Power Users (Chapter 5)

Power Users

(Part 5)

Author:

@ridhoach

Main Cast:

–          Kim Jong Dae (EXO-M)

–          Nam Shin Ra (OC)

–          Do Kyung Soo (EXO-K)

Support Cast:

–          All members of EXO.

–          Kim Jae Hyun (OC).

Previous Chapter:

 

            Luka bakar?Sangat parah?Apa benar begitu? Kenapa pada perbannya tidak ada sedikitpun bercak darah atau bercak obatnya?Apa benar – benar parah? Aku tau kalau dia berbohong, tapi apa alasannya sampai dia berbohong? Dan sebenarnya alasan apa sampai dia menutupi tangan kanannya dengan perban? Apa yang coba D.O tutupi dari kami?

 

—–

Shin Ra’s POV

 

Apa D.O itu sama seperti JongDae-ssi yang memiliki ‘keanehan’ itu? Apa dia juga bukan manusia biasa? Kenapa dia berbohong pada kami?Sebegitu pentingnya kah tangan kanan itu sampai – sampai dia tidak biarkan kami melihatnya? Sebenarnya, ada apa ini?

 

END of Shin Ra’s POV

 

*****

 

Kyung Soo’s POV

 

Gerbang sekolah sudah bisa terlihat dengan jelas oleh kornea mataku. Sebuah gerbang yang memulai petualanganku di dalam neraka sana. Pelajaran yang sangat sulit, murid – muridnya yang membosankan dan guru – gurunya yang menyebalkan adalah sebuah kombinasi yang cocok untuk membuatku menjadi semakin tidak betah berada di sekolah itu.Tapi, karena ini adalah sebuah kewajiban untukku, mau tidak mau aku harus menjalaninya walaupun ini sangat membosankan.

 

Beruntung, dari sekian banyak murid – murid yang membosankan itu, aku berhasil menemukan 2 orang murid yangsangat bersahabat dan menyenangkan.Seorang namja bernama Kim Jae Hyun dan seorang yeoja bernama Nam Shin Ra. JaeHyun-ah, seorang namja yang terlahir sebagai seorang jenius serba bisa dengan segudang bakat yang memang dia miliki sejak lahir.Mulai dari Kimia, Matematika, Bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Yah, walaupun dia sangat bodoh dalam Fisika, tapi itu tidak mengurangi kekagumanku akan kejeniusannya. Dia adalah tipikal orang yang suatu waktu akan terlihat sangat jenius serta dingin. Tapi, di lain waktu dia akan sangat terlihat konyol serta bodoh. ShinRa-yah, seorang yeoja yang manis dan baik hati. Sangat mahir dalam bidang Fisika. Tapi, hanya pada satu bidang itu saja, selain itu dia sama denganku, nol besar. Terkadang, dia akan begitu hangat, tapi terkadang dia akan berubah menjadi seorang yeoja yang menyeramkan dan dingin.

 

“Anyeong KyungSoo-yah”.

Setiap pagi aku selalu mendengar yeoja – yeoja yang ada di sekolah itu selalu manyapaku.Seolah – olah aku dan mereka adalah teman yang akrab. Padahal aku sama sekali tidak mengenal mereka sedikitpun.

“Ah, annyeong D.O-yah. Kau telat!”, ujar sebuah suara dari sudut kelas, suara ShinRa-yah.

“Jinjja?”, ujarku.

“Untung saja Jung seongsaenim belum masuk”, ujarnya lagi.

“Dimana JaeHyun-ah? Apa dia belum datang?”, tanyaku.

“Ani.Dia tidak masuk.Dia bilang dia ingin mencari hyungnya, JongDae-ssi, yang sudah lama tidak kembali ke rumah”, ujar ShinRa-yah.

“Ne? Apa dia sedang bertengkar dengan hyungnya?”, tanyaku.

“Moella.Sudahlah cepat duduk”, suruhnya.

 

END of Kyung Soo’s POV

 

*****

 

Shin Ra’s POV

 

Mataku lebih tertarik untuk membaca sebuah komik yang aku selipkan di bawah buku catatan Kimiaku daripada harus melihat dan menyimak penjelasandari  Jung seongsaenim di depan kelas. Aku terlalu enggan untuk menyimak pelajaran yang bagiku sangat susah dan terasa membosankan itu.

“Komik yang bagus ya ShinRa-yah”, bisik sebuah suara di belakangku.

“Ah, ne. Kau tidak memperhatikan penjelasan Jung seongsaenim juga D.O-yah?”, tanyaku pelan.

“Ne. Itu membosankan.Aku tidak suka”, ujarnya pelan.

“Ah, ternyata kita sama”, ujarku.

“Coba liat seongsaenim itu.Mulutnya lebar, tubuhnya jangkung, apa menariknya? Kenapa dia tetap mau menerangkan pelajaran membosankan itu? Apa dia ingin membuat kita menjadi samma sepertinya dengan mulut yang lebar itu?”, canda D.O.

“Hihihihihi”, aku mencoba untuk tertawa dengan pelan sambil membekap erat mulutku menggunakan kedua tanganku.Takut terdengar oleh Jung seongsaenim.

“Memangnya kita apa? Anaknya?Mana sudi wajah imutku ini berubah menjadi mengerikan seperti wajahnya yang seperti badut itu”, ujar D.O.

“Huahahaha”, aku tertawa dengan begitu keras dan kencang.Aku juga melihat D.O-yah ikut tertawa bersamaku.

 

Aku bisa merasakan bahwa saat ini semua pasang mata yang ada di dalam kelas itu sedang menatapku lekat dan D.O-yah yang tiba – tiba tertawa dengan begitu kerasnya. Termasuk salah satunya sepasang mata yang menatap kami tajam dari arah depan kelas, mata Jung seongsaenim.

“Silahkan kalian keluar dari kelas ini dan tertawalah dengan kencang dan sepuasnya disana!!”, bentak Jung seongsaenim dengan penuh amarah.

Aku dan D.O-yah segera pergi dari kelas itu sebelum kami berdua mendapatkan masalah yang lebih besar dari Jung seongsaenim.

 

Aku dan D.O berjalan menyusuri setiap lorong kelas yang ada.Mengelilingi sekolah untuk menghabiskan waktu sepertinya bukan pilihan yang buruk.Lagipula, aku tidak sendiri, tapi ditemani oleh D.O-yah.Tunggu dulu, sejak kapan aku menjadi begitu dekat dengan D.O-yah?Kenapa aku merasa nyaman berada di dekatnya?Aku ini kenapa?

 

END of Shin Ra’s POV

 

*****

 

Jae Hyun’s POV

 

Flashback ON

“JongDae-ssi sudah meninggalkan rumah sakit sejak 2 hari yang lalu JaeHyun-ssi. Apa dia belum kembali ke rumah?”, ujar seorang suster di balik meja resepsionis rumah sakit.

“Mwo??Sudah pergi? Bukannya hyungku masih koma agasshi?”, tanyaku tak percaya.

“Kami juga sangat terkejut saat melihat JongDae-ssi bisa berjalan seperti orang yang sehat.Bahkan, semua luka yang ada di tubuhnya pun menghilang dan tertutup.Entah obat apa yang diberikan oleh para namja yang pada hari itu sedang mengunjunginya”, ujar suster itu panjang lebar.

“Namja?Siapa yang menjenguknya agasshi?Singatku hyungku tidak memiliki kenalan di sini”, ujarku.

“5 orang namja berwajah oriental ahjussi.Sepertinya mereka berasal dari China”, ujar suster itu.

“Jinjja?!! Apa hyungku mengatakan dia akan pergi kemana ahjussi?”, tanyaku.

“Chwisonghamnida ahjussi. JongDae-ssi tidak mengatakan apapun saat ia meninggalkan rumah sakit ini.

“Gwenchana agasshi.Kamsa hamnida atas waktunya.Annyeonghi gyeseyo”, ujarku seraya membungkukkan badanku dan berlalu meninggalkan rumah sakit itu.

 

Flashback OFF

 

—–

 

Masih terngiang – ngiang dengan jelas di dalam pikiranku perkataan suster di rumah sakit itu.Kemana perginya JongDae-hyung?Baru saja tidak aku jenguk selama 2 hari, dia sudah lenyap dari peredaran.Obat?Apa ada obat yang bisa menyembuhkan orang yang sedang koma dan bisa menutup semua luka yang ada di tubuh orang itu? Terlalu ajaib untuk sebuah obat.Namja berwajah oriental?Apa itu teman – temannya dari China? Kenapa mereka bisa disini?

 

Hari ini aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah dan mencoba mencari JongDae-hyung.Aku sudah cukup khawatir dengan kehilangan JongDae-hyung ini.Aku berhaparap aku bisa menemukannya.            Sudah berkali – kali aku menelepon JongDae-hyung, namaun tidak ada satu pun dari panggilan itu yang di gubrisnya. Hyung, tolong jawab telepon dongsaengmu ini, jaebal hyung!

 

*****

 

Jong Dae’s POV

 

Sudah beratus kali aku mendengar hand phoneku berbunyi dan bergetar menandakan ada sebuah panggilan yang masuk. Namun, tak ada satu kali pun aku menggubris dan meladeninya.Aku tau, semua itu adalah telepon dari dongsaengku, JaeHyun-ah. Aku tau pasti cepat atau lambat dia akan mencariku yang sudah lama tidak memberikan kabar dan menghilang dari hadapannya.

“JongDae-yah, apa kau tak mau mengangkat telepon dari dongsaengmu? Apa kau tidak memikirkan perasaannya?”, ujar XiuMin-hyung yang sedang duduk di sampingku.

“Aku mau hyung.Tapi, aku tak bisa.Aku tak ingin melibatkannya dalam pertemuran kita.Aku tak ingin membuatnya terluka”, ujarku sendu.

“Aku tau JongDae-yah.Tapi, kau juga tak bisa terus – terusan bersembunyi.Sapalah adikmu sebentar, buatlah sebuah alasan yang akan menenangkannya”, ujar XiuMin-hyung.

“Tapi hyung…”.

“Sudahlah JongDae-yah. Percayalah pada hyungmu ini”.

 

Aku mengambil hand phoneku yang tergeletak tak jauh dari tempatku berada dan mulai menekan nomor telepon adikku. Tak sampai sepuluh detik, panggilanku langsung disambut olehnya.

“Yeobo…”.

“Hyung!Apa itu kamu? Hyung, kemana saja kau selama ini?!!”, teriak JaeHyun-ah dari seberang.

“Ne, ini aku hyungmu. Apa kau sudah melupakan suara emas hyungmu ini JaeHyun-ah?”, ujarku.

“Jangan bergurau hyung.Sekarang hyung ada dimana?Eomma cemas hyung tidak pernah pulang beberapa hari ini. Sebenarnya, hyung pergi kemana?”, tanyanya.

“Aku… Ehmm… Hyung sedang ada di China”, ujarku pelan.

“Jinjja?!! China? Kenapa kau bisa ada di sana?”, tanyanya tak percaya.

“Ah, aku sedang ada keperluan disini”, ujarnya.

“Kenapa kau tidak menghubungi kami hyung?Kau membuat kami cemas”, ujarnya.

“Mianhe JaeHyun-ah.Aku lupa.Kasih tau eomma kalau aku sekarang ada di China”, ujarku.

“Ne hyung”, ujarnya.

“Baikalah, annyeong JaeHyun-ah”, ujarku seraya memutus pembicaraanku dengan JaeHyun-ah.

 

“Apakah itu cukup XiuMin-hyung?”, tanyaku pada XiuMin-hyung yang masih duduk di sebelahku.

“Ehmm… Walaupun alasan itu sangat tidak masuk akal, tapi aku rasa itu cukup”, ujarnya tenang.

“Huhh”, helaku.

“Wae JongDae-yah?”, tanya XiuMin-hyung.

“Aku hanya ingin pertempuran ini cepat selesai hyung.Aku ingin berkumpul kembali dengan keluargaku”, ujarku pelan.

“Pertempuran ini akan segera selesai JongDae-yah.Tentu saja dengan kemenangan kita”, ujar XiuMin-hyung dengan mantap.

“Ne”.

 

*****

 

Esoknya…

 

Rasanya, sudah 2 hari kami menunggu aktivitas dari ras Summer-K.Tapi, sampai saat inikami belum mandapatkan tanda – tanda dari kehadiran ras itu.Dan besok adalah hari penentuan terakhir. Jika sampai besok mereka tidak menunjukkan keberadaan mereka, maka kamilah yang akan menghampiri mereka dan membuat perhitungan.

 

Aku langkahkan kakiku menuju sebuah tamanyang terletak tak jauh dari villa tempatku selama ini menyembunyikan diri. Sekedar hanya untuk menghirup udara segar. Baru saja aku melangkahkan kakiku di taman itu, mataku sudah menangkap sebuah siluet yeoja yang aku kenal. ShinRa-ssi? Sedang apa dia di taman ini?

 

“Hei!Annyeong”, sapaku seraya mendekati tempat ShinRa-ssi berada.

“Ah, Ann..JongDae-ssi?Kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya kau sedang ada di China?”, tanyanya dengan tampang terkejut.

“Ah, aku… itu… aku… ehm… sebenarnya aku tidak sedang berada di China ShinRa-ssi. Sebenarnya, aku masih ada di Seoul. Aku sedang ada keperluan penting yang tidak boleh diketahui siapapun, termasuk JaeHyun-ah”, ujarku.

“Ne?Kalau begitu aku tidak boleh memberitahukan keberadaan JongDae-ssi pada JaeHyun-ah. Benar bukan?”, tanyanya.

“Ah, kau baik sekali ShinRa-ssi”, ujarku dengan segaris senyum yang aku sunggingkan dengan tulus.

“Ah..cheonma JongDae-ssi”, jawab ShinRa-ssi sambil tertunduk. Sepertinya ia malu.

 

“Ah, kau sedang apa di taman ini ShinRa-ssi? Bukannya ini jauh dari rumahmu?”, tanyaku.

“Ah, aku sedang berjalan – jalan dengan chingku JongDae-ssi.Aku bosan di rumah”, jawabnya.

“Chingumu apa namjachingumu?”, godaku.

“Ani… Ani… Itu memang chinguku JongDae-ssi.Aku tidak memiliki namjachingu”, jawabnya gugup.

“Ne? Kau tidak punya namjachingu?”, tanyaku dengan segaris senyum yang lebar.

“Ne. Aku tidak memilikinya. Wae?”, tanyanya.

“Ani..tak apa – apa ShinRa-ssi”, jawabku senang.

 

“ShinRa-yah~~~~!!!”, seorang namja berteriak tak jauh dari tempat kami berada. Sepertinya itu D.O.

“Ah, D.O-yah! Aku disini!”, teriak ShinRa-yah seraya melambaikan tangan ke arah namja itu.

“Ah, kau disini rupanya.Ini es krim dan hamburgermu”, ujar D.O sambil menjulurkan sebuah bungkusan dan sebuah cup penuh es krim.

“Jadi, ini chingu yang sedang bersamamu, ShinRa-yah?”, tanyaku datar.

“Ne. Wae JongDae-ssi?”, tanyanya kembali.

“Tidak apa – apa ShinRa-ssi.Kalau begitu, aku pergi dulu ShinRa-ssi, aku tak enak mengganggu kalian”, ujarku datar.

 

Aku pergi meninggalkan D.O-yah dan ShinRa-yah.Sepintas, aku melihat ke arah D.O. pandangan kami bertemu, tatapannya begitu tajam.Tak kalah tajam dengan tatapanku.Aku tak tau kenapa, tapi sepertinya aku kurang menyukai namja ini.Dan dia juga sepertinya juga kurang menyukaiku.Terlihat dari tatapannya yang begitu tajam itu.

 

END of Jong Dae’s POV

 

*****

 

Author’s POV

 

Sebuah kamar flat yang sangat sederhana pada sudut kota Seoul sore itu sedang terlihat sangat tenang.Kelima namja yang sedang berada di dalamnya sedang melakukan sebuah kegiatan yang ajaib bagi manusia biasa. Mereka berlima sedang berlatih, menajamkan super power mereka untuk penyerangan yang akan dilakukan oleh mereka esok hari.

“Ya!! Kau membakar sofa itu hyung!”, teriak seorang namja berwajah paling muda pada seorang namja yang sedang mengeluarkan api dari sekujur tubuhnya.

“Ah, hyung!! Pinjamkan aku airmu, palli! Kebakaran, kebakaran!!!”, teriak namja yang tinggi itu dengan ricuh sambil berlari bolak – balik pada ruangan kecil itu.

“YA!!!Kenapa kau ricuh sekali? Mau aku siram?”,ujar seorang namja yang muncul dari dalam.

“Ah, hyung, cepat siram sofa itu! Sebelum sofa itu membakar semuanya!”, teriak namja yang muda tak kalah paniknya.

“Kalian?!! Apa – apaan sofa ini?”, ujar namja yang berwajah tua itu sambil menggerakkan tangannya. Seketika, muncul air di atas tangannya, dan dia siramkan air itu ke sofa yang terbakar.

“Ah, syukurlah”, ujar namja yang tinggi dan yang berwajah muda secara bersamaan.

“Kalian!! Jangan pikir urusan kalian sudah selesai!! Kemari kalian!!”,ujar namja yang berwajah tua dengan seramnya.

“Hyung, lari!!!!!”, teriak namja yang berwajah muda seraya berlari kesana kemari menghindari kejaran namja yang berwajah tua diikuti oleh namja yang bertubuh paling tinggi.

 

“Aku pulang”, ujar seorang namja bermata bulat di depan pintu masuk.

“Ah, selamat datang mata bulat-hyung”, ujar namja yang berwajah muda di tengah pelariannya.

“Rupanya kau si bibir tebal”, ujar namja yang bertubuh paling tinggi.

“HA?!! Apa kata kalian?”, ujar namja bermata bulat itu murka. Bersamaan dengan itu, bangunan flat itu bergetar, sepertinya ada gempa kecil.

“Ya!! Lari hyung!!”, ujar namja berwajah muda itu seraya mempercepat langkahnya.

Suasana flat yang awalnya sunyi dan tenang itu berubah menjadi sangat ricuh. 2 orang namja yang dari tadi hanya melihat rekannya berlarian pun akhirnya ikut bergabung dan berlarian ke sana kemari. Sekedar meramikan suasana.Mereka terlihat sangat bahagia, walaupun sebenarnya mereka gugup, tapi mereka berenam berusaha untuk menutupi kegugupan mereka itu.Usaha penyerangan sepertinya sangat membebani pikiran mereka.

 

*****

 

Malamnya…

 

“Ah, apa yang ingin hyung bicarakan denganku?”, tanya seorang namja yang memiliki mata bulat pada seorang namja berwajah lebih tua di hadapannya.

“Aku ingin kau menculik dan menyekap gadis yang tadi sore sedang bersamamu”, ujar namja yang berwajah tua dengan tenang.

“Ne?? Wae??”, ujar namja bermata bulat tak percaya.

“Sepertinya namja dari ras itu menyukai gadis itu.Ini bisa menjadi salah satu hal yang akan mendukung kemenangan kita pada penyerangan besok”, ujar namja berwajah tua santai.

“Ah, tapi…”.

“Sudahlah, ikuti saja perintah hyungmu.Aku tau kalau kau juga menyukai gadis itu, tapi aku mohon turutilah perintahku.Ini demi kemenangan kita”.

“Ah, aku… aku… tidak… menyukainya hyung.Ya, aku tidak menyukai gadis itu hyung”, ujar namja bermata bulat gugup.

“Sudahlah, aku tau kalau kau menyukai gadis itu.Jujur saja, aku bisa mengetahuinya”, ujar namja yang berwajah lebih itu dengan santai.

“Bagaimana hyung bisa mengetahuinya?”, ujar namja yang memiliki mata bulat itu semakin gugup.

“Aku bisa mengetahui semuanya.Selama ini aku mengawasi namja yang kau bilang mencurigakan itu”.

“Ne?”.

“Jangan kau kira selama ini aku hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun.Aku juga bergerak.Sekali lagi, aku minta.Tolong turutilah perintahku.Culik dan sekap gadis itu”, ujar namja yang berwajah lebih tua dengan muka serius.

“Hhhh… baiklah hyung, aku akan menculiknya besok, sebelum kita melakukan penyerangan itu”, ujar namja yang bermata bulat.

 

*****

 

Keesokan harinya…

 

Suasana SASHS pagi itu sudah sangat sepi.Semua penghuninya sudah hampir semuanya kembali menuju rumah mereka masing – masing. Jam pelajaran terakhir sudah usai sejak 30 menit yang lalu. Tapi, masih tersisa sedikit siswa di dalam bangunan sekolah yang sangat luas itu, terperangkap dengan kegiatan atau tugas mereka masing – masing.Diantaranya adalah seorang yeoja yang sejak tadi sangat asik berkutat pada sebuah buku tebal bertuliskan Fisika pada sampul depannya. Tampaknya, ia sedang menyalin apa yang tertulis pada buku tebal itu ke dalam buku catatan miliknya sendiri.

 

“Kau belum selesai juga ShinRa-yah?”, tanya seorang namja yang duduk di belakangnya, mata namja itu tidak beralih sedikitpun dari hand phone yang sejak tadi ia geluti dengan asiknya.

“Ani JaeHyun-ah. Apa kau sudah mau pulang?”, tanya yeoja itu.

“Ne. Kau tak apa sendirian?”, namja itu balik bertanya walau matanya tak beralih dari layar hand phone.

“Ne. Duluan saja. Aku tak apa”, jawab yeoja itu.

“Baiklah, kalau begitu aku duluan”, ujar namja itu seraya berlalu keluar dari ruang kelas yang sepi itu.

 

Tak lama berselang setelah kepergian namja itu, seorang namja yang bermata bulat masuk ke dalam ruang kelas itu.

“He?D.O-yah? Sedang apa kau disini? Bukannya kau sudah pulang sejak tadi?”, tanya ShinRa.

“Siapa bilang aku sudah pulang ShinRa-yah?Dari tadi aku diluar, menunggu saat yang tepat”, ujar D.O datar.

“Saat yang tepat? Apa maksudmu?”, tanya ShinRa kebingungan.

 

“Sebelumnya, mianhe ShinRa-yah.Sebenarnya aku tak ingin melakukan ini.Tapi, aku diharuskan untuk melakukannya.Mianhe”, ujar D.O dengan wajah sendu.

“Apa yang kau bicarakan D.O-yah?Aku tak mengerti”, ujar ShinRa.

“ShinRa-yah, saranghaeyo”, ujar D.O dengan sesungging senyum tipis.Seketika tangannya mengepal dan meninju pelan perut ShinRa.

 

Bugh!

“Apa yang kau laku….”, ujar ShinRa terputus. Kesadarannya hilang.Tampaknya, pukulan itu cukup keras untuknya sehingga membuat kesadarannya menipis dan kemudian hilang.Dia pingsan.Tubuhnya yang awalnya berdiri langsung terjatuh dan tergeletak di atas ubin kelas yang kotor.D.O mengangkat tubuh kecil ShinRa lalu membopongnya di belakang punggungnya.

“ShinRa-yah, mianhe.Tapi, ini demi kemenangan rasku.Aku harap kau tak membenciku ShinRa-yah.Saranghaeyo”, ujar D.O pelan.

 

 

-TBC-

 

 

*        Annyeong readersdul. Masih ada yang berminat dengan ff ini? Author harap masih. Readers, RCL please 😀 *

39 pemikiran pada “Power Users (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s