Let Me Capture! (Chapter 1)

Title : Let Me Capture!

Cast :

Baekhyun, Kris, Luhan, Lay

Park Hyun Jae (OC), Shin Hyeon Mi (OC), Cho Eun Ki (OC), Kim Ae Yoon (OC)

Other EXO & SJ members

Genre : Romance, Friendship

Length : Chapter

Disclaimer : Judul, cerita, diksi, alur, dan penokohan adalah hasil imajinasi saya! Juga tambahan sedikit inspirasi dari salah dua komikus favorite saya, Maki Minami dan Hiro Fujiwara.

A/N : Perkenalkan nama saya Ney J an author in FFN and my private wordpress (of course xd). Saya suka berteman dengan siapa saja. jadi, yang merasa tertarik ingin mengenal saya, silakan follow acc twitter saya: @HyukiYeobo. Ataupun yang merasa tulisan saya bagus, dan ingin membaca FF saya yang lain, silakan kunjungi blog saya: http://hyukiyeobo.wordpress.com atau acc FFN saya: http://fanfiction.net/~aprilcouple (tidak semua ff saya post di acc ini) 😀 sekian dari saya, salam kenal semua! /lambai lambai/

Summary : Byun Baekhyun, seorang lead vocal dari sebuah boyband ternama EXO, yang beranggotakan 6 orang. Ia terpilih sebagai aktor yang akan memerankan sebuah drama yang tengah mendapat perhatian penuh dari publik, berjudul “Let Me Capture!” produksi SJ Entertainment. Park Hyunjae, aktris paling berbakat tahun ini, adalah yeoja yang akan menjadi partner-kerjanya. Tapi, bagaimana mungkin mereka akan berakting bersama, jika berada dalam satu ruangan saja mereka tidak pernah bisa melewatkan waktu tanpa berucap penuh geram ataupun berteriak?

Do not copy-paste without my permission! Thanks and enjoyed~^^

Chapter 1 © Queeney

 

 “SHIREO!” sebuah terikan keras menggema dari arah panggung besar diruangan serbaguna Kirin Art Senior High School. Semua mata memandang satu sosok yang tengah berkacak pinggang tersebut. Mereka cemas, akan semarah apa yeoja itu nanti jika mengetahui detail scene seperti apa saja yang harus dijalankannya.

Baekhyun terkekeh dibangkunya, menikmati kemarahan yeoja yang sedari tadi menghindari menatap kearahnya. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan seberuntung ini. Mendapat peran sebagai seorang artis terkenal yang dicintai mati-matian oleh penggemar fanatiknya yang akan diperankan oleh yeoja yang jelas-jelas sedang menolak mentah-mentah perannya tersebut.

“Hyunjae-ah, kau harus profesional. Namamu menang telak dalam voting yang telah dilakukan selama sebulah lalu, begitu pun Baekhyun. Kami tidak bisa melakukan apa-apa, dan manajemenmu sudah jelas-jelas setuju dan menandatangani kontrak secara resmi” Shindong, sang PD-nim yang akan memproduseri drama yang tengah banyak mendapat perhatian ini, berucap. Yeoja itu, Hyunjae, yang kini memilih duduk di bangku terdekat, menatap lekat ke arah Shindong. Jelas sangat kesal, tapi tidak tahu lagi bagaimana mencurahkan kekesalannya, “Ck, aku tidak minta namaku dimasukan dalam daftar vote” sindirnya serkastis.

Baekhyun dan Hyunjae, siapa yang tidak mengenal mereka? Yang satu adalah member sekaligus lead vocal dari Boyband terkenal beranggotakan 6 orang bernama EXO. Yang lainnya adalah aktris yang baru saja mendapatkan penghargaannya sebagai aktris paling berbakat tahun ini, padahal masih menyandang nama sebagai pendatang baru dalam dunia perfilman.

Baru-baru ini, sebuah rumah produksi film paling terkenal berlabel SJEntertainment, mengadakan konfrensi pers tentang penggarapan sebuah drama baru yang diwanti-wanti akan menjadi drama terbaik sepanjang tahun. Dengan semua fokus berada pada mereka, secara mencengangkan rumah produksi tersebut mengadakan sebuah poling resmi untuk menentukan pemeran utama yang akan bermain di drama tersebut. Dengan total 120 ribu lebih partisipan, akhirnya poling tersebut ditutup. Sampai beberapa jam lalu, semua orang menanti-nantikan pengumuman aktor dan aktris yang akan bermain di drama tersebut, karena tidak ada yang bisa melihat hasil sementara saat voting dilakukan.

Dan tidak disangka-sangka ternyata pengenalan aktor dan aktris utama yang  baru saja dilakukan siang tadi, menghasilkan rating hingga 33%, sesuatu yang sangat susah dicapai terutama dalam dunia pertelevisian yang saat ini sangat padat pesaing. Sebenarnya, bukan hanya masyarakat saja yang baru mengetahui peran utama siang tadi, tetapi juga aktor dan aktris itu sendiri. Mereka sengaja tidak diberi tahu terlebih dahulu oleh manajemen masing-masing. Dan bisa dilihat sekarang keadaan seperti apa yang tengah terjadi akibat keputusan tersebut.

“Hyunjae-ah, kenapa kau bersikeras sekali menolak drama ini? apa karena perannya? Tapi kau itu ‘kan aktris, jadi tidak sepantasnya memilah-milah peran apa yang ingin kau mainkan. Apalagi, dengan statusmu sebagai aktris paling berbakat” Shindong PD berucap lagi sembari mengangsurkan sedikit kursinya mendekati Hyunjae. Keduanya saling tatap berharap menemukan komunikasi yang lancar.

“Hyunjae-ah… bicaralah! Kau jangan diam begitu” teguran dari sang menejer yang duduk persis disebelahnya, membuat Hyunjae menghela nafas dengan keras. Kepalanya beralih dan menatap sang menejer dengan tajam, “Aku tidak perlu menjelaskan apapun pada kalian bukan?” ujarnya seolah menuntut sesuatu yang sudah pasti, tidak lupa memberi penekanan lebih pada kata ‘apapun’. Kali ini, sang menejer dan sang PD-lah yang ganti menghela nafas. Tampaknya mereka baru saja diingatkan tentang alasan utama mengapa yeoja itu menolak keras.

Dari sudut matanya, Hyunjae dapat melihat dengan jelas namja itu. Baekhyun sedari tadi terus menatapnya intens. Astaga! kenapa Ia harus melakukannya? Jerit Hyunjae dalam hati.

Sudah jadi rahasia umum, atau setidaknya rahasia umum di seantero sekolah, manajemen, dan beberapa rumah produksi yang mengenal mereka, bahwa Baekhyun dan Hyunjae layaknya minyak dengan air, tidak pernah bisa bersatu. Jika keduanya kebetulan berada disatu tempat yang sama, tidak akan pernah kalian melewatkan kejadian dimana keduanya tidak saling berdebat dan bahkan tak jarang saling berteriak. Satu-satunya misteri terbesar diantara ratusan orang yang mengetahui ini adalah, apa yang membuat mereka seperti itu, padahal jika dilihat dari status mereka yang sama-sama menjadi perhatian publik, tidak seharusnya mereka bersikap demikian.

“Ck… memalukan sekali, menolak pekerjaan hanya karena takut berhadapan denganku” sebaris kalimat dengan nada yang cukup meremehkan, lolos dari bibir Baekhyun. Namja itu kini berdiri dari tempat duduknya dan berjalan naik ke atas panggung, bergabung dengan beberapa pihak dari manajemennya, manajemen Hyunjae, dan pihak dari SJEntertainment. Hyunjae untuk pertama kalinya dalam satu jam itu, kini memfokuskan matanya menatap Baekhyun, “Mwo?” ujarnya menantang.

Baekhyun kembali terkekeh, Ia kini telah berdiri tepat dihadapan Hyunjae. Tanpa aba-aba Baekhyun membungkukan badannya hingga kini, matanya tepat sejajar dengan mata Hyunjae. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja, ntah kenapa membuat semua orang yang ada diruangan tersebut menahan nafas saking penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya.

“Kenapa? aku benar bukan? Kau mati-matian menolaknya karena tidak berani adu peran denganku! Apa peranmu? Ah ya… menjadi penggemar fanatikku bukan?” Baekhyun berucap tepat di depan wajah Hyunjae, membuat yeoja itu mengepalkan tangannya menahan kesal.  Matanya kini benar-benar hanya tertuju pada Baekhyun. “Siapa bilang aku takut berperan denganmu? Astaga! khayalanmu tinggi sekali Bacon!” balas Hyunjae dengan sengit, tidak lupa untuk menggunakan satu ejekan ‘bacon’ sebagai pengganti atas keengganan yang kentara pada dirinya untuk menyebut nama namja dihadapannya itu.

Kembali terkekeh pelan, Baekhyun memajukan wajahnya lebih dekat lagi sehingga nyaris tidak bisa menguatkan argumen bahwa bibir keduanya saling tidak menempel satu sama lain. Hanya sedetik peristiwa tersebut terjadi, karena detik berikutnya Baekhyun telah menggeser sedikit kepalanya ke samping dan maju sedikit lebih ke depan lagi. Kini mulut Baekhyun tepat berada di depan telinga Hyunjae, “Atau… kau takut dengan fakta bahwa kau adalah penggemar fanatikku?” ujar Baekhyun teramat pelan hingga hanya Hyunjae yang dapat mendengarnya. Yeoja itu berdiri diam tidak bergeming, tubuhnya kaku mendapati namja yang teramat dibencinya itu dengan singkat menghembuskan nafasnya tepat ditengkuk Hyunjae, membuat bulu kuduknya berdiri dan darahnya seketika terasa berdesir.

Sebelum ada yang sempat tersadar akan apa yang sedang terjadi, Baekhyun membalikan badanya tiba-tiba, berjalan menjauh dari tempat Hyunjae yang kini telah berubah menjadi sebuah patung yang benar-benar mirip seperti manusiam, bukan sebaliknya. Hyunjae diam tapi terlihat berkali-kali lipat lebih berbahaya daripada beberapa menit lalu saat Ia berteriak-teriak marah pada Shindong.

Semua orang dalam ruangan tersebut tanpa di komando, sontak menahan nafas secara bersamaan, menunggu hal paling buruk yang tampaknya akan menimpa mereka semua. Tapi tidak, mereka kontan terperangah hebat saat pikiran mereka ternyata sama sekali tidak terealisasi. Tidak ada teriakan marah yang telah mereka semua perkirakan, tidak ada bantingan kursi yang telah mereka tebak-tebak akan terjadi sebagai urutan berikutnya.

“Akan aku buat kau menyesal telah membangkitkan macan tidur dalam diriku Byun Baekhyun. Bersiaplah menerima kenyataan bahwa bibirmu yang angkuh itu akan menelan bulat-bulat kepahitan yang akan segera kau rasakan” pelan tapi tajam, suara itu membius semua orang yang tengah berada di dalam ruangan tersebut, mencekam bagai malam kelam yang menusuk hingga pori-pori kulit yang sudah mati. Begitu menusuk dan terasa berbahaya.

Hyunjae menatap dalam punggung namja dihadapannya. Matanya tidak lagi akan mengelak dari tatapan tajam pualam bening yang menggoda milik namja itu. Ia sudah menetapkan hatinya, dan siapapun tidak akan ada yang bisa memaksanya mundur, tidak sekarang saat Ia sudah mempunyai satu tekat teguh dalam hatinya akibat perbuatan namja itu sendiri.

Satu detik berlalu tanpa ada gerakan berarti dan gesekan dedaunan pohon rindang di luar jendela yang terbuai angin beku awal musim dingin terdengar memenuhi gendang teling selusin lebih orang yang berada disana, yang masih betah diam dan hanya menyaksikan apa yang terjadi. Baekhyun menolehkan kepalanya, menatap Hyunjae tepat dimanik mata dari balik bahu bidangnya. Segaris senyum tipis terpampang pada wajahnya yang tampan. Ia berhasil. Desah namja itu dalam hati. “Well, aku akan sangat menantikan kerjasama kita Hyunie-ya” ujar Baekhyun tak lebih dari bisikan, tapi masih bisa didengar jelas oleh semua orang yang berada di dalam aula.

Hyunjae tidak memberikan komentar apapun atas ucapan singkat Baekhyun, juga tidak menanggapi nama kecilnya yang disebut-sebut namja itu. Ia berbalik dan berjalan pelan meninggalkan podium dan kemudian memutar kenop pintu di sudut panggung, lalu menghilang dari pandangan semua orang, meninggalkan tempat itu. Ia butuh menenangkan diri.

——-ooo——-

Surat kabar, majalah-majalah harian dan mingguan, siaran-siaran infotainment yang semuanya menayangkan berita yang nyaris dengan susunan kata yang sama, jelas menjadi jawaban atas tanda tanya besar semua orang yang ikut menyumbangkan suara mereka saat melakukan voting dan hanya memilih dua nama secara bersamaan, Hyunjae dan Baekhyun.

Astaga! ini benar-benar akan terjadi, dan tidak ada berita selebriti lain yang lebih menggemparkan tentunya daripada berita “Park Hyunjae dan Byun Baekhyun memastikan diri akan ikut andil dalam serial drama Let Me Capture!”.

Hyunjae hampir tersedak sarapannya pagi itu saat tiba-tiba terdengar sorakan-sorakan histeris dari arah luar apartemennya. “Eoh? Suara apa it?” cetus suara di samping Hyunjae. Seorang yeoja dengan bola mata berwarna cokelat madu. Tanpa menjawab, Hyunjae berjalan menghampiri jendela, meninggalkan sendwich-nya yang hanya berkurang separo gigitan. “Mwoya…?” mata Hyunjae melebar seketika saat melihat sumber keributan kecil yang mengusik paginya itu.

Kerumunan kecil penggemar Hyunjae tampak memadati areal trotoar persis di depan jendela apartemennya yang terletak di lantai 6. Kerumunan yang mayoritas adalah yeoja tersebut, membawa berbagai poster yang dengan semangat mereka acungkan ke udara, guna terlihat oleh sang idola. Mata belo Hyunjae menyipit sedikit, Ia memperhatikan dengan seksama beberapa poster yang berukuran cukup besar hingga masih terlihat jelas dari tempatnya berdiri.

“Woah! Lihat yang itu Hyunie!” yeoja dengan bola mata cokelat madu itu kembali berucap. Ia berdiri tepat di samping Hyunjae seraya menunjuk sebuah spanduk berukuran 2×1 meter dengan editan luar biasa ditengahnya yang memperlihatkan gambar Hyunjae dan Baekhyun seperti foto sepasang kekasih. “Jangan ditunjuk Hyeonmi-ah! Tanpa kau perjelas pun, aku sudah cukup bad mood” cetus Hyunjae masam, menanggapi ucapan teman se-apartemennya itu. yeoja tersebut, Hyeonmi, tidak mengindahkan gerutuan Hyunjae, melainkan terkekeh geli sembari mengarahkan jempolnya ke arah kerumunan, membuat Hyunjae beralih menghadapnya dan menjitak kepalanya dengan cukup keras. “YAA!” protes Hyeonmi keras sesaat sebelum Hyunjae pergi meninggalkannya begitu saja tanpa mengindahkan teriakannya.

Hyunjae melangkah ke arah sofa tanpa melirik sendwich-nya yang benar-benar sudah terlupakan begitu saja. Tampaknya, spanduk besar dirinya dan Baekhyun tersebut sudah meruntuhkan semangat paginya yang ceria. “Ck… belum mulai saja, aku sudah yakin drama kali ini akan semakin membesarkan namamu dear” Hyeonmi berucap, berjalan mendekati Hyunjae dengan satu tangan menenteng piring berisi sendwich-nya yang tadi sempat terabaikan. Hyeonmi duduk tepat di sebelah Hyunjae tanpa bisa menahan senyum gelinya.

Hyunjae mendelik sebal pada sahabat karibnya tersebut, “Jangan cengar-cengir begitu, aku merasa tersinggung” ucap Hyunjae sekenanya. “Hahaha… kau ini, dari kemarin tidak juga berhenti bersungut-sungut. Sudahlah, terima kenyataan saja Hyunie dear… Baekhyun sekarang sudah resmi jadi partner kerjamu” kata Hyeonmi sembari tersenyum kecil, berusaha membangkitkan mood sahabatnya itu tanpa sadar bahwa penekannya semakin membuat Hyunjae jengah.

Hyunjae menggelembungkan pipinya kesal, “Aku tidak bisa menerimanya begitu saja Hyeon! Bayangkan… peranku itu menjadi penggemarnya! Demi Eunhyuk dan semua followernya, apa kata dunia nanti jika aku harus berakting memandangi posternya atau segala hal lain yang sama menjijikannya dengan itu?” ujar Hyunjae frustasi. Tangan yeoja itu terangkat, mengacak-acak ikalnya dengan sedikit kasar sembari berguling-guling di sofa. Hyeonmi mendesah pelan. Kepalanya menggeleng-geleng prihatin melihat tingkah Hyunjae, “Pertama, berhenti membawa-bawa Eunhyuk oppa dan followernya dalam masalah ini. kedua, ayolah Hyun… kalaupun kau memang dapat scene memandangi posternya, matamu tidak akan rugi atau apa, Baekhyun itu ‘kan tampan” Hyeonmi berucap sembari memberikan tatapan kau-itu-tidak-berada-di-posisi-yang-di-rugikan pada Hyunjae yang hanya memutar bola matanya sekilas, enggan memberikan tanggapan karena seluruh organ dalam tubuhnya ntah kenapa terasa lelah tiap kali nama Baekhyun disebut.

“Hyeonmi-ah, kau lupa ini hari apa?” Hyunjae mengalihkan pembicaraan. Ia kembali duduk dan menatap Hyeonmi, seolah menunggu sesuatu. “SENIN? ASTAGA! KALAU KITA TIDAK CEPAT, KITA AKAN TERLAMBAT HYUNJAE-AH!” tiba-tiba Hyeonmi berteriak histeris. Yeoja itu beranjak meninggalkan sofa dan berlari secepat yang Ia bisa kearah kamar mandi di sudut ruangan. Dengan bunyi debam pelan, pintu kamar mandi tertutup seketika, meninggalkan apartemen kembali dalam suasana sunyi.

Hyunjae menatap pintu kamar mandi sembari terkekeh geli dan menggelengkan ringan kepalanya. Sahabatnya sedari kecil itu, Shin Hyeonmi, dari dulu dikenal umum sebagai seorang yeoja dengan pribadi yang cool dan pembawaan yang tenang. Setiap orang yang mengenalnya, pasti selalu menggambarkan sosoknya sebagai seorang yeoja yang tegar dan dapat diandalkan dalam setiap pengambilan keputusan. Tapi sebenarnya di luar imagenya yang terlihat tanpa cacat itu, hanya Hyunjae-lah yang tahu bagaimana pribadi sahabatnya itu yang sebenarnya. Tidak seperti anggapan orang, dimana Hyeonmi terlihat pendiam dan sedikit menutup diri, aslinya yeoja itu tidak kalah cerewet dibanding Hyunjae yang terkenal tidak pernah bisa diam dan menahan diri. Sayangnya, sifat asli Hyeonmi itu tidak sembarang orang bisa melihatnya. Ia hanya akan bertingkah rileks di depan orang-orang yang benar-benar dikenalnya dengan baik, yang dekat dengannya. Seperti saat Hyunjae mengungkit masalah hari tadi saja, Hyeomi bisa menjadi sepanik itu. Jika saja ada orang lain di tempat itu, mungkin kau tidak akan pernah mendengar teriakan paniknya tersebut. Hyeonmi dari dulu menganggap ketepatan waktu adalah hal paling penting, jadi tidaklah mengherankan bahwa yeoja itu sampai saat ini tidak pernah punya catatan terlambat dalam sejarah pendidikannya. Dan itulah salah satu alasan jelas kenapa Ia berteriak panik saat ingat sekarang hari apa.

Hyunjae meniup pelan poni yang jatuh menutupi keningnya. Sejujurnya, Ia tidak ingin pergi ke sekolah hari ini, tapi mengingat dengan siapa dia berbagi tempat tinggal, tampaknya mustahil hal ini akan terjadi. Demi apapun, Hyeonmi tidak akan pernah membiarkannya membolos jam sekolah. Well, sebenarnya Hyunjae beruntung mendapat teman baik seperti dirinya walaupun terkadang menyebalkan juga diingatkan masalah sekolah, tapi tidak bisa disangkal, tanpa campur tangan yeoja itu mungkin Ia tak akan bisa mencapai apa yang sudah Ia capai saat ini. Yah, semua orang yang mengenalnya tentu tahu dengan pasti Ia pribadi yang seperti apa. Tidak dipungkiri, sifat moody-nya yang sudah sangat akut itu menjadi salah satu dari dirinya yang paling diingat jika berbicara tentang siapa Ia sebenarnya.

Tidak lama pintu kamar mandi terbuka lagi, Hyeonmi segera bergegas menuju kamarnya, “Cepat mandi Hyun! Jangan pernah berpikir untuk membolos” ucapnya sekilas dalam satu tarikan nafas. Benar saja yang baru di pikirkan Hyunjae tadi, Ia tidak akan mungkin bisa lari dari jadwal sekolah, seperti Ia pernah melarikan diri dari jadwal syuting.

Sembari menghela nafas, Hyunjae melangkah gontai ke arah kamar mandi. Kendati pun sempat terpikir bahwa sebentar lagi Ia akan kembali berhadapan dengan Baekhyun –karena mereka satu sekolah, dan sialnya satu kelas- Hyunjae tetap melanjutkan memutar kenop pintu kamar mandi segera melakukan apa yang jelas-jelas diingatkan Hyeonmi.

——-ooo——-

“Senyummu lebar sekali Baek” ujar seseorang di samping Baekhyun sembari menatapnya dengan sedikit menyipit, tampak menilai. Baekhyun terkekeh, ntah sudah berapa kali Ia mendengar ucapan itu dari orang-orang yang ada di dekatnya, “Ani~ aku hanya merasa, hari ini mungkin akan banyak hal-hal menarik yang terjadi” tanggapnya seraya tersenyum misterius.

Baekhyun mengalihkan tatapannya ke jalanan Seoul yang ramai kendaraan bermotor dan juga pejalan kaki di trotoar. “Hmm… langit berwarna bersih dan berwarna biru pucat, pertanda baik” gumam namja itu dalam hati sembari kembali terkekeh pelan, mengundang tatapan aneh dari semua orang yang ada di van tersebut. Baekhyun tidak mengindahkan mereka, Ia masih sibuk dengan berbagai hal yang tengah menari-nari riang di dalam pikirannya. Kalau feelingnya benar –dan biasanya hal ini tidak pernah meleset- Ia akan mendapat permainan menarik hari ini. Pikirannya melayang pada satu nama dan wajahnya seketika kembali di penuhi senyuman puas.

“Omong-omong Hyung, kau sudah di hubungi lagi oleh Shindong seongsanim?” tanya Baekhyun selang beberapa menit Ia lama terdiam dan berkutat dengan pikirannya. Sang menejer yang sedari tadi hanya konsentrasi ke jalan, kini melirik sedikit pada Baekhyun dari kaca depan. “Yah, tadi malam dia menelepon dan mengabarkan bahwa hari siang ini Ia akan datang ke sekolahmu untuk membicarakan hal-hal tertentu pada pihak sekolah yang belum sempat dibicarakan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya” jelas sang menejer sembari terus memperhatikan jalanan. “Ah… aku tahu sekarang! Astaga… kenapa aku bisa tidak sadar tadi? Wajah senangmu itu pasti karna hal ini kan? Drama fenomenal yang akan segera kau bintangi bersama yeoja itu, benar?” tiba-tiba seorang namja yang duduk di samping kanannya, yang tadi menanyai senyum lebarnya, berucap sembari mengangguk tampak memahami sesuatu.

Baekhyun tertawa geli melihat teman se-grupnya tersebut kini terlihat berpuar diri karena sudah berhasil menebak apa yang membuatnya begitu semangat. Namja yang duduk di sebelahnya tersebut sudah dikenalnya kurang lebih 4 tahun. Mereka saling mengenal saat pertama kali Baekhyun lolos audisi dan masuk menjadi training di SM Entertainment. Walaupun terlihat cool, tapi namja disebelahnya ini adalah sahabat yang baik dan selalu care padanya, mulai dari awal mereka berkenalan hingga sekarang. “Hahaha… akhirnya kau sadar juga hyung! Memangnya kau pikir apa lagi yang membuatku segini tertariknya Kris hyung?” ucap Baekhyun tersenyum lebih lebar lagi. Sedangkan namja disebelahnya tersebut, Kris, kini hanya menganggukan kepalanya sekilas tampak sedikit tidak peduli.

Matta! Keluargaku mengundangmu untuk makan malam minggu depan, dan kali ini kata mereka kau tidak boleh menolak lagi!” ucap Baekhyun lagi, tiba-tiba teringat pesan ummanya yang memang sudah mengenal Kris, yang notabane adalah leader grupnya, EXO.

Kris tampak berpikir sejenak, mungkin menimbang-nimbang apakah akan terlihat sopan jika Ia kembali menolak undagngan makan malam dari keluarga Baekhyun yang sudah seratus kali (mungkin) ditujukan padanya itu? sebagai jawaban atas pertanyaannya sendiri, Kris menggeleng pelan, “Geure… aku akan datang Baekhyun-ah, sampaikan itu pada omonim. Lagi pula, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Aku kangen pada masakannya yang super lezat itu” ucap Kris tersenyum kecil menyanggupi permintaan umma Baekhyun.

Baekhyun balas tersenyum, Ia mengangguk senang sebelum berbicara lagi, “Aku rasa kau perlu tahu kalau Eunki juga akan datang” Baekhyun tersenyum penuh arti sembari menaikan sebelah alisnya, jelas sekali berusaha menggoda leadernya yang pintar sekali menyembunyikan emosinya itu. “Memangnya kenapa kalau dia datang? Aku pastikan tidak akan membuat dia berkicau karena menantangnya melakukan sesuatu atau apa” Baekhyun tertawa renyah saat mendengar tanggapan Kris yang terdengar biasa, tapi sebenarnya sangat penuh maksud itu. “berkicau eh? Kau ini ada-ada saja hyung! Well jujur saja, sebenarnya aku sedikit heran dengan hubungan kalian. Yah, kau tahu maksudku tentu… dan jangan menyangkal!” balas Baekhyun menanggapi balik ucapan Kris. Ia juga menekankan kata ‘berkicau’ dengan jelas seperti yang dilakukan Kris saat berbicara sesaat lalu.

Belum sempat Kris membalas ucapan Baekhyun, van yang mereka naiki kini telah berhenti tepat di depan sebuah gerbang besar yang terlihat megah, “Kirin Art Senior High School” begitu gerbangnya berbunyi. Baekhyun membuka pintu dorong di samping kirinya dan kemudian turun dari van, diikuti Kris sesudahnya. “Aku akan pergi ke kantor sebentar kemudian akan kembali lagi saat makan siang untuk menemui Shindong hyung bersama kalian” ujar sang menejer sekilas sebelum Kris menutup pintu van hitam tersebut.

Baekhyun dan Kris berjalan bersisian memasuki gerbang, mereka memang selalu datang ke sekolah dengan seperti ini. Mereka sama-sama tidak suka jika diantar langsung memasuki perkarangan sekolah dengan van. Keduanya mengangguk dan melempar senyum sekilas pada penjaga sekolah yang bergegas membukakan gerbang.

Kirin, sudah tampak ramai saat kaki Baekhyun dan Kris sudah melangkah melawati gerbang. Beberapa siswi yang mungkin tidak akan pernah terbiasa berada di satu sekolah yang sama dengan mereka, tampak berbisik-bisik seru sambil berlonjak senang saat keduanya tersenyum sekilas dan lewat dari hadapannya. “Aku ke kanan seperti biasa” ujar Kris singkat saat Ia dan Baekhyun sudah mencapai ujung lorong yang memisahkan koridor menjadi dua bagian.

Sebenarnya mereka berdua sama-sama berada di kelas yang sama. Tapi, tentu mereka tidak satu tingkat. Bingung? Well, sistem Kirin Art Senior High School sama sekali berbeda dengan sekolah lainnya, sekolah biasa maupun sekolah seni. Di tempat ini, kelas dibagi berdasarkan dua hal, dengan keduanya saling berhubungan. Pertama, sitem biasa yaitu berupa perbedaan tingkat antara murid-murid yang lebih senior dengan yang junior. Masing-masing kelas, tahun pertama, kedua, maupun ketiga, dibagi atas 7 kelas. Setiap kelas seperti halnya sekolah lainnya, memiliki satu wali kelas dan satu ketua kelas. Perbedaannya ada pada sebuah kelas yang disebut kelas ‘Special A’. Kelas ini hanya berisi 8 orang murid saja, mereka adalah murid-murid dengan prestasi terbaik, yaitu yang menduduki peringkat 1-8 sekolah. Jadwal murid-murid Special A ini, sampai istirahat pertama –pukul 10 pagi- akan menghadiri kelas sesuai jadwal biasa, yaitu mata pelajaran umum seperti matematika, bahasa, dan ilmu pengetahuan yang diikuti bersama teman sekelasnya. Sisanya, mulai dari pukul 10.30 sampai dari 17.00 mereka akan melanjutkan pelajaran penjurusan dengan jadwal yang sama dengan teman satu angkatan mereka di Special A.

Seperti Baekhyun, Ia setiap harinya mulai dari jam 10.30, sekelas dengan Hyunjae, Hyeonmi, Eunki, Aeyoon dan Lay, yang mana memang satu angkatan dengannya. Sedangkan Kris, untuk pelajaran penjurusan, selalu satu jadwal dengan Luhan. Lalu apa spesialnya kelas ini? yah, tidak seperti teman-teman mereka yang lain yang diwajibkan mengikuti seluruh pelajaran –dalam arti mendapat hukuman jika tidak menghadiri kelas sesuai jadwal-, murid-murid Special A ini mendapat perlakuan lain. Mereka diwajibkan secara tertulis (tata tertib) tentu, tapi tidak dengan realisasinya. Mereka dengan bebas dapat membolos tanpa harus mendapat hukuman atau peringatan. Satu-satunya tuntutan untuk mereka adalah dengan tidak adanya nilai-nilai yang turun, karena rangking mereka di sekolah menentukan nasib mereka selanjutnya apakah masih berhak berada di kelas Special A atau tidak. Kirin Art Senior High School tidak akan mentolerir apapun yang berhubungan dengan rengking, keluar dari rengking 8 besar sekolah berarti juga keluar dari kelas Special A.

Baekhyun meneruskan langkahnya sembari bersenandung pelan, kepalanya sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, menyambut sapaan-sapaan yang ditujukan padanya. Tangannya Ia masukan pada saku celananya yang berwarna biru gelap –berbeda dengan seragam murid lain yang berwarna cokelat-. Sudut mata namja itu menangkap sekilas sebuah bayangan seseorang yang sedari tadi pagi membuat senyum lebarnya tidak bisa dihapus dari wajah tanpa cela itu. Baekhyun berhenti tepat sebelum mencapai pintu kelasnya. Ia bersandar pada dinding, matanya mengikuti yeoja itu yang kini sedang berjalan tepat ke arahnya.

Well… pagi yang cerah untuk bertemu fans fanatikku” ucap Baekhyun jelas sedikit dikeraskan agar tujuannya tercapai. Hyunjae menghentikan langkahnya seketika, tepat seperti dugaan Baekhyun. Hyunjae menolehkan wajahnya ke kiri dan mendapati Baekhyun tengah menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat dan senyum tipis, jelas berusaha memancing emosi yeoja itu. “Ck… pagi tidak lagi cerah untukku karena harus melihat wajahmu” balas Hyunjae ketus. Tingkah keduanya yang sebenarnya sudah sangat biasa terlihat itu, tetap saja menimbulkan kerumunan kecil yang jelas-jelas menatap mereka tertarik. Baekhyun sadar dengan ketertarikan disekitarnya tentu, tapi tidak dengan Hyunjae yang kepalanya mudah sekali terbakar emosi.

“Wah, tidak baik menyangkal begitu Hyunie-ya” Baekhyun beranjak dari sandarannya di dinding, berjalan pelan menghampiri Hyunjae dan kemudian mengangkat tangannya, mencapai rambut ikal Hyunjae yang tergerai sedikit melewati bahu. Namja itu memelintir rambut Hyunjae dengan mata masih menetap pada wajah Hyunjae yang kini semakin masam.

Hyunjae menepis kasar tangan Baekhyun, “Jangan membuatku emosi bahkan sebelum kita seharusnya hanya bertemu di kelas brengsek itu” ujar Hyunjae menahan geram. Suaranya cukup pelan hingga hanya Baekhyun dan Hyeonmi yang ada tepat disampingnya yang dapat mendengar hal barusan. “Hyunjae-ah, jangan merusak pagimu” ucap Hyeonmi singkat sebelum Baekhyun sempat menanggapi ucapan Hyunjae. “Pagiku memang sudah rusak sejak kabar drama sialan itu Hyeon” lagi Hyunjae menggeram singkat yang kali ini ditujukan pada Hyeonmi, tapi kendati pun demikian, Hyunjae tetap mempertahankan tatapan tajamnya mengarah hanya pada Baekhyun yang masih tersenyum kecil, membuat emosi yeoja itu semakin menjadi-jadi.

“Hmm… aku ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada pagimu yang suram, tapi Hyunie-ya, kau harus menyelamatiku karena pagiku hari ini dan hari-hari berikutnya akan menjadi pagi paling menarik yang pernah dan akan aku lalui” Baekhyun terkekeh, maju selangkah lebih dekat lagi, tapi belum sempat langkah keduanya, tubuh Baekhyun kini tertahan di tempatnya berdiri karena Hyunjae telah mengulurkan kedua tangannya ke depan dan menahan tubuh Baekhyun dengan sekuat tenaganya. “Kau.orang.paling.menyebalkan!” ucap Hyunjae dengan tekanan berlebihan pada setiap suku kata. Hyeonmi terdengar mendesah pelan, Ia mencengkram tangan kiri Hyunjae yang terulur, “Sudah cukup Hyun, ayo kita pergi! Tidak bisakah kalian berdua menahan diri satu sama lain untuk tidak menciptakan kerumunan kecil dengan ekspresi wajah tertarik, disekitar kalian? Astaga! aku bisa gila menyaksikan tingkah kalian berdua yang semakin lama semakin parah ini!” ucapnya tegas sembari menghentakan tangan Hyunjae lepas dari tubuh bagian depan Baekhyun kemudian menyeret yeoja itu meninggalkan kerumunan.

“Pertemuan saat jam makan pertama Hyunie-ya!” ujar Baekhyun lagi sebelum Hyunjae dan Hyeonmi terlalu jauh. “BERHENTI MEMANGGILKU ‘HYUNIE-YA’ BACON!” Teriak Hyunjae mengalihkan kepalanya sekilas pada Baekhyun sebelum akhirnya beralih dan mengikuti langkah Hyeonmi yang masih menarik-narik tangan kirinya. Baekhyun terkekeh geli. Ah… ini benar-benar pagi yang indah! Batinnya senang.

——-ooo——-

To Be Continue…

Iklan

4 pemikiran pada “Let Me Capture! (Chapter 1)

  1. HYAAAA INI FF UNYU BETT
    TIPIKAL YG SALING SUKA TP DEMENNYA BRANTEMMM GYAAAAA< 33333
    ODGGG < 3333 LOPE2
    Gue suka bahasa lo, pemilihan jalan ceritanya xD
    Pokoknya gue demen dah xD
    Apalagi baeknya pas banget disiniii ~(°▽˚~)(~˚▽°)~
    Sooo tunggu part 2 nya xD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s