100 Ducks (Chapter 6)

Tittle    : 100 Ducks 

Part  6  :  “Aksi Agen Rahasia

Lenght : Chaptered

Rating                                    : T

Genre : School, Comedy and Romance

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Main Cast : D.O EXO-K (Do Kyung Soo)

                   Song Hye Ji (You)

                   Kris EXO-M (Kris Wu)

                   Yoona SNSD

 

(Mohon komentar dan sarannya *bow* ^^)

 

PART  6

Aksi Agen Rahasia’

==================================================================

            “A..aku, se..sepertinya jatuh cinta dengan nuna.”

Dengan gugup kata-kata itu terucap di bibir D.O.

“Hahaha….Kyung Soo-ya. Kau benar-benar cinta dengan nuna?. Hmm…Geotjimal. Ngakunya cinta dengan nuna, tapi yang dari tadi dibicarain malah Hyeji. Gimana nuna mau percaya. Atau jangan-jangan kamu cemburu ya?, tadi Hyeji pergi sama Kris.” Ledek Yoona.

Hati D.O menciut. Dengan susah payah kalimat itu keluar, dan sangat susah untuk mengeluarkannya lagi. Bagaimana bisa, Yoona berpikir itu hanya main-main saja.

“Hahaha…” D.O tertawa garing.

“Kau tau Kyung Soo, Kris itu laki-laki yang paling terkenal di kampus. Kalau cewek dekat dengan dia. Cewek itu pasti rela melakukan apapun untuknya. Tanpa ada pengecualian. Huh…, nuna tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan Hyeji. Walaupun Hyeji itu seperti laki-laki kan, tapi dia kan perempuan. Kalau Kris meminta itu…”

“Mampus, dia bisa hamil kan nuna?.” Teriak D.O histeris. Yoona menutup wajahnya dengan tas karena malu.

“Nuna, kalau dia hamil, mommy bakalan mencincang aku hidup-hidup.” Keluh D.O.

“Kan, lagi-lagi mikirin Hyeji. Sudah ah, nuna pulang saja.”

Yoona langsung angkat kaki dari tempat itu. Sesekali ia melihat kebelakang melihat D.O yang kepikiran dengan kata-katanya tadi. Yoona hanya dapat menahan tawa.

D.O menaruh sejumlah uang di atas meja, dan meninggalkan tempat itu. Ia mencari kontak di hpnya.

“Ada apa?” jawab Hyeji dari telpon.

“Sekarang pergi ke mini market dekat rumah kamu. SEKARANG!” perintahnya melalui telpon.

 

@ Mini Market

Dari tadi D.O menunggu batang hidung Hyeji yang belum muncul juga. Padahal jarak mini market dengan rumahnya hanya beberapa meter saja.

“Ada apa sih?” Hyeji yang baru datang langsung naik darah saat melihat wajah majikannya.

“Sudah di apain aja kamu sama si bule itu?” tanya D.O sinis.

“Hah?. Heh, bule itu punya nama ya, namanya Kris. Jangan sembarangan aja kalau manggil nama orang.” Hyeji protes.

“Heh babu, jangan mentang-mentang dia kaya kamu mau lakuin apa aja untuk dia.”

“Heh baby huey, kamu tau apa soal dia?. Aku gak ada kan urusin soal kamu sama si cewek ganjen itu.”

“Cewek ganjen?, dia punya nama. Ah, susah bicara dengan orang yang punya IQ merangkak. Berkali-kali sudah aku bilang namanya Yoona.”

“Emang aku peduli?. Cewek apaan dia, mau terima kencan dari anak kecil. Kalau gak ganjen apa namanya coba?. Kalau emang dia cewek baik-baik, dia pasti bakal nolak cinta kamu.”

“Nah, apa bedanya sama kamu. Kalau emang Kris laki-laki normal, dia pasti bakalan acuhin kamu. Pake otak dong kalau mikir, jangan pake lutut. Mana mau laki-laki tampan dengan perempuan jadi-jadian. Atau jangan-jangan dia sengaja, cuma mau ambil untungnya saja. Yah, gimanapun kamu kan perempuan. Kamu bakal dijadiin habis manis sepah di buang.”

Hyeji terdiam saat D.O berkata demikian. Ia merasa ada benarnya juga yang di katakan D.O.

“Kalau mau bertengkar jangan di depan toko orang lain.” Teriak seorang ahjumma yang keluar dari dalam mini market dengan memegang sapu.

“Minta maaf!” Perintah ahjumma itu.

“Salah kamu, cepat minta maaf..” paksa Hyeji pada D.O.

“Kenapa aku?. Kau tau, kata Yoona nuna, Kris itu sudah tidur dengan banyak perempuan.”

“Mampus aja, kalau aku hamil. Perempuankan memang wajar kalau hamil.” Hyeji berusaha membela diri.

“Bego banget sih?. Kalau kamu hamil setelah menikah itu baru wajar. Dan kalau itu sampai terjadi, ibuku akan mencincangku.”

“Hahaha, memangnya aku peduli?”

Mata ahjumma terkejut mendengar percakapan mereka. Ahjumma yang pendengarannya tidak terlalu bagus itu salah mengartikan kejadian itu.

“Kalian?. Dasar anak laki-laki jaman sekarang. Kurang ajar, tidak tahu diri. Masih SMA sudah berani berbuat macam-macam.” Sumpah serapah dari ahjumma sambil terus memukul D.O dengan sapu.

“Au…ahjumma..sakit…” rengek D.O. sambil mengelus-ngelus bagian yang sakit.

“Kamu kenapa tertawa?” mata ahjumma melotot kearah Hyeji yang tertawa melihat majikannya di pukuli dengan sapu.

Mereka pun diseret dengan jeweran keras dari ahjumma ke dalam mini market.

Mereka disuruh duduk sambil mengangangkat kedua tangan ke atas.

“Hyeji-ya jadi kamu di hamili oleh Kyung Soo?. Ckckck…” Kata ahjumma yang duduk di atas kursi di hadapan mereka berdua.

“Ahjumma, anio…” Protes D.O.

“Kamu diam saja. Tidak di sangka, gaya seperti banci, diam-diam ternyata suka menghamili anak gadis orang lain.”

“Ahjumma, berapa kali aku bilang, pergi ke dokter THT. Kenapa jumma belum pergi juga. Aku tidak hamil, jumma salah dengar.” Kata Hyeji.

“Benar jumma, Hyeji tidak hamil. Siapa juga yang mau tidur dengan manusia bersisik jumma. Udah jarang mandi, joroknya minta ampun lagi.” Dukung D.O.

“Hah?, begitu ya?. Kalau begitu beli dulu sesuatu di tempatku, baru kalian boleh pulang. Hari ini sepi yang datang.” Kata ahjumma sambil mengipas-ngipas dirinya.

D.O dan Hyeji mencibir ke arahnya. Namun ia hanya biasa saja. D.O mengambil sebuah minuman dan Hyeji mengambil sebatang coklat.

“Kamu yang bayar.” Kata Hyeji yang langsung keluar.

***

Malam menyelimuti kota Seoul. Keluarga Hyeji sibuk menyiapkan malam. Namun Jung Hwa tidak keluar dari dalam kamarnya.

“Yeobseyo…” ia menelpon seseorang dengan suara berbisik. Ia mengambil handphone eommanya secara diam-diam.

“Yeobseyeo…” jawab suara di seberang.

“Hyung…, katanya hyung sudah menemukan yang namanya Kris ya?” tanyanya. Jung Hwa tidak tahu bahwa orang yang sedang telponan dengannya adalah Kris.

“Ah…ne..ne.., aku sudah bertemu dengannya, kami berteman akrab.” Jawab Kris.

“Benarkah hyung?. Boleh tidak hyung pulang sekolah besok kita bertemu.”

“Tentu..”

Teet..teet.., telponpun terputus. Saat itu juga Jung Hwa loncat-loncat tidak jelas, dan berteriak tanpa suara.

“Saatnya telpon Kyung Soo hyung…” batin Jung Hwa.

Dengan tampang tanpa bersalah, ia keluar dari dalam kamar dan duduk bersama ibu, ayah dan kakaknya.

“Kenapa dari tadi di dalam kamar. Seharusnya kan kamu bisa bantu nunamu.” Kata eommanya.

“Ah…eomma, Jung Hwa kan masih kecil. Semua pekerjaannya serahkan saja padaku.” Hyeji berkata dengan penuh keterpaksaan. Yah, mau tidak mau, karena sudah janji dengan adiknya.

Jung Hwa hanya mengangguk, mengisyaratkan bahwa nunanya telah menepati janji.

 

@Jung Hwa’s School

Kris langsung menuju kesebuah sekolah setelah keluar dari sebuah mata kuliah di kampusnya. Ia memegang dua buah es krim di tangannya. Dari jauh Jung Hwa melambaikan tangan pada dirinya.

“ini untukmu..” Kris memberikan salah satu es krim pada Jung Hwa.

“Wuah, gasahamnida Hyung.” Katanya sambil membungkuk.

Mereka duduk di bawah pohon rindang yang ada kursi panjang di bawahnya. Kris terus menjilati es krimnya.

“Hyung, nama hyung siapa sih?” Tanya Jung Hwa membuka pembicaraan.

“Ehm..nama hyung?. Hmm panggil saja Wu, itu marga hyung. Hyung orang Cina.”

“Geotjimal, hyung pasti ada keturunan bulenya kan?.”

Kris mengangguk. Walaupun masih kelas satu SD, tapi gaya bicara Jung Hwa seperti orang dewasa. Membuat Kris semakin gemas dengannya.

“Jadi begini hyung, langsung ke poin saja. Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan ke hyung.” Katanya sambil mengeluarkan sebuah buku note berwarna biru.

“Rasanya hyung seperti sedang ikut tes wawancara saja. Ok lah, tanya saja…” Kata Kris sambil tersenyum.

“Pertama, apa makanan dan benda kesukaan Kris?. Silahkan hyung jawab.”

“Hmm…Kris itu suka makanan yang manis. Dia benci dengan makanan yang pedas. Kesukaannya sih roti yang kejunya banyak. Terus hamburger dengan mayonaise yang banyak. Kalau benda kesukaan…, dia tidak punya spesifikasi. Tapi dia sangat gemar dengan mengoleksi mobil dan motor. Aku rasa mobil dan motor benda kesukaannya.” Kris menjelaskan tentang dirinya sendiri. Sementara Jung Hwa terus mencatat semua perkataannya.

“Kedua, tempat favorit Kris?”

“Tempat favorit Kris ya?. Hmm…, tempat yang indah kalau di foto. Soalnya dia fotografer amatir.”

“Terakhir hyung. Kris itu suka perempuan yang seperti apa.”

Mendengar pertanyaan itu, Kris merasa seperti mendapatkan jack pot. Ini adalah pertanyaan yang di nanti-nanti olehnya.

“Walaupun Kris itu orang yang tampan. Tapi, dia tidak mengharuskan perempuan itu cantik. Yang penting sifatnya baik dan apa adanya, tidak menjadi orang lain. Kris juga paling benci dengan perempuan yang genit dan centil. Hmm…yang paling penting, dia suka perempuan yang lucu, yang bisa membuatnya tertawa.” Jelasnya dengan nada yang tidak mencurigakan.

“Lalu kalau dari segi penampilan?” tanya Jung Hwa.

“Yah, dia suka perempuan yang menggeraikan rambutnya. Pokoknya yang berpenampilan sopan, rapi dan tidak seksi. Pokoknya selayaknya perempuanlah. Tapi menurut hyung, dia tidak punya tipe ideal.”

“Jadi nunaku harus bagaimana?”, Jung Hwa memasang wajah bersedih.

“Haha, tenang-tenang. Kamu suruh saja dulu nunamu seperti yang hyung bilang, kalau tidak berhasil nanti konsultasi lagi dengan hyung.” Bujuk Kris. Mata Jung Hwa berbinar-binar. Ia membungkuk dalam dan berterima kasih pada seseorang yang jelas-jelas adalah Kris yang dimaksudnya.

***

Saatnya Jung Hwa melakukan aksi keduanya. Ia menuju sebuah halte bus, tempat ia berjanji dengan D.O tadi malam.

“Hyung maaf telat..” kata Jung Hwa.

“Ah, tidak apa-apa. Dari mana saja?. Ibu kamu tahu?” tanya D.O.

“Aku bilang main PS di rumah hyung hari ini. hehehe..”

Mereka berdua menuju Seoul University, tempat di mana Yoona berkuliah. Tadi malam, D.O curhat dengan Jung Hwa. Ia curhat soal Yoona yang menganggap cintanya itu hanya candaan belaka.

 

@Seoul University

            “Yang mana Yoona itu hyung?” tanya Jung Hwa yang bersembunyi dengan D.O di balik semak-semak.

“sebentar lagi keluar, sabar…”

Tak lama 10 menit berlalu, keluarlah tiga orang gadis yang berjalan sambil membawa tumpukan buku.

“Nah..nah..itu Yoona..” D.O histeris.

“Yang mana hyung??.”

“Masa sih gak bisa liat yang mana yang paling cantik. Itu yang pake baju kaos warna pink, celana warna putih.” D.O berusaha menunjuk ke arah Yoona di balik persembunyian mereka.

“Oh…, ok ok!”

Jung Hwa berdiri dan mengetatkan pinggang celananya. Ia memasang wajah sedih lalu berjalan menuju Yoona.

“Hwaiting!” bisik D.O

Layaknya artis profesional, Jung Hwa menangis. Ia menghampiru Yoona dan menarik-narik tas Yoona.

“Nuna cantik, nuna cantik..” ia memanggil Yoona dengan suara parau.

“Ya ampun…kenapa menangis?.” Yoona yang merasa kasihan berjongkok di hadapan Jung Hwa.

“Aku tersesat nuna cantik.” Kata Jung Hwa yang mulai menangis.

“Jangan menangis sayang, kenapa bisa tersesat?” kata Yoona sambil mengelus-ngelus pipi Jung Hwa.

“Ta..tadi.., a..aku, main kejar-kejaran. Tapi teman-temanku malah pergi tidak tahu kemana.”

“Bagaimana kalau nuna antar?.” Ajak Yoona.

“Terima kasih nuna cantik. Tapi nuna…” Ia memasang wajah sangat memelas.

“A..aku lapar…” sambungnya sambil menunduk.

“Ya ampun, kalau begitu kita makan dulu, baru nuna antar kamu pulang.”

Yoona menuntun Jung Hwa menuju sebuah tempat makan. Sementara D.O mengikuti mereka diam-diam.

@ Kedai Ramen

Setelah memesan makan hanya untuk Jung Hwa. Yoona dan Jung Hwa saling berkenalan. Yoona juga bertanya-tanya soal Jung Hwa.

“Nuna cantik, sudah punya pacar belum?” tanya jung hwa sok imut.

Yoona hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Kalau aku sudah besar, aku boleh tidak jadi pacar nuna cantik?”

“Aigoo…aigoo, anak setampan kamu tentu bolehlah. Tapi nuna jadi malu nih di bilang cantik.” Katanya yang mulai merona.

“Nuna suka laki-laki yang seperti apa?.”

“Hmm…laki-laki yang berani, tidak kenak-kanakan, trus yang bisa buat nuna merasa nyaman dan hangat. Nuna paling suka kalau ada laki-laki yang mengatakan cinta secara lantang.” Jelas Yoona panjang lebar.

“Nuna cantik, saranghae.” Kata Jung Hwa tegas.

Sontak Yoona tertawa.

“Nuna cantik kenapa tertawa?. Aku serius.” Jung Hwa manyun.

“Aigoo…kau mengingatkan nuna pada seseorang.” Ia mencubit pipi Jung Hwa sangking gemasnya.

Setelah makan, Yoona mengantarkannya sampai di depan mini market dekat rumah Jung Hwa.

“Gamsahamnida nuna cantik.” Jung Hwa membungkuk.

Yoona melambaikan tangan padanya dan langsung pulang.

***

Dua urusannya hari ini beres. Ia duduk di depan mini market menunggu D.O yang sedang menyebrangi jalan.

“Bagaimana?” tanya D.O antusias.

“Besok kesekolahku akan aku tulis semuanya. Tapi, harus ada ehmm…ehem…dulu, baru semuanya berjalan.” Kata Jung Hwa mengangkat-angkat alis sebelah kanannya.

“Araeo..araseo…”

D.O langsung menyerahkan sejumlah uang.

“Nah, gitu dong hyung. Besok jam 1 di depan sekolahku, ok!”

“Sip bos!!” kata D.O seraya memberi hormat pada anak kecil yang cerdik dan matrealistis itu.

 

@ Jung Hwa’s House

            Hyeji membuka pintu untuk adiknya yang pulang.

“Enak ya main PS di rumah anak mami, pulangnya sampe sore gini.” Hyeji marah-marah.

Jung Hwa tersenyum dan mengeluarkan sebuah buku note berwarna biru.

“Apaan tuh?” tanya nunanya.

“Informasi soal Kris…” katanya bangga.

“Sini..sini.., nuna mau baca…” Hyeji yang heboh, berusaha merebut buku itu dari tangan Jung Hwa.

“Weeek…” Jung Hwa menjulurkan lidahnya.

“Ada..ehmm…ehmm…dulu…” sambungnya.

“Aaaaaaaaah, setan keciiiiiiil….” teriak Hyeji dalam hati.

To Be Continued…

15 pemikiran pada “100 Ducks (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s