lagi yang mengunjungi tempat ini selain kami berdua malam-malam begini. Sepasang orang kurang kerjaan.

Choi seung hyun keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk ku dan mengulurkan tangannya. Aku menatapnya dengan bingung. “ Mau apa kita di sini?”

“ Bermain ice skating. Memangnya apa lagi?”

“ Tapi aku tak membawa sepatu ice skating. Lagi pula ini sudah tengah malam dan tempat itu tutup.”

“ Tenang saja. Aku sudah mengurus semuanya. Termasuk membelikan mu sepatu ice skating.”

“ Memangnya kau tau ukuran kaki ku?”

“ Kan tadi aku sudah bilang kalau aku menyuruh orang untuk mencari tau tentang dirimu. Jadi aku juga tau berapa ukuran kaki mu. Kajja. Kau mau tetap di mobil sampai pagi atau menemaniku bermain ice skating?”

Aku mendengus kesal lalu menatap tempat ice skating itu dengan ragu. Aku sama sekali tak bisa bermain ice skating. Dan aku tak ingin mempermalukan diriku sendiri di depannya jadi sepertinya aku akan memilih tetap di mobil sampai pagi.

Sepertinya dia dapat membaca pikiranku dan tersenyum mengejek. Dan senyumnya itu benar-benar membuatku jengkel. “ Jangan bilang kau tak bisa bermain ice skating?”

“ Aku memang tak bisa bermain ice skating.” Jawabku jujur dan kesal. Kesal karena dia langsung tertawa geli. Walaupun suara tawanya sangat indah tapi tetap saja membuat jengkel. “YA!!!! Jangan tertawa lagi!!!” bentak ku tapi dia tetap saja tertawa.

Namja ini benar-benar menjengkelkan. Aku menatap ke sekeliling mencari benda yang bisa dilempar tapi tak menemukan apapun. Aku ingin sekali memukulnya tapi aku juga tak berani karena namja ini jika marah sangat mengerikan. Dan aku tak ingin melihatnya.

Setelah berhasil menghentikan tawanya dia menatapku lembut lalu meraih tanganku. “Kajja. Aku akan mengajarkan caranya padamu.”

Aku menggeleng cepat. Aku sama sekali tak ingin merasakan jatuh di lapangan es yang keras dan dingin itu. Melihat reaksiku dia tersenyum kecil lalu menepuk kepalaku pelan. “Tenang saja aku tak akan membiarkanmu jatuh.”

Aku masih merasa ragu dengan janjinya itu. “ Kau janji?” dan dia pun mengangguk sebagai jawabannya.

CHOI SEUNG HYUN POV

Aku meluncur dengan santai sambil menunggu Soo mi selesai memasang sepatu ice skatingnya. Lalu kulihat yoeja itu memasuki arena ice skating ini dengan pelan dan sangat hati-hati sambil terus memegang pagar pembatas yang mengelilingi lapangan es ini.

Aku tersenyum lalu meluncur kearahnya dengan cepat dan berhenti tepat di sampingnya. “Kau lama sekali. Membuatku hampir bosan karena menunggu mu.”

Dia menatap ku kesal sementara wajahnya terlihat khawatir. Takut kalau tiba-tiba saja dia akan jatuh dan membentur lapangan es yang keras dan dingin ini. “ Kau bilang kau akan mengajari ku bermain ice skating.”

“ Aku memang sedang mengajari mu.”

Dia menatapku dengan kening berkerut. “ Mengajari apa? Yang ada kau sibuk meluncur sendiri ke sana ke mari. Sementara aku tetap di pinggir lapangan sambil tetap berpegangan dengan pagar.”

Aku tersenyum. “ Aku sedang menunjukkan pada mu bagaimana caranya meluncur. Seharusnya kau langsung bisa melakukannya sesuai yang ku tunjukan padamu.”

Dia mendengus kesal. “ Berbicara itu lebih mudah daripada melakukan. Bagaimana caranya aku langsung bisa meluncur hanya dengan melihat cara mu?”

Aku kembali tersenyum kemudian mengulurkan kedua tanganku padanya. “ Berikan tanganmu.”

Dia menatap tanganku lalu menggeleng. “ Aku tidak mau.”

“ Kalau begitu kau tetap saja berdiri di sini sambil berpegangan pada pagar. Sementara aku akan bermain sendiri.” Ku lihat dia tampak ragu dan akhirnya memberikan kedua tangannya pada ku. “ Jangan sampai aku jatuh.”

Aku menggenggam kedua tangannya dengan erat. “ Aku akan menjagamu.” Lalu aku membawanya meluncur pelan bersama ku. Dia tersenyum lebar karena akhirnya berhasil meluncur di atas es tanpa terjatuh. Dan senyum lebarnya itu berkembang menjadi tawa bahagia.

Aku ikut tertawa lalu melepaskan tangan kirinya dan meluncur tepat di sampingnya sambil menggenggam erat tangan kanannya. Dia balas menggenggam tanganku dengan erat. “Kalau sampai aku jatuh aku tak ingin lagi jadi penggemar mu, sunbae.”

Aku tersenyum padanya lalu melonggarkan genggamanku. Dan hal itu membuatnya sedikit panic. “ Kalau kau tidak memanggilku oppa, aku akan melepaskan tanganmu.”

“ Sunbae, jangan bercanda.” Wajahnya kembali ketakutan sementara tangannya menggenggam tanganku lebih erat.

Aku tersenyum jail dan berusaha melepaskan genggaman tangannya dari ku. “ Aku tidak bercanda, Soo mi.”

“ Sunbae….” Dia mulai merengek dengan lucu. Membuatku berusaha menahan tawaku.    “ Panggil aku oppa.”

“ Baiklah, oppa. Kau puas?” Dia mulai kesal tapi wajahnya tetap khawatir.

Aku diam dan berpikir sementara genggamannya semakin erat di tanganku. Lalu aku menggeleng dan mulai melepaskan genggamannya. “ Kurang meyakinkan.”

“ Seunghyun oppa, kau berjanji tidak akan melepaskanku, kan. Oppa.” Aku tertawa mendengar ucapannya yang panic itu. Lalu aku kembali menggenggam tangannya dengan erat. Sangat erat hingga dia tak perlu lagi merasa khawatir akan jatuh. “ Kau benar. Aku tidak akan melepaskanmu.” Lalu aku mengajaknya meluncur lebih cepat bersamaku.

Dia kembali tertawa dan meremas tanganku pelan. Sadar kalau aku hanya mengerjainya. “Kalau kau berani melepaskan ku, aku tak akan memaafkan mu, oppa.”

~TBC~

Hahaha…. Ceritanya makin gaje. Sebenarnya ini cerita tentang Soo mi dan Kris tapi kenapa jadinya cerita Soo mi dan TOP? Author sendiri bingung sama cerita ini * author sarap* tapi semoga aja kalian suka dan author akan memusatkan pikiran untuk membuat FF ini dengan benar J

 

16 pemikiran pada “Stand By Me (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s