Saranghaeyo Ahjussi (Prolog)

Saranghaeyo Ahjussi ^^

Prolog

Author: DebDeb

Length: Chaptered

Genre: Romance, Family, School Life, AU

Rating: Teenager

Cast:-Lee Youra (Fiction)

-Wu Yi Fan/Kris (EXO-M)

-Park Chanyeol (EXO-K)

-Im Yoon Ah/Yoona (SNSD)

-Kim Jae Joong (JYJ)

-Lee Yourin (Fiction)

-Song Qian/Victoria (F(X))

-Kim Jae In (Fiction)

Disclaimer:Cast adalah milik mereka sendiri, Tuhan, dan Orang Tua mereka. Tapi ‘Fiction’ adalah fiksi. Cerita milik Author. Tidak ada plagiat apapun karena cerita ini murni 100% ‘Imajinasi’ Author. Maaf sekali jika ada kesamaan nama ataupun latar belakang cerita. Nama sekolah maupun perusahaan disini adalah fiksi.“Wu Corporation” disini itu seperti “Shinhwa Group” di Boys Before Flowers. Dan perilaku Kris juga Cast EXO lainnya juga hanya saya reka-reka. 50% berasal dari pikiran saya dan 50% dari Facts yang saya baca.

Kris masih bersandar pada bantal yang terletak pada tempat tidurnya yang besar dan bisa di bilang mewah. Selimut putih menutupi sebagian dari tubuhnya. Cahaya matahari yang terik menerangi seluruh bagian kamarnya dari jendela kaca besar yang tak ditutupi oleh tirai dan menjadi sebuah penerangan alami bagi Kris yang masih sibuk membaca. Dengan cepat Kris menutup bukunya ketika ia membaca kata ‘Tamat’ pada halaman terakhir.

Kris menaruh buku itu di sebelahnya dan menyibakan selimut yang menutupi bagian tubuhnya ke samping. Ia berusaha bergerak ke tepian tempat tidur perlahan. Setelah terduduk di tepian, ia menyentuhkan kakinya ke lantai yang berlapis dengan karpet hitam tebal. Sambil menggulung lengan piyamanya yang berwarna pastel ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi yang masih terletak di kamarnya.

Tangan Kris yang panjang menyentuh dinding kamarnya yang dilapisi dengan Wallpaper abu-abu. “Kriiiiiiingggggg”, nada dering monoton terdengar dari arah ponselnya yang terletak di atas meja kecil  di samping tempat tidurnya. Kris menghentikan langkahnya dan berbalik arah untuk berjalan ke meja kecil itu. Dengan cepat ia telah mengambil ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Kris mengelus halus layar sentuh ponselnya dan mendekatkan ponselnya ke telinga kanannya.

“Yoboseyo.”, sapanya. Suara beratnya yang khas membuka pembicaraan tersebut.

“Wu Fan. Kau bisa ke kantor sekarang?”, kata seorang namja dengan nada suara agak panik dari ujung telepon.

“Mianhae Hyung. Hari ini aku harus mengurus pindahanku.”, jawabnya dengan kening berkerut dan mata terpejam.

“Aishhhhh! Ottokhe?”, kata namja yang di panggil Hyung itu dengan nada yang terdengar semakin panik dari sebelumnya.

“Memangnya kenapa?”, tanyanya agak gusar.

“Aku tak bisa menjelaskan disini.”

Kris hanya bisa menggelengkan kepala ,memijat dahinya pelan, dan mengacak-acak rambut pirangnya. Ia menarik napas lelah. ‘Sepertinya aku harus mengalah’itulah yang ia pikirkan sekarang. Kris membuka matanya perlahan dan menggerakan bibirnya. Pertanda bahwa ia akan berbicara.

“Tunggu aku. Aku akan kesana.”, katanya sambil menutup matanya lagi dengan frustasi. Ia tahu mimik wajahnya tak akan berarti. Karena Hyung-nya sendiri hanya bisa mendengar suaranya di telepon. Bukan melihat dirinya.

“Gomawo Wufan. Aku akan menunggumu. Mianhae jika sudah mengganggu liburanmu.”, kata Hyung-nya dan memutuskan telepon.

Kris sebenarnya ingin sekali meneriaki Hyung-nya bahwa ia sangat terganggu, tapi ia mengurungkan niatnya. Kris meletakan ponselnya kembali ke atas meja dan berjalan pelan ke arah kamar mandi.

“Akhirnya aku juga yang mengalah. Mungkin aku seharusnya yang jadi Hyung.”, gumamnya pada dirinya sendiri. Ia membuka pintu kamar mandi dan melangkah masuk ke dalamnya.

BLAM

Ia melampiaskan seluruh rasa frustasinya pada pintu kamar mandi yang tadi ia tutup dengan keras.

~**^^**~

Yeoja bernama Lee Youra sedang terduduk diam di kursinya. Kepalanya ia sandarkan pada jendela kelas yang putih bersih. Matanya menatap awan-awan putih yang bergerak lembut di langit yang cerah hari itu.

“Kau tidak mau ke kantin?”, tanya sebuah suara berat dan dalam dari arah sampingnya. Youra mengedipkan matanya sekilas lalu menolehkan kepalanya ke samping. Youra tersenyum mendapati seorang Park Chanyeol yang sedang berdiri di sampingnya.

“Aku mau.”, jawab Youra seadanya dan memandang dengan tatapan lesu dan malas pada teman baiknya sejak ia kecil itu. Chanyeol yang merasa gusar sedari tadi atas tindakan Youra bergegas duduk di kursinya yangberadatepat di samping kursi Youra.

“Wae? Dari tadi pagi kau kelihatan lesu. Apa kau marah karena aku tak mengantarmu seperti biasa? Mianhae, tadi pagi saat aku mencoba menyalakan motorku ternyata mesinnya tak berfungsi dengan baik. Aku tahu aku salah tidak mengabarimu terlebih dahulu sehingga kau terlambat pagi ini.”, katanya panjang lebar dengan wajah memelas.

“Aniyo. Bukan itu Yeolie-ah.”, kata Youra yang memanggil Chanyeol dengan panggilan khasnya.

“Lalu apa?”, tanya Chanyeol penasaran. Namja itu kelihatan bingung karena tak dapat menebak apa yang terjadi dengan temannya itu. Terlambat? Tak di jemput olehnya? Atau apa? Chanyeol sudah kehabisan akal untuk menebak-nebak apa yang terjadi.

“Sejak kemarin, Eomma-ku sudah memaksaku untuk ikut bertemu dengan temannya. Kata Eommaku disana akan ada anak dari temannya itu. Kau tahu kan kalau Yourin Eonni selalu sibuk di Butik sehingga ia tak bisa ikut. Entahlah apa yang di pikirkan Eomma-ku sehingga aku harus ikut. Bahkan Eommaku sampai-sampai rela aku bolos sekolah karenanya.”, jelas Youra. Ia menarik napasnya lalu menghembuskannya lelah. Chanyeol hanya bisa mengangguk mengerti. Chanyeol sengaja membiarkan Youra berbicara dahulu. Karena ketika ia sampai berani memotong pembicaraan itu, ia yakin akanada benjolan besar di dahinya nanti.

“Siapa tahu anak dari teman Eomma-mu itunamja dan ia tampan? Kenapa kau tak ikut saja? Lagipula bukannya tak sekolah itu enak ya?”, kata Chanyeol dengan polos.

“Mwo? Tampan? Aku tak perduli dengan itu! Masalahnya anak dari teman Eomma-ku itu sudah tua! Bahkan mungkin aku cocok menjadi keponakan anak dari teman Eomma-ku itu! Kau tahu kan aku tak suka Namja yang tua? Kau tahuaku baru 17 tahun! Jadi aku hanya menerima perbedaan usia maksimal EMPAT TAHUN di atasku!”, kata Youra galak.

“Aigoooo.. Mianhae. Kau menakutkan sekali kalau marah. Dengar Lee Youra! Jangan berbicara dan berasumsi jelek terlebih dahulu. Siapa tahu Namja itu tampan. Dan hati-hati. Aku takut kau akan termakan oleh omonganmu sendiri! Kajja kita ke kantin.”, kata Chanyeol.

Chanyeol dan Youra berjalan keluar kelas sambil mengobrol dan tertawa satu sama lain. Sedangkan itu, di tempat lain seorang Yeoja berwajah Chinese sedang menatap Youra dan Chanyeol dengan tatapan sendu. Ia menundukan kepalanya ketika menyadari tatapan penuh perhatian Chanyeol pada Youra.

~***~

Kris melangkahkan kakinya memasuki sebuah gedung tinggi yang besar dan megah di Seoul. Sebuah pintu kaca besar yang terbuka secara otomatis tergeser ke samping. Setiap karyawan dengan sigap segera membungkuk hormat pada Presdir mereka yang baru saja tiba. Kris balas tersenyum begitu melihat para karyawan.

Siapa yang tak akan hormat padanya? Kris adalah seorang Presiden Direktur dari “Wu Corporation” salah satu perusahaan terbesar ke-tiga di Korea yang bergerak di bidang jasa, perhotelan, atupun barang-barang eletronik di umurnya yang baru 28 tahun.

Kris berjalan menuju pintu Lift. Setelah pintu Lift terbuka Kris segera masuk kedalam Lift diikuti bungkukan hormat para karyawan perusahaan. Tak berapa lama Kris sudah berjalan keluar dari Lift menuju ruangannya.

“Kau sudah datang?”, tanya Victoria, asisten sekaligus teman kecil Kris. Kris hanya menatap Victoria sebentar dan tersenyum malas. Kris merapatkan jas hitamnya lalu berjalan ke depan pintu ruangannya.

“Bisakah kau jawab dulu pertanyaanku Wufan?”, kata Victoria yang jengkel karena selalu menjadi pelampiasan ke-frustasian Kris. Kris masih memegang gagang pintu ruangannya dan terdiam. Kris hanya menatap pintu ruangannya yang besar.

“Kau mau aku jawab apa? Lebih baik kau kabari dulu Jae Joong Hyung bahwa aku sudah ada di kantor.”, kata Kris tanpa melihat Victoria. Ia segera menekan gagang pintu itu ke bawah dan memasuki ruangannya.

Victoria kembali berjalan menuju ruangannya sambil melemparkan tatapannya keluar jendela. Pemandangan Kota Seoul begitu indah terhampar di bawah sana. Victoria memejamkan matanya dan kembaili melangkah dengan cepat.

“Kenapa ia masih belum bisa melupakan Yoona?”, tanya Victoria lesu.

Kris menutup pintu di belakangnya dengan keras. Ia tak perduli jika banyak orang yang akan mendengar suara pintu ruangannya itu. Semua orang memang harus tahu bahwa ia membutuhkan liburan. Bahkan liburannya baru dua hari tapi ia sudah harus ke kantor karena urusan mendadak. Kris berjalan ke arah meja kerjanya dan menaruh tasnya ke sebuah sofa yang berada di pinggir ruangan.

“Aku bisa gila.”, kata Kris sambil memegang keningnya dan menjatuhkan dirinya kedalam sebuah kursi hitam besar di balik meja kerjanya. Kris memandang arlojinya yang terikat di pergelangan tangannya yang putih sambil menghembuskan napas pelan karena tak sabar menunggu kedatangan Hyung-nya.

CKLEK

Kris mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Ia melihat seorang namja telah berjalan masuk ke dalam ruangannya dengan setelan jas hitam. Kris menatap Hyung-nya itu dengan tatapan menyeramkan. Jae Joong–Hyung Kris-yang menyadari tatapan Kris segera mengangkat tangannya ke atas tanda menyerah.

“Mianhae.”, kata Jae Joong singkat sambil menurunkan tangannya ke bawah dengan lemas.

“Ada masalah penting apa sampai Hyung benar-benar membutuhkanku?”, tanya Kris tak sabar. Ia tak mampu lagi berkata apa-apa. Yang dia inginkan Jae Joong segera mengatakan tentang masalah apa. Setelah itu Kris hanya berharap dapat menyelesaikan masalah itu cepat dan kembali ke rumahnya.

“Eomma ingin aku dan kau ikut bertemu dengan temannya.”, kata Jae Joong tenang. Kris mengangkat sebelah alisnya. Benarakah hanya itu?

“Hanya teman Eomma kan? Bukan dengan anaknya?”, tanya Kris untuk memastikan. Sudah berkali-kali Eommanya menyuruh Kris dan Jae Joong ikut ketika ia bertemu dengan temannya. Tapi nyatanya, pertemuan itu berujung dengan perjodohan.

“Hahahaha.. Kau hebat Wufan! Kau bisa mengetahuinya dengan cepat.”, kata Jae Joong sambil tertawa. Dengan cepat Jae Joong mengubah ekspresi wajahnya yang tadi tertawa menjadi serius. Ia mengecilkan suaranya dan berbicara,

“Itulah konsekuensi kita yang belum juga mempuanyai Yeojachingu.Eomma bilang. Sebelum kau berumur 28 tahun November nanti, kau sudah harus mempunyai Yeojachingu.”

~**^^**~

Dentingan alat makan yang menyentuh piring kaca dengan lembut juga alunan piano yang merdu menjadi musik latar bagi Kris dan Jae Joong yang sedang terduduk berhadapan di sebuah restoran mewah. Bola mata Kris menatap kosong ke depan. Kenapa ia menyetujui hal ini? Bagaimana bisa?

Kris menatap Jae Joong. Hyung tirinya itu hanya terdiam sambil sibuk menggerakan tangannya di atas layar tablet miliknya. Ketika memandang Jae Joong, Kris seketika itu juga mengingat hal yang sudah sangat lama.

Kris mengambil ponselnya dan melihat sebuah foto keluarga yang ia jadikan Wallpaper ponselnya. Disana seorang wanitadan laki-lakiyang berwarga-kenegaraan Cina yang terlihat sebagai sepasang suami-istri sedang tersenyum sambil menggandeng seorang anak laki-laki dengan kulit yang hitam karena terbakar sinar matahari yang berumur sekitar belasan tahun dengan latar belakang Air Terjun Niagara di Kanada yang begitu megah dan indah.

Dan tiga orang itu adalah Kris dengan ayah dan ibu kandungnya.

“Bagaimana kabar Mom di surga sana?”, tanya Kris lirih dalam hati.

Jika menelisik lebih dalam tentang dirinya, setiap orang akan mendapati bahwa Kris adalah seorang yang berasal dari Cina, bahkan ia tidak mempunyai darah ataupun keluarga keturunan Korea sebelumnya. Ayahnya adalah seorang pria yang tampanjuga cerdas, dan ibunya adalah seorang wanita yang cantik dari daerah Nanjing, Cina. Kris sesekali menghela napas sedih ketika mengingat suatu hal yang mengubah hidupnya secara drastis.

Ibu yang selama ini ia kenal dan ia sungguh sayangi meninggalkannya untuk selama-lamanya ketika ia berumur 12 tahun. Perasaan sedih, tertekan, dan frustasi menghantui Kris dan ayahnya selama berbulan-bulan. Dan saat dalam keadaan berkabung yang dalam itu ayah Kris memutuskan untuk pindah dari Kanada.

Korea. Negara Gingseng itulah tujuan ayah Kris. Melupakan masa lalunya yang menyedihkan dan mencoba untuk membuka suatu perusahaan di sana. Tahun demi tahun berlalu. Kris mendapati dirinya dapat kembali bangkit dari rasa sedihnya ketika seorang Yeoja bisa mengisi relung hatinya.

1 tahun kemudian ayah Kris memutuskan untuk menikahi seorang wanita yang mempunyai seorang anak laki-laki yang umurnya satu tahun di atas Kris. Dan itulah Kim Jae Joong, yang sekarang berada di depannya.

“Jangan melamun.”, kata Jae Joong. Kris menaikkan wajahnya menatap Jae Joong. Dan dengan cepatnya Kris memasukan ponselnya kedalam saku jas hitamnya lalu mulai bersikap seperti biasa. Otak Kris bekerja seratus kali lebih keras sekarang. Segala cara sudah ia pikirkan untuk menghindari perjodohan ke sekian kali ini. Tapi sia-sia. Seluruh idenya sudah ia gunakan pada kesempatan yang lalu. Hanya ide-ide gila yang terlintas di benaknya. Tapi ia harus lakukan!

“Hyung.”, kata Kris dengan suara agak kecil, ragu apakah ia akan melakukan hal ini atau tidak.

“Ne?”, jawab Jae Joong. Jae Joong akhirnya memutuskan untuk mematikan tablet-nya dan memasukan tablet itu pada tas kerja yang ia bawa.

“Aku ingin ke toilet.”, kata Kris dengan susah payah dan menarik napasnya lega ketika berhasil mengucapkan empat kata sederhana itu.

“Oh.. Aku kira ada apa.Jangan lama-lama ya. Eomma dan temannya sebentar lagi sampai.”, kata Jae Joong sambil menunjukan layar sentuh ponselnya yang menampilkan sebuah pesan dari Nyonya Wu.

“Ne. Aku usahakan.”, kata Kris sambil terkekeh kecil.

“Yak! Memangnya kau mau apa di toilet?”, kata Jae Joong ikut tertawa. Kris hanya mengangkat bahunya dan berjalan pergi meninggalkan Jae Joong dengan wajah penuh kemenangan, Kris menggeleng sedikit tak percaya betapa mudahnya Hyung-nya itu di bodohi oleh dirinya. Kris tetap berjalan santai menuju lorong toilet pria ketika kepala Jae Joong masih mengikuti kemana ia melangkah.

Begitu Jae Joong berhenti mengamati, Kris segera berjalan meninggalkan lorong toilet menuju pintu keluar. Kris tersenyum santai begitu melihat daerah luar. Rasanya begitu bebas dan melegakan. Rasanya beban dan ketakutannya lenyap begitu saja bagaikan asap yang keluar dari pundaknya. Tapi rasa itu tak bertahan lama ketika sebuah mobil yang sangat mewah berwarna Silver terlihat memasuki lahan parkir restoran menuju pintu masuk utama dimana Kris berdiri sekarang.

Rasanya beban, dan kekhawatirannya yang baru saja hilang kembali jatuh tepat di pundaknya lagi. Kris berlari dengan langkah yang lebar menuju lahan parkir. Ia menghembuskan napas lelah dan sesaat kemudian menepuk dahinya.

“Bagaimana bisa aku lupa? Aku tidak membawa mobil! Aku kesini dengan mobil Hyung! Damn!”, kata Kris tak percaya dengan kebodohannya. Seharusnya ia bisa ingat tentang hal sepenting ini.

Kris memejamkan matanya kemudian meyakini dirinya.

“Aku harus naik Bus!”, gumamnya kecil. Bahkan gumaman itu hanya bisa di dengar oleh dirinya saja. Kris menggelengkan kepalanya tak percaya ia terpaksa harus menaiki Bus. Seumur hidupnya, inilah kali pertamanya menaiki Bus.

~**^^**~

“Aku sedang di bus sekarang.”, kata Youra datar pada Eomma-nya melalui telepon. Lagi-lagi Yeoja itu menempelkan dahinya pada jendela. Youra yang biasanya pulang diantar Chanyeol dengan motornya terpaksa pulang menggunakan Bus, karena motor Chanyeol yang rusak.

“Memangnya kau tak bisa datang? Tak apa kok jika baru pulang sekolah. Eonni-mu sudah tidak bisa datang.”, suara Nyonya Lee terdengar dengan jelas. Nyonya Lee berbicara dengan suara yang sudah melemah kehabisan akal.

“Aniyo. Aku tak mau. Itu kan acara Eomma dan teman Eomma. Lagipula aku tahu pasti nanti akan berujung pada acara jodoh-jodohan kan? Aku sudah bilang pada Eomma sebelumnya kan? Aku memang mau punya pacar. Tapi bukan Ahjussi-Ahjussi seperti anak teman Eomma itu!”, kata Youra ketus. Ia sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi. Apa yang harus ia lakukan agar Eommanya itu puas?

“Kau kan belum melihat orangnya! Kenapa berani bilang seperti itu?”, kata Nyonya Lee kaget mendengar kata-kata Youra yang tiba-tiba ketus.

“Eomma sekarang dimana?”, tanya Youra mengalihkan pembicaraan sebisanya. Ia lelah membahas hal itu. Berapa kalipun ia menolak, ia tahu Eommanya pasti akan memberikan berbagai alasan Mengapa-Ia-Harus-Mengikuti-Perintah.

“Eomma sebentar lagi sampai di restoran tempat bertemu nanti. Ayolah Youra.. Dari sekolahmu kan tak begitu jauh ke restoran ini.”, kata Nyonya Lee yang berusaha untuk merayu Youra.

“Yahh.. Sayang sekali Eomma.. Restorannya baru saja lewat.”, kata Youra ketika melihat sebuah gedung mewah lewat begitu saja dengan cepat.

“Eomma akan cari waktu lain!”, kata Nyonya Lee yang kemudian memutus hubungan telepon. Youra tersenyum lalu memasukan ponsel itu pada tasnya. Youra kembali menatap jalan ketika melihat Bus berhenti di sebuah halte.

Mata Youra menatap sesosok namja tinggi berjas hitam yang berjalan memasuki Bus. Rambut pirangnya menutup sebagian wajahnya yang sekilas seperti orang Chinese. Sorot matanya yang tegas dan dinginmemperlihatkan ketampanan namja itu. Hidung mancung dan garis rahang namja itu membuat jantung Youra berdebar-debar. Bagaimana bisa? Youra menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikirannya.

“Jeosonghamnida, anda harus membayar terlebih dahulu Tuan.”, suara sang supir Bus yang sopan namun keras menggema di seluruh Bus. Youra membelalakan matanya kaget mendengar suara itu. Seketika itu juga lamunan Youra yang mengagumi namja itu buyar.

“Mwo?”, jawab namja itu dengan wajah bingung.

“Anda harus membayar.”, kata Ahjussi itu lagi. Youra yang melihat kejadian itu tertawa kecilkarena melihat wajah namja ituyang masih tetap datar,lalu memfokuskan pandangannya pada Namja dan Ahjussi Supir Bus itu.

“Mianhae. Dimana aku harus membayar? Dan berapa?”, tanya namja itu yang tak lain dan tak bukan adalah Kris. Supir Bus itu tak menjawab sama sekali. Supir itu hanya menunjuk secarik kertas di atas kotak yang berada di sampingnya. Kris membaca kertas itu dan mengeluarkan uangnya. Matanya menyipit menyadari tak ada uang kecil di dompetnya.

“Apa ada kembalian?”, tanya Kris sedikit mengernyit mendapati raut wajah sang Supir yang sudah berubah.

“Jeosonghamnida. Kami tidak menyediakan uang kembalian.”, kata Supir itu masih sopan pada Kris.

“Kalau begitu tak apa.”, kata Kris sambil memasukan uangnya yang berjumlah sangat besar itu kedalam kotak. Youra yang melihat hal itu membelalakan matanya tak percaya. Uang itu bisa berjumlah beberapa kali lipat dari tarif sebenarnya.

Kris memasukan uang itu dan berjalan menuju kursi ke-dua dari depan, terpaut tiga kursi dari Youra, yang duduk lima kursi dari depan. Mata Youra belum berhenti mengagumi Kris yang kini mengeluarkan ponselnya.

“Omo! Ponselnya itu kan keluaran terbaru!”, kata Youra pelan. Ia mengaggumi setiap apa yang namja itu lakukan. Youra menunduk lesu ketika ia gagal mendapatkan ponsel itu dari Appa-nya. Bukan. Bukan karena Tuan Lee tidak mempunyai uang. Mana mungkin seorang Arsitek terkenal di Korea  tak mempunyai uang. Tapi itu semua Tuan Lee lakukan karena Youra pernah menghilangkan ponselnya yang baru dua minggu.

Seorang namja berwajah seram dan bertubuh besar masuk ke dalam Bus dan melirik Kris sebentar. Dengan cepat namja tak di kenal itu duduk di sebelah Kris dan mengamati Kris yang sedang mengirim pesan pada Jae Joong yang menanyakan dirinya yang tak kembali juga.

Tak berapa lama Bus berjalan meninggalkan halte. Sepanjang perjalanan itu pula Youra mengaggumi Kris dari bangkunya. Jantung Youra berdetak kencang ketika melihat Kris yang terdiam dengan tatapan kosong.

Namja itu tampan.”, ucap Youra dalam hatinya. Tapi selain hal itu sebuah perasaan tak enak mengganjal di hatinya. Ia merasakan sesuatu akan terjadi saat itu. Tapi apa? Setelah beberapa halte sudah di lewati Youra mulai terjaga. Karena di halte berikutnyalah ia akan turun. Bus berhenti dan Youra mengambil tasnya lalu menggeser posisi tubuhnya menuju pinggir.

“YAK!”, sebuah teriakan terdengar memenuhi Bus. Youra terbelalak ketika melihat namja seram tadi berlari ke arahnya sambil membawa ponsel yang Youra yakini milik namja tadi. Sedangkan namja tadi yang tepatnya adalah Kris segera berlari menyusul namja seram tadi. Wajah Kris yang tadinya agak memerah karena cuaca yang sedang panas berubah menjadi putih pucat. Youra menggelengkan kepalanya dan berpikir. Ia bisa membantu! Batinnya.

 

~To Be Continued~

Author Note: Annyeong Haseyo! Ini Fan Fiction pertamaku! Rasanya antusias banget bisa nulis Fan Fiction dan akhirnya bisa ngirim Fanfic ini ke WordPress. Di ‘Author Note’ ini sedikit aku mau mengucapkan Terima Kasih dan curhat sedikit tentang FF debutku ini. Kalau gak di baca juga gak apa-apa kok ^^ #Pasrah.

Well, awalnya gak nyangka bisa nulis FF dengan Main Cast Kris. Karena jujur dia bukan Bias-ku. Tapi karena sudah niat jadinya keterusan deh nulisnya. Sebenarnya FF ini sudah aku pikirkan dan sempat Tamat dari berbulan-bulan yang lalu. Mungkin sekitar Mei atau Juni yang lalu. Dan aku nulis FF ini karena terinspirasi waktu ngeliat Jae Joong di salah satu Drama. Waktu itu bertepatan banget saat Ujian Direktorat. (Biasa anak RSBI. ^_^V) Dan karena ngerasa belum puas juga akhirnya aku memutuskan untuk buat dari awal lagi dan menjadikan Fanfic yang pertama sebagai naskah mentah. Dan akhirnya saya memutuskan untuk nge-post dulu Prolognya dan mengerjakan FF Chapter berikutnya setelah itu. Jadi maklum kalau agak lama ya..

And Now, I wanna say thank you..

First, pastinya Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas rahmat dan berkahnya aku bisa di beri jalan untuk menulis Fanfic ini. Ke-dua, untuk Mami,danPapi. Thanks banget buat Mami-ku tersayang yang ngerasa di asingin sama aku dan Koko-Koko karena gak di kasih tahu kalau aku coba peruntungan dengan nulis FF. Dan Sorry ya Mi karena aku nge-post FF ini disini. Bukannya di majalah atau media cetak. Love you so much. Untuk Papi aku agak bingung karena sebenarnya dia juga gak tahu aku nulis.

Ke-tiga, untuk.. My Lovely Best Friend! Nadipong! Terima Kasih karena sudah mau dengerin aku (Tumben biasanya Gw) curhat dan bulak-balik bongkar pasang cerita FF ini. And I present you Kris Fanfiction. Semoga suka. Berhubung ini Bias lo! Dan makasih juga udah mau baca naskah mentah gw yang dulu. Ke-empat untuk ke-dua Koko-ku tersayang. Untuk Koko pertamaku. Ko Cho-Cho! Thanks karena udah maksa untuk liat sekilas FF ini dan bilang bagus juga kasih beberapa masukan yang kebanyakan gak aku denger karena kepepet waktu. Makin semangat kerjanya ya Ko! Dan untuk Koko kedua-ku, Ko Pasha! Makasih banyak banget buat lu Ko (Gak bisa nahan kebiasaan)! Tapi akhirnya FF ini gw Post juga. Kalo lu mau silahkan buka ExoFanfiction.Wordpress.com buat nge-cek FF gw. Biar lu berenti gangguin dan ngeledekin FF gw yang kagak jadi-jadi ini. Selamat karena sudah lulus kuliah! Olahraga yang rajin biar lu kurus kaya dulu ya Ko! Biar makin mirip kaya Afgan dan Kim Hyun Joong beserta Jo Twins (Yang lu anggap mirip sepihak.)

Ke-lima. Thank You untuk saudara-saudaraku. Terutama yang tahu aku nulis FF kaya Cici Oline! Cici pasti gak nyangka namanya ada disini! Hahahahaha lebay.. Tapi Terima Kasih ya Cici. Mau aku jadiin kelinci percobaan dulu untuk baca naskah mentahku. Walau ternyata gak Cici baca karena gak ngerti. Ke-enam. Untuk teman-teman di sekolah. Yang K-POPers ataupun enggak. Terutama untukMomon! Makasih karena udah jadi guru singkat gw buat ngajarin bikin Cover FF lewat Adobe Photoshop! You’re the best Mon! Love you so much!

Last but not Least..

Pastinya buat Readers yang sudah mau baca FF saya ini. Mianhae jika bikin ‘Author Note’ yang cukup panjang dan Reader sendiri gak ngerti maksud saya apa. Makasih juga untuk Admin yang mau nge-publish. Saya takut Admin bakal aneh sendiri karena liat saya yang panjang-panjang bikin tulisan begini. Dan gak ngerti dengan panggilan-panggilan saya pada keluarga saya sendiri. And one more time. Let me say Thank you again for everyone that I know! Love you all!

Oh iya! Sorry kalau ada kesalahan penulisan di cerita, ataupun Author Note. Maklum Author nulis ini jam 12 malemlewat. Tunggu Chapter selanjutnya ya Readers!

Promosi: Mampir juga ke WordPress ku dan temenku ya! –à Detanalia.wordpress.com

Rencananya aku akan nge-publish FF ku yang ini disitu. Jadi kalau aku pengen publish aku akan publish Chapter selanjutnya disitu walau di WordPress ini belum di Publish.Tapi aku akan tetep ngirim ke WordPress ini juga kok. ^_^Kalau ada kritik juga saran bisa langsung ke Twitter ku: @DebDebyanca

Gomawo!

Iklan

46 pemikiran pada “Saranghaeyo Ahjussi (Prolog)

  1. baru mulae baca prolog nyaaa -.-
    wufan kuuu ah dirimu yg songong gto membuat ku makin suka #Lebe modOn
    da oppa ku jaejongie jg..
    ahh next next ide crta nya seru ^^

  2. sama sama ngelak ketemuan di resto malah ketemu di bus. si cwe yg nolak ahjussi2 malah skarang diem2 naksir merhatiin gitu whahaha… keren! baru prolog aja udah keren! daebak! author jjang! ^^ . permisi ke chapter 1 ya hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s