Stand By Me (Chapter 5)

STAND BY ME CHAPTER 5

 

TITLE: STAND BY ME

AUTHOR: VENUS_228

MAIN CAST

  1. WU YI FAN ( KRIS EXO M)
  2. HAN SOO MI
  3. CHOI SEUNG HYUN ( TOP BIG BANG)

OTHER CAST: CAN YOU FIND IT BY YOUR SELF

GANRE: ROMANCE

LEGHT: CHAPTER

Author talk: Annyeong chigudeul J ini FF pertama yang author buat jadi mian klo banyak kesalahan dan ceritanya gak jelas atau alurnya terlalu cepat. Semoga kalian suka. Satu lagi FF ini murni hasil imajinasi author yang kelewat tinggi dan gak jelas tapi di tulis dengan hati* senyum manis bareng Kris* I hope you like it.

CHOI SEUNG HYUN POV

Aku kembali mengelus pelan kepala yoeja yang sedang berada dalam pelukanku ini. Membuatnya merasa nyaman. Dan sepertinya aku berhasil karena dia sama sekali tak melepaskan pelukannya. Aku pun enggan untuk melepaskan pelukanku darinya.

Aku menatap jam tanganku sekilas lalu menghela napas pelan. Sangat pelan agar dia tak mendengarnya. Sudah hampir malam lebih baik aku segera mengantarnya pulang sebelum orang tuanya mencari. Dengan berat hati aku melepaskan pelukanku. Membuatnya bingung dan secara otomatis melepaskan pelukannya juga sambil menatapku dengan penuh tanda tanya.

“ Kajja, ku antar kau pulang. Sudah hampir malam.” Seketika tubuhnya menegang begitu mendengar perkataanku. Membuatku bingung dengan sikapnya itu. “ Wae?”

“ Oppa, sebenarnya aku tak ingin pulang. Aku masih belum siap kalau harus bertemu dengannya.”

“ Bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka tidak akan mencarimu?”

“ Meraka tak akan pulang. Kalaupun pulang mereka langsung masuk ke ruang kerja masing-masing tanpa pernah mempedulikanku.”

Aku terdiam mendengar jawabannya. Berpikir untuk menentukan tindakan yang sebaiknya ku lakukan. Lalu aku merasakan handphoneku bergetar cukup lama. Aku langsung mengambil handphoneku dari dalam saku jaket dan tersenyum saat melihat nama orang yang menelponku.

“ Yoeboseyo?”

“ Hyung, kau makan malam di luar atau di rumah? Yang lain sudah menunggumu. Kau ini ke mana saja sih? Menghilang begitu pemotretan selesai dan belum kembali?” aku tersenyum mendengar suara kesal GD di sebrang telpon. Leader Big Bang ini memang sangat peduli pada teman-temannya.

“ Hyung, kau mendengarku?”

Aku langsung tersadar dan kembali tersenyum kecil. “ Mianhe, Ji Yong. Memangnya ada makanan di rumah?”

“ Tentu saja ada. Kalau kau belum pulang juga kami akan makan duluan.”

“ Baiklah aku akan segera pulang. Tapi aku bawa seorang teman tak masalah, kan?”

“ Siapa? Namja atau yoeja? Tunggu biar aku tebak. Dia pasti yoeja yang berhasil menarik perhatianmu saat kalian pertama kali bertemu. Aku betul kan?”

“ YA!! Dari mana kau tau soal itu?” seingatku aku belum menceritakan tentang Soo Mi pada siapapun. Dari mana dia tau soal Soo Mi? Ini mencurigakan. Lalu aku mendengar suara tawa geli GD di ujung telpon.

“ Aku bertanya pada orang yang kau suruh untuk mencari informasi tentang yoejamu itu. Kalau tak salah nama yoeja itu Han Soo Mi.”

“ Kwon Ji Yong!!!!!!!!!!!” aku benar-benar kesal. Astaga anak ini benar-benar….., begitu aku pulang aku pasti akan memberinya pelajaran karena ingin tau urusanku.

Dia kembali tertawa di ujung telpon dan semakin membuatku kesal. Lain kali aku harus lebih hati-hati kalau menyuruh seseorang. “ Mianhe, hyung. Tapi aku benar-benar penasaran melihatmu yang lebih banyak melamun akhir-akhir ini. Dan aku semakin penasaran saat kau langsung pergi begitu pemotretan selesai tadi.”

“ Ji Yong. Untung aku sudah lama mengenalmu. Kalau tidak aku pasti sudah akan menghajarmu.”

“ Oh ayolah hyung, kau kan tau maksudku baik.”

“ Baiklah Ji Yong kau menang. Jadi boleh aku mengajaknya?”

“ Tentu saja. Aku dan yang lain juga ingin melihat yoeja yang berhasil menarik perhatianmu itu.”

“ Kwon Ji Yong!!!!” dia kembali tertawa lalu memutus telpon secara sepihak. Aku berdecak kesal sambil memasukkan handphoneku kembali ke saku jaket.

“ Oppa wae?” aku tersenyum menatap Soo Mi yang menatap bingung kearahku.

“ Karena kau tak ingin pulang bagaimana kalau kau ikut denganku?”

“ Ke mana?”

“ Ke dorm Big Bang.” Dia sedikit terkejut mendengar jawabanku lalu tersenyum senang. Hanya itu. Dia hanya tersenyum senang. Padahal biasanya orang-orang pasti akan histeris kalau diajak ke rumah artis. Yoeja ini benar-benar unik.

“ Apa GD oppa dan yang lain tidak keberatan kalau aku berkunjung?”

“ Mereka tidak akan keberatan. Tadi aku sudah bilang ke Ji Yong. Tunggu dulu, tadi kau panggil Ji Yong apa?”

“ GD oppa. Memangnya kenapa?”

“ Kau gampang sekali memanggil Ji Yong dengan oppa. Sementara aku harus mendesakmu dulu.”

Dia tertawa geli. Akhirnya dia tertawa juga setelah menangis cukup lama. Sepertinya keadaannya betul-betul sudah membaik. “ Oppa bisakah kau tak usah membahas hal seperti itu lagi. Kau ini benar-benar childish.”

Aku tersenyum kecil sambil mengacak rambutnya gemas lalu berjalan menuju motorku. Aku naik lalu memasang helmku kemudian menatapnya. “ Kajja.” Dia mengangguk lalu segera menghampiriku. Memakai jaket dan juga helmnya lalu naik dan merangkul pinggangku.

Aku kembali tersenyum lalu menyalakan mesin motor dan segera pergi menuju dorm dengan kecepatan tinggi.

 

HAN SOO MI POV

Aku kembali menatap tanganku yang digenggam erat oleh Seung Hyun oppa. Aku tersenyum kecil. Semenjak turun dari motor hingga berada di dalam lift yang menuju lantai tempat dormnya berada dia tak pernah melepaskan tanganku. Membuat wajahku merah menahan malu karena di tatap oleh banyak orang.

Aku kembali tersenyum saat merasakan genggaman itu semakin erat. Lalu aku memalingkan wajahku. Berusaha menyembunyikan semburat merah yang menghiasi pipiku.

“ Wae, Soo Mi? tak biasanya kau diam sepanjang jalan seperti ini?” aku menoleh dan tersenyum mendengar pertanyaannya sementara dia tak menatapku. Dia terus menatap lurus ke depan tapi tak melepaskan genggamannya.

“ Tak papa oppa. Aku hanya malu.” Jawabku jujur.

“ Malu kenapa?”

“ Karena kau menggenggam tanganku sepanjang jalan dan membuat orang-orang menatap kita.”

Dia tertawa lalu menoleh dan menatapku. Sementara aku langsung mengalihkan tatapanku sambil mengatur napas. Namja ini benar-benar berhasil membuat jantungku berdebar di batas normal.

“ Kau seharusnya bahagia karena tanganmu digenggam olehku. Banyak yoeja yang bermimpi untuk bergandengan denganku. Kau yoeja yang beruntung.”

Omo namja ini benar-benar narsis. Aku mendengus kesal mendengar perkataannya itu. Namun anehnya aku justru tersenyum kecil.          Argh…. Sepertinya ada yang aneh dengan diriku. Kenapa aku bisa merasa sangat nyaman berada di dekatnya? Sebelumnya aku tak pernah seperti ini.

TING…

Pintu lift terbuka lebar. Dia kembali menatapku dan tersenyum lembut. “ Kajja. Mereka pasti sudah menunggu kita.”

Aku hanya mengangguk dan mengikutinya menuntunku. Lalu kami berhenti tepat di depan pintu polos berwarna cokelat. Belum sempat dia meraih knop pintu, pintu itu sudah terbuka dengan lebar. Membuatku kaget dan langsung bersembunyi tepat di belakang Seung Hyun oppa.

“ Annyeong. Akhirnya kalian datang juga. Kami sudah menunggu kalian dari tadi.” Empat namja yang berdiri berhimpitan di depan pintu itu menyapa kami bersamaan sambil tersenyum lebar.

Aku mengintip dari balik bahu Seung Hyun oppa. Sementara Seung Hyun berdecak kesal melihat kelakuan dongsaeng-dongsaengnya itu. “ YA!!!! Kalian membuatnya takut!!”

Mereka berempat tersenyum lebar bersamaan membuatku kagum dengan kekompakan mereka itu. “ Mianhe hyung. Kami terlalu bersemangat.” GD berbicara mewakili yang lain.

Seung Hyun oppa hanya mendengus lalu membawaku masuk ke dalam. Empat namja itu memberikan jalan lalu mengikuti kami dari belakang. Aku terkagum-kagum melihat apartemen yang luas ini. Berbagai perabotan mewah menghiasi setiap sudutnya. Sebuah piano hitam yang tampak elegan berdiri kokoh di sudut ruangan dan menghadap kearah jendela.

Aku tersadar dari terkagumanku saat Seung Hyun oppa melepaskan genggamannya. Dia menatapku sambil tersenyum. “ Duduklah dulu. Aku mau ganti baju dulu.” Aku hanya mengangguk mendengarnya. Dia lalu menoleh dan menatap wajah para dongsaengnya satu per satu. “ Ku peringatkan kalian jangan macam-macam padanya.” Katanya tegas. “ Termasuk kau Seungri.” Lalu dia berjalan menuju kamarnya.

Aku tersenyum geli mendengar ancamannya itu lalu duduk di sofa yang nyaman dan menyandarkan punggungku pada sandaran sofa. Seungri dan GD ikut duduk di kedua sisiku. Sementara Taeyang dan Daesung duduk tepat di hadapanku. Mereka berempat memandangku dengan teliti hingga membuatku jengah.

“ Wae?” tanyaku bingung akan tingkah mereka itu. Apa anak-anak Big Bang memang selalu bersikap seperti ini? Memandangi orang yang datang berkunjung dengan begitu teliti hingga membuat takut seperti ini?

“ Jadi kapan kalian bertemu?”

“ Hah?” pertanyaan Seungri itu membuatku bingung.

“ Maksudnya kau dan hyung. Kapan kalian bertemu?” GD oppa menjelaskan maksud pertanyaan Seungri tadi.

“ Oh…, aku dan Seung Hyun oppa bertemu kemarin di acara kumpul bersama yang di adakan club fotografi sekolahku.”

“ Kalian baru bertemu kemarin?” GD oppa bertanya kaget. Aku mengangguk dengan tampang bingung. Memangnya apa yang salah kalau kami baru bertemu kemarin?

“ Untuk orang yang baru bertemu kemarin kalian sudah cukup akrab.” Perkataan Taeyang oppa itu membuatku tiba-tiba tersipu malu.

“ Benar yang di katakan Young Bae hyung. Kenapa kalian bisa cepat akrab?” Seungri kembali bertanya dengan penuh rasa penasaran.

Aku bingung harus menjawab apa. Sementara mereka semakin menatapku lekat. Menungguku memberikan penjelasan pada mereka.

Lalu kulihat Daesung oppa tersenyum samar. Entah karena apa. Tapi sepertinya bukan hanya aku saja yang menyadari senyumnya. Tiga namja yang masih tetap menatapku juga menyadari senyumnya itu.

“ Wae, Dae? Kau tau sesuatu?” tanya GD oppa.

Daesung oppa mengangguk dan berhasil membuatku penasaran. “ Sepertinya aku tau kenapa mereka bisa sangat akrab.”

“ Benarkah??!!” sekarang ketiga namja itu ganti menatap Daesung dengan lekat. Membuatku sedikit lega karena terhindar dari tatapan-tatapan penasaran itu.

“ Ingat saat kemarin hyung meminjam mobil Ji Yong hyung dan pergi sambil membawa sepasang sepatu ice skating?” Ketiga namja itu mengangguk sementara wajahku kembali memerah. Aku pikir kejadian istimewa itu hanya aku dan Seung Hyun oppa yang tau tapi ternyata para dongsaengnya juga mengetahui tentang hal itu. “ Apa kalian tak sempat berpikir waktu itu hyung mau ke mana? Apalagi saat itu sudah tengah malam.”

Ketiga namja itu tampak berpikir sementara Daesung hanya tersenyum. Lalu tiba-tiba Seungri menoleh dan menatapku. Membuatku hampir jantungan dengan tindakannya. Bagaimana aku tak kaget kalau saat itu aku sedang tertengun menatap senyum Daesung dan tiba-tiba saja dia menoleh dan menatapku.

“ Aku tau!!!!” serunya girang. “ Saat itu pasti hyung pergi menemuimu. Iyakan? Aku benar kan?” tuntutnya sambil mendekatkan wajahnya padaku. Membuatku terpaksa menjauhinya dan tak sengaja membentur GD yang tepat duduk di sampingku.

“ YA!!!!! Lee Seung Hyun!!!!!! Sudah ku bilang jangan ganggu dia!!!” Seungri langsung membetulkan posisi duduknya lalu menoleh dan tersenyum sumir pada Seung Hyun oppa. Sementara aku menghela napas lega karena akhirnya terbebas dari berondongan pertanyaan.

“ Apa yang sudah kalian lakukan padanya?” tanya Seung Hyun oppa yang sudah berdiri tepat di belakangku sambil menatap wajah para dongsaengnya satu per satu.

GD tersenyum kecil sambil menggaruk tengkuknya. “ Tak ada, hyung. Kami hanya mengobrol biasa dengannya.” Jawabnya diikuti oleh anggukan setuju dari yang lain. Sementara aku hanya diam sambil menatap penampilan Seung Hyun oppa yang hanya menggunakan kaos panjang abu-abu pas badan yang memperjelas setiap lekuk tubuhnya dan celana panjang berwarna putih. Membuatnya tampak casual dan semakin keren.

“ Benar kau tadi hanya diajak mengobrol oleh mereka?”

Dia langsung menatapku dan membuatku kaget. “ Hah?” aku benar-benar tak mendengar apa yang dikatakannya tadi karena terlalu focus menatap dirinya. Huh seandainya aku membawa kameraku  sosok casualnya ini pasti sudah terabadikan dan menambah koleksi pribadiku.

“ Tadi aku bertanya apa mereka mengajakmu mengobrol.” Dia kembali mengulang perkataannya.

“ Oh… ne. Tadi kami memang sedang mengobrolkan hal yang menarik.” Jawabku asal. Kulihat keempat namja itu menghela napas lega.

“ Oh ya?” Seung Hyun oppa tampak tak percaya. “ Hal menarik apa?”

Aku mengangkat bahu dengan sikap santai. “ Hanya hal-hal biasa yang tak terlalu penting. Kalau kau masih tetap penasaran kau bisa tanya langsung pada mereka.”

Dia lalu kembali menatap wajah para dongsaengnya satu per satu lalu kemudian menatap GD. “ Bukannya tadi kau menelponku karena menyuruhku untuk pulang makan malam? Sekarang makanannya mana? Aku sudah sangat lapar.”

GD terlihat sedikit kaget lalu akhirnya bangkit dengan wajah lega. Makanannya ada di dapur. Biar aku siapkan dulu.”

“ Aku akan membantumu, oppa.” Aku langsung bangkit dan menyusul GD yang sudah lebih dulu berjalan ke dapur dan menoleh menatapku sambil tersenyum. Awalnya aku sama sekali tak berniat untuk membantu GD oppa menyiapkan makanan karena aku baru pertama kali bertemu dan berbicara langsung dengannya. Aku takut dia akan menganggapku sedang mencari perhatian dengan para idolaku. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk membantunya di dapur. Karena semakin lama aku berada di samping Seung Hyun oppa jangtungku semakin berdetak dengan cepat. Aku takut kalau tiba-tiba jantungku langsung berhenti berdetak hanya karena melihatnya. Argh…. Ada apa denganku?

 

CHOI SEUNG HYUN POV

Selesai makan kami semua kembali berkumpul di ruang tengah sambil menonton DVD. Kebetulan jadwal kami semua kosong untuk malam ini hingga kami bisa beristirahat dengan tenang di rumah. Aku menatap jam dinding yang ada di hadapanku. Sudah jam 9 malam. Lebih baik aku mengantar yoeja ini pulang. Tapi dia tadi bilang tak ingin pulang apa yang harus ku lakukan. Aku khawatir ada gossip yang beredar kalau aku menculik anak orang.

Lalu aku merasakan sesuatu bersandar di bahuku. Aku menoleh dan menatap Soo Mi yang menyandarkan kepalanya di bahuku sambil memejamkan kedua matanya. Sepertinya dia tertidur karena terlalu lelah. Aku kembali mengamati wajahnya dan tersenyum. Wajahnya yang tertidur tampak sangat polos dan kekanakan. Membuatku gemas untuk mencubit pipinya.

Lalu ruangan yang tadinya ramai dengan obrolan ringan tiba-tiba menjadi hening. Aku menatap sekeliling dan mendapat tatapan dari para dongsaengku. “ Wae?”

“ Kau tak mengantarnya pulang, hyung?” tanya Daesung.

Aku menggeleng. “ Dia sedang ada masalah dan tak ingin pulang.”

“ Bagaimana dengan orang tuanya? Apa mereka tak mencarinya?” kali ini Young Bae yang bertanya.

Aku kembali menggeleng. “ Molla. Tapi yang ku tau dari dia orang tuanya tak pernah ada di rumah. Kalaupun ada mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing dan tak mempedulikannya.”

“ Dia kasihan sekali. Kalau gitu bawa saja dia ke kamarmu, hyung. Kasihan dia kalau tidur seperti itu.”

“ Hah? Bawa dia ke kamarku?” aku kaget mendengar ucapan Seungri. Membawa Soo Mi ke kamarku? Berarti aku akan tidur dengannya? Argh… apa yang aku pikirkan? Kenapa aku jadi memikirkan hal-hal yang aneh?

Seungri menatapku dengan tatapan polos. “ Ne, hyung. Kan kasihan dia kalau tidur seperti itu. Kalau kau tak mau biar dia ku bawa ke kamarku. Aku tak keberatan kok tidur dengannya.”

Aku langsung menatap Seungri tajam dan dingin. “ Anak kecil, kau mau mati?” Seungri tersenyum sumir sementara yang lain langsung tertawa.

“ Maksudnya Seungri kau bawa dia ke kamarmu agar dia bisa tidur dengan nyenyak, hyung. Lalu kau kan bisa tidur di kamarku. Daripada dia sakit karena tidur dengan posisi duduk seperti itu.” Ji Yong menjelaskan maksud perkataan Seungri tadi.

Dia ada benarnya juga. Tanpa mengatakan apa-apa lagi aku langsung mengangkat tubuh Soo Mi dengan sangat hati-hati. Berusaha untuk tak membangunkannya lalu membawa dia ke kamarku. Bisa ku dengar tawa tertahan dari para dongsaengku itu. Tapi sudahlah, itu hak mereka untuk tertawa.

Begitu sampai di kamarku, aku langsung meletakkannya dengan perlahan di atas kasurku. Dia menggeliat pelan lalu kembali tidur dengan nyenyak. Aku tersenyum kecil melihatnya lalu menyelimutinya. Lalu aku meletakkan handphonenya di atas meja tepat di samping tempat tidur.

Aku menatap lekat wajah polosnya lalu membungkuk dan mengecup keningnya. “ Mimpi yang indah.” Kataku lembut lalu kembali menegakkan tubuhku dan berbalik. Belum sempat aku melangkah untuk keluar dari kamar tiba-tiba handphone Soo Mi bordering. Melantunkan lagu knock out yang kunyanyikan bersama JI Yong.

Aku langsung meraih handphone itu dan menatap nama yang muncul di layar. Sementara sang pemilik sendiri masih tetap tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu suara handphonenya yang berbunyi cukup keras.

Kris? Siapa dia? Apa dia saudaranya Soo Mi? Tapi yang aku tau Soo Mi anak tunggal. Sudahlah. Daripada aku terus bertanya-tanya seperti ini lebih baik aku menjawabnya. Soo Mi mungkin tak akan keberatan.

Aku langsung menekan tombol berwarna hijau lalu mendekatkan handphone itu ke telingaku. “ Yoeboseo?” aku menunggu cukup lama tapi tak ada jawaban dari sang penelpon. Tapi aku yakin namja bernama Kris ini masih tetap mendengarkan. Karena aku dapat mendengar setiap tarikan napasnya dari ujung telpon. Lalu hubungan telpon itu terputus.

Aku menatap layar handphone sambil mengangkat bahu. “ Orang aneh.” Kataku pelan lalu meletakkan handphone itu kembali dan berjalan ke luar kamar.

 

WU YI FAN POV

Aku berusaha mengatur napasku. Lima menit yang lalu aku baru saja selesai latihan dan kembali ke dorm bersama yang lain. Setelah makan malam aku memisahkan diri dan berjalan menuju beranda lalu mengeluarkan handphoneku. Aku menarik napas panjang. Semoga saja Soo Mi mau menjawab telponku.

Aku kembali menarik napas lalu menekan tombol satu di handphoneku dan mendekatkannya ke telingaku. Aku menunggu beberapa saat dan akhirnya telponku diangkat juga olehnya.

“ Yoeboseo?” aku tertegun mendengar suara berat orang yang mengangkat telpon. Siapa namja ini? Kenapa dia yang mengangkat telpon Soo Mi? Lalu Soo Mi ada di mana? Cukup lama aku terdiam tanpa mengatakan apa-apa dan akhirnya memutuskan hubungan telpon.

Aku menghela napas sambil menatap langit malam. Siapa namja yang tadi mengangkat telpon Soo Mi? Apa dia kerabatnya? Tapi setauku Soo Mi sama sekali tak punya kerabat karena ayahnya anak tunggal sementara ibunya bukan orang Korea. Apa namja tadi temannya Soo Mi? Soo Mi tak pernah cerita kalau dia punya teman lain selain aku.

Argh…. Aku mengacak-acak rambutku dengan kesal. Han Soo Mi kau berhasil membuatku bingung dan tertekan. Bukan hanya karena masalah salah paham yang belum selesai ini tapi juga di tambah oleh kehadiran seorang namja lain di sampingnya yang membuatku benar-benar frustasi.

Lalu seseorang menepuk bahuku pelan. Membuatku sedikit kaget dan langsung menoleh. “ Sejak kapan kau di sini? Kau membuatku kaget.”

Tao tersenyum menyesal. “ Mian hyung. Aku dari tadi sudah di sini tapi sepertinya kau tak sadar karena terlalu asyik melamun. Ada apa?”

Aku menggeleng lalu kembali menatap langit malam. “ Tak ada apa-apa.”

“ Kau pasti bermasalah dengan seorang yoeja.” Tebakan Tao itu langsung membuatku kembali menatapnya.

“ Kau tau dari mana?”

Tao tersenyum lalu menatap langit malam. “ Kau belum pernah seperti ini sebelumnya. Dan tadi siang kau langsung pergi dengan panic setelah selesai latihan. Membuat kami semua menjadi penasaran.” Jelasnya.

Aku menghela napas lalu kembali menatap lurus ke langit malam. “ Kau benar. Aku sedang ada masalah dengan seorang yoeja.”

“ JINJA?! SIAPA YOEJA ITU?”  aku kaget dan langsung berbalik. Menatap kesepuluh temanku yang sedang berdiri berhimpitan di depan pintu menuju beranda. Aku langsung menatap tajam mereka sambil mengatur napasku yang memburu karena kaget mendengar teriakan keras mereka secara bersamaan.

“ Sedang apa kalian berkumpul di situ?” tanyaku dingin. Mereka ini tak ada kerjaan lain apa selain menguping pembicaraan orang?

Mereka secara bersamaan tersenyum salah tingkah. “ Tak ada. Tadi kami hanya lewat dan tak sengaja mendengar perkataanmu.” Mereka lagi-lagi menjawab serempak.

Aku menatap mereka dengan satu alis terangkat sambil melipat kedua tanganku di dada. “Benarkah? Kalian tak sengaja lewat atau memang menguping dari tadi?” tanyaku lagi sementara Tao yang berdiri di sampingku tertawa geli.

“ Tak sengaja lewat.” Mereka kembali menjawab dengan kompak.

“ Lalu siapa yang berteriak tadi?” tanyaku lagi. Masih tetap dingin dan menatap tajam mereka.

Mereka semua menggeleng secara bersamaan namun kali ini tak ada yang bersuara. Aku menatap mereka satu per satu lalu tatapanku jatuh pada Xiumin yang berdiri paling ujung. Begitu aku menatapnya dia langsung menggeleng dengan cepat. “ Bukan aku. Chen yang tadi teriak paling keras.”

Chen langsung menatap Xiumin kaget lalu kembali menatapku. “ Bukan aku tapi Chanyoel.”

“ Bukan aku. Lay.”

“ Bukan aku. DO.”

“ Bukan aku. Itu Luhan.”

“ Bukan aku tapi Suho.”

“ Bukan aku. Baekhyun.”

“ Kenapa jadi aku. Kai yang teriak paling keras.”

“ Bukan aku tapi Sehun.”

Lalu pandanganku berakhir di Sehun. Dia menatap yang lain dengan tatapan bingung lalu menatapku. “ Kenapa jadi aku? Kan tadi kita teriak sama-sama.”

“ Jadi tadi kalian teriak bersamaan?”

Sehun mengangguk dengan wajah polos. “ Begitu dengar Kris hyung sedang bermasalah dengan seorang yoeja kami semua kaget dan langsung berteriak.”

“ Kalian tak sengaja dengar atau memang sedang menguping?”

“ Kami menguping dari tadi.” Sehun menjawab jujur dengan wajah polosnya.

“ OH SEHUN!!!!” yang lain langsung berteriak dan menatapnya tajam. Sementara dia membalas tatapan itu dengan ekspresi bingung yang lucu hingga membuatku tersenyum geli. “Lho memangnya aku salah. Kan dari tadi kita memang menguping pembicaraan Kris hyung dan Tao.”

Aku dan Tao tertawa geli melihat ekspresi polos Sehun sementara yang lain langsung menyeret anak itu masuk dengan wajah kesal.

“ Jadi siapa yoeja itu?” tanya Tao begitu yang lain masuk dan mengadili Sehun.

“ Dia temanku dari kecil. Bisa dibilang kami tumbuh dewasa bersama.”

“ Lalu apa masalahmu dengannya?”

“ Dia salah paham. Tadi aku bertemu dengannya untuk mengatakan kalau aku pindah ke dorm ini dan akan segera debut. Aku ingin dia selalu di sisiku dan mendukungku tapi karena cara penyampainku yang salah dia berpikir kalau aku mengusirnya dari hidupku. Dia sangat marah dan akhirnya pergi.”

“ Kau sudah menjelaskan yang sebenarnya?”

Aku menggeleng pelan. “ Belum sempat. Tadi aku menunggu di depan rumahnya tapi sepertinya dia tak pulang. Aku juga tak tau dia pergi ke mana.”

“ Sudah coba menelponnya?”

Aku mengangguk. “ Bukan dia yang menjawab tapi seorang namja yang sama sekali tak kukenal.”

“ Sepertinya yoeja ini sangat berarti buatmu.”

Aku terdiam mendengar perkataan Tao lalu akhirnya mengangguk dengan pasti. Bukan hanya berarti tapi Soo Mi sudah menjadi bagian dari hidupku. Dia adalah separuh nyawa dan napasku. Aku yakin aku tak akan bertahan kalau dia tak ada di sampingku. Selama ini dia yang menemaniku setiap saat dan selalu menghiburku.

Tao menepuk bahuku pelan lalu tersenyum. “ Kami akan membantumu kalau kau kesulitan dengannya. Kau tak perlu khawatir hyung.”

Aku tersenyum kecil. “ Thanks Tao.”

Dia mengangguk. “ Kajja kita masuk. Di luar sini mulai dingin.” Aku mengangguk lalu mengikutinya yang berjalan lebih dulu kembali ke dalam dorm yang nyaman dan hangat.

 

HAN SOO MI POV

Aku terbangun dan menatap sekelilingku. Aku ada di mana? Ini bukan kamarku. Aku berusaha mengingat-ingat di mana aku berada sambil menatap ke setiap penjuru kamar yang ku tempati ini. Dan sejauh mataku memandang banyak mainan yang tersusun dengan rapi di kamar ini. Sepertinya sang pemilik kamar sangat gemar mengoleksi mainan.

Tunggu dulu. Jangan-jangan aku sedang berada di kamar Seung Hyun oppa? Tapi kenapa aku bisa sampai di sini? Seingatku aku sedang duduk di ruang tengah bersama para member Big Bang sambil menonton DVD.

Lalu pintu kamar terbuka perlahan kemudian sosok namja yang berhasil membuat jantungku berdetak di batas normal masuk dan menghampiriku sambil tersenyum. “ Kau sudah bangun.”

Aku mengangguk sambil tersenyum manis. “ Ne. Mm….oppa kenapa aku bisa ada di kamarmu?” tanyaku dengan sedikit malu.

“ Kau tadi malam ketiduran saat nonton DVD. Jadi aku membawamu ke kamarku agar kau bisa tidur dengan tenang.”

“ Lalu kau sendiri?”

Dia tersenyum lalu duduk di sampingku. “ Aku tidur di kamar Ji Yong. Kau tidak lapar?”

“ Memangnya sekarang jam berapa oppa?”

“ Hampir jam 12 siang. Kau ternyata lama juga tidurnya. Hampir seharian.”

“ Mwo?” aku kaget sementara dia tersenyum geli melihatku. “ Lalu ke mana yang lain?”

“ Mereka sedang keluar.” Dia lalu berdiri dan mengulurkan satu tangannya padaku. “Kajja kita makan. Lalu setelah itu aku akan mengantarmu pulang kalau kau memang mau.” Aku menerima uluran tangannya sambil tersenyum kecil. Lalu kami berdua berjalan keluar kamar menuju meja makan yang telah tertata rapi.

Dia menarikkan kursi untukku lalu dia sendiri duduk di kursi di depanku. Aku tersenyum menerima perlakuannya itu lalu duduk dengan manis. Sementara dia mengambilkan makanan untukku. “ Oh ya aku lupa bilang padamu. Semalam seseorang menelponmu dan aku menjawabnya.” Katanya sambil mengulurkan semangkuk nasi yang masih mengepulkan asap padaku.

“ Nugu?” tanyaku sambil menatapnya penasaran.

Dia mengangkat bahunya. “ Molla. Dia sama sekali tak mengatakan apa-apa dan langsung mematikan telpon. Tapi kalau tak salah namanya Kris.”

Aku langsung terdiam mendengar nama itu sementara dia menatapku heran karena perubahan sikapku yang tiba-tiba itu.

 

CHOI SEUNG HYUN POV

“ Molla. Dia sama sekali tak mengatakan apa-apa dan langsung mematikan telpon. Tapi kalau tak salah namanya Kris.”

Soo Mi langsung terdiam begitu mendengar nama namja yang ku sebutkan. Ada apa dengannya? Kenapa dia langsung terdiam seperti itu?  Aku menatapnya heran. “ Wae?” tanyaku lembut.

Dia langsung tersadar lalu menggeleng dengan cepat. “ Tak ada apa-apa.”

Aku masih tetap menatapnya. Tak mungkin tak ada apa-apa dengannya? Jangan-jangan… “ Apa namja yang bernama Kris itu adalah teman yang kau ceritakan kemarin?”

Dia tak menjawab. Hanya menatapku sekilas lalu melanjutkan makannya dengan tegang. Aku mengepalkan tanganku. Jadi betul orang itu yang sudah membuatnya menangis kemarin. Sial!!! Namja itu sudah sangat dekat denganku. Seharusnya aku memakinya habis-habisan karena berani menyakiti yoejaku. Tapi aku belum puas kalau hanya memakinya. Aku harus bertemu langsung dengan namja sialan itu.

“ Untuk apa dia menelponmu?” tanyaku datar sambil berusaha mengendalikan emosiku yang tiba-tiba saja muncul.

Soo Mi menggeleng pelan. “ Molla. Mungkin dia ingin minta maaf.”

“ Dan kau akan memaafkannya?”

Dia menatapku sekilas lalu kembali mengalihkan tatapannya dari ku. “ Ani. Aku sama sekali tak ingin memaafkannya. Lagipula dia ingin aku pergi dari hidupnya jadi untuk apa dia minta maaf? Aku sama sekali tak ingin bertemu dengannya lagi.” Dia mengatakan hal itu dengan ekspresi murung yang kemarin kulihat.

Aku maraih tangannya di atas meja dan menggenggamnya erat. Dia menatapku dan aku tersenyum lembut berusaha menghiburnya. “ Jangan dipikirkan lagi. Lebih baik sekarang kau makan dengan tenang bersamaku. Perlu kau ingat kalau kau yoeja pertama yang makan bersamaku jadi nikmati saat-saat bersamaku seperti ini yang sangat jarang sekali terjadi.”

Berhasil. Dia tertawa mendengar perkataanku lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Omona, oppa. Sifat narsismu makin menjadi-jadi. Aku pasti tak akan heran kalau bertemu orang yang sepertimu.”

“ Maksudmu yang tampannya seperti aku? Sayang sekali, Soo Mi kau tak akan bertemu orang seperti itu. Karena aku hanya satu di dunia ini dan tak ada yang lebih tampan dariku.”

“ Omo-omo…. Oppa kau mulai lagi. Apa kau sudah minum obat atau obatmu habis? Kenapa penyakit narsismu makin parah?”

Lalu kami tertawa bersama. Aku menghentikan tawaku lalu menatapnya yang masih tertawa geli. Yoeja ini benar-benar cantik. Bagaimanapun ekspresinya. Membuatku semakin ingin memilikinya.

Dia menghentikan tawanya begitu tersadar aku sedang menatap lekat dirinya. Dia membalas tatapanku dengan bingung. “ Oppa, wae?”

“ Kau sangat cantik saat tertawa lepas seperti tadi.”

 

AUTHOR POV (baru muncul di sini nich hehe…J )

“ Kau sangat cantik saat tertawa lepas seperti tadi.”

Soo Mi terpaku menatap namja yang duduk tepat di hadapannya. Sementara tanpa dia sadari wajah cantiknya merona merah. Membuat Choi Seung Hyun kembali tersenyum lembut. Dan senyuman lembut itu berhasil membuat wajah Soo Mi memanas dan dia mulai salah tingkah.

Soo Mi mengalihkan tatapannya dari sepasang mata Seung Hyun yang masih menatapnya dengan lekat. Dengan grogi dia melanjutkan makannya sementara Seung Hyun menahan senyumnya. Karena dia yakin kalau tak ditahan senyum itu akan berkembang menjadi tawa geli yang pasti akan membuat yoeja di depannya itu murka(?)

“ Soo Mi-ah, kau lucu. Wajahmu sudah semerah tomat.” Goda Seung Hyun. Sementara Soo Mi hanya meliriknya sekilas lalu kembali melanjutkan makannya masih dengan sikap grogi. Membuat Seung Hyun akhirnya tertawa kecil. “ Setelah makan kau masih ingin tetap di sini bersamaku atau mau ku antar pulang?”

“ Sebaiknya aku pulang saja, oppa. Aku takut merepotkan yang lain. Selain itu mungkin eommaku sedang mencariku.” Soo Mi menjawab masih tanpa menatap Seung hyun. Lebih baik pulang daripada merasakan jantungku tiba-tiba berhenti berdetak karena perbuatan namja ini. Tambahnya dalam hati.

“ Baiklah kalau itu memang maumu.”

 

HAN SOO MI POV

Aku turun dari motor hitam yang berhenti tepat di depan gerbang rumahku ini. Aku membuka jaket dan helm yang kukenakan dan ku serahkan pada Seung hyun oppa yang hanya membuka kaca helmnya untuk menatapku. “ Gomawo oppa untuk semuanya.”

Dia mengangguk lalu mengacak rambutku gemas. Aku yakin dia juga sedang tersenyum lembut karena aku bisa melihat pancaran senyum yang menyentuh kedua matanya itu. “ Kalau begitu aku pulang dulu. Nanti aku akan menghubungimu.”

“ Ne. Hati-hati di jalan oppa.” Dia hanya mengangguk lalu menyalakan mesin motornya dan melesat pergi. Aku masih berdiri di tempatku sambil terus menatap motor hitam itu yang kemudian menghilang di ujung jalan.

Aku berbalik lalu melangkah menuju rumahku. Melirik sekilas ke garasi dan menemukan ke dua mobil milik orang tuaku. Berarti mereka sudah pulang. Ah tapi apa peduliku. Toh mereka juga tak pernah peduli padaku.

PRANG…

Lalu terdengar suara barang pecah dari dalam rumahku. Apa yang terjadi di dalam? Sepertinya heboh sekali karena selain aku mendengar suara barang pecah aku juga mendengar suara orang bertengkar. Apa eomma sedang menonton TV dengan volume suara yang besar atau kedua orang tuaku sedang bertengkar lagi?

Aku membuka pintu perlahan dan terkejut dengan apa yang kulihat. Ruang tamu berantakan. Bantal-bantal sofa bertebaran ke segala tempat sementara vas bunga hancur berkeping-keping. Tapi sepertinya bukan di sini TKP yang sebenarnya.

Aku terus melanjutkan langkahku dan menemuka kedua orang tuaku yang sedang beradu mulut tepat di ruang tengah yang juga sudah sangat berantakan.Barang-barang berhamburan ke segala penjuru dan ada beberapa juga yang sudah menjadi kepingan-kepingan kecil. Haaahh… aku menghela napas panjang. Lagi-lagi pemandangan seperti ini yang ku temukan begitu pulang.

Aku berusaha tak peduli dan melangkah menuju kamarku di lantai dua. Walaupun sebenarnya pemandangan seperti ini betul-betul menyiksa batinku. Apa salahku sampai harus terlahir di keluarga seperti ini?

“ Dari mana saja kau??!!!” aku menghentikan langkahku tepat di anak tangga ketiga begitu mendengar bentakan itu. Aku berbalik dan menatap datar appaku yang sedang menghampiriku dengan penuh amarah sementara eommaku berlari masuk ke kamarnya sambil membanting pintu dengan keras.

“ Aku menginap di rumah teman.”

“ Kenapa tak memberi kabar?! Kau mau appa dan eomma mu khawatir hah? Dasar anak tak berguna!!!!”

Aku menatap appaku dengan kesal. Apa pedulinya kalau aku mau ke mana toh selama ini dia dan juga eomma tak pernah mempedulikanku. Dan kata-katanya yang terakhir membuatku marah. “ Memangnya kenapa kalau aku tak memberi kabar??!!! Kalian juga selalu pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku. Bahkan tak pernah mempedulikanku. Jadi tak ada salahnya aku melakukan hal yang sama.” Kataku dengan suara tinggi.

“ KAU…… ANAK KURANG AJAR!!!!” bentak appaku dengan keras. Suaranya sampai menggema dan memenuhi ruangan.

“ Iya aku anak kurang ajar dan kalian orang tua yang tak becus.”

PLAK…

Aku langsung memegang pipiku yang baru saja ditampar oleh appaku sendiri dengan sangat keras hingga darah segar mengalir dari sudut bibirku. Sementara appaku tanpa rasa bersalah sama sekali langsung pergi sambil menggerutu. “ Kau sama saja dengan eomma mu. Sama-sama yoeja bodoh yang tak bisa diatur.”

Argh sial!!!! Aku menatap kepergian appaku dengan penuh amarah. Lalu aku menyeka darah di sudut bibirku dengan kesal. Sialan!!!! Kalau saja dia bukan appaku aku pasti akan membunuhnya dengan sadis dan tanpa belas kasih.

Aku langsung berbalik dan menaiki tangga menuju kamarku dengan cepat. Berusaha menahan amarah yang mulai menguasaiku. Karena bisa kupastikan kalau aku tak bisa mengontrol emosiku secepat mungkin rumah ini akan lebih hancur lagi dari pada kondisinya yang sekarang.

~TBC~

Lho kok makin lama nich FF jadi cerita Soo mi dan TOP? Hehehe…. Mian karena Kris pov-nya sedikit padahal tokoh utamnya Kris. Tapi tenang aja bagian Kris untuk memulai aksinya akan segera muncul. Walaupun aku gak tau bakalan muncul di chapter berapa hehehe… * plak…* sekali lagi author harap kalian suka baca FF ini dan tetap nunggu kelanjutannya.

See you later…. * lambay-lambayin tangan bareng Kris dan TOP*

 

Iklan

27 pemikiran pada “Stand By Me (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s