Dark Life

Title : Dark Life (FF PENERIMAAN ADMIN)

Cast : Kris, Suho, Lee Minah (OC)

Genre : Angst, romance

Rating : PG-17

–ooOoo–

Dark Life

Into the darkness they go, the wise and the lovely. ” –  Edna St. Vincent Millay

–ooOoo–

Argh!!!”

Jeritan sakit tertahan di tenggorokan. Tubuhnya membentur tembok—membuat tulang-tulang seakan ingin hancur. Ia terduduk di lorong kumuh yang berlumpur dengan sebelah tangan terluka. Ia merobek ujung lengan kemeja dengan gigi. Secarik kain tipis untuk menahan darah yang terus mengalir dari bahu kirinya. Nafas satu-satu terdengar di antara suara malam yang sunyi.

You!!! Bastard!!! Where are you?!”

Shit!” Ia mengumpat dalam hati. Mendekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan.

“Dia menghilang!”

Ia mendengar kalimat itu dengan samar sebelum kesadarannya perlahan hilang.

Tidak jauh dari tempatnya tersungkur, seorang pria dengan wajah malaikat yang mengenakan mantel dan kacamata hitam mengumpat kesal. Belum selesai, desisnya dengan senyuman sinis.

–ooOoo–

Minah mondar-mandir di depan jendela kamar. Dari apartemen di lantai dua puluh dua itu terlihat pemandangan gemerlap Seoul. Siapa yang tahu di balik setiap kerlip lampu itu menyimpan kegelapan. Kegelapan yang berujung di setiap lorong, di pinggiran kota Seoul.

Gadis berambut panjang itu berulang kali memeriksa ponselnya. Hanya ada satu pesan yang sama yang sejak tadi sudah berulang kali ia baca.

It’s darkness here. Aku akan menghubunginmu jika aku bisa mengatasinya malam ini.

Minah menghembuskan nafas berat. Entah untuk yang kesekian kalinya malam itu. “Aku tidak bisa jika harus menunggu seperti ini,”  gumamnya. Ia mengambil mantel coklat dan kunci mobil. Dan tidak lupa tas kecil dari laci paling bawah lemari dan menyelipkannya di balik mantel. Sekedar untuk berjaga-jaga.

Please, dimana kamu sekarang?” Minah berlari menuju parkiran. “Awww.”

Tubuh dingin menabraknya dan ia tahu itu siapa.  “Kris? Oh God, you’re giant. Bagaimana aku bisa memapahmu?”

Kris tidak menyahut. Bukan yang pertama kali untuk pria bertubuh tegap itu, tapi kondisinya malam itu jauh lebih buruk. Minah meletakan tangan Kris di punggungnya. Ia memapah pria itu menuju apartemen. Bukan hal yang mudah.

“Kris?” lirihnya ketika mereka sampai di apartemen dan Minah membaringkan Kris di atas tempat tidur.

Oh God.” Minah menutup mulut untuk menahan tangis. Ia mengambil kotak P3K dan merawat luka-luka di tubuh pria yang  sudah sangat ia kenal.

Seberat itu kah yang harus kamu hadapi? Gelap dan sadis, batin Minah. Ia memerhatikan gurat wajah Kris. Tulang rahang yang sempurna, bibir lembut dan mata dingin yang menyembunyikan kehangatan.

Air mata mendesak keluar tanpa permisi. Lagi. Minah lupa seberapa seringnya ia menangis untuk Kris, terutama setiap pria itu datang kepadanya dengan tubuh penuh luka.

“It’s my life dear, aku tidak bisa berlari menghindar. Aku dan kegelapan ini. Aku sudah lupa jalan menuju cahaya.”

Minah mengingat jawaban Kris saat ia mempertanyakan kehidupannya. Kris yang terpaksa bergabung dalam mafia narkoba karena orang tuanya berhutang dan tidak mampu membayar. Menjadi tangan kanan bos dan otomatis menjadi orang kedua dalam gang itu yang paling sering diburu. Kris yang jauh dalam hatinya sangat menderita.

“Thank for being my angel, my light. Can I love you?”

Minah merapikan ujung rambut Kris yang menutupi dahi. Ia tersenyum ketika ingatan tentang cinta itu hadir.

“Do I deserve love?”

“You do. Everyone deserve love. Love also exist even in darkness.”

Minah mengulurkan tangan dan mengelus rambut Kris dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya menopang kepala. Ia memejamkan mata dan menyenandungkan lulaby.

–ooOoo–

Deru lalu lintas pagi samar terdengar. Matahari masih tersembunyi di balik awan. Seoul musim dingin. Beku. Tapi bagi Kris yang adalah adalah kehangatan. Perlahan ia membuka mata. Aroma lembut menguar dan menggelitik indera penciuman. Mata tajamnya tertuju pada seraut wajah yang masih tertidur lelap di pinggir tempat tidur.

My sunshine.” Kris mengulurkan tangan pelan. Menyentuh pipi gadis yang ia cintai. Minah bergerak pelan dan membuka matanya.

“Pagi,” sapa Kris. “Come here.” Kris merentangkan tangannya; memberi tanda agar Minah mendekat padanya. Minah tersenyum.

Gwenchana?” tanya Minah sebelum bersandar di dada bidang Kris.

I’m okay as long as I’m with you,” ucap Kris sambil membawa Minah dalam pelukan. Sangat pas dan nyaman untuk mereka berdua. Seakan pelukan itu adalah tempat mereka kembali. Satu sama lain saling melengkapi.

“Ada yang mau kamu ceritakan?” tanya Minah. Jari jemari mungilnya menyentuh lengan Kris yang terluka dengan hati-hari.

“Seorang mengejarku karena mengira Sajangnim sudah mengambil alih area mereka.”

“Lalu?”

“Mereka ingin membunuhku, mungkin…”

Mata Minah membulat. Semudah itu Kris mengucapkan kalimat ‘mereka ingin membunuhku’. Cukup dengan mendengar saja sudah membuat Minah keringat dingin.

“Itu bukan apa-apa. Tidak perlu khawatir,” ucap Kris menenangkan. Ia menaut jari jemari mereka. “It’s fit perfectly.”

Kris mencium puncak kepala Minah. Pagi itu, mereka berbagi kehangatan dalam pelukan. Tanpa ada kata-kata.

–ooOoo–

Kris duduk di sofa ruang tengah; memerhatikan punggung Minah yang sedang berada di dapur. Ia memegang dadanya yang berdetak cepat. Perasaan aneh yang dulu ia anggap hanya omong kosong  sekarang ia rasakan dengan nyata. Cinta. Dan semua itu karena gadis bernama Lee Minah yang ia kenal di salah satu ujung lorong gelap. Minah yang bagaikan seorang malaikat yang menolongnya.

Kris menghela nafas panjang. Ia tersenyum—kehangatan mengalir seiring ingatan yang hadir satu persatu. Ia meletakan tangan di bahu kiri yang terluka, sedikit mengernyitkan dahi.

Damn it! Aku tidak bisa pergi kemana-mana dengan kondisi seperti ini, gerutu Kris dalam hati.

“Kris? Wanna help me?” Minah berteriak dari dapur.

Kris tersenyum kecil. Ia menghampiri Minah. Dua lengan kokohnya memeluk pinggang gadis itu dari belakang. Ia membenamkan wajah di rambut hitam Minah; memasukan sebanyak mungkin udara ke paru-paru.

“Kau ingin membantu atau menggangguku?” tanya Minah. Ia meletakan tangan di atas tangan Kris.

I love you,” bisik Kris di telinga Minah.

“Aku tahu.”

Saranghaeyo.”

“…”

Wo ai ni.”

Minah tertawa pelan, “Cheesy dragon.”

Kris menggelitiki pinggang Minah, “Say it again.”

Cheesy dragon, kyaaa…” Minah berteriak ketika Kris semakin menggelitikinya. Tapi teriakan itu terhenti ketika bibir Kris menguncinya. Ciuman lembut yang selalu sukses membuat Minah kehilangan seluruh akal sehat. Kris mengatupkan telapak tangan di wajah Minah, hati-hati, seakan gadis itu sesuatu berharga yang bisa hancur jika ia tidak menjaganya dengan baik. Minah melingkarkan lengan di leher Kris ketika pria itu menggigit bibir bawahnya.

Minah melenguh pelan ketika tangan kanan Kris menyentuh lengannya. Ada aliran listrik yang tiba-tiba menyengat. Dalam waktu sepersekian menit ia lupa cara bernafas. Dan ya, ia mulai kehabisan asupan oksigen. Kris belum ingin menghentikan ciuman mereka.

Gruuuuk…”

Ciuman Kris terhenti. Matanya yang tadi tertutup membuka pelan. Ia menemukan Minah yang juga sedang menatapanya. Sedetik kemudian mereka saling ketawa. Minah memancarkan tatapan jahil.

“Kamu sangat lapar?” Minah mengelus perut six pack Kris dari balik kaos putih tipis.

Kris meraba belakang lehernya dan meringis. “You make me hungry.”

Mendengar kalimat ambigu itu, Minah memukul pelan perut Kris. “Tunggu di ruang tengah. Kau hanya mengangguku di sini.” Minah mendorong tubuh besar Kris dari dapur.

Okay, okay.” Kris mencuri ciuman sekilas dari bibir Minah. Gadis itu hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan kegiatannya.

–ooOoo–

It’s one fine day…

Setelah makan siang yang sangat terlambat, mereka duduk di sofa sambil menonton film. Berbagi pelukan dan ciuman. Berharap satu hari itu tidak pernah berakhir. Minah memeluk pinggang Kris dan meletakkan kepala di dada bidangnya. Kris mengelus rambut Minah. Tidak banyak kata yang terucap. Keheningan seakan cukup mengalirkan cinta yang meletup-letup.

Minah mendongak; memadangi wajah sempurna Kris. Ia bertanya dalam hati sampai kapan ia bisa memiliki pria itu. Ia takut. Entah mengapa ia merasakan hal buruk akan menghampiri mereka. Minah menepis pikiran itu. Menggantinya dengan pikiran positif. Selama ia bersama Kris semuanya akan baik-baik saja. Barangkali.

Kris tersenyum ketika merasakan mata hangat sedang memandanginya. “Apakah aku sangat tampan?”

“Mr. Dragon terlalu percaya diri.”

“Jadi? Kau tidak mengakuinya? Lalu kenapa kau terus memandangiku sejak tadi?” Kris memandangi Minah dengan tatapan tajamnya yang menggoda.

Minah menggeleng.

Honey?”

Hmmm?”

Thank you for coming into my life and giving me joy.”

Kris mengecup puncak kepala Minah.

“Thank you for loving me and receiving my love in return. “

Lagi, sebelum Minah bisa mengucapkan apa-apa, kali ini Kris mengecup keningnya.

“Thank you for the memories I will cherish forever.”

Ketika Kris ingin mencium bibir Minah, pintu apartemen terbuka. Tubuh Kris menegang ketika melihat siapa yang datang. Minah menoleh ke arah Kris dan kemudian ke pintu apartemennya, “Joonmyun-ah?”

Well, ternyata sedang ada tamu. Dan Noona, aku sekarang lebih suka dipanggil Suho.” Senyum sinis terlihat jelas di wajah malaikat itu.

Minah berdiri—berjalan menghampiri adik laki-lakinya. Adik tiri lebih tepatnya, sejak ia berusia tujuh tahun ketika ibunya menikah dengan ayah Suho.

“Apa yang membawamu kesini?” tanya Minah.

“Apakah aku tidak boleh mengunjungi Noona kesayanganku?” rengek Suho sambil memeluk lengan Minah. Ia melirik Kris sekilas. Bingo.

“Boleh, tapi bukankan kau selalu sibuk dengan urusan bisnismu itu?” Minah menekankan kata bisnis. Ia memerhatikan wajah Suho. Sekilas tidak aa yang berubah dari pria itu, tapi sikap Suho yang berubah jauh. Suho yang sekarang bukan lagi anak laki-laki manis berwajah malaikat yang Minah kenal. Suho berubah sejak kematian ibu dan ayah mereka. Kematian tepat di depan mata mereka dengan peluru yang mengenai jantung, tiga tahun yang lalu. Sejak peristiwa itu mereka berdua baru tahu pekerjaan lain sang ayah. Mafia narkoba dan senjata ilegal.

Noona merindukanku?” bisik Suho. Minah menelan air liur. Aura yang terpancar dari diri Suho membuatnya takut. Sesuatu yang buruk akan terjadi.

Kris beku di tempatnya. Ia berdiri. Ingin berlari tapi mustahil. Dan bodohnya ia tidak memiliki senjata untuk melindungi diri. Siapa yang menduga ia akan bertemu orang yang ingin membunuhnya di apartemen kekasihnya sendiri. Dan tragisnya orang itu adalah adik gadis yang ia cintai sepenuh hidupnya. Bodoh, Kris selama ini tidak pernah bertanya tentang latar belakang Minah. Yang ia tahu; kedua orang tuanya sudah meninggal dunia, ia tinggal terpisah dengan sang adik, menghidupi diri sendiri dari butik dan toko kue.

Kris menatap Suho yang sedang memandanginya dengan tatapan ‘I-got-you-you-will-die

Ah, aku belum mengenalkan kalian berdua.”

It’s okay Noona. Kami sudah saling mengenal. Bolehkah aku memeluk Noona?”

Minah sudah ingin melontarkan pertanyaan ketika Suho memeluknya. Pelukan yang sangat erat—membuat ia susah bernafas. Minah memejamkan mata. Hatinya memberontak. Apakah sesuatu yang buruk akan terjadi?

“Suho-ya?” gumam Minah.

Ssst Noona. Aku sangat merindukanmu.” Suho semakin mengeratkan pelukan dan memutar posisi mereka berdiri. Minah berdiri membelakangi Kris.

Suho masih belum melepaskan pelukan. Ia memeluk Minah dengan tangan kiri sedang tangan kanannya mengeluarkan pistol dari saku mantel. Minah tidak sadar apa yang terjadi ketika desingan peluru dan jeritan Kris memenuhi ruangan. Minah melepaskan diri dari pelukan Suho. Matanya membesar melihat pemadangan di depannya.

“Kris!!!” jeritnya. Kris terduduk di lantai dengan bahu kanan terluka. Tembakan Suho sedikit meleset.

Minah menatap Suho nanar, “Apa yang kau lakukan?”

Suho memasukan pistol ke saku mantel. Ia tersenyum semanis biasa kepada Minah. “Dia pantas mendapatkannya.”

“Joonmyun! Jadi kau yang semalam ingin membunuh Kris? Kenapa? Apakah kau gila?”

“Dia pantas mendapatkannya. Dia pantas mati, dan selanjutnya tinggal satu langkah. His big boss.” Senyum licik tidak sesuai menghiasi wajah Suho.

Plak.

Minah menampar pipi kiri Suho.

Noona?”

Plak.

Minah menampar pipi kanan Suho.

Noona?” desis Suho. Matanya memancarkan sesuatu yang tidak bisa didefinisi.

“Kau gila! Kau membunuhnya dan sama saja kau membunuhku. Dia tidak ada hubungannya dengan bisnismu. Jika kau ingin membunuh maka langsung bunuh bosnya. Bukan dia…” Nafas Minah memburu.

Noona?”

“Dia pria yang aku cintai,” lirih Minah.

“Tapi Noona wanita yang cintai!” pekik Suho. Minah menatap Suho. “Aku tidak pernah melihat Noona sebagai kakak perempuan tapi sebagai wanita yang kepadanya aku berikan semua cintaku. Noona…”

Suho mengeluarkan pistol dari saku mantel dan mengarahkannya ke Kris. “Bos dari pria yang yang Noona cintai adalah orang membunuh Appa dan Eomma. Dia pantas mati—“

Minah beku. Suho menarik pelatuk pistol dan semuanya bergerak cepat.

NOOOOO!!!” teriakan Kris menggema. “YOU BASTARD!!! YOU KILL MY LOVE!!! YOU KILL YOUR SISTER!!!”

Suho tersadar. Bukan Kris yang ia lihat bersimbah darah, tapi MINAH.  “I kill my love…?” desisnya tidak percaya.

YOU!!!” Kris kehilangan akal sehat. Ia berlari dan memukul Suho. Suho terlalu terkejut untuk melawan, dan sebelum ia sadar, Kris merebut pistolnya dan menembak Suho. Di dada, tepat di jantung. Sama seperti Minah.

AAAAARGH!!!” Kris terduduk di lantai yang dingin dan bersimbah darah. Ia sendiri sudah kehilangan banyak darah. Dan, ia kehilangan gadis yang ia cintai. Dengan tertatih-tatih ia menghampiri tubuh Minah.

Tidak ada detak jantung dan deru nafas. Kris memeluk tubuh Minah dan menangis. “I am lost without you…”

Kris memejamkan mata. Senyum manis Minah hadir, tawa riang bergema di telinganya. Pelukan hangat dan ciuman lembut. Semua kenangan yang mereka lalui bersama hadir.

Honeywhy? Kenapa kau harus melindungi seperti ini? Aku yang pantas mati bukan kamu,” lirihnya berbaur dengan isak tangis.

Kris tidak mampu bergerak lagi. Ia hanya memeluk tubuh Minah dan kehilangan semua kesadaran, bahkan ketika segerombolan orang yang tidak lain adalah anak buah Suho masuk ke apartemen dan menembakinya dengan puluhan peluru.

Kris tersenyum sebelum sebuah peluru tepat menembus jantungnya. “Here I am, with you my love, to the light?”

–ooOoo–

Into the darkness they go, and… END.

65 pemikiran pada “Dark Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s