Infinite (Chapter 1)

Title                       : Infinite

Author                  : Alettallura

Main Cast            : Kim Jong In, Naomi Morie, Kris, Xi Luhan

Genre                   : Romance

 ______________________

“Seoul” Sapanya dalam hati. Huh… terdengar desahan ringan. Perjalanan sangat jauh ia tempuh, dari London menuju Seoul, tentunya sangat melelahkan, dan sekarang ia telah menginjakkan kakinya di Incheon Airport. Wajahnya tampak sangat lelah, sepertinya ia mengalami jetlag. Entah perasaan apa yang ia rasa setelah kembali menginjakkan kakinya disini. Sudah delapan tahun ia tak pernah lagi menginjakkan kakinya ditanah ini, tanah kelahiran ibunya.

Eomma telah memberitahunya bahwa hari ini ia tidak dapat menjemput putrinya di bandara. Eomma harus datang ke perayaan pernikahan adik perempuannya, yang merupakan imonya. Tp eomma telah meminta tolong putra dari tetangganya untuk menjemputnya. Namanya Kris katanya.

‘Naomi Morie Fletcher from London’ begitulah tulisan yang tertulis pada papan putih yang dilihatnya. Seorang pria bertubuh jangkung mengangkatnya tinggi-tinggi. Wajahnya tampak bete.

“Hello! I’m Naomi.” Sapa Naomi yang langsung disambut dengan wajah bingung dari Kris. Lalu buru-buru ia membukukkan badannya. “Annyeong! Aku Naomi.”

Ia tersenyum, “Annyeong!” seraya membukukkan tubuhnya.

“Jadi eomma yang meminta mu untuk menjemputku?” Tanyanya.

Ia hanya mengangguk. Lalu berjalan begitu saja meninggalkan Naomi.

Naomi hanya mengernyitkan dahinya. Segera ia mengejar laki-laki yang tadi membawa-bawa papan yang bertuliskan namanya.

“Hey, you! Wait me! Kenapa kau meninggalkan ku begitu saja?” Tanyanya yang sedang berusaha menyamakan langkahnya dengan Kris. Kris hanya diam. “Ada apa dengan mu?! Why the fuck did mommy command u to pick me up? Oh damn you, bitch!”

Dia hentikan langkahnya, memandang baik-baik wanita yang tadi marah-marah didepannya. “Shut the fuck up! Just follow me, bitch!”

Naomi kaget, ia tidak percaya bahwa lelaki itu mengerti bahasa inggris. Ia kira Kris tidak paham, karena saat pertemuan pertama mereka tadi, Kris tampak sedikit binggung dengan sapaannya yang sudah terbiasa dengan budaya barat. Tapi ternyata ia salah.

Kris masuk kedalam mobilnya, sedangkan Naomi masih bingung. Ia merasa malu dengan kejadian tadi.

Kris membuka kaca mobilnya. “What are you doing? Cepat masuk!”

“Bagaimana dengan barang-barang ku?” Matanya tertuju pada koper dan ransel yang ia bawa.

Akhirnya Kris turun dari mobilnya. Ia membuka bagasi mobil dan memasukkan semuanya kedalam bagasi.

Naomi masih tetap berdiri diam disamping mobil Kris. Sepertinya Kris mulai kesal. “Haruskah aku membukakan pintu untukmu?”

Dengan segera Naomi masuk kedalam mobil Kris. Naomi hampir gila dengan cara menyetir Kris. Are you trying to kill me? Desahnya dalam hati.

Setengah jam kemudian mobil Kris sudah terparkir di pelataran rumah eomma nya Naomi.

“Ini rumah ku?” Tanyanya pada Kris yang kala itu memberikan kunci untuk Naomi.

“Kamu sendiri tidak tahu rumah mu?” Ucapnya dengan nada yang terbilang tinggi.

Naomi menggeleng. “Ini pertama kalinya aku datang.”

“Iya. Karena ini juga pertama kalinya aku tahu kalau Allura punya adik.” Ucapnya singkat. Namun tampak jelas dari raut wajahnya, ia sedang tidak kesal, tapi seperti tertekan, atau mungkin sedih.

Naomi tampak bingung, “Oh iya! Dimana Allura? Bisa-bisanya eomma meminta orang seperti mu menjemputku, apakah ia ikut dengan eomma?”

Kali ini Kris benar-benar menampakkan wajah kagetnya. Ia benar-benar tertekan kali ini.

“Hey, kau! Kenapa diam?” Suara Naomi membangunkannya dari lamunan masa lalu.

Cepat-cepat ia mengontrol perasaannya. “Aku pulang dulu.”

Naomi yang bingung hanya diam melihat Kris yang sekarang masuk kedalam mobilnya. Ketika mobil Kris keluar dari pelataran, Naomi berteriak “Thank you, bitch!”

Kris mengeluarkan jempolnya dr kaca mobilnya, yang lalu membalikkan posisi jempolnya.

Segera Naomi membawa semua barangnya kedalam. Eomma bilang kamarnya dilantai dua, yang bercat-kan biru, warna favorite nya. Dengan susah payah dibawanya koper ke lantai dua. Ada dua kamar disana. Ia membuka kamar pertama yang ia lewati. Dindingnya berwarna pink. “Pasti ini kamar eonnie.”

Ia menutup kembali pintu kamar yang ia buka tadi. Berarti kamar yang kedua inilah yang menjadi kamarnya. Segera ia membuka pintu kamar, dan benar saja. Dinding berwarna biru seperti laut dengan boneka stitch yang tertata rapi diatas tempat tidur. Tak lupa foto-foto masa kecilnya.

Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini terasa sangat melelahkan sekali. Ia memejamkan matanya sejenak. Air matanya mengalir begitu saja. Entah seperti apa rupa eomma, juga eonnie saat ini. Delapan tahun berpisah dengan mereka, selama itulah daddynya seakan memisahkan mereka. Delapan tahun ia hidup dalam kesepian. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. Daddynya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Pikirannya membawanya kembali pada kejadian seminggu yang lalu. Ia melihat daddynya dengan wanita lain. Bukan hanya itu saja, ia melihat daddynya sedang menggendong anak perempuan berumur sekitar lima tahun. Betapa sakitnya ia saat itu. Selama ini daddynya telah membohonginya.

Air matanya terus mengalir mengingat kejadian itu. Sejak saat itu ia tidak mau bertemu dengannya lagi. Ia sudah terlalu sakit. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Seoul. Dengan susah payah ia mencari nomor telepon eomma dan segera memutuskan untuk tinggal dengan eomma. Daddynya hanya pasrah. Bagaimanapun daddy menjelaskan padanya, ia tetap tidak ingin mendengarkannya.

Untungnya Naomi masih dapat menguasai bahasa korea, karena selama di London ia juga mengikuti kursus bahasa korea. Daddynya sendiri juga tidak benar-benar menguasai bahasa korea, karena daddynya memang asli orang inggris, sedangkan mamanya keturunan Japan-Korea.

Sekitar pukul tujuh malam seseorang datang ke rumah. Naomi buru-buru berlari melewati tangga. Perasaannya campuraduk. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan nanti. Apa yang harus dilakukannya setelah delapan tahun tidak bertemu dengan orang yang ia sayang?

Naomi membuka pintu dan melihat seorang wanita cantik bermata sipit, hidung mancung dan memiliki bibir yang agak tipis, sama sepertinya. Kerutan di wajahnya menujukan kelelahan yang sangat berat. Perlahan wanita itu menangis dan lalu memeluknya. Sangat erat.

“Naomi, ini benar-benar kau? Aku sungguh tidak percaya. Seperti mimpi.” Katanya penuh isak.

Begitupun Naomi, air matanya tumpah membasahi pakaian yang digunakan eomma. “Eomma, ini Naomi, aku putri mu. Aku juga benar-benar merindukan mu.”

Setelah lepas kangen dengan eommanya, mereka duduk bersamaan diruang tv.

“Eomma, dimana eonnie? Kenapa eomma tidak menyuruh dia saja yang menjemputku?”

Eomma benar-benar sedih mendengar pertanyaan Naomi. Ia tidak tahu apalagi yang harus ia sampaikan.

Melihat perubahan pada eomma, ia turut manjadi bingung. Sama seperti Kris tadi. “Ada apa sebenarnya eomma?”

“Sebaiknya kamu tidur sayang. Ini sudah malam. Besok eomma akan mengajakmu ke suatu tempat.” Lalu ia mengajak putrinya ke kemarnya. Untuk pertama kalinya, setelah beberapa tahun, mereka pun tidur bersama.

Sekitar pukul delapan Naomi baru bangun dari tidurnya. Tirai jendela sudah dibuka, semburat cahaya matahari menyipitkan matanya.

Di ruang makan, eomma sudah menyiapkan banyak makanan. Ia mencari dimana eomma, yang ternyata sedang menyapu halaman didepan. Eomma juga menyuruhnya untuk makan.

“Eomma sudah makan?” Tanyanya pada eomma.

“Eomma sudah makan. Sekarang kamu saja makan.” Serunya.

Naomi menghampiri eomma, “aku maunya sama eomma.” Seraya menarik tangan eomma.

“Baiklah.”

Setelah makan, eomma mengajaknya ke suatu tempat. Tapi eomma tidak  mau memberitahunya tempat apa yang akan mereka datangi.

“Eomma.. sebenarnya kita mau kemana?” Kalimat itu sudah berulang kali ia ucapkan, tapi eomma hanya diam, lalu tersenyum.

Disuatu bukit dengan udara yang sangat sejuk. Naomi seperti tau tempat apa ini. Ia juga suka menonton drama korea, dan ia yakin, ini tempat pemakaman umum.

“Eomma, kenapa eomma mengajak ku kesini? Kita akan ke makam siapa? Eomma, harusnya aku bertemu eonni hari ini.” Ucapnya agak bete.

Disana ia melihat lelaki yang kemarin menjemputnya. “Kris?”

Lelaki itu menoleh lalu memberi salam, “Annyeong haseyo!”

Eomma melakukannya juga yang lalu diikuti oleh Naomi.

“Aku tidak tahu kalau ajumma akan kesini. Harusnya kita bisa berangkat bersama.”

Eomma hanya tersenyum.

“Eomma, kita mau ke makam siapa?” Lagi-lagi Naomi menanyakannya pada eomma.

Tampak raut yang sangat sedih. Kris dapat melihat ekspresi itu.

“Baiklah ajumma, aku akan tunggu kalian dimobil.” Ucap Kris sangat sopan.

“Ajumma sepertinya akan lama.” Katanya.

“Tidak apa-apa. Aku akan tunggu ajumma dan Naomi.” Setelah itu Kris meninggalkan mereka berdua. Kris tahu, ini akan menjadi sangat berat untuk ajumma.

Eomma diri dihadapan suatu makam. Ia memberikan salam, matanya mulai mengeluarakn butiran-butiran air mata. “Ini dongsaeng mu, Naomi. Kamu ingat kan?”

Mendengar kalimat itu, tangis Naomi seakan pecah. Tubuhnya lemas, kakinya seperti sudah tidak sanggup menopang tubuhnya.

Eomma juga menangis. Eomma menjelaskan semuanya pada Naomi. Tentang kecelakaan yang dialami Allura tiga bulan yang lalu. Eonnie koma dan sebulan yang lalu akhirnya ia pergi.

“Eonnie…” Ia mengelus tanah didepannya. “Eonnie, aku belum sempat melihatmu. Aku belum lihat wajah cantikmu. Eonnie….”

Setelah lama mengunjungi eonnie, Naomi dan eomma kembali. Kris masih menunggu mereka didalam mobilnya. Kris segera turun dan membukakan pintu untuk eomma dan Naomi.

“Thanks!” Seru Naomi lemah.

“You’re welcome.” Balasnya dengan senyum.

Suasana dimobil nampak canggung. Naomi masih sedih dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya. Ditambah kenyataan bahwa daddynya tau mengenai hal ini, tapi ia tidak memberitahunya.

“Ajumma, bagaimana kalau kita pergi ke Nami Island. Itu tempat yang indah. Aku yakin Naomi akan menyukainya.”

Eomma sempat ragu dan kemudian meng-iya-kan tawaran Kris.

Beberapa jam perjalanan dengan menyebrang pulau akhirnya mereka lewati. Walaupun ini musim panas, Nami Island tetap terasa sangat indah.

“Inikah Nami Island yang sesungguhnya?” Naomi seakan takjub dengan keindahan alam disini.

“Kau mengetahui tempat ini?” Tanya Kris.

Ia mengangguk mantap. “Tentu saja. Aku suka sekali drama korea, dan disinilah lokasi drama winter sonata. Andai saja ini musim dingin…”

Eomma tersenyum melihat Naomi yang begitu bahagia. Walaupun sebenarnya tempat ini menyisahkan kenangan-kenangan yang indah juga sampai yang paling buruk bersama Allura.

“Disana ada sebuah taman bunga. Walaupun ini bukan musim semi, tapi bunga-bunga disana selalu tumbuh dengan baik.” Jelas Kris sambil menunjuk sebuah taman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Naomi bisa melihat tempat itu. Pasti indah sekali.

Eomma memilih duduk dibangku taman, sedangkan Naomi dan Kris berjalan-jalan ditaman.

Naomi membuka pembicaraan, “Kau sering datang kesini?” Kris mengangguk. “Apa yang membuat tempat ini spesial? Boleh aku tahu?” Kris mengangguk lagi.

“Lalu apa? Apa kamu tidak bisa bicara? Kenapa kau hanya mengangguk setiap aku bertanya?” Tanyanya agak kesal.

“Aku ingin memberitahu mu, tapi aku hanya tidak bersemangat untuk membicarakan ini.” Katanya singkat.

Kaki Naomi terus berjalan menyusuri taman dan berhenti dibawah pohon besar.

“Aku akan memberitahu mu jika kamu memang ingin tahu mengapa tempat ini begitu spesial untuk ku.” Kata Kris tiba-tiba.

Naomi menatap Kris, mata Kris seakan menerawang. “Kalau kau ingin memberitahu ku, aku akan senang.”

Kris berpikir sejenak. “Tempat ini, tempat yang sangat spesial untukku. Tempat yang selalu ku datengi dengannya.”

“Siapa?”

“Seseorang.”

“Pacarmu?” Tanya Naomi sedikit penasaran.

Ia menggeleng.

Hening. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Apa kau mengenal eonnie dgn baik? Allura.. terakhir kali aku bertemu, delapan tahun yang lalu. Entah seperti apa wajahnya aku tidak ingat.” Matanya juga mulai menerawang. Membayangkan masa kecilnya.

Kris mengangguk. “Kami satu sekolah. Dia teman kecilku juga. Dia gadis baik. Ini juga tempat favorite nya. Dibawah pohon ini biasanya dia menceritakan segalanya padaku.”

Naomi menatap Kris, ia dapat melihat kesedihan dimata lelaki itu. “Berarti kau lebih tua dari ku? Haruskah aku memanggil mu dengan sebutan ‘oppa’?”

Dia sedikit tertawa dan menggeleng. “Kau panggil aku Kris saja. Oppa adalah sebutan untuk kakak laki-laki, atau orang yang kau sayangi. Jadi lebih baik kau panggil aku Kris. Aku tau kau sudah terbiasa dengan budaya barat.”

Ia tersenyum. “Sepertinya kau dan Allura eonnie sangat dekat?”

Kris tidak menjawab. Ia hanya terus menikmati tempat yang sudah tiga bulan ia tak datangi ini. Karena dulu, setiap bulannya ia selalu menyempatkan sekali atau dua kali untuk datang.

Setelah berkeliling dan mencicipi kuliner disana, mereka memutuskan untuk pulang.

Eomma sudah mengurusi perpindahan sekolah Naomi. Naomi satu sekolah dengan Kris. Ia menempati Dongnyang High School. Ia mencoba menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Ia tidak mau bersikap buruk seperti dulu. Ia jauh lebih pendiam dari sebelumnya, apalagi setelah tahu bahwa eonnienya telah meninggal dunia.

Kris telah menceritakan tentang eonnie nya disekolah. Ia termasuk populer disekolah karena kecantikan dan kebaikan hatinya. Memang benar, eonnie sangat cantik, Naomi tau itu dari foto-foto di kamarnya. Eonnie juga termasuk murid berprestasi. Sepertinya hidupnya sempurna. Oleh karena itu, ia meminta Kris untuk berpura-pura tidak mengenalnya dan menembunyikan identitasnya sebagai adik dari Allura Aletta.

Hari pertama ia sekolah, tak satupun dari mereka yang ingin berteman dengannya. Mungkin penampilan Naomi yang pendiam dan acak-acakan membuat mereka ragu untuk berteman dengan Naomi.

Di jam istirahat ia hanya pergi ke kantin sendiri. Memang terasa sangat aneh, karena di sekolahnya dulu, ia selalu menjadi anak yang popular. Tapi sekarang ia berpenampilan sangat beda. Ia terlihat agak berantakan dan tidak paham trend, ia juga menggunakan kacamata dengan frame yang cukup besar.

Ia duduk di meja hanya sendiri. Matanya tertangkap oleh Kris. Tapi kemudian ia buru-buru mengalihkan pandangannya.

Gerombolan yang berisikan empat orang perempuan dengan aksesoris serba merah datang menghampiri Naomi. Seorang yang berdiri ditengah, yang nampaknya ketua dari mereka berjalan mendekati Naomi.

“Kau murid baru disini?” Tanyanya acuh. Naomi hanya mengangguk. “Kau tahu, tempat yang kau duduki adalah meja kami. Kau tidak seharusnya duduk disini.

“Tentunya aku tidak tahu.” Ucapnya yang masih sibuk mengunyah. “Kau sendiri tahukan bahwa aku murid baru disini? Aku juga sudah bilang tadi. Ya jadi mana ku tau ini tempatmu.”

Yeoja yang ditengah seakan sangat marah. Dengan kesal ia menyiramkan air yang dibawanya pada Naomi. Tentunya Naomi sangat kaget. Semua mata sekarang hanya tertuju pada mereka, mereka mulai mengerumuni meja yang ditempati Naomi.

Naomi hanya diam tak bersuara, ia sibuk membersihkan seragam nya yang basah. Rasanya ingin meluapkan semua, tapi ia berusaha untuk sabar.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau hanya diam?” Matanya menatap tajam Naomi.

Hampir saja ia menampar Naomi, sebelum seseorang menahan lengannya. “Noona! Apa yang kau lakukan? Kau tidak seharusnya melakukan ini.”

Naomi bisa melihat namja bertubuh kurus sedang memarahi orang yang tadi disebutnya dengan sebutan ‘noona’.

“Ada apa dengan mu? Ini bukan urusan mu!” Balas yeoja itu.

Tanpa basa-basi namja tersebut menarik lengan Naomi keluar dari kerumunan. Mata mereka mengikuti namja yang membawa Naomi pergi. Begitu juga Kris.

“Kau siapa?” Naomi bertanya pada namja yang terus membawanya menaiki tangga.

Dia hanya diam. Mereka berada dilantai paling atas dari gedung sekolah tersebut. Tempatnya menenangkan, berangin dan hanya ada mereka berdua disana.

Namja itu membuka blazer nya. Hanya kemeja putih yang ia pakai. Ia juga melonggarkan dasinya. Rambutnya tertiup angin dan ia benar-benar tampan.

“Aku minta maaf atas kelakuan noona tadi.” Matanya menatap kosong ke depan.

“Kau tak perlu minta meminta maaf untuk nya.” Ucap Naomi singkat.

Ia menghadapkan tubuhnya didepan Naomi, “Aku Luhan, yang tadi itu noona ku, namanya Youra.”

Naomi menatap namja itu, “Aku Naomi Morie, panggil saja Naomi.” Lalu ia melanjutkan kalimatnya, “Terimakasih.”

“Kau pindahan dari mana?” Tanyanya.

“London. Ini pertama kalinya aku datang setelah sepuluh tahun yang lalu. Maaf jika bahasa korea ku tidak lancar.” Jelasnya.

Ia menggeleng. “Bahasa korea mu sangat baik.” Ia memakai kembali blazernya. “Baiklah. Jam istirahat sebentar lagi selesai. Kembalilah ke kelas mu.” Ia berjalan meninggalkan Naomi.

“Gamsahamnida!” Seru Naomi. Tapi ia tidakpun menolehkan wajahnya.

Sudah dua minggu Naomi sekolah di Dongnyang. Ia sudah memiliki seorang chingu, namanya Shin Ji Hae.

“Hey, dia datang, Kim Jong In kembali ke sekolah hari ini!” Seorang yeoja berteriak di dalam kelas. Yang lain ikut berseru. Mereka semua lalu mengikuti yeoja itu keluar.

Sama halnya yang lain, Shin Ji Hae juga ikut berlari keluar.

Naomi bingung melihat mereka. Naomi hanya duduk, mungkin dia satu-satunya yeoja disini. Bahkan sebagian namja juga ikutan berlari keluar.

Seorang namja menghampiri Naomi. “Kau tidak ikut yang lain?”

Naomi menggeleng. “Untuk apa? Siapa pula Kim Jong In? Aku tak peduli.”

Dia tertawa. “Tentu saja karena kau belum melihatnya. Semua yeoja di sekolah ini tergila-gila padanya. Dia adalah ketua basket sekolah. Dia lebih dikenal dengan panggilan Kai.” Namja yang bernama Eun Wook itu menjelaskan segalanya tentang Kim Jong In. “Dia mengalami kecelakaan tiga bulan yang lalu. Makanya ia memerlukan beberapa bulan untuk pulih.”

“Kecelakaan?” Jantung Naomi berdetak lebih kencang.

Eun Wook mengangguk mantap. “Karena kecelakaan itu, Sunbae meninggal. Kasihan dia.”

“Siapa?” Kini tubuhnya benar-benar lemas.

“Kau tak akan mengenalnya. Dia Allura sunbae.” Ucapnya.

Kata-kata itu tergiang dikepalannya. Allura. Jadi? Allura sedang bersama dia ketika kecelakaan itu terjadi?

Naomi keluar menghampiri kerumunan orang. Ia tidak bisa melihat dimana Kim Jong In. Suasana sangat ramai. Tapi ia ingin tahu sosok namja yang bersama oennie nya ketika kecelakaan itu terjadi.

Seseorang menepuk bahunya. “Hey, kau juga ingin melihat Kim Jong In?”

Luhan. Ternyata Luhan. Sejak kejadian hari pertama sekolah, mereka menjadi lebih dekat. Ditambah mereka sama-sama mengikuti kelas musik. “Aku hanya ingin tau orang seperti apa dia.”

“Aku kira kau tak akan tertarik padanya.” Ia tersenyum. Luhan memang anak yang sangat ramah. Ia setingkat lebih tinggi darinya. Lain halnya dengan Kris, yang dua tingkat diatas Naomi.

“Aku tidak akan pernah tertarik padanya.” Serunya acuh.

Saat ini, namja yang biasa dipanggil Kai itu berjalan didepan Naomi. Wajahnya menampakkan perasaan yang tidak bisa ditebak, antara sedih, marah, tertekan ataupun kesal. Ia tidak peduli bahwa semua orang memperhatikannya. Ia seakan seperti Jun Pyo dalam serial drama Boys Before Flower. Tapi Kai tidak sesombong Jun Pyo, ia hanya berjalan cuek diikuti satu orang temannya.

“Tadi itu adalah Kai. Sepertinya ia masih trauma. Terlihat jelas dari matanya bahwa ia masih tertekan dengan kejadian itu.”

Naomi mendengar dengan teliti setiap kata yang Luhan ucapkan. Memang benar, semburat kesedihan juga trauma terlihat sangat jelas dimata Kai.

Setelah Kim Jong In yang biasa disapa Kai itu masuk kedalam kelasnya, semua orang membubarkan kerumunan.

Dikelasnya saat ini, semua ramai membicarakan Kim Jong In, tak lupa juga dengan kecelakaan yang dialaminya. Ada yang bilang Allura adalah kekasih Kai. Ada pula yang bilang mereka hanya berteman.

“Allura dan Kai… mereka pacaran?” Tanyaku pada Ji Hae.

“Kau mengenal Allura?” Tanyanya seperti kaget.

Naomi buru-buru menggeleng. “Tidak. Luhan menceritakannya padaku.” Padahal Luhan tidakpun menceritakan tentang Allura.

“Kau tertarik dengan Kai?” Ji Hae tertawa menggoda. “Tapi Kai hanya mencintai Allura. Walaupun kami semua tidak tahu apa hubungan mereka, tapi kami yakin bahwa Kai sangat mencintainya. Bahkan Kai dengan tegas menolak Youra yang menyatakan perasaan padanya.”

Naomi mengernyitkan dahinya. “Youra? Maksudmu noonanya Luhan?”

Ji Hae mengangguk mantap. “Tapi tidak apa-apa jika kau tertarik padanya. Kami semua pun tertarik padanya. Tp bagaimana dengan Luhan? Ku kira kau tertarik padanya.”

“Kami hanya berteman, dan aku juga sama sekali tidak tertarik pada Kai.”

Ji Hae kembali menggodanya. “Tapi, dilihat-lihat kau ini mirip dengan Allura. Mata kalian sama, hidung kalian juga. Kau pasti sangat cantik jika kau lebih peduli dengan penampilanmu.”

“Aku? Aku mirip dengannya?”

Ia mengangguk. “Allura adalah yeoja yang sangat cantik. Dia juga sangat baik. Wajar bila Kai dan Kris memperebutkannya.”

“Kris?” Serunya.

“Ya. Kau tahu Kris kan?”

Naomi mengangguk, “Kris menyukai Allura?”

“Mereka terkenal dengan cinta segitiga mereka.”

Baru saja Naomi ingin bertanya, seorang guru sudah masuk kedalam kelas.

Hari ini ada kelas musik. Entah kenapa Naomi jadi sangat tertarik dengan kelas musik ini. Jadi, kelas musik ini adalah murid-murid yang punya ketertarikan dengan musik. Kelas musik sangat difavorite-kan di Dangnyang.

Setiap minggunya mereka latihan. Kebetulan tiga bulan lagi akan ada perayaan ulangtahun sekolah. Mereka latihan sangat giat. Naomi ditunjuk untuk tampil solo menyanyikan lagu Only Hope dari Mandy Moore. Menurut pelatih yang melatih mereka, suara Naomi sangat cocok dengan lagu tersebut. Disetiap tahunnya, kelas musik selalu menampilkan pertunjukan yang luar biasa, maka dari itu mereka melakukan persiapan dari jauh-jauh hari.

Luhan juga anggota kelas musik. Naomi takjub sekali saat pertama kali ia mendengar Luhan menyanyi. Suaranya sangat lembuh, setiap bait yang dinyanyikannya juga disampaikannya dengan baik, dia seakan bercerita.

“Annyeong! Bagaimana latihan mu?” Tanya Luhan yang kala itu membawa gitar dipunggungnya.

Naomi sedikit ragu. “Aku tidak tahu apakah aku akan mampu menyanyikan lagu ini. Waktuku hanya sebulan.”

Luhan tersenyum, sangat manis. “Percaya padaku, kau pasti bisa!”

Kini giliran Naomi yang tersenyum. Memang cuma Luhan yang sudah berhasil membuatnya tersenyum. “Thank you.”

“You are welcome.” Serunya terbelit.

Kemudian Naomi tertawa. Cara Luhan mengucapkan terimakasih benar-benar membuat mambuat Naomi tertawa. Naomi segera berhenti tertawa melihat ekspresi Luhan. “Aku minta maaf. Aku bercanda.”

“Bahasa inggris ku sangat buruk. Walaupun begitu, aku menguasai bahasa mandarin dan jepang.” Kata Luhan bangga.

Naomi tampak kagum “Sungguh?”

“Tentu aku menguasai bahasa mandarin. Orang tua ku keturunan Cina.” Jelasnya.

“Pantas nama mu Xi Luhan. Tapi kenapa noona mu bernama Kim Youra?” Tanya Naomi penasaran.

“Dia kakak tiriku.”

Naomi agak kaget mendengar pernyataan Luhan. “Maaf. Aku baru tahu.”

“Tidak apa-apa.” Luhan bisa lihat bahwa yeoja didepannya itu merasa tidak enak dengannya. “Bagaiman kalau kita latihan di taman?”

Naomi pun mengangguki. Mereka berdua duduk di taman.

Luhan melihat cord yang dari tadi dipegang Naomi. Ia mulai memainkan nada. Terdengar intro dari lagu tersebut.

“Aku tidak yakin.” Kata Naomi ragu.

Luhan menyenderkan tubuhnya pada pohon yang meneduhkan mereka saat ini. “Bayangkan saja, kamu ingin memiliki seseorang, tapi kamu dengan yakin tahu bahwa dia hanyalah sekedar harapan.”

“Harapan? Kehilangan terbesar dalam hidupku adalah kehilangan sosok kakak yang aku sendiri lupa seperti apa wajahnya dan harapan ku adalah bertemu dengannya, dan jelas sekali bahwa itu tidak mungkin,” ucap Naomi dalam hatinya.

“Bagaimana? Mau coba?” Tanya Luhan, ia mencoba meyakinkan Naomi karena ia pun tahu bahwa Naomi mempunyai bakat yang besar dalam menyanyi.

Akhirnya Naomi meng-iya-kan. Luhan pun mencoba memainkan gitarnya. Bait demi bait Naomi nyanyikan.

“Kau menyanyikannya dengan bagus, sedikit lagi lagu ini akan menjadi sempurna. Coba saja bayangkan sesuatu seperti tadi ketika kau bernyanyi.” Usul Luhan.

“Dari mana kau tahu?” Tanya Naomi heran.

“Aku melihatnya. Siapa? Siapa yang menjadi sekedar harapan untuk mu? Orang yang kau suka? Teman mu?” Luhan meledeknya sambil tertawa.

Naomi diam. “Tidak. Aku tidak membayangkan hal seperti itu. Aku hanya membayangkan sosok eonnie ku.”

“Eonnie?”

Ia mengangguk. “Ia sudah meninggal.”

“Aku minta maaf.” Luhan merasa sangat bersalah melihat ekspresi yeoja didepannya yang berubah.

“Tidak apa-apa.”

Luhan berusaha mencari topik. “Oh iya, sebelumnya ada seseorang yang akan menyanyikan lagu ini sebelum pelatih memintamu untuk menggantikannya.”

“Siapa?” Tanyanya datar.

“Allura namanya. Kau ingat Kai kan? Dia baru kembali ke sekolah hari ini. Mereka mengalami kecelakaan tiga bulan yang lalu. Sangat parah. Kai harus dirawat beberapa hari, sedangkan Allura, nyawanya tidak dapat diselamatkan.” Luhan menuturkan segalanya.

Mereka saling diam. Mungkin mereka merasakan kesedihan yang sama.

“Allura dan Kai pacaran?” Tanyanya.

Luhan menggeleng. “Aku tidak tahu. Tapi aku yakin Allura menyukai Kai. Begitupun Kai. Tapi mereka menghormati Kris.”

Lagi, Naomi mendengar nama Kris diantara Allura dan Kai. “Kris?”

Luhan mengangguk. “Kris dan Kai teman dekat pada awalnya. Kai paham bahwa temannya menyukai orang yang sama dengannya. Tapi aku tak yakin dengan hubungan mereka sekarang.”

“Kenapa?”

“Semua seakan menyalahkan Kai.” Katanya singkat. “Kau!” Ia menunjukan jarinya pada Naomi.

Naomi menunjuk dirinya sendiri “Aku? Aku kenapa?”

“Kau mirip dengan noona.”

“Aku? Aku mirip dengan noona mu?” Naomi agak kaget.

Luhan cepat-cepat menggeleng. “Tidak. Kau mirip Allura.”

“Aku mirip Allura?” Wajahnya menampilkan ekspresi tak percaya. Ia hanya tidak ingin yang orang lain tau tentang hubungannya dengan Allura.

Jemari Luhan menggapai kacamata yang dipakai Naomi. Ia juga menata rambut Naomi. “Inilah Allura.” Luhan memberikan handphonenya dan meminta Naomi untuk bercermin disana.

Ia melihat bayangannya. Tanpa kacamata yang memang tidak seharusnya ia pakai pada mata normalnya. Ia melihat rambutnya yang tergerai rapih. “Tidak mungkin. Kami tidak mungkin mirip.”

“Dari awal aku melihatmu, aku merasa seakan noona masih hidup.” Akunya. Jemarinya memainkan gitar.

“Kau dekat dengan Allura?” Tanyanya menyelidik.

Luhan mengangguk. “Dia sudah seperti noona ku. Dia benar-benar baik.”

“Tadi kau bilang, dia yang akan menyanyikan lagu yang akan ku bawakan nanti?” Ia memakai kembali kacamatanya.

Luhan mengangguk lagi. “Noona juga sempat ragu untuk menyanyikan lagu ini. Kami sudah sering latihan, tapi tidak pernah dapat menyelasikan lagu ini dengan baik. Sehari sebelum kecelakaan itu, noona latihan bersama ku. Ia bilang ini hari baik, hari ulangtahun seseorang dan ia ingin menyanyikannya untuk orang itu. Tapi ia tidak mau memberitahu ku siapa orang itu. Itu adalah terakhir kalinya aku mendengar noona bernyanyi. Noona seperti masuk kedalam lagu.”

Noonanya kecelakaan tiga bulan lalu. Berarti bulan Mei. Itu hari ulangtahun ku! Apakah noona menyanyikannya untuk ku? Pertanyaan itu hanya terucap dalam hatinya. Kalau saja ia bisa menangis sekarang juga, ia pasti akan melakukannya. Sesungguhnya hatinya sudah benar-benar sakit. Terlalu menyesakkan.

Setelah beberapa kali latihan, mereka kembali ke kelas musik. Mereka pun segera pulang karena kelas sudah selesai. Awalnya Luhan menawarkan diri untuk mengantar Naomi pulang. Tentunya Naomi menolak. Naomi yakin kalau Luhan pasti tahu rumahnya.

Keesekon harinya giliran Kris yang menawarkan diri berangkat bersama ke sekolah. Naomi sudah pasti menolak. Apa yang akan dikatakan mereka? Kedekatannya dengan Luhan saja sudah mejadi perbincangan murid-murid. Untungnya mereka sama-sama mengikuti kelas musik sebagai alasan kedekatan mereka.

Di jam istirahat semua orang ramai-ramai menuju lapangan basket sekolah. Mereka bilang bahwa akan ada pertandingan seru dan menegangkan. Naomi penasaran, kebetulan dia juga tertarik dengan basket. Ia pun mengikuti yang lain.

Semua sibuk meneriakkan nama Kai. Sebagian juga meneriakkan nama Kris.

Naomi duduk bersebelahan dengan Ji Hae. Jie Hae tak ada bosannya meneriakkan nama Kris. Dia bilang pada Naomi bahwa Kris lah yang paling ganteng dari mereka berdua. Ji Hae bilang, Kris mempunyai kharisma tersendiri, “Kau seakan dihipnotis ketika dia tersenyum padamu.” Ungkapnya berapi-api.

Ternyata pertandingan hari ini benar-benar hanya antara Kai dan Kris. Hanya mereka berdua.

Semua orang bersorak “KRISSS!” dan “KAAAI!”

Naomi hanya diam memperhatikan pertandingan.

Skor pertama direbut oleh Kai. Tapi Kris selalu bisa membalasnya. Pertandingan hari ini seimbang. Mereka sama-sama kuat.

Bola ditangan Kris. Two points. Postur tubuh Kris yang sangat tinggi memudahkannya melakukan two points.

Naomi memperhatikan Kai. Tak ada satupun yang sadar cara Kai berlari. Ia akan mencoba mengendalikan kaki kirinya sesekali. “Kai, dia tak akan bertahan lama.”

Ji Hae dengan spontan menoleh pada Naomi. “Maksud mu?”

“Kau lihat saja bagaimana caranya berlari. Kau sendiri yang bilang kalau tiga bulan yang lalu dia kecelakaan. Sepuluh menit lagi mungkin ia akan tumbang.” Tutur Naomi dengan percaya diri.

Yeoja itu tertawa. “Itu tidak mungkin.” Balas Ji Hae. “Kai itu hebat sekali. Tapi Kris lebih hebat!”

Posisi Kris sekarang sangat cocok untuk melakukan three points. Naomi yakin kalau Kris bisa mengambil three points dengan baik. Tapi Kris tampak ragu.

Three points bitch!” Naomi berteriak sangat kencang. Sampai-sampai sebagian penonton mengarah padanya.

Kris melakukannya. Three points nya sempurna.

Ji Hae memandanginya, “Bagaimana kau bisa tau?”

“Apa?” Tanya Naomi bingung.

“Dia akan berhasil melakukan three points itu.”

Naomi tertawa. “Aku tidak tahu akan berhasil atau tidak. Aku hanya mengusulkannya.”

Pertandingan semakin seru. Kai memimpin dengan hanya selisih satu point. Ketika bola melambung tinggi, mereka berdua sama-sama mencoba mengambilnya.

“Kakinya kram!” Naomi berteriak.

Benar saja. Kai tiba-tiba saja terjatuh. Kai juga menimpa Kris. Mereka jatuh bersamaan.

“Sudah ku bilang. Jangan memaksakan pertandingan. Dia tidak akan bertahan lebih dari sepulu menit.”

Ji Hae memperhatikan chingu disebelahnya itu. “Kau tahu banyak ternyata.”

“Aku hanya memperkirakan.”

Naomi kembali fokus ke lapangan. Dua namja itu masih terkapar. Posisi Kai saat itu menimpa Kris. Jadi walaupun Kai yang mengalami kram, benturan itu juga pasti mencelakai Kris. Itu termasuk benturan keras. Sebelum benar-benar terkapar, kaki Kai sempat mendarat ditangan Kris. Itu pasti sangat sakit.

Ji Hae menghampiri kerumunan. Naomi mengikutinya dari belakang. Para penonton meringis ngeri melihatnya. Jelas sekali bahwa mereka sama-sama kesakitan. Mereka memejamkan mata mereka masing-masing demi menahan sakit.

Naomi yang melihat Kris jadi ikutan panik. “Kris, benturan mu sangat kencang. Kau harus meluruskan tangan mu. Ini akan terasa sangat sakit” Tangan Naomi mencoba meluruskan tangan Kris.

Semua orang heran melihat apa yang dilakukan Naomi. Tetapi mereka tetap membiarkan Naomi membantu Kris.

Sedangkan Kai. Naomi bisa mendengar suara-suara menahan sakit. Kakinya kram. Ditambah benturan tadi. Naomi sendiri heran kenapa mereka hanya menontoni, kenapa tak ada satupun yang membantu.

“Hei! Apa yang kalian lakukan?! Mereka berdua terluka. Kenapa kalian diam saja?” Pada akhirnya Naomi tidak dapat menahan rasa kesalnya.

Ketika para namja membopong Kai, jemari Kai menggapai tangan Naomi. Naomi sendiri kaget. Ia bisa merasakan hawa dingin dan keringat melingkar di pergelangan tangannya. Naomi menatap namja itu. Ia seperti mengatakan sesuatu. Akhirnya ia menyadari apa yang namja itu coba ucapkan. Allura.

51 pemikiran pada “Infinite (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s