Forget (Chapter 1)

Forget Chapter 1 (Sequel: “Differences of the twins’ fate”)

Author: Laras (@Laras794)

Ratted: Teen

Length: Chapter

Genre: Romance, angst.

Cast:

–          Nam Yoonjoo (?)

–          Oh Sehun

–          Byun Baekhyun

–          Kim Jongin

–          Other

Attention: peringatan keras! jangan copy, paste tanpa seizin saya apalagi plagiat. itu sama saja kalian seperti seorang penjahat yang mencuri karya orang lain. Jika kalian mau me-remake ulang cerita ff yang saya buat ini harap izin pada saya terlebih dahulu. Maaf jika menyinggung tapi ini demi kenyamanan kita bersama, terima kasih.

Annyeong~~~~ ketemu lagi denganku. Gak inget ya? Laras imnida, 94line. Author dari Life without you, She is not you, Differences of the twins’ fate, Mystique, Dropping the tears, dan A girl meets love (kebanyakan ==”). Aku datang dengan Sequel Life without you, bagi kalian yang gak ngikutin Differences of the twins’ fate kalau langsung baca ini tetep nyambung kok. Sempet bingung mau buat alur gimana, akhirnya seperti ini. maaf kalau gak jelas. Lagi-lagi castnya bertambah hahaha~ ayo tawuran… thanks buat semuanya yang telah menyempatkan diri mampir, baca apalagi comment dan like. thanks buat teman-teman di twitterku baik sesama author atau readers yang sering ngobrol sama aku karena suka menghilangkan kegalauan ku hahahaha… thanks juga buat teman-teman Dance coverku yang mau mengerti diriku dan membiarkan diriku tetap meluangkan waktu buat ff, HnB Entertainment hwaiting!!!. Oke jangan lupa comment ya, satu comment bermanfaat untuk kelanjutan ffku. Yang comment atau like kudoain bakal selalu menjadi yang terbaik dari yang terbaik dan bisa lancar uangnya buat nonton konser Kpop yang menghujani Indonesia. Amin..  thanks, oke, Happy reading.

BRAKH

Pintu kediaman Jung pada pagi itu dibuka lebar oleh seseorang yang nampak datang dengan terburu-buru sembari menggeret koper berwarna hijau miliknya. Tak lama datang seorang namja yang ikut menyusulnya dari belakang dan tak kalah terburu-buru dengan orang di depannnya. Mereka sampai di ruang keluarga di rumah itu, terlihat segelintir orang menampakkan wajah cemasnya bahkan ada juga yang menangis. suasana saat itu memang benar-benar tak memungkinkan.

“Eomma.” Panggil seorang yeoja yang menggeret koper hijau itu mendekat ke arah seorang wanita paruh baya yang nampak menangis dengan air mata yang mengalir deras. “bagaimana dia bisa menghilang?” tanyanya dengan guratan wajah yang tak kalah cemasnya dengan orang yang berada di sekitarnya.

“Miyeon.. adikmu..” lirih wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Nyonya Jung. Ia langsung memeluk Miyeon tak tahan dengan keadaan yang menimpa mereka saat ini.

“Jooyeon.. bagaimana dia bisa menghilang?” tanyanya dengan suara yang parau.

PRANK

Kini mata semua yang mengisi ruang keluarga itu beralih ke sudut ruangan itu, anak kecil berumur 3 tahun bersama seorang namja yang nampaknya sudah mulai terpancing emosinya karena ulah anaknya itu. namja itu mengepalkan tangannya keras-keras, melihat perubahan dari namja itu seorang yeoja segera mendekati anak itu dan mengangkatnya menjauhi Appanya itu. mereka tahu pasti kalau namja itu saat ini emosinya mudah terpancing karena istrinya yang menghilang.

“Eomma huwaaa~ EOMMA!!!!” jerit anak kecil itu tak karuan di dalam pelukan yeoja yang tadi mengangkatnya, tak jarang yeoja itu juga mendapatkan pukulan pelan dari anak kecil itu. “Huwaaa~ EOMMA!!!!”

“DIAM OH JOOHUN!!!” bentak Appanya yang benar-benar sudah terpancing emosinya, semua langsung terkejut mendengar bentakkan namja itu. Anak itu yang bernama Joohun malah semakin mengejarkan tangisannya yang menggema di ruangan itu, yeoja itu mengelus punggung anak itu mencoba menenangkannya. Ia yakin Joohun takut dengan kemarahan kakak dari yeoja itu. “ARKH… Oh Jooyeon, dimana kau??” namja itu terduduk di tangga dan mengepalkan tangannya mencengkram rambutnya.

“Annyeong” sapa seorang namja bertubuh jangkung yang berlari kecil setiba dia di kediaman itu. namja itu melihat sekitarnya yang nampak berantakan sekali termasuk namja bernama Oh Sehun yang duduk di tangga itu, mungkin dia bisa gila jika mereka tak berhasil menemukan Jooyeon. “aku sudah dapat kabar mengenai Jooyeon” lanjut namja itu mengatakan hal yang ingin disampaikannya, perkataannya itu sukses membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke arahnya.

“Hyung.. cepat katakan padaku, dimana Jooyeon? Pinta Sehun yang langsung berlari ke arah namja itu dan menggenggam erat pergelangan tangan namja itu.

“sebelumnya.. kau ada masalah dengannya? Kenapa kau membiarkan dia menyetir sendirian?” selidik namja itu mencoba menelisiknya dan Sehun mulai terlihat terdiam sejenak. “Katakan pada kami Sehun, apa yang membuat Jooyeon pergi sampai ke luar kota seperti itu?” cecar namja itu meminta jawaban yang jujur dari Sehun.

“k-k-kami bertengkar. Dia bilang dia ingin menemui temannya di Busan, aku tak mengijinkannya. dia memohon lagi tapi aku membalasnya dengan emosi, dia membela dirinya tapi siapa sangka aku benar-benar emosi dan tanpa sengaja aku..” ucap Sehun menggantung, semua menatap Sehun heran. 3 detik kemudian Sehun mulai kembali angkat bicara, “Aku menyakitinya.. aku menamparnya.. mianhae” semua langsung terdiam mendengar pernyataan Sehun.

“kau seharunya bisa mengerti keadaannya lagipulan istrimu juga tak pergi sendirian pastinya. Kau bisa bicara dengannya baik-baik. Percumalah saat ini aku menasihatimu” dengus namja itu atau biasa dipanggil orang sekitarnya Park Chanyeol. “tolong tabahlah, walau keadaan ini kukatakan aku akan tetap mencari Jooyeon. Dia kecelakaan, mobil yang dikendarainya masuk Jurang” ucap Chanyeol dengan nada yang lemah.

“J-Jooyeon..”

“EOMMA!!” panik Miyeon yang melihat Eommanya pingsan begitu terkejut karena mendengar kata-kata Chanyeol tadi. Kemungkinan besar nyawa Jooyeon takkan selamat. “Oppa. Jooyeon bagaimana?” tanya Miyeon heran dengan guratan kecemasan.

“jurangnya tak begitu dalam seharusnya dia selamat tapi kami tak menemukan Jooyeon. Yang tersisa hanyalah tas miliknya. Tubuhnya tak bisa kami temukan” jelas Chanyeol dan membuat semua terkejut tak percaya, bahkan Sehun langsung melemas dan menangis dengan merundukan kepalanya dalam-dalam.

“ini salahku..” lirih Sehun ditengah isakannya.

————————-

“Hyung, dia sudah sadar”

“jinjja??”

Suasana kamar yang sederhana itu yang tadinya terasa sepi langsung terasa ramai dan penuh harap. Seorang yeoja terbaring lemah di atas tempat tidur, luka-luka memenuhi tubuhnya. Yeoja itu kini melebarkan matanya ketika kesadaran telah kembali, dia melirik sekitarnya dan terdapat dua orang namja yang berada di samping ranjangnya. Seorang namja yang duduk di sisi tempat tidurnya dan seorang namja lagi yang berdiri di samping namja itu namun tatapannya mengarah padanya. yeoja itu nampak kebingungan melihat keadaan sekitarnya, ia merasa asing dengan ruangan sederhana itu. bukan karena dia tak suka melainkan karena dia tak familiar dan tak tahu dimana ia saat ini.

“agassi gwaenchana?” tanya namja yang duduk di sisi ranjang, namja yang berwajah begitu imut dan sepertinya terlihat begitu muda. Yeoja itu tak menjawab, matanya tetap lurus menatap namja itu. yeoja itu tak mengenal namja itu, “Agassi” panggil namja itu lagi.

“Agassi, siapa namamu? Dimana rumahmu? Kami akan mengantarkanmu pulang” cecar namja yang kulitnya sedikit gelap dan berdiri di samping namja berwajah imut itu. bukannya menjawab yeoja itu malah mengerutkan dahinya kebingungan. “Agassi ingat kan?” ucap namja itu asal tapi apa yang terjadi, mendengar kata ingat yeoja itu menggelengkan kepalanya.

“nama? Rumah? Mm.. siapa kalian? Dimana aku?” tanya yeoja itu bangkit dari tidurnya. Dia sempat meringis karena lukanya terasa perih tapi dia berusaha hingga akhirnya terduduk di atas tempat tidur itu. “aku tak mengerti pertanyaan yang kalian tanyakan padaku, aku tidak tahu”

Mendengar perkataan yeoja itu membuat kedua namja itu saling bertatapan satu sama lain seolah memikirkan hal yang tak terduga dan bisa saja sama. Lupa ingatan. Setahu mereka yeoja itu tak terluka di bagian kepala, dia baik-baik saja tapi bagaimana bisa dia tak ingat segalanya bahkan nama dan tempat tinggalnya. Mungkin saja keluarganya juga ia tak ketahui.

“apa yang kau ingat agassi?” tanya namja yang berdiri itu.

“ingat..” ulang yeoja itu coba berpikir tapi sepertinya semua itu sia-sia. memori itu seperti data yang telah dihapus dan takkan pernah bisa ditemukan kembali. “aku tak ingat apapun, aku Cuma ingat aku terbangun di ruangan ini dan melihat kalian”

“kita harus ke rumah sakit” ajak namja yang duduk di sisi tempat tidur, dia beranjak dari duduknya dan mengambil hoodie di atas sofa yang berada di sudut ruangan itu dan memakaikannya kepada yeoja itu. “kajja” giringnya pada yeoja itu menuju keluar apartemennya.

Sehun POV

Semua pasti tahu perubahan yang ada dalam diriku saat ini, aku tak beraktifitas seperti biasanya, aku tak bersemangat seperti biasanya, dan aku hanya menghabiskan hariku dengan melamun. Aku seperti ini karena istriku itu yang menghilang sudah hampir 1 minggu. Mobil yang dikendarainya baru ditemukan beberapa hari yang lalu tapi dirinya tak bisa kami temukan. Dia menghilang kami tak tahu apa dia masih hidup atau tidak tapi aku yakin dia masih hidup. Namun orang lain, mereka sudah beranggapan Jooyeon telah mati. Kenapa mereka bisa beranggapan Jooyeon telah mati, dia masih hidup dan pasti akan kembali padaku dan Joohun.

Aku harus mengurus anak kami yang sejak kemarin terus mencari Jooyeon. Meski Miyeon mirip dengannya tapi ikatan antara ibu dan anak pasti akan terasa olehnya, Joohun pasti tahu kalau Miyeon bukanlah sosok Eommanya yang ia cari. Emosiku sedang tak stabil belakangan ini aku takut nantinya aku akan melukai orang-orang disekitarku termasuk Joohun. Aku takut jika aku melukainya dia akan membenciku dan tak mau bersamaku.

“Jooyeon..”

“oppa” aku yang sedang memejamkan mata langsung membuka mataku menatap seseorang yang masuk ke kamarku dan berdiri di ambang pintu kamarku, adikku Jinra. “oppa jangan seperti ini, kau harus bangkit. Joohun, kau juga harus pikirkan dia” nasihatnya padaku sembari berjalan mendekat ke arahku yang tengah duduk di sisi tempat tidur.

“Jinra” panggilku padanya sembari memejamkan mataku.

“hmm..” sahutnya dengan gumaman.

“aku butuh bantuanmu” ucapku lalu kembali membuka mataku dan menatap yeoja yang berada di depanku saat ini, tatapannya menatap diriku sendu. “jaga Joohun untuk sementara. Aku tak mau karena emosiku yang tak stabil dia terluka. Jaga dia untukku dan Jooyeon. Jika Jooyeon kembali dia harus dalam keadaan baik-baik saja” pintaku padanya. beberapa detik kemudian Jinra tersenyum kepadaku dan mengangguk, dia bersedia menerima perkataanku tadi.

“aku akan menjaganya. Bawa Jooyeon Eonnie kembali untuk kami juga” ucapnya dan aku mengangguk mencoba menyanggupinya walaupun dalam hatiku sebenarnya aku tak yakin akan bisa menemukannya, tapi kalau tak dicoba mana tahu.

——————————-

Suasana ini begitu kental begitu kabar mengenai Jooyeon menghilang dan menurut orang-orang ia dinyatakan meninggal. Suasana yang sangat tak kuharapkan saat ini dimana mereka mencemaskanku, membicarakanku, mempertanyakan keadaan Jooyeon dan keluarganya saat ini begitu juga anak kami. Sejak dia menghilang baik dimanapun berada emosiku mudah terpancing terlebih mendengar mereka yang selalu membicarakan masalah kami seakan nasib yang harus ditanggung kami begitu tragis. Ya, tragis memang dulu Jooyeon hamil karena perbuatanku dan aku sempat tak mau mempertanggungjawabkannya, Jooyeon yang diusir dari rumah oleh keluarganya dan tak dianggap keluarga lagi, Jooyeon yang menghadapi kehamilannya sendirian. berapa banyak penderitaan yang ditanggung kami atau lebih tepatnya penderitaan yang selalu menimpa Jooyeon. Ini sudah cukup banyak  terlebih dirinya yang menghilang saat ini dan dikabarkan meninggal.

Tak bisakah tuhan membagi penderitaannya kepadaku?

Aku masuki ruang kerjaku, ruang kerja khusus diriku bekerja di perusahaan milik Appaku. Aku sulit untuk berkonsentrasi dalam bekerja karena memikirkan dirinya tapi jika aku tidak bekerja bagaimana aku menghidupi diriku dan Joohun. Meski ini perusahaan Appaku bagaimanapun juga aku harus tetap profesional, aku tak mau menjadi contoh yang tak baik untuk bawahanku di perusahaan ini. aku adalah panutan mereka, aku adalah orang penting di perusahaan ini, dan aku adalah orang yang selalu mereka perhatikan dan mereka contoh.

“Tuan..” mendengar suara yeoja dari ambang pintu membuatku segera menoleh ke arah pintu, sekretarisku Cha Saerin berada disana. Dia masuk ke dalam dan berdiri di depan meja kerjaku berhadapan denganku. “ini bekal untuk tuan” dia menaruh kotak bekal di atas meja kerjaku.

Aku mengernyitkan dahiku heran melihatnya yang memberikan bekal padaku, biasanya yang selalu menyiapkan bekal makan siang untukku selalu Jooyeon tapi kali ini dia. “Nyonya tak ada.. mm.. jadi aku berpikir untuk menyiapkan bekal untuk tuan.. tuan harus tetap sehat, beberapa hari ini tuan terlihat lesu” ucapnya sembari tersenyum kepadaku. Mataku menatap bekal di atas meja kerja ku lalu aku mengalihkan pandanganku kembali ke arah Saerin dengan senyuman tersungging di bibirku.

“Gomawo Saerin” ucapku berterima kasih. Aku menjadi ingat kata-kata Jooyeon yang mengatakan walaupun ia tak ada pasti masih ada orang yang memperhatikanku meski tak tahu itu siapa, yang mungkin bisa ia artikan sebagai keluarga, teman, atau orang-orang disekitarku. Mungkin juga Saerin adalah salah satunya. “seharusnya kau menyiapkan bekal untuk namjachingumu bukan aku kan?” tanyaku sembari membuka kotak bekal itu dan melihat isinya.

“aku tak punya namjachingu tuan..”

“Uhuk..” mendengar pengakuannya membuatku langsung tersedak setelah mencoba memasukan satu suap makanan yang dibawakan Saerin tadi. Untung saja dengan cepat Saerin memberiku minum kalau tidak aku sudah mati tersedak. “aku tak percaya bagaimana bisa yeoja secantik kamu tak punya namjachingu..” ucapku langsung namun sedetik kemudian aku baru sadar apa yang kukatan padanya tadi tak seharunya kukatakan, secara tak langsung aku telah memujinya. Yang benar saja itu seperti aku mengatakan kalau aku menyukainya, kuharap dia tak salah paham yang tadi itu hanya refleks karena aku dan Jooyeon juga tahu kalau dia cantik.

Kenapa seperti ini? wajahnya memerah, sepertinya efek perkataanku tadi begitu besar. Alangkah bodohnya aku dan kali ini aku benar-benar merutuki kesalahanku sendiri. “mm.. gomawo bekalnya. Aku akan memakannya nanti” ucapku memecah keheningan lalu menutup bekal yang tadi kubuka.

“Nae.. tuan, nanti siang ada rapat dengan Kim corp.” ucapnya memberitahuku jadwal yang harus kulakukan saat ini, aku menanggapinya dengan mengangguk pelan.

Author POV

“hyung. Tak apa kita kembali ke Seoul lebih cepat?” tanya namja berkulit sedikit lebih gelap dari orang di sekitarnya itu kepada namja berwajah imut di sampingnya yang tengah menggandeng tangan seorang yeoja agar tak hilang padahal kalau dilihat yeoja itu sudah terlihat dewasa. “dan membawanya pulang..” lanjut namja itu melirik yeoja itu.

“pekerjaanku sudah selesai lagipula dia tanggung jawab kita saat ini, dia tak mengenal siapapun selain kita” jawab namja itu lalu tersenyum manis ke arah yeoja di sampingnya yang sejak tadi menempel dengannya terus. “Yoonjoo kau lapar?” tanya namja itu pada yeoja yang dinamai mereka Yoonjoo itu.

“Baekhyun oppa tak lapar, Jongin oppa?” tanyanya balik melirik kedua namja di sampingnya itu. dia melirik dan mendapat respon anggukan dari keduanya. “aku juga lapar. Oh ya Oppa kita sudah sampai di Seoul?” tanya Yoonjoo heran melirik sekitarnya menatap bandara yang terlihat begitu mewah, bersih dan nyaman itu.

“kita masih di Incheon, kita akan naik mobil ke Seoul” jelas Baekhyun si namja berwajah imut itu. Yoojoo mengangguk sekilas dan kembali menikmati pemandangan yang tersaji di sekitarnya. “kita harus ke rumah sakit dulu, untuk memeriksa kondisi Yoonjoo yang sebenarnya” lanjut Baekhyun berbicara pada Jongin.

—————————-

“tak ada yang salah dengan kepalanya, tak ada luka di otaknya sama sekali” jelas seorang dokter yang melihat hasil dari pemeriksaan yang baru saja ia lakukan pada seorang yeoja yang nampaknya tak mengingat apapun mengenai dirinya dan kehidupannya sebelumnya. “kalian harus tahu kalau dia sepertinya terkena racun yang entah belum kami ketahui sama sekali. Racun yang disuntikan ke tubuhnya dan membuat dirinya lupa segalanya.” Jelas dokter itu dan membuat kedua namja yang duduk di depannya mengernyitkan dahinya.

“racun?” heran Baekhyun.

“lebih tepatnya obat terlarang dalam dunia medis, kami tak bisa memberitahu kalian karena ini rahasia dalam dunia medis. Di lengan kanan nona Yoonjoo ada bekas suntikan, ada seseorang yang menyuntikan racun itu ke dalam tubuh nona Yoonjoo” jelas Dokter itu panjang lebar tapi dokter itu juga terlihat nampak kebingungan, bagaimana bisa hal ini terjadi saat ini?

“apa dia akan mengingat masa lalunya?” sambung Jongin yang terlihat ikut penasaran.

“maaf, kami belum menemukan obat untuk menanggulangi racun itu. kalian harus tahu kalau amnesia nona Yoonjoo itu permanen artinya dia takkan pernah mengingat masa lalunya sama sekali. Bagaimanapun ia berusaha tetap saja ia takkan mengingatnya umpamanya data itu telah habis dibakar dan tak ada yang tersisa lagi, yang tersisa hanya abu yang melambangkan perasaan dari Nona Yoonjoo. Dia akan merasa dekat dengan seseorang yang sangat dekatnya melalui perasaannya”

“kenapa harus seperti ini”

To Be Continued

Hayo~ hayo~ Yoonjoo~ Yoonjoo~ siapa dia? Ada yang bisa nebak kalo baca dari awal pasti tahu siapa hohoho.. Joohun sudah besar aigo~ pengen liat kalau dia beneran ada hahaha~. Soal amnesia itu, aku gak tau ya itu beneran ada atau gak maklum otak saya rada aneh dari segala macam aneh yang ada. Oke, Gomawo udah mampir, jangan lupa comment dan likenya kutunggu selalu berapa lamapun kamu membaca setelah ff ini publish, 2 bulan, 4 bulan, berapa lamapun tetep kutunggu karena aku selalu memantau comment kalian. Jangan lupa follo twitterku @Laras794 aku orangnya terbuka kok, mention kalau mau di follback oke… thanks ^^

 

20 pemikiran pada “Forget (Chapter 1)

  1. Bangus banget….
    Trus nnti itu gumn dia gk bisa ngingat segun~sehun dn anakny??
    Jadi semua seperti dimulai dr Nol kembali.
    Ah Daripd pusung tjh keliling mending ak banca langsng aj deh…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s