Class of Love: Luhan Version

Author: minnieasmilkyway

Title: Class of Love (Luhan Version)

Sub-Title: Little-Lu?!

Main Cast: Xi Luhan; Kim Hana

Genre: Sci-Fi, Romance, Series

Lenght: Ficlet (1.410 words)

– oOo –

 

Aku masih dengan setianya memandang gulungan kertas kecil yang telah kubuka terlebih dahulu di atas meja belajarku. Di sana tertulis dengan jelas nama seorang namja. Xi Luhan. Seorang pelajar yang sekelas denganku, namun ia merupakan murid pindahan dari Beijing, Cina.
Tadi kami memang sempat pulang bersama. Namun rasa canggung masih menyelimuti hati kami satu sama lain. Mungkin aku yang harus memulainya, pikirku dalam hati. Memulai untuk apa? Tentu saja agar kami lebih akrab dan tidak memiliki perasaan canggung sama sekali.

 

Akupun segera mengganti seragam sekolahku dengan dress putih di atas lutut dan sepatu dengan warna serupa. Aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah Luhan. Yang kutahu dari teman-teman yang lainnya, mengunjungi rumah Luhan akan sama rasanya dengan mengunjungi sebuah laboratorium raksasa. Siapa sangka, orang tuanya merupakan seorang profesor ternama di Korea.

 

Ada perasaan agak ragu untuk mengunjungi rumahnya. Namun, mengingat apa yang kelas kami rencanakan tentang permainan itu, membuatku tidak bisa tinggal diam. Hal itulah yang membuatku beranjak dari kamar tidurku dan mengunjungi rumah “pasanganku”.

 

Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit menggunakan bus kota dari halte dekat rumah. Oleh karena itu, tadi kami hanya pulang bersama dan berpisah di halte bus ini. Tanpa kuketahui, ternyata aku tertidur selama perjalanan. Hal ini membuatku melewati halte tujuan dan turun di halte berikutnya. Benar-benar malang. Dengan terpaksa, akupun berjalan dari halte tempatku turun sekarang menuju halte dekat rumah Luhan.

 

Hampir 20 menit aku berjalan hingga sampai ke sebuah rumah besar dan terbilang mewah di sebuah kompleks perumahan. Apa benar ini alamatnya?, tanyaku dalam hati. Akupun mencocokkan alamat rumah yang berada di hadapanku dengan alamat yang tertera di buku note yang sengaja ku bawa. Sama. Aku sudah sampai di rumah Luhan. Tapi, apa aku harus masuk ke dalam? Atau menunggu seseorang dari dalam keluar?

 

Belum selesai aku berpikir, pintu gerbang utama tersebut terbuka. Namun, bukan orang dewasa yang keluar dari rumah besar itu. Melainkan hanya anak kecil yang kuperkirakan baru berumur 7 tahun. Anak laki-laki itu menatapku tidak biasa. Aku yang notabene ditatap seperti itu, hanya balik menatapnya dengan pandangan bingung.

 

Sampai otakku berputar dan menyadari sesuatu. Kenapa aku tidak menanyakan Luhan pada anak ini saja?, begitulah yang kupikirkan. Akupun mendekati anak kecil itu dan ia hanya memperhatikanku tanpa memasang wajah takut seolah akan menculiknya.

 

“Siapa namamu, adik kecil?” tanyaku pertama kali.

“Emm… Eom-eomma memanggilku Lulu” jawabnya ragu.

 

Anak ini sungguh menggemaskan. Wajahnya yang imut dan suaranya yang lucu membuatku ingin tersenyum karenanya. Namun, wajah ini mengingatkanku pada Luhan. Apa adik kecil ini adiknya Luhan? Mungkin saja.

 

“Adik kecil… apa Luhan ada di dalam?”

 

Dengan cepat, anak kecil itu menggeleng kuat. Luhan? Tidak ada? Apa ia belum sampai? Ah, mungkin dia memang belum sampai atau mampir ke suatu tempat.

 

“Adik kecil mau kemana?” tanyaku kemudian, melihat anak laki-laki ini keluar seorang diri.

“Aku mau pelgi main, wuttthhhh”

“Sendirian?” mataku membesar seketika karena tak percaya dengan apa yang anak kecil ini katakan.

 

Anak itu terlihat mengangguk. Anak ini berani sekali, pikirku. Mungkin, aku bisa menemaninya sekaligus menunggu Luhan pulang.

 

“Bagaimana kalau kakak temani?” tawarku.

 

Anak itu mengangguk dan menuruti perkataanku. Kamipun berjalan menuju taman kompleks yang biasa digunakan oleh anak seumuran Lulu untuk bermain. Saat sampai di taman, Lulu dengan senangnya langsung berlari dengan merentangkan kedua tangan layaknya pesawat yang sedang mengudara.

 

Akupun hanya duduk di kursi taman sambil melihat anak laki-laki itu berlari mengitari taman dan kemudian bermain ayunan.

 

“Kakak… ayo main belthamaku” ajaknya dan aku hanya menyetujuinya dengan cara langsung mendekat ke arahnya yang sudah duduk di ayunan.

 

Akupun mendorong pelan ayunan tersebut. Aku dapat melihat anak laki-laki itu tertawa dengan bahagianya seperti baru pertama kali ini ia merasakan demikian. Hari semakin sore, membuatku berniat untuk mengajak anak laki-laki yang masih berada di ayunan itu untuk pulang ke rumah.

 

Saat kuajak pulang, anak tersebut memang langsung turun dari ayunan tersebut. Namun, ia langsung mengarah ke arahku. Ia menarik pelan ujung dress ku seolah ia ingin lebih lama lagi denganku dan tidak membiarkanku pergi. Akupun merendahkan tubuhku hingga sejajar dengannya. Kutatap matanya yang menyimbolkan kesedihan.

 

“Kau harus pulang, adik kecil” ujarku sambil mengelus puncak kepalanya sambil tersenyum.

“Tap- tapi aku nggak mau pulang” rengek anak tersebut, ia dengan eratnya mengalungkan lengannya ke lenganku dan menyandarkan kepalanya ke pundakku.

“Kenapa? Eommamu pasti khawatir”

 

Anak tersebut menggeleng sekali lagi dengan kuatnya. Aku menghela nafas panjang. Bagaimana ini? Aku mau saja membawa pulang anak ini. Tapi, jika ibunya melaporkanku dengan tuduhan penculikan anak, itu sangat tidak lucu. Apalagi, jika anak ini adalah adik dari teman sekelasku. Aku ingin saja menelpon Luhan untuk menjemput adiknya. Malangnya, aku bahkan tidak mengetahui nomor Luhan.

 

Kupegang pipi kirinya dengan tangan kananku. Mendongakkan wajah anak laki-laki itu agar mau melihat wajahku.

 

“Ayo pulang” ajakku sekali lagi.

“Aku nggak mau!!” rengek anak laki-laki tersebut dan kini ia mulai menangis.

 

Akupun mencoba menenangkannya dengan iming-iming akan membelikannya permen. Sontak, tangisan anak laki-laki tersebut terhenti. Ia langsung ceria dan segera mengajakku untuk membelikannya permen secepat mungkin. Tak kusangka, anak laki-laki ini tahu dimana mini market kompleknya dibangun. Mungkin, anak ini sering diajak kesini, pikirku tanpa menaruh curiga kepadanya.

 

Setelah membelikan permen lollipop berukuran besar, akupun mencoba membujuknya agar mau pulang. Namun, anak itu masih saja menolak ajakanku.

 

“Kalau begitu, hari ini kau menginap di rumah kakak. Tapi, janji. Besok kau harus pulang, bagaimana?”

Anak laki-laki itu mengangguk dengan semangat lalu berteriak, “Horeeeeeeeeee!!”

 

Akupun menggandeng tangan kecil itu dan mengajaknya ke jalan depan untuk mencari taksi. Karena, bus yang kugunakan tadi sudah tidak beroperasi di jam malam. Aku berani membawanya ke rumahku karena eomma sedang tidak di rumah. Dia bilang dia baru akan pulang dua hari lagi dari rumah ahjussi. Sehingga, aku bisa tidur di kamarnya sementara kamarku digunakan oleh Lulu.

 

Saat sampai di rumah, aku menawarinya untuk makan. Namun, ia menolaknya dan malah mengajakku untuk tidur. Akupun mengantarnya ke kamarku. Lalu, kucium keningnya dan mengucapkan selamat tidur. Sebelum aku keluar, kutarik selimut tebal tersebut sehingga memberi kehangatan tersendiri di tengah kedinginan kota Seoul saat malam menjelang.

 

“Noona…” panggilnya saat aku hendak mematikan lampu yang berada tepat di sebelah pintu kamarku tersebut.

“Aku takut…” lanjutnya dan membuatku tidak jadi mematikan lampu kamar.

“Kenapa adik kecil?” tanyaku sambil mendekat ke arahnya lagi.

“Temani aku tidur, Noona” pintanya dan aku hanya dapat menurutinya.

 

Akupun menelusup ke balik selimut dan tidur di sebelah anak laki-laki tersebut dengan senyum yang kini melekat di bibir manisnya. Kuhadapkan wajahku ke arah anak laki-laki itu, “Good night” ucapku dengan seulas senyum. Kemudian, akupun mencoba memejamkan mataku sampai akhirnya aku merasakan sebuah ciuman singkat mendarat di bibirku. Anak in lucu sekali.

 

Aku berniat melanjutkan tidurku. Aku masih dalam keadaan terpejam sampai aku merasakan sebuah tangan yang seukuran denganku kini melingkar di perutku. Sontak, akupun langsung membuka mataku.

 

“Luhan?!” seruku tak percaya.

 

Namja yang tidak kuketahui datanganya darimana itu hanya menyuruhku untuk diam. Sedangkan, pelukannya semakin erat.

 

“K-kau kenapa bisa di sini?” tanyaku memberanikan diri dan iapun akhirnya membuka matanya secara perlahan.

“Gomawo”

 

Aku menatapnya dengan tatapan bingung. Untuk apa ia berterimakasih padaku?

 

“Gomawo sudah mengembalikanku seperti semula” dan kini otakku berputar karenanya.

“Aku tidak mengerti maksudmu”

“Haha, saat aku pulang tadi, aku tidak sengaja memminu ramuan pengecil tubuh. Saking hausnya, kukira itu sirup yang sengaja dibuat untukku. Tapi ternyata aku salah. Aku menyadarinya saat aku berdiri di depan cermin. Sehingga, aku lebih baik keluar rumah daripada dikira penyusup. Tidak kusangka aku malah bertemu denganmu” jelasnya dan aku hanya terdiam.

“Bicaralah” pintanya kemudian.

“Eng… Bisakah kau melepaskan pelukanmu”

“Kenapa? Aku menyukainya” jelasnya.

“A..Aku bukan siapa-siapamu…”

“Kau ingatkan tentang permainan itu? Aku adalah pasanganmu. Kalau zat kimia saja bisa membuatku menjadi kecil, kenapa kita tidak bisa membuat hubungan kita menjadi nyata?”

“Nya… Nyata?” kulihat ia mengangguk dan kemudian memelukku lebih erat.

“Tunggu, aku tidak mengerti kenapa kau bisa kembali menjadi Luhan yang normal?” tanyaku.

“Aku juga tidak mengerti. Tapi, setelah aku mencium bibirmu itu, aku merasa ada sebuah energi yang merasuki tubuhku”

 

Aku hanya terdiam sejenak.

 

“Mungkin itu kekuatan cinta. Cinta dapat mengalahkan segalanya, bukan?” tanyanya dan aku sudah kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaanya tersebut.

“Jadi?” pertanyaannya membuat sebuah tanda Tanya besar dalam pikiranku.

“Apa?” balasku.

“Kau maukan membuatnya menjadi nyata?”

“Maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Jadilah pacarku” ucapnya yang kemudian mencium keningku.

 

Akupun tersipu malu dan mengangguk seketika. Kuharap ini bukanlah sebuah mimpi. Kulihat Luhan tersenyum ke arahku dan aku membalas senyumannya. Iapun memelukku kembali. Aku merasa, aku sangat beruntung hari ini.

 

“EOMMA PULANG~~~” seru eomma sambil membuka pintu kamarku. Ia terkejut melihatku dan Luhan yang sedang berpelukan di atas tempat tidur. Begitupun aku dan Luhan yang hanya bisa memandang satu sama lain.

 

– END –

– oOo –

 

O_O entah kenapa pengen bikin endingnya kayak gini. Rasanya ada yang aneh pas selesai bikin ff ini. Tolong RCLnya ya kalo gitu ^^ gomawo ._.b sampai jumpa di series lainnya ._.)/

45 pemikiran pada “Class of Love: Luhan Version

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s