I Refuse to Lose You! (Chapter 5)

I Refuse to Lose You! (Chapter 5)

Author : @kim_mus2

Note : Sequel of HMH: Luhan Version

Main Casts: Xi Luhan & Lee Myung Hee

Other Casts:

  • Oh Sehun
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Kim Myungsoo (L Infinite)
  • Kamiki Ryunosuke
  • Shida Mirai
  • Son Naeun
  • Etc.

Length: Multi Chapter

Genre: Romance, Comedy, School Life

Rating: PG-15

Sebelumnya di IRTLY :

Luhan melihat Myungsoo (tunangan Myunghee) berpelukan dengan seorang yeoja di depan lift apartemennya. Siapakah yeoja itu sebenarnya? Dan apakah hubungan Myungsoo dengan gadis itu?

=♡♡♡=

Myungsoo’s Side

“Myungsoo-ya! Sadarlah! Myungsoo-ya!” Suara itulah yang terakhir aku dengar. Kini kucoba membuka mataku perlahan, tapi Naeun tak ada di sampingku. Aku dimana? Ruangan ini pasti bukan kamarku. Aku tak ingat pernah punya buku-buku setebal ini di kamarku.

“Kau sudah sadar Myungsoo-ya?”  Suara itu lagi. Suara siapa itu?

Kuedarkan mataku ke seluruh ruangan, sampai akhirnya aku sadar dimana aku berada. Bingkai foto di atas nakas samping ranjang yang kutempati, mengabadikan senyuman sahabatku dan pemilik tempat ini.

“Apa kau sudah baikan?” Namja itu datang menghampiriku. Dia memang orang yang aku kenal. Luhan hyung.

Aku baru bertemu dengannya akhir – akhir ini. Tapi, aku merasa telah mengenalnya cukup lama. Karena, aku tahu sesuatu tentangnya. Bukan. Kalian pasti mengira kalau aku hanya mengenal Luhan hyung sebagai mantan namjachingu Myunghee. Aku tahu tentangnya lebih dari itu. Sungguh.

“Myungsoo-ya,” ujarnya lagi, mencoba membuyarkan lamunanku.

“Ah, mian. Jeongmal mianhae. Luhan hyung, apa aku sedang berada di kamarmu?”

Ne. Kau demam tinggi. Sebaiknya kau beristirahat dulu saja, aku akan mencoba membuatkanmu bubur. Sebentar ya.”

“Tidak usah hyung! Aku hanya kelelahan. Istirahat sebentarpasti sembuh. Jeongmal kamsahamnida sudah menolongku. Maaf, aku sudah merepotkanmu, hyung.”

Gwenchana, kau tak perlu sungkan. Sebagai tetangga, sudah sewajarnya kita saling membantu.”

“Ah, ne! Apartemen Hyung bersebelahan denganku kan ya? Aku pernah melihat hyung pulang kuliah.”

Tadi, sebelum aku pingsan, aku bersama Naeun. Apa Luhan hyung melihatku? Ah tidak mungkin. Dia tak menanyakan apapun soal Naeun padaku. Sebaiknya aku cepat pulang, aku tak mau merepotkannya lebih lama lagi.

Hyung, sepertinya aku lebih baik pulang ke apartemenku. Terima kasih banyak sudah menolongku hari ini. Kapan-kapan, pokonya aku akan mentraktirmu untuk makan malam. Kau harus mau ya hyung!”

“Hey… kau ini bersemangat sekali. Kau benar-benar mirip Myunghee. Oh ya, dia akan datang sebentar lagi. Kalau kau mau pulang sekarang, ayo kuantar! Nanti, aku akan menghubungi Myunghee untuk langsung ke apartemenmu. Otte?”

Manusia macam apa orang ini? Kenapa dia malah menolongku? Padahal, aku adalah orang yang telah merebut gadis yang dia cintai. Kau orang yang baik hyung.

Semoga, kau tak membenciku.

“Myungsoo-ya, kajja!

“Ah ne, hyung! Jeongmal kamsahamnida.”

Luhan’s Side

Entah kenapa, aku yakin namja ini adalah orang yang baik. Tapi, siapa yeoja yang tadi bersamanya? Sepertinya aku pernah melihatnya. Mudah-mudahan Myungsoo tidak mengkhianati Myunghee. Aku tak akan membiarkan Myunghee terluka.

“Myungsoo-ya!”

BUG!

“Aww!

Yaa! Kau ini ceroboh sekali. Cepat minta maaf pada Luhan hyung!”

Op-pa, jeosonghamnida.” Ujarnya sambil menunduk.

Kuacak rambutnya asal. Yeoja  ini memang tak pernah berubah dari dulu.

“Gwechanayo. Masuklah! Kau harus merawat Myungsoo baik-baik.” Tanganku mendorong bahunya pelan, lalu kuputuskan untuk segera pergi. Ya, aku memang sudah merelakan gadis itu untuk bersama orang lain. Aku melepasnya. Apa yang aku lakukan ini benar?

=♡♡♡=

Author’s Side

Myunghee membongkar semua makanan yang ia bawa dari sebuah tas jinjing yang cukup besar dan merapikannya di atas meja makan di apartemen Myungsoo. Makanan-makanan itu sudah terbungkus rapi dalam beberapa kotak plastik bening. Cukup berlebihan memang, membawakan orang sakit, makanan sebanyak itu. Myunghee sudah terlanjur tahu kalau sahabat yang sekaligus menjadi tunangannya itu memang kuat makan.

“Myungsoo-ya! Aku sudah membawa banyak makanan untukmu. Ppalli moko!

Myungsoo kemudian berjalan menuju meja makan dan menarik salah satu kursi untuk segera duduk dan menyantap makanan di hadapannya.

“Wow! Daebakk! Ayo kita makan bersama!”

“Tak perlu. Tadi aku sudah makan. Oh ya, apa tadi Luhan oppa yang menolongmu?”

Ne. Myunghee-ya, apa kau masih mecintai Luhan hyung?”

“Aku rasa, aku tak perlu menjawabnya.” Myunghee sama sekali tak melihat ke arah Myungsoo. Dia terus saja sibuk membuka setiap kotak makanan.

“Hmm… arasseo! Jawabannya sudah terlihat jelas.”

“Aku pulang dulu. Hari ini kau menyebalkan!”

Yaa! Bagaimanapun, aku ini tunanganmu kan? Masa kau meninggalkanku begitu saja?”

PLETAK!

Satu jitakan sukses mendarat di kepala Myungsoo. Myunghee langsung beranjak pergi tanpa mempedulikan ringisan namja itu.

=♡♡♡=

Keesokan harinya, Luhan pergi ke kampus dengan sebuah tekad baru. Dia ingin menghilangkan perasaannya pada Myunghee secepat mungkin. Setelah melihatnya bersama Myungsoo, Luhan sadar bahwa Myunghee sudah menjadi milik orang lain. Mengharapkan Myunghee kembali bersamanya hanya akan membuat dirinya semakin lemah.

Demi mewujudkan tekadnya itu, Luhan akan berusaha menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan. Mulai dari kegiatan akademik di bangku perkuliahan, kegiatan olahraga bersama klub sepak bolanya, dan kegiatan di klub robotiknya yang akan mengadakan exhibition bulan depan. Selain itu, sebenarnya Luhan sudah merintis sebuah usaha kecil dan pelatihan di bidang pengembangan game. Untuk mengembangkan usahanya itu, Luhan berniat untuk menguji kemampuannya dengan berpartisipasi dalam kompetisi game programming, yang tentunya akan sangat menguras waktu dan konsentrasinya.

Khusus untuk hari ini, Luhan akan mulai berkonsentrasi pada lombanya. Setelah kuliahnya usai, Luhan sibuk mengotak – atik MacBook Air miliknya di salah satu bangku taman kampus. Terhanyut dalam dunianya sendiri, Luhan bahkan tak menyadari kehadiran seseorang yang sudah hampir 5 menit berdiri di sampingnya. Karena kakinya yang mulai pegal, akhirnya orang itu pun angkat bicara.

“Hey!” Ryu menepuk kedua bahu Luhan yang ternyata cukup ampuh untuk mengalihkan pandangan  namja itu dari notebook putih tipis kesayangannya.

Aish jinjja! Kau mengagetkanku, tahu!”

“Kau bicara apa?” Tanya Ryu bingung dengan ucapan Luhan yang full menggunakan bahasa Korea.

“Tidak apa-apa, aku hanya kaget. Duduklah, aku sedang mengerjakan sesuatu.”

Ryu pun menurut dan langsung mengambil tempat duduk tepat di depan Luhan. Karena lagi-lagi Luhan malah mengacuhkannya, Ryu memutuskan untuk melakukan kegiatan lain. Dia melepas tas punggungnya, menaruhnya di atas meja kayu di hadapannya sehingga sejajar dengan notebook milik Luhan. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu yang berwarna hitam dari dalam tasnya itu.

Ryu mengangkat benda hitam itu  dan mulai membidik banyak pemandangan di sekitarnya. Setelah puas dengan beberapa hasil jepretan di DSLR miliknya itu, dia kemudian tertarik mengabadikan ekspresi manusia yang ada di hadapannya. Wajah kecilnya terlihat sangat lucu dengan mata yang dipicingkan, kening yang berkerut, dan bibir yang tanpa ia sadari sudah mengerucut dengan sendirinya.

JEPRETTT

“Eh? Kau memotretku ya?” Tanya Luhan yang memasang wajah bengongnya.

“Hehe iya. Aku kan belum punya foto orang jenius yang sedang sibuk kerja.”

“Berhenti main-main Ryu, lakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.” Ujar Luhan yang kembali menjamah MacBook Air-nya.

“Jangan salah! Aku menggunakan kamera ini untuk mencari uang, bukan untuk main-main.” Tandas Ryu sembari mengangkat kameranya di hadapan Luhan.

“Oh ya, aku sampai lupa. Waktu di bengkel motor, kau bilang kau akan menceritakan sesuatu padaku kan? Aku heran, kenapa orang kaya sepertimu bisa bekerja di bengkel seperti itu.”

“Baiklah. Akan kuceritakan semuanya. Sebenarnya, di akhir semester yang lalu, perusahaan keluargaku bangkrut. Hartaku yang masih tersisa mungkin hanya si hitam ini (DSLR).”

“Maaf Ryu. Aku ikut prihatin dengan keadaanmu. Kau tak perlu menceritakan hal lainnya, kalau kau tak mau.”

“Tak apa-apa, kau kan sahabatku. Sekarang ini aku bekerja part time di banyak tempat. Pom bensin, bengkel, mini market, kedai ramen, taman bermain, dan studio foto menjadi sumber hidupku dan keluargaku. Untunglah jumlah penghasilanku dari fotografi cukup besar. Jadi, aku bisa membiayai kuliahku, meskipun bayarnya sering telat.”

“Ryu, aku benar-benar salut padamu. Kenapa kau tidak menceritakan semua ini dari dulu? Mungkin aku bisa membantumu.”

“Sudahlah han, tak usah memikirkanku. Kau sepertinya sibuk.”

“Ah benar. Aku rasa, aku bisa membantumu. Tapi, kau juga harus membantuku.”

“Caranya?”

“Kau suka fotografi kan? Aku yakin kemampuan graphic designmu lebih bagus dariku.”

Luhan mengajak Ryu untuk bergabung menjadi timnya dalam lomba game programming. Ryu dengan keahliannya akan membantu Luhan membuat desain gambar untuk para karakter dan visualisasi lainnya pada game yang akan dirancang Luhan. Selain itu, Luhan pun mengajak Ryu untuk menjadi bagian di perusahaan kecilnya.

=♡♡♡=

Ryu yang teramat senang karena ajakan Luhan untuk berbisnis dan mengikuti lomba, pergi dengan tergesa-gesa menuju gerbang kampus. Dia ingin segera memberitahukan kabar gembira itu pada kedua orang tuanya. Sore ini, dia juga harus bergegas pergi ke kedai ramen, kemudian ke mini market dan terakhir ke pom bensin untuk bertugas sampai malam. Jadwal kerjanya memang cukup padat. Tapi, di saat keadaannya yang tengah diburu waktu itu, Ryu menghentikan langkahnya karena seseorang. Lebih tepatnya, karena perkataan yang diucapkan oleh seseorang dalam percakapan telpon.

“Apa? Kalian tidak jadi menculik gadis itu? Mengerjainya pun tidak? Kalian ini sebenarnya becus kerja atau tidak sih? Aku tak mau membayar kalian! Titik!”

“…”

“Kalian tidak salah orang kan? Namanya Lee Myunghee. Aku kan sudah memberi kalian fotonya.”

“…”

“Ah sudahlah, aku tak mau mem…”

Perkataan Shida terpotong karena Ryu merebut ponsel Shida dan langsung mematikannya. Shida menjadi gelagapan. Dia takut kalau Ryu mendengar semua perkataannya tadi. Namun, semuanya sudah terlambat untuk Shida, karena Ryu memang mendengar semuanya dengan amat sangat jelas.

Myunghee’s Side

Bukankah orang –orang itu adalah Shida dan Ryu senpai? Sepertinya pembicaraan mereka sangat serius. Aku jadi tak berani melewati gerbang.

“Katakan padaku! Kenapa kau mau mencelakai Lee Myunghee? Dia salah apa padamu?”

Kenapa namaku disebut-sebut? Sebenarnya, ada apa ini?

“Apa urusanmu, hah? Kau tak berhak menanyakan tentang hidupku!”

“Terserah apa katamu, yang jelas kau sudah berlaku jahat pada orang lain. Itu memalukan! Jawab aku, apa ini semua karena Luhan?”

“Kalo ya memangnya kenapa? Aku mencintainya. Aku tak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku.”

“Apa kau benar-benar mencintainya?”

“Benar! Dia orang yang jauh dan bahkan sangat jauh lebih baik darimu.  Aku muak melihatmu! Pergi! Aku tak mau melihat lelaki pengkhianat sepertimu! Urusi saja wanita barumu, tunanganmu, atau apalah itu. Jangan campuri hidupku lagi. Kau sudah tak berarti apa-apa bagiku. Pergi!”

“Jadi, sekarang kau menganggapku seperti itu? Baiklah, pertunangan kita memang sudah berakhir. Tapi,  hanya satu hal yang ingin kuminta darimu. Hiduplah dengan baik. Jangan buat aku khawatir seperti ini.”

Jadi, Shida yang mengirim preman-preman untuk menggangguku malam itu? Lalu, Ryu, dia adalah mantan tunangan Shida? Aku tak bisa mempercayai semua ini.  Semuanya diluar dugaanku.

=♡♡♡=

Author’s Side

Shida benar-benar kacau setelah bertengkar hebat dengan Ryu. Dia terus berlari sambil menangis sepanjang jalan. Dia sudah tak peduli dengan orang-orang yang memandangnya heran. Tanpa Shida sadari, Myunghee mengikutinya dari belakang. Myunghee sangat takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada Shida, jika gadis itu dibiarkan sendiri. Myunghee sudah cukup puas mengalami saat-saat menyedihkan seperti yang dialami Shida saat ini. Dia tahu benar, bagaimana rasanya menahan rasa sakit karena terluka oleh seorang namja.

Kekhawatiran Myunghee akhirnya terjadi. Shida ambruk dan tergeletak di pinggir jalan. Myunghee langsung berlari sekencang mungkin untuk menghampiri Shida. Keadaan gadis itu sangat mengkhawatirkan. Nafasnya terengah, dan wajahnya pucat pasi.

“Shida, bertahanlah. Kita harus segera ke rumah sakit.” Ujar Myunghee sambil menggenggam erat kedua tangan Shida yang terasa sangat dingin.

“Myunghee… kau….” Lirih Shida, sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya.

“Shida! Tolong! Tolong! Siapapun, tolong kami!” Pekik Myunghee dengan segenap tenaganya.

Myunghee kalang kabut melihat Shida yang sudah tak sadarkan diri. Hampir tak ada orang yang melewati jalanan ini. Untunglah seseorang datang membantu dan mengantar Shida ke klinik terdekat.

=♡♡♡=

Shida membuka matanya perlahan. Nafasnya pun sudah mulai kembali normal. Penyakit asma yang diidapnya ini memang seringkali membuatnya berakhir di rumah sakit.

Setelah beberapa menit menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya, Shida mendengar percakapan dari luar kamar rawatnya. Karena rasa ingin tahunya, Shida mencoba beranjak dari tempat tidur dengan tak lupa melepas masker oksigen dan saluran infus yang tertancap di pergelangan tangannya terlebih dahulu. Saat pintu terbuka,  Shida hanya bisa terpaku. Seorang laki-lakiyang mengenakan apron putih sedang berbicara serius dengan seorang perempuan di koridor depan ruangan rawatnya.

“Jadi, kau adalah mantan tunangannya Shida onee chan?”

“Ya, kau benar dan akulah yang memutuskan pertunangan itu.”

“Kenapa? Apa benar kau berselingkuh dengan wanita lain? Emm… maaf, aku terlalu banyak bertanya. Tadi aku tidak sengaja menyaksikan pertengkaran kalian. Maafkan aku.”

“Tak apa-apa. Sebenarnya akulah yang salah. Aku berbohong kalau aku mencintai wanita lain. Perusahaan keluargaku bangkrut. Jadi, pertunanganku dengannya pun terpaksa harus diakhiri dan beginilah aku sekarang. Hanya seorang koki mie ramen.” Jelas Ryu dengan senyuman mirisnya.

“Maaf. Aku ikut prihatin dengan keadaanmu. Kau tak perlu menceritakan hal lainnya, kalau kau tak mau.”

“Hey! Kata-katamu mirip sekali dengan yang dikatakan Luhan. Jangan-jangan kalian punya hubungan spesial ya? Oh ya, aku lupa. Kalian kan memang dekat ya.”

“Ya. Tapi itu dulu. Ah sudahlah, lupakan! Ayo kita lihat keadaan Shida onee chan.”

“Hey, jangan terburu-buru!”

~Tap… tap… tap~

Shida melangkahkan kakinya perlahan  menuju Myunghee.

Onee chan, kau sudah sadar.”

~Grep~

Shida memeluk Myunghee dengan erat. Tubuh lemahnya ia sandarkan pada tubuh kecil gadis di hadapannya. Air mata seketika tumpah dari kedua bola mata Shida, saat Myunghee membalas pelukannya.

“Myunghee, terima kasih. Terima kasih kau sudah menolongku. Maaf. Maafkan aku. Aku sudah mencoba mencelakakanmu. Kau boleh menghukumku, menyiksaku, atau apapun yang kau inginkan.” Ucapnya sambil terisak.

Onee chan, kau ini orang yang licik! Kau menangis dan meminta maaf padaku. Bagaimana mungkin aku tak memaafkanmu?” Myunghee mengelus lembut rambut Shida dengan lembut, kemudian melepaskan pelukannya perlahan. Myunghee menyeka air mata di pelupuk mata Shida, lalu tersenyum simpul.

“Hey, kau! Lelaki bodoh! Aku serahkan onee chan padamu.”

Myunghee lantas pergi meninggalkan kedua orang di belakangnya, seraya tersenyum riang. Dia sangat senang bisa melihat Shida dan Ryu kembali bersama. Tidak seperti dirinya, yang mungkin tak akan pernah kembali bersama seseorang. Satu-satunya orang yang ia cintai sampai detik ini.

=♡♡♡=

“Myunghee!” Shida berlari ke arah Myunghee dan langsung memberikannya sebuah pelukan hangat. Hubungan di antara keduanya menjadi sangat harmonis setelah kejadian beberapa waktu yang lalu. Myunghee dan Shida bisa dibilang sudah menjadi sahabat karib. Hampir tak ada rahasia lagi di antara mereka berdua. Bukan hanya Myunghee yang mengetahui masa lalu Shida, tapi Shida pun sudah mengetahui dengan jelas semua hal yang telah dilalui Myunghee. Termasuk bagaimana hubungan Myunghee dan Luhan berakhir.

Shida yang dulu selalu terlihat sinis kepada semua orang, berubah menjadi Shida yang sangat ceria. Kepribadian Myunghee yang periang membawa banyak perubahan pada diri Shida.

“Myunghee, ayo kita kesana! Robotic Exhibitionnya sudah dimulai.”

Onee chan!  Aku tak mau kesana. Kau saja, ya.”

“Ah, aku mengerti. Maaf ya Myunghee, aku sungguh tidak bermaksud.”

Myunghee menyaksikan begitu akrabnya Luhan dengan seorang gadis, yang sepertinya berasal dari Korea. Gesture dan cara berpakaiannya menunjukkan identitas itu dengan sangat jelas.

Annyeonghasseyo.”  Tutur gadis itu sembari membungkukan badannya di depan Luhan.

“Ah, annyeonghasseyo.” Balas Luhan yang juga tak lupa sedikit membungkuk pada gadis itu.

“Oppa, apa kau masih mengenaliku?” Tanya gadis itu sambil tersenyum riang.

Luhan mengamati wajah gadis itu dengan teliti, tapi tetap saja dia lupa. Mungkin dia sudah lama tak bertemu dengan orang ini.

Aish! Oppa! Bagaimana kau bisa lupa padaku huh? Aku Son Naeun, satu-satunya yeoja yang berhasil membuat seorang Xi Luhan bermetamorfosis menjadi model anak yang sa… ngat cantik.”

Yaa! Ssstt! Hentikan ocehanmu! Mana mungkin aku lupa dengan gadis tomboy yang sudah menindas adikku.”

Dulu, saat mereka masih duduk di bangku SD, Naeun adalah tetangga Luhan dan Sehun. Karena Naeun paling senang mengejek dan menindas Sehun yang memang sedikit cadel, Luhan marah besar dan menjambak rambut Naeun. Tapi, Naeun adalah gadis yang sangat kuat. Dia menyerang balik dengan cubitan besar di kedua pipi Luhan seraya mengajukan sebuah tantangan pada namja yang harusnya ia panggil oppa itu.

“Kalau kau ingin hidup tenteram bersama adikmu, kau harus menggantikanku menjadi model anak perempuan di acara fashion show ibuku malam ini.” Itulah kata-kata mengerikan yang didengar Luhan belasan tahun yang lalu. Sungguh masa lalu yang mengenaskan, pikir Luhan.

“Hey! Sebenarnya, apa yang sedang kau lakukan di Jepang Naeun-ah?” Tanya Luhan yang sudah kembali dari kenangan masa lalunya.

“Aku  menemui seseorang.”

Luhan teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu saat Myungsoo pingsan. Ia yakin kalau perempuan yang bersamanya adalah Naeun. Luhan menarik tangan Naeun dan kemudian membawanya ke tempat yang tak terlalu ramai. Otaknya yang sudah dipenuhi banyak pertanyaan  sangat membutuhkan penjelasan dari gadis itu.

=♡♡♡=

Kali ini Myunghee benar-benar sudah lelah. Rasa cemburu, sakit hati, dan cinta yang ia rasakan karena Luhan, begitu menyiksa dirinya. Dulu, Shida, dan sekarang perempuan itu. Mungkin, inilah saatnya dia menerima takdirnya, dan melupakan angannya untuk kembali bersama namja itu.

“Myunghee, apa kau baik-baik saja?” Tanya Shida yang berhasil mengalihkan pandangan Myunghee pada Luhan dan Naeun yang entah akan pergi kemana.

“Tenanglah onee chan.  Sekarang aku sudah tak ragu lagi dengan keputusanku.”

Shida sangat mengerti apa yang Myunghee maksud dengan kata “keputusan.” Untuk hal ini, dia memang tak bisa membantu apapun. Semuanya memang sudah ditetapkan sejak awal. Bahkan, Myunghee sendiri pun sudah tak bisa menolaknya.

Tak lama setelah itu, Myunghee berjalan sedikit menjauh dari Shida saat sebuah panggilan muncul di layar ponselnya.

Yoboseyo.”

“Myunghee-ya, eomma ingin membicarakan sesuatu tentang pertunanganmu. Apa kau yakin akan memilih Myungsoo saja?”

“Ya, setidaknya Myungsoo adalah sahabat yang sudah kukenal baik, eomma.”

“Baiklah. Kalau begitu, persiapakan dirimu. Perusahaan kita sedang membutuhkan banyak suntikan dana. Tanggal pernikahanmu akan segera kami tentukan.”

Ne, arasseo!

~bip~

=♡♡♡=

Akhir – akhir ini perhatian Luhan memang cukup teralihkan dengan semua kesibukannya. Tapi, saat dia kembali melihat Myunghee di acara Robotic Exhibition yang diadakan oleh klubnya, tak dapat dipungkiri, hatinya kembali gundah. Ada sedikit kerinduan terbesit dalam hatinya. Apalagi, setelah mengetahui sebuah kebenaran yang diungkapkan oleh Naeun. Luhan semakin takut akan kehilangan gadis itu untuk selamanya.

Luhan’s Side

Drrrtt… drrttt… drrttt…

Aish! Siapa sih yang menelpon?

Yobo…”

Hyung! Hyung! Hyung! Annyeong!” Teriak seseorang di seberang telpon.

“Kau ini berisik sekali, hun!”

Ne… hyung apa kabar? Sudah bertemu Myung Hee? Ecieee… satu kampus nih ye….”

“Sudahlah… jangan menggodaku lagi hun! Sekarang kami sudah putus.” Jawabku lemas.

Mwo? Jeongmalyo? Wae hyung? Wae? Hyung ini pabo atau apa sih? Myung Hee sengaja belajar mati-matian supaya satu kampus denganmu, tapi hyung malah memutuskan hubungan dengannya? Hyung ngeselin banget sih!”

Yaa! Kenapa kau malah menyalahkanku sih? Myung Hee yang meminta putus dan sekarang dia sudah bertunangan hun!”

“Ah aku tak percaya! Pasti hyung duluan yang buat  masalah, makanya Myung Hee minta putus. Ayo ngaku!” protes Sehun.

Ne… aku yang salah. Aku tidak mengakuinya sebagai yeojachinguku di depan temanku waktu itu.”

“Tuh kan… memangnya kenapa sih hyung? Jelaskan padaku!” Sehun malah semakin sewot.

“Kalau aku memberitahu teman-temanku, yeoja bernama Shida, yang aku ceritakan tempo hari itu pasti akan mengganggu Myung Hee. Tapi, pada akhirnya Shida memang sempat melakukannya.”

Aish! Memang susah ya, jadi mahluk tampan seperti kita ini. Lalu, apa yang akan hyung lakukan sekarang?”

“Entahlah, Myung Hee sudah bertunangan. Aku sudah tak punya harapan lagi.”

Yaa! Hyung bener-bener pabo deh! Dengarkan aku ya… selama Myunghee belum berstatus istri seseorang, kesempatan masih terbuka lebar. Ayo hyung! Maju! Dapatkan Myung Hee lagi! Aku yakin dia masih mencintaimu. Aku yakin!” Ujar Sehun bijak, tapi terlalu menggebu-gebu menurutku.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengejarnya dari awal lagi hun! Gomawoo!

“Bagus hyung! Good Luck and Fighting!”

Ne… FIGHTING!

Yaa! Hyung! Suaramu terlalu keras!”

Baiklah, cukup sudah semua kegalauanku.

Aku menolak untuk kehilanganmu, Lee Myung Hee.

 

To be continued…

`kim_mus2©2012`

Author’s Cingcong:

Hahaha… publishnya kelamaan deh chapter yang ini mah. Mianhae… hehe ^-^

Okeh, di chapter ini aku cuma fokus buat nyingkirin para cameo. Eh maksudnya nuntasin cerita tambahan para cameo yang gak terlalu penting. Tapi, baru Shida sama Ryu aja sih…

Oh ya, Taemin juga kan udah ga disebut2 ya di chapter ini mah hoho… cari cewe aja sono Taem! 😀

FF ini udah mulai menuju akhir loh… kemungkinan berakhir di chapter 6 atau 7. Tergantung moodku aja hehe. Tapi tenang! Author bakal bikin edisi spesialnya kalo yang ini udah tamat. Hehehe 😀

Mohon doanya ya, biar cepet beres nih! Keep commenting!

Ditunggu buangets 😀

 

3 pemikiran pada “I Refuse to Lose You! (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s