Tears

TEARS (FF PENERIMAAN ADMIN)

Author: MissPink

Main cast: Park Chanyeol

Genre: Romance

 

Author POV

Park Chanyeol calling…

Andrea mengangkat ponselnya dengan cepat lalu menempelkannya ke telinga, “Yeoboseyo, oppa?”

“Kau sedang berada di mana?”Kening Andrea sedikit mengkerut, mendengar suara Chanyeol yang sedikit aneh.

“Aku?Aku sedang berada di apartemen.Waeyo?”

“Boleh aku kesana?”

Andrea terkekeh pelan, “Tentu saja, oppa.Memangnya sejak kapan kau meminta izinku untuk bermain kemari?”

Terdengar tawa kecil dari seberang sana, sebelum kemudian Chanyeol kembali berkata, “Baiklah, aku akan segera ke sana.”

Klik.

Andrea menatap ponselnya kemudian berdecak kecil.Pria itu, ada-ada saja.Chanyeol adalah kekasihnya sejak beberapa bulan yang lalu.Awalnya mereka hanyalah teman sekelas yang hampir tidak pernah mengobrol. Namun, tiba-tiba  saja mereka menjadi teman sekelompok dan akhirnya menjadi dekat. Chanyeol adalah sosok yang menyenangkan dan lucu.Itulah yang membuatnya nyaman bersama pria itu.

Chanyeol sudah berada di depan apartemen Andrea beberapa menit kemudian. Pria itu sebenarnya sudah berada di sana daritadi. Namun, entah kenapa ia merasa perlu mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam. Ia hanya… tidak siap.

Namun akhirnya, pria itu menghela nafas dan memasukkan password apartemen Andrea dengan lincah.Pria itu sudah sangat sering datang kemari, dan itu otomatis membuatnya hafal passwordnya di luar kepala.

Tidak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk menemukan sosok Andrea yang sedang menonton televisi.Gadis itu memegang snack kecil di tangannya dan memakannya dengan santai.

“Oppa, wasseo?”Andrea memalingkan wajahnya untuk sesaat dari televisi dan menatap Chanyeol dengan senyum lebar di wajah.

“Eo.”Jawab Chanyeol kemudian ikut duduk di samping Andrea.Memperhatikan gerak-gerik gadis itu dengan seksama.

“Wae?”Tanya Andrea dengan tatapan masih terfokus pada televisi.

“Aniyo.Aku merindukanmu.”Jawab Chanyeol lalu terkekeh pelan ketika Andrea hanya meliriknya bingung.

“Berlebihan.”Tandas Andrea setelah beberapa saat.

“Aku serius.”

“Kita baru saja bertemu kemarin.” Andrea menggelengkan kepalanya, meskipun sebenarnya ia merasa senang atas kata-kata yang Chanyeol ucapkan.

“Kau tidak mempercayaiku?” Tanya Chanyeol, pria itu memasang wajah cemberut. Membuat Andrea hanya bisa melirik was-was ke arahnya.

“Oppa…” Andrea mati-matian merutuki jantungnya yang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama di saat-saat seperti ini.

“Buatkan aku makanan saja sebagai gantinya.”Ucap Chanyeol cepat.

“Ganti?Ganti apa?”Balas Andrea sambil mengerutkan kening, tidak terima.

“Karena kau tidak mempercayaiku!”Jawab Chanyeol percaya diri.

“Tck. Baiklah, baiklah. Tunggu saja disini.”Ucap Andrea lalu beranjak pergi ke dapur.Sama sekali tidak heran ketika mendapati bahwa Chanyeol mengekorinya dari belakang.Pria itu memang selalu seperti itu, sangat senang melihatnya sedang memasak.

Chanyeol menarik kursi makan sambil terus memperhatikan Andrea yang mengambil bahan-bahan makanan dengan lincah.Ia selalu suka melihat gadisnya itu ketika sedang memasak. “Kau sedang memasak apa?”

“Bulgogi.”Jawab Andrea singkat, asik dengan dunia masaknya sendiri.Hal yang selalu terjadi ketika gadis itu sedang memasak.

“Jangan mencuekiku.Bukankah aku sudah bilang bahwa aku sedang merindukanmu?”Chanyeol merengek.

Hal itu membuat Andrea sedikit kaget. Karena pria itu sama sekali tidak biasanya semanja ini. Namun akhirnya, ia hanya tersenyum kemudian menjawab, “Kau ingin makanannya tidak enak?”

“Biar saja.”Ucap Chanyeol cepat.

Chanyeol bangkit dari kursinya, memutuskan Andrea membutuhkan sedikit bantuan. Beberapa helai rambut gadis itu terjuntai di depan wajahnya, namun karena tangan yang kotor, ia tidak bisa membenarkannya.

“Bukankah sudah aku bilang kau harus mengikat rambutmu ketika memasak?” Chanyeol dengan cepat mengambil ikat rambut yang berada di counter dapur kemudian mengambil beberapa helai rambut Andrea dengan hati-hati, lalu mengikatnya keatas dengan lincah.

“Gomawoyo.”Andrea menoleh pada wajah Chanyeol yang tepat berada di belakangnya, kemudian tersenyum sebelum akhirnya kembali asik dengan masakannya.

Chanyeol segera melingkarkan tangannya di pinggang Andrea, membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget.Chanyeol meletakkan dagunya di atas pundak Andrea lalu menutup matanya, sambil tersenyum.

“Oppa” Panggil Andrea dengan suara bergetar, “Aku ingin memasak.”

“Memasaklah seperti ini.Biarkan seperti ini saja dulu.”Gumam Chanyeol dengan senyum di wajah.

Pria itu memajukan wajahnya, hingga ujung hidungnya bersentuhan dengan kulit leher Andrea.“Aku menyukai baumu.”Gumam Chanyeol lagi.

Andrea tidak berkata apapun.Tidak bisa berkata apapun.Ia terlalu sibuk meredakan detak jantungnya yang tidak karuan. Ini adalah pertama kalinya Chanyeol berada dengan jarak sedekat ini dengannya.Deru nafas pria itu yang sangat terasa di lehernya membuat sistem syaraf Andrea semakin tidak karuan.Pria itu benar-benar berbeda hari ini.

“Kenapa kau tidak lanjut memasak?”Ujar Chanyeol lalu terkekeh geli ketika menyadari wajah Andrea sudah semerah kepiting rebus. Namun Chanyeol tidak berniat untuk melepaskan pelukannya sama sekali, ia tidak mau menyia-nyiakan waktunya yang tersisa. Ia merasa tenang ketika wangi gadis itu memasuki indra penciumannya. Dan ia akan menikmatinya selagi ia bisa, selagi waktu masih ada.

***

“Andrea?” Panggil Chanyeol ragu.Mereka sekarang sedang nonton televisi bersama setelah makan tadi.

“Hmm?”

“Bagaimana kalau… aku tiba-tiba menghilang?”Tanya Chanyeol pelan, nyaris terkesan hati-hati.

Andrea langsung merasa tidak enak, namun gadis itu hanya tertawa canggung dan memukul bahu Chanyeol pelan, “Jangan bercanda yang berlebihan, oppa.”

“Aku serius.”Ujar Chanyeol lagi. Kali ini ia menoleh ke samping, baru menyadari bahwa Andrea memperhatikannya dari tadi.

Jarak mereka yang sangat kecil membuat Andrea dapat melihat mata Chanyeol yang sedikit berair, “Oppa… Ini sama sekali tidak lucu. Kau tidak akan pergi kemana-mana, kan? Bukankah kau sudah berjanji akan tetap disini.”

Chanyeol tertawa kecut, sambil masih memperhatikan Andrea tepat di manik mata, “Katakan saja.Aku hanya ingin mendengar jawabanmu.”

“Aku… Tentu saja aku akan menunggumu.”Jawab Andrea yakin.

Chanyeol menggeleng dengan cepat, “Tidak.Tidak boleh.”

“Oppa, jangan menjadi aneh seperti ini.Eodi apha?” Tanya Andrea lalu menempelkan keningnya dengan kening Chanyeol, hal yang biasa pria itu lakukan kepadanya untuk mengukur suhu tubuhnya ketika ia sedang demam. Andrea hanya bisa terlonjak kaget begitu merasakan suhu tubuh Chanyeol yang panas.Jauh melebihi batas normal.

“Oppa! Kau sakit, ya?! Kenapa tidak bilang padaku daritadi?Tunggu sebentar.” Baru saja Andrea akan beranjak dari duduknya untuk mengambil kompres. Chanyeol segera menahan tangannya dan menariknya hingga Andrea kembali terduduk, kali ini dalam dekapan Chanyeol.

“Biarkan saja.”

“Eh?” Tanya Andrea dengan kening mengkerut.

“Aku akan baik-baik saja.Tidak ada gunanya kau mengambil kompres.”

“Tapi—”

“Sudahlah.”Potong Chanyeol cepat.

Kali ini Chanyeol merebahkan kepala pada bahu Andrea dengan tangan yang tetap melingkat di perut gadis itu.“Kita menonton televisi saja, hmm?”

“A…arasseo.”

“Andrea?” Panggil Chanyeol lagi setelah beberapa saat mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Ne?”

“Malam ini… boleh aku menginap?”

Andrea langsung mentap Chanyeol dengan terkejut.

“Tenang saja.Aku tidak akan melakukan apa-apa.”Chanyeol tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Andrea lembut.

“Bukan masalah itu.Tapi, bukankah dulu kau yang bersikeras kalau kita tidak boleh tinggal serumah sebelum menikah?”

Chanyeol terdiam, merasakan perih di dadanya tiba-tiba.Andai saja ada waktu, Chanyeol berkata di dalam hati.

“Hmm.”Chanyeol mengiyakan, “Tidak boleh?”Tanyanya lagi.

“Ani!Tentu saja boleh!”Andrea tersenyum lebar.Sama sekali tidak sadar bahwa sedari tadi Chanyeol bahkan tidak mengeluarkan ekspresi apapun.

***

“Oppa, aku sudah selesai.”Ucap Andrea sambil masuk ke dalam kamarnya, mendapati Chanyeol memperhatikannya.

“Arasseo.”

Chanyeol masuk ke dalam kamar mandi, kemudian langsung membasuh wajahnya dengan air. Akhir-akhir ini, entahlah, ia hanya merasa semakin sering bertambah pusing. Ia memandangi pantulannya di kaca, kemudian, menggeleng tidak setuju. Aku akan hidup selama mungkin. Aku akan melindungi Andrea selama mungkin. Aku sudah berjanji.

Ia mencuci muka sabun dalam satu gerakan cepat dan langsung keluar kamar mandi, mendapati Andrea sudah berbaring di atas tempat tidur.

“Kemarilah.”Panggil Andrea lalu menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.

Chanyeol hanya tersenyum, lalu ikut naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya di samping Andrea.

Pria itu menarik Andrea dalam pelukannya, kemudian berkata untuk yang kesekian kalinya, “Aku merindukanmu.”Aku akan merindukanmu.

Kening Andrea mengkerut. Perasaan tidak enak lagi-lagi datang menghampirinya, “Oppa… Kau tidak akan pergi meninggalkanku, kan?”

Chanyeol terdiam, kemudian membalas, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Ani, hanya saja hari ini kau terlihat aneh.Kau seperti akan pergi jauh sekali.”Ujar Andrea sambil mendongakkan matanya ke atas, hingga otomatis mempersempit jarak mereka berdua.

“Berjanjilah padaku satu hal.”Chanyeol berkata tanpa memperdulikan ucapan Andrea barusan.

“Apa?”

“Jika nanti aku pergi dan tidak kembali, jangan menungguku. Bukalah hatimu untuk pria lain.” Ucap Chanyeol lalu merapikan helaian rambut Andrea yang menjuntai di depan wajahnya.

“Oppa, jangan begini…” Ucap Andrea lalu mengerucutkan bibir.

“Arasseo.”Chanyeol masih menatap Andrea di dalam kegelapan.Ia bisa melihat bola mata gadisnya yang besar dengan jelas.

Perlahan, Chanyeol mendekatkan wajahnya dengan wajah Andrea, mempersempit jarak di antara mereka.Bibir mereka bertemu dalam ciuman ringan.Satu tangan Chanyeol memegang tengkuk Andrea, lalu memperdalam ciuman mereka.

Bibir Chanyeol melumat bibir Andrea dengan lembut.Berusaha menumpahkan seluruh perasaan sedihnya, berusaha memberitahu Andrea betapa pria itu mengalami waktu yang sulit.Andrea merasakannya.Kali ini ciuman Chanyeol berbeda, lebih bergairah dan aneh.Pria itu memang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang Andrea tidak mengerti.

Chanyeol masih memperdalam ciuman mereka, bibirnya terkadang menggigit bibir Andrea lembut, membuat gadis itu mengerang pelan.Lumatan itu berubah menjadi kecupan-kecupan ringan setelah mereka berdua kehabisan napas.

Bibir mereka masih bersentuhan ringan, namun sama sekali tidak bergerak. Andrea masih berusaha menormalkan pernapasannya ketika Chanyeol akhirnya membuka mata dan tersenyum pada Andrea.“Tidurlah.”

Andrea menggeleng, lalu melingkarkan tangannya pada Chanyeol, memeluk Chanyeol erat dan menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. “Oppa…” Ucap Andrea dengan suara serak.“Aku takut.”

Chanyeol tersenyum, lalu mengelus puncak kepala Andrea dengan lembut, tahu persis bahwa gadis itu akan mengantuk jika Chanyeol melakukan hal ini. “Waeyo?Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

“Oppa, kau tidak akan pergi meninggalkanku, kan?Apa kau dijodohkan?”Tanya Andrea asal.

Chanyeol tertawa, kemudian menggeleng, “Tentu saja tidak.Memangnya siapa yang mau menjodohkanku eh?”

“Berjanjilah akan tetap disini.”

Chanyeol mengangguk, “Aku tidak akan pergi kemana-mana.Sekarang, tidurlah.”

Andrea hanya membalasnya dengan anggukan patuh.Badannya memang sudah memprotes minta istirahat.Hari ini, entah kenapa, gadis itu merasa sangat lelah.

Di sampingnya, Chanyeol memperhatikan gadis itu dengan seksama, tiba-tiba saja merasa marah pada semuanya.Kenapa semuanya harus menjadi seperti ini?Demi Tuhan, ia ingin sekali setiap hari melihat gadis itu tertidur, menemaninya seharian di rumah, memakan masakan gadis itu.Ia ingin berada di samping gadis itu tiap malam, memastikan bahwa ia tidur dengan nyenyak. Menjadi orang pertama yang gadis itu lihat di tiap paginya.

Chanyeol mengerjapkan matanya yang mulai berair.Ia lelah, bahkan sangat lelah. Jika ia bisa memilih, ia akan tinggal dengan gadis itu selama yang ia bisa. Tapi, takdir tidak akan sebaik itu, kan? Takdir tidak akan membiarkannya hidup bahagia karena ia sudah ditakdirkan seperti ini.

Dengan hati-hati, Chanyeol merapikan rambut gadis itu dan mengecup keningnya lembut.“Aku mencintaimu.” Bisik Chanyeol.

Pria itu lalu bangkit berdiri.Lagi-lagi merasa sakit yang menusuk-nusuk di kepalanya.Pandangannya menjadi buram sekilas, dan dadanya mulai sakit. Namun, Chanyeol tetap melangkah keluar dan mengambil secarik kertas, lalu menulis di sana…

Untuk Andrea tersayang…

***

Andrea menatap Chanyeol yang sedang tersenyum dengan ceria ke arahnya.Mata pria itu berbinar-binar bahagia dan tangannya melambai ke pada Andrea dengan ringan.“Hai.”

“Oppa!Kita ada dimana?”Andrea menatap sekelilingnya yang serba putih.Ia seperti berada di dimensi lain yang tidak berdinding dan menyilaukan. Namun, Park Chanyeol ada bersamanya.Bukankah dengan begitu berarti semuanya baik-baik saja?

“Tidak penting kita berada dimana.”Ujar Chanyeol jahil.Seperti berusaha membuat Andrea penasaran.

“Oppa!”Andrea menyikut perut Chanyeol.Tidak keras, namun Chanyeol sengaja mengaduh kesakitan.

“Kau jahat sekali.”Seru Chanyeol lalu cemberut, dan otomatis mengundang tawa Andrea.Ia menyukai wajah Chanyeol yang cemberut. Menurutnya, sangat kekanakan dan manis.

“Andrea?” Panggil Chanyeol. Kali ini nada suaranya berubah menjadi lebih serius.

“Ya?”

Chanyeol tidak menjawab.Namun, pria itu menarik Andrea ke dalam pelukannya.“Kau sudah berjanji padaku.”

Kening Andrea mengkerut, “Berjanji?”

“Kau sudah berjanji bahwa jika suatu saat nanti aku pergi dan tidak akan pernah kembali, kau harus bisa membuka hatimu untuk pria lain.”

“Apa… kau akan meninggalkanku?Kau sudah tidak mencintaiku lagi?”Tanya Andrea langsung.Perasaan takut tiba-tiba saja menyerang gadis itu.Ia merasa bahwa Chanyeol akan meninggalkannya sebantar lagi. Entah akan pergi kemana pria itu. Tapi hal itu membuat perasaan Andrea tidak enak.

“Aku tidak ingin meninggalkanmu.Sungguh.Aku akan berusaha bertahan selama mungkin di sampingmu.”Ucap Chanyeol sambil tersenyum lembut.Namun, wajah pria itu berubah menjadi sedih seketika, “Tapi, kita tidak pernah tahu apa yang takdir inginkan, kan?Jika takdir memang tidak menginginkanku bahagia, maka aku tidak akan bahagia.”

“Apa maksudmu?”Sanggah Andrea cepat.“Tidak akan ada yang terjadi! Kau masih ingin berada di sampingku, kan? Kalau begitu tetaplah disini! Jangan pergi kemana-mana!”Andrea tercekat.Air mata menyumbat tenggorokannya dan membuat suaranya menjadi aneh.“Aku tidak mau kau pergi.” Lirih Andrea. Gadis itu memeluk Chanyeol seerat mungkin.Berharap itu bisa membuat pria itu tinggal.

“Kau tahu?Aku ingin sekali menikah denganmu.”

“Apa… kau melamarku?”

Chanyeol tersenyum pahit kemudian menggeleng, “Aku ingin sekali.Tapi, aku tidak bisa.”

“PARK CHANYEOL!”Seru Andrea mulai marah.

“Andrea… mengertilah.”Chanyeol berkata dengan lelah, “Aku ingin sekali menjadi egois.Memintamu untuk menikahiku karena aku tahu bahwa kau tidak mungkin menolak. Tapi, apa kau pikir aku bisa seegois itu? Jika aku tahu bahwa waktu kita bersama sudah tidak lama lagi, apa kau pikir aku bisa seegois itu? Mengikatmu dengan perjanjian suci seumur hidup lalu meninggalkanmu begitu saja?”

Chanyeol menghela napas, “Aku ingin kita bahagia bersama.Tapi, aku lebih ingin kau bahagia.Dengan, atau tanpaku.”

“A…aku tidak bisa.Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk bahagia tanpamu?”

Chanyeol hanya tersenyum, “Kau akan menemukan caranya.”

“Sebenarnya apa yang terjadi?!” Andrea mulai menangis.Gadis itu takut luar biasa.

“Shh. Jangan meneteskan air mata.” Ujar Chanyeol lembut lalu menghapus air mata Andrea dengan ibu jarinya. “Waktunya sudah dekat.”

Andrea hanya bisa terisak.Ia tidak tahu apa yang dimaksudkan Chanyeol namun, gadis itu merasa sedih, “Apa yang sudah dekat? Kau tidak akan pergi kemana-mana, kan?!”

Chanyeol tidak menjawab, namun pria itu memeluk Andrea erat, “Aku mencintaimu.” Bisik Chanyeol. Pria itu menempelkan bibirnya pada bibir Andrea lalu tersenyum.

“Aku sangat berharap kau bahagia.”

Panik langsung menjalar ke tengkuk Andrea ketika melihat sosok Chanyeol yang perlahan-lahan berubah menjadi tembus pandang, “Chanyeol? Oppa!!! PARK CHANYEOL!!!” Seru Andrea. Namun pria itu hanya tersenyum, “Ingatlah Andrea Kim, bahwa aku akan selalu mencintaimu.”

“PARK CHANYEOL!”Andrea lagi-lagi berseru.Namun kali ini tidak ada balasan.Pria itu hilang, dan sekarang Andrea sendirian.

 

***

 

Andrea terbangun dengan perasaan tidak enak.Matanya berair dan keringat dingin mengaliri tengkuknya.Ia ketakutan. Diliriknya Chanyeol yang masih memeluknya dan tertidur. Tiba-tiba saja ia ingin memeluk pria itu. Ia ingin pria itu menenangkannya, berkata bahwa ia akan bersama dengannya selamanya.

“Oppa?”Panggil Andrea dengan suara serak.

Tangannya terulur menyentuh lengan Chanyeol namun langsung terkesiap kaget. Perasaan panik dan ketakutan langsung menerpanya, persis seperti yang ia alami di dalam mimpi. Tangan itu terasa dingin.Seperti… seperti tidak ada darah yang mengalir di dalamnya.

Tidak… tidak mungkin.

“Oppa… Ini sama sekali tidak lucu.”Ujar Andrea berusaha tertawa, namun isakanlah yang keluar dari bibir gadis itu.

“Oppa!!” Andrea mengguncang tubuh Chanyeol yang sama sekali tidak bergerak. Gadis itu menjerit minta tolong, “Oppa! Ireona! Kau berjanji tidak akan meninggalkanku!” Seru Andrea. Ia memeluk Chanyeol erat. “Oppa, bangunlah!”Seru Andrea lagi.

“Tertawalah. Katakan ini hanya tipuan bodohmu! Aku akan memaafkanmu jika kau membuka mata.”Andrea berusaha mengeluarkan tawa, namun air matanya tidak bisa berhenti mengalir.

“PARK CHANYEOL!”Seru Andrea ketika pria itu tidak kunjung menjawab.

“Bangun… Eo? Bukalah matamu. Kau pasti sedang mengerjaiku, kan? Hari ini tanggal berapa?Apa ada sesuatu yang kulupakan?”Ucap Andrea nyaris berbisik.Ia tidak mau Chanyeol meninggalkannya, demi Tuhan sama sekali tidak mau.

***

Tinggal Andrea sendiri di makam itu.Semuanya sudah pulang. Sedangkan ia masih bersikeras untuk tinggal. Gadis itu merasa sakit luar biasa di dadanya.Seperti ada lubang yang mengaga, sakit, dan kosong.

“Park Chanyeol…” Andrea berkata dengan lirih, “Aku membencimu.”

“Kenapa kau tidak berkata apapun mengenai penyakitmu?!Kenapa kau meninggalkanku?!” Seru Andrea. Air matanya kembali mengalir, tapi ia segera menghapusnya dengan kasar.

“Kau bilang kau benci melihatku menangis, kan?Kau bilang aku harus tersenyum.Aku akan tersenyum.”Gadis itu berusaha menarik sudut bibirnya ke atas sebagai bukti, namun itu hanya membuatnya terlihat semakin menyedihkan.

“Aku berjanji akan tersenyum asal kau kembali.”

Andrea akhirnya terisak pelan.Sadar bahwa hal yang dikatakannya tidak mungkin terjadi.Ia bisa tersenyum seceria mungkin, tertawa setiap hari namun pria itu tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah.

“Nappeun nom…” Andrea terisak.Tangannya yang bergetar membuka tasnya dengan cepat, mengeluarkan amplop yang hari itu ditemukannya di ruang tamu.Saat pria itu pergi.

Untuk Andrea tersayang…
Kalau kau menemukan surat ini, itu berarti aku sudah pergi. Maafkan aku tidak sempat memberitahumu mengenai penyakit kankerku.Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Kau sudah berjanji, kan? Kau berjanji padaku akan tetap tersenyum.
Tadi malam aku baru berpikir, seharusnya aku tidak sakit.Aku ingin sekali memperhatikanmu di malam hari.Aku ingin sekali menikah denganmu.Tapi sepertinya, itu hal yang tidak mungkin.Kau harus membuktikan padaku bahwa kau bisa melalui semuanya.Tersenyumlah, jangan menangis.Bukankah aku sudah bilang kau jelek jika menangis?
Jangan terus-terusan mengingatku.Ingatlah aku sebagai kenangan. Carilah pria lain yang bisa membahagiakanmu, lebih daripada aku. Kau pasti bisa menemukannya.
Aku senang telah mengenalmu.Mencintaimu.Itu merupakan hal terindah dalam hidup.Aku senang menghabiskan waktuku bersamamu, dan membuatmu tersenyum.Itu merupakan hal yang selalu ingin kulakukan.Namun sekarang, aku harus pergi.Tapi kau harus tetap melanjutkan semuanya.Arra?Aku mencintaimu. Kau tahu itu, kan? Hal itu tidak akan pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Tersenyumlah Andrea, kau tahu kan itu yang sangat kusukai darimu? –Park Chanyeol, pria yang mencintaimu sampai mati.

Tangis Andrea semakin keras, “Bodoh.Park Chanyeol yang bodoh.”

END

Iklan

16 pemikiran pada “Tears

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s