Hadirmu, Didalam Mimpiku

Title                           :   Hadirmu, Didalam Mimpiku (FF PENERIMAAN ADMIN)

Author                      :   Lyka_BYVFEGS

Main Cast                :   Oh Sehun EXO-K

Lee Haena (covered by Son Naeun, tapi bisa juga kalian anggap diri kalian sendiri)

Support Cast          :   Lee Haera

Genre                       :   Angst, Romance

Rating                       :   All Ages (tidak ada adegan yang senonoh (?))

Length                      :   Oneshot

A/N                            :

 

Annyeonghaseyo…

Ini FF bergenre angst sad ending pertamaku. Sebelumnya jarang sekali atau hampir tidak pernah aku buat FF sad ending. Jadi maaf kalau kurang greget.

Mianhe untuk typo, kata-kata berantakan dan bahasa yang kurang dimengerti.

Mianhe juga jika ceritanya pasaran dan tidak seru.

 

Jangan menilai posternya karena cuma aku edit asal-asalan. -____-

 

PS: Aku pakai cover Son Naeun karena aku sendiri bingung mau pakai pic siapa. Sifat dan karakter disini murni buatanku jadi tidak ada hubungannya dengan Naeun. Intinya aku cuma pakai pic dia doang.

 

HAPPY READING!!!

 

*****

 

 

Aku menatap kosong langit-langit kamarku. Mencoba menyesuaikan mataku dengan keadaan sekitar setelah terpejam beberapa jam lamanya. Ku tolehkan kepalaku kesamping. Aku tersenyum ketika mendapati yeodongsaengku tengah tertidur dengan pulasnya. Aku mengusap kepalanya pelan dan kembali menatap lurus ke depan, lebih tepatnya menatap langit-langit kamarku.

 

Perasaanku tidak menentu saat ini. Terbangun di tengah malam dikarenakan sebuah mimpi yang aku harapkan tidak pernah hadir dalam tidurku. Tapi pada kenyataannya mimpi itu terus terjadi berulang kali selama satu minggu ini. Bukan. Bukan mimpi yang sama. Yang membuat mimpi itu menjadi sama adalah seseorang yang aku impikan.

 

Seseorang yang seharusnya atau bisa juga dikatakan tidak boleh hadir di dalam mimpiku. Bagaimana mungkin aku memimpikan seseorang yang –mungkin- telah berstatus sebagai suami orang lain? Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kenapa dengan tiba-tiba mimpi ini menghantuiku? Aku takut. Sangat takut. Karena setiap terbangun, aku pasti akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Bukan kesakitan fisik pada umumnya, ini lebih seperti batinku yang terluka. Hanya karena sebuah mimpi aku merasakan dadaku seperti dihimpit oleh 2 buah tembok besar. Membuatku takut hingga keringat sering bercucuran dari tubuhku. Terkadang tanpa aku sadari air mata ini ikut menetes, seakan-akan mereka iri dengan terbebasnya peluh yang keluar dari tubuhku.

 

*

 

Mimpi itu sungguh mengerikan. Dimana aku berada di sebuah hutan menyeramkan. Hanya dengan ditemani suara-suara binatang malam disekitarku. Menyanyikan lagu merdu mereka yang hanya mereka nyanyikan kala matahari yang mendapat giliran bersembunyi sedangkan bulan yang mendapat giliran jaga. Cih! Seperti bermain petak umpet saja. Aku melihat sekitarku, tapi jangkauan mataku tidak lebih dari 1 meter saja, itupun pupil mataku sudah membesar dikarenakan kurangnya cahaya yang masuk ke mataku. Aku mencoba memberanikan diri berjalan, dan terus berjalan dengan langkah ragu. Sesekali ku edarkan pandanganku ke sekitar, berharap ada secercah sinar ataupun cahaya yang akan membawaku pergi dari tempat ini. Namun nihil. Hingga rasanya kaki ini lelah, tak juga ku temukan dimana ujung dari hutan ini. Aku tak tahu apakah aku semakin masuk ke dalam hutan atau aku mendapat keberuntungan dengan semakin dekat dengan jalan keluar. Yang aku tahu, aku seperti melewati tempat ini berkali-kali.

 

Aku terduduk di sebuah pohon besar. Mengistirahatkan kakiku yang telah lelah berjalan. Hingga tiba-tiba terdengar derap langkah kaki seseorang. Ku dongakkan kepalaku menatap sosok misterius yang entah datangnya darimana itu. Aku menyipitkan mataku untuk dapat melihat dengan jelas wajah sosok itu. Hingga dia telah berjarak 1 meter didepanku. Aku terlonjak kaget dan reflek berdiri saat melihat wajahnya. Dia?!

 

“Sehun oppa?” Lirihku.

 

Hening.

 

Tiada kata yang terucap dari bibirnya. Hanya tatapan mata tajam dari dirinya yang seakan-akan mengintimidasi diriku. Menanyakan kenapa aku bisa berada disini dan untuk apa aku kesini. Tapi dibalik tatapan tajam itu, aku bisa melihat tatapan teduhnya seperti saat dia menatapku dulu, juga tatapan terluka dan kecewa. Sedikit. Ya, meskipun tatapan itu hanya sepersekian persen karena saat ini tatapan tajamnyalah yang mendominasi. Membuatku beringsut takut. Ada sebagian hati ini yang lega. Lega karena bisa melihat wajahnya setelah 6 bulan ini kami tidak bertemu. Tapi sebagian lagi hati ini merasa sakit. Sakit yang amat sangat. Dia menatapku dengan dingin, hal yang tidak pernah dia lakukan dulu ketika saat bersamaku. Aku menyukai tatapan matanya yang hangat dan teduh, bukan tatapannya yang sekarang.

 

“Oppa, katakanlah sesuatu! Jangan membuatku takut.” Pintaku lirih.

 

“Kalau kau takut, pulanglah!” Katanya dingin dengan ekspressi datar.

 

“Bagaimana aku bisa pulang? Aku tidak tahu sekarang aku berada dimana. Dan tempat apa ini, oppa?” Tanyaku dengan diselimuti rasa ketakutan yang luar biasa.

 

“Pulanglah!” Kata Sehun oppa tanpa mengindahkan pertanyaanku.

 

“Tidak. Aku tidak ingin pulang. Aku akan lebih memilih disini jika itu bisa membuatku bertemu oppa. Aku tidak peduli akan suara-suara yang menyeramkan, aku tidak peduli dengan kegelapan di hutan ini, dan aku juga tidak peduli apakah akan ada binatang buas yang menerkamku. Asal aku bisa bersama oppa, itu tidak masalah untukku.”

 

“Jangan keras kepala, Lee Haena. Lebih baik kau pulang.” Perintah Sehun oppa.

 

“Tidak.” Jawabku tegas.

 

“AKU BILANG PULANG!” Teriaknya yang membuatku telonjak.

 

“Sehun oppa…” Gumamku. Ku rasakan sesuatu menuruni kedua pipiku membuatku merasakan sensasi geli saat benda itu membelai lembut pipiku.

 

“Berhenti menangis dan pulanglah!” Kata Sehun oppa sedikit lembut, meskipun masih terselip nada dingin di setiap perkataannya.

 

“Tidak… Tidak…” Lirihku sambil menggelengkan kepalaku. “Aku tidak ingin pulang.” Lanjutku.

 

“Kenapa kau sangat keras kepala?”

 

“Karena aku mencintaimu, oppa. Aku tidak ingin berpisah denganmu.” Jawabku.

 

“Benarkah?” Tanyanya dengan nada meremehkan dan tampak seringaian kecil terbentuk diwajah tampannya. “Sayang sekali, karena aku sudah tidak mencintaimu lagi.” Tambah Sehun oppa. Membuatku terkejut dan seketika kurasakan sakit didadaku. Rasa sakit yang sama seperti yang aku rasakan ketika aku terbangun dari tidurku selama 1 minggu ini. Sangat sakit hingga membuat belaian lembut di kedua pipiku berubah menjadi sedikit kasar. Mendadakan bahwa semakin banyak air mata yang akan terjatuh dari wajahku.

 

“Pulanglah!”

 

“Aku… aku tidak tahu arah jalan pulang.” Sahutku lirih.

 

“Lupakan aku! Maka kau akan bisa pulang dengan sendirinya.”

 

“Tidak. Tidak mungkin aku bisa melupakan oppa. Itu sangat sulit untukku.”

 

“Sulit ataupun tidak kau tetap harus melupakanku. Kita, bagaimanapun juga tidak akan bisa bersama. Kau pasti mengerti maksudku.”

 

“Tapi….”

 

“Oppa! Sehun oppa!” Perkataanku terpotong oleh teriakan seorang… gadis?

 

“Oppa, ayo kita pergi! Untuk apa oppa memasuki hutan ini? Aku tidak ingin kita berdua ada disini, karena menurut yang aku dengar jika dua orang yang saling mencintai ada di hutan ini maka mereka akan berpisah. Aku tidak ingin berpisah denganmu oppa.” Kata gadis itu manja.

 

“Kita pulang!” Sahut Sehun oppa sambil menggengam erat tangan gadis itu, membuatnya tersenyum sumringah. Mereka pun membalikkan badan dan mulai melangkah, meninggalkanku dengan sejuta rasa sakit dan ketakutan yang luar biasa. Ku lihat Sehun oppa menghentikan langkahnya, membuat gadis disampingnya itu menatapnya dengan tatapan bingung. Sehun oppa menoleh. “Turuti perkataanku dan pulanglah!” Kata Sehun oppa sebelum benar-benar pergi dari hadapanku.

 

“Eomma… Appa… Haera-ya… Sehun oppa… Aku takut.” Gumamku lirih.

 

Aku mengingat perkataan gadis itu barusan. Benarkah jika dua orang yang saling mencintai bertemu dihutan ini mereka akan berpisah? Jadi inilah petanda bahwa aku dan Sehun oppa benar-benar tidak bisa bersama?

 

ANDWAEE!!!!

 

*

 

“Tidak! Itu hanya mimpi. Ya. Itu pasti hanya mimpi.” Kataku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Keringat dingin membasahi pakaian yang ku kenakan. Mengingat mimpi yang berhasil membuatku terbangun. Mimpi yang membuatku lagi-lagi merasakan kesedihan yang luar biasa.

 

Tapi mimpi itu… terasa begitu nyata. Mimpi itu seakan-akan menamparku. Menyadarkanku akan kenyataan pahit yang selama ini coba kusangkal.

 

“Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku bisa melupakannya?” Lirihku sedikit terisak.

 

“Eonni?” Sebuah suara mengagetkanku. “Eonni kenapa?”

 

“Kau bangun, Haera-ya? Maaf eonni membangunkanmu.” Kataku sambil menghapus air mataku kasar lalu menoleh ke arahnya. Dapat ku lihat dia tengah mengucek-ucek matanya, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang tidak begitu terang dari salah satu lampu yang ku biarkan menyala. Memberi sedikit penerangan untuk kamar kami yang cukup luas.

 

“Eonni kenapa? Aku tadi mendengar eonni mengatakan sesuatu, makanya aku terbangun”

 

“Eonni tidak apa-apa. Maaf sudah membangunkanmu. Sekarang tidurlah!” Kataku tersenyum, berusaha menutupi kesedihan yang ku alami beberapa saat lalu yang tentu saja belum hilang hingga detik ini.

 

“Benarkah?” Tanya Haera sambil menatapku tajam. “Tapi mata eonni memerah, eonni habis menangis?” Lanjut Haera.

 

“Tidak. Eonni tidak sedang menangis.” Kataku berusaha mengelak. Aku tidak mau adik kecilku yang satu ini ikut merasakan kesedihan yang aku rasakan.

 

“Bohong! Eonni pasti habis menangis. Apa eonni memikirkan Sehun oppa lagi? apakah mimpi itu datang lagi?” Tanya Haera khawatir.

 

“Tidak.”

 

“Eonni!”

 

“Eonni tidak apa-apa, Haera-ya. Jangan khawatir.” Kataku menahan tangis.

 

“Eonni.” Gumam Haera sambil memelukku. “Jika eonni ingin menangis aku siap memeluk eonni sampai kapanpun. Aku akan menjadi tempat eonni berbagi kesedihan. Tidak peduli bajuku akan basah nantinya, asal itu bisa membuat eonni lega aku rela.” Kata Haera sambil mengeratkan pelukannya.

 

“Eonni merindukannya, Haera-ya. Sangat merindukannya.” Gumamku disela-sela isakanku. “Apa yang harus eonni lakukan?”

 

Tidak ada jawaban keluar dari mulut Haera. Hanya saja tangannya kini mengelus rambut dan punggungku dengan lembut. Berusaha menenengkanku, berusaha memberiku kekuatan, tapi perlakuannya justru membuatku semakin menangis dengan keras.

 

Apa yang dilakukannya sama persis seperti yang dilakukan Sehun oppa ketika aku menangis. Dia akan memelukku dan mengelus punggung serta rambutku dengan lembut. Dan jika aku mengeluarkan semua keluh kesahku, dia hanya akan diam saja. Tidak menanggapi sepatah katapun. Tapi ketika tangisanku reda, dia akan dengan bijak menasihatiku, menghiburku hingga aku bisa tertawa lagi dan melupakan kesedihanku.

 

“Sakit. Rasanya sangat sakit. Dibagian sini.” Gumamku sambil memukul-mukul dadaku dengan tangan kananku yang bebas. Karena Haera memelukku dari samping sehingga kedua tanganku terbebas, hanya saja tangan kiriku sedikit terhimpit diantara dadanya dan tubuhku.

 

“Eonni.” Mengetahui apa yang aku lakukan, membuat Haera semakin memelukku. Rasanya badanku terasa sakit saat dia memelukku seerat ini, tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hati ini. Rasa sakit yang aku tidak yakin akan bisa sembuh.

 

“Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku, eonni!” Hibur Haera. Sedangkan aku hanya bisa menangis dalam pelukannya. Menangisi seseorang yang belum tentu saat ini dia tengah memikirkanku.

 

Setelah 15 menit menangis, akupun melepaskan diri dari pelukan Haera.

 

“Eonni sudah baikan?” Tanya Haera masih khawatir.

 

“Ne.”

 

“Apa mimpi itu datang lagi?” Tanya Haera sediki ragu, terlihat jelas dari raut wajahnya

 

“Ne. Terasa sangat menyesakkan hingga terkadang eonni takut terlelap.”

 

“Eonni jangan seperti ini! Aku tidak mau melihat eonni menyiksa diri sendiri seperti ini. Itu membuatku sedih.”

 

“Eonni tidak menyiksa diri. Tapi ada kalanya eonni benar-benar takut mimpi itu datang lagi. Eonni lelah harus menahan rasa sakit ini sendirian.” Kataku.

 

“Kalau tahu akan jadi seperti ini, aku tidak akan membiarkan Sehun oppa mendekati eonni dulu.” Kata Haera dengan nada marah.

 

“Tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti, Haera-ya.” Aku menghela nafas sejenak. “Jika eonni tahu hubungan kami akan sesingkat ini eonni tidak akan membiarkan hati dan pikiran eonni dipenuhi namanya.”

 

“Singkat? Apakah bagi eonni 5 tahun itu waktu yang singkat?”

 

“Singkat. Sangat singkat. 5 tahun bukanlah waktu yang lama mengingat kami pernah berjanji akan hidup bersama hingga maut memisahkan. Dan eonni pikir waktu 5 tahun tidak sebanding dengan waktu yang akan eonni habiskan disisa umur eonni bersama dengannya. Eonni memang tidak tahu kapan eonni akan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Tapi bukankah masih ada kemungkinan bahwa eonni masih bisa menghabiskan beberapa tahun lebih lama dengan Sehun oppa? Walaupun sekarang ini kemungkinan itu kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.”

 

“Eonni~”

 

‘Waeyo? Jangan memasang wajah seperti itu. Kau sangat jelek.” Kataku berusaha menghiburnya –lebih tepatnya menghibur diriku sendiri.

 

“Eonni!”

 

“Aku menyayangimu, dongsaeng kecilku.” Kataku sambil mengacak-acak rambutnya.

 

“Eonni! aku bukan dongsaeng kecilmu lagi. Aku sudah 17 tahun.” Gerutu Haera sambil merapikan rambutnya. “Tapi aku juga menyayangimu, eonni.” Lanjut Haera sambil tersenyum. Aku menyukai senyumnya. Karena entah ini suatu kebetulan atau apa, ketika tersenyum Haera sangat mirip dengan Sehun oppa. Menurutku dia lebih cocok menjadi dongsaeng Sehun oppa dibandingkanku.

 

“Haera-ya?” Panggilku sambil melepaskan pelukannya.

 

“Ne, eonni?”

 

“Apa kau tahu ketika tersenyum kau sangat mirip dengan Sehun oppa?”

 

“Benarkah? Aku tidak menyadarinya, eonni. ah! Pasti akan sangat menyenangkan jika Sehun oppa benar-benar menjadi kakak iparku.” Kata Haera yang membuat ekspressi wajahku berubah seketika.

 

“Eonni juga berpikir demikian.” Sahutku berusaha menyembunyikan kesedihanku. “Tapi sayangnya dia sudah menjadi milik orang lain.” Lanjutku.

 

“Tapi eonni, belum tentu juga Sehun oppa benar-benar telah menikah.” Sanggah Haera.

 

“Bagaimana itu semua menjadi belum tentu? Jelas-jelas Sehun oppa memberitahu eonni bahwa dia akan menikah. Dan sekarang Sehun oppa pasti sudah berstatus sebagai suami.”

 

“Bisa saja Sehun oppa membohongi eonni.”

 

“Untuk apa dia melakukannya?”

 

“Entahlah.” Jawab Haera sambil mengedikkan bahunya.

 

“Gomawo.” Kataku tiba-tiba.

 

“Untuk?”

 

“Karena kau telah mempertemukan eonni dengan Sehun oppa.”

 

“Justru sekarang aku merasa menyesal karena telah mempertemukan kalian. Ya, meskipun semua itu terjadi secara kebetulan.”

 

“Kenapa? Apa karena ternyata eonni dan Sehun oppa tidak bisa bersama.”

 

“Ne. Dan itu membuatku sedih. Sangat sedih setiap kali melihat eonni menangisi Sehun oppa.” Kata Haera dengan mata berkaca-kaca.

 

“Dengar, Haera-ku sayang. Tidak ada gunanya kau menyesali sesuatu yang telah terjadi. Eonni justru bersyukur karena kehadiran Sehun oppa membawa kebahagiaan tersendiri untuk eonni. Dan eonni lebih bersyukur lagi karena saat eonni sedih kau selalu ada untuk eonni. Kau harus tahu satu hal bahwa ada saatnya kami memang harus berpisah. Kami tahu dan sadar betul akan hal itu. Kalaupun eonni sedih mungkin dikarenakan eonni yang kurang persiapan menghadapi perpisahan kami.”

 

“Maksud eonni? Aku tidak mengerti.” Tanya Haera bingung.

 

* * *

 

“Oppa? Sehun oppa?” Panggilku kepada namja yang duduk disampingku. Tapi tidak ada jawaban. Saat ini kami telah berada ditaman dekat rumahku. Setelah 1 minggu tidak ada kabar darinya sama sekali, tiba-tiba Sehun oppa menghubungiku dan memintaku untuk bertemu. Tapi sudah setengah jam lebih kami disini, dan tidak ada pembicaraan sama sekali di antara kami. Beberapa kali aku mencoba memanggilnya, bahkan mengajaknya bicara tapi dia hanya diam. Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong yang jarang sekali ku lihat. Sehun oppa tampak mengela nafas dengan berat beberapa kali. Aku bertanya-tanya, apakah ada masalah? Aku ingin menanyakannya, tapi aku urungkan niat itu. Biarkan dia yang menceritakannya kepadaku dengan sendirinya tanpa aku bertanya. Jika memang aku berhak tahu aku yakin dia akan berbagi masalah yang menimpanya.

 

“aku merindukanmu, Haena-ya.” Katanya tiba-tiba setelah 10 menit berlalu sejak aku memanggilnya untuk terakhir kalinya. Reflek aku menolehkan kepalaku, melihat ke arahnya. Sehun oppa masih tetap memandang lurus ke depan. Tapi kali bukan tatapan kosong yang ku temui, melainkan tatapan terluka dan juga kesedihan. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang menyebabkan Sehun oppa begitu sedih? Apa ini ada hubungannya denganku atau mungkin hubungan kami? Tiba-tiba rasa takut menyerangku. Aku berdo’a semoga apa yang aku takutkan tidak akan terjadi.

 

“Luhan hyung, dia menikah karena dijodohkan oleh appa dan eomma. Begitu juga dengan Suho hyung. Keluarga kami secara turun temurun selalu menjodohkan anak-anak mereka. Dan tidak ada yang bisa menolaknya. Meskipun kau bersedia hidup mandiri tanpa bantuan mereka, tetap saja mereka akan menjodohkanmu. Satu-satunya cara agar kau bisa terlepas dari perjodohan itu adalah mati.”

 

“Apa maksudmu, oppa? Aku tidak mengerti. Kenapa oppa menceritakan semua itu?” Tanyaku. Tapi Sehun oppa tidak menjawab. Aku berpikir keras, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakannya. Tiba-tiba aku merasa jantungku berdetak cepat, lebih cepat dari biasanya. Dan hati ini rasanya sangat sakit, seperti terhimpit dua buah tembok besar yang sewaktu-waktu bisa menghancurkanmu kapan saja.

 

“Oppa tidak bermaksud mengakhiri hubungan kita, kan?” Tanyaku dengan nafas tercekat.

 

“Tidak.” Jawab Sehun oppa singkat.

 

“Lalu? Apa maksud oppa mengatakan semua itu?” Tanyaku sedikit kesal. Sehun oppa tidak menjawab. Dia tetap berdiam diri dengan posisi yang tidak berubah sejak kedatanganku di taman ini.

 

“Kenapa oppa diam saja? Kenapa oppa tidak menjawabnya? Aku hanya ingin tahu, Sehun oppa. Benar-benar ingin tahu.” Tanyaku menahan tangis. Tapi sedetik kemudian air mata ini berhasil lolos dari kedua mataku.

 

Sehun oppa memutar badannya sehingga saat ini kami berhadapan. Dihapusnya dengan lembut air mataku dengan kedua tangannya. Sehun oppa tetap diam, tidak mengatakan apapun. Hanya gelengan kepala darinya yang mengisyaratkanku untuk tidak menangis. Aku melihat mata Sehun oppa yang berkaca-kaca.

 

“Oppa, katakan padaku!” Desakku lagi. Sehun oppa menurunkan kedua tangannya lalu kembali menatap lurus kedepan. Sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaanku.

 

“Baiklah. Jika oppa tidak mau mengatakan apapun. Aku pergi.” Kataku sebelum beranjak dari dudukku.

 

Ku langkahkan kakiku menjauhi Sehun oppa sambil menahan tangisanku. Tidak. Aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat. Aku harus optimis bahwa hubungan kami akan baik-baik saja.

 

GREP!

 

Seseorang memelukku dari belakang. Aroma ini. Aku tahu dengan benar siapa pemiliknya.

 

“Maaf. Aku benar-benar minta maaf, Haena-ya. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi kita tidak akan mungkin bersama. Kau harus tahu itu. Kalaupun aku bisa, aku ingin menentang appa dan lebih memilih untuk bersamamu. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan. Tidak ada yang bisa menghentikan appa kecuali jika aku pergi selama-lamanya. Pergi meninggalkanmu. Tapi apa itu jalan terbaik? Aku tidak ingin melihatmu sedih. Menangisi kepergianku. Aku tidak ingin itu…” Sehun oppa menghentikan kata-katanya. Dapat ku rasakan hembusan nafas Sehun oppa yang berat di sekitar tengkukku.

 

“Aku…” Sehun oppa mengeratkan pelukannya saat aku ingin mengatakan sesuatu, membuatku menelan kembali kata-kataku yang.

 

“Aku tidak ingin memikirkan itu untuk saat ini. Yang terpenting kau ada disampingku semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak mau memikirkan hal lain selain dirimu dan pekerjaan dikantor. Jadi setelah ini anggaplah tidak terjadi apa-apa di antara kita. Jika memang suatu saat kita berpisah, anggaplah bahwa kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Dan aku minta satu hal, siapkanlah hati dan jiwamu juga fisikmu untuk menghadapi perpisahan yang bisa datang sewaktu-waktu. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi ingatlah bahwa aku selalu mencintaimu, dulu, sekarang ataupun nanti. Meski suatu saat nanti kita berpisah, yakinlah bahwa kau menempati satu tempat special dihatiku yang tidak akan bisa digantikan oleh siapapun. Apa kau mengerti?” Perkataan Sehun oppa diakhiri dengan air mata yang menetes dari kedua matanya. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku seiring dengan turunnya air mata ini.

 

‘Tuhan! Semoga kebahagiaan selalu menyertai kami.’ Pintaku dalam hati.

 

* * *

 

“Jadi eonni sudah tahu kalau Sehun oppa akan menikah dengan orang lain?” Tanya Haera terkejut.

 

‘Ne.”

 

“Kapan itu, eonni? Kapan eonni mengetahuinya?”

 

“2 tahun yang lalu.”

 

“Mwo? 2 tahun yang lalu? Lalu kenapa eonni masih bertahan dengan hubungan kalian? Apakah selama 1,5 tahun itu eonni tidak tersiksa mengingat Sehun oppa tidak akan menjadi milik eonni?” Tanya Haera bertubi-tubi.

 

Aku menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Haera. “Tersiksa. Sangat tersiksa. Tapi eonni mencoba bertahan. Eonni tidak ingin membuat Sehun oppa sedih. Karena eonni yakin Sehun oppa juga sama tersiksanya seperti eonni. Lagipula seperti yang dikatakan Sehun oppa bahwa kami masih bisa menghabiskan sisa waktu yang ada bersama-sama. Kami ingin membuat banyak kenangan agar kami bisa mengingatnya saat rasa rindu singgah dihati kami. Eonni dan Sehun oppa sama-sama menguatkan diri masing-masing. Dan setelah hari itu Sehun oppa tidak pernah mengungkit perjodohan itu lagi sampai….” Ucapanku terhenti karena kurasakan air mata telah menggenang di pelupuk mataku. “…. Sampai tiba saatnya Sehun oppa akan menikah. Dan tepat 6 bulan yang lalu, Sehun oppa mengakhiri hubungan kami. Hubungan yang sudah kami rajut selama 5 tahun.” Lanjutku. Dan secara perlahan air mataku menetes tanpa bisa ku bendung.

 

Haera memelukku. Dia memelukku dengan sangat erat. Berusaha menyalurkan kekuatan yang dimilikinya kepadaku. “Eonni masih ingat, kan? Jika ada aku yang akan selalu ada untuk eonni. Aku tidak akan membiarkan eonni menangis lagi. Aku beri keringanan kepada eonni untuk menangis sampai malam ini, tapi setelah itu jika aku tahu eonni menangis lagi aku akan meminta eonni menemaniku belanja setiap akhir pekan.” Kata Haera yang membuatku tersenyum tipis.

 

Aku melepaskan pelukanku. “Ne, eonni tahu dan eonni paham. Eonni berjanji tidak akan menangis lagi setelah ini.” Bagaimana mungkin anak ini menggunakan kelemahanku yang tidak suka berlama-lama di mall untuk menghilangkan kesedihanku? Tapi meskipun begitu aku hargai usahanya untuk menghiburku.

 

“Gomawo.” Kataku tersenyum tulus.

 

“Apapun untuk eonni.” Jawab Haera membalas senyumanku. “Sekarang eonni harus tidur. Aku tidak mau eomma mengomel lagi karena telat membuka butik seperti kemarin.”

 

‘Itu kan karena kau yang bangun kesiangan.”

 

“Tapi akar dari semua itu adalah eonni. Coba saja tengah malam kemarin eonni tidak terbangun karena mimpi buruk itu sehingga aku tidak harus menemani eonni.” Bela Haera.

 

“Ne, ne. Eonni tahu. Mianhe.” Kataku mengacak-acak rambutnya. “Eonni akan tidur. Kau juga tidurlah.”

 

Memang benar yang dikatakan Sehun oppa bahwa aku harus menyiapkan hatiku menghadapi perpisahan kami. Dan itu membutuhkan waktu yang lama. Bisa 1, 2 atau 3 tahun bahkan mungkin lebih. Mungkin aku tidak akan bisa melupakan Sehun oppa sampai kapanpun tapi dengan adanya appa, eomma, Haera, dan sahabat-sahabatku yang lain aku yakin bahwa aku hanya akan mengingat kenangan manis kami saja. Aku berharap aku mendapat pengganti Sehun oppa. Meskipun pada kenyataannya tidak akan ada yang bisa menggantikan Sehun oppa dihatiku. Tapi biarlah aku membuka hatiku untuk orang lain. Karena aku yakin Sehun oppa akan marah jika aku masih menangisinya.

 

Aku menarik selimutku hingga menutupi leherku. Ku pejamkan mataku dan berdoa.

 

“Semoga kau hidup bahagia dengan orang yang kau nikahi. Dan semoga aku tetap bisa tersenyum seperti biasanya. Aku mencintaimu, Sehun oppa.”

 

END

 

*****

 

Gimana? Gajekan?

Tapi semoga bisa menghibur kalian semua.

Terimakasih.

 

Jangan lupa commentnya.

Sampai jumpa di kesempatan selanjutnya.

 

Dadah…..

14 pemikiran pada “Hadirmu, Didalam Mimpiku

  1. Thor, cerita nya mengoyak hati, baca nya bikin mu nangis …
    Bikin yg happy ending donk thor, yg comedy juga boleh, sakit hati baca yg sad ending mah, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s