My Senior High School (Chapter 1A)

Chapter 1a

Title: Hari Pertama di Strodes

Characters: NRD (OC), EXO, dan beberapa anggota grup lain

Words: (chapter 1a) 6874; (chapter 1b) 6,801

Author’s Note: Makasih buat admin yang udah ngepost ff author di wp ini! Dan untuk para pembaca, jangan ragu, jangan sungkan, jangan kayang. Mari kita segera pergi dari author’s note gak penting ini dan segera baca ceritanya.

Selamat membaca semuanya!

Saranghae yeorobun, anyeooong~! ♥

 

______________________________

 

Pagi itu adalah pagi yang cerah dengan kicauan burung samar-samar terdengar dari langit. Sinar matahari yang cerah menyinari seluruh kota Seoul sampai ke segala penjuru. Di zoom ke arah barat Seoul, lebih tepatnya lagi Strodes Senior High School yang lagi rame karena banyak anak baru, suasananya sangat meriah.

Dan di situlah cerita ini berawal.

Beberapa anak baru sudah berbincang-bincang dengan kelompok yang tiba-tiba udah kebentuk dengan sendirinya; ada yang karena sama-sama bingung nyari kelas, ada yang karena dateng-dateng udah sama-sama bawa iPad, ada yang karena pake make-up yang sama, ada juga yang tetanggaan, dan ada yang karena dulunya pernah satu SD atau satu SMP, seperti tokoh utama kita kali ini.

“Loh, Daeri?” Begitu Nichan melihat sesosok setan cewek mungil berambut hitam panjang lurus turun dari taksi, ia langsung menyadari teman satu SD-nya itu.

“Loh, Nichan-unni?? Unni juga masuk sini?!” Muka Daeri yang ditekuk selama perjalanan gara-gara diceramahin oppa-nya langsung berubah jadi sumringah semerbak begitu ngeliat orang yang ia kenal.

“Iya! Wah, asik, akhirnya ada yang aku tau orangnya selain oppa-ku. Ahaha..” kata Nichan sambil lompat-lompat, tapi begitu ngeliat Daeri repot dengan satu kopernya, ia langsung menghampiri cewek yang lebih muda setahun darinya itu dan membantunya.

“Eeh, makasih unni. Emangnya Leeteuk-oppa di sini juga?” Daeri meletakkan kopernya di bawah dengan menghela napas lega.

“Hehe, santai.. Iya, Leeteuk-oppa kan emang di sini, sekarang udah kelas tiga.”

“Hah? Sama dong kayak Daesung-oppa?”

Gak lama, lobang idung orang yang baru disebut itu muncul pas taksinya pergi.

“Eh? Nichan ya? Halo!” ujar Daesung sambil setengah lari ke arah dua anak baru itu, membawa koper miliknya yang kecil dan juga koper Daeri yang segede gaban.

“Woy oppa. Kenapa gak bilang sih kalau ada Nichan di sini?” Daeri memotong sapaan ramah kakaknya itu kepada temannya. Ia mengambil koper dari Daesung dan bersiap menentengnya.

Daesung terlihat bingung dan cengo sebentar, gak ngeh apa yang lagi diomongin sama adeknya itu, kemudian ia tersadar dan cengar-cengir. “Hehehe, sebenernya tuh oppa udah lama tau-nya, tapi tiap kali oppa pulang ke rumah oppa lupa kalau ada Leeteuk di sini dan adiknya juga pengen sekolah di sini juga. Tapi oppa juga gak begitu sering sih main sama Leeteuk, oppa kan mainnya sama TOP, Taeyang, GD, dan masih buanyak sih yang lainnya, dan kebetulan aja Leeteuk gak begitu deket. Eeh, tapi ya temenan sih kita, tapi kalau main kita gak bareng. Ya gitu lah intinya, ngerti kan? Baydewey, kamu udah tau kelasmu yang mana belum? Coba liat di papan pengumuman di lantai dasar situ deh, yang deket ruang TU. Tuh, keliatan kan dari sini? Soalnya abis ini oppa mau blablabla… Bla bla..”

Secara diam-diam, Daeri menarik tangan Nichan untuk segera kabur meskipun agak susah karena dua tangan mereka penuh oleh tas-tas yang berisi segala macem barang mereka masing-masing dan segera pergi menuju papan pengumuman, meninggalkan Daesung sendiri bersama dengan segala macam ceramahnya.

“Haah, akhirnya aku lepas juga dari semua ocehan dia..” curhat Daeri pada Nichan begitu mereka udah berdua doang.

“Oppa-mu itu…..ehe, ehm…..suka ngobrol yah?” Nichan mencoba untuk gak ngeluarin kata ‘cerewet’, makanya ia susah payah nyari kata yang tepat untuk menggantinya.

Daeri memutar bola matanya. “Hadeh, bukan ‘suka ngobrol’, tapi mulutnya itu hyper banget. Ibarat mobil balap, gak ada rem, ya begitulah jadinya.. Cih. Aku sampe bosen dengerin dia kalau lagi pulang ke rumah, cerita mulu gak ada abisnya. Bawel. Cerewet.”

Nichan rasanya pengen ngakak ngeliat Daeri, temen SD-nya dulu, gak berubah sampe sekarang, tetep judes dan sebel sama oppa-nya. Padahal dia tau Daeri itu sayang banget sama Daesung.

“Kayak Leeteuk-oppa, dong. Dia sebetulnya agak galak, tapi sekalinya cerita, waduh….ya kira-kira hampir sama deh sama Daesung-oppa.”

Daeri manggut-manggut sambil membenarkan posisi tasnya. “Kenapa sih kita harus punya oppa kayak gitu? Cuih.”

“Aku tau, supaya bisa kita ketawain dan kita ceng-in..”

“Pffftt………..!”

Setelah itu, keduanya pun cekikikan bareng, cerita-cerita soal kehidupan mereka setelah pas SD terakhir ketemu, gimana anehnya kelakuan masing-masing pas SMP, artis-artis favorit, dan lainnya yang bisa diceritain.

Tapi, sepanjang perjalanan, ada aja obrolan-obrolan yang didenger oleh duo Nichan-Daeri, kayak misalnya;

“iPad yang kamu punya udah ada berapa? Semuanya di-jailbreak gak?”

“Eh, kamu pake maskara merek apa?”

“Aku pake eyeliner cair nih, cuma aku pake tipis aja.”

“Eh! Liat deh oppa-oppa yang di situ ganteng-ganteng banget! Kyaaahh!”

“Ya ampun, kalau gak salah itu ketua osis ya?? Ganteng banget! Bibirnya lucu gitu ya? Hihihi…”

“Udah pernah main game yang ini belum?”

“Liat deh kakak kelas yang itu, namanya siapa yah? Kerennyaaaa!”

“Jangan liat kakak kelas doang dong. Tuh yang seangkatan sama kita juga banyak yang lucu loh!”

“Ih iya bener! Aduh! Itu cute banget parah! Sekelas sama kita gak ya?”

“Eh, noona yang itu cantik deh.”

“Kantinnya di situ ya?”

“Kelasnya cuma empat ya?”

“Kamu cebok pake tangan apa?”

Dan segala macem hal lainnya yang bikin Nichan-Daeri saling mengirim lirikan maut atau ketawa-ketawa atau cuma sekedar nguping doang. Merasa bosan, Nichan dan Daeri pun melanjutkan obrolan mereka kembali.

“…terus pas aku SMP-”

Belum sempet Nichan ngelanjutin ceritanya, tiba-tiba muncul suara aneh dari langit. Suaranya pun semakin lama semakin besar dan kedengeran semakin jelas. Pandangan anak-anak baru juga anak-anak lama, baik yang di lapangan maupun yang udah di kelas, pada sibuk mencari-cari apa gerangan sumber dari semua suara berisik nan heboh yang tiba-tiba aja muncul.

Nichan dan Daeri yang baru menginjakkan kaki di ubin sekolah baru mereka juga gak mau kalah, mereka ikut celingukan nyari suara yang kayaknya sih suara helikopter itu.

Dan bener aja.

Dua buah helikopter besar secara bersamaan muncul dilangit sekolah Strodes dengan gak tau diri, bikin langit jadi gelap dan terlihat siluet berbentuk helikopter yang besar.

Suara bisingnya membuat semua anak menutup kupingnya sambil tetap menatap dua biang kerok itu turun di dua tempat yang berjauhan tapi tetap berada dalam satu lapangan yang sama.

Salah satu helikopter, yang memiliki nuansa warna pink beserta motif bunga dan segala embel-embel lain, ada tulisan ‘REN’ di salah satu badan helikopternya.

“Berisik banget sih tuh!!” teriak Daeri dengan masih menutup kupingnya, soalnya kalau ngomong biasa pasti gak kedengeran.

“Kamu liat tulisannya gak??” balas Nichan dengan suara yang gak kalah kenceng.

“Emang apaan??!”

“Itu ada tulisan ‘REN’-nya!!!”

“Hah??!!”

“Ada tulisan ‘REN’!!!!”

“REN???”

“IYA!!!”

Nichan dan Daeri sudah masuk dalam tahap nyanyi metal.

“Yang satu lagi apa???!!!”

“Bentar aku liat dulu!!!”

Begitu Nichan manjang-manjangin leher dan nyipitin mata untuk ngeliat helikopter yang satu lagi, yang warnanya lebih manusiawi yaitu abu-abu agak kebiruan, tulisannya pun terlihat.

“D.O?” Nichan mengatakan apa yang ia baca. Lebih tepat lagi, meneriakkan tulisan yang ia lihat di helikopter tersebut.

“HAAH???” Daeri yang udah budeg dari sononya itu makin lemot dengan adanya helikopter yang masih menimbulkan huru-hara di sekolah Strodes yang malang.

“TULISANNYA D.O!!!”

“REN!! D.O!! SUMPAH YAH GUA HARUS NGELIAT DUA ORANG ITU!! KAYAK APAAN SIH ORANGNYA??!!”

Akhirnya, doa seluruh umat yang ada di Strodes pagi itu terkabul begitu suara helikopternya mengecil, mengecil, mengecil, dan akhirnya pun berhenti. Secara serentak semua anak baru dan lama melepaskan tangannya dari kuping masing-masing dan menunggu dua makhluk kepret yang udah berani-beraninya ngancurin pagi mereka yang damai nan sepi itu, semuanya bersiap untuk lemparin batu ke arah orang yang sebentar lagi akan turun dari helikopter.

Tapi gak jadi begitu mereka liat makhluk macem apa yang keluar.

Pintu dari helikopter pink yang ada tulisan ‘REN’ terbuka duluan. Tidak lama, muncul seorang cowok yang agak kecewekan berambut pirang turun dengan anggunnya. Badannya mungil dan tatapan matanya seolah mengatakan “Aku ngantuk.” Tetapi yang membuatnya terlihat spesial adalah wajahnya yang teramat manis dan unyu dan pipi yang sedikit chubby seolah minta banget dicubit.

Sontak cewek-cewek langsung teriak, “AAAH, LUCU BANGEEETT!”

Sedangkan yang cowok teriak, “WOHH, CANTIK! Tapi pake seragam cowok. TAPI CANTIK!”

Mengabaikan segala teriakan orang-orang di sekitar, Nichan cuma memandang dengan cengo, sementara Daeri memandang dengan sinis.

“Itu cowok…….?” kata Nichan dengan nada tidak percaya. Mereka sampe lupa tujuan utamanya untuk ngeliat kelas mereka dimana.

Daeri berdecak kesal. “Ck! Mau cewek atau cowok, dia lebay banget sih pake helikopter ke sekolah. Cuih!”

Belum sempat suara teriakan anak-anak reda, pintu helikopter yang satu lagi pun terbuka. Pintu dari helikopter dengan tulisan ‘D.O’.

Dari pintu tersebut, muncul seorang cowok yang badannya juga mungil, tetapi sedikit lebih tinggi dibanding dengan cowok yang keluar dari helikopter sebelumnya. Rambutnya cepak berwarna hitam, matanya besar dan bibirnya yang oke membuat hati bergetar melihatnya dan rasanya ingin ditampar-tampar dengan bibir itu. Lho.

Suara teriakan heboh anak-anak baru yang didominasi oleh cewek makin terdengar kencang dan garang kayak lagi ada konser rock.

“AAAHH!!! DUA-DUANYA LUCU BANGET!! GILA!!”

“AKU LEBIH SUKA YANG REN!!”

“D.O ITU LEBIH LUCU!!!”

“YA AMPYUN, EYKE MAU DUA-DUANYA!!!”

Dan segala macem teriakan lainnya yang jijay dan bikin enek. Ngomong-ngomong, kenapa ada bencong nyasar barusan?

Daeri, yang paling males soal urusan begitu, menarik kembali kopernya dan menyeret Nichan bersamanya. “Unni, kita pergi aja yuk.” katanya.

“Iya, ayo..” jawab Nichan dengan pasrah.

Ketika duo Nichan-Daeri melangkah sebentar, lagi-lagi ada suara-suara mencurigakan bin aneh yang tiba-tiba kedengeran. Kali ini, suaranya gak berasal dari langit, melainkan dari darat. Cuma agak aneh aja suaranya, bukan suara mobil, atau suara motor, tapi suaranya kayak………

“Eh!! Itu ada lagi yang dateng! Tapi yang ini naik kuda!”

Mendengar hal itu, Nichan dan Daeri langsung menghentikan langkahnya dan saling bertatapan males, sebelum akhirnya mereka melihat ke arah gerbang depan.

Benar saja, seorang cowok berseragam mengendarai kuda supaya baik jalannya datang dengan memasang muka paling ganteng sejagat raya. Cewek-cewek pun makin histeris, Mariah Carey pun kalah tinggi suaranya sama cewek-cewek itu.

“Ada lagi yang keren!!! Aaa!! Mereka kakak kelas atau anak baru ya??!!”

“Itu Seungri! Yang naik kuda itu namanya Seungri! Dulu aku satu SMP dengannya dan dia emang populer!!”

“Wah, berarti anak baru dong!”

Sederetan ‘kyaa’, ‘kyaa’, ‘waa’, dan ‘huwaaa’ lainnya pun terdengar kembali. Lelah dan letih dengan semua itu, Daeri dan Nichan langsung kembali ke tujuan utamanya: melihat papan pengumuman kelas.

“Dua orang naik helikopter aja udah aneh, ini lagi pake kuda……” gerutu Daeri kepada Nichan sambil berjalan.

Nichan menepuk pundak Daeri dengan prihatin. “Sabar ya, semoga aja kita gak sekelas sama mereka.”

Daeri mengangguk. “Iya, semoga aja..”

* * *

Kelas 1-D:
Wali Kelas: Kim Hyojin
Mentor: Kim Joon Myeon & Kim Kyuri

1. Bang Yongguk
2. Byun Baekhyun
3. Choi Jinri
4. Choi Junhong
5. Choi Minki
6. Do Kyungsoo
7. Han Sunhwa
8. Hong Yookyung
9. Huang Zi Tao
10. Jung Daehyun
11. Jung Eunji
12. Jung Sooyeon
13. Kang Daeri
14. Kang Jiyoung
15. Kim Himchan
16. Kim Jongin
17. Kim Namjoo
18. Kwon Ara
19. Lee Seunghyun
20. Moon Jongup
21. Oh Hayoung
22. Oh Hwayoung
23. Oh Sehun
24. Park Chanyeol
25. Park Jiyeon
26. Park Nichan
27. Park Sunyoung
28. Son Naeun
29. Yoo Youngjae
30. Yoon Bomi

“……………..waw.” gumam Daeri.

“Fantastic baby~”

Itu bukan suara Nichan, itu cuma orang iseng di belakang Nichan dan Daeri yang kepengen banget muncul di ff ini.

“Kita sekelas!!!” Nichan lompat-lompat kegirangan, mengungkapkan suara isi hatinya dan hati Daeri.

Sementara Daeri, yang susah buat ngungkapin apa yang dia rasa, cuma bisa bilang, “Yes!! Kita jadi bisa ngobrol kalau gurunya lagi ngebosenin atau kita bisa ngemil diem-diem bareng! Yess! Asiik!”

“Sik asik, sik asik, kenal dirimu~”

Orang misterius yang ngomong Fantastic Baby barusan kembali secara random nyanyiin lagu ayu ting ting, bikin Nichan dan Daeri gak betah dan langsung kepengen pergi dari situ.

Kelas 1-D terletak di lantai 4. Maklum, anak baru kan masih segar bugar, jadinya ditaro di lantai paling atas. Sedangkan anak kelas 2 satu lantai di bawah mereka, dan yang kelas 3 ditaro di lantai 2, karena lantai dasar dipake untuk ruangan-ruangan umum macem Lab, ruang komputer, ruang guru, perpus, ruang OB, dan lainnya.

“Unni, koper kita kayaknya dikumpulin di situ deh.” Daeri menunjuk ke tempat luas yang sudah banyak terlihat koper-koper para murid baru. Terlihat beberapa anak osis udah pada rempong misah-misahin koper cewek dan cowok.

“Oh, iya tuh! Tanyain aja sama kakaknya..”

Begitu mereka nyamperin seorang senior cewek, mereka ragu untuk nanya, soalnya cewek itu keliatan sibuk banget. Tapi siku Daeri yang iseng udah nyenggol-nyenggol Nichan, akhirnya mau gak mau Nichan pun bertindak. “Unni, kopernya ditaro di sini kan?” tanya Nichan, malu-malu kuda.

Senior itu menoleh dan tersenyum ke arah mereka dengan sopan begitu melihat dua bocah bertampang kasihan memakai seragam sekolah yang masih kinclong dan kaku. “Oh! Iya, bener. Kalian namanya siapa dan kelas berapa?”

Nichan dan Daeri berpandangan, kemudian, “Eh, eeeh, ehm, kita kelas 1-D, namaku park Nichan, yang ini Kang Daeri,” Nichan mengarah pada Daeri, sementara anak yang namanya disebut membungkukkan badan.

“Oke, aku catet dulu ya. Nanti anggota osis bakalan ngirim koper-koper kalian ke kamar kalian masing-masing.” jelas senior tersebut yang diikuti oleh anggukan kepala dari Nichan dan Daeri. “Hmm.. Kalian mau aku bikin sekamar?”

Mendengar hal itu, mata Nichan dan Daeri langsung melotot. “Hah! Mau, mau!” jawab Daeri dengan garang. Senior itu sampe hampir pengen kabur ngeliat ekspresi Daeri yang kayak ngajak berantem, tapi dia mengurungkan niat itu karena meskipun mukanya bengis, anak ini tidaklah jahat.

“Iya mau banget, unni!” Nichan pun ikutan setuju.

“Hehe, oke, satu kamar emang cuma berdua aja kok. Dan pembagian kamar itu sepenuhnya ada di tangan osis, jadi aku bisa ngubah dengan sesuka hati.” Senior itu tersenyum dengan ramah. Dengan senyumannya, tawaran untuk sekamarnya, dan juga wajahnya yang cantik, senior itu terlihat seperti bidadari yang bercahaya bagi Nichan dan Daeri.

Setelah berterima kasih sekali lagi pada sang senior, Nichan dan Daeri pun pergi ke kelas untuk naro tas.

* * *

Entah karena mereka udah niat pengen tidur di kelas atau makan pas pelajaran, atau karena mereka emang hobinya mojok, Nichan dan Daeri memilih tempat duduk kedua dari belakang di sebelah kiri ruangan, tempat paling ujung jika dilihat dari pintu masuk dan tempat di sebelah jendela.

Tadinya mereka pengen duduk di paling pojok, cuma karena udah ada dua sosok makhluk yang kayaknya bakalan berisik (soalnya daritadi mereka ngobrol dan ngakak ampe mukul-mukul meja), jadinya Nichan dan Daeri memutuskan untuk duduk di depan mereka, meskipun pas duduk Nichan udah ngelirik-lirik ke arah Daeri yang keliatan bete.

“Unni, berisik banget nih bocah yang di belakang kita.” bisik Daeri tanpa menoleh ke arah Nichan yang duduk di sebelah kanannya.

Biarin aja, Daeri.. Cabal eap.” Jawaban Nichan yang bikin geli itu membuat Daeri melirik dengan tatapan paling males yang dia bisa, sementara Nichan cuma cekikikan.

“..begitu mobilnya kena tai burung, gua langsung aja tuh ngasih bolero ke abangnya temen gua.”

Serentak Nichan dan Daeri langsung mendengarkan pembicaraan dua cowok heboh di belakang mereka dengan konsentrasi penuh.

“Hah? Bolero?” Suara yang satu lagi terdengar bingung.

“Iya, kebetulan gue bawa. Toh udah gak pernah dipake sama bapak gua di rumah.” jawab suara pertama dengan penuh percaya diri.

“Bapak lu pake bolero??” Suara kedua makin heran.

“Iya lah. Kan punya mobil.. Gimane sih lu?”

Percakapan mereka terputus sebentar, kemudian, “Karena punya mobil, bapak lu pake bolero?” Suara yang kedua semakin terdengar gak yakin dan ragu.

“Loh, kalau gak pake bolero ngelap mobilnya pake apa dong?” Suara pertama balik nanya.

Terdengar suara helaan napas yang teramat panjang dan penuh beban hidup, kemudian, “Haduh…… Chanyeol, itu ‘kanebo’. ‘Kanebo’ sama ‘bolero’ jauh banget, ya…….”

Kalau di ff NRD lain, Nichan terkenal gampang ketawa kan? Nah, di ff ini juga. Badan Nichan udah gemeteran sejak obrolan orang di belakang berjalan dengan mencurigakan, sementara Daeri, yang sebelumnya ngatain mereka, setengah kayang nahan ketawa sampe jadinya muka Daeri keliatan serem.

“Eh, lu diketawain sama mereka tuh. Rasain.” Suara kedua yang tiba-tiba terdengar bikin Nichan dan Daeri tatap-tatapan bingung.

“Hah masa sih? Emang kedengeran?” balas suara pertama, yang dipanggil ‘Chanyeol’ oleh temennya.

“Menurut lo? Kita ngobrol kenceng begini.. Justru malah aneh kali kalau gak kedengeran!” Suara kedua yang namanya masih misterius menimpali dengan nada gak sabar dicampur dengan nada sedih karena ke-blo’onan temennya.

“Oh, iya ya.. Hehe. Kasian ya, badannya sampe geter-geter gitu..” Suara Chanyeol yang ngebas tertuju pada Nichan, yang sampe sekarang masih aja duduk gemetar nahan ketawa.

Sebaliknya, Daeri, mengerahkan seluruh aura judes dan sinis, melirik ke arah Chanyeol dengan tatapan tajam kebanggaannya, membuat Chanyeol merinding disko.

“Eh? Halo..” sapa Chanyeol, sedikit ragu apakah harus ngobrol dengan gadis mirip sadako di depannya ini atau enggak, tapi pada akhirnya dia memilih untuk menyapa daripada dimakan oleh gadis itu.

“Mending temen gua yang duduknya gemeteran karena nahan ketawa, daripada elu yang gak bisa bedain bolero sama kanebo! Cuh! Cuh! Pret!” Dengan tajam Daeri menyemprot-nyemprot ludahnya pada Chanyeol, sementara cowok malang tersebut mengibaskan tangannya untuk melindungi badan tingginya dari semburan air suci itu.

“Aah! Jorok banget nih anak! Oi Bacon, tolongin gua napa?!” Chanyeol yang panik dan bingung gimana harus melindungi dirinya meminta bantuan pada temen sebangkunya yang cuma bisa ketawa-ketawa ngeliat sahabatnya dizhalimi.

“Mampus lu kena serangan ludah yang-”

“Apa lu?! Mau gua sembur juga??!!” Daeri menggeram.

Anak yang dipanggil ‘Bacon’ itu langsung melas. “Enggak mbak, ampun…. Plis jangan. Baydewey, gua Baekhyun.”

Lagi kayak begini sempet-sempetnya dia ngajak kenalan, batin Daeri.

“Lah kok malah kenalan sih lu?! Bukannya bantuin gua..” gumam Chanyeol, bete.

Uluran tangan Bacon, atau Baekhyun, yang terarah pada Daeri membuatnya terdiam, tapi tetep dengan muka jutek. Dalam hati, Daeri bertarung dengan dirinya sendiri, mau kenalan sama bocah-bocah berisik ini apa enggak? Males banget kalau temenan sama mereka. Tapi orangnya juga kayaknya bakalan kocak dan seru dan kasian juga kalau gua cuma ngediemin doang..

Merasa kelamaan didiemin ampe tangannya pegel, Baekhyun pun berdehem dan memperkenalkan dirinya kembali, “Byun Baekhyun.”

Akhirnya, Daeri kembali dari lamunannya dan ngangguk sambil menyambut uluran tangan Baekhyun, atau Bacon, udah Bacon aja deh biar gampang.

“Daeri. Kang Daeri.” ujar Daeri yang kemudian langsung melepas tangan Bacon, atau Baekhyun aja deh. *author rempong*

“Kenape malah jadi kenalan lu? Harusnya kan lu belain gua! Tapi yang satu lagi siapa namanya?” Bukannya protes karena gak dibela sama sahabatnya, Chanyeol pun memutuskan untuk melupakan kejadian pahit barusan dan berkenalan dengan teman sekelasnya yang baru.

“Ngapain juga gua ngebela lu..” Baekhyun bergumam, diikuti oleh pemandangan Chanyeol yang jembewe ke arahnya. “Iya kalau yang satu lagi namanya siapa?” Lanjut Baekhyun tanpa mempedulikan tatapan melas Chanyeol ke arahnya.

“Eh? Ehm..” Akhirnya suara Nichan kembali terdengar setelah puas nahan ketawa. “Namaku Nichan, Park Nichan.”

“Ooh, Nichan sama Daeri, ya..” Chanyeol mengulang kembali nama dari kedua orang yang baru aja kenalan dengannya itu sambil ngangguk-ngangguk.

“Kok Daeri keliatan lebih kayak bocah sih? Lahiran tahun berapa?” Baekhyun menimpali.

Daeri sebel. Dia gak rela dibilang ‘bocah’ sama orang yang kayak bocah juga. Tapi sebelum bisa protes, Nichan udah keburu ngomong duluan.

“Iya, dia emang lahir tahun 96..”

“HAH??” Baekhyun dan Chanyeol teriak berbarengan, sampe semua orang ngeliat ke arah mereka berempat. Chanyeol pun langsung dengan pede dadah-dadah ke arah mereka dan nyengir.

“Eh, enggak, enggak..” gumamnya yang udah pasti gak bakalan kedengeran sama anak sekelas. Sementara Baekhyun membungkuk-bungkukkan badan untuk minta maaf. Pandangan mereka pun kembali ke urusan masing-masing.

Tanpa mereka ketahui, ada dua anak cewek di pojok lain ruangan tersebut yang gak suka dengan kelakuan keempat orang tersebut yang ribut daritadi.

“Apaan sih barusan?” ujar cewek gaul berambut hitam lurus panjang yang dibelah tengah, masih melirik ke arah Nichan dan Daeri yang duduknya cuma beda satu meja dari mereka berdua.

“Gak tau, yaudah sih diemin aja orang gak jelas gitu. Kita lanjut cerita..” kata cewek lain yang duduk di sebelahnya.

Kembali ke tokoh utama kita.

“Lu lahiran 96?? Kagak salah?” Chanyeol yang tadinya empet sama cewek yang nyemburin ludah ke arahnya, kini malah ngerasa penasaran.

Daeri mengangguk pelan dan menambahkan, “Nichan-unni juga lahiran 95 nih..”

“Seriusan??” Chanyeol gak bisa ngomong apa-apa lagi.

“Ahaha.. Iya.” Jawab Nichan dengan dodolnya.

“Kok lu berdua bisa jadi kelas satu SMA sih?? Gua aja lahiran 92 lho!” Baekhyun memajukan badannya.

“Abisnya dari TK emang udah disekolahin lebih awal sama orang tua gua.. Nichan unni juga gitu.” jawab Daeri. Lagian ngapain juga yang kayak gitu ditanya, ini kan ff, apa juga terserah author kan? *pasang muka bangga*

“Widih, gile juga lu bocah. Hahaha! Eh..” Chanyeol yang tadinya tertawa bahagia, langsung nutup mulutnya begitu Daeri bersiap meluncurkan serangan ludah lagi. Cewek kok jorok.

“Buseh, waktu orok lu berdua dikasih makan apa sama emak lu? Pinter banget..” Baekhyun pun gak kalah kagum. Cuma caranya mengungkapkan kekaguman emang rada aneh.

“Eh, tapi seinget gua anak itu juga lahiran 95 deh, tuh yang duduknya paling depan di barisan yang tengah.” Chanyeol menunjuk ke arah cewek berambut pendek lurus yang lagi makan permen sambil mainin iPod sendirian.

Merasa punya temen satu umur, Nichan langsung ingetin mukanya, biar nantinya bisa kenalan sama anak itu. “Ooh, yang itu ya..”

“Akhirnya ada yang sama umurnya sama Nichan-unni!” Daeri meng-pukpuk pundak Nichan, ikut merasa bahagia kalau Nichan punya temen satu umur yang berada di kelas. ‘Tapi itu berarti gua tetep yang paling muda dong.. Cuh. Payah.’ batinnya.

“Hehe, iya.. Nanti pas upacara aku mau kenalan ah.”

“Aku ikutan ya. Masa cuma kenalan sama dua bocah berisik ini.” kata Daeri, cekikikan.

“Oh, lu bisa senyum juga ya ternyata??”

Lagi-lagi Daeri menatap tajam ke arah Baekhyun, sumber suara barusan. “Eeh, ampun ampun.. Hahaha!”

Baru aja Chanyeol mau ikutan ngecengin Daeri, tiba-tiba ada suara bel yang terdengar di seluruh penjuru sekolah.

“Ini bel masuk?” Nichan celingukan ngeliatin temen-temen sekelasnya, tapi percuma karena yang lain pun gak tau ini bel apa? Begitu bel selesai berbunyi, gak ada satu pun murid baru yang tau harus ngapain dan kemana.

“Ini bel masuk?” Anak lahiran 95 yang sebelumnya ditunjuk Chanyeol itu bertanya-tanya sambil nyari orang yang kemungkinan tau.

“Iya mungkin, tapi bukannya ada upacara dulu?” Merasa memiliki temen seumur, Nichan dengan sigap menjawab pertanyaan cewek itu.

“Makanya, tadi aku juga liat ada upacara dulu.” balas anak cewek lahiran 95 yang namanya masih belum diketahui tersebut. Ribet ya ngetiknya.

Dari bangku depan yang dekat dengan pintu masuk, ada yang mengatakan, “Kayaknya sih emang upacara dulu, coba liat di bawah deh..”

Para murid baru yang duduk dekat jendela, termasuk Daeri dan Chanyeol pun refleks langsung ngeliat ke arah lapangan utama, tempat dimana helikopter biang rusuh barusan turun dan sekarang udah ngilang lagi.

“Hmm, masih sepi sih di bawah.” ujar anak cowok yang duduk paling depan di deretan Nichan.

Di tengah-tengah kebingungan, seorang cewek dengan muka cengar-cengir kepedean masuk ke kelas 1-D bawa-bawa kertas file dan meletakkannya di atas meja guru. Serentak pandangan semua anak tertuju padanya, memperhatikan gerak-gerik cewek itu yang tiba-tiba ke tengah kelas.

“Eeuuhh. Halo semuanya! Aku mentor kalian, Kim Kyuri. Sebetulnya ada satu lagi, cuma dia belum dateng. Sekarang kita upacara dulu, baru abis itu aku bakal ngasih tau semuanya tentang sekolah ini. Ada yang masih belum jelas?”

Para anak baru saling melempar tatapan bingung mau ngapain. Beberapa anak menjawab “Enggak kaak..” bersamaan, sementara yang lainnya malah nanya “Kantin dimana kak?” atau “Kakak nomor telpon kaak..” ada juga yang “Mau boker kaaak..” atau kalau dalam kasus Chanyeol, “Pengen langsung tidur di asrama kaak..”

Dalem hati, Kyuri mengutuk sang ketua osis, ‘Emang dasar kunyuk tuh si Seungho, gua pake dijadiin mentor anak-anak susah diatur ini. Gimana nasib gua….’

Tiba-tiba ia kepikiran dua adik dari sunbae-sunbaenya yang dititipin kepadanya. Tadi pagi ketika dia ngecek nama anak-anak yang ia bimbing, dua nama anak tersebut berada dalam kelas yang ia mentorin. Kyuri langsung bernapas lega karena itu tandanya dia bisa jagain dua bocah tersebut. Namun, Kyuri belum tau yang mana yang namanya Park Nichan dan Kang Daeri, ia memutuskan untuk mencari tau nanti setelah upacara.

“Yaudah sekarang ke hall olahraga dulu ya, yang mau makan, tahan dulu, yang mau boker, tahan juga. Yang mau tidur, mana yang mau tidur? Sini gua lempar ampe asrama.”

Chanyeol yang merasa telah mengatakan itu langsung menyesal ketika ia mengangkat tangannya pas Kyuri nanya ‘mana yang mau tidur’. “Aduh, jangan kak. Maaf…” Chanyeol memohon dengan melas, diikuti dengan suara tawa anak-anak satu kelas. Sedangkan  Kyuri cuma cekikikan di depan.

“Kenapa sih cewek-cewek di sini galak semua? Apalagi yang ini..” Baekhyun melirik ke arah Daeri dengan takut-takut.

“‘Apalagi yang’ mana?” Tanya Daeri, sinis.

Baekhyun langsung merinding. “Enggak, enggak… Nichan maksudnya.”

Nichan langsung ikutan Daeri melirik dengan tajam. “Jadi gue galak? Maksud lu apa?”

Chanyeol menyikut pelan lengan Baekhyun. “Udahlah, daripada kita dimakan mending diem aja lu..”

“Iya, daripada kita pulang tinggal nama, ya…” Baekhyun pun menimpali, diiringi dengan suara tawa Nichan dan Daeri yang puas ngecengin dua cowok rusuh itu. Kemudian mereka berempat ketawa-ketawa bareng dan segera beranjak pergi ke lapangan upacara.

* * *

“Ehe… Jadi.. Anak-anak.. Kita ini.. Ehe.. Sudah sepantasnya.. Menjaga nama baik apa? Ya, benar. Sekolah kita.. Ehe.. Menjaga nama baik untuk apa? Ya, benar.. Agar sekolah kita.. Ehe. Diterima di masyarakat… Ehe. Lalu karena itulah kami melakukan apa? Ya, benar. Bersikap baik.. Ehe.. Baik di lingkungan sekolah.. Ehe.. Maupun di lingkungan apa? Ya, benar. Di lingkungan sekitar.. Ehe..”

Hampir bisa dipastikan bahwa semua muka anak baru gak ada yang bagus. Kalau gak cengo, bengong, masang muka gembul karena nahan ketawa, tidur sambil berdiri, ya dengerin dengan setengah hati.

Nichan, gak tau untuk yang keberapa kalinya, gemeteran nahan ketawa sampe mukanya merah. Daeri, yang hobinya bermuka judes, ikutan gemeteran.

Baekhyun dan Chanyeol yang baris di samping Nichan-Daeri pun mulutnya gatel pengen ngecengin kepala sekolah mereka yang pidatonya sangatlah absurd itu. “Anjrot, nih orang nanya mulu kayak orang udik nyasar di kota.” Komentar Chanyeol sama sekali gak membantu Nichan yang lagi berusaha buat gak ngakak.

“Teler apa dia ya? ‘Ehe-ehe’ mulu..” Baekhyun ikutan ngecengin.

Nichan dan Daeri makin bergetar hebat, menjaga supaya gak meledak ketawanya pas lagi upacara begini. Kan gak lucu anak baru udah bikin masalah.

“…kemudian.. Ehe.. Program-program.. Di sekolah ini.. Ehe.. Dirancang untuk apa? Ya, benar. Dirancang untuk kebaikan.. Kita semua..”

Nichan menyenggol-nyenggol Daeri, begitu juga sebaliknya.

Lagi konsen nahan ketawa, tiba-tiba anak yang baris di depan Daeri menoleh ke arahnya. Ketika pandangan mereka bertemu, mereka semakin susah untuk nahan ketawa.

“Pffttt………!” Baik Nichan, Daeri, dan juga cewek yang seumur dengan Nichan itu bungkuk-bungkuk supaya gak ketauan oleh guru-guru yang berjejer di depan barisan murid.

“Hoi, bocah-bocah. Awas tuh ntar kalau ketauan lu di tanya mulu sama dia..” Baekhyun cengangas-cengenges ke arah tiga gadis malang yang gak bisa melepas ketawanya itu.

“Ntar lu bertiga ditanyain gini: Kalian.. Ehe.. Kenapa ketawa.. Ehe.” Chanyeol menirukan suara kepala sekolah mereka, tapi gagal karena suara Chanyeol terlalu ngebas.

Baekhyun menambahkan, “Emangnya.. Ada yang lucu.. Ehe.. Kalian itu.. Seharusnya apa? Ya, benar. Mendengarkan.. Saya ehe-ehe..”

Rasanya Nichan pengen segera pergi ke kamar mandi untuk ngelepas ketawanya yang dia tahan-tahan. Tapi Nichan cuma bisa jongkok supaya gak ketauan oleh guru-guru maupun para osis yang berjaga di sekeliling barisan murid baru.

Daeri, dan juga cewek yang seumur dengan Nichan itu semakin gak kuat buat nahan ketawa. Terima kasih pada pasangan lawak yang baru aja tercipta, Baekhyun-Chanyeol atau BaekYeol yang terus-terusan ngecengin pidato kepala sekolah mereka.

Setelah agak lama, akhirnya ketiganya bisa menarik udara segar kembali.

“Haah… Haaah..” Nichan terdengar sangat tidak berdaya.

“Gila dasar tuh dua orang.. Daritadi di kelas gua perhatiin bercanda mulu..” ujar anak cewek itu.

Daeri yang telah mendapatkan kembali akal sehatnya pun bertanya dengan nada lemas. “Eh iya, kamu namanya siapa?”

Anak itu mengumpulkan napas sebelum menjawab Daeri. “Kwon.. Kwon Ara. Aduh, capek ketawa nih.”

Daeri mengangguk. “Aku Kang Daeri, yang ini Park Nichan.. Kamu lahiran 95 juga ya?”

Gadis yang ternyata bernama Ara itu menaikkan alisnya. “Hah emang kamu juga??”

“Bukan aku, tapi Nichan-unni.. Aku malah lahiran 96.” Daeri seolah mendengar suara Baekhyun menggumamkan “Dasar bocah..” tapi ia memutuskan untuk ngelupain aja, takutnya salah denger. Kalau udah ngomel gak taunya Daeri salah kan tengsin. Mau ditaro dimana muka gua yang kece ini? Batinnya, kepedean.

“Aku pikir aku doang yang paling kecil. Gak taunya malah ada yang lebih muda lagi.. Hehe.” Ara nyengir-nyengir, kemudian ia merogoh sakunya, kayak lagi nyari sesuatu.

“Iya, kita jadi yang paling imut di kelas.” lanjut Daeri dengan tingkat kepedean yang lagi tinggi, sambil menepuk-nepuk pundak Nichan yang sedang lelah. Barusan kayaknya ia denger lagi Baekhyun ngomong, “Cuih, mana ada imut kayak begitu.”, tapi lagi-lagi Daeri diemin aja.

“Aduh, kayaknya jauh juga ya kita dari kata ‘imut’.. Nih, mau permen gak?” Ara menyodorkan tangan yang penuh dengan permen dengan bungkus warna-warni. Mata Nichan dan Daeri pun berubah jadi warna-warni.

“Mau!! Wah, makasih ya!” Dengan binal, Nichan dan Daeri meraup hampir semua permen dari Ara, padahal ujung-ujungnya yang dimakan juga cuman atu biji, sisanya buat dimakan nanti pas di kamar. Maklum, pada gak mau rugi mumpung ada permen gratis.

Tiba-tiba ada suara orang berdehem.

“Bagi dooong~” Itu Chanyeol.

“Eh gua mau semuanya boleh gak? Boleh ya? Boleh dong..” Itu Baekhyun.

“Bagi juga dong.” Itu suara orang yang dari pagi secara random muncul di ff ini, yang gak dipedulikan oleh para tokoh utama kita.

“Sisain buat nanti di kelas, woy.” Daeri memperingatkan pasangan lawak BaekYeol tersebut ketika mereka berdua dengan maruk ngambil permen-permen dari tangan Ara.

“Tenang aja, aku di tas masih punya tiga bungkus..” Jempol Ara membentuk tanda ‘sip’ ke arah Nichan dan Daeri, diikuti dengan tepuk tangan pelan tapi bersemangat dari keduanya.

“Ara hebat!” Secara gak sengaja, Nichan teriak sampe diliatin anak-anak sekelasnya, murid kelas lain pun juga nengok ke arah mereka berlima. Nichan langsung refleks nutup mulut.

“Eeuuh, maaf, maaf, maaf ya..” Ara dan Daeri berbarengan bungkukkin badan untuk minta maaf, pandangan semua orang pun kembali tertuju kepada sang kepala sekolah ‘ehe-ehe’ dan dengan segala ke-ehe-annya.

Saat Nichan, Daeri, dan Ara saling melempar senyuman jijay ke satu sama lain, Chanyeol pun nimbrung, “Eh, baydewey, lu kok bawa banyak permen sih? Lu jualan ya?”

Baekhyun gak mau kalah. “Ada mie ayam gak?” ujarnya sambil ngunyah permen ke-tiga.

Ara memandang Baekhyun dengan sinis. Kenapa semua jadi kena sindrom sinisnya Daeri begini? “Lu pikir gua warung?”

“Eh, kalian daritadi nyadar gak sih?” kata Nichan sambil membuka permennya yang ke-dua.

Daeri, Ara, dan pasangan BaekYeol langsung menoleh pada Nichan. “Kenapa? Kenapa?” ujar mereka berbarengan.

“Itu loh, dua murid yang dateng naik helikopter tadi-”

“Wihh, iya tadi gua juga liat! Buseh, emak-bapaknya cebok pake duit kali ya! Gila, gua aja tadi pagi naik bis,” Belum sempet Nichan ngelanjutin omongannya, udah keburu dipotong Chanyeol dengan semangat membara.

Baekhyun, dengan mata melotot dan dengan semangat yang tidak kalah berkobarnya menimpali sahabatnya. “Heh, lu mending naik bis, gua naik becak bawa-bawa koper segede hah-hoh gitu. Kasian kakek-kakeknya! Apalagi pas tanjakan, gua ampe bantu dorong tau gak lu,”

Nichan, Daeri, dan Ara udah gak tau lagi harus gimana menghadapi pasangan lawak itu. Mereka nahan-nahan ketawa sampe bungkuk-bungkuk, rasanya seperti deja vu, ya..

“Emang..mereka kenapa, unni?” Daeri kembali pada topik semula setelah ketawanya berkurang.

“Eng.. Itu loh, di belakang..”

Pelan-pelan tapi pasti, kelima orang rusuh yang gak merhatiin pidato kepala sekolah daritadi itu nengok ke belakang barisan mereka berbarengan, hanya untuk melihat dua orang biang keributan besar tadi pagi duduk dengan nyaman dan adem di atas bangku tinggi ala pangeran kerajaan masing-masing dan di bawah payung besar, padahal sebenernya gak perlu karena tempat upacara mereka adalah indoor, pake ac pula. Intinya payung itu untuk apa? Ya, benar. Untuk pemanis saja. Kenapa author jadi ngikutin gaya ngomongnya kepala sekolah?

Bedanya, orang yang turun dari helikopter ‘REN’ bangkunya warna pink campur merah marun dan ada kilauan emas di sandaran tangannya. Payungnya pun memiliki motif yang sama.

Sedangkan orang yang turun dari helikopter ‘D.O’ duduk di atas sofa dengan warna abu-abu campur biru tua dengan sandaran tangan bersinar layaknya perak asli. Tapi yang satu ini payungnya cuma warna putih dengan renda-renda mewah di sekelilingnya.

Dengan membawa bodyguard-nya masing-masing, mereka berdua terlihat persis seperti pangeran.

“……..” Daeri diem.

“….nyam.” Ara diem, terakhirnya makan permen.

“……eu.” Nichan diem, terakhirnya cengo.

“Eh….” Chanyeol mungkin terlalu shock atau dia pengen ngecengin atau bahkan bisa juga dia ngiri sama mereka, sampe-sampe gak bisa berkata apa-apa lagi.

“Chanyeol, perasaan tadi gua juga udah manggil bodyguard gua deh , tapi mana ye?”

Orang yang disebutkan namanya itu memutar bola matanya. “Elu? Punya bodyguard? Korek nih idung gua, gak bakalan kesampean, deh!”

Baekhyun manyun. “Lu jahat amat..”

“Itu gak salah?” Akhirnya Daeri menemukan kata-kata yang tepat.

Nichan dan Ara geleng-geleng. “Enggak tuh, itu beneran..”

“Anak orang kaya darimana ya? Apa jangan-jangan keturunan raden mas apa gitu..” Chanyeol mengambil kesimpulan sendiri, diikuti oleh anggukan kepala Baekhyun. “Bisa jadi,”

“Gile, udah dateng naik helikopter, pas upacara pake begituan segala, lagi..” Nichan berdecak kagum.

“Kenapa? Unni mau juga?”

“..gak mau. Malu.”

“Kalau aku sih gak suka cowok kayak gitu.” ujar Ara, lalu ia menambahkan, “Kesannya anak mami banget. Apalagi kulitnya mulus gitu..”

“Iya ya, lebih seru yang kayak gue gini kan?” kata Chanyeol sambil angkat kerah dan memasang pose keren, sementara yang ia dapat malah tatapan kesal dari ketiga cewek itu. Chanyeol yang salting langsung garuk-garuk kepalanya yang gak gatel.

“Kepedean sih lu..” Baekhyun mengingatkan sahabatnya.

“Ini daritadi kita ngobrol, ketawa, makan permen, tapi kok gak ditegur ya?” Ara menyuarakan keheranannya sedaritadi. Gimana enggak? Udah gak ngedengerin si ‘ehe-ehe’ sama sekali, bikin ribut pula, tapi gak ada tuh guru yang ‘ssst’-in mereka atau negur mereka.

“Ahahaha, bagus deh kalau gitu!” Dengan bahagia Nichan menjawabnya, yang langsung di-iya-in oleh Daeri, Ara, serta Baekhyun dan Chanyeol. Kemudian mereka melanjutkan kegiatan ngobrol mereka.

* * *

“Kyuri!”

Panggil seorang namja berwajah asoy yang tengah berlari ke arah orang yang ia panggil.

“Oi, Suho!”

Orang yang dipanggil ‘Suho’ itu berhenti di samping Kyuri, napasnya terengah-engah karena abis lari. “Maaf telat, soalnya tadi aku dipanggil dulu ke ruang guru untuk ngambil data-data anak 1-D.. Jadi, gimana? Tadi kamu udah ke kelas?”

Kyuri mengangguk dan kembali menjatuhkan pandangannya ke barisan anak-anak kelas 1-D yang dari awal upacara terus ia awasi itu, meskipun agak susah untuk konsentrasi dengan adanya dua bangku tinggi beserta empat bodyguard berbadan bongsor yang agak menghalangi pandangannya.

“Udah, dan coba liat itu deh… Menurutmu gimana?”

“Eh?” Suho pun langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh pasangan mentornya itu. Suho menyipitkan matanya untuk mendapat pemandangan yang lebih jelas lagi, antara percaya-gak percaya sama apa yang ia lihat.

“….siapa itu Kyuri?”

Gadis tersebut menghela napas. “Lebih tepatnya lagi ‘apaan itu’. Tadi kamu sampe sekolah dari asrama jam berapa?”

Suho mengernyitkan alis sambil mengingat-ingat. “Hmm.. Seinget aku sih jam……..lupa. Hehe. Tapi yang pasti udah dari pagi kok, aku kan telat karena bantuin Hyojin-seonsaengnim, Jungah-seonsaengnim, dan aku juga hapalin muka-muka anak baru yang kita urus.”

Mata Kyuri melotot. “Hah? Bantuin Hyojin-seonsaengnim sama Jungah-seonsaengnim?? Kenapa emangnya mereka? Ada masalah ya?” Tidak peduli di ff yang manapun, Kim Kyuri tetaplah seseorang dengan tingkat kepo yang gak bisa diobatin lagi.

“Tenang aja, bukan masalah besar kok.. Kalau Hyojin-seonsaengnim, aku bantuin dia milih roti apa yang mau dia beli buat sarapan. Kalau Jungah-seonsaengnim aku bantuin nyisir anjingnya.”

Suho tersenyum pada Kyuri. Biasanya sih senyum itu bisa membuat seluruh wanita yang melihatnya langsung kayang, berhubung Kyuri udah jadi sahabat Suho dari kelas satu, senyum itu hanya berdampak sedikit bagi yeoja tersebut. Minimal bikin Kyuri nyengir kuda aja.

Tapi kali ini Kyuri gak nyengir, melainkan bengong dengan mulut ternganga lebar agak sedikit menyon, mata melotot, idung kembang kempis, gak cantik sama sekali dilihatnya. Sungguh mengenaskan.

“…milihin beli roti?” Dengan ragu, Kyuri bertanya. Suho manggut-manggut tanpa melepas senyum tiga triliun watt-nya.

“….sama nyisirin anjing?” Suho ngangguk lagi.

Kyuri pun menghela napas dan mengeplak jidatnya sendiri, agak terlalu kencang sampe bergema sedikit di hall indoor besar tempat dimana mereka upacara itu.

“Haduh.. Itu sih mereka cuma mau modus aja supaya deket sama elu, Suhooo. Ampun dah..”

Namja unyu di sebelahnya hanya tertawa kecil. “Yaudah, gak apa lah.. Yang penting aku udah bantuin mereka, apapun alesan mereka.”

Gak abis pikir dengan kebaikan sahabatnya, Kyuri rasanya pengen ngejitak kepala Suho. Tapi gak jadi —dan gak pernah jadi sebetulnya dari jaman kelas satu dulu— begitu melihat ketulusan Suho.

“Dasar lu prince charming abad ini. Eh, iya, kamu beneran udah apal sama cecunguk-cecunguk baru ini?”

Rasanya Suho pengen langsung ketawa begitu denger nada penuh dendam dari pertanyaan Kyuri barusan. “Iya kok, serius aku udah apal.. Emang kenapa? Kayaknya kesel banget?”

Sambil monyong-monyongin bibirnya, Kyuri menunjuk ke arah lima bocah badung yang gak ada berenti-berentinya ngoceh dari awal pidato kepala sekolah.

“Tuh! Liat! Mereka daritadi ngobrol sampe ketawa cekikikan ampe jongkok-jongkok, lagi.. Mau gua tegur gak enak, ntar malah diliatin sama orang-orang dan kasian juga merekanya nanti malu. Mana tadi pagi ada dua orang yang dateng pake helikopter pula, ya dua orang itu ya yang sekarang duduk dengan manisnya di bangku khusus lengkap dengan bodyguard masing-masing itu.. Gimana nasip kita, Suho, gimana.. Pengsan aja gua ini mah..”

Curhat colongan Kyuri yang bersumber dari hati terdalam membuat Suho meng-pukpuk pundak yeoja itu dengan wajahnya yang seolah terlihat bersinar. “Tenang aja, kan ada aku. Kalau sendiri emang berat, tapi kalau berdua kan kita bisa ngatasin masalah apapun.. Kayak dulu-dulu aja. Ya kan?”

Kyuri yang lagi manyun langsung luluh hatinya. Padahal pasangan NRD-EXO di ff ini bukan Kyuri-Suho, lho.

“Emang dasar angel, lu.. Tapi makasih ya.”

Suho menaikkan jempolnya seolah pengen dangdutan. “Santai aja..”

Dan pada detik itu, tiba-tiba saja, pintu hall bagian samping panggung terbuka. Otomatis gak ada satu pun murid maupun guru yang gak melihat ke arah tersebut.

“Cahaya apa itu??!!” ujar suara banyak orang yang bercampur menjadi satu.

“Wah! Silaunya!”

“Kenapa itu??!”

Ruangan indoor tersebut memang luas, tetapi penerangannya kebanyakan berasal dari lampu yang berada di langit-langit. Makanya begitu pintunya terbuka, semua sinar yang berasal dari luar langsung masuk dan saking terangnya sampe hampir membuat orang-orang tidak bisa membuka matanya.

Dan bersamaan dengan cahaya terang, suara biola dan harpa yang menyatu membentuk suatu harmoni indah, ombak berderu membentur karang menimbulkan bunyi penuh romansa yang tidak bisa dilukiskan, bunga bertebaran di sepanjang ladang warna-warni yang lembut, serta burung-burung berkicau dan terbang secara berbaris, seorang namja dengan tinggi kira-kira 187cm datang memakai jas putih dengan dasi warna hitam yang melingkar dengan agungnya di sekeliling kerah kemeja putihnya, alis matanya tegas menyiratkan kepribadian yang kuat dan ketampanan yang tidak bisa ditutup-tutupi, serta rambut berwarna kuning sedikit oranye yang terlihat seperti terbuat dari benang kapas lembut yang dipetik dari perkebunan surga ke-tujuh dan dipilin dengan penuh cinta dan kasih sayang tidak berujung.

Deretan guru-guru menahan napasnya supaya gak langsung teriak histeris. Udah dua tahun mereka jadi pengajar makhluk Tuhan paling cihuy itu dan sampai detik ini mereka masih aja pengen ngejerit-jerit melihat murid mereka.

Sementara siswa-siswa yeoja udah gak pake malu lagi, langsung pada nge-scream dengan nada high-pitch yang luar bisa tinggi dan hampir mustahil untuk menjadi kenyataan.

Nichan, Daeri, dan Ara, yang tengah asik ber-huru-hara dengan BaekYeol, langsung berhenti seketika, menyaksikan peristiwa masuknya makhluk bercahaya (sebenernya sih background-nya doang yang bercahaya) yang dramatis.

“A- a- a- a-” Nichan berubah menjadi Nichan Gagap.

“Ma…..ti gu…..a………” Ara menambahkan.

“Euh……… Heuu..” Daeri, yang biasanya gak peduli dengan cowok keren nan tampan, gak bisa menolak pesona dan karisma yang satu ini.

Para gadis sibuk dengan kekagumannya masing-masing, sementara yang cowok kesel karena ada orang sekeren itu, tapi apa yang mau diayal? Mereka pun mengakui ketampanan senior mereka yang belum mereka ketahui namanya itu.

Cowok yang belum apa-apa udah iri padanya juga tidak sedikit, salah satunya, atau salah duanya adalah Baekhyun dan Chanyeol.

Baekhyun berdecak meremehkan. “Hayah.. Apaan tuh? Biasa aja.. Gantengan gua kali.”

Chanyeol pun ikutan menyetujui omongan sahabatnya itu. “Iya, beda tipis kali sama gua. Yaaah, sebelas banding dua belas gitu deh..”

“Dua belas juta maksud lu?” Baekhyun menimpali.

Kedua namja lawak itu menantikan saat dimana tiga cewek yang menjadi teman dekat barunya itu nahan-nahan ketawa, tapi hasilnya nihil, karena tiga-tiganya masih bengong mengagumi sosok indah itu.

“Yah….. Seriusan nih mereka jatuh cinta sama itu orang?” Chanyeol protes, padahal dia udah berencana untuk jadi cowok yang disukain banyak cewek, barengan dengan Baekhyun.

“Jangankan mereka, tuh, liat. Semua cewek juga gitu..” Baekhyun mengedarkan pandangannya dan terheran-heran karena semua cewek gak berenti-berentinya bisik-bisik, bahkan beberapa ada yang motoin pria super oke itu.

Jeritan cewek-cewek makin histeris ketika cowok itu membungkukkan badan di depan hadapan semua barisan kelas dan berkata,

“Halo, saya Kris. Maaf jika saya terlambat, saya ada urusan tadi.”

Sontak cewek-cewek langsung makin histeris, gak kebayang sih karena sebelumnya udah hebring. Padahal lagi pidato kepala sekolah ‘ehe’, tapi hebohnya kayak lagi ada dangdutan satu RT.

Nun dekat di belakang barisan 1-D sana, Kyuri dan Suho pun menjadi saksi kemunculan seorang Kris.

“Telah berpulang ke rahmatullah, akal sehat dari Kim Kyuri……” gumam Kyuri, gak ngedip sama sekali ketika melihat Kris membaur dengan barisan kelas tiga yang isinya emang makhluk-makhluk dengan ketampanan tingkat sorga semua.

Suho gak bisa nahan ketawanya. “Ya ampun, Kyuri.. Kamu udah setahun jadi adek kelas Kris-hyung, masih aja kayak gini?”

“Hamina-hamina-hamina,” Kyuri gak mempedulikan omongan Suho dan masih masuk ke dalam dunianya sendiri, dimana ia melihat dirinya dan Kris sedang duduk berdua di kapal pesiar dan menikmati ikan bakar bareng.

“Kyuri? Halo?” Suho melambaikan tangannya di depan muka Kyuri, tapi gak ada reaksi. Ia pun menghela napas dan tersenyum, lalu ia melihat kembali ke arah lima anak yang sebelumnya ditunjuk oleh Kyuri —yang kini kelimanya udah kembali ngakak-ngakak bareng meskipun tiga cewek itu jadi gak konsen—. Pandangan Suho kemudian jatuh ke arah dua tuan muda yang masih berada di singgasana masing-masing.

“Cih.. Dia lebih menonjol dibandingkan denganku..” Ren berdecak kesal, kemudian ia mengambil kipas dan memasang muka ala ibu-ibu arisan di sinetron.

Sedangkan D.O, masih dengan muka polos tidak bersalah itu berkata, “Keren sekali orang itu.. Dia bisa jadi role model-ku.”

Suho geleng-geleng dan kembali mendengarkan kepala sekolah yang makin dicuekin sama para murid berpidato ‘ehe’ kembali.

“Aku jadi gak sabar nunggu apa yang bakal terjadi nanti di kelas..” kata Suho, lebih kepada dirinya sendiri.

~To Be Bersambung~

 

Iklan

35 pemikiran pada “My Senior High School (Chapter 1A)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s