Just Tell Me What Is Love Is (Chapter 1)

Author : safarilimitedd (@uyuysafari)

Judul : Just Tell Me What Is Love Is [Chapter 1]

Genre : Drama, Friendship, Romantic, General

Length : Sequel

Rating : Teen,

Main Cast : [EXO] Byun Baekhyun, Xi Luhan, Park Chanyeol, Kim Tae Yeon, You

Other Cast : Kim Jong In, Kim Jong Dae, Zhang Yi Xing,

Disclaimer : All Cast is belong to SM Entertaiment and their own self except Lee Hyun Ri is Original Character from Author.

PS : Karena ini masih chapter satu, jadi masih dibanyakin Cuma perkenalan aja, *perkenalan doang panjang* tapi gak apa-apa dan mian kalo agak sedikit gantung, bosenin, dan ga jelas. Sekali lagi, kritik dan sarannya dibutuhkan. Gomawo~ Enjoy~. Fanfic yang aku buat *khusus aku* aku share di http://safarilimitedd.wordpress.com ,  kalau kalian berminat boleh mampir.. gomawo sekali lagi :3

Hari ini hari pertamaku menjadi seorang mahasiswi, ya. Mahasiswi. Ketika 3 bulan yang lalu aku berhasil menyelesaikan sekolahku, kini aku melangkah ketingkat pendidikan yang lebih tinggi, ketingkat kedewasaan yang semakin matang. Tapi aku tidak memilih universitas yang terkenal dan banyak dipilih oleh teman-teman SMA ku. Aku memilih untuk pindah ke Singapure. Ketempat yang jauh dari siapapun, dari teman dan dari keluarga. Karena aku benar-benar ingin menghilangkan diri dari duniaku yang dulu. Duniaku yang lama. Semuanya. Semua tentang masa-masa sekolah.

Dan ini aku sekarang, dengan melangkah sendiri, tak ada teman bahkan orang satupun yang ku kenal. Aku memulai kehidupanku disini. Di universitas. Sekolahku yang baru. Bahkan aku jauh dari orang tuaku sendiri. I have no one to depend on. Tapi aku akan berjuang.

Aku memasuki gedung universitas dengan langkah pelan. Dengan pandangan lurus dan headphone, kaos yang dilapisi kemeja dan jeans serta red converse yang melengkapi penampilan casual. Universitas ini tidak memiliki banyak siswa perempuan, karena kampus ini adalah kampus yang dimana orang-orang akan ditekan untuk bisa hidup dan bertahan untuk meraih sukses, ketika hampir 80% pejuangnya adalah pria. Aku memasuki kelasku yang pertama. Jam 08.50, aku lebih cepat 10 menit. Kelas dimulai pukul 9. Aku menaruh tas diatas meja dan mengeluarkan novel “Sherlock Holmes” yang selalu aku bawa kemana-mana, dengan headphone tetap stay di kepalaku.

Aku terlalu sibuk sehingga tak sadar bahwa para mahasiswa yang lain mulai memasuki kelas, kami sudah berkenalan satu sama lain sewaktu perkenalan waktu itu, walaupun tetap aku menghindar dari mereka. Dikelas ini hanya ada 2 orang perempuan dengan isi kelas 30 orang, dengan perempuan yang satu berpakaian seperti layaknya perempuan yang memakal cute blouse, dan aku lagi yang berkelainan dengan pakaian santai dan terlihat seperti laki-laki, but this is me. Siapa perduli?

Seseorang duduk di sampingku, dia mencoba menyapaku tapi aku tak mendengar, sampai aku sadar dosen memasuki kelas dan aku melepaskan headphone.

“Hi,” sapanya. Dia. orang itu. Lu Han namanya, jika kau melihat wajahnya, maka kau tidak akan percaya bahwa dia adalah seorang mahasiswa, terlalu baby face. “Hi,” sapaku balik dengan senyum kecil dan Soo Young Songsaengnim memulai pelajarannya.

***

3 jam kemudian kelas berakhir, mata kuliah berikutnya akan dimulai pukul 2, dan sekarang masih pukul 12 siang. Aku menuju kantin, namun tiba-tiba Lu Han menepuk bahuku dari belakang.

“Mau kemana?” tanyanya ramah. Terlalu ramah. “Ke kantin,” jawabku santai, “Mau ikut?” lanjutku. “Boleh, kebetulan juga aku mau ke kantin,” katanya sambil tersenyum.

Aku tidak begitu mengenalnya, tapi kelihatannya dia benar-benar ramah dan baik, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa begitu bersahabat denganku, ketika orang lain menghindar –atau lebih tepatnya aku yang menghindar- dan bahkan mungkin tidak menyadari ada aku dikelas tadi.

“Siapa namamu?” tanyanya sambil menarik bangku lalu duduk persis didepanku, dan akupun melakukan hal yang sama. “Lee Hyun Ri,” jawabku singkat. “Oh,,” katanya sambil mengangguk, lalu melanjutkan, “Kau tidak bertanya siapa namaku?” katanya polos, berharap mendapatkan balasan yang sama.

“Tidak perlu. Aku sudah tahu. Bagaimana aku tidak tahu kalau kau, Xi Lu Han, yang menumpahkan cola ke kemejaku waktu itu dan minta maaf berkali-kali dan berulang-ulang bahkan menyebutkan namamu sendiri” jelasku lalu menenggak Lemon Tea yang sebelumnya sudah ku beli.

“Ahaha, ya-ya. Kau ingat, aku kira kau lupa. Aku minta maaf lagi deh, aku gak sangka kita dapet jam mata kuliah yang sama. Kau masih marah soal kejadian waktu itu?” tanyanya lagi.

“Ah, sudahlah. Hal seperti itu tidak usah dibawa terlarut-larut, aku bahkan sudah lupa kemeja mana yang kau kotori dengan colamu itu” candaku, “Lalu? Kenapa kau disini?” tanyaku polos.

“Tidak boleh? Aku bukan tipe orang yang mudah bergaul, aku mengenal wajahmu karena kejadian itu sebelumnya, maka dari itu aku agak sedikit lebih nyaman berbicara denganmu.” Jelasnya.

“Bukan tipe orang yang mudah bergaul?” aku memandangnya dengan tatapan heran, “Ah~ mungkin karena kau seharusnya ada di bangku SMA, bukan disini” cetusku sambil tertawa kecil.

“Ok, terimakasih secara tidak langsung berbicara aku anak kecil,” balasnya.

“Ahaha, bukan-bukan. Tapi kau ini mukanya terlalu baby face, terlalu muda untuk ada disini.” Kataku sambil tertawa, “Tapi bukannya seseorang yang baby face itu disukai banyak perempuan?” sambungku lagi.

“Apa kau secara tidak langsung berbicara kalau kau suka padaku?”

“Over-confident. Mana mungkin aku suka sama anak SMA,”

“Jujur aja, gak usah malu!”

“Haha, whatever” kataku, lalu menyeruput habis Lemon Tea.

***

Hubunganku dengan Lu Han kian baik, hanya dia yang dekat denganku sampai saat ini, walaupun ada beberapa yang lainnya yang ternyata menyadari kehadiranku. Tapi untuk Lu Han, entah kenapa aku merasa dia seperti teman lama. Teman yang dulu pernah hadir lalu pergi, kemudian kembali tanpa membawa memori lama, namun masih terlihat sangat familiar. Aku nyaman dengannya, sebagai teman baik.

Dan hari-hari di kampus pun terlewati begitu saja, tak terasa. 3 bulan berlalu begitu cepat, sangat cepat. Tapi aku masih disini, duduk di pojok kantin dengan segelas Lemon Tea sambil membaca buku novel favoritku Sherlock Holmes.

“Hey, Holmes freak! Sampai kapan kau mau disini? Ini sudah jam 5 sore dan udah gak ada lagi jam kuliah” sentak seseorang. Lu Han. Lalu duduk persis didepanku dan menyambar Lemon Tea-ku tanpa izin, aku tidak marah. Jelas. Karena aku sudah terbiasa. Semakin lama, kami semakin mengerti satu sama lain, proses menjadi sahabat yang terlalu cepat bagiku. Hanya dengan tiga bulan, tapi aku seakan sudah mengenalnya bertahun-tahun.

“Lalu, kau ngapain disini?” tanyaku dengan tetap serius membaca novel.

“Aku baru selesai latihan seni suara, ketika aku lihat kau masih terduduk disini, membeku.” Katanya.

Aku menutup novelku dan merebut Lemon Tea ku kembali dari genggamannya, “Aku tidak membeku hey! Aku hidup, normal, dan tidak hibernasi.” Cetusku, “Atau kau nungguin aku ya? Ahee, nungguin aku kan?” ledeknya, dengan wink-nya yang khas.

“Over-confident!” kataku.

Aku bukannya tidak ada kerjaan, tapi ini adalah salah satu kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak SMA. Berdiam diri dikantin, sendirian, dipojok, sampai sore. Apapun aku lakukan, entah itu membaca novel, mengerjakan tugas, apapun. Lu Han pun tau kebiasaanku yang satu itu, tapi entah kenapa dia tak henti-hentinya meledekku habis-habisan seperti itu.

***

Hari ini hari sabtu. Ya sabtu, dimana malamnya disebut malam minggu.  Tapi aku tidak pernah memperdulikan hal itu, karena aku tidak punya pacar. Waktu malam mingguku aku habiskan di aula seni kampus. Sampai tengah malam. Sendirian. Inilah kebiasaan anehku yang lain, berani bermalam-malam di kampus sendirian, tanpa takut bahkan bergidik seujung jaripun. Padahal banyak rumor yang mengatakan bahwa lantai 3 adalah lantai yang banyak penghuninya –syaiton dengan kata lain-, dan aula seni berada dilantai tiga, tapi aku tidak perduli. Toh, sampai saat ini belum ada yang memunculkan wujud mereka secara terang-terangan didepanku.

Lain halnya dengan Lu Han yang menjadi orang sibuk dadakan ketika malam minggu. Meskipun dia tidak punya pacar –sebut aja jomblo- sama sepertiku, tapi dia punya seabreg kesibukan yang mendadak setiap satnight. Belum lagi stalker setianya yang selalu mencuri-curi waktu untuk bisa ngedate sama dia pada saat satnight. O yeah, dia semakin terkenal, karena dia memang benar-benar sempurna. Sempurna dimataku sebagai sahabatnya, tubuhnya sempurna dengan tinggi ideal, suara indah, jado dance, pintar, dan satu lagi. Baby face. Tapi walaupun begitu, dia belum bahkan tidak pernah sama sekali menyatakan suka kepada seorang wanita, padahal banyak yang ngantri dibelakangnya. Dan yeah, over-confident is Lu Han after all.

Aku memulai dance dengan lagu slow, lalu secara perlahan menaikkan beat dan menjadi high-beat dengan gerakan cepat dipuncaknya, ketika pada saat selesai aku akan sangat basah oleh keringat dan nafas yang gak karu-karuan. Aku mendengar handphoneku berdering, tidak terdengar jelas, hanya suara getarnya saja yang terdengar jelas karena bergesekan dengan meja.

[Call Zone]

Lu Han : Hey, dimana?

Me : Just…. Guess… *ngos-ngosan*

Lu Han : Ah, kampus?

Me : Yup, ada apa?

Lu Han : Aku kesana ya…

Me : Ngapain?

Lu Han : Ikut dance. Aku gak ada acara, aku kesana ya, bye-

[end]

Menutup telpon seenaknya saja, aku menaruh kembali hapeku hingga tak lama kemudian aku mendengar pintu aula dibuka. Lalu sesosok Lu Han muncul dari balik pintu. Dan menyapaku dengan big smile.

“Aku rasa kau meneleponku ketika kau ada ditangga menuju kesini?” kataku, lalu meraih botol minum yang tak jauh dari jangkauan.

“Betul sekali, aku bosan. Dari pada aku jalan sama cewek gak jelas yang bahkan aku gak kenal siapa dia, aku lebih baik kesini dance sama kamu. Iya kan?” katanya, lalu mengedipkan matanya.

“Whatever,” kataku, aku tau itu hanya candaan kecil. Tidak lebih.

Aku memulai duet, Time Control, aku paling suka duet dance lagu ini dengan dia, karena disisi lainpun aku gak suka dance yang terlalu girly, and I can compare with him. Dan terkadang battle akan jadi penghujung dan yang kalah traktir makan. Siapa yang nilai? Kaca aula yang menilai mana yang paling bagus.

Dan kali ini aku yang kalah, yah. Dia benar-benar pintar memilih lagu dan memberikanku lagu Pandora. Aku gak bisa gerak seinchipun secara lagu Pandora-nya Kara itu amat sangat girly, dan aku menyesal kenapa di awal aku berbicara bahwa kami bisa memilih lagu apapun.

 

Kami meninggalkan kampus pukul 10. Lalu pergi menuju restoran cepat saji terdekat. Aku kebagian sial hari ini, karena harus mentraktir seorang Lu Han yang selera makannya bisa dibandingkan denganku. Sama-sama Shiksin, doyan makan, rakus. Dan mempunyai keunikan yang sama yaitu sama-sama tidak akan gendut ketika makan banyak dimalam hari.

***

Senin. Ketika orang lain frustasi bahkan benci ketika senin menjelang, aku justru senang. Karena senin aku tidak harus datang ke kampus pagi-pagi. Kelasku hanya satu dan itu dimulai pukul 1 di hari senin. Setelah itu, aku bebas karena kegiatan extraku tidak ada di hari senin.

Aku datang 10 menit lebih cepat. Dan aku melihat Lu Han terlihat sedang berfikir keras di pojok kelas. Sendirian, dengan tangan memegang kepala, terlihat seperti orang frustasi kena kejar tempo hutang.

Aku menggebrak meja, “YA~ XI LU HAN!” teriakku, dia bergumam dan mengelus dadanya kaget, aku tertawa lalu duduk dibangku didepannya. “Kenapa kau? Frustasi gitu? Ada apa dengan kelasmu tadi pagi?” tanyaku.

“Bukan-bukan, ini bukan tentang kelas tadi pagi, tapi ini tentang club seni.” Katanya. Aku menatapnya heran, “Klub seni? Memangnya kenapa? Bubar semua? Kena denda?” tanyaku polos.

“Aish, bukan. MInggu depan kita bakal tampil diacara pembukaan acara festival tahunan.”

“Nah, terus? Kenapa frustasi? Disuruh tampil? Oh, bukannya Lu Han itu seorang yang Over-confident ya?”

“Bukan, bukan. Bukan aku yang tampil. Tapi Kim Jong Dae Sunbae”

“Ah, terus? Frustasi karena gak bisa tampil?”

“BUKAN~”

“Ya terus kenapa? You’re not telling me!” kataku dengan nada sedikit meninggi.

“He needs partner..” katanya, “Partner buat nemenin dia duet, dan Jessica Sunbae gak bisa nemenin dia tampil karena ada acara luar kampus minggu depan. AND I~ AS THE VICE PRESIDENT harus mencari pengganti! Penggantiiii.. oh, maaaan..” katanya sambil mengacak-ngacakkan rambutnya, dan aku masih menatapnya polos.

“And so? What’s wrong? U AS THE VICE PRESIDENT kan tinggal tunjuk satu anggota club, suruh dia tampil, or OPEN AN Audition gitu! Secara kan Jong Dae Sunbae itu punya banyak fans, jadi banyak pasti yang mau tampil sama dia” kataku, gampang.

“Bicara itu gampang segampang ngebalikin tangan. Tapi nyari orang yang suaranya setipe dan sekuat dan setinggi Jong Dae Sunbae itu gak gampang, dia itu udah kayak pro, dan partner cewek yang bisa nemenin dia ya Cuma Jessica Sunbae yang sama pro-nya, nah? So? What should I do? Paksa anak cewek sekampus buat nyanyi? Anak cewek disini limit, bisa diitung jari maaaan.. “ katanya lagi, lebih frustasi. Ini kejelekan dia yang satu lagi. Terlalu mempermasalahkan dan act so lebay.

“Would you like to help me?” katanya, dengan pandangan berharap.

“Why should I help you? That’s your job!” ketusku, lalu dia semakin menunduk frustasi.

 

2 hari kemudian dia membuka audisi, oke. Dia menuruti saranku akhirnya, karena di clubnya pun tidak ada yang mampu menyaingi Jong Dae Sunbae, maka dia mencari kandidat yang lain. And as I said, banyak dan hampir semua cewek sekampus daftar audisi, oh atau mungkin tersisa satu cewek yang gak daftar? Ya, itu aku. Aku tidak tertarik dengan segala macam audisi or what hell of that. Karena aku tidak suka dipandangi oleh banyak orang. Tapi aku punya selera pendengaran yang bagus, perfect pitch orang bilang. Makanya disini aku dipilih untuk menjadi salah satu juri karena rekomendasi Lu Han, dan ada Jong Dae Sunbae dan Young Jin Songsaengnim bersamaku dimeja juri.

Audisi dimulai dihari kamis, dimana hampir semua fakultas punya jadwal yang sama dan mata kuliah sedikit. Sekitar pukul 1 siang, aula sudah dipenuhi hampir semua perempuan sekampus. Dan para peserta pun silih berganti satu persatu. Dari sekian banyak –sebanyak perempuan disana- yang mendaftar sebagai kandidat, aku dan juri lainnya hanya memilih 3 terbaik, itu pun tidak lain tidak bukan 2 diantaranya dari klub seni. Diantara ketiganya, Jong Dae Sunbae yang berhak memilih.

“Suara mereka goyang, apa mereka nervous?” bisik Lu Han saat ketiga kandidat dijurikan sendiri oleh Jong Dae Sunbae.

“Bukan, mereka gak nervous, tapi cara bernyanyi dan pengambilan nada mereka di awal salah, mungkin karena nervous, makanya goyang, tapi pada saat mereka bernyanyi mereka stabil ko.” Komentarku.

“Kau kenapa tidak masuk klub seni suara? Kalau kau masuk, mungkin yang jadi wakil ketua bukan aku, tapi kau.” Cetusnya heran.

“Aku tidak tertarik dalam hal bernyanyi, aku lebih suka dance” balasku singkat.

“Tapi kenapa kau tidak ikut tampil di festival tahunan minggu depan? Skill dancemu kan bagus?” tanyanya lagi.

“Karena aku akan terlihat amat sangat lemah dan tak bertenaga ketika di klub.” Lalu aku tersenyum, dan meninggalkan dia yang masih focus melihat para peserta audisi.

Setelah melalui audisi yang alot, akhirnya hari itu juga Jong Dae Sunbae memutuskan Kim Yu Ri yang akan menjadi partnernya minggu depan. Karena semuanya dilakukan seharian, audisi baru benar-benar finish pukul 10 malam.

“Ya Lee Hyun Ri, kalau dilihat, cuma kau yang tidak ikut audisi ya?” tanya Jong Dae Sunbae ketika aku hendak melangkahkan kaki menuju pintu keluar menyusul Lu Han yang sudah menunggu diluar.

“Ah, engga ko. Ada Tae Yeon Sunbae juga yang gak ikut audisi karena dia sakit hari ini,” kataku, lembut. Oh, aku bahkan tidak bisa mengelak bahwa bahkan saat berbicara pun Jong Dae Sunbae benar-benar mempunyai suara yang indah.

“Ah,” Jong Dae Sunbae mengangguk dan tersenyum, lalu aku pamit pergi dan menyusul Lu Han yang sudah menunggu diluar.

***

Iklan

6 pemikiran pada “Just Tell Me What Is Love Is (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s