When I’m Become a Yeoja (Chapter 5)

Author: minnieasmilkyway & Scandanavia

Title: When I’m Become a Yeoja (Chapter 5)

Main Cast:

– EXO-M’s Kris

– EXO-M’s Tao (Fem!Tao) > Jinri

– EXO-K’s Baekhyun

– EXO-M’s Luhan (Fem!Luhan) > Hanmi

Support Cast:

– EXO-K’s Suho

– EXO-K’s Sehun

– EXO-K’s Chanyeol

– EXO-M’s Lay

– EXO-K’s Kai

– Song Micha (OC)

Genre: Romance, School Life, Gender Switch, Drama, little bit humor

Lenght: Multi Chapter

Disclaimer: All cast belongs to god and they parents! (Except: OC and EXO members is mine). The plot is pure from our brain ^^

Summary: Tao sangat menyukai sahabatnya sejak kecil itu. Namun, men to men atau yaoi itu tindakan yang dilarang. Saat muncul cahaya yang berpendar itu, ia berharap menjadi yeoja seutuhnya. Saat harapannya terkabul, akankah Tao berhasil menjalani hidup barunya dan mendapatkan namja incarannya?

A/N: Mianhae readersdeul TT_TT sebenernya, ff ini udah selesai kemarin. Tapi, berhubung komputernya kena virus, semuanya hilang _-_ jadi, mesti diulang dan inilah hasil re-makenya! Happy reading^^ don’t forget to RCL 🙂

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4A | Chapter 4B

*Baekhyun PoV*

 

CHU~!!

 

Kupegang pipi kirinya yang mulus itu dengan tanganku. Lalu, kuberanikan diriku untuk mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Kucium lembut bibir manisnya. Kulihat dirinya yang hanya menyimbolkan sebuah kekagetan karena aku yang menciumnya secara tiba-tiba. Wajahnya perlahan berubah menjadi merah menandakan rasa malu. Aku dan dia sepertinya tidak memiliki niat untuk berbicara satu sama lain. Kami lebih banyak diam setelah ciuman itu. Tidak apa, setidaknya aku masih bisa melihat wajahnya yang manis.

Hari semakin sore. Sehingga, akupun mengajaknya untuk pulang. Tak lupa kugenggam erat tangannya. Biarpun ia belum menerimaku secara resmi, setidaknya aku sudah berhasil mencium bibirnya itu. Lagipula, ia juga tidak menolak saat aku melakukan hal itu padanya. Kamipun pulang dengan petunjuk dari Jinri. Karena, kuakui saja. Aku belum pernah ke rumahnya sekalipun. Inilah kali pertamanya aku pergi ke rumahnya. Apalagi, aku bisa dengan bebasnya menggenggam tangannya yang lembut.

Kamipun sampai di depan rumah Jinri. Iapun mengucapkan terima kasih padaku untuk hari ini dan kemudian izin masuk ke dalam lebih dulu. Sebenarnya, ia menawarkanku untuk masuk juga. Ia menyuruhku untuk sekadar berkunjung dan mengikuti makan malam bersama. Tapi, aku menolak ajakannya dengan halus. Aku harus pergi ke kampus setelah ini. Baru aku akan pulang ke rumah. Akupun mencari taksi untuk mempersingkat waktu menuju kampus.

*Tao (Jinri) PoV*

Saat pintu depan telah kututup, akupun langsung berlari menuju kamarku dan mengunci pintunya. Akupun berdiri di balik pintu tersebut. Kurasakan tubuhku merosot dan kini berada dalam keadaan duduk. Aku masih mengingat kejadian tadi. Saat Baekhyun mengungkapkan perasaannya dan kemudian menciumku. Tapi, kenapa ia bisa seperti itu? Apa ia tidak main-main dengan perasaannya?

“Kau kenapa duduk di situ?” tanya sebuah suara yang sangat kukenal.

“Ah, itu.. aku baru pulang” balasku sambil menyengir tidak jelas ke arah malaikat Suho.

“Kau jadi tambah jelek jika seperti itu -_-”

“Apa kau bilang? -___-” tanyaku agak kesal.

“Ya, kau jadi lebih jelek dari biasanya” canda malaikat Suho.

“Kau ini, padahal aku mau bercerita padamu”

“Cerita? Tentang apa?”

“Hmm, mungkin ini bisa dibilang kencan. Tapi, entahlah. Aku juga tidak tahu pasti”

“Kencan? Dengan siapa? Kris?” tanya malaikat Suho antusias.

“Baekhyun -_- dengarkan aku bercerita dan jangan protes” jelasku.

Ia kemudian mengangguk.

“Tapi, berjanji agar kau tidak tertawa mendengar ceritaku”

“Iya iya, cepat lanjutkan -____-”

“Jadi, Baekhyun mengajakku pergi tadi sore. Entah, mungkin kau bisa menyebutnya dengan kencan ‘perdana’ku. Ia mengajakku ke taman dan membelikanku es krim”

“Payah sekali ceritamu. Tidak ada seru-serunya” sanggah Suho.

“Aku belum selesai bercerita -____- ih, sudah kubilang jangan dikomentari. Memangnya, kau mengharapkan apa dari ceritaku, hm?”

“Kau tahu sendiri kan? Remaja sekarang menginginkan sesuatu seperti…” malaikat Suho tidak melanjutkan perkataannya. Tetapi, tangan kanan dan kirinya dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat seperti orang yang sedang ber….ciuman ?

“Yang benar saja! Kau ini namja -_- ah, kenapa jiwamu dipenuhi seperti drama-drama korea yang ditonton oleh eommaku?” sungutku kesal.

“Kenapa jadi menyudutkanku?! Cepat selesaikan ceritamu” pintanya. Akupun hanya menuruti.

“Ngomong-ngomong, ini merupakan ciuman pertamaku” akupun diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatku.

“Baekhyun mengambilnya dariku dan sebelumnya juga ia menyatakan perasaannya. Entah ini sungguhan atau bukan. Tapi, kurasa ia hanya main-main”

Aku melihat malaikat Suho yang sepertinya sedang berusaha menahan tawanya. Kenapa rasanya ia sangat senang sekali melihat diriku yang seperti ini?! Ah, sungguh tidak membantu.

“Kau tadi sudah berjanji padaku. Aku jadi malas bercerita denganmu lagi” ucapku yang kemudian berdiri dan berjalan menuju tempat tidurku.

“Tunggu! Aku ingin memberitahumu sesuatu”

Alisku terangkat, “Sesuatu? Maksudmu?”

“Aku telah menyuruh seseorang untuk datang menemuimu”

“Siapa? Yeoja? Atau namja?!” tanyaku antusias.

“Lihat saja. Nanti kau juga akan tahu” malaikat Suho mengedipkan sebelah matanya lalu menghilang.

Sekarang, aku semakin yakin bahwa malaikat itu misterius. Kenapa dia selalu muncul dan menghilang secara tiba-tiba? Aneh. Akupun membaringkan tubuhku di tempat tidur. Menarik selimut hingga menutupi tubuhku sebatas leher, kemudian mematikan lampu ruangan.

*Baekhyun PoV*

Kubuka pintu ruangan yang berada di hadapanku secara perlahan. Saat pintu itu terbuka, hanya terlihat Kris hyung yang sedang membaca koran di ruang depan. Yang lain, tidak terlihat keberadaannya. Aku berniat untuk mengambil segelas air putih dingin di kulkas yang tersedia di dapur. Namun, langkahku terhenti saat Kris hyung membuka suaranya.

“Kau kemana tadi sore?”

“Aku pulang karena tetanggaku menelpon dan memerlukan bantuanku” jawabku berbohong.

“Tetangga ya? Jadi, Jinri itu tetanggamu?”

“Kau mengetahuinya, hyung? Apa kau mengikutiku?”

“Ya, kenapa memangnya?! Apa kau keberatan?”

“Tidak sama sekali. Jadi, kau melihatku berciuman, huh?” tanyaku mencoba memanas-manasinya.

Aku melihat wajah Kris hyung yang tiba-tiba berubah menjadi kaku. Tangannya terkepal sedemikian rupa. Sepertinya, ia hendak memberikan tinjunya padaku.

“Tentu saja” ucapnya datar.

“Lihat dirimu hyung! Kau ini seperti seseorang yang pacarnya direbut saja. Apa jangan-jangan, kau ada apa-apa dengan Jinri? Benar begitu?”

“Kalau iya, memang kenapa?!”

“Aneh saja, melihat seorang ketua grup ternama di kampus ini, marah dengan anggotanya sendiri karena kalah bersaing! Kau pengecut, hyung!”

“Kau seorang pembohong!” serunya yang kemudian menatapku sinis dan melayangkan tinjunya ke pipi kiriku sehingga membuatku tersungkur ke lantai.

“Kalau kau memang menyukainya, bersainglah dengan sehat bersamaku. Kenapa harus marah saat tahu aku sudah mencium bibirnya?”

Saat itu juga, Lay hyung, Sehun dan Kai terlihat keluar dari ruangan mereka masing-masing. Akupun kembali mengambil tas yang tadi kukenakan. Kemudian, keluar dari ruangan tersebut. Dapat kulihat dari kaca yang tersedia di toilet namja. Pipiku berubah warna menjadi biru. Lebam dan rasanya sangat sakit. kulihat sudut bibirku yang ternyata mengalami luka sehingga mengeluarkan darah.

*Kris PoV*

 

Lay, Sehun, dan Kai keluar dari ruangan mereka masing-masing dan mereka hanya mencoba menenangkanku. Aku masih merasakan panas karena ucapan yang dilontarkan Baekhyun tadi. Akupun memutuskan untuk meninggalkan mereka bertiga dan mencoba untuk tidur. Aku berharap, aku bisa tidur nyenyak malam ini.

Keesokan harinya,

Tidak biasanya aku sudah berjalan di area kampus milik orang tuaku. Biasanya aku hanya berdiam diri di ruanganku dan mendapat kelas privat. Tapi, kali ini aku ingin mencoba refreshing dengan berjalan santai sendirian. Hal ini disebabkan karena aku yang sedang tidak ingin bermain bola basket.

Hari ini aku merasa agak baikan daripada keadaanku semalam. Tidur benar-benar membuatku kembali fresh. Untungnya, ia tidak hadir dalam mimpiku. Hari inipun, aku berdoa agar tidak bertemu dengan Baekhyun. Apalagi, jika ia sedang bersama dengan Jinri.

Langkahanku terhenti karena aku baru saja melihat dua orang yeoja yang sedang berjalan di koridor seberang. Yang satunya, sudah pasti aku mengenalnya. Ia Jinri, sedangkan yang satunya mungkin adalah temannya. Syukurlah, bukan seorang Baekhyun. Aku tersenyum manis sambil menatapnya. Kurasa, mereka akan pergi ke perpustakaan. Terlihat dari bawaan mereka yang terbilang lumayan banyak. Mungkin mereka akan berdiskusi.

Awalnya, aku ingin mengikuti mereka berdua ke perpustakaan. Tapi, aku mengurungkan niatku itu saat aku melihat Baekhyun berjalan setengah berlari ke arah Jinri dan temannya. Jinri terlihat khawatir saat Baekhyun sudah berada persis di depannya. Kulihat tangan Jinri yang kini tengah mengusap pipi Baekhyun dan Baekhyun yang kini terlihat mengaduh kesakitan. Drama sekali, pikirku. Menjijikan! Akupun langsung pergi dari tempatku berdiri sekarang.

*Tao (Jinri) PoV*

Aku masuk kuliah lebih pagi karena Micha mengajakku untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen kemarin. Ya, dosen Kim memberi tugas kelompok dan kami belum mengerjakannya. Itu karena aku yang kemarin pergi bersama Baekhyun. Untungnya, tugas ini dikumpulkan lusa pagi. Jadi, kami masih punya waktu untuk mengerjakannya. Kamipun berjalan di koridor menuju perpustakaan.

“Bagaimana kencanmu kemarin?”

“Ha? Kencan?” tanyaku tidak percaya.

“Ya, kencanmu dengan Baekhyun” Micha tersenyum kepadaku dan menatapku dengan tatapan ingin tahu.

“Eng…Kemarin ia menciumku” tuturku pelan.

“MWO???? KALIAN BER-pffft” aku menutup mulutnya agar ia tidak berteriak seperti itu lagi.

Saat itulah, seorang namja yang baru saja kami bicarakan muncul. Ada yang berbeda dari penampilannya. Ya, ada sebuah hiasan biru di pipi kirinya dan luka di sudut bibirnya. Apa yang baru saja terjadi? Apa ia baru saja berkelahi? Tapi, tidak ada alasan pasti yang membuatnya bisa berkelahi sampai seperti ini.

“Kau kenapa? Apa kau habis berkelahi?” tanyaku khawatir sambil mengelus pelan pipinya.

“Aaaaa!! Pelan-pelan sedikit” tangannya menghalau tanganku agar tidak menyentuh lebam di pipi kiriku.

“Mianhae, kau bisa cerita padaku kenapa bisa seperti ini”

“Tapi, Jinri? Kita ada tugas yang perlu diselesaikan” sanggah Micha sambil menunjukkan buku yang ada di tangannya.

“Baiklah, kami akan perpustakaan. Kalau kau mau ikut, kau bisa cerita di sana” jelasku. Iapun mengangguk menandakan bahwa ia akan ikut dan bercerita pada kami di perpustakaan.

Iapun mulai bercerita tentang dirinya yang baru saja kembali dari rumahku ke kampus. Ia bilang, ia hanya melihat Kris sunbae dan kemudian, Kris sunbae menghajarnya. Kris sunbae memiliki alasan mengapa ia berbuat begitu. Baekhyun bercerita kepada Kris sunbae tentang tragedi ciuman itu. Tanpa disangka, ternyata Kris sunbae merasakan aura panas dan tidak tahan untuk menghajar Baekhyun. Akhirnya, tinjuanpun mendarat di wajah Baekhyun. Baekhyun bilang, Kris menyukaiku. Tapi, aku tidak bisa percaya seperti itu. Bagaimana mungkin ia bisa menyukaiku sedangkan kami berdua saja hampir tidak pernah bertemu.

“Kau mau kemana?” tanya BAekhyun saat aku beranjak dari kursi perpustakaan.

“Aku akan menemui Kris”

“Untuk apa? Kau lihat kan bagaimana ia membuat pipiku menjadi seperti ini? Apalagi denganmu?” ucap Baekhyun khawatir dan Micha hanya mengangguk mengiyakan.

“Kalau ia berani menyerangku seperti ia menyerangmu, tandanya ia hanya namja pengecut!”

Akupun keluar dari ruang perpustakaan dan berniat untuk pergi ke lapangan basket. Siapa tahu saja ia sedang bermain di sana. Tapi, nihil. Aku tidak menemukannya. Bahkan, di ruangannya sekalipun. Aku tidak bisa menemuinya dimanapun.

“Jinri!” panggil seorang yeoja yang bahkan tidak kukenali suaranya. Sepertinya, ia orang yang tidak kukenal. Tapi, kenapa ia bisa mengetahui namaku? Apa sebegitu terkenalnya aku? *plaaak -_-*

Akupun menoleh ke asal suara dan melihat yeoja berkulit putih dengan postur mungil sedang berjalan mendekatiku. Aku baru melihatnya di kampus ini. Apa ia mahasiswi baru?

“Kenalkan, aku Hanmi”

“Aku Jinri. Emmm, darimana kau bisa tahu namaku?” tanyaku.

“Aku suruhan malaikat Suho” ujarnya dengan tampang innocent dan dengan senyum ceria.

“Suho? Malaikat menyebalkan itu?”

“Dia tidak pantas dibilang menyebalkan. Dia menyenangkan ^^”

“Menyenangkan? Ah, baiklah. Terserah katamu saja. Tapi, bagaimana kau bisa mengenalnya?”

“Aku sama sepertimu. Ia mendatangiku dan menawarkan sebuah permintaan”

“Tunggu sebentar, jadi maksudmu… kau sebenarnya seorang namja? Begitu?”

“Begitulah ^^”

“Kenapa kau selalu tersenyum saat berbicara padaku? Apa kau tidak normal” tanya Jinri ngeri melihat Hanmi.

“Kau tidak perlu takut terhadapku. Wajahku memang seperti ini(?)” jelas Hanmi.

“Baiklah ._. lalu, ada perlu apa sampai-sampai malaikat Suho menyuruhmu untuk menemuiku?”

“Ia menyuruhku untuk berbagi cerita denganmu” kemudian Hanmi memberikan cengirannya kepada Jinri dan membuat Jinri tambah ngeri melihat Hanmi.

“Nanana~ baiklah, aku akan mendengarkan ceritamu”

“Jadi, malaikat Suho berbicara padaku untuk menceritakan bagaimana hubunganku dengan namja yang kusukai saat aku disihir olehnya menjadi seperti ini. Kau tahu Sehun?” tanyanya sebelum melanjutkan ceritanya.

“Tentu. Dia sekelas denganku. Lanjutkan ceritamu”

“Nah, saat itu aku mendapatkan kesempatan untuk pertukaran pelajar dari Beijing ke sini. Lalu, aku melihat seorang namja yang sedang duduk membuat sketsa di bawah pohon rindang. Ia sangat tampan dan kulitnya seputih salju. Aku langsung jatuh hati padanya. Ia membuat tidurku menjadi tidak nyenyak. Sampai suatu hari, sebuah cahaya menyelusup dalam kegelapan dan muncullah malaikat Suho yang menawarkan sebuah permintaan untukku. Sampai akhirnya aku menjadi seperti sekarang ini”

“Apa kau dan Sehun menjadi sepasang kekasih?” tanyaku di sela-sela cerita.

“Tentu. Aku selalu memperhatikannya tak jauh dari pohon tempat ia membuat sketsa. Sampai suatu hari ia memergokiku yang sedang melihatnya dari kejauhan, dan saat itu juga aku menyatakan perasaanku kepadanya. Awalnya aku ragu. Tapi, entah mendapat kekuatan dari mana hingga membuatku menjadi berani untuk menyatakan rasa sukaku”

“Lalu?”

“Aku tidak menyangka jika hasilnya akan memuaskan. Ternyata, Sehun memiliki perasaan yang sama terhadapku. Ia memberikan buku sketsanya padaku agar aku bisa melihat apa yang ia gambar selama ini. Aku terkejut saat kuketahui tenryata ia menggambar wajah diriku. Saat aku menatapnya dari kejauhan, ternyata ia juga menatapku. Aku sungguh lega. Ternyata, perasaanku terbalas” Hanmi terlihat senang saat ia sudah menyelesaian ceritanya.

Aku menghela nafas panjang setelahnya. Jadi, Suho telah mengubah seorang namja menjadi yeoja selain diriku? Dan lagi, orang tersebut masih berada di sekitarku. Sungguh kecil sekali dunia ini. Tapi, kenapa aku baru menyadarinya ya? Lalu, kenapa Sehun mendekatiku waktu itu? jadi, ia benar-benar menjadi seorang playboy? Kubuang jauh-jauh pikiranku tentang Sehun.

“Kalau begitu, cerita kita berbeda, Han”

“Berbeda? Apa yang membuatmu bisa berkata bahwa kita berbeda?” tanya Hanmi bingung.

“Tentu saja. Kau seseorang yang pemberani. Buktinya, kau bisa menyatakan rasa sukamu pada Sehun. Orang yang kau sukai. Sedangkan aku? Aku terlalu pemalu untuk mengungkapkan perasaanku sendiri. Lagipula, antara aku dan dia juga hanya aku yang memiliki rasa suka. Bahkan, kami jarang sekali bertemu satu sama lain. Bahkan untuk pertemuan tidak sengaja sekalipun. Apa aku masih bisa mengharapkan suatu hubungan dengannya?”

“Percayalah. Dengan begitu, semua yang kau lakukan tidak akan sia-sia. Tunggu saja hingga waktunya tiba”

Aku hanya mengangguk mendengar kalimat terakhirnya itu. Kemudian terdiam tanpa memiliki niat untuk berbicara dengan Hanmi. Ya, aku tidak memiliki topik pembicaraanyang pas. Tunggu! Dia bilang, dia mengikuti pertukaran pelajar? Itu artinya ia bukan asli Korea. Melainkan berasal dari Beijing. Selain menemuiku, aku yakin ia memiliki rencana lain yang membuat senyumnya mengembang seperti itu.

“Selain bertemu denganku, apa kau memiliki alasan lain yang membuatmu rela terbang jauh-jauh dari Beijing ke Korea?”

“Ada—” ucapan Hanmi terputus saat kami berdua mengetahui bahwa seorang namja berada di hadapan kami.

Namja yang berada di hadapan kami ini, merupakan namja yang sama sekali tidak ingin kusebutkan namanya. Tapi, entah kenapa ia selalu muncul di saat yang tidak tepat seperti ini? Memang sih, dia kadang membantuku. Tapi, untuk apa ia mendatangiku sekarang? Seperti ada sesuatu yang aneh yang menimpanya.

“Baekhyun bilang, kau ingin menemui Kr—–yaaaak!” kalimatnya terputus dan berubah menjadi sebuah teriakan kesakitan.

Chanyeol, si namja gila itu terdiam karena baru saja kakinya diinjak olehku agar ia tidak melanjutkan kalimatnya, dan benar saja. Rencanaku berhasil. Ia langsung diam sambil memperhatikan kakinya yang baru saja kuinjak.

“Eng… jadi kau ingin bertemu dengannya atau tidak?” tanya Chanyeol sekali lagi.

“Memang kau tahu dimana dia?”

“Terakhir kulihat, ia ada di ruang audio-visual. Entah apa yang sedang ia lakukan. Tapi, sungguh aku melihatnya di sana sedang sendirian. Ayo kuantar” ajak Chanyeol yang semenit kemudian menarik lenganku agar ikut dengannya.

Aku meminta izin sebentar kepada namja gila itu. Karenanya, obrolanku dengan Hanmi jadi tertunda. Sehingga, aku memutuskan untuk meminta nomor telepon yang bisa kuhubungi barangkali aku perlu melanjutkan obrolanku dengannya. Setelah mendapatkannya, akupun izin kepada Hanmi untuk mengikuti Chanyeol ke tempat Kris berada -katanya- semoga saja itu benar. Jika memang benar ia berada di sana dan aku menemuinya. Mungkin inilah saat yang tepat yang Hanmi bicarakan padaku barusan.

“Kau tidak menipukukan?” tanyaku yang masih saja ditarik oleh namja gila itu.

“Tentu saja. Tidak ada gunanya berbohong dengan yeoja jadi-jadian seperti dirimu!”

“Ish, dasar kau namja gila! Berhenti memanggilku seperti itu!!”

“Kau juga! Berhenti memanggilku namja gila -_-”

“Sebutan itu memang cocok untukmu. Aku tidak akan mengubahnya” ucapku dengan nada meledek.

“Baik kalau begitu. Aku juga tetap akan memanggilmu yeoja jadi-jadian” cengkeraman Chanyeol merenggang.

“Lihat saja sendiri kalau kau tidak percaya!” serunya.

Akupun dengan berat hati membuka pintu ruang audio-visual itu sendirian. Meskipun Chanyeol berada di sebelahku, ia tidak ingin melihat ke dalam. Karena, ia percaya bahwa Kris hyungnya itu ada di dalam. Namun, saat aku melihat ke dalam. Tidak ada yang bisa kutemukan. Namja itu berbohong seperti perkiraanku?!

“Ternyata!! Selain gila, kau juga seorang pembohong!! -____-” seruku kesal dan buru-buru pergi dari hadapannya. Namun, namja itu menghalangiku untuk pergi.

“Aku tidak bermaksud begitu padamu. Tadi aku benar-benar melihatnya berada di ruangan ini. Jujur saja, aku tidak memberitahu bahwa kau akan menemuinya. Sehingga, ia pergi dari ruangan ini”

“Lalu?! Aku bisa menemukannya dimana sekarang?” tanyaku lagi.

Namja gila ini sepertinya benar-benar gila. Kenapa aku bisa kenal dengannya dan grupnya itu. Padahal targetku hanyalah ketua mereka -Kris. Tapi, kenapa harus ada namja seperti dia?! -___-

“Mungkin ia pulang ke rumahnya” ucap Chanyeol ringan.

“Pulang? Untuk apa? Bukankah di sini ia sudah memiliki segalanya?”

“Hey! Terserah dirinya. Biar begitu, itukan haknya untuk melakukan apapun”

“Kalau begitu, beritahu aku alamat rumahnya” pintaku.

Chanyeol mulai mengeluarkan dompetnya yang langsung disambar olehku. Kuambil kartu nama Kris dan beberapa lembar uang. Lalu melempar kembali dompet tersebut ke sang pemilik.

“Ini denda akibat berbohong padaku! :p ” kemudian, akupun langsung berlari menuju parkir sepeda.

Hari ini aku sengaja membawa sepeda karena sedang malas menunggu bus yang datangnya 15 menit sekali. Kuambil kartu nama yang tadi kuselipkan di kantung celana jeans sebelah kanan kemudian membacanya dengan seksama. Tidak terlalu jauh, gumamku. Kemudian, akupun mengeluarkan sepedaku dan bersiap untuk mengayuhnya.

Udara masih terasa segar karena jam masih menunjukkan 10 a.m. Akupun menelusuri jalanan kampus yang menghabiskan waktu sekitar 15-20 menit untuk sampai ke gerbang utama. Saat hendak membelok tepat ke gerbang utama tersebut,

CIIIITTTT~!!

 

Aku menarik rem dengan segera. Begitupun pengendara mobil hitam di depanku. Kami merasa shock satu sama lain. Kamipun saling bertatapan satu sama lain. Tatapan itu, tatapan yang bisa dibilang banyak orang sebagai tatapan mematikan. Apa ini saatnya?! Tidak mungkin!!!!

TBC

– oOo –

 

Chapter 5 done ^.^)/ ya, meskipun ini re-make dan nggak 100% sama dengan yang sebelumnya, tapi intinya masih sama kok ^^ diharapkan untuk RCLnya ya 🙂 panjang-panjang juga nggak kenapa2 hehe ^^ gomawo untuk readersdeul yang udah mantengin sejak chapter 1. jeongmal gomawo XD selamat berjumpa kembali di chapter 6!! Ada konflik baru lagi yang akan dimunculkan! *apa thor?* rahasia :3 pai ._.)/

Iklan

24 pemikiran pada “When I’m Become a Yeoja (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s