Paper Boat

Paper Boat

 

Author : little magnae

Genre : Romance gagal, Friendship

Main Cast       :

  • Huang Zi Tao
  • Cho Chanran

Support Cast             :

  • Lee Eunbin
  • Park Chanyeol

^^Happy Reading^^

*Author Pov

Di sepanjang koridor kelas yang sepi, tampak seorang yeoja berjalan dengan santainya. Dia Chanran, Cho Chanran. Yeoja berusia 16 tahun. Bola matanya bergerak perlahan memerhatikan sisa-sisa air hujan yang masih berbekas di sekitarnya. Sesekali ia melirik jam tangannya, sudah pukul 3 sore rupanya. Hujan turun deras pada jam terakhir di sekolahnya. Ketika orang sibuk mencari jalan untuk pulang, Chanran pergi ke perpustakaan, yah… mungkin daripada kurang kerjaan. Namun ia terlalu asik di perpus dan tidak mendengar hilangnya suara guyuran hujan. Semua teman-temannya sudah pulang dari tadi.

Langkah Chanran terhenti saat matanya tertuju pada suatu benda di salura

n air di pinggir ruang audiovisual. Ia melihat sebuah perahu kertas. Perahu kertas sederhana yang pernah ia buat waktu taman kanak-kanak dulu. Bentuknya biasa, tak ada yang istimewa. Ia mengambilnya lalu membuka lipatan perahu kertas itu. sepertinya ia ingin mengingat kembali cara membuat mainan itu. bisa dibilang sudah lama sekali ia tidak membuat origami simple macam perahu kertas.

 

Tolong bawa pergi sedih ini

Aku ingin bayangannya hilang

Ada dua baris kalimat yang menyentuh hati Chanran. Ditulis tangan dengan sangat rapi. Perahu ini sengaja dibuat oleh seseorang. Tapi siapa? Apa orang itu punya masalah serius? Entahlah, Chanran sudah lelah untuk berpikir. Hari senin ini Chanran kehilangan semangatnya. Mood-nya sedang buruk. Dimasukkannya perahu kertas yang sudah agak koyak itu ke dalam kotak pensil, lalu bergegas pulang.

***

*Chanran Pov

“annyeong, Chanran-ah!” sapa Eunbin yang suaranya mirip preman ngamuk. Eunbin sahabat sekaligus teman sebangkuku. Biasanya kalau mood-ku baik, aku bisa lebih gila dari Eunbin.

“annyeong,” jawabku datar.

“kalem amat?! Ran-ah, kamu lagi ngga kesambet jin kan? Hmm… pagi ini cerah ya!” Eunbin sepertinya mulai mengusir kedinginan pagi dan juga kedinginanku. Wajahnya culun banget. Lebih mirip orang tolol, tapi cantik. Aneh.

“syukur deh pagi ini cerah, aku kan udah berdoa tadi malam biar ngga hujan. Mungkin gara-gara ada kamu di bumi, matahari jadi kecut mulu mukanya.” Aku mengeluarkan selentingan yang sudah biasa jadi makanan Eunbin di sekolah.

“Ran-ah, kamu udah ngerjain PR matematika? Sekarang kan jam Park Seonsaengnim. Aku belum ngerjain lho…” Tiba-tiba Eunbin mengeluarkan pengumuman yang penting tapi tidak juga. Kalimat pertama yang penting dan langsung membuat mukaku pucat. Kalimat kedua sama sekali tidak penting.

“mampus aku! Kita harus cepat-cepat ke sekolah nih,” seruku setengah panik.

***

*Author Pov

Chanran dan Eunbin dengan sigap menyalin PR matematika teman mereka yang paling jago matematika. Sebenarnya Chanran tak ingin mencontek, tapi karna ia sama sekali tidak mengerti dan Park Seonsaengnim itu sangat galak, ia harus melakukan aksi menconteknya, apa pun yang terjadi. Akhirnya jam pertama berhasil terlewati.

Hari ini pelajaran terakhir adalah pelajaran Biologi, pelajaran favorit Chanran. Di tengah penjelasan Shin Seonsaengnim, hujan turun cukup lebat. Mungkin sudah jadwal minggu ini hujan selalu turun pada jam pelajaran terakhir. Suara gemuruh hujan menelan suara Shin Seonsaengnim yang memang halus. Konsentrasi Chanran buyar, matanya mulai sayu. Rasa kantuk sudah menghampiri Chanran. Lama kelamaan matanya terpejam, semua menjadi gelap. Sampai bel sekolah yang menandakan jam pelajaran usai berbunyi, Chanran belum terbangun dari tidurnya. Semua temannya sudah pulang, termasuk Eunbin. Bukannya Eunbin tidak setia kawan, ia mendapat telepon dari ibunya agar segera pulang. Mau membangunkan Chanran, kasihan. Eunbin hanya menitip pesan.

Chanran terbangun, dilihatnya kelas kosong. Ia membaca tulisan Eunbin, lalu tersenyum simpul. Ia rapikan bukunya lalu berjalan kemuar kelas. Sepi lagi. Musim hujan begini siapa yang betah berlama-lama di sekolah. Chanran terpaku, ia melihat benda yang ia lihat kemarin, perahu kertas. Sekali lagi ia membuka lipatannya.

 

Kuatkan diriki Tuhan

Aku yakin ini bukan salahku

Dan bukan akhir dari segalanya

Hati Chanran bergetar membacanya, kasihan sekali pembuat perahu ini. Lama-lama Chanran penasaran dengan perahu kertas itu.

***

*Chanran Pov

Dalam lima hari terakhir ini aku selalu menunggu datangnya perahu kertas itu. dan isinya selalu membuatku tak dapat berhenti memikirkannya.

Isi perahu kertas ke 3 :

 

Adakah seseorang yang peduli padaku?

Kurasa kemarin aku melihatnya

Aku cukup senang, akhirnya orang itu sedikit bahagia. Mungkin orang itu menemukan sosok yang ia harapkan. Kupikir, orang itu sudah tidak punya harapan.

Isi perahu kertas ke 4 :

 

Dia mengelusmu

Membaca hatiku

Pada perahu kertas keempat aku sedikit bingung membaca kalimat puitis itu.

Yang jelas aku ikut bahagia karna si pembuat perahu sudah tidak sedih lagi, padahal aku dan dia tak punya hubungan apa-apa. Tahu mukanya saja tidak, apalagi kenal.

Isi perahu kertas ke 5 :

 

Aku ingin bersapa dengannya

Besok

Aku ingin tahu, siapa orang yang ingin ditemuai orang itu? Namja atau yeoja. Dan siapa pembuat perahu itu? Entah mengapa aku merasa sangat peduli padanya.

***

*Author Pov

Jalanan becek, kubangan dimana-mana. Hujan deras kembali mengguyur Seoul. Chanran berjinjit agar kakinya tidak masuk kedalam kubangan.

“Ran-ah, aku punya berita. Oke banget deh!” Tiba-tiba Eunbin berlari menghampirinya. Kakinya menginjak kubangan dan cipratannya mengenai Chanran. Chanran agak kesal, tapi melihat wajah Eunbin yang berseri-seri dan derentan giginya yang mungil, Chanran tidak tega memperlihatkan ekspresi kesalnya.

“mwo? senang banget kayaknya.”

“aku… aku jadian sama Chanyeol. Hihihi…” Eunbin berkata sumringah.

“hah, kok bisa?! Bukannya kalian berdua kerjaannya adu mulut melulu setiap hari? Lagian… kok Chanyeol mau ya sama kamu?” Chanran tak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya.

“bisa dong. Namanya juga cinta. Kan buta.” kata-kata klise keluar dari mulut Eunbin. Chanran hanya bisa tersenyum dan ikut menikmati kebahagian Eunbin. Tanpa tau bagaimana rasanya pacaran.

“kapan kamu nyusul aku? Jomblo melulu. Masa udah 16 tahun belum pernah pacaran? Kurang manteb ngabisin masa SMA.” Kali ini Chanran yang kena ejekan.

“ah, sialan. Aku males pacaran!” Chanran sedikti emosi.

“geotjimal! Padahal penginkan?!” goda Eunbin.

“engga, biasa aja tuh. Aku mending sekolah yang bener biar ngga eror kayak kamu.”

“bahasa lo… engga penting. Berlebihan deh kamu. Aku kan sekarang ngga eror lagi. Tengsin dong sama Chanyeol.” Mata Eunbin berbinar-binar tak jelas.

“terserah kamu deh. Yang jelas, kamu pacaran atau engga sama aja. Sejak kapan kamu punya malu? Engga pernah deh kayaknya.” Wajah Chanran memerah. Chanran berjalan setengah berlari agar Eunbin menjauh darinya. Dalam keadaan tergesa-gesa langkah Chanran terhenti. Perahu kertas itu. untuk kesekian kali ia menemukannya, mengambilnya, membuka lipatan dan membaca isinya.

 

Dia

Perampas perahu kertas yang kubuat

Aku selalu memikirkannya

Baru sampai pertengahan baris kedua Chanran membaca, ia melihat sepasang kaki di dekat lututnya. Ia menelusuri sosok itu hingga wajahnya terlihat. Seorang namja, tampan dan imut. Mendekati sempurna. Mata Chanran terpicing seperti melihat seorang Gaspard Ulliel, actor kesayangannya.

“boleh aku ambil kertas itu?itu punyaku,” tiba-tiba namja itu berbicara.

“mwo? ini? kertas ini?” Chanran bertanya bingung.

“ne.” Namja itu menjawab sambil menganggukkan kepala. Sebelum memberikan kertas, Chanran membaca lanjutannya.

“jadi yang bikin perahu kertas ini kamu? Boleh tahu maksudnya apa?” tanya Chanran mencoba menguak isi perahu kertas itu.

“umm… lupain aja. Oh iya, kita belum kenalan. Huang Zi Tao imnida.” Namja itu tersenyum sambil mengulurkan tangan. Yeoja yang sangat manis, suara hati Tao berkata.

“Cho Chanran imnida,” jawab Chanran. Ia masih diam.

“aku kelas XII A. Kamu XI B, kan? Kapan-kapan aku pengin ngobrol sama kamu, boleh?” pertanyaan Tao kembali terlontar.

“hah? N…ne. boleh.’ Chanran kaget, ragu, sekaligus bingung. Ternyata namja ini sunbae-ku, batin Chanran. Bel masuk merusak percakapan Chanran dan Tao. Sementara itu Tao pergi ke kelasnya. Sesaat sebelum masuk ia menengok kearah Chanran lalu tersenyum. Chanran maih terpatung di depan kelasnya, kosong, tak ada ekspresi.

“kayaknya kamu bentar lagi nyusul aku, Ran-ah.” Eunbin menghampirinya sambil senyum-senyum. Disampingnya berdiri seorang namja yang memegang tangannya. Ya, itu Chanyeol. Eunbin mengucap salam perpisahan pada Chanyeol. Sedangkan Chanran masih melongo, otaknya konslet beberapa detik sampai akhirnya Eunbin menarik tubuhnya masuk kelas.

END

Iklan

10 pemikiran pada “Paper Boat

  1. Huwaaaaaaaaaahhh
    Sequel thor, sequel … !!!
    Aku butuh sequel untuk ff ini…
    Jarang2 aku baca ff yg main cast nya Tao …
    Sequel nya dibikin chapter donk thor, biar makin rame n puas, hehe

Tinggalkan Balasan ke melodidamour Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s