Perfect (Sunset)

Tittle : Perfect (Sunset)

Author : Lee HaeYoung & brigida1315

Genre : Romance

Rating : G

Cast :

Oh Sehoon (EXO – K)

Park Jiyeon (T-ara)

Disclaimer : Cerita ini murni. Jika ada kesamaan dalam bentuk apapun, maaf itu berati ga sengaja 😀

.Perfect.

 —

“Sehun ah!”

Namja yang dipanggil Sehun itu langsung membalikkan tubuh nya dan melihat dari kejauhan seseorang yang dikenal nya sedang berlari mengejar nya.

“Bakhyun hyung? ada apa?” tanya Sehun segera setelah melihat namja yang dipanggil nya Baekhyun itu berhenti di hadapan nya.

“kau dipanggil Jungsoo seonsaengnim. Dia menunggu mu di ruangan nya” jawab Baekhyun.

“aku? tapi untuk apa hyung?” tanya Sehun lagi dengan mengerutkan kecil kening nya.

“nan molla, aku hanya disuruh memanggil mu” balas Baekhyun.

“ne, aku kesana sekarang” Sehun langsung membalikkan tubuh nya dan bergegas menuju ruangan salah satu dosen favorit di kampus nya itu, Seoul University.

Park Jungsoo. Itulah tulisan yang tergantung indah di pintu ruangan yang sekarang berada di hadapan Sehun.

“masuk” kata seseorang dari dalam ruangan tersebut.

“aaa.. Sehun. Silahkan duduk” ucap Jungsoo kepada mahasiswa yang sekarang tengah berdiri di hadapan nya.

“ada keperluan apa saem?” tanya Sehun tanpa berbasa-basi.

“begini Sehun ssi, tujuanku memanggil mu ini berhubungan dengan pameran seni yang sebentar lagi akan diadakan di kampus kita” ucap Jungsoo.

“pameran seni? Lalu apa hubungan nya denganku?” tanya Sehun masih dengan nada kebingungan. Sedikit tidak mengerti dengan arah pembicaraan dosen nya itu.

“tentu saja ini ada hubungan nya dengan mu” jawab Jungsoo.

“kau tau? Seoul University adalah Universitas yang paling terkenal dengan fakultas seni terbaik di Korea Selatan” sambung Jungsoo.

“ne, aku tau saem. Aku kuliah disini dengan jurusan seni lukis. Tentu saja aku tau. Lalu yang ingin kau bicarakan dengan ku apa?” balas Sehun. Sedikit banyak dia kesal dengan dosen nya yang satu ini, terlalu bertele-tele.

Dia tidak suka membuang-buang waktu nya hanya untuk mendengarkan berbagai pujian yang diterima oleh kampus di tempat ia mengasah kemampuan melukis nya itu. Bagi nya, pujian itu sama sekali tidak menambah kemampuan melukis nya.

“di pameran nanti, beberapa pengusaha ternama dan pejabat penting di Seoul akan memenuhi undangan kita. Jadi…” Jungsoo menggantung sebentar kalimat nya.

“aku ingin kau memamerkan lukisan terbaik mu di pameran nanti” Jungsoo menyelesaikan kalimatnya.

“mwo ya? aku? kenapa harus aku saem?” tanya Sehun, tidak bisa menutupi keterkejutan nya.

Jelas saja ia merasa terkejut. Sejak awal ia masuk ke Seoul University, pameran seperti itu bukanlah urusan nya.

Bukan karena ia tidak perduli, hanya saja lukisan yang seharusnya dipamerkan adalah hasil karya mahasiswa semester akhir. Sedangkan ia, baru saja menginjak semester lima.

“kenapa? kau keberatan?” Jungsoo balik bertanya kepada Sehun.

“anniya. Tapi bukankah seharusnya itu tugas mahasiswa semester akhir saem?” balas Sehun.

“tadinya memang Kris yang akan memamerkan lukisan nya di pameran nanti, tapi aku mengajukan namamu untuk tahun ini. Lagipula, tahun lalu Kris sudah mendapat tugas seperti ini, dan tahun ini aku ingin kau yang memamerkan lukisan terbaik mu” ucap Jungsoo panjang lebar.

“bagaimana Sehun ssi? emm, atau kau tidak sanggup dengan tugas ini?” tanya Jungsoo.

Sehun hanya diam mendengar pertanyaan dari dosen nya itu. Ia tidak mungkin menolak tugas itu, harga dirinya bisa hancur seketika jika orang-orang berfikir ia tidak sanggup menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen yang berada di hadapannya saat ini.

“baiklah. Aku akan memamerkan karya terbaik ku di pameran nanti” ucap Sehun

Jungsoo tersenyum sekilas mendengar kalimat persetujuan dari murid didik nya itu. Ia tau, mahasiswa yang berada di hadapan nya sekarang tidak mungkin menolak tugas yang diberikan nya.

“tapi, kau harus tau Sehun ssi. Lukisan yang akan kau pamerkan nanti adalah bintang di pameran tahun ini. Jika lukisan yang kau pamerkan nanti tak menarik sedikitpun atau malah membosankan, maka hancurlah reputasi Seoul University sebagai universitas dengan fakultas seni terbaik di Korea Selatan” ucap Jungsoo.

“tcih, arraseo saem. Aku mengerti. Lalu, lukisan seperti apa yang kau inginkan dariku?” balas Sehun, sembari menghela nafas pelan.

“terserah. Terserah mu ingin melukis seperti apa. Yang jelas, aku tidak mau melihat gaya lukisan mu yang biasa. Aku ingin kau mencoba gaya baru, dengan tema yang jarang ditemukan oleh orang-orang pada umumnya. Karena ini merupakan pameran yang berbeda dari tahun-tahun sebelum nya. Dan…” untuk kedua kali nya Jungsoo menggantung kalimat nya.

“aku akan memberi mu hadiah jika lukisan mu ini berhasil” sambung Jungsoo.

“mwo? hadiah? Hadiah apa saem?” Sehun mengerutkan kecil kening nya.

“kau tidak perlu menyerahkan lukisan mu lagi di akhir semester lima. Jadi, anggap saja ini adalah ujian akhir semester untuk mu” kata Jungsoo sembari menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.

“jinjja? Kau serius saem?” Sehun terbelalak, seolah-olah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar nya.

“aish, ya! kapan dosen seperti ku pernah bercanda ha?” balas Jungsoo.

“baiklah. Aku akan mencoba melukis sesuatu yang berbeda, sesuai dengan keinginan mu saem” ucap Sehun.

“aku percaya kepadamu” Jungsoo kembali tersenyum tipis.

“ne, aku permisi dulu Jungsoo seonsaengnim” kata Sehun sembari berdiri lalu melangkahkan kaki nya menuju pintu.

“ah, Sehun ssi” Jungsoo kembali memanggil Sehun.

Merasa dirinya dipanggil, Sehun segera membalikkan kembali tubuh nya dan menunda langkah kaki nya.

“waktumu hanya satu minggu” ucap Jungsoo.

“hah, ye. Arraseo” balas Sehun lalu kembali melangkahkan kaki nya menuju pintu.

Jungsoo kembali tersenyum melihat kelakuan anak didik nya yang satu itu. Memang terkesan tidak sopan dan cuek, tapi Jungsoo cukup memaklumi nya. Ia tau betul bagaimana sifat Sehun. Wajar saja, dikarenakan Sehun merupakan mahasiswa favorit nya.

****

Sehun mengacak pelan rambut nya.Wajah nya kusut. Ia tengah kebingungan dengan tugas yang baru saja diberikan Jungsoo kepada nya.

Jika saja tadi dosen lain yang meminta nya untuk melakukan tugas itu, dia bisa saja menolak dengan berbagai alasan.

Tapi, yang tadi meminta nya adalah Jungsoo. Park Jungsoo. Salah satu dosen paling berpengaruh di Seoul University. Mana mungkin ia bisa menolak permintaan itu.

Walaupun dosen itu mengatakan imbalan besar untuk keberhasilan lukisan ini, ia tetap saja merasa kebingungan. Bagaimana jika lukisan nya nanti tidak menarik perhatian banyak orang? Atau malah terlihat membosankan? Maka sia-sia lah usaha nya.

Dan yang makin membuat nya bingung, lukisan yang diinginkan dosen itu adalah lukisan yang berbeda dari biasa nya.

Tidak mungkin ia melukis dengan cara nya yang biasa, ia tau betul jika dosen yang satu itu sangat hafal dengan gaya melukis nya.

Sehun terus saja berjalan di lorong kampus nya, kepala nya tertunduk. Seolah-olah tugas yang telah diberikan Jungsoo tadi adalah beban untuk nya. Untuk kedua kali nya, ia mengacak rambut cokelat nya, persis seperti orang yang tengah depresi.

Ia tidak menyadari, bahwa sejak tadi ada seorang namja yang terus memperhatikan nya dari jarak yang cukup jauh.

Kai, namja itu adalah sahabat Sehun sejak pertama kali mereka sama-sama menginjakkan kaki di Seoul University.

Dan ia tau persis, jika wajah Sehun menjadi kusut dan tidak jelas seperti itu, pasti ia sedang mengalami kebingungan.

“kau kenapa?” tanya Kai sesaat setelah ia berhasil mensejajarkan langkah kaki nya dengan Sehun.

“ho?” Sehun mengalihkan pandangannya ke arah Kai.

“gwenchana” jawab Sehun datar sambil menghentikan langkah kaki nya.

Mereka tepat berdiri di depan sebuah ruangan. Ruangan yang kerap digunakan mahasiswa seni untuk berkonsultasi dengan dosen pengajar mereka.

“lalu kenapa muka mu kusut begitu?” tanya Kai lagi.

Sehun diam. Hening sesaat.

“lukisan ku akan menjadi bintang di pameran nanti” ucap Sehun.

“benarkah? Daebak! Kau keren Sehun ah” balas Kai.

“tapi, kenapa wajah mu seperti itu?” sambung Kai.

“ini membingungkan. Dalam waktu satu minggu aku harus menyelesaikan lukisan yang berbeda dari biasanya” kata Sehun.

“maksudmu? Berbeda bagaimana?” tanya Kai, sedikit tidak mengerti dengan apa yang tengah dibicarakan oleh sahabat nya itu.

“molla. Yang jelas Jungsoo seonsaengnim ingin melihat lukisan terbaik ku di pameran nanti” jawab Sehun.

“lalu yang menjadi masalah untuk mu apa? aku rasa ini tugas yang sangat mudah untuk mahasiswa seperti mu” ucap Kai.

“kau itu Sehun. Oh Sehoon. Mahasiswa paling populer di fakultas seni. Nilai mu selalu di atas rata-rata, dan setiap lukisan yang lahir dari tangan mu selalu mendapat sorotan dari setiap dosen. Hmm, aku tidak heran jika Jungsoo seonsaengnim meminta lukisan mu untuk menjadi bintang di pameran nanti” sambung Kai panjang lebar.

“ya! tapi jika lukisan ini gagal, maka habislah aku. Harga diriku akan hancur jika aku tidak bisa menyelesaikan permintaan dari Jungsoo seonsaengnim” ucap Sehun.

“haah, seharusnya tugas ini diberikan kepada kakakmu Kai ya, Kris hyung. Tapi Jungsoo seonsaengnim malah mengajukan namaku” sambung Sehun.

“Kris hyung? Lukisan dia kan sudah dipamerkan tahun lalu. Mungkin Jungsoo seonsaengnim tidak ingin memakai lukisan dari orang yang sama seperti tahun lalu” balas Kai sembari melingkarkan lengan kiri nya di pundak Sehun.

“aku yakin kau bisa Sehun ah. Kau harus membuktikan kepada mahasiswa seni disini bagaimana kualitas Oh Sehoon yang sebenar nya. Tunjukkan kepada mahasiswa yang lain bahwa…” Kai terus saja menjabarkan kalimat nya satu per satu. Yang sebenarnya lebih tidak penting untuk didengarkan oleh Sehun.

Tanpa Kai sadari, Sehun, namja tampan itu tidak memperdulikan sama sekali apa yang dikatakan Kai. Tiba-tiba saja perhatian nya tersita untuk hal lain yang dianggap nya lebih penting.

Mata nya hanya menunjuk ke satu arah. Gadis cantik berambut hitam panjang bergelombang yang tengah berdiri dan bersandar pada dinding yang agak jauh dari tempat nya dan Kai.

Headphone kecil terhias indah di kedua telinga nya. Mata nya tertutup, sepertinya gadis itu tengah menikmati musik yang ia dengar dari dalam ipod nya.

Wajah Sehun yang tadinya terlihat kusut dan berantakan tiba-tiba saja hilang entah kemana. Ekspresi wajah nya lebih terlihat datar, nafas nya seperti tercekat.

Ia seolah-olah tengah melihat sesosok bidadari yang terdampar di fakultas seni Seoul University. Tugas yang tadi diberikan Jungsoo tiba-tiba hilang dari ingatan nya. Hanya satu fokus nya sekarang. Gadis itu.

Bahkan melihat gadis itu dari jauh saja, sudah membuat jantung nya berdebar-debar jauh lebih cepat dari biasanya.

Gadis itu yang selama hampir dua tahun terakhir ini sudah berhasil mencuri setengah perhatian Sehun dari lukisan. Bukan, bukan setengah, tapi nyaris sepenuh nya.

“ya! Oh Sehoon!” panggil Kai tiba-tiba.

“ah, e’emm, ya?” jawab Sehun terbata-bata.

Kalau saja tadi Kai tidak memanggil nya, mungkin sekarang Sehun sudah lupa bagaimana cara nya berkedip.

“hah, Jiyeon. Kau memandangi yeoja itu lagi?” Kai menggelengkan kecil kepala nya dan mengikuti arah pandang Sehun.

“kau tidak bosan seperti itu terus Sehun ah? Dekati lah dia” sambung Kai.

Sehun hanya diam mendengar perkataan sahabat nya itu. Mendekati yeoja itu? Tidak pernah terlintas sedikitpun di fikiran nya selama hampir dua tahun ia memperhatikan gadis itu dengan diam-diam.

Bagaimana mungkin ia mendekati yeoja itu, jika ia sendiri belum tau pasti apa yang tengah ia rasakan sekarang. Entah kagum, suka atau perasaan yang lebih dalam. Yang orang-orang sebut dengan cinta.

“kenapa kau tidak memulai nya dengan Jieun?” kata Kai.

“Jieun? Apa hubungan nya Jieun dengan Jiyeon?” balas Sehun.

“aish, kau itu bodoh sekali Sehun ah. Jieun itu sahabat nya Jiyeon. Kemanapun mereka selalu terlihat berdua. Kau dekati Jieun, lalu kau dekati Jiyeon” ucap Kai.

“hah? Kau fikir aku seperti mu? Yang suka memanfaatkan orang lain?” balas Sehun sembari melempar pandangan sinis kepada Kai.

Mendekati Jieun memang hal yang mudah untuk Sehun. Lagipula Jieun adalah salah satu teman sekelas nya sejak semester ketiga ia di Seoul University.

Tidak jarang ia, Jieun dan Kai menghabiskan waktu di kelas, entah itu mengobrol ataupun membahas lukisan untuk ujian akhir semester.

Tapi, hal yang mustahil, jika Sehun harus sengaja mendekati Jieun demi Jiyeon. Itu sama saja ia seperti namja jahat yang tak memikirkan perasaan orang lain.

Bagi Sehun, Jiyeon adalah yeoja yang sulit. Ia sendiri tidak tau di bagian mana dalam diri Jiyeon yang membuat nya merasa kesulitan.

Sering ia secara tidak sengaja berpapasan muka dengan gadis itu. Itu dikarenakan mereka yang memang satu jurusan. Seni, di Seoul University. Beda nya Jiyeon seni musik dan Sehun seni lukis.

Layaknya seorang pengecut, ketika Sehun tidak sengaja berpapasan dengan gadis itu, dengan bodoh nya ia akan segera menghindar.

Entah hal apa yang difikirkan Sehun, hingga ia terkesan seperti tidak menyukai yeoja itu. Menghindar, tanpa sebab yang jelas.

“Sehun ah” Kai kembali memanggil nama lelaki tampan itu.

“hmm” jawab Sehun cuek. Mata nya masih tetap menunjuk ke satu arah. Jiyeon.

“kau memang tampan. Kau populer. Jika menyangkut tentang lukisan, semua dosen selalu kagum dengan hasil lukisan mu. Seperti tidak ada mahasiswa yang bisa mengimbangi mu dari semester satu hingga semester lima ini. Tapi, jika menyangkut tentang perasaan…” Kai menggantung kalimat nya di udara.

“kau benar-benar payah. Kau pengecut” Kai menyelesaikan kalimat nya.

Kata-kata Kai barusan bagai pukulan telak untuk Sehun. Sahabat nya sendiri berani menyebut dirinya adalah seorang pengecut. Membuat ekspresi wajah Sehun berubah seketika dan menatap Kai sinis.

“apa kau bilang? Pengecut?! Ya! Kau…” belum sempat Sehun menyelesaikan kalimat nya, Kai sudah berlari menjauh dari tempat Sehun. Menghindari amukan namja itu.

“dasar kkamjong sialan! Ya!” teriak Sehun masih dari tempat nya berdiri.

Sehun terdiam. Lalu menghela nafas pelan. Tidak dosen nya, tidak sahabat nya sendiri, keduanya sama-sama membuat dirinya merasa sial.

“aisshh” untuk ketiga kali nya di hari yang sama, ia mengacak rambut cokelat nya sembari menundukkan kecil kepala nya. Sedikit harapan, dengan mengacak rambut cokelat nya itu, kekesalan nya perlahan akan berkurang.

“kau kenapa Sehun ssi?”

Sepasang sepatu berwarna merah gelap berhenti tepat di pandangan mata namja tampan itu. Tangan nya yang sedari tadi tengah bermain di sekitar helaian rambutnya refleks terhenti.

Perlahan, ia mendongakkan kepala nya. Dan seketika itu juga, bola mata nya membesar, terkejut dengan seseorang yang tengah berdiri di hadapannya.

Seorang gadis. Jika tadi gadis lain yang bertanya seperti itu kepadanya, mungkin saja sekarang wajah nya tidak seperti orang  bodoh.

Tapi, di luar dugaan. Jiyeon tengah berdiri di hadapan nya sembari memegang beberapa buku tebal, yang dapat diyakini isi buku itu adalah beragam jenis not dan lirik.

Ia tidak tau, gadis cantik yang berada di hadapannya sekarang ini adalah sebuah kesialan untuknya di hari yang sama, atau malah menjadi sebuah keberuntungan.

Kesialan karena gadis itu datang di saat yang tidak tepat, di saat wajah Sehun tengah terperangah persis seperti orang bodoh.

Tapi sebuah keberuntungan, Sehun bisa kembali melihat wajah cantik gadis yang hampir dua tahun terakhir ini membuatnya tersenyum sendiri bagai manusia gila.

“Sehun” panggil gadis itu. Mencoba menyadarkan namja tampan itu agar segera menjawab pertanyaan nya.

“aah? nde? kenapa?” hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut Sehun. Yang sebenarnya jika diteliti, kata-kata itu akan mengundang tawa bagi yang mendengarnya. Lucu, karena terdengar canggung dari bibir Oh Sehoon.

“kenapa? Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau melamun?” tanya gadis cantik itu.

“oh? haha, anniya, gwenchana” ucap Sehun seraya mencoba tertawa kecil kepada gadis itu.

“aku harus ke kelas. Annyeong” sambung Sehun.

Jiyeon hanya tersenyum kecil melihat Sehun menghilang dari hadapan nya. Yeoja itu terdiam sesaat di tempat nya, menghela nafas pelan lalu melangkahkan kaki nya menjauh dari tempat itu.

****

“ya! kenapa kau meminum bubble tea ku?!” seru Kai saat ia melihat Sehun tengah asik meneguk minuman nya.

“ini untukku saja Kai ya. Kau kan sudah membeli lagi minuman mu yang lain” balas Sehun sembari menunjuk botol minuman yang berada di genggaman Kai.

“aish, terserahmu lah. Tidak lucu namja tampan seperti ku berebut minuman dengan mu di kantin seramai ini” ucap Kai.

“ambillah, ambil” sambung Kai.

“hehe, kau memang sahabat yang baik Kai ah. Tapi, kalimatmu tadi sungguh menjijikkan” balas Sehun.

“ho? Kenapa? Kau iri jika aku lebih tampan dari mu?” ucap Kai sembari mengeluarkan beberapa alat lukis dan buku sketsa nya.

“ahaha, hampir seluruh mahasiswa Seoul University juga tau namja yang paling populer dan tampan di fakultas seni adalah Oh Sehoon” balas Sehun sambil memasang wajah sombong nya.

“benarkah? Kalau begitu, beberapa hari kedepan aku yang akan menggantikan posisi mu” ucap Kai mantap.

Sehun tersenyum kecil menanggapi perkataan Kai. Ia tau betul, yang sejak tadi ia dan Kai perbincangkan hanyalah gurauan tidak berarti.

Mereka berdua tengah berada di kantin fakultas seni Seoul University. Sekedar duduk dan sedikit membicarakan tentang beberapa sketsa kasar yang dibuat oleh Kai. Sembari menertawai kecil beberapa hal lucu yang secara tidak sengaja mereka lihat.

Hingga dua gadis cantik dengan tiba-tiba datang menghampiri meja mereka.

“kami boleh duduk disini juga kan Kai ya?” tanya seorang yeoja pendek namun tampak manis dengan syal merah yang terlilit di leher nya.

“oh? Jieun? Jiyeon? tentu saja. Duduklah” jawab Kai.

Gadis bernama Jieun itu akhirnya memilih tempat untuk duduk di sebelah Kai, sedangkan Jiyeon mau tidak mau harus mengisi tempat duduk di sebelah Sehun.

Mereka berhadap-hadapan. Kai berhadapan dengan Sehun dan Jieun berhadapan dengan Jiyeon.

“kalian sedang apa?” tanya Jieun.

“anniya, kami hanya membahas sketsa ku” jawab Kai enteng.

“annyeong Sehun ssi” sapa Jiyeon kepada lelaki yang tengah berada di samping nya itu.

“eh? Annyeong” balas Sehun datar.

Sehun memamerkan senyuman kecil nya kepada Jiyeon. Lebih tepat nya senyum keterpaksaan. Jujur saja, memang bukan baru sekali ini ia tengah berada di situsi berempat seperti ini bersama gadis itu.

Namun tetap saja masih membuat nya gugup dan salah tingkah. Walaupun namja itu mencoba menyembunyikan kegugupan nya dengan bersikap cuek kepada Jiyeon, tapi tingkah bodoh seperti itu masih sangat mudah terbaca oleh sahabat nya, Kai.

Ia hanya bisa melihat Sehun dengan wajah prihatin. Sebelumnya, ia tidak pernah menemukan namja seperti Sehun, berpura-pura seperti tidak ada siapapun disebelahnya.

Padahal bisa dilihat jelas, disebelah nya tengah duduk sesosok gadis yang menurut nya memiliki kecantikan di atas rata-rata.

Menurut Kai, bersandiwara seperti itu sangatlah memalukan.

“aku harus pergi. Luhan hyung sudah menunggu ku di rumah” ucap Sehun tiba-tiba lalu sesegera mungkin ia mengambil tas nya dan melangkahkan kaki meninggalkan Kai, Jieun dan Jiyeon.

Kai hanya melihat kepergian sahabat nya itu dengan wajah sinis. Ia tau pasti, hanya kebohongan yang dikatakan Sehun tadi. Untuk kesekian kali nya, namja itu ingin menghindari Jiyeon.

“kenapa dia terburu-buru sekali?” tanya Jieun kepada Kai yang masih menatap sinis kepergian Sehun.

“entahlah. Mungkin ada hal penting yang sedang menunggu nya” jawab Kai berbohong.

“emm, kalian tunggu disini ne? ada yang lupa kukatakan kepada Sehun” ucap Kai kemudian langsung melangkahkan kaki nya pergi meninggalkan Jieun dan Jiyeon.

“haaahh” desah Jiyeon pelan, setelah melihat Kai pergi meninggalkan dirinya dan Jieun.

“tenang saja. Masih banyak kesempatan lain Jiyeon ya” ucap Jieun sembari mengusap lembut lengan kanan Jiyeon.

Kai berlari kecil untuk menyusul Sehun. Memang, ada yang ingin ia katakan kepada namja itu. Hanya beberapa kalimat sederhana.

“Sehun ah” panggil Kai.

Merasa dirinya dipanggil oleh seseorang, namja itu langsung menghentikan langkah kaki nya kemudian membalikkan tubuhnya. Ia tepat berdiri di depan sebuah ruangan yang selalu dipakai mahasiswa untuk melukis.

“kebohongan apa lagi yang kau katakan tadi?” tanya Kai tanpa berbasa-basi, saat ia sudah berdiri tepat di hadapan Sehun.

“kebohongan? Maksudmu?” Sehun balik bertanya. Berpura-pura bodoh.

“untuk kesekian kalinya kau bertingkah seperti itu di hadapan Jiyeon. Apa kau tidak lelah terus menerus seperti itu?” Kai menatap Sehun sinis.

“aku masih betah dengan kebiasaan ku Kai ya. Melihatnya dari kejauhan, masih menjadi kegiatan favoritku” balas Sehun.

“sayangnya kegiatan favoritmu itu secara tidak langsung membuatmu tampak bodoh di hadapan gadis itu” ucap Kai.

“aku tidak menyesal tempo hari menyebutmu seorang pengecut. Karena kau memang tidak lebih dari seorang pengecut di mata ku” sambung Kai.

Kemudian ia segera membalikkan tubuh nya dan melangkahkan kaki pergi meninggalkan Sehun yang tengah terdiam dan sibuk tenggelam dalam fikiran nya sendiri.

Pengecut, Seburuk itukah dia?

****

Sehun melangkahkan kaki nya dengan perlahan di atas pasir putih Naksan beach. Pantai yang menjadi tempat peraduan Sehun, jika ia tengah kebingungan atau menghadapi masalah.

Ia terus saja berjalan di pinggir pantai, membiarkan kaki nya tersapu oleh ombak yang tak ada habis nya.

Tidak terarah, dia berjalan sesuai dengan kemauan langkah kaki nya. Mungkin bagi nya menyendiri di tempat itu sangat baik untuk fikiran nya sekarang.

Dua hari berlalu, dan ia masih belum menemukan sesuatu yang terlihat indah untuk ia tuangkan di kanvas nya.

Itu memang menjadi salah satu masalah di fikiran nya sekarang ini, tapi tidak seberat fikiran nya tentang gadis itu.

Perkataan Kai tempo hari terus saja berputar di kepala nya. Apa ia memang seorang pengecut?

Atau, apa ia terlanjur terlihat seperti seorang pengecut di hadapan gadis itu? Entahlah, terlalu banyak pertanyaan di benak nya sekarang.

Perlahan, Sehun menjatuhkan tubuh nya. Terduduk di atas pasir putih itu. Ia menengadahkan wajah nya ke atas.

Sengaja, agar kedua bola mata cokelat nya menikmati dari kejauhan matahari sore yang seolah-olah hendak menenggelamkan diri di balik tenang nya air Naksan Beach. (lihat poster)

“bagaimana mungkin gadis itu bisa masuk sejauh ini ke dalam hati ku” batin nya.

Sehun menghela nafas pelan. Sejenak, ia mengedarkan pandangan mata nya untuk menyapu sekeliling pantai itu.

Seperti biasa, sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat berlalu lalang di tempat itu. Sehun tersenyum kecil ketika melihat beberapa anak yang berjarak kurang dari sepuluh meter dari nya tengah asik mendirikan istana pasir.

Kemudian ia melempar pandangan nya ke sisi kanan dan refleks terkejut dengan sesuatu yang berada di jarak pandang nya sekarang.

Tidak, bukan sesuatu. Namun seseorang yang tengah ia lihat. Tepat sekali, seseorang yang ia lihat sekarang sama persis dengan gadis yang sejak tadi berada di fikiran nya.

Park Jiyeon. Gadis itu seperti makhluk halus yang suka sekali hadir dengan tiba-tiba di pandangan mata nya.

Dan seakan-akan selalu mengikuti nya, bahkan saat ia tengah berada di tempat ini untuk sejenak melupakan bayangan gadis itu.

Gadis itu tengah berdiri sembari menutup kedua mata nya. Bibirnya menyunggingkan senyuman manis yang kapan saja bisa meluluhlantakkan hati Sehun.

Di telinga nya terpasang indah headphone kecil yang sama persis dengan headphone tempo hari saat Sehun melihat gadis itu.

Sepertinya, gadis itu juga tengah menikmati tenggelam nya matahari sore sembari membiarkan rambut hitam panjang nya tertiup angin pantai.

Sehun, namja itu hanya diam di tempat nya seraya terus memandangi Jiyeon lekat. Wajah nya terlihat datar. Namja itu terpesona untuk kesekian kali nya.

“kenapa kau selalu terlihat istimewa di mata ku?” batin Sehun.

Sehun berdiri dari duduk nya dan bersiap untuk melangkahkan kaki menuju gadis itu. Tetapi secepat kilat ia kembali mengurungkan niat nya.

Ia hanya menatap gadis itu dari tempat ia tengah berpijak sekarang. Ia tatap lekat setiap lekukan wajah Jiyeon.

Ia bagai terjerat di balik senyuman manis gadis itu. Gadis itu benar-benar luar biasa. Bahkan gadis itu juga mampu membuatnya hampir gila dari kejauhan, seperti sekarang ini.

Jiyeon membuka kedua mata nya, masih dengan senyuman yang sama. Dengan perlahan, gadis itu membalikkan tubuh nya dan beranjak pergi dari tempat itu.

Masih tidak menyadari bahwa sejak tadi ada sesosok lelaki yang menatap nya dari kejauhan. Saat namja itu melihat Jiyeon pergi, sebuah senyuman terukir manis di bibir nya.

Sepertinya, ia tau sesuatu yang indah dan layak untuk ia tuangkan di atas kanvas nya.

****

“kau kemana saja tiga hari ini?” tanya Kai sembari menjatuhkan tubuh nya di bangku panjang yang sama tempat Sehun tengah duduk dan berkutat dengan sketsa nya.

“tidak kemana-mana. Hanya di rumah” jawab Sehun cuek. Jari-jari tangan nya masih sibuk mengukir beberapa garis halus di atas sketsa nya.

“lalu kenapa  tiga hari ini kau tidak ke kampus?” tanya Kai.

“aku menyelesaikan lukisan untuk pameran lusa nanti” jawab Sehun.

“ah? jadi, sudah selesai?” tanya Kai lagi.

“sudah” balas Sehun datar.

“kau melukis apa?” Kai menatap wajah Sehun. Menunggu jawaban dari namja itu.

“entahlah. Aku hanya melukis perasaan ku” jawab Sehun.

“ha? perasaan mu? maksud mu?” tanya Kai lagi. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jawaban yang baru saja diucapkan sahabat nya itu.

“aisshh, mollayo, kau lihat saja nanti. Aku sendiri juga tidak tahu, apakah lukisan ini menarik atau tidak” jawab Sehun yang mulai merasa jengkel dengan sederet pertanyaan yang keluar dari mulut Kai. Menurutnya, Kai sangat mengganggu konsentrasi nya.

“seperti nya aku mengerti apa maksud mu. Sehun ah, aku berani bertaruh, lukisan mu pasti tidak akan mengecewakan” kata Kai sembari melingkarkan lengan kiri nya di pundak Sehun.

“kau terlalu sok tau” balas Sehun.

“insting ku selalu tepat Sehun ah” ucap Kai.

Sehun hanya diam mendengar ucapan tidak penting yang keluar dari mulut sahabat nya itu. Ia masih terus larut dengan sketsa nya.

Bagi nya meneruskan sketsa itu jauh lebih bermanfaat daripada mendengar insting Kai yang belum tentu benar.

Sekian menit berlalu, hanya keheningan yang menyelimuti kedua namja itu. Tidak ada lagi yang mengeluarkan suara, baik Kai maupun Sehun.

Sehun sibuk dengan sketsa nya, sedangkan Kai sedari tadi mengedarkan pandangan nya di sekitar fakultas seni, ia ingin menemukan sesuatu yang menarik.  Yang bisa merubah mood nya. Atau sekedar menjadi bahan tontonan untuk nya.

Dan tak lama kemudian, akhir nya ia temukan hal yang sangat menarik.

“Jiyeon ya!” panggil Kai tiba-tiba. Ternyata, teriakan Kai berhasil membuat Sehun mengangkat kepala nya dan melihat ke arah sahabat nya itu.

Jiyeon, yeoja yang dipanggil Kai dari kejauhan secepat kilat balas melihat ke arah Kai. Wajah nya terlihat bingung, tidak tahu tujuan Kai memanggil nya.

Tidak sampai satu menit gadis itu telah berada di hadapan Kai dan Sehun. Sehun menatap Kai tajam, seolah-olah bertanya  -untuk apa kau panggil dia kesini-

Tapi Kai, namja itu hanya melemparkan senyum lebar ke arah Sehun. Membuat Sehun semakin jengkel.

“apa kau ada kelas setelah ini?” tanya Kai kepada gadis itu.

“anni, aku baru saja selesai untuk kelas hari ini” Jiyeon menggelengkan kecil kepala nya.

“kalau begitu, kau temani kami disini ne?” ucap Kai seraya memberitahukan Jiyeon agar gadis itu duduk disebelah nya.

“emm..”

“baiklah” jawab Jiyeon sembari menjatuhkan tubuh nya di sebelah Kai.

“annyeong Sehun ssi” ucap Jiyeon, mencoba untuk menyapa namja yang masih berkutat dengan sketsa nya itu.

“jangan panggil aku dengan embel-embel ssi, kau terlalu formal” balas Sehun datar.

“ah, ne baiklah” jawab Jiyeon sembari tersenyum kecil.

Lebih dari 20 menit berlalu, Kai sama sekali tidak ada niat untuk mengakhiri obrolan nya dengan Jiyeon.

Ia tidak tau bahwa sahabat nya yang tengah duduk di sebelah kiri nya itu sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi dengan sketsa yang sejak tadi dikerjakan nya dengan susah payah.

Wajar saja, sejak dulu Sehun merasa jika Jiyeon berada di dekat nya, maka konsentrasi nya seketika itu juga akan buyar. Gadis itu telah berhasil membuat hidup nya tidak tenang.

“aku lupa. Aku harus menemui  Yunho seonsaengnim. Ada hal yang harus kubicarakan dengan nya” ucap Kai tiba-tiba.

“Jiyeon, kau tunggu disini sebentar. Temani Sehun ne?” sambung Kai lalu melangkahkan kaki nya menjauh dari tempat Jiyeon dan Sehun.

Jiyeon hanya tersenyum kecil melihat Kai meninggalkan nya berdua dengan Sehun. Sekaligus juga merasa bingung jika berada dalam situasi berdua dengan namja cuek seperti Sehun.

Memang bukan pertama kali ia berada dalam situasi seperti ini, hanya saja jika harus untuk kesekian kali nya ia berada dalam posisi berdua dengan Sehun, maka tidak akan ada perubahan dengan hari-hari sebelum nya. Namja itu akan tetap bersikap tidak perduli padanya.

Tidak jauh berbeda dengan Jiyeon. Sehun juga tengah kebingungan, jantung nya berdegup lebih cepat dari sebelum nya.

Dalam hati, ia sibuk mengutuki Kai yang tega membiarkan nya berdua dengan Jiyeon. Apa boleh buat, ia harus bersandiwara untuk kesekian kali nya. Bersikap tidak acuh.

“gambar sketsa mu bagus” ucap Jiyeon, mencoba mencairkan suasana hening yang sedari tadi menyelimuti mereka berdua.

“oh? Gomawo” balas Sehun sambil melirik sekilas ke arah gadis itu.

Mereka berdua kembali berdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Sekian menit berlalu, keheningan masih menyelimuti pasangan itu.

“Sehun, katakan padaku. Apa yang membuat mu membenci ku?” tanya Jiyeon tiba-tiba. Pertanyaan Jiyeon berhasil membuat Sehun berhenti melakukan aktifitas nya dan refleks memandang gadis itu.

Sehun diam. Mencoba mencerna maksud dari pertanyaan gadis itu.

“kenapa kau bisa berfikir kalau aku membenci mu?” Sehun balik bertanya.

“entahlah” jawab gadis itu.

“kenapa kau selalu mengacuhkan ku? Pandangan mata mu saat bertemu dengan ku sangat dingin. Seolah-olah kau sangat membenciku” sambung Jiyeon.

Sehun terdiam. Untuk ketiga kali nya, suasana diantara mereka kembali diselimuti keheningan.

“kau…. kau terlalu sulit bagi ku” ucap Sehun.

“ada sesuatu di dalam dirimu yang membuatku harus lebih lama untuk mengartikan sosok mu” sambung Sehun.

“maksudmu?” Jiyeon benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan Sehun.

“mungkin, aku terlalu bodoh. Hampir dua tahun kuhabiskan hanya untuk mengartikan seberapa besar pengaruh dirimu bagiku” ucap Sehun.

“tapi tak kusangka, efek nya begitu besar untuk kehidupan ku” sambung Sehun.

Sehun dan Jiyeon sama-sama terdiam. Sibuk mencerna, sebenarnya situasi apa yang tengah mereka alami sekarang.

Terlebih untuk Sehun. Seperti ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk mengatakan hal yang barusan ia ucapkan.

Mungkinkah, ia harus membeberkan perasaan nya sekarang?

Atau, ia akan menunggu lebih lama lagi?

“aku tidak seperti yang kau fikirkan” ucap Sehun.

Kemudian, namja itu memasukkan barang-barang yang sedari tadi berada di genggaman nya ke dalam tas ransel nya.

Bergegas ingin pergi dari tempat di mana ia tengah berpijak sekarang.

Sehun membalikkan tubuh nya, hendak melangkahkan kaki menjauh dari gadis itu. Tetapi, belum sampai lima langkah ia berjalan, kaki nya terhenti.

Ia kembali membalikkan tubuh nya dan berjongkok di hadapan gadis itu. Dapat ia lihat jelas paras cantik dan juga polos gadis yang dua tahun terakhir ini hampir membuat nya gila.

Wajah yang seputih susu, rambut yang hitam panjang serta bergelombang. Bola mata yang kecokelatan, semakin membuat Sehun tergila-gila.

Bagi nya, terlalu indah makhluk yang berada di hadapan nya saat ini.

Perlahan, tangan kanan nya meraih beberapa helai rambut Jiyeon lalu menyelipkan nya ke balik telinga gadis itu. Kemudian tersenyum sembari memandang gadis itu lekat.

“lusa, setelah pameran selesai. Tunggu aku di lantai tiga, di ruang pameran lukisan” ucap Sehun tenang.

Jiyeon hanya diam mendengar permintaan namja yang tengah berada di hadapan nya sekarang. Terlalu sulit, wajah namja itu tidak menunjukkan arti apapun.

Kemudian, namja itu berdiri. Lalu kembali melangkahkan kaki nya pergi menjauh dari gadis itu. Hilang, di balik lorong fakultas seni.

****

Hampir satu jam Sehun berbaring di atap rumah nya sembari menatap lekat jutaan bintang yang berserakan bebas di langit malam itu.

Entah karena bintang di malam itu terlihat lebih indah dari biasanya, atau namja itu hanya melempar pandangan kosong seraya tengah bergelut keras dengan segala fikiran nya.

Tentu saja ia seperti itu hanya karena satu hal. Ralat, bukan satu hal tapi seseorang. Siapa lagi, yang seminggu terakhir ini selalu memenuhi fikiran nya.

Dipastikan gadis bernama Park Jiyeon, mahasiswa seni musik semester lima Seoul University telah berhasil membuat Sehun nyaris menjadi gila.

Saat ini, ada beberapa pertanyaan yang terus saja berputar di kepala nya sejak siang tadi saat ia bertemu dengan gadis itu.

Benarkah yang ia lakukan?

Benarkah lusa adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri segala kepura-puraannya kepada gadis itu?

Tapi, bagaimana jika gadis itu sudah dimiliki oleh namja lain?

Maka habislah ia. Hanya kekecewaan yang akan ia dapatkan jika hal itu benar terjadi.

“aiissh, aku bisa gila jika terus seperti ini” gumam Sehun seraya mengacak kecil rambut nya.

“kau kan memang sudah gila Sehun ah” ucap seseorang dari arah belakang namja itu.

Merasa ada yang berbicara kepadanya, Sehun mengangkat tubuh nya dan merubah posisi nya menjadi duduk. Lalu melihat ke arah sumber suara itu.

“Luhan hyung? sejak kapan kau berada di situ?” tanya Sehun kepada namja kecil namun tampan yang ternyata sejak beberapa menit lalu tengah asik mengamati nya dari jarak yang tidak terlalu jauh.

Luhan, namja itu hanya tersenyum sinis kepada adik semata wayang nya itu.

“tidak penting untuk mu mengetahui sejak kapan aku berada disini” jawab Luhan seraya melangkahkan kaki nya mendekat ke arah Sehun dan menjatuhkan tubuh nya tepat di sebelah adik nya itu.

“beberapa hari ini aku tidak melihat mu di kampus hyung, kupikir kau sedang latihan keras untuk pertandingan dance bersama Lay hyung dan Chanyeol. Tumben sekali kau sudah pulang” ucap Sehun.

“Lay sedang ada acara keluarga, jadi kami tidak latihan sampai larut malam” jawab Luhan enteng.

“kudengar, lukisan mu akan menjadi bintang dipameran lusa nanti. Apa itu benar?” tanya Luhan.

“hmm” jawab Sehun sambil menganggukkan kecil kepala nya.

“woo, chukkhae dongsaengku sayang” ucap Luhan sembari mengacak kecil rambut adiknya itu.

“dan, kau kenapa?” Luhan menatap Sehun dengan tatapan serius. Mencoba mencari tau, hal apa yang tengah difikirkan adik nya itu.

“gwenchana. Hanya masalah kecil” jawab Sehun datar.

“lalu kenapa wajah mu kecut seperti itu?” tanya Luhan lagi.

“pasti bukan masalah kecil. Ayolah, ceritakan kepada hyung mu ini” sambung Luhan.

Sehun hanya diam. Sekian detik berlalu, Sehun masih tidak ada niat sama sekali untuk mengatakan apapun kepada Luhan.

“hyung, apa kau pernah jatuh cinta?” tanya Sehun tiba-tiba. Membuat ekspresi wajah Luhan berubah seketika.

“ya! Pertanyaan mu tidak berguna sama sekali. Jadi maksudmu yang kurasakan kepada Nana selama ini apa?! Tentu saja pernah!” jawab Luhan.

“ah, kupikir kau hanya main-main dengan Nana noona” ucap Sehun enteng.

Pletak~

Mendengar ucapan adiknya itu, Luhan langsung memukul kepala Sehun pelan, membuat Sehun menatap kakaknya itu dengan wajah menjengkelkan.

“ya!kenapa kau memukulku hyung?!” kata Sehun sembari mengusap bagian belakang kepala nya.

“kaupikir aku namja bodoh yang mengejar seorang yeoja selama bertahun-tahun hanya karena alasan main-main ha?!” seru Luhan jengkel.

“ah, mianhae. Maksudku selain dengan Nana noona. Tidak mungkin selama hidupmu kau hanya mencintai dia hyung” balas Sehun.

Luhan terdiam mendengar perkataan Sehun. Wajahnya menengadah ke atas. Seperti tengah berfikir.

“memang hanya dia” ucap Luhan.

“mwoya?” balas Sehun. Sedikit tidak percaya dengan ucapan Luhan.

“dia, cinta pertamaku. Dan hanya dia satu-satu nya yeoja yang kucintai hingga detik ini” ucap Luhan.

Luhan dan Sehun sama-sama diam. Tidak ada lagi diantara mereka yang ingin mengeluarkan suara.

“siapa yeoja yang telah membuat mu seperti ini?” tanya Luhan tiba-tiba sembari melingkarkan lengan kiri nya di pundak Sehun.

Setelah tadi sama-sama terdiam dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya, Luhan kembali membuka suara di antara mereka.

“yeoja? Tidak ada yeoja manapun” jawab Sehun cuek.

“hah, kau jangan mencoba membohongi hyung mu ini. Aku mengenalmu jauh daripada kau mengenalku” kata Luhan.

“dengar, jika kau benar-benar mencintai yeoja itu, katakanlah padanya. Mengatakan kepada seseorang tentang perasaan kita, itu tidak aneh atapun memalukan. Jangan pedulikan apapun dan buktikanlah jika kau serius mencintai nya” sambung Luhan panjang lebar.

Seketika itu juga Sehun memandang Luhan lekat. Ia terdiam mendengar perkataan kakak lelaki nya itu.

Perkataan Luhan bagaikan penyemangat untuknya dikala ia tengah menghadapi konflik perasaan yang membuatnya berada diantara hidup dan mati.

“wae? Kenapa kau memandangku seperti itu?” Luhan menautkan kedua alis nya.

“ah, aku tau hyung mu ini memang tampan. Bahkan lebih tampan dari mu, tapi kau tidak perlu melihatiku dengan pandangan seperti itu” kata Luhan yang disambut dengan ekspresi menjijikkan dari Sehun.

Sungguh, ia tidak tau entah hal apa yang membuat Luhan berubah dengan sekejap mata. Tadi, Luhan begitu berwibawa di mata nya. Tapi sekarang, kakak nya itu terlihat begitu menjijikkan di mata nya.

“patut saja Nana tidak pernah sudi menerima cinta mu hyung. Ckckck, aku tidak menyangka kau bisa mengatakan hal yang sangat menjijikkan seperti itu” ucap Sehun sembari berdiri dari duduk nya dan melangkahkan kaki pergi meninggalkan Luhan seorang diri.

“mwoya? Menjijikkan? Ya! Oh Sehoon! Dasar dongsaeng kurang ajar!” seru Luhan lalu berdiri dan mengejar adik lelaki nya itu.

****

 

“sempurna. Lukisanmu benar-benar sempurna Sehun ssi” ucap Jungsoo kepada mahasiswa yang tengah berada di hadapan nya saat ini.

“aku sudah menduga, lukisanmu pasti tidak akan mengecewakan” sambung Jungsoo.

“ne, gomawo saem” balas Sehun.

“ah, ya, apa nama lukisanmu itu?” tanya Jungsoo.

sunset” jawab Sehun datar.

“sunset? Emm, sepertinya lukisan itu memang berbeda dari semua lukisan mu” kata Jungsoo.

“ne, bahkan sangat berbeda saem” balas Sehun.

“baiklah. Seperti ucapanku kemarin, kau tidak perlu lagi menyerahkan lukisan untuk nilai mu di akhir semester lima ini. Sunset telah sukses menjadi bintang di pameran tadi. Aku benar-benar puas dengan hasil kerja mu” ucap Jungsoo panjang lebar.

Sehun tersenyum kecil mendengar perkataan dosen nya itu. Ternyata, usaha nya tidak sia-sia. Sunset benar-benar mendapat perhatian lebih di pameran kampus nya tadi.

“seonsaengnim, bisakah aku pergi sekarang? Ada seseorang yang sedang menungguku” ucap Sehun. Mencoba sesopan mungkin untuk pergi dari ruangan dosen nya tersebut.

“ah, ne. Silahkan” balas Jungsoo singkat.

Sesegera mungkin Sehun melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan tersebut. Dan menuju ke salah satu ruangan lain yang dipakai untuk pameran lukisan siang hari tadi.

Hanya satu tujuan nya. Menemui Jiyeon.

Kini, pintu ruangan tersebut sudah berada di depan mata nya. Walau dengan perasaan ragu yang sedikit banyak masih menyelimuti nya, ia tetap menyeret tubuh nya untuk memasuki tempat itu lebih dalam lagi.

Ekspresi wajah nya berubah seketika, saat ia melihat gadis berambut hitam panjang itu tengah berdiri di depan sebuah lukisan yang terpampang indah di dinding ruangan tersebut.

Itu dia. Park Jiyeon.

Gadis itu tersenyum melihat lukisan yang berada tepat di hadapan nya sekarang. Di atas lukisan itu terdapat tulisan kecil. Ia bisa menebak, pasti tulisan itu adalah nama lukisan yang tengah ia lihat sekarang.

Sunset. Itulah yang tertulis.

Sejenak, Sehun menghentikan langkah nya untuk menemui gadis itu. Ia harus mengatur detak jantung nya terlebih dahulu, agar tidak terlihat memalukan di hadapan gadis itu.

Ia menarik nafas pelan, lalu melangkahkan kaki nya lagi.

“kau menyukai nya?” tanya Sehun, tepat ketika ia sudah berdiri di sisi kiri gadis itu.

Jiyeon semakin merekahkan senyuman nya ketika ia melihat kedatangan Sehun.

“tentu saja, lukisan mu ini sangat indah” jawab Jiyeon. Gadis itu kembali melempar pandangan nya ke arah lukisan tersebut.

“emm, tapi sepertinya aku pernah melihat gadis di lukisan mu ini” ucap Jiyeon sembari mengerutkan kecil kening nya.

Terang saja Jiyeon merasa pernah melihat gadis yang berada di lukisan itu. Gadis yang berada di lukisan itu tak lain adalah dirinya sendiri.

Dirinya yang beberapa hari lalu tengah menikmati sunset di Naksan beach. Itulah setengah alasan Sehun menamai lukisan itu sunset.

“gadis itu, seindah sunset bagiku. Bahkan jauh lebih indah” ucap Sehun.

Ucapan Sehun berhasil membuat Jiyeon menatap dirinya lekat. Ekspresi wajah gadis itu berubah seketika.

“apa kau menyukai gadis itu?” tanya Jiyeon pelan.

“tidak”

“tapi aku mencintai nya” jawab Sehun mantap.

Jiyeon hanya diam mendengar jawaban namja itu. Sehun pun juga tidak berniat sama sekali untuk mengeluarkan suara. Suasana hening, bahkan sangat hening. Terlebih lagi hanya mereka berdua yang berada di dalam ruangan tersebut.

“kau tidak bertanya siapa gadis itu?” Sehun mengeluarkan suara sembari memandang Jiyeon lekat.

“oh? emm, aku fikir itu urusan pribadi mu. Jadi, aku tidak punya hak bertanya tentang gadis itu” jawab Jiyeon masih dengan senyuman di wajah cantik nya.

“tapi jika kau tidak bertanya, akan semakin lama kupendam perasaan ku” ucap Sehun.

“maksudmu? Aku tidak mengerti” balas Jiyeon.

“baiklah. Jika kau tidak berniat sama sekali untuk bertanya, biarkan aku yang mengatakan nya langsung” ucap Sehun.

Sehun menghela nafas pelan. Bersiap akan mengatakan satu hal yang mungkin akan mengubah hari nya esok.

“gadis di lukisan itu adalah kau Park Jiyeon. Aku menyukaimu sejak hampir dua tahun yang lalu, bahkan sekarang perasaanku sudah berubah untuk mu. Aku…” Sehun menggantung sejenak kalimat nya.

“mencintaimu” Sehun kembali menghela nafas pelan setelah ia berhasil menyelesaikan kalimat nya. Perasaan lega yang luar biasa tiba-tiba memenuhi hati nya.

Di sisi lain, Jiyeon hanya diam terpaku mendengar ucapan Sehun.  Terlihat jelas di wajah gadis itu bahwa ia tengah terkejut dengan pernyataan Sehun.

Sekian detik berlalu, Jiyeon tak juga berniat untuk membalas pernyataan Sehun. Hingga akhirnya, secara  perlahan kekecewaan merambat di hati namja itu.

“maaf. Tapi jika kau tidak bisa menerima cinta ini, biarkan cinta ini terus bekerja hanya untuk diriku sendiri” ucap Sehun.

“bagaimana bisa aku menerima cintamu, jika kau sendiri tidak bertanya apakah aku mau menjadi gadis mu” balas Jiyeon.

Sehun terdiam. Ia mencerna maksud dari perkataan yeoja cantik yang sedang berdiri di hadapan nya sekarang.

Miris, setelah hampir dua tahun terlihat bagai seorang pengecut. Sekarang juga ia tengah terlihat seperti orang bodoh di hadapan Jiyeon.

“ah. Mianhae. Baiklah”

“emm, apa kau mau menjadi yeojachingu ku Park Jiyeon?” tanya namja itu.

Untuk kesekian kali nya, suasana di ruangan itu kembali hening.

“tidak” ucap Jiyeon tiba-tiba.

Sehun langsung membelalakkan mata nya, saat ia mendengar jawaban dari gadis itu. Ia seperti tengah dihantam oleh ribuan batu bata ketika mendengar pernyataan ‘tidak’ dari gadis itu.

“ya! aku hampir mati saat mengatakan perasaanku padamu, dan sekarang kau malah mengatakan tidak?!” seru namja itu.

“di depanku, kau bersandiwara seolah-olah kau membenciku dan tidak memperdulikanku. Apa kau tidak tau seberapa besar usahaku untuk mendekati mu selama ini? Aku mencoba agar kau melihatku dan tau kehadiranku. Dan sekarang, seenaknya saja kau mengatakan bahwa kau mencintaiku” ucap Jiyeon panjang lebar.

Mata cokelat nya terlihat berkaca-kaca, mungkin sedetik lagi air mata akan jatuh membasahi pipi gadis cantik itu.

Sehun mendekatkan tubuhnya ke arah gadis itu. Memegang kedua bahu Jiyeon hingga gadis itu terlihat tepat di pandangan mata nya.

Lalu jari-jari nya menghapus dengan lembut tetesan air mata yang terlanjur keluar dan membasahi pipi gadis itu. Begitu lembut, seakan-akan ia tidak mau gadis itu semakin menangis hanya karena sentuhan nya.

“mianhae. Maafkan aku seolah-olah terlihat membencimu. Tapi, sesungguhnya bukan itu maksudku” ucap Sehun pelan.

“aku terlanjur jatuh cinta kepadamu bodoh. Hingga aku tidak pernah lelah untuk berusaha dekat dengan mu” balas Jiyeon sambil memukul pelan kedua tangan Sehun yang masih berada di wajah nya.

Sehun melepas kedua tangan nya dari wajah Jiyeon, lalu merogoh pelan saku celana nya, seperti nya ia tengah berusaha mengambil sesuatu.

“untukmu” ucap Sehun sembari menyodorkan liontin berbentuk hati kepada gadis itu.

“aku sudah terlihat bodoh selama hampir dua tahun. Dan sekarang, jika kau tidak menerima liontin ini, kau telah benar-benar sukses membuatku terlihat lebih bodoh lagi di hadapan mu” sambung Sehun. Tangan nya masih tergantung di udara, masih menyodorkan liontin itu kepada Jiyeon.

Seulas senyuman kebahagiaan terhias di wajah cantik Jiyeon saat ia menerima liontin yang sejak tadi berada di genggaman Sehun.

Sesaat, gadis itu memandangi barang pertama yang telah diberikan Sehun kepadanya. Yang sekejap telah menjadi barang paling berharga di kehidupan nya.

“jadi bagaimana? kau menerima cintaku kan?” tanya Sehun tiba-tiba.

“hah, kau memang benar-benar bodoh. Apa masih harus kujawab?” Jiyeon balik bertanya.

“ya! kenapa kau malah mengatai aku bodoh?!” seru namja itu.

“mck, mck, mck. Saranghae nae namjachingu. Saranghae Oh Sehoon” ucap Jiyeon tersenyum, yang membuat wajah nya terlihat semakin indah di mata Sehun.

Perlahan, namja itu kembali menyentuh wajah Jiyeon. Tepat di kedua pipi nya. Dengan senyuman yang merekah sempurna di wajah tampan nya, Sehun mencium lembut kening gadis nya itu. Lalu mencium lembut pangkal hidung nya.

Dan di hadapan sunset, masih dengan kelembutan yang sama, ia melumat bibir Jiyeon.

.Perfect.

HaeYoung : Oke, cerita pertama berhasil dibuat dengan wajahku yang berseri-seri XD

Maaf, jika cerita ini terlihat banyak kekurangan, tapi aku hanya ingin dihargai dengan komentar kalian. Jadilah reader yang baik, meninggalkan like/komentar setelah membaca, dan berkomentarlah sesuai kesan kalian dengan isi cerita di atas 😀

Dan maaf juga jika pairing nya tidak sesuai dengan kemauan sebagian reader 😀

Oya, hanya pemberitahuan. Aku 94line. Jangan panggil aku dengan ‘thor,thor’. Panggil aku chingu, eonnie atau saeng, itu lebih baik menurutku XD

Bagaimana menurut kalian? Apa pembukaan yang cukup baik? Atau kurang? Silahkan berbagi di box komentar HAHA.

Next –> Luhan Nana (brigida1315)

Nantikan cerita yang berikutnya #bow

Iklan

38 pemikiran pada “Perfect (Sunset)

  1. Daebak… Critanya bgus, singkat, padat dan jelas… Kaya’ nonton drama.. Ternyata jiyeon selama ini jga menyukai sehun… Aigo, sehun.nya sja yg selalu kbur…. Sumpah thor kren bnget, Bkin sequelnya ya thor…

  2. Daebak… Critanya bgus, singkat, padat dan jelas… Kaya’ nonton drama.. Ternyata jiyeon selama ini jga menyukai sehun… Aigo, sehun.nya sja yg selalu kbur…. Sumpah chingu ff.y kren bnget, Bkin sequelnya ya chingu

  3. perfect! terus bikin ff jiyeon sbg main castnya yah,soalnya kurang greget kalo bukan jiyeon ● 3● temen temen sekolah juga suka baca ff jiyeon ^^

  4. Chingu. Critanaya daebak. Walaupun pairing emang rada kurang srek sih. Aku malah pinginya sehun ama suzy trus kris yang ama jiyeon soalnya aura mereka lbh cocok. hehe. Mianhe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s