L-O-V-E!

L-O-V-E!

(Love doesn’t Need a Perfection, because Love is Eternal)

 

Author: OSH98 (sehuney)

Main Cast:

Park Min Sun (OC)

Byun Baekhyun (EXO-K)

Other Cast:

Park Chanyeol (EXO-K)

Park Jiyeon (T-ara)

Genre: Romance, Angst

Rating: T

Length: Oneshoot, words

Disclaimer: The story and the plot are mine, Baekhyun is mine, too. The cast are theirselve except OCs.

A/N: FF ini pernah di post di beberapa wordpress seperti http://ffamatir.wordpress.com; http://fflovers.wordpress.com; dan http://obizienka.wordpress.com dengan pergantian cast, penambahan judul dan sedikit editing. Comments, critics, and suggestions are always welcome!

OSH98 © 2012 Alright Reserved

-***-

Setiap orang pasti menginginkan kesempurnaan, bukan? Baik fisik, perilaku, maupun status sosial. Tapi lebih banyak orang-orang yang terfokus kepada kesempurnaan fisik dan status sosial. Mereka menginginkan wajah dan tubuh yang indah, jabatan yang tinggi, serta harta yang melimpah. Namun, sadarkah kalian kalau terkadang kesempurnaan itu menyakitkan?

****

*NORMAL POV*

Seorang yeoja berambut panjang berombak sepunggung berjalan menyeberangi jalanan yang masih ramai. Tanpa ia tahu, lampu telah berubah menjadi hijau. Yeoja yang tidak tahu apa-apa itu masih terus berjalan, hingga akhirnya…

TINN TINN!

Ketika sebuah mobil melaju dan hampir menabrak yeoja tersebut, seorang namja segera menarik tangan yeoja itu ke sisi kiri trotoar. Yeoja itu masih tampak kebingungan, ia pun bertanya kepada namja di depannya.

“Siapa kau?” tanyanya bingung.

Namja itu tersenyum melihat wajah polos yeoja itu. Kemudian, ia pun menjawab.

“Choneun Byun Baekhyun imnida. Kenapa tadi kamu menyeberang ketika lampu sudah hijau?”

“Kamu namja, ya? Oh tadi aku tidak tahu, tidak ada bunyi kalau lampu sudah berubah hijau.”

Namja itu mengernyitkan dahinya, bingung. Yeoja itu hanya tersenyum dan tidak berkata apapun lagi.

“Apa maksudmu? Kau tidak tahu kalau aku namja?”

Yeoja itu kembali tersenyum, kemudian ia menjawab. “Aku tidak bisa melihat, jadi aku tidak tahu kalau kau namja dan aku juga tidak tahu kalau lampu sudah berubah hijau. Apakah suaranya mati tadi?” *biasanya di lampu merah tempat penyeberangan ada bunyi dari lampu lalu lintas yang menandakan kalau lampu sudah berubah menjadi hijau atau merah*

Namja itu tertegun. Ia tidak menyadari –atau bahkan baru menyadari- kalau yeoja berwajah polos di depannya itu.. buta. Ia pun merasa malu kemudian meminta maaf.

“Mianhae, jeongmal mianhae..”

“Gwenchana. Oh ya, gomawo sudah menyelamatkanku tadi. Kalau kamu tidak menyelamatkan aku, mungkin aku sudah tidak di sini sekarang.” Ujar yeoja itu sembari tertawa.

“Cheonmaneyo. Oh ya, hmm..”

“Wae gurae?” tanya yeoja itu kemudian.

“Em.. itu.. namamu, siapa?”

“Oh.. itu. Choneun Park Min Sun imnida. Mian, tadi aku belum memperkenalkan namaku. Benar-benar tidak sopan.”

“Itu sama sekali bukan masalah bagiku. Oh ya, ngomong-ngomong, kamu mau ke mana?”

“Aku mau ke perpustakaan yang ada di Myeongdong. Wae?”

“Kebetulan aku juga mau ke sana. Kajja, mari kuantar.”

“Haha, gomawo. Kajja.”

****

“Aku pulang.” Ujar Min Sun ketika ia baru membuka pintu rumahnya.

Tidak ada jawaban.

Terlihat rumahnya kosong dan sepi -tetapi sayangnya ia tidak bisa melihat-. Ia menutup dan kemudian mengunci pintu rumahnya. Setelah itu, ia melangkah menuju kamarnya –menggunakan tongkat tentunya- tetapi sebelum ia sampai di depan pintu kamarnya, ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Ia pun bergegas menuju pintu rumahnya, kemudian berbicara melalui interphone.

“Nuguseyo?”

“Ini oemma, sayang.”

Kemudian Min Sun membukakan pintu untuk oemmanya.

“Selamat datang, oemma.”

“Ne, Min Sun. Aduh, badan oemma pegal sekali. Apa appa dan oppamu sudah pulang?”

“Belum. Tadi waktu aku pulang, sepertinya tidak ada orang di rumah.”

“Kemana eonnimu? Apa dia pergi keluyuran lagi?”

“Molla. Mungkin ia bermain dengan teman-temannya lagi.”

“Aish, anak itu! Ya sudah, kamu istirahat dulu sana, kamu juga baru pulang, kan?”

“Ne, gomawo oemma.”

Min Sun melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke kamar mungil bercat biru muda yang berada tepat di antara kamar bercat hijau dan kamar bercat pink. Ia masuk ke dalam kamarnya dan kemudian menghempaskan badannya di ranjang putih miliknya. Berusaha terlelap dalam alam mimpinya yang tidak indah. Namun, ia gagal mencobanya. Ia merasa bosan dan tidak berminat untuk tidur.

Tiba-tiba, sebuah suara mengusik pendengarannya. Suara itu berasal dari luar kamarnya. Karena penasaran, ia melangkah mendekati pintu.

Ia membuka pintu kamarnya perlahan dan terdengarlah suara Park Jiyeon eonninya dan Park Chanyeol oppanya yang sedang bertengkar. Diam-diam ia mendengar sepatah demi sepatah kata dari pertengkaran mereka.

“Sudah kubilang berapa kali, kau itu jangan suka keluyuran, Jiyeon! Kau membuat kami semua khawatir, tahu! Dasar anak bandel!” bentak Chanyeol keras.

“Keluyuran? Aku hanya pergi bermain bersama teman-temanku, tuh.” balas Jiyeon santai.

“Aku ini oppamu! Kakak laki-lakimu! Tidakkah kau mempunyai sedikit rasa hormat padaku? Jawab dengan benar!”

“Ya, aku sudah menjawabmu dengan benar! Sekarang bisakah kau persilahkan aku untuk beristirahat? Bermain seharian itu melelahkan, kau tahu.” jawab Jiyeon lagi masih dengan santai. Bahkan ia tidak memperhatikan kakaknya, pandangannya tertuju pada kuku-kuku indahnya yang baru saja di manicure.

“Dasar anak yang tidak bisa diatur! Apa-apaan rambut pirang dan kuku-kuku itu? Kau itu masih kecil, mana boleh sekolah dengan penampilan seperti itu?!”

“Ini mode bodoh, dasar kuno. Masa bodoh sekolah mau bilang apa. Yang membayar ini juga bukan mereka.”

PLAAKK!!

Tiba-tiba sebuah tamparan keras melayang di pipi kanan Jiyeon yang mulus. Saking kerasnya bahkan membuat Min Sun yang tidak dapat melihat pun terlonjak.

“Jaga bicaramu, Jiyeon!! Aku ini oppamu, arraseo?! Berani-beraninya kau bicara seperti itu kepada lelaki yang lebih tua darimu!” bentak Chanyeol bertambah keras, nada bicaranya semakin tinggi.

“Sejak kapan aku peduli, hah?! Seperti kalian peduli saja dengan kesenanganku!” umpat Jiyeon sebelum berlari masuk ke dalam kamar bernuansa pinknya.

BLAAMM! Setelah yakin kalau Jiyeon baru saja membanting pintu kamarnya, Min Sun perlahan melangkah ke arah pintu kamar eonninya dan bermaksud untuk mengetuk. Tetapi sebelum semua itu sempat ia lakukan, Chanyeol berbicara kepadanya, atau yang lebih tepat disebut dengan pemasrahan.

“Hhh.. aku tidak tahu cara mendidiknya. Oemma dan appa juga sudah pusing. Kami berharap padamu, Min Sun.” ujarnya dengan senyum letih terpampang jelas di wajah imutnya.

Min Sun mengangguk, dan menunjukkan senyum terbaiknya kepada oppa satu-satunya.

TOK TOK TOK

Min Sun mengetuk pintu kamar Jiyeon, tapi tidak ada jawaban. Setelah mengetuk kira-kira tiga kali, barulah terdengar sahutan dari dalam kamar.

“Jangan ganggu aku! Pergi!” sahut seseorang dari dalam kamar itu dengan kasar.

“Eonni, ini aku Min Sun.” ujar Min Sun lembut.

“Mau apa kau?!” bentaknya galak.

“Coba buka dulu pintunya.” Ujar Min Sun lagi, masih lembut.

Kemudian pintu kamar Jiyeon pun terbuka. Jiyeon tampak sangat berantakan dengan rambutnya yang sudah tidak terbentuk lagi, wajahnya yang lengket karena air mata, dan pipinya yang masih merah karena tamparan Chanyeol barusan. Jiyeon menarik Min Sun masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya kembali.

“Wae gurae?” tanya Jiyeon berusaha nampak tenang, padahal air mata masih mengalir dari matanya.

“Seharusnya aku yang bilang begitu.” Ujar Min Sun seraya tersenyum kecil.

“Yah, seperti yang kau tahulah. Aku membenci hidup yang terkekang seperti ini. Aku ingin bebas. Bebas seperti teman-temanku.”

“Tapi bebas juga tidak baik kalau terlalu bebas, eon.” Ujar Min Sun penuh arti.

Jiyeon menatap wajah adiknya terkejut. Ia.. melupakan dan mengabaikan nasihat orang tua dan oppanya, tapi mengapa ketika bersama adiknya, ia dapat mengindahkan kalimat adikinya itu. Entah sepertinya ada kekuatan magis dari setiap perkataan yang keluar dari bibir Min Sun. mungkin juga karena cara penyampaiannya yang lembut dan berbeda dengan cara penyampaian eomma, appa, dan oppanya. Tiba-tiba Jiyeon tersadar, selama ini siapa yang buta? Dia atau adiknya? Ia pun merasa kalau selama ini ia telah dibutakan oleh kemegahan harta yang dimiliki keluarganya, sedangkan adiknya, adik kandungnya sendiri yang jelas-jelas tidak bisa melihat, justru dapat memperlihatkan dunia yang sebenarnya kepadanya. Ia merasa benar-benar bodoh dan gagal sebagai seorang eonni, yang seharusnya menjadi panutan.

Mata Jiyeon kembali basah, ia memeluk adiknya erat. Min Sun yang terkejut dengan reaksi Jiyeon hanya diam dan mengelus kepala kakaknya itu perlahan.

“Eonni, listen to me. Sometimes life doesn’t go as well as we want. We must remember the constraint if we want to be free.” Ujar Min Sun tenang. Beginilah cara ia menyampaikan kepada kakaknya. Tenang, tanpa kekerasan.

Jiyeon menatap wajah adiknya. Tidak ada rasa penat dan lelah di wajahnya. Yang ia dapati hanyalah wajah damai nan tenang yang kini sedang tersenyum kepadanya. Walaupun ia tahu, dongsaeng tercintanya ini memiliki kesedihan besar yang tersembunyi di balik wajah damainya. Ia juga tahu kalau penyebab kesedihan dongsaengnya adalah kejadian 2,5 tahun lalu yang mungkin masih membekas di pikiran dongsaengnya. Ya, Jiyeon mengerti hal itu.

“Gomawo, Min Sun. Terkadang aku bingung, sebenarnya yang buta itu aku atau dirimu. Buktinya kau dapat melihat hal yang tidak bisa kulihat.”

Min Sun tergelak. Ia pun kembali berkata, “Jelas-jelas aku buta, eonni. Eonni itu bukannya tidak bisa melihat, tapi BELUM bisa melihat.” Ujar Min Sun dengan penekanan pada kata ‘belum’.

“Emm.. Min Sun.”

“Wae?”

“Apakah pribadimu setegar seperti yang aku lihat?”

“Jinjja? Tapi sayangnya aku tak setegar seperti yang eonni lihat.” Ujar Min Sun lagi, kini tampak murung.

“Aku tahu kalau semua orang tidak ada yang benar-benar tegar. Tapi kau.. apa benar kamu tidak setegar sekarang? Wae?”

Min Sun menggeleng lemah. “Aku memang bukan pribadi yang setegar ini, eonni. Aku masih sering menangis karena meratapi nasibku sekarang ini. Coba bayangkan, aku masih sering menangis mengingat masa lalu yang membuatku seperti ini.”

“Aku pernah merasa kalau masa depanku tak lagi cerah. Menghabiskan berminggu-minggu untuk menangis dan mengurung diri, itu benar-benar hal bodoh.” Sambung Min Sun lagi.

“Tapi itu hanya masa lalu bukan? Kenapa aku sering menangisinya? Lagipula sekarang aku punya pekerjaan lain sebagai pianis. Ya, kenapa sekarang aku menyemangati diri sendiri?” tanya Min Sun lagi, kepada dirinya sendiri dan kepada Jiyeon.

“Kau memang benar-benar orang yang tegar, Min. Baik luar maupun dalam. Kalau kita menangis, itu adalah hal yang wajar bukan?”

“Ne, eonni benar.”

****

“Min Sun!” panggil seorang namja.

“Wae gurae, oppa?” tanya Min Sun.

“Ada seorang namja yang mencarimu!”

Namja? Rasanya aku tidak pernah mengundang namja, pikir Min Sun. Kemudian ia berjalan ke arah ruang tamu tempat oppanya dan namja itu berada.

“Eh.. anu, siapa ya?”

“Aku Baekhyun. Namja yang tadi.”

Min Sun tercengang. Ia segera bertanya untuk memastikan. “Kau.. benar-benar Baekhyun? Byun Baekhyun?”

“Ne, aku Byun Baekhyun. Aku kemari untuk memberikan ini.” Ujarnya sambil menyerahkan benda berbentuk persegi panjang.

“Eh? Apa ini?”

“Itu dompetmu, tadi tertinggal di perpustakaan.”

“Oh ya? Gomawo, Baekhyun-ah.” Ujar Min Sun seraya menundukkan badannya sembilan puluh derajat.

“Cheonmaneyo, aku pulang dulu, ya. Annyeong.”

“Annyeong. Josimhae, Baek!”

“Ne, gomawo.”

Min Sun melangkah ke kamarnya dan duduk di tempat tidurnya. Ia mengambil tas yang tadi ia pakai ke perpustakaan dan merogoh isinya. Ternyata benar. Ia tidak menemukan dompetnya.

TOK TOK TOK

“Masuk!”

“Min Sun, ini oemma sayang.”

“Ah oemma, wae gurae?”

“Ah.. ini, tadi oemma sudah menghubungi dokter, katanya kau belum mendapatkan donor mata.” Ujar oemma Min Sun dengan wajah kecewa.

“Oh, ayolah oemma… begini juga tetap baik, kok. Aku tidak terganggu dengan apapun. Sungguh.”

“Tapi, Min Sun…”

“Sudahlah, lebih baik sekarang oemma urusi pekerjaan oemma saja, ya.” Ujar Min Sun seraya mendorong oemmanya ke pintu keluar kamarnya.

****

Min Sun pergi keluar rumahnya, hari ini ia hendak pergi ke aula musik tempatnya bekerja sebagai pianis. Di tengah perjalanannya, ia merasa tongkatnya diambil secara paksa oleh seseorang.

“Ah..! apa yang kau lakukan?!” jerit Min Sun panik.

“Hehehe.. nona buta, serahkan semua uangmu sekarang!”

*NORMAL POV END*

 

*MIN SUN POV*

“Ah..! apa yang kau lakukan?!” jeritku panik. Rasanya ingin kupukul wajah orang ini sekarang, tapi sayangnya aku tidak tahu dia dimana sekarang.

“Hehehe.. nona buta, serahkan semua uangmu sekarang!”

Gawat! Dia preman! Berarti dia membawa teman-temannya! Aku harus segera kabur! Tapi, apa aku bisa kabur tanpa tongkat?

“Ya, nona! Kenapa, takut? Kalau kau menyerahkan uangmu, kami tidak akan menyakitimu.” Ujar suara yang lain, sepertinya mereka memang banyak karena terdapat kata kami dalam kalimat sebelumnya.

Kalau sudah begini, lebih baik aku kabur saja!

Aku sudah bersiap berlari dan melangkahkan kakiku secepat mungkin, tapi aku menabrak seseorang.

“Eits, mau kemana nona?”

Ups, gawat. Aku dihadang. Someone help me please!!

BAK! BUK! BUK!

Terdengar seperti suara pukulan, apa mereka saling menyakiti satu sama lain? Tidak mungkin, babo. Kau ini ada-ada saja -_-. Lalu siapa yang memukuli mereka?

“Sial, mereka terlalu banyak! Kita kabur saja!” ujar seseorang yang suaranya terdengar familiar bagiku.

Tiba-tiba orang itu menarik tanganku, dan mengajakku berlari. “Ya! Jangan tarik-tarik tanganku!”

“Kau mau selamat atau tidak? Babo!”

Orang itu –yang sepertinya kukenal- terus menarikku. Aku pasrah saja, padahal sih sebenarnya aku takut sekali, siapa tahu dia penculik, kan? Haha. Ya, memangnya siapa yang mau menculikmu, babo? Rutukku pada diriku sendiri.

Kemudian orang itu berhenti berlari dan melepas tanganku. Apa sudah aman? Sebenarnya ini dimana?

“Hahh.. sudah aman.”

“Eh.. kamu siapa, ya?” tanyaku memberanikan diri.

Tiba-tiba orang itu tertawa. Aneh, memangnya itu lucu, ya? Kurasa tidak -_-

“Eh, apa ada yang lucu?” tanyaku agak bingung. Yah, aku kan tidak bisa melihat. Siapa tahu ada pertunjukkan badut disini (?)

“Ah, ani. Aku hanya heran, kita kan baru bertemu kemarin. Apa kau tidak ingat suaraku?”

Kemarin? Jangan-jangan… BYUN BAEKHYUN? Sesange, jeongmal baboya Min Sun.

“Neo.. Baekhyun?”

“Ani. Aku setan.”

“Ya, jangan main-main!” kudengar ia kembali tertawa. Pasti dia menertawakanku.

“Aku tidak main-main, Min Sun. Aku Byun Baekhyun namja tertampan di Korea.”

Aku langsung bereaksi memasang wajah mau muntah mendengar kenarsisannya yang semakin menjadi. Dia ini pede banget, ya? Jadi heran.

“Kau kan belum melihat wajahku, kalau sudah lihat pasti kau akan menyetujui perkataanku.”

“Ani. Aku tidak akan terpesona oleh wajahmu.” Ujarku dingin.

“Wae?” tanyanya, dengan nada bingung.

“Karena aku tidak akan bisa melihatmu.” Ujarku seraya menoleh ke arah kanan (arah sumber suaranya yang kuketahui sebagai arah tubuhnya) dan tersenyum getir.

“Apa kau mau pergi jauh?” tanyanya lagi, kini dengan nada kecewa.

“Ani. Hanya saja aku tidak akan pernah bisa melihat.” Ujarku lirih, cairan bening hangat perlahan membanjiri wajahku yang dingin karena udara musim gugur. Aku menundukkan kepalaku, tak ingin air mata itu dilihat oleh namja di sebelahku.

Tiba-tiba seseorang –yang mungkin adalah Baekhyun- memegang daguku dan menolehkan kepalaku ke arah kanan. Kemudian ia mengusap air mataku.

“Jangan berbicara seperti itu. Aku tahu kau pasti akan kembali melihat dunia ini, bersamaku.” Ujarnya lembut, sangat lembut.

Aku kembali menangis. Air mata membanjiri sampai ke sudut-sudut wajahku. Ia menarikku ke dalam pelukannya, membiarkanku menangis di dadanya yang bidang *gak yakin dada Baekhyun bidang*. Hangat. Ini dekapan terhangat yang pernah aku terima.

“Menangislah sepuasmu.” Ujarnya pelan, seraya mengelus rambutku perlahan. Aku tidak menolak perlakuannya, karena itu.. jujur kuakui nyaman.

“Gomawo.” Ujarku kemudian, seraya melepaskan pelukannya dan memasang senyum terbaikku.

“Cheonmaneyo. Kau manis kalau seperti itu.”

Seluruh sistem syarafku seperti memerintahkan agar mengirimkan seluruh suhu tubuhku ke pipiku. Aku tahu, pasti wajahku semerah tomat sekarang.

-***-

“Gomawo sudah mengantarkanku.” Ujarku setelah turun dari mobilnya.

“Cheonmaneyo, lain kali hati-hati kalau di jalan. Jangan sampai ketemu preman lagi. Annyeong.”

“Ne, aku akan hati-hati. Annyeong.”

Kudengar deru mobil yang kian menjauh, setelah itu kututup pintu pagar rumah minimalis ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan besar yang hangat menarik tanganku perlahan. Aku tahu siapa pemilik tangan ini. Ne, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol, oppaku yang satu ini.

“Oppa? Wae gurae?” tanyaku setelah ia melepaskan tarikan tangannya.

“Sebenarnya ada yang ingin kami tanyakan.” Jawabnya.

“Kami? Kau dan Jiyeon eonni maksudmu? Mau tanya apa?”

“Itu namjachingumu, ya?” tanya Jiyeon tiba-tiba.

“Mwo?! Eh, ani..”

“Jinjja? Kenapa dia mengantarmu pulang? Bukankah dia namja yang kemarin?” kini giliran Chanyeol oppa yang bertanya.

Aku pun menceritakan semuanya, dari kejadian tadi (kecuali bagian berpelukan itu, nanti dikiranya apa lagi -_-). Mereka hanya ber-ooh ria.

“Ya sudah, aku mau istirahat dulu, ya. Annyeong.” Ujarku kemudian.

“Ne, sana istirahat. Jangan sampai kau sakit.” Ujar Chanyeol oppa.

“Gurae, oppa.”

Aku pun melangkah menuju kamarku. Di dalam kamar, aku segera membaringkan tubuhku dan terbang ke alam mimpiku.

-***-

“Min Sun.” Terdengar suara Jiyeon. Apa dia ada di kamarku?

“Eonni? Apa kau disini?”

“Ne, aku disini. Ada telepon dari seorang namja untukmu.”

“Jinjja? Tunggu sebentar.”

Aku pun bangkit dari tempat tidurku dan berjalan keluar kamar. Beranjak ke ruang tamu tempat telepon berada.

“Yoboseyo?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Yoboseyo, Min Sun. Bisakah besok kita bertemu? Ada yang ingin kubicarakan.”

“Apa tidak bisa sekarang?”

“Tidak bisa. Memangnya ada apa? Besok kau tidak ada waktu?”

“Ani, aku ada waktu kok. Jam berapa? Dimana?”

“Besok kau akan kujemput. Bersiap sajalah.”

“Ah, ne, guraeyo.”

“Annyeong.”

“Annyeong.”

Setelah itu aku meletakkan gagang telepon di tempat semula. Ketika aku hendak kembali ke kamarku, terdengar suara siulan Chanyeol oppa dan dehaman Jiyeon eonni yang terdengar sangat dipaksakan.

“Ya, ada apa dengan kalian?”

“Sepertinya besok ada yang mau kencan, nih.” Goda Jiyeon eonni yang sukses membuat pipiku panas.

“Jangan lupa bawakan kami oleh-oleh, ya.” Kini giliran Chanyeol oppa beraksi.

“Kalian ini bicara apa, sih? Aku hanya ingin menemuinya sebentar, kok. Lagipula kami kan baru berkenalan.” Ujarku seraya menggembungkan pipiku.

“Itu pasti akan menjadi awal yang baik, Min Sunku sayang.” Ujar Chanyeol oppa seraya mencubit pipiku.

“Aish! Kalian ini! Sudahlah, aku mau makan!”

Kudengar mereka tertawa di belakang sana. Ne, menertawakan kemunafikan seorang yeoja yang baru saja mengenal cinta.

*MIN SUN POV END*

****

*BAEKHYUN POV*

Pertama kali melihatnya, aku langsung terpana. Entahlah, aku bingung apa yang kusukai dari dirinya. Ia tidaklah terlalu cantik, sebagaimana kesan pertama orang melihatnya. Tapi, ia memiliki hati yang indah, bahkan seribu kali lebih indah dari pemandangan di Pulau Jeju. Dengan segala kekurangannya, ia dapat tegar mengalami hidup yang semakin hari semakin rumit saja. Apakah hal itu yang aku tangkap dari kesan pertama? Aku rasa, iya. Demi dirinya, akan kukorbankan segalanya. Tentu, aku akan memberikan apapun.

****

Aku melajukan mobilku ke arah rumah Min Sun. Ne, hari ini aku memang ingin bertemu dengannya, dan sudah kuputuskan untuk menjemputnya.

Kini aku sudah sampai di depan rumahnya. Kubunyikan klakson untuk memberi tanda kalau aku sudah sampai. Tidak lama kemudian, kulihat ia sudah keluar dari rumahnya dan berjalan ke arah mobilku.

“Ini Baekhyun ‘kan?” tanyanya hati-hati.

“Siapa kau? Aku tidak mengenalmu.” Ujarku dingin. Sedikit-sedikit bolehlah aku mengerjainya..

“Oh, berarti aku salah orang. Mianhae, jeongmal mianhae.” Ujarnya seraya menundukkan kepalanya berkali-kali.

“Hahahahaa.. kau polos sekali, sih! Masuklah, ppalli!” tawa setanku membahana. Sepertinya sudah cukup aku mengerjainya.

“Neoneun.. Baekhyun?” tanyanya lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih polos.

“Ne, nee.. aku Baekhyun! Kajja, cepat masuk!”

“Dasar! Kau ini menyebalkan sekali, sih. Kau kan tahu aku..” ujarnya terpotong. Aku menutup mulutnya dan menyela perkataannya.

“Ne, aku tahu. Jangan ungkit itu lagi, arraseo? Itu hanya akan menyakitimu. Mianhaeyo.”

Ia terdiam sejenak, kemudian tersenyum dan berkata, “Arraseo, tuan Byun.”

Kedua sudut bibirku terangkat sempurna, daann.. aku bersyukur ia tidak mengetahuinya! Chukkae, Baekhyun ^^

“Apakah sekarang kau sedang tersenyum?” tanyanya tiba-tiba (masih dengan senyum di wajah manisnya), sukses membuatku gelagapan.

“Eh? Ah.. ani. Aniyo. Untuk apa aku tersenyum?” tanyaku berbohong. Apa yeoja ini punya indra keenam yang menggantikan salah satu indranya yang rusak?

“Ahaha, sudahlah. Jangan berbohong, kau tersenyum karena kau sedang senang bukan?” terkanya lagi yang membuatku langsung mati kutu.

“Neee.. aku tersenyum, puas?” akuku sejujur-jujurnya.

“Anii. Aku belum puas.” Ujarnya seraya tersenyum girang ke arahku.

****

Aku menghentikan laju mobilku tepat di depan sebuah taman yang memang sudah kupersiapkan untuk pertemuan ini.

“Sebenarnya kita dimana?” tanyanya dengan wajah polosnya yang.. sumpah, sangat imut bahkan terlalu imut untuk yeoja sepertinya.

“Kita di.. sebuah taman.” Jawabku jujur. Aku kapok mengerjainya -_-

“Ceritakan padaku bagaimana keadaan disini!” pintanya bersemangat.

“Yah, baiklah. Aku akan mengajakmu duduk di bangku taman yang ada di bawah sebuah pohon.”

“Pohon apa itu? Apakah pohon itu rindang?”

“Aku kurang tahu apa nama pohon itu, tetapi pohon itu… rindang, sangat rindang. Daun-daunnya sudah mulai menguning, Min Sun.”

“Jinjja? Beritahu aku yang lainnya!”

Aku pun segera menceritakan apa saja yang kulihat di taman ini. “Di taman ini, terhampar rumput hijau yang cukup luas, kemudian.. di dekat taman ini, tepatnya di depan kita, ada sebuah sungai. Di tengah-tengah taman ini ada sebuah air mancur..”

“Apakah air mancur itu tinggi?”

“Ne, air mancur itu tinggi. Kira-kira setinggi dirimu.”

Wajahnya menggambarkan perasaan kaget dan kagum. Mata indahnya berbinar-binar, seakan ia sangat bersemangat.

“Aku sangat ingin melihatnya, Baek.”

“Aku juga ingin kau segera melihatnya, bersamaku.”

Ia nampak tertegun mendengar kalimat yang terakhir kuucapkan. Sesaat kemudian, ia tersenyum. Tersenyum getir.

“Apakah menurutmu aku dapat melihat lagi?” tanyanya lirih.

“Tentu. Aku tau kalau kau pasti dapat melihat kembali.”

“Jinjja? Gomawo, Baek.”

“Ne, cheonmaneyo.”

Tiba-tiba ia menyenderkan kepalanya di bahuku. Aku terkejut, tapi sesaat kemudian tersenyum. Entah kenapa aku sangat mencintai setiap ekspresimu, Park Min Sun.

“Oh ya, ngomong-ngomong, apa yang mau kaubicarakan?” tanyanya menyadarkanku kembali ke dunia nyata.

“Eh.. oh.. itu.. sepertinya bukan hal yang penting. Apa aku mengganggu waktumu?” belum. Ini bukan waktu yang tepat. Ia baru saja mengenalku, aku harus menyimpan dulu perasaan ini.

“Ani. Entah kenapa, aku merasa senang dan nyaman bersamamu.”

“Jinjja?” tanyaku bersemangat.

“Ne, aku merasa kau lebih baik dari sebuah tongkat untuk menuntunku.” Ujarnya seraya tertawa renyah. Aku senang melihat tawa indahnya, senyum manisnya, semuanya. Aku memang sudah benar-benar mencintainya.

“Apa kau mau pulang sekarang? Sepertinya kita sudah terlalu lama disini.” Tawarku padanya yang masih menyenderkan kepalanya di pundakku.

“Jinjja? Kajja kita pulang.”

*BAEKHYUN POV END*

-***-

*MIN SUN POV*

“Aku pulang~” ujarku setelah masuk ke dalam rumah.

“Min Sun!” teriak seorang ahjumma yang ternyata adalah oemma.

“Wae, oemma? Aku baru saja pulang.”

“Oemma sudah mendapatkan donor mata untukmu!” teriak oemma gembira seraya memelukku.

Sungguh? Apakah ini bukan mimpi? Apakah aku tidak salah dengar?

“Jinjja, oemma?”

“Ne, sayang!”

Aku pun membalas pelukan oemma. Byun Baekhyun! Kau benar, aku akan segera melihat kembali!

“Operasinya lusa, jaga dirimu besok, jangan terlalu lelah ya!”

“Ne, oemma!”

Aku pun berlari ke kamar dan membaringkan tubuh di kasur. Bersiap untuk menjelajah alam lain di balik selimut hangatku.

-***-

“Yak, Min Sun, ireona! Ppalli ireona!” terdengar suara seorang namja yang hendak membangunkanku. Apakah itu oppa? Kenapa lebih mirip suara Baekhyun?

“Engh.. ini masih pagi, oppa.”

“Oppa? Aku bukan oppamu. Aku Baekhyun, Byun Baekhyun.”

Aku segera membelalakkan mataku. Apa aku tidak salah dengar? Byun Baekhyun katanya?

“Kau.. Byun Baekhyun?” tanyaku tak percaya.

“Ne, wae gurae?” jawabnya santai tanpa beban.

“Kenapa kau bisa masuk sini, hah?!”

“Oh? Aku? Aku disuruh oleh Chanyeol hyung membangunkanmu. Ya sudah aku bangunkan.”

“Terserahlah!” aku segera bangkit dari tempat tidurku, meraih handuk, dan menuju ke kamar mandi. Terdengar suara tawa setannya dari luar kamarku.

-***-

“Baek!” panggilku.

“Mwo?” tanyanya santai.

“Coba tebak apa?”

“Apa? aku tidak mengerti.”

“Aku sudah mendapatkan donor!”

“Jinjja? Syukurlah. Kau dapat melihat kembali.”

“Ne, gomawo Baek.”

“Ah, cheonmaneyo. Wah, sudah jam segini! Aku rasa aku harus pergi sekarang. Annyeonghaseyo, Min Sun.”

“Eh? Annyeong.”

*MIN SUN POV END*

-***-

*BAEKHYUN POV*

-Flashback- *Kemarin malam*

“Baekhyun-ssi, kanker anda sudah sampai stadium akhir, dipastikan umurmu tidak akan lama lagi.” Ujar Dokter Shin dengan perasaan bersalah.

“Ne, dok. Aku sudah tahu hal itu.” ujarku pasrah. Aku memang tidak punya harapan lagi.

“Sebagai gantinya dok, bisakah kau berikan mataku pada seseorang, dok? Aku sangat mencintainya dan aku dengan tulus ingin memberikan mataku padanya.” Pintaku pada dokter Shin.

“Siapa orang itu, Baekhyun-ssi?”

“Orang itu…”

“PARK MIN SUN.” ujarku mantap.

-Flasback End-

*BAEKHYUN POV END*

-***-

*NORMAL POV*

Keesokan harinya..

Min Sun berserta keluarganya berangkat menuju Seoul Medical Hospital untuk melakukan operasi transplantasi mata Min Sun. Jiyeon pun mendekati Min Sun yang sedari tadi nampak gelisah.

“Min Sun.. ap kau gugup?”

“Eh? Eonni.. ani, aku tidak gugup. Hanya saja..”

“Hanya saja apa?” tanya Jiyeon lagi.

“Jangan tertawakan aku, ya eon.” Ujar Min Sun setengah berbisik.

“Nee.. memangnya ada apa sih?” tanya Jiyeon lagi, bertambah penasaran.

“Baekhyun tidak datang ya?” bisik Min Sun.

“Mwo? Jadi kau mencari namja itu?!” jerit Jiyeon kaget.

“Sssttt!! Nanti oppa pasti akan menertawakanku! Diam!”

“Oh ne, mian. Sayang sekali Baekhyun-ssi  tidak datang, Min.”

“Hhh.. ya sudah, gomawo eon.” Desah Min Sun pelan.

“Ne, cheonmaneyo.”

Sekarang Jiyeon tahu, kalau ada seorang yeoja yang tengah jatuh cinta sekarang. Jiyeon hanya tertawa geli mengetahui kenyataan yang ada.

****

“Baiklah Park agassi, apakah anda sudah siap untuk operasi?” tanya seorang doter, Dokter Shin.

“Ne, dok. Saya sudah siap.” Ujar Min Sun mantap.

“Baiklah, ayo kita ke ruang operasi. Keluarga hanya diperbolehkan menunggu di ruang tunggu.”

“Baik, dok.” Ujar Appa Min Sun.

****

“Kita sudah bisa melepas perbannya. Silahkan suster.” Ujar Dokter Shin.

Seorang yeoja berseragam suster maju dan mulai melepas perban Min Sun. Semua keluarga Min Sun menatapnya dengan cemas. Perban sudah terbuka dengan sempurna. Min Sun mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian dengan perlahan ia bergumam.

“Appa.. Oemma.. Oppa.. Eonni. Apa itu kalian?”

Seluruh keluarga Min Sun tampak sangat senang. Mereka memeluk Min Sun dengan erat, sangat erat.

“Min Sun! Kau sudah bisa melihat lagi!” jerit Jiyeon senang.

“Benarkah ini? Apa bukan mimpi?” tanya Min Sun tak percaya.

“Ne, sayang. Ini bukan mimpi.” ujar appa Min Sun.

*NORMAL POV END*

 

*MIN SUN POV*

“Kita sudah bisa melepas perbannya. Silahkan suster.” Ujar Dokter Shin.

Kurasakan tangan seseorang melepaskan perban yang masih meliliti bagian mataku. Kemudian, perban terbuka sempurna. Aku membuka mataku perlahan, kemudian mengerjap-ngerjapkannya. Samar-samar kulihat bayangan beberapa orang yang lama kelamaan menjadi jelas.

“Appa.. Oemma.. Oppa.. Jiyeon. Apa itu kalian?” tanyaku.

Wajah mereka tampak sangat senang. Mereka memelukku dengan erat, sangat erat.

“Oenni!! Oenni sudah bisa melihat lagi!” jerit Jiyeon senang.

“Benarkah ini? Apa bukan mimpi?” tanyaku tak percaya.

“Ne, sayang. Ini bukan mimpi.” ujar appa.

Sesange, kamsahamnida. Ini bukan mimpi, kan? Aku harus mengabarkan ini pada Baekhyun sesegera mungkin.

****

Sekarang aku dapat melihat dunia dengan normal. Baekhyun, tunggu aku! kita akan melihat dunia bersama-sama. Seperti katamu.

Mobilku sudah terparkir di dalam garasi rumah minimalis kami. Aku segera melangkahkan kakiku ke dalam rumah, dan disusul oleh Jiyeon eonni.

“Ehem, eonni.” Ujarku padanya.

“Ne, Min Sun. Wae?”

“Sepertinya selama aku buta, kau tambah cantik saja.” Ujarku menggodanya. Ia nampak tersipu. Tapi memang benar, ia tampak lebih dewasa dan keren dengan rambut pirangnya itu.

“Ah, kau bisa saja.”

“Hahaha.. apa kamar eonni ada perubahan?” tanyaku padanya.

“Ani. Kami tidak merubah apapun. Itu semua untuk memudahkanmu.”

“Oh, begitu. Ya sudah, aku ke kamar dulu, ya.” Ujarku seraya mempercepat langkahku dan meninggalkannya.

@ room

Uwaaa!! Ini kamarku! Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Entah kenapa, aku rindu sekali. Tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Tapi, apa ya? Oh ya! Wajah Baekhyun itu seperti apa sebenarnya? Dia pernah bilang padaku kalau dia tampan. Apa wajahnya sama dengan apa yang ada di khayalanku, ya? Lebih baik aku mengajaknya bertemu besok.

Aku pun bangkit dan melangkahkan kakiku ke arah meja telepon yang ada di ruang tamu. Ya, baboya Min Sun.. apa kau punya nomor teleponnya, hah? Apa aku tunggu dia telepon duluan, ya? Ne, sebaiknya begitu saja. Aku pun kembali ke kamar dan mulai kembali ke alam mimpi.

****

“Min Sun..” ujar seorang namja. Oppa?

“Mwo, oppa? Aku masih mengantuk.” Ujarku seraya menguap.

“Ini.. ada surat. Dari Baekhyun.” Ujarnya lagi. Aku langsung bangkit dan mengambil surat itu.

“Gomawo oppa.”

“Ne, cheonmaneyo. Kau ini giliran Baekhyun saja baru bangun.”

Aku pun segera melempari wajahnya dengan bantal. Seenaknya sekali kalau bicara -_-. Setelah itu aku membuka surat dari Baekhyun, dan membacanya. Chanyeol oppa yang ada di sampingku dan ikut membaca.

Dear, Min Sun

Annyeong, bagaimana operasi matamu? Kalau kau membaca ini, berarti operasinya sukses ya, haha 😀

Mian, aku tidak bisa datang saat kau operasi.

Mianhae, jeongmal mianhae

“Berlebihan sekali, dia kan hanya tidak datang saat aku operasi.” Ujarku pada Chanyeol oppa seraya tertawa renyah.

“Lihat dulu lanjutannya, siapa tahu ada hal lain, kan.”

Sesuai saran oppa, aku melanjutkan kembali untuk membaca.

Mianhae, aku tidak dapat lagi menemani harimu.

Mianhae, karena aku bukanlah namja yang baik untukmu.

Mianhae, karena aku telah pergi meninggalkanmu.

Mianhae, karena aku MENCINTAIMU.

Karena kepergianku yang mendadak inilah, aku ingin mempersembahkan hadiah untukmu.

Semoga kau suka, Min Sun.

Jika kau mau tahu apa hadiah itu, datanglah ke taman tempat kita bercengkerama kemarin.

Taman itu ada di pinggiran Seoul, kau dapat menempuhnya dengan mobil dalam waktu 30 menit.

Ketika kau sampai di taman itu, nikmatilah pemandangan di sana, lihat air mancur yang setinggi dirimu itu, dan duduklah di kursi tempat kita duduk kemarin.

Kau akan menemukan sesuatu di bawahnya.

Mungkin ketika kau membaca surat ini, aku sudah tidak lagi di sampingmu.

Saranghae, jeongmal saranghae Park Min Sun.

 

Byun Baekhyun, Seoul, 21 Juni 2011

 

“Haha. Apa ini? Lelucon yang tidak lucu.” Ujarku seraya melempar kertas itu ke lantai. Chanyeol oppa hanya melihatku dengan tatapan ibanya.

“Darimana oppa dapat surat aneh itu? Bilang kepada orang yang memberikan surat itu, jangan membuat lelucon yang tidak lucu dan menyebalkan!” ujarku kesal seraya memandang wajah Chanyeol oppa.

“Yang memberikan itu.. Baekhyun sendiri.”

Seketika tubuhku terasa membeku di tempat. Apa maksudnya memberikan surat aneh macam itu? Bukankah dia sendiri yang bilang kalau aku pasti bisa melihat dunia ini bersamanya? Apa dia ingin mengangetkanku?

“Ia memberikan surat itu dengan wajah sedih. Ia bilang aku hanya boleh memberikannya kepadamu setelah kau selesai operasi. Aku kira ia mau pergi.”

“Antarkan aku ke taman yang Baekhyun maksud, jebal.” Lanjutku seraya memberikan tatapan memohon kepada Chanyeol oppa.

“Ne, kajja.”

*MIN SUN POV END*

****

*NORMAL POV*

Mobil Chanyeol sudah sampai di taman tersebut. Min Sun berlari keluar mobil dan.. ia tertegun. Betapa indahnya pemandangan yang ia lihat. Kemudian ia menghampiri air macur yang terletak di tengah taman.

“Oppa.. air mancur ini bahkan lebih tinggi dariku.” Ujarnya tanpa melihat ke arah Chanyeol. Seulas senyum muncul di pipinya.

“Ne, Min Sun.”

Setelah itu, Min Sun berlari ke arah kursi taman yang berada di bawah sebuah pohon yang sangat rindang, dan merupakan satu-satunya kursi di sana. Chanyeol mengikutinya, dan duduk di sampingnya.

“Tahukah kau, oppa?”

“Mwo?”

Min Sun menyenderkan kepalanya di bahu oppanya.

“Aku melakukan ini kemarin.”

“Dengan Baekhyun?”

Min Sun hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia beranjak ke bawah kursi taman. Ia mendapati sebuah kotak dan kemudian membuka isinya.

“Sekarang adalah waktu untuk mengetahui sesuatu yang ia maksud sebagai hadiahnya.” Ujar Min Sun lirih.

Ia pun membuka kotak itu dan mendapati sebuah surat. Setelah itu ia mengambilnya dan membacanya.

*NORMAL POV END*

 

*MIN SUN POV*

“Tahukah kau, oppa?”

“Mwo?”

Aku menyenderkan kepalaku di bahu oppa.

“Aku melakukan ini kemarin.”

“Dengan Baekhyun?”

Aku hanya mengangguk. Kemudian aku teringat pesan terakhir dalam surat Baekhyun, dan beranjak ke bawah kursi taman. Di sana aku mendapati sebuah kotak dan mengambilnya.

“Sekarang adalah waktu untuk mengetahui sesuatu yang ia maksud sebagai hadiahnya.” Ujarku lirih.

Aku pun membuka kotak itu dan mendapati sebuah surat. Surat lagi? Setelah itu aku mengambilnya dan membacanya.

Min Sun..

Apa kau ingin tahu apa hadiahmu?

Akan kuberitahu hadiahmu.

Seandainya saja kau tahu, mata yang sekarang kau pakai adalah mataku.

Jadi, tolong jangan beranggapan kalau kau tidak akan bisa melihat dunia lagi bersamaku.

Aku ada disana, di matamu.

Bila kau merindukanku, kau bisa lihat ke dalam bola matamu, dan disana kau akan melihat sosokku.

Tapi jangan sedih dulu.

Jangan salahkan dirimu, aku memang mengorbankan mataku untukmu, tapi aku melakukan itu karena aku mencintaimu dan umurku yang sudah tak lama lagi..

Aku mengidap penyakit kanker stadium akhir, dan aku berniat menyumbangkan mataku ini sebagai tanda cintaku yang terakhir untukmu.

Jagalah mataku yang kini ada padamu ini, seperti kau menjaga orang yang berarti bagimu.

Aku harap kau juga mencintaiku.

Sekali lagi, saranghae Min Sun.

 

“Na ddo, Baek. Na ddo.”

Butiran cairan bening mengenangi mataku. Aku menangis dalam diam, rasanya tak sanggup menerima kenyataan kalau ia sudah tiada. Aku bersandar ke bahu Chanyeol oppa, dan dibalas dengan belaian lembut dari tangannya.

Byun Baekhyun, aku berjanji. Aku akan menjaga matamu sampai aku mati. Jika kita bertemu lagi, aku ingin merasakan cintamu yang hanya sebentar itu. Kapanpun, entah itu di kehidupan yang mendatang atau yang lainnya.

-END-

~EPILOG~

*NORMAL POV*

Seorang yeoja bernama Park Min Sun sedang menunggu oppanya di depan pintu masuk toko buku. Merasa kesal karena sudah lama menunggu, ia memutuskan untuk pulang sendiri.

Ketika ia sedang menyeberangi jalan, sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Ia sudah menutup matanya, mengira hidupnya akan segera berakhir. Tapi, ternyata tidak. Ia merasakan sebuah tangan yang menarik tubuhnya ke sisi lain jalanan. Dengan perlahan, ia membuka matanya.

“Gwenchana?” tanya seseorang yang tadi menariknya, seorang namja.

Mata Min Sun terbelalak, ia merasa mengenal namja di depannya itu, dan kejadian yang baru saja terjadi. Ia pernah mengalaminya, bersama namja ini, beratus tahun yang lalu.

“Neo neun.. Baekhyun?” tanyanya, masih dengan mata terbelalak.

“Ne, ternyata kau masih mengingatku, Min Sun.”

****

Cinta yang tulus tidak akan lekang oleh waktu, keadaan, maupun strata sosial. Cinta tidak mengenal itu semua. Cinta hanya mengenal kata ‘dirimu’, ‘diriku’, dan ‘kita’. Keabadian cinta adalah salah satu kesempurnaan yang indah. -OSH98-

****

Gimana readers? Ancur, yak? Haha, karena ancur, saya butuh komen, saran, dan kritik kalian. Dan ff ini sudah saya rombak di beberapa bagian. Buat yang udah baca, jeongmal gomawo ^^

 

Iklan

35 pemikiran pada “L-O-V-E!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s