Love At School (Chapter 5)

Author             : @Tanti_ChoQorry

Main cast         : Xi Luhan, Kai, Oh Sehun. Song Jiyoo (OC), Choi MoonHee (OC), Han HyeRi(OC).

Genre              : School life, romance, friendship, AU

Length             : Chaptered….

Disclaimer       : story, plot and Song Jiyoo belong to me. Kai, Sehun and Luhan belong to god and themself. Pleash don’t bash my story, this story just my imagination. Plagiator not allowed !!

Happy reading Bebs~~

 _____________________________

“Aah Haebwa!” perintah Kai sambil mengacungkan sesendok sereal cokelat ke mulut gadis di hadapannya itu.

Jiyoo tersenyum geli melihat kelakuan Kai, dengan gerakan tangannya yang lembut Jiyoo membalikan sendok itu menghadap mulut Kai dan memasukannya ke dalam mulut Kai.

“Ya!! Kenapa jadi aku yang memakannya eoh?” ucap Kai saat ia sudah menelan semua makanan melewati tenggorokannya, sekarang ia mengelap mulutnya dengan tissue yang tersedia di meja mereka.

“Aku tidak lapar. Kau yang menjagaku selama ini, kau pasti lelah Kkamjong-ah, jadi kau harus makan yang banyak arasseo!” ucap Jiyoo sambil memajukan tubuhnya mencubit pipi tirus milik Kai.

Kai hanya mendengus lalu tersenyum lembut memandang gadis di hadapannya. “Mulai siang ini kau tinggal di apartemenku. Ahjusi yang menyuruhku, lagipula di rumahmu tidak ada siapa-siapa jadi…..”

“Mwo—rago? T-tinggal di apartemenmu? Keundae waeyo? Aku harus menyelesaikan kelas asramaku Kamjong-ah,” potong Jiyoo. Kedua alisnya bertaut menandakan gadis bermarga Song itu sedang dalam keadaan bingung sekarang.

“Aku sudah minta izin pada ahjusi dan kepala sekolah. Kita berdua di bebaskan dari kelas asrama,” kai kembali memakan sereal cokelat di mangkuknya.

“lalu, privat Fisika?”

“Aku sudah mempersiapkan seorang guru les profesional untuk mengajarimu. Jadi kau tidak perlu diajari oleh pria itu!”

“NAMANYA LUHAN KIM JONG IN !! BISAKAH KAU MENYEBUT NAMANYA DENGAN LEBIH BAIK!!” teriak Jiyoo, entah kenapa gadis itu mendadak emosi saat kai menyebutkan kata ‘pria itu’ yang Jiyoo yakin ditujukan kepada Luhan, guru privatnya. Terlebih Kai menyebutkan kata itu dengan nada merendahkan, kentara kalau Kai tidak suka padanya.

Kai meletakan sendoknya kembali ke mangkuknya setelah beberapa saat tertegun mendengar teriakan refleks dari Jiyoo. Ini pertama kalinya Jiyoo berteriak dengan nada marah padanya. See~ bahkan Jiyoo menyebutkan nama asli Kai dan itu semua hanya karena Luhan.

Song jiyoo hanya akan menyebutkan nama asli Kai jika gadis itu sedang marah padanya.

“Jangan menemuinya lagi Jiyoo-a, aku tidak suka,” Kai meminum jus jeruknya setelah mengatakan kalimat bernada tegas dan penuh paksaan itu.

Ia tahu jiyoo tidak akan menyukainya, Kai tahu seberapa lama ia mengenal gadis itu dan ia juga tahu kalau jiyoo sudah menaruh perasaan lebih pada tutornya itu.

Jiyoo hanya menatap Kai tidak percaya, “Jangan bilang kau membencinya karena saat kejadian itu ia sedang bersamaku Kai-a?! Jangan bilang kau menyalahkannya atas semua yang terjadi padaku. Kai~a dengar! Itu semua salahku, ia bahkan tidak tahu apa-apa, jadi ka…..”

“Keumanhae… Song Jiyoo. Turuti saja apa yang kukatakan arasseo? Kau tahu aku melakukannya karena aku peduli padamu? Karena aku tidak mau kehilanganmu. Kau tahu kalau kau adalah salah satu orang paling berharga di hidupku! Kumohon kali ini saja turuti perkataanku,” ucap Kai melemah diakhir kalimatnya, seakan ia baru saja mengungkapkan hal yang membebaninya.

Sungguh demi apapun Kai benar-benar menyayangi Jiyoo dan ingin menjaganya sebisa mungkin meskipun itu harus mengorbankan kebebasan jiyoo, meskipun sikap protektif Kai bisa membuat Jiyoo berbalik membencinya.

Jiyoo kembali terduduk di kursinya, memandang wajah Kai yang tertunduk lemah. Ia sadar, ia melukai hati Kai, ia tahu kalau Kai hanya mencoba untuk melindunginya saja.

Tapi ada suatu hal di dalam dadanya yang terasa sesak mendapati kenyataan kalau ia kemungkinan besar tidak akan bertemu dengan pria itu lagi, yeah… pria yang sudah hampir sebulan lebih menjadi tutor-nya. Luhan.

“Arasseo.”ujar Jiyoo mengembangkan senyumannya di hadapan Kai, membuat pria itu mendongakan kepalanya dan ikut tersenyum tipis.

Ada sebuncah rasa bahagia menyelimuti pria itu saat melihat senyuman Jiyoo, dan mengasumsikankalau gadis itu sudah paham maksud dan perkataannya tadi.

.

.

~~~ Hyeri POV~~~

“Keumanhae… Song Jiyoo. Turuti saja apa yang kukatakan arasseo? Kau tahu aku melakukannya karena aku peduli padamu? Karena aku tidak mau kehilanganmu. Kau tahu kalau kau adalah salah satu orang paling berharga di hidupku! Kumohon kali ini saja turuti perkataanku,” suara ketus yang biasa ku dengar itu kini berubah menjadi suara lemah yang terdengar putus asa.

Entah kenapa rasanya sesak sekali saat mendengar apa yang Kai ucapkan pada salah satu roomateku Song Jiyoo, tak kuasa menahan tangis, kututup mulutku dengan tanganku agar tak terdengar isakan dari mulutku.

Aku sudah tahu dari awal kalau aku bahkan tidak akan mungkin bisa masuk ke kehidupan Kai, bahkan hanya untuk membuatnya memikirkanku barang satu detik saja aku sangsi Kai bisa melakukannya.

Yang ada dalam kepalanya hanyalah Song Jiyoo….Song Jiyoo….Song Jiyoo.

Tidak ada satu tempatpun di kepalanya yang memuat pemikiran tentang Han Hyeri.

Sadar Han Hyeri. Kenapa masih saja kau mengharapkan Kai eoh? Kau tidak dengar nada kepemilikan yang Kai ucapkan saat ia menyebut nama Jiyoo? Menyerah saja.

Pikiran itu selalu berputar di kepalaku, namun enggan kupikirkan lebih jauh dulu. Tapi sekarang, kurasa aku memang benar-benar harus melupakan perasaanku pada Kai.

Rasanya terlalu sia-sia. Perasaan yang tak terbalas.

.

.

Kubuka pintu kamar asramaku, kulihat MoonHee sedang terbaring di ranjangnya yang terletak di atas. Kuputuskan untuk ikut merebahkan diriku di ranjang yang biasa di gunakan oleh Jiyoo.

Pikiran tentang kejadian saat di kantin tadi selalu berhasil membuat mood ku buruk, sudah ku sugestikan untuk melupakannya namun tetap saja tak berhasil. Ini menyebalkan.

“MoonHee~ya…” panggilku berharap ia akan merespon panggilanku. Aku sedang butuh seseorang untuk kujadikan tempat berbagi ke galau-an ku.

“Hmmmm….” sautnya. Ternyata ia tidak tertidur.

“Aku baru saja patah hati,” ucapku jujur padanya, ia tahu kalau aku menyukai Kai.

“Nado…” balasnya. Dan kudengar ia menghela nafas berat di balik bantalnya.

Benar, Choi MoonHee sama saja sepertiku. Sama-sama menderita penyakit cinta bertepuk sebelah tangan.

~~EXO~~

Moonhee menatap punggung seorang namja yang sedang membelakanginya itu dengan tatapan jengah, lalu bola mata obsidian itu mengalihkan tatapannya pada sebuah alat musik gesek ditangannya dengan tatapan lirih.

Yeah… semenjak kejadian yang ‘menyenangkan’ sekaligus ‘menyedihkan’ yang terjadi pada MoonHee seminggu lalu, ia memutuskan untuk mengajukan permintaan penggantian tutor pada kepala sekolah dan untungnya saja kepala sekolah mengizinkannya, yeah… meskipun harus melakukan negosiasi yang cukup melelahkan bagi telinga Moonhee saat kepala sekolah menanyakan alasannya.

Sehun di gantikan oleh seorang namja blasteran China-Kanadian bernama Henry Lau, pria yang sedang berdiri di depan MoonHee yang sedang sibuk dengan biola elektriknya, mengabaikan keberadaan MoonHee di ruangan musik ini.

“Henry-Ssi. Emm~ kapan kita memulai latihannya? Ini sudah cukup sore…. kurasa,” ucap MoonHee membuat Henry menolehkan kepalanya, menemukan seorang gadis berambut kecokelatan sedang menatapnya penuh harap dengan sebuah biola klasik di tangannya.

Henry tersenyum pada Moonhee, sejenak memberikan kesan nyaman pada gadis itu. Namun, eye-smile milik Henry mengingatkannya pada Sehun. Yeah… kedua pria itu memiliki eye-smile yang cukup mirip dimata MoonHee, meskipun ia baru sekali melihat Sehun tersenyum. Itupun bukan ditujukan padanya, melainkan pada gadis yang dicium Sehun tempo hari.

“Maaf membuatmu merasa bosan MoonHee~ssi, emm.. Kajja kita mulai sekarang,” Henry menarik tangan Moonhee menghadap sebuah kertas yang terjepit pada sebuah stand lyric, lalu henry membukakan sebuah lembaran dengan not –not yang tidak terlalu panjang. Kertas itu bahkan hanya terisi setengah bagian saja.

“Ini salah satu karya Bethoven, kau bisa memulai dari melodi ini,” ujar Henry.

Moonhee mengangguk sambil menarik nafasnya pelan, mencoba mengkonsentrasikan dirinya, mencoba menjauhkan pikiran tentang Sehun masuk ke dalam kepalanya. Ia harus fokus!! Demi kelulusan ujian praktek-nya.

Kayu panjang dengan sebuah senar itu mulai bergesekan dengan biola itu, menciptakan sebuah alunan melodi indah. MoonHee menutup matanya, merasakan melodi yang tercipta dari violin itu.

Meskipun dengan sedikit tertatih dan putus-putus, tapi Moonhee berhasil menyelesaikan satu melodi karya bethoven itu.

Ia membuka matanya dan menemukan Henry sedang tersenyum manis padanya sambil bertepuk tangan pelan. Lelaki itu lalu maju mendekat kearah MoonHee dan menepuk pelan rambut gadis itu.

“Good Job Girl~ your Awesome!!” puji Henry, membuat MoonHee tersipu. Ini adalah kali pertama ia mendengar pujian dari orang lain selain orang tuanya. Rasanya, ada sebongkah es yang masuk ke dadanya memberi kesan dingin dan menenangkan untuknya.

“Kamsahamnida Henry~ssi,” moonhee tersenyum pada Henry, anggap saja senyuman itu sebagai ucapan terimakasihnya atas pujian yang Henry berikan padanya.

“Keundae… gerakan tanganmu sedikit kaku dan itu membuat melodinya sedikit goyah di akhir lagu tadi. Tapi, kau sudah berusaha dengan baik moonhee-ssi, kurasa kau tidak perlu waktu lama untuk menjadi vionist profesional,” lagi, Moonhee menundukan kepalanya tersipu mendengar pujian dari Henry, meskipun moonhee tahu pujian itu terdengar berlebihan baginya.

Ayolah… menjadi vionist profesional?

Moonhee bahkan tidak berani untuk sekedar mengimajinasikannya saja.

Saat Moonhee mengangkat kepalanya, ia merasa jantungnya hampir lepas dari rongga-nya saat menemukan seorang pria sedang menatap tajam kearahnya.

Pria itu—– Oh Sehun menyeringai tipis pada Moonhee dan langsung enyah dari tempat itu sesaat setelah mata mereka bertatapan untuk sepersekian detik.

.

.

Jiyoo berjalan lunglai di koridor sekolah yang sudah mulai sepi, maklum saja. Semua anak kelas 2 dan 1 sudah pulang semenjak 2 jam yang lalu, dan sisanya anak kelas 3 sedang belajar dengan tutor masing-masing.

Ngomong-ngomong soal tutor, Jiyoo jadi teringat lagi pada seseorang itu. Seseorang yang entah kenapa selalu bisa membuatnya salah tingkah, seseorang yang selalu dengan berani dan tidak tahu malunya mengatakan kalau ia menyukai Jiyoo, seseorang yang akan dengan sangat kejamnya menghukumnya jika Jiyoo malas mengerjakan deretan soal fisika yang ia berikan. Yeah… seseorang yang ia rindukan. Luhan.

Langkah kakinya terhenti saat melewati sebuah ruangan besar yang terletak bersebelahan dengan laboratorium kimia. Perpustakaan.

Tempat yang biasa ia dan Luhan gunakan untuk belajar. Jiyoo ingat mereka berdua sering di marahi oleh penjaga perpustakaan karena selalu membuat keributan saat sedang belajar.

Dengan harapan pria bernama Luhan itu ada di dalam perpustakaan, Jiyoo memantapkan hatinya membuka pintu besi itu dan masuk ke dalamnya.

Tubuhnya langsung disambut dengan hembusan dingin dari AC perpustakaan yang sepertinya lupa di matikan oleh sang penjaga perpustakaan.

Ruangan itu nampak sepi dan lenggang, Jiyoo bisa melihat satu sampai 3 orang saja termasuk dirinya yang ada di tempat ini.

Kakinya membawanya ke sebuah tempat di mana ia dan Luhan sering belajar bersama. Sebuah meja dengan 4 kursi yang biasa ia tempati. Tempat yang tidak terlalu mencolok dan sedikit terpojok.

Bibir Jiyoo tertarik ke belakang saat melihat siluet pria yang sedang –ekhem– dirindukannya itu tengah menunduk membaca sebuah buku. Pria itu duduk membelakanginya hingga tak sadar kalau sedari tadi diperhatikan oleh Jiyoo.

“Luhan.” Panggil Jiyoo pelan, tapi masih bisa didengar oleh si empunya nama.

Luhan menoleh kaget saat menemukan Jiyoo sedang berdiri di belakangnya. Ada rasa senang membuncah di dadanya, rasanya ia seperti menemukan kembali oksigennya yang entah kenapa seakan ditarik oleh pencipta-Nya akhir-akhir ini.

Tapi seakan belum cukup, pria itu di tarik ke kejadian beberapa hari lalu. Dimana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat gadis di hadapannya ini sedang sekarat akibat kecerobohannya sendiri. Luhan nyaris membunuh dirinya saat melihat kejadian itu. Terlalu menyakitkan baginya.

“Luhan~Xi…..” panggil Jiyoo lagi karena sedari tadi Luhan tidak menggubris ucapannya.

Dengan terburu-buru Luhan langsung membereskan buku-buku miliknya ke dalam tas dan bergegas pergi melewati Jiyoo begitu saja.

Enggan kehilangan kesempatan, Jiyoo langsung menarik lengan Luhan. Membuat langkah pria itu terhenti, namun masih enggan menoleh untuk sekedar menatap wajah Jiyoo.

“Luhan~… ada apa denganmu? Kau menjauhiku? Kalau ini masalah yang wak—“

“Anie.. anieyo. Aku tidak menjauhimu,” elak Luhan melepaskan genggaman tangan Jiyoo di lengannya.

“YA!! XI LUHAN BERHENTI !!” Jiyoo mengejar Luhan lalu menarik lagi lengan pria itu. Tarikan Jiyoo yang cukup kuat sukses membuat punggung Luhan membentur salah satu dinding rak yang terletak disisi kiri tubuh keduanya. Tas dan buku yang di bawa luhan bahkan berceceran di lantai akibat tarikan keras jiyoo.

“KAU TAHU AKU BENCI DIABAIKAN!!” teriak Jiyoo tak terkendali, nafasnya terengah menandakan ia sedang berada dalam tingkat emosional yang tinggi. “JADI BERHENTI MENGABAIKANKU XI LUHAN !!”

Luhan menunduk enggan melihat wajah Jiyoo yang memerah karena marah, Luhan yakin ia masih melihat wajah pucat dari gadis itu menandakan gadis itu belum benar-benar pulih sepenuhnya dan hal itu makin menciutkan keberaniannya untuk sekedar menatap mata gadis di hadapannya.

“Sudah cukup teriaknya? Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu Jiyoo-ssi. Aku pergi,” lagi Luhan melangkahkan kakinya menjauh dari Jiyoo. Namun sama seperti tadi, Jiyoo menarik lengan Luhan menghempaskannya kasar ke rak buku di sisi kanannya, membuat beberapa buku berjatuhan karenanya.

Luhan merasakan ngilu di punggungnya akibat membentur rak kayu itu, ia memejamkan matanya menahan rasa sakit itu.

“Sudah kubilang aku……”

Bagaikan disengat ribuan pikachu (lebay), Luhan membatu di tempatnya saat sebuah material lembut menyentuh bibir miliknya. Jiyoo menciumnya, dengan tangan yang menarik kerah blazer seragam Luhan, Jiyoo mencium pria itu dengan cukup liar seolah menyalurkan semua kegelisahan yang ia rasakan selama ini.

Terbawa suasana, Luhan menutup matanya enggan menolak perlakuan Jiyoo. Ia laki-laki, menikmati dan menuntut lebih bukankah wajar?

Jiyoo melumat bibir luhan, menghisap tiap belahannya dengan lembut. Begitu juga dengan Luhan yang sudah terbawa suasana. Ia balas melumat bibir Jiyoo merasakan sentuhan lembut bibir Jiyoo di bibir miliknya, hingga tanpa sadar mereka menimbulkan decakan-decakan cukup keras di ruang perpustakaan yang sepi itu.

“Jiyoo-a,” ucap Luhan disela pertautannya. Pria itu memeluk pinggang Jiyoo, sedikit mengangkatnya untuk mensejajarkan tinggi gadis itu dengan tinggi tubuhnya, memudahkannya mengeksplorasi pertautan itu.

Gerakan kepala keduanya bergerak berlawanan arah, mencari posisi yang nyaman bagi keduanya untuk lebih menikmati hal yang sedang mereka perbuat. Gerakan bibir itu makin lama makin tak terkendali, lengan Jiyoo memeluk leher luhan menariknya agar makin memperkuat ciuman liar itu sedangkan naluri lelaki Luhan keluar, ia menggigit pelan bibir bawah gadis itu seakan memintanya untuk membuka mulut mengizinkan lidahnya bereksplorasi lebih di mulut Jiyoo.

Sesaat setelah mulut Jiyoo terbuka, lidah luhan melesak masuk kedalam-nya, mencari-cari lidah pasangannya seakan mengajaknya perang lidah dan bertukar saliva.

Sadar kebutuhan oksigen untuk paru-parunya semakin meningkat, Jiyoo melepaskan pertautan liarnya dengan Luhan. Dengan wajah memerah, Jiyoo menatap Luhan yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut dan dalam.

“Hah…hah.. Babo.. Luhan Babo !” ucap Jiyoo masih terengah, lengannya masih melingkar di leher luhan begitu juga dengan tangan Luhan yang masih mengangkat tubuh Jiyoo.

Keduanya saling menatap satu sama lain, mencoba melihat isi hati lawan mereka melalui bola mata.

Luhan mengenyitkan alisnya mendengar gadis itu memanggilnya ‘bodoh’. Ayolah… Luhan pernah jadi juara olimpiade fisika dan matematika. Dan gadis itu memanggilnya bodoh sekarang?

“Aku pintar. Kau ingat aku pernah…..”

“Kalau kau pintar kau pasti akan menemuiku setelah aku sadar eo! Bukannya malah menghindariku seperti seorang pengecut !” desis Jiyoo.

Luhan menunduk, sadar kalau dirinya memang benar-benar pria terbodoh di dunia. “Mian..aku hanya…”

“kalau kau menjauhiku karena kai yang menyuruhnya. Kenapa kau mau menuruti perkataannya? Kau bahkan selalu melawan perkataanku yang bahkan memiliki pengaruh lebih besar dari pada Kai ingat!” potong Jiyoo lagi. Gadis itu benar-benar kesal dengan Luhan.

“Kemana perginya Luhan yang selalu bersikap kurang ajar padaku eoh?” jiyoo melembut, kepalanya menunduk. Rasanya hatinya lega sekali setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan.

Luhan mengangkat dagu Jiyoo yang tertunduk, membuat mata hitam milik gadis itu menatap langsung ke mata cokelat miliknya. “maaf karena aku terlalu pengecut,”

Sapuan lembut dan singkat mendarat di bibir Jiyoo, membuatnya sejenak memejamkan matanya menerima perlakuan singkat itu.

“dan…Heii…aku tidak pernah tahu kalau kau memiliki sisi liar seperti tadi,” lanjut Luhan dengan nada jenakanya seperti biasa.

Jiyoo membelalakan matanya heran, “Mwo? Apa maksudmu?”

“Eiy… menarik tubuhku dan menciumku dengan liar seperti tadi. Aku benar-benar terkejut tau!” goda Luhan sambil mencolek pipi jiyoo.

Dengan muka memerah Jiyoo melepaskan lengannya dari leher Luhan, lalu membereskan pakaiannya yang sedikit kusut akibat perbuatan tak terkendalinya tadi.

“Mwo-mwoya? A-aku… itu….”

“Mwo? Jangan bilang kalau kau mencintaiku Jiyoo-ssi,” goda Luhan lagi membuat Jiyoo makin merasakan suhu tubuhnya meningkat. Ia yakin wajahnya mirip seperti kepiting rebus sekarang.

“A-anieyo a-aku tidak bilang begitu. Aku hanya….”

Jiyoo mengehentikan ucapannya saat merasakan tangan luhan memeluk pinggangnya makin erat membuat tubuhnya kembali menempel dengan Luhan. “Katakan…” bisik Luhan di telinga Jiyoo, membuat bulu kuduk Jiyoo meremang.

“Katakan kalau kau mencintaiku juga. Jiyoo-a,”

Jiyoo menghembuskan nafasnya gugup. “Aku tidak akan mungkin mencium orang yang kubenci. Kau puas Luhan Xi?” ucap Jiyoo akhirnya membuat Luhan merasa menjadi lelaki paling bahagia di dunia ini.

Gadis yang ia sukai ternyata memilki perasaan yang sama seperti dirinya. Adakah hal yang lebih baik dari itu?

;

;

;

Kai menghembuskan nafasnya pelan saat melihat dua orang yang sedang memojok di perpustakaan itu tengah bercanda satu sama lain. Ia sudah berada di tempat ini sekitar 15 menit yang lalu dan barang tentu sudah melihat semua yang dilakukan Jiyoo dan Luhan.

Bibirnya tersenyum tipis seraya kakinya bergerak keluar perpustakaan. Ada sesuatu yang membuat dada kirinya sakit melihat Jiyoo yang tampak bahagia dengan luhan, tapi bagian lain dari hatinya merasakan rasa lega yang teramat sangat saat melihat gadis itu bisa dengan mudahnya tersenyum pada orang lain selain dirinya.

“Kurasa kau sudah menemukan orang lain yang akan menjagamu lebih baik daripada aku Jiyoo-a,” batin Kai.

Kai berjalan ke suatu tempat yang sudah hampir seminggu ini tidak ia datangi. Ruangan dance.

Entah kenapa ia sangat ingin sekali kesana, biasanya saat suasana hatinya sedang buruk Kai akan menghabiskan waktunya di ruangan dance, menghabiskan seluruh energinya untuk menarikan semua jenis tarian yang ia kuasai. Karena hanya dengan menari, Kai bisa menenagkan kembali hatinya.

Kai membuka ruangan itu dengan pelan, alunan musik hip hop langsung menyerbu telinganya saat pintu itu terbuka lebar.

Kai tertegun saat melihat seseorang sedang meliuk-liukan tubuhnya mengikuti alunan dari irama hip hop di hadapan cermin dua sisi itu.

Entah tidak sadar atau tidak peduli dengan kehadiaran Kai, gadis bernama Han Hyeri itu tetap meliuakan tubuhnya seolah menganggap Kai tidak berada di ruangan itu.

Brukk…

Hyeri terjatuh saat kaki kirinya salah gerakan dan membelit kaki kanannya sendiri, kini gadis itu berlutut memegang lututnya yang terasa sakit akibat terjatuh tadi.

Kai bergegas menuju Hyeri dan membantu gadis itu untuk berdiri.

.

.

Lee hyukjae-ssi tidak bisa mengajariku berlatih dance saat ini, jadi terpaksa aku harus berlatih sendiri mengandalkan beberapa MV dan live performence yang ada di dalam komputer sekolah ini.

Turn up the love… lagu yang dinyanyikan oleh 3 rapper korea yang tergabung dalam far east movement yang berhasil go internasional itu kupilih sebagai background dance ku saat ini.

Aku sudah melihat live performancenya dan kurasa dance-nya tidak terlalu rumit. Yeah… move on.. aku sudah dewasa dan aku harus sudah bisa belajar sendiri.

Beberapa gerakan sudah kulakukan dengan cukup baik menurutku, tapi entah hilang kemana fokus yang sudah kubangun sebelum mulai menari tadi, tiba-tiba saja kaki kiriku salah gerakan dan malah membelit kaki kananku sendiri dan alhasil aku terjatuh dengan mulus di lantai dance yang terbuat dari kayu ini.

Ck… nan jeongmal babo-ya…

Ku jongkokan tubuhku untuk mengecek lututku yang terasa benar-benar ngilu saat ini.

Huh… memar?

Bisa kulihat lututku yang berubah warna menjadi sedikir biru kehitaman, sepertinya aku terjatuh terlalu keras tadi.

“Han Hyeri babo, bagaimana bisa kau tidak bisa melakukan gerakan mudah seperti itu eoh?” tubuhku membeku seketika saat mendengar sebuah suara bass mengalun di telingaku.

Apa aku tidak sedang bermimpi? Apa aku tidak sedang berimajinasi?

Aku mendongakan kepalaku dan menemukan Kai ada di hadapanku sekarang dengan senyuman mengembang di bibirnya.

Oh? Dia tersenyum padaku?

“Ini pasti hanya mimpi,” gumamku tak sadar.

“babo..kau pikir aku hanya halusinasi eoh!”

Jeongmalyeo?? Ja-jadi aku tidak sedang bermimpi? Jadi Kai benar-benar sedang ada di hadapanku sekarang?

Tangannya terulur di hadapanku, seolah memintaku untuk membalas uluran tangannya.

Lama tak memberi respon, Kai menggoyangkan tangannya di hadapan wajahku lalu tersenyum geli.

“Kajja berdiri Han Hyeri, kau harus latihan lagi tahu ! ujian praktek tidak akan lama lagi,” ujarnya.

Aku membalas uluran tangannya dengan sedikit ragu, Kai berjalan ke arah komputer yang memutar musik hip hop yang tadi kupilih, ia lalu mengganti music itu dengan sebuah lagu up beat milik SHINee. Replay.

Tubuhku menegang saat kurasakan tangan kekarnya menyentuh pinggangku, menggerakannya sesuka hatinya bagaikan aku adalah sebuah boneka kayu.

Replay…Replay… replay..

Tangannya mengangkat jemariku dan menggerakannya sesuai seperti apa yang terlihat di music videonya.

“Awas kakimu !” ingatnya saat aku hampir membuat kesalahan lagi. Setelah bisa kuatasi kulihat Kai tersenyum lagi dan kembali meraih pinggangku, menggerakannya sesuai dengan irama dari lagu up beat itu.

30 minutes later

“Ini…” aku menyodorkan sebotol air dingin ke arah Kai yang sedang duduk di lantai, bisa kulihat dengan jelas peluh membasahi wajahnya membuat kesan eksotis makin melekat pada imagenya.

“Gomapta,” aku ikut duduk di sampingnya, tentu saja masih dengan personal space sekitar setengah meter darinya.

Keheningan melanda kami berdua, tidak ada yang berani membuka suara untuk sekedar mencairkan suasana.

Bagaimana jika Aku yang memulai?

Bermimpi saja aku melakukan hal seperti itu.

Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya lewat sudut mataku dan aku menyesal melakukan hal itu. Tahu kenapa? Karena setiap kali melihat lekukan wajah itu maka aku akan terus-terusan melihatnya. Bagaikan heroin yang harus ku hisap setiap hari. Menjadi candu bagiku.

“Ya! Berhenti menatapku dengan mata kucingmu itu Hyeri~ssi!,”

Aku tercengang mendengarnya yang tiba-tiba bersuara. Mwoya? Dia tahu aku diam-diam memerhatikannya?

Memalukan.

“Eh.. anieyo. Kau percaya diri sekali Kai~ssi,” elakku. Harga diriku akan jatuh serendah mungkin jika aku mengatakan kalau yang dikatakannya itu memang benar. Aigoo~

“Sudahlah jangan mengelak,” ucapnya sambil bangkit berdiri dan mengambil tasnya. Ia berjalan ke arah pintu keluar, sepertinya ia sudah mau pulang.

“Hyeri~ssi !!” panggilnya saat sudah berdiri di ambang pintu keluar. Ia menolehkan kepalanya padaku membuatku terkesima melihat betapa kuat-nya karisma yang dimilki oleh Kim Jong In.

“Sabtu nanti, bisakah kau menemaniku ke suatu tempat?” mohonnya yang lebih mirip seperti perintah yang tidak boleh kutolak.

“K-kemana?”

“Nanti kuberitahu. Jadi…. bisakah?”

Aku mengangguk, “Tentu,”

“Gomawo Hyeri~ah…” dan setelah mengatakan itu ia tidak terlihat lagi oleh jarak pandangku.

Aku terpekur di tempatku duduk. Apa telingaku tidak salah dengar? Kai menyebutku dengan banmal?

Hyeri~a..??

Sungguh demi apapun aku merasakan rasa senang dan bingung dalam waktu bersamaan saat ini.

Bagaimana bisa Kai membuat hidupku jungkir balik seperti ini?!!

.TBC.

Maaf menunggu lama readerss….

Saya Hiatus selama ramadhan…

Tapi aku sedikit kecewa nih sama siders, yang baca fanfic Love at school ini hampir ratusan, tapi yang komen gak nyampe 10% nya..

Mohon buat siders segera tobat ya… 😀

Ok… Keep RCL ya.

Iklan

102 pemikiran pada “Love At School (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s