Long Kiss Good Bye (Chapter 4)

Long Kiss Good Bye (Part 4)

Author :

  • @monkeiyeol

Cast:

  • Park Chanyeol
  • Xi Luhan
  • Kim Sera (OC)
  • Kim Raina (OC)

Genre:

  • Romance, School life

Length:

  • Chaptered

Note: Sampai juga di Final Chapter. Tinggal 1 Chapter lagi deh 😀

Maaf kalau ada typo dan sebagainya, maaf juga kalau ini FF bener-bener bikin galau, karena di setiap partnya galau terus :p

Selamat membaca~ 😀

 

aku bisa melupakan rasa sakit hatiku, rasa sesak yang ada di dada ini bisa menghilang hanya dengan bertemu dan berbincang sedikit dengan namja bernama Park Chanyeol.

‘apa aku sudah mulai menyukainya?’

 

 

 

 

KIM SERA POV~

“Sera..”

Chanyeol melepas pelukannya, dia melihatku lagi.  dia menghapus air mataku.”

“aku ingin kau melihatku, aku.. aku menyukaimu, Sera”

aku tidak bisa bicara lagi. aku hanya merasakan air mataku mengalir lagi saat bibirku merasakan sentuhan hangat dari bibir seorang Park Chanyeol. ya.. Chanyeol menciumku, ciuman pertamaku. bersama terangnya cahaya yang di timbulkan kembang api terakhir yang menyala pada malam hari ini.

aku tidak menolaknya, aku hanya bisa mennagis, tubuhku lemas. dan seketika pandanganku berubah menjadi gelap. yang terakhir aku lihat adalah wajah Chanyeol yang sangat panik.

***

dimana aku?

kenapa semuanya terlihat putih dan silau?

“ah! Sera kau sudah sadar? syukurlah..”

“ah?”

aku melihat Raina eonni, dan Luhan oppa di depanku dengan wajah mereka yang panik.

“kenapa aku ada di sini?”

“Chanyeol yang menggendong tubuhmu dan menghampiri kami saat di Festival Kembang Api. kau pingsan, lalu kami semua membawamu ke rumah sakit. ternyata kau kurang darah” jelas Luhan oppa. aku hanya bisa diam dan mengedarkan pandanganku mencari sosok Park Chanyeol.

“dimana Chanyeol?”

“dia tertidur di sofa, semalaman dia menemanimu, dan sekarang pun dia tidak ke sekolah dan tidak pulang” ucap Raina eonni yang menunjuk Chanyeol sedang tertidur di sofa. wajahnya terlihat lelah dan penuh dengan ke khawatiran. aku sungguh merepotkan dirinya.

“kau ingin aku belikan sesuatu?” tanya Raina eonni, dia menggandeng tangan Luhan oppa di depanku. aku merasa masih agak sakit saat melihatnya, namun tidak sesakit saat di Festival Kembang Api.

“tidak usah eonni. aku hanya ingin istirahat saja” ucapku sambil tersenyum canggung. mereka berdua seperti tidak punya salah padaku. seharusnya eonni bisa menjaga perasaanku karena dia tahu aku masih menyukai Luhan oppa.

“baiklah kalau begitu, aku akan belikan buah-buahan bersama Luhan”

aku hanya mengangguk dan tersenyum canggung, rasa sakit masih membekas di dadaku.

“cepat sembuh ya, Sera” ucap Luhan oppa sambil tersenyum seperti biasanya, aku tidak membalas senyumannya. aku hanya mengangguk lalu merebahkan tubuhku kembali.

mereka berdua melangkah berdua dengan tangan yang saling bertatutan, mereka iblis! tapi entah kenapa aku tidak bisa membenci mereka, aku sayang mereka berdua. aku menyesal di lahirkan sebagai wanita yang terlalu baik seperti ini. aku juga ingin bisa marah.

aku cepat-cepat menyusut air mataku yang keluar. lalu kembali memejamkan mataku di dalam ruangan serba putih dan berbau khas ini.

SRAK

aku membuka mataku lagi dan menoleh ke sumber suara. ternyata Chanyeol sudah bangun.

“yo! Sera?” ucap Chanyeol sambil menguap dan mengucek-ngucek matanya.

“ya?” aku tersenyum padanya, senyuman yang sangat tulus. karena aku sedang ingin tersenyum ke arahnya.

“bagaimana keadaanmu?” Chanyeol mendekat ke arahku dan duduk di sampingku.

“me-membaik..”

Chanyeol hanya mengangguk dan menguap lagi. tiba-tiba saja jantungku berdegup cepat saat Chanyeol tersenyum kepadaku dan mengelus kepalaku sangat lembut, tangan besarnya terasa hangat.

“aku kira kau akan mati..”

“a-apa maksudmu?”

“hahaha.. habis, kau tiba-tiba pingsan saat aku hendak memelukmu”

aku terdiam, jantungku pun kembali berdegup. kenapa aku merasaan ini?

“kau tahu? aku panik setengah mati, lalu pikiranku hanya bisa berlari sambil membawamu dan menghampiri kakakmu juga Luhan Sunbae…”

“…aku takut kau kenapa-kenapa”

aku tersenyum lagi, wajah Chanyeol terlihat sangat khawatir.

“terima kasih Chanyeol. kau.. baik padaku”

“aku akan selalu membuat orang di sekitarku bahagia, kau lupa motto hidupku?”

“hahaha.. aku tidak akan lupa motto hidup yang unik itu” ucapku sambil sedikit terkekeh.

Chanyeol tersenyum dan menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. tawaku berhenti saat dia menatapku sangat serius, ya.. sangat serius.

“kau tidak melupakan ucapanku saat di Festival Kembang Api kan?” Chanyeol bicara dengan sangat pelan, nyaris tidak terdengar. namun aku masih bisa mendengarnya. bahkan sangat jelas.

“a-apa?” ucapku tidak fokus. pikiranku tidak bisa terfokus kepada maksud ucapannya, aku hanya melihat wajahnya yang serius dan membuatku semakin berdebar.

“ah.. kau ini. kau tidak tidur kan saat aku mengatakan hal penting itu?” Chanyeol terlihat sedikit sebal, aku hanya tersenyum.

“jadi? kau ingat?” ucap Chanyeol lagi.

aku mengangguk pelan.

“aku mengingatnya.. sangat mengingatnya”

kali ini Chanyeol yang tersenyum ke arahku.

“jawabannya sesukamu saja, kalau kau sudah merasa ingin mengatakannya. kau boleh katakan padaku. tapi jika belum ingin. aku akan selalu menunggu”

aku terdiam, aku memang mulai merasa nyaman berada di dekat Chanyeol. terasa sangat gembira saat dia ada di dekat ku akhir-akhir ini. tapi itu bukan cinta melainkan rasa nyaman terhadap sahabat sendiri. yang aku sukai adalah Luhan oppa. namun aku sudah tidak bisa berharap lebih darinya. pasti Raina eonni dan Luhan oppa.. mereka sudah jadian.

aku harus memasang wajah seperti apa saat tiba-tiba salah satu dari mereka menyatakan kalau mereka sudah resmi pacaran?

apa aku akan menangis? atau aku akan tersenyum sambil menangis? ataukah aku harus tersenyum dengan tulusnya?

aku tidak tahu.. yang jelas aku pasti akan merasa sangatlah sakit!

“Sera?”

“ah i-iya?”

“kau melamun.. apa yang kau pikirkan? diriku? hahaha” Chanyeol tertawa dan mencubit pipiku.

“a-aku.. hey! kau terlalu percaya diri Park Chanyeol! hahaha” aku pun hanya menonjok bahu Chanyeol pelan. Chanyeol tetap saja tertawa. akupun hanya tersenyum dan kembali tertawa lagi.

aku bisa menghilangkan rasa sedihku seketika saat bersama dengan namja ini. tidak aku sangka kami bisa sedekat ini. aku senang…

“Sera..”

“hm?”

“saat Festival Kembang Api..”

“a-apa?”

Chanyeol terdiam dan menggaruk-garuk tengkuknya, membuatku semakin gugup dan penasaran.

“kau sadar kan aku menciummu?”

DEG!

demi tuhan jantungku Serasa mau copot. kenapa harus membahas itu? dadaku kembali bergemuruh. aku malu! wajahku sudah memerah dan panas.

“a-aku.. itu..” wajahku memerah, aku hanya bisa menunduk.

“maaf ya, aku hanya tidak tega melihatmu menangis saat itu. aku tidak bermaksud mesum atau yang lainnya loh. hahaha”

“i-iya aku tahu” kataku yang masih malu, namun kenapa sikap Chanyeol biasa saja? apa dia tidak merasa malu atau berdebar.

“saat ingin menciummu.. aku sampat berdebar hebat. ada sisi lain dari pikiranku untuk tidak melakukannya, tapi di sisi lain aku ingin melakukannya, aku ingin menenangkanmu.. aku tidak tega”

aku terdiam, aku sekarang benar-benar berfikir bahwa namja bernama Park Chanyeol itu sangat lah baik. motto hidupnya benar-benar dia lakukan.

“la-lalu kenapa kau lakukan?” tanyaku.

“karena aku mencintaimu, aku menyukaimu. aku tidak bisa membiarkanmu menangis terus-terusan”

DEG!

‘tuhan.. seandainya yang bicara seperti itu adalah Luhan oppa, pasti aku akan langsung membalasnya dengan cepat. tapi kenyataannya adalah yang mengatakan itu adalah Park Chanyeol teman sekelasku’

“kau sudah makan? kalau belum aku akan membeli makanan untukmu”

“tidak.. aku tidak lapar. oh ya, sampai kapan aku akan keluar dari rumah sakit?”

“besok sepertinya. kau tidak terlalu sakit parah”

aku mengangguk-angguk tanda mengerti.

“kau masih menyukai Luhan Sunbae?” ucap Chanyeol tiba-tiba sambil menyalahkan Televisi. dan duduk di sampingku.

aku terdiam dan akhirnya mengangguk lemah.

“masih..”

“mereka sudah jadian”

“a-apa?”

“kakakmu dan Luhan Sunbae sudah jadian. aku bertanya kepada mereka. dan aku meminta agar tidak bermesraan di depanmu. aku tidak ingin kau menangis lagi karena melihat 2 orang itu”

“tapi aku sudah menangis tadi, Chanyeol”

“jinja?!” Chanyeol melihat ke arahku membuatku kaget

“nee.. namun aku tidak se-shock waktu awal.. aku sudah bisa terbiasa sepertinya” aku tersenyum dan Chanyeol menganggam tanganku.

“semoga kau bisa menyukaiku ya, Sera”

wajah Chanyeol terlihat sedih. aku tidak tega. jangan perlihatkan wajah seperti itu padaku. aku suka saat kau tertawa.

jagan murung.. kumohon..

“jangan pasang wajah seperti itu”

“hahaha.. memangnya wajahku kenapa?”

“kau terlihat sedih”

“aku memang sedang sedih. dari awal aku mengenalmu aku memang selalu menahan rasa sedihku”

“apa maksudmu?”

“aku memperhatikanmu, Sera. aku tahu dari awal kalau kau menyukai Luhan sunbae”

“aku hanya bisa tersenyum dan tertawa saat kau menceritakan semuanya. tapi saat kau menangis aku hanya bisa tersenyum pedih. kau salah menyukai seorang pria”

“a-aku tidak salah! jangan sok tahu!” aku mulai kesal, aku mulai naik darah. kenapa bisa-bisanya Chanyeol mengatakan itu padaku?

“kau menyukainya saat dia mengantarkanmu yang terpisah dari yang lain kan?”

aku terdiam. kenapa dia bisa tahu?

“ke-kenapa kau bisa tahu?”

“aku sudah bilang.. aku selalu memperhatikanmu, Sera”

aku terdiam dan merasa kesal saat ini. kenapa Chanyeol menjadikan aku seakan-akan orang bodoh yang terjerumus dalam kesalahan yang sangat fatal?

“jika saat itu kau menyukainya. itu bukan ‘suka’ itu bukan ‘cinta’ tapi itu rasa kagum akan kebaikan Luhan Sunbae padamu”

aku semakin kesal, aku mengepalkan tanganku. aku tidak mau dia bicara buruk lagi lebih dari ini.

“maka dari itu, kau harus bisa membedakan mana yang..”

“jangan sok tahu! kau hanya dekat denganku akhir-akhir ini! dan aku mau kau jangan bicara lagi lebih dari ini!” aku berteriak, membuat Chanyeol hanya tersenyum singkat.

“baiklah aku akan diam. aku hanya menjelaskan apa yang selama ini kau rasakan”

aku terdiam, merasa ingin sekali berteriak! ingin sekali membanting sesuatu! meluapkan semua kekesalanku.

“aku menyangimu Sera. aku rela jika kau akhirnya tidak menerimaku atau tidak hidup bersama denganku. asalkan kau hidup dengan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. dan yang jelas itu bukan Luhan Sunbae yang kau sukai”

“CHANYEOL!! PERGI!! aku tidak mau mendengarkan omonganmu lagi!!”

“maaf..”

Chanyeol mengambil kemejanya yang ada di sofa lalu keluar kamar dengan lambat. aku hanya bisa menangis sesenggukkan di atas kasur.

‘aku memang bodoh!’

***

aku membuka mataku, ternyata sudah hampir malam. aku menoleh ke kanan di meja sampingku ada sekeranjang buah-buahan.

“pasti eonni”

aku duduk dan menebarkan pandanganku, tidak ada eonni, tidak ada siapa-siapa. aku sendirian.

CKLEK

“eonni?”

“ini aku Luhan”

kenapa Luhan oppa datang di saat yang tidak tepat? aku sedang tidak ingin bertemu dengannya.

“eonni mu sedang ada urusan dengan temannya tadi.

aku hanya diam. dan melihat langkah Luhan oppa yang semakin mendekat.

“bagaimana keadaanmu?”

“aku baik”

“syukurlah..”

kami terdiam, terasa sangat canggung, biasanya aku yang terkadang cerewet. namun tidak untuk kali ini. kali ini benar-benar canggung. dan tidak biasa.

“oppa sudah berpacaran dengan Raina eonni?”

“iya”

DEG!

sepertinya aku salah menanyakan pertanyaan. ini namanya bunuh diri. terasa jleb di hati. terasa sakit. tapi aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum.

“selamat oppa..”

“kenapa wajahmu seperti itu?”

“a-apa? aku tidak apa-apa” ucapku sambil memalingkan wajahku.

“maafkan aku.. aku.. aku tidak bisa menerima..”

“tidak oppa, aku kan sudah bilang, lupakan itu. hahaha.. lagi pula sekarang oppa sudah memiliki eonni kan? untuk apa oppa masih memikirkan kata-kata aku yang bodoh itu?”

Luhan oppa hanya diam. tiba-tiba dia memelukku. dan mengusap punggungku pelan.

mataku terbelalak saat Luhan oppa memelukku. aku tidak menyangka. apa maksudnya ini?

“o-oppa.. apa maksudnya ini?” kataku dengan suara yang bergetar, menahan tangis. menahan rasa sakit yang aku rasakan lagi.

“aku sangat merasa bersalah, aku sudah memberikan harapan kosong.maafkan aku..”

aku menangis sejadi-jadinya. Luhan oppa masih saja mengelus-elus punggungku perlahan.

***

AUTHOR POV~

Raina berjalan menuju kamar Sera. dia membawa sekotak coklat yang berniat dia berikan kepada adiknya yang sedang sakit itu.

saat tangannya hendak membuka pintu kamar itu, terdengar suara tangisan dari dalam. akhirnya dia membuka pintu itu perlahan.

mata Raina terbelalak saat melihat Luhan memeluk Sera yang tengah menangis, bukan rasa marah atau cemburu yang dia rasakan. melainkan rasa kasian terhadap Sera, adiknya.

Raina ikut menangis sambil terus memperhatikan mereka yang masih berpelukan. rasa sedihnya terasa saat dia mengingat Sera telah merelakan namja yang dia sukai bersama dengan dirinya. padahal Sera sendiri masih sangat menyukai namja itu.

‘Sera.. maafkan aku..’

***

pagi hari. cuaca yang cerah. Sera dan Raina siap-siap untuk pulang ke rumah. hari ini Sera sudah boleh pulang. keadaannya sudah membaik.

“Sera!!”

Kanna memeluk Sera saat  masuk ke ruangan. Sera hanya tersenyum dan membalas senyumannya.

“bagaimana kabarmu? kau sudah sehat kan?”

Sera mengangguk pelan.

“sudah kok”

“syukurlah!” Kanna memeluk Sera lagi.

“dengan siapa kau ke mari?” tanya Sera.

Kanna hanya terkekeh.

“dengan Chanyeol, dia menunggu di luar, entah kenapa dia tidak ingin masuk”

“kenapa?” tanya Raina.

“entahlah eonni. memangnya kalian bertengkar?” tanya Kanna kepada Sera. Sera hanya diam dan berjalan keluar ruangan.

Sera melihat namja jangkung yang sedang berdiri membelakanginya. dia sudah tahu kalau itu pasti Chanyeol.

Sera perlahan-lahan melangkah mengendap-endap di belakang Chanyeol.

“Chanyeol!!” Sera teriak saat tepat ada di belakang Chanyeol. membuat Chanyeol sedikit terkejut.

“YA! kau! mengagetkanku!”

“hahahahaha…” Sera tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi terkejut Chanyeol yang menurutnya sangatlah lucu.

“Kim Sera!”

Chanyeol menggelitik pinggang Sera membuat Sera tertawa.

“hahahah.. Cha-Chanyeol hentikan geli!”

“biar! lalu kenapa kau mengagetkanku, bodoh?”

“hahaha.. aku iseng hahaha.. hentikan..”

Chanyeol tertawa dan menghentikan gelitikannya pada pinggang Sera. Sera menarik nafas dalam dan mulai bicara.

“aku sudah boleh pulang. kenapa kau tidak masuk?” ucapnya dengan ceria.

“ehem.. bukannya kau kemarin marah denganku?”

Sera terdiam dan merasa malu. tidak bisa di bohongi, Sera tidak bisa marah lama-lama dengan Chanyeol. sosok Chanyeol sangat dia butuhkan sekarang ini.

“kita hari senin harus mengikuti ulangan susulan matematika ya”

“ah.. iya.. buku catatatanmu masih padaku”

“tidak apa-apa”

Chanyeol tersenyum dan mengelus-elus kepala Sera.

“ayo masuk ke dalam”

“iya!”

Chanyeol menggandeng tangan Sera. membuat Sera kembali berdebar. namun kali ini dia tersenyum dan menggenggam kuat tangan Chanyeol.

***

KIM SERA POV~

sekarang hari minggu, aku yang sudah tiba di rumah memutuskan untuk diam di rumah seharian dan bermalas-malasan.

“ehem”

“Cha-Chanyeol? ke-kenapa kau.. bisa..” wajahku langsung memerah saat tahu ada Chanyeol yang tiba-tiba ada di kamarku. berdiri di ambang pintu dengan gaya coolnya.

“kakakmu yang menyuruhku masuk. ya sudah aku masuk”

“Eonni!! kenapa Chanyeol di suruh masuk?” teriakku . membuat Chanyeol menatapku menusuk.

“biarkan saja, dia kan temanmu!” teriak Raina eonni dari lantai 1.

aku mendengus kesal. namun aku dadaku tiba-tiba baerdebar cepat sekali.

“hei.. apa aku tidak boleh ada di sini?”

“kau lihat? ini kamar. kamar anak perempuan. anak laki-laki tidak boleh masuk!”

jantungku masih berdegup. aku jadi salam tingkah! kenapa seperti ini?

“ya ya.. kalau begitu aku keluar dan pulang saja ya. sampai jumpa besok”

ah.. dia pergi Chanyeol pergi padahal aku memang sedang ingin bersamanya. tapi..

“ya-ya sudah pulang saja”

“baiklah, jangan rindu padaku” ucap Chanyeol di susul tawa jahilnya.

“YA! tidak akan aku rindu padamu!” aku melemparkan bantal kepada Chanyeol dan Chanyeol berhasil menagkapnya.

“kau mau menyerangku, nona?” Chanyeol membawa bantal dan siap dia lemparkan kepadaku.

“Cha-Chanyeol jangan lempar..”

BUAK

tepat mengenai wajahku bantal hasil lemparan Chanyeol itu. akupun kembali membalas Serangannya. dan kamipun saling lempar-lemparan bantal. kami berduapun tertawa lepas.

aku bisa melupakan rasa sakit hatiku, rasa sesak yang ada di dada ini hanya dengan bertemu dan berbincang sedikit dengan namja bernama Park Chanyeol.

‘apa aku sudah mulai menyukainya?’

“Chanyeol aku lelah..”

“hahaha.. kau payah!” Chanyeol melemparkan aku bantal lagi, tapi aku tidak membalasnya. aku duduk di tepi kasurku lalu merebahkan tubuhkan dan membiarkan kedua kakiku menyentuh lantai.

Chanyeol berdiri dan menatapku. aku hanya bisa memejamkan mataku. jantungku kali ini berdebar tidak karuan. ini tidak seperti biasanya.

“kau berkeringat”

Chanyeol duduk dan mengelap keringat yang ada di keningku dengan telapak tangannya yang besar dan terasa dingin.

aku membuka mataku dan menatap Chanyeol yang tengah tersenyum.

“istirahat lah, kau baru keluar dari rumah sakit”

“aku sudah sehat” ucap ku.

“oh ya..”

“hmm?”

“kira-kira.. kapan kau akan menjawab pernyataan cintaku, Sera?”

Chanyeol mengelus kepalaku lembut, membuatku terdiam dan merasakan degupan dari dalam dadaku.

“a-aku tidak tahu. aku takut jika aku menjawabnya sekarang-sekarang. kau akan menjadi pelarian ku saja. aku.. masih menyukai Luhan oppa. walapun sekarang kita dekat dan sering bersama, tapi hatiku jika melihat Luhan oppa masih bisa aku katakan aku masih menginginkannya”

Chanyeol terdiam.

“kalau di saat kau menyatakan perasaanku, lalu Luhan oppa menyatakan perasaannya juga. aku akan memilih Luhan oppa, walaupun sekarang aku banyak menghabiskan waktu bersamamu. tapi aku tetap menyukai Luhan oppa..”

Chanyeol masih terdiam, gerakan tangannya yang mengelus lembut kepalaku sekarang terhenti. dia hanya mengubah posisi duduknya. dia menunduk dan menatap lantai. dia membelakangiku.

“hahaha.. iya iya, aku tahu kok kau masih menyukai Luhan Sunbae. tapi kata-kataku saat Festival Kembang Api itu tidak bisa aku tarik lagi”

“aku benar-benar menyukaimu, Sera. akan selalu aku tunggu jawabanmu”

Chanyeol menoleh ke arahku dan tersenyum. terlihat jelas sekali raut wajahnya yang sedih.

kenapa aku jahat padanya? kenapa aku tidak bisa suka padanya? lalu apa arti degupan yang aku rasakan saat ini?

jika aku menerimanya, aku takut dia merasa aku sakiti karena hati aku yang masih menyukai Luhan oppa. aku bingung..

“minum obatmu dan jangan lupa makan”

“kau sok perhatian..” ucapku sambil mengubah posisiku menjadi duduk.

“hahaha.. sepertinya aku tidak cocok ya menjadi orang yang romantis?” Chanyeol menjulurkan lidahnya dan tertawa.

kenapa kau masih bisa tertawa di saat aku mengatakan hal yang pasti menimbulkan rasa sakit untukmu, Chanyeol?

“aku pulang dulu ya. cepat pulih”

“nee.. gomawo”

“iya.. sama-sama. sampai jumpa besok”

“iya”

“jangan lupa besok ada ulangan susulan. kita berdua loh! hahaha”

“haha.. iya”

“ya sudah bye..”

“a-aku antar kau sampai depan.” kataku.

“tidak usah, kau istirahat saja bodoh! nanti kalau pingsan lagi malah tambah gawat” Chanyeol mencubit pipiku lalu tersenyum pedih.

“jangan tersenyum kalau tidak ingin tersenyum” ucapku.

“hahaha.. iya iya. ketahuan yaa” Chanyeol menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.

mataku terbelalak saat Chanyeol memelukku. sangat erat.

“Saranghae” bisiknya.

membuat tubuhku merinding dan lemas. jantungku pun berdebar sangat kacau. wajahku memerah. aku tidak biasa merasakan ini dengan Chanyeol. apakah aku memang sudah mulai menyukainya? apa memang aku sudah menyukainya?

“a-apa aku harus membalasnya?”

“hahaha.. jika tidak tahu harus membalas apa sebaiknya tidak usah”

Chanyeol melepas pelukkannya. wajahnya mendekat kewajahku, aku spontan menutup mataku. jantungku sudah tidak bisa aku control lagi.

Chanyeol mengecup keningku lembut. aku membuka mataku dan terlihat Chanyeol tersenyum dan terkekeh.

“hahaha.. kau lucu sekali”

“a-aku kira kau mau apa..” ucapku gugup. ya.. aku kira dia akan mencium bibirku lagi.

“kau mengharapkan aku mencium bibirmu? hahahaha”

“YA! tidak!” wajahku langsung memerah, aku memukul-mukul tubuh Chanyeol. dan Chanyeol hanya tertawa. ya ampun aku malu sekali!

“hahaha.. ya sudah kalau begitu aku pulang nona bodoh”

“rambut mie” balasku sambil tersenyum.

“hahaha.. jaga dirimu”

“ya”

Chanyeol berjalan kearah pintu lalu setetika tubuhnya menghilang di balik pintu itu. aku tersenyum dan memeluk bantalku kuat-kuat.  aku menyentuh keningku dan bibirku. tempat di mana bibir seorang namja yang dulu sering membuat ku kesal mendaratkan ciumannya. aku tersenyum lebih lebar.

apa aku menyukainya?

***

“selamat pagi”

pertama kali sosok yang aku lihat saat aku terbangun adalah seorang namja dengan rambut coklatnya yang keriting itu, di tambah dia sekarang memakai Kaca mata besarnya itu. terlihat sangat.. tampan.

“cepat bangun bukannya melihatku seperti itu” katanya sambil mencibit pipiku.

“aaww… Chanyeol! sakit!”

“cepatlah mandi”

“kenapa kau ada di sini?”

“aku ingin ke sekolah bersamamu, sepertinya menyenangkan. hahaha”

aku hanya diam dan menahan rasa senangku. ya.. aku akui, aku senang. aku sangat senang.

“aku mandi dulu. kau tunggu di bawah saja!”

aku mengambil handukku dan lari menuju kamar mandi.

***

AUTHOR POV~

“dia sudah bangun?” ucap Raina kepada Chanyeol yang turun dari lantai 2

“sudah noona, dia terlihat sangat bersemangat”

“baguslah.. aku takut dia selalu sedih, aku tidak bisa menghiburnya. yang bisa menghibur dan membuatnya tertawa adalah dirimu.”

“noona.. maaf kalau pertanyaan ini sangat tidak sopan, tapi apakah noona tidak mau mengalah sedikitpun?”

Raina menghentikan aktivitasnya yang sedang menyiapkan sarapan pagi. dia menoleh dan menatap Chanyeol yang masih berdiri di dekat tangga.

“aku punya jalan ku sendiri. aku sayang Sera. tidak mungkin aku mau membuatnya terus-terusan menangis Karena tahu Luhan yang sekarang menjadi pacarku. sampai saat ini pun aku tidak mau memberitahunya.. aku tidak tega..”

“kalau tidak tega sebaiknya noona pikirkan perasaan orang yang noona sayang, Sera adik noona sendiri” Chanyeol berwajah serius membuat Raina menunduk dan akhirnya meneteskan air matanya.

“memang sungguh sulit untuk melepaskan orang yang sangat kita cintai apalagi sekarang noona sudah mendapatkan yang noona inginkan. tapi Sera, dia menanggung semuanya”

Raina masih menangis dan langsung mengelap air matanya lalu menatap Chanyeol serius.

“sebelum kau bicara seperti itu, aku sudah mempunyai jalan sendiri untuk kebaikan ku dan adikku, Sera”

Chanyeol mengangguk menegerti.

“kau menyukai Sera kan?”

“aku sangat menyukainya, aku sayang dia. maka dari itu aku tidak mau membuat Sera menyukai Luhan sunbae lebih dari ini. aku tidak ingin membuatnya menangis lagi”

“aku sangat berterimakasih kepadamu”

“tidak usah begitu noona, aku melakukan apa yang ingin aku lakukan” Chanyeol tersenyum. begitu juga Raina.

“ah.. ayo makan bersama, sambil menunggu Sera aku akan buatkan susu hangat untukmu”

“terima kasih noona”

***

KIM SERA POV~

aku baru saja selesai mandi. aku sudah selesai memakai Seragam sekolah, dan sekarang aku mengeringkan rambutku dengan hair dryer.

MA MA MA MA MACHINE..~

Aku meraih ponsel yang ada di dekatku. aku mengerutkan dahiku.

“Chanyeol? kenapa mengirimu ku pesan? diakan ada di bawah” ucapku pelan. dengan rasa heran akhirnya aku membuka pesannya itu.

From: Chanyeol

‘cepatlah turun, siapkan hatimu. ada Luhan sunbae di sini’

aku menelan ludahku. jantungku langsung berdebar karena takut. aku tidak siap melihat kemesraan mereka lagi aku tidak sanggup.

MA MA MA MA MACHINE..~

aku membuka pesan yang ternyata dari Chanyeol lagi

From: Chanyeol

‘aku akan melindungimu, tenang saja. aku yakin kau pasti bisa melewati semua ini’

aku tersenyum. merasa sedikit tenang.

‘terimakasih Chanyeol..’

***

aku menuruni tangga dengan hati-hati. aku melihat memang sudah ada Luhan oppa yang sedang duduk di meja makan bersama dengan eonni dan juga Chanyeol. tidak lama kemudian Chanyeol melihat ke arahku dan tersenyum. dia menyedari ke datanganku.

“Se-selamat pagi” ucapku gugup. kali ini Luhan oppa tersenyum padaku sebelum menjawab salamku.

“Selamat pagi Sera, kau terlihat lebih baik. sudah sembuh?”

aku mengangguk pelan lalu duduk di tempat kosong tepat berhadapan dengan Luhan oppa.

aku merasa sangat kaku, bukan hanya aku saja tapi terasa dari semua yang ada di sini. sama sekali tidak ada topik pembicaraan. sepi. hanya ada suara alat makan yang beradu dan menimbulkan suara dentingan kecil.

“tu-tumben oppa ke rumahku” ucapku akhirnya.  namun mataku masih menatap pancake yang belum habis.

“iya, aku..”

“dia hanya datang berkunjung dan ingin mengetahui rumahku, Sera..” ucap eonni. senyumannya snagat terlihat di paksakan. akupun hanya tersenyum.

“oh..” jawabku singkat.

“Sera cepat habiskan makanmu, kita ada ulangan susulan loh”

“ah i-iya..” ucapku. teringat aku sudah tidak tahan ada di sini aku pun makan dengan cepatnya.

“ah eonni, oppa kami duluan ya” ucapku buru-buru. air mataku sudah aku tahan.

“kami duluan” ucap Chanyeol, lalu dia menarik tanganku.

“hati-hati” ucap Raina eonni, Luhan oppa hanya melambaikan tangannya dan tersenyum.

***

KIM RAINA POV~

“Luhan..”

“ya?”

“aku.. aku tidak tega melihat adikku selalu menangis dan berwajah sedih saat melihat kita bersama. aku sayang pada adikku, aku merasa hubungan kita memang benar-benar menyakiti hatinya”

aku menunduk dan menatap piring kosong di depanku. Luhan juga terdiam lalu menatapku.

“aku akan menurut apa yang akan menjadi keputusanmu nantinya. aku juga punya perasaan, aku juga tidak tega melihatnya seperti itu terus”

aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku.

“aku sayang padamu, Raina.”

“a-aku juga..” balasku. sungguh.. ini pertama kali nya aku merasa sangat sakit. aku akan lebih memilih kebahagiaan adikku di banding kebahagiaan aku sendiri. aku lebih sayang kepada adikku.

“sebaiknya kita juga ke sekolah..”

“kita berbeda sekolah..” ucapku

“ya aku tahu, aku hanya ingin bersamamu saat nanti kau membuat keputusan yang membuat kita benar-benar tidak bisa bersama lagi”

aku terdiam dan sangat terpukul. Luhan meraih tanganku dan kamipun keluar rumah dengan perasaan yang tidak seceria dulu.

***

KIM SERA POV~

ulangan Matematika. aku sekarang ada di kelas kosong bersama dengan Chanyeol dan Song seonsaengnim yang mulai membagikan tugas.

“kerjakan” Song Saengnim duduk kembali di tempat duduknya dan mengawasi kami.

terlihat soalnya sangat rumit, tapi entah mengapa aku hanya tersenyum saat melihat soal yang keluar semuanya sudah aku kuasai. aku benar-benar beruntung. ah tidak.. aku benar-benar harus berterimakasih kepada Chanyeol, dia sudah menolongku.

tidak lama aku masih mengerjakan soal. Chanyeol berdiri dan mengumpulkan soal itu duluan.

‘hebat..’  ucapku dalam hati.

1 nomor lagi dan selesai.

aku menegerjakannya dengan sekuat tenaga. aku sangat serius.

“semangat”

aku menoleh ke arah kaca, ternyata ada Chanyeol yang mengintip dan mengatakan ‘semangat’ padaku. aku hanya tersenyum dan memberikan jempol kepadanya.

Chanyeol pun tertawa dan terus memperhatikan aku.

tidak lama kemudian akupun langsung mengumpulkan soal itu dan keluar kelas dengan perasaan lega!

***

“bagaimana?”

“tidak sulit”

“hahaha.. itu pasti berkat buku catatanku kan?”

“iya! itu sangat berguna” aku tertawa.

“traktir aku!”

“baiklah kau ingin apa?”

“aku hanya ingin kencan dengan mu sepulang sekolah. hahaha”

DEG!

kenapa setiap dia mengatakan hal yang menurutku sangat biasa, tapi aku merasakan hal yang luar biasa dari dalam sini. aku pun berdebar lagi.

“ke-kencan?” ulangku

“hahaha.. iya,  bisa di bilang pra-kencan?” Chanyeol tersenyum jahil membuatku semakin salah tingkah.

“hahaha.. memangnya ada pra-kencan?”

“maka dari itu ayo kita ciptakan!” tawa Chanyeol meledak saat kita mau menuju kelas.

“ba-baiklah..” ucapku gugup. sangat gugup.

‘tuhan.. aku sudah bertekat untuk melupakan Luhan oppa,dan aku sudah bertekat untuk mencoba menyukai namja bernama Park Chanyeol ini’

“kau bisa melewati yang tadi pagi” katanya tiba-tiba

“hah?”

“Luhan sunbae yang tiba-tiba datang ke rumahmu”

“ah iya, itukan berkat dirimu yang menyuruhku makan cepat-cepat”

“hahaha.. otakku penuh dengan cara melarikan diri” ucapnya sambil tertawa

aku hanya tersenyum

“tapi kau sebenarnya kuat, Sera”

“haha.. iya!” aku tertawa lepas. Chanyel merangkulku dan kita berjalan bersama menuju kelas.

***

“Sera! ayo latihan basket!” ucap Kanna saat bel sekolah sudah berbunyi

“aku ada janji, maafkan aku”

“dengan siapa?” Kanna terlihat menyelidik

“ehem.. pasti dengan namja berambut keriting yang sedang merapihkan bukunya itukan? hahaha” ucap Kanna sambil melirik ke arah Chanyeol

wajahku memerah lalu menurup mulut Kanna rapat-rapat

“kau sudah melupakan Luhan sunbae?” tanya Kanna

“dia sudah pacaran dengan kakakku, Kanna”

“MWO?! JINJA?!”

“pelankan suaramu, monkey!” aku menepuk bahunya.

“ma-maaf..”

“yaa dia sudah jadian dengan kakakku”

“aahh.. sayang sekali. aku doakan kau jadian dengan namja jangkung itu. hahaha”

“ka-kau ini..”

“sedang membicarakan apa?” tiba-tiba Chanyeol sudah ada di dekat ku dan Kanna.

“begini Sera..uumpphh..”

“tidak-tidak.. hahaha.. ayo Chanyeol!” aku menarik tangan Chanyeol dan menyuruh Kanna diam.

“belikan aku makanan jika kalian sudah jadian nanti!!” teriak Kanna, membuatku malu!

“hahahaha.. kau bilang apa pada anak itu?” tanya Chanyeol

“ti-tidak ada!”

“YA Kanna! aku akan membelikanmu pizza jika aku jadian dengan anak bodoh ini!!”

“Cha-Chanyeol!!!” aku sangat malu. mukaku sudah merah. sial!

“OKE!” teriak Kanna lagi.

aku hanya bisa mengendus kesal. malu sekali rasanya, wajahku sangat panas.

“ternyata kalau wajahmu memerah bukan karena kepanasan ya?”

“hah? apa maksudmu?”

tangan Chanyeol menyentuh dadaku, akupun langsung menepisnya.

“a-apa yang kau lakukan!” wajahku sudah sangat memerah

“kau merasa berdebar saat wajahmu memerah”

aku terdiam dan menunduk. malu sekali.

“hahaha.. kau menarik!” Chanyeol berlari dan menarik tanganku. akupun tersenyum lalu akhirnya tertawa.

‘aku senang bersamamu Park Chanyeol..’

***

aku sekarang sudah ada di kota S. kota yang sangat menarik dari Korea. sepertinya Chanyeol tahu sekali tempat menarik yang ada di Korea.

“kau harus melihat ini..” Chanyeol menarik tanganku dan mengajakku ke salah satu Game Center. dia memainkan berbagai permainan dan hasilnya selalu menang. sekarang dia memainkan game untuk mengambil boneka di dalam nya.

“aku pasti bisa mengambil ini. kau mau yang mana?” tanyanya.

aku melihat. ada berbagai macam boneka di dalam sana. aku menunjuk beruang putih dengan pita di telinganya

“yang itu!” ucapku sambil tersenyum.

“oke.. lihat baik-baik”

aku melihatnya, wajahnya sangat serius membuatku tertawa.

‘you are WIN!’

“ah! sial!!” teriaknya.

“kenapa? bukannya kau menang?” tanyaku heran. dia mengambil boneka yang dia dapat.

“maaf aku malah mengambil boneka kuda nil” katanya sambil cemberut.

“hahaha.. tidak apa-apa.. ini juga lucu”

“ya lucu karena mirip dneganmu! hahahaha”

“hei! enak saja!!”

“ayo kita ketempat yang lain”

Chanyeol mengenggam tanganku. aku sangat menikmati hari ini. aku sangat senang. aku pasti bisa melupakan Luhan oppa dan menyukainya.

***

AUTHOR POV~

langit sudah mulai tidak cerah lagi, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Raina keluar gerbang sekolahnya dan mendapati Luhan sedang tersenyum padanya.

“kenapa disini?”

“aku menjemputmu”

Raina nampak tidak senang. entah apa yang ada di dalam pikirannya. dia sangatlah tidak merasa gembira.

“ada apa?” tanya Luhan dengan nada khawatirnya. Raina hanya tersenyum.

“tidak apa-apa..”

“kau mau kesuatu tempat? aku ingin bicara sesuatu..” ucap Raina. Luhan hanya menyetujuinya. lalu mereka berdua pergi bersama.

***

KIM SERA POV~

“aku lelah!!”

“aku juga.. duduk di sana ya!” Chanyeol menunjuk kursi yang menghadap ke ujung jalan yang di bawahnya terdapat danau yang tidak terlalu terlihat di karenakan sudah mulai sangat sore.

“kau ingin minum?” tanya Chanyeol, aku hanya menggeleng

“tidak.. aku hanya ingin duduk”

“baiklah..” Chanyeol duduk di sebelahku. dia memandang ke atas, aku hanya bisa melihatnya dari samping, matanya yang indah di balik kaca matanya itu terasa sangat teduh. hidungnya yang mancung, aku baru menyadari Chanyeol memiliki bibir yang sangat lucu, dia sangat cocok jika terus tertawa dan memamerkan deretan giginya yang rapih itu.

“kau memperhatikan aku ya?” ucap Chanyeol tiba-tiba. aku langsung mengalihkan pandanganku ke depan.

“tidak!” kataku berbohong, jantungku mulai berulah lagi.

“ah! Sunset!” Chanyeol menunjuk ke arah depan, terlihat matahari itu terbenam. sangat indah.

“indah sekali..”

Chanyeol hanya tersenyum. akupun jadi salah tingkah dan buru-buru membuang mukaku.

“hahaha.. ada apa?”

“ani..” kataku sambil menggeleng.

aku terdiam. melihat matahari terbenam bersama. hari ini sungguh membuatku senang. aku sama sekali tidak memikirkan Luhan oppa, yang ada di pikiranku sekarang hanyalah Park Chanyeol.

“Chanyeol…”

“hm?”

“a-aku.. aku sudah meneyerah untuk suka dengan Luhan oppa. rasanya sangat mustahil jika aku mendapatkannya”

“kenapa tiba-tiba bicara begitu?”

“karena itu yang aku rasakan. aku ingin…”

“…ingin.. membuka hati untuk menyukaimu”

ya tuhan.. aku malu.. aku sangat malu!

“hahaha.. apa-apaan ini, jantungku berdebar!” ucap Chanyeol sambil menutup wajahnya.

“ka-kau berdebar?”

“iya.. aku benar-benar tidak menyangka kau akan mengatakan itu. kau tahu? aku sangat senang!”

aku tersenyum.

“Chanyeol?”

“nee?” Chanyeol menoleh ke arahku sambil tersenyum.

“aku.. aku mau menerimamu”

“hahaha! kau yakin? kau tidak terpaksa kan? santai saja..”

“tidak.. aku.. aku mulai menyukaimu, aku selalu salah tingkah, aku nyaman bersamamu”

“katakan kalau kau mencintaiku Sera..” Chanyeol memelukku di tempat umum. banyak orang yang melihatku. aku malu.

“a-aku..”

“ayo katakan..”

“a-aku mencintaimu, Chanyeol”

“aku juga menyukaimu, Sera”

aku tersenyum, aku memeluk tubuh dingin Chanyeol sangat erat. udara yang sangat dingin membuat pelukan ini terasa sangat hangat. akan aku jaga rasa cinta ini baik-baik. aku janji.

***

AUTHOR POV~

“Luhan..”

“ya?”

Raina dan Luhan duduk berhadapan di sebuah café dekat sekolah Raina. mereka sama sekali tidak sedang kencan, mereka berwajah tegang dan tidak ada perasaan senang yang menyelimuti mereka.

“aku ingin mengatakan sesuatu.. ini tentang Sera”

“ya..”

“aku.. ingin kita mengakhiri hubungan kita, aku melihat Sera menangis di pelukanmu saat dia masih di rumah sakit. aku  tidak merasa cemburu atau kesal, tapi aku merasa sangat sedih. aku tidak mau adikku terus-terusan mengalami rasa sakit dari dalam. hatinya pasti sakit setiap melihat kita bersama”

“tapi aku masih menyukaimu, Raina..”

“aku.. aku juga.. tapi aku lebih mementingkan kebahagiaan adikku di banding kebahagiaan aku sendiri. mungkin kita tidak di takdirkan untuk bersama”

Raina menangis, dia menutup wajahnya dan  menangis tertahan. Luhan hanya diam menunduk dan mengelus kepala Raina lembut.

“kita masih bisa berteman kan?” tanya Raina di sela-sela tangisannya.

“aku akan selalu ada untukmu.. aku sudah bilang, aku akan mengikuti semua maumu”

“terima kasih..”

“iya..”

Raina menghapus air matanya dan tersenyum . Luhan pun membalas senyumannya.

“jangan menangis..”

Raina mengangguk.

‘Sera.. aku tidak mau kau menangis lagi, aku tidak mau melihat mu sedih lagi.. ini mungkin jalan terbaik untuk ku dan Luhan. aku lebih memilih perasaan adikku sendiri.. ini.. sudah berakhir..’

***

TBC~

 

Iklan

26 pemikiran pada “Long Kiss Good Bye (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s