Sad Memories

Judul : Sad Memories
Author : HyunKy2
Genre : Sad
Main cast :
Park Chanyeol
Shin MinRin
Note : ini tulisan pertama saya, jika banyak kesalahan jeongmal mianhae. ini semua murni fikiran saya, dan jika ada yang merasa sama dengan yang lain mohon beritahu saya. Karena saya masih baru, mohon bantuannya ya, kritik dan saran akan saya terima
Ini semua diambil dari sudut pandang Chanyeol. FF ini saya buat pas lagi galau, jadi kalau kurang berkenan, mianhae. Saya tak bermaksud apa-apa
 Happy reading….
Sinar Matahari pagi sangat menyejukkan hatiku. Sedikit kekanak-kanakan mungkin, tapi aku sangat menyukainya. Setiap pagi aku akan selalu menunggu terbitnya matahari, itu adalah hal yang sangat mengagumkan bagiku. Walaupun setiap pagi aku selalu melihat pemandangan yang sama, tapi tidak sedikitpun aku merasa jenuh atau bosan. Malah, semakin hari hal tersebut akan terasa semakin indah dan indah.
Dulu, aku tidak pernah sendirian menikmati keindahan ini. Tapi itu dulu, sebelum dia pergi untuk meninggalkanku selama-lamanya. Dia Shin Minrin, sahabat terbaikku. Berat memang, harus kehilangan orang yang sangat berarti bagiku. Tapi, itu semua sudah diatur oleh-Nya. Kita yang ada di dunia ini hanya menjalani yang telah direncanakan-Nya.
Kejadian dua tahun silam, yang tak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Saat orang yang sangat aku cintai dan aku kasihi, harus pergi untuk selamanya karena tumor otak yang tlah lama di deritanya. Kurang lebih 4  tahun dia berusaha untuk melawan penyakitnya itu. Tragis memang, tapi seperti yang sudah ku katakan, itulah takdir.
Awalnya, dia enggan untuk berkata jujur kepadaku, dan selalu menutup-nutupi penyakitnya itu dariku. Tapi semakin berkembangnya penyakit itu, dengan sendirinya pun aku mengetahui semuanya. Sedih, sakit, sesak, kecewa, takut, dan gelisah, itulah yang aku rasakan saat ia menceritakan semuanya kepadaku. Saat itu, hidupnya tinggal 4 bulan lagi, yah, itulah yang telah dikatakan dokter kepadanya. 4 bulan? Sungguh, aku sangat tidak mempercayainya, tapi itulah kenyataan. Menyakitkan bukan??
Aku yang telah 13 tahun bersamanya, merasakan sakit yang amat mendalam. Sakit yang selama ini tidak pernah kurasakan sedikitpun sejak aku mengenalnya pada saat itu.
Sedikit banyaknya kenangan kami berdua selalu berputar-putar di kepalaku. Terkadang tanpa kusadari air mata ini mengalir dengan sendirinya. Sulit…. sangat sulit bagiku untuk menahan derasnya air mata yang akan selalu mengalir jika sedikit saja aku mengingat kenangan bersamanya. Terlalu banyak kenangan indahku bersamanya yang tidak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Tapi, mengingat pesannya padaku, akupun berusaha untuk tidak meneteskan air mata.
Tidak pernah sedikitpun terfikir oleh ku tentang kepergiannya. Tidak pernah, dan tidak akan pernah. Hanya dia orang yang sangat mengerti bagaimana dengan keadaanku. Dia akan selalu ada jika aku membutuhkannya. Baik itu disaat aku lagi senang, ataupun saat aku bersedih. Dialah tujuan pertamaku untuk menceritakan segala sesuatu yang telah ku alami, bahkan hal yang sangat tidak pentingpun akan aku ceritakan kepadanya. Hebatnya, tidak pernah sedikitpun ia merasa bosan ataupun jenuh mendengar setiap ocehan yang keluar dari bibirku ini. Dia akan selalu menanggapi apapun yang aku katakan dengan senyuman manisnya.
Yah, senyuman nya seperti sebuah keajaiban bagiku. Dengan melihatnya saja, aku merasa sangat bahagia. Senyuman yang tidak pernah bisa kulupakan, senyuman manisnya  yang selalu menenangkan hatiku. Dalam keadaan seperti apapun, ia akan tetap selalu tersenyum. Jarang sekali aku melihatnya dalam keadaan murung. Bahkan pada saat terakhirnya pun, senyuman yang terukir indah di bibirnya itu tidak pernah pudar sedikitpun. Huh, ini memang sangat sangat sulit. Kehilangannya, sama seperti kehilangan separuh nyawaku, dan separuh hidupku. Ingin rasanya aku pergi menyusulnya, tapi itu sangat tidak mungkin, mengingat kata-kata terakhir yang sempat ia ucapkan untukku. Kata-kata itulah yang selalu membuatku tetap ingin hidup di bumi ini, kata-kata bijaknya yang sangat memotivasiku untuk hidup lebih baik.
“Jangan pernah sia-siakan hidupmu Chanyeol-ah, gapailah segala sesuatu yang ingin kau capai. Dan berjanjilah padaku untuk tidak meneteskan air matamu sedikitpun saat aku sudah benar-benar tidak ada lagi di dunia ini. Karena pada saat itu aku tidak akan bisa lagi menghapus air mata yang mengalir di pipimu seperti yang selalu aku lakukan saat kau bersedih. Berjanjilah padaku Chanyeol. Waktu ku sudah tidak lama lagi yeol-ah, aku harap kau akan selalu mengingatku, walaupun aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku sangat menyayangimu, kau adalah segalanya bagiku. Selamat tinggal Chanyeol. Mian, aku tidak bisa menjagamu lebih lama lagi. Jangan pernah lupakan aku. Saranghae Chanyeol-ah”.
Itu adalah kata-kata terakhir yang sempat ia ucapkan padaku. Saat itu aku sangat tidak percaya, kenapa dia harus pergi secepat ini. Aku belum sanggup untuk kehilangannya. Aku masih ingin lebih lama bisa bersamanya, ingin selalu berada di sampingnya, selalu mendengar tawa khas nya, selalu melihat senyum malaikatnya dan semua tentangnya masih ingin aku miliki. Pasrah, yah, hanya itu yang bisa aku lakukan, semua telah terjadi dan aku benar-benar telah kehilangannya. Kembali air mataku menetes dengan sendirinya. Setetes, dua tetes, dan semakin lama semakin deras.
Mian Minrin-ah, kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Sudah berkali-kali aku mencoba, tapi tetap saja selalu seperti ini. Aku bukanlah aku yang dulu sejak kepergianmu. Tanpamu, hidupku tidak ada artinya. Aku sangat lemah, bahkan untuk menahan agar air mataku tidak mengalir keluar saja aku tidak bisa. Minrin, jebal kembalilah. Kembalilah berada di sampingku. Aku terlalu rapuh saat ini, aku sangat membutuhkanmu sekarang. Minrin, aku ingin bersamamu, aku ingin ada di dekatmu, aku ingin melihat senyumanmu itu, aku… aku…..
Pertahananku sudah berakhir. Emosiku sudah tidak dapat tertahan lagi. Tanpa dikomando lagi seluruh air mataku telah sukses membasahi kedua pipiku. Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu lagi. Sepeninggalannya, aku pun menjadi namja yang semakin hari semakin rapuh dan tak berdaya.
Walaupun sudah 2 tahun berlalu, tapi aku tetap mengingatnya. Saat pemakamannya, aku sangat enggan untuk beranjak dari tempatnya. Aku ingin selalu berada di sampingnya. Aku masih ingin menerima pelukan hangatnya. Aku masih ingin menerima mendengar tawanya. Terlalu banyak hal yang masih ingin aku rasakan darinya.
Mungkin, kalian berfikir kalau aku terlalu bergantung padanya. Yah, itulah aku. Tanpanya aku bukanlah apa-apa, hanya dia yang akan peduli padaku. Bahkan orang tuaku saja tidak terlalu memperdulikanku.
Sepertinya, sekarang aku tlah gila karena harus menanggung beban berat yang sama sekali tidak aku inginkan. Putus asa yang aku rasakan sudah terlalu akut. 2 tahun tlah aku lalui dengan kesedihan dan air mata. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan semua amarahku. Aku ingin hidup tenang seperti dulu dan aku tidak ingin lagi terlalu larut dalam kesedihan ini.
Dan disinilah aku saat ini, di atas atap gedung, tempat dimana dulu aku dan Minrin sering menghabiskan waktu kami berdua disini. Dari sinilah kami sering melihat matahari terbit. Hal terindah bersamanya yang takkan pernah aku lupakan. Perlahan aku mulai melangkahkan kakiku menuju tepi atap gedung ini. Angin semilir pun menyambut ketika aku telah sampai di tempat yang aku maksud. Kutundukkan kepalaku untuk melihat suasana di bawah gedung. Tak terasa mataku mulai menitikkan sesuatu dan aku sadari bahwa saat ini aku kembali menangis entah sudah untuk yang keberapa kalinya. Kuseka air mataku dengan telapak tanganku dan ku angat kepalaku untuk menatap langit indah yang dihiasi sinar matahari yang mulai meredup di senja ini. Tak sadar mataku menutup dengan sendirinya dan mulai kumantapkan hatiku untuk meneruskan apa yang telah lama aku rencanakan. Kakiku mulai berjalan perlahan, aku rentangkan kedua tanganku untuk merasakan angin yang menerpaku. Aku pasrah dan dengan sendirinya bibirku membentuk sebuah senyuman, aku tahu sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Tunggu aku Minrin-ah, sebentar lagi aku akan menyusulmu.
Aku mulai membiarkan kakiku melangkah sesukanya dan aku mulai menjatuhkan tubuhku kebawah. Aku tahu bahwa ini salah. Tapi, aku sudah tidak bisa lagi berfikir jernih dan bagiku bunuh diri adalah jalan satu-satunya agar aku bisa bertemu kembali dengan Minrin dan aku akan hidup bahagia bersamanya disana nanti.Mianhae, jeongmal mianhae. Minrin-ah, aku sangat merindukanmu, jika aku sudah berada di dekatmu lagi kau harus berjanji tidak akan meninggalkan ku lagi.
Kurasakan tubuhku melayang dengan cepat dan dengan cepat pula tubuhku jatuh terhempas di atas jalanan. Sakit. Itu yang aku rasakan. Tapi rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan dua tahun ini. Aku merasakan seluruh tulang ditubuhku remuk dan darah segar mengalir dari seluruh bagian tubuhku terutama kepalaku. Antara sadar dan tidak, aku melihat bayangan Minrin. Senyum manisnya tetap terukir indah, namun wajahnya mengisyaratkan suatu kekecewaan dan penyesalan. Sewaktu aku ingin berbicara padanya, tiba-tiba bayangan itu lenyap dan mataku terasa sangat berat. Aku rasa ini sudah waktunya, sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Dengan susah payah aku mencoba untuk tersenyum, namun seketika itu semuanya terasa berputar-putar dan tiba-tiba semua menjadi gelap.
Semua orang tahu bahwa apa saja yang ada didunia ini sudah diatur oleh-Nya. Seperti aku. Aku harus kehilangan orang yang sangat aku sayangi karena penyakitnya dan pada akhirnya aku juga harus mengakhiri hidupku dengan cara yang tragis. Bunuh diri. Takdir memang pahit, tapi walau bagaimanapun kita memang harus mengikuti takdir yang telah diatur oleh Tuhan.
END—–

5 pemikiran pada “Sad Memories

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s