Fallen (Chapter 2A)

Tittle    : FALLEN | PART 2A: COCOK UNTUK DIKENDALIKAN

Author : Park Ji Eun

Main Cast :     •    Xi Lu Han a.k.a EXO-M Lu Han
•    Wu Yi Fan a.k.a EXO-M Kris
•    Park Gi Eun (OC)
•    Amber Josephine Liu a.k.a f(x) Amber
•    Kim Hyun Jin —Miss Kim (OC)

•    Lee Sun Kyu a.k.a SNSD Sunny

Support Cast :       •    Choi Jin Hee (OC)
•    Park Chan Yeol a.k.a EXO-K Chanyeol
•    Lee Hyori (OC)
•    Kim Joon-myun a.k.a EXO-K SuHo

•    Jun Ji Hyun (OC)

Genre  : Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy, Western-Life

 

Length : Chaptered (Prolog| Chapter 1A | Chapter 1B | Chapter 1C)

 

Ps  : Mian kalo bahasanya susah untuk dimengerti dan *maybe* typo bertebaran.

 

 

“There are only two ways to live your life.

One is as though nothing is a miracle.

The other is as though everything is a miracle.”
Albert Einstein

 

 

 

CHAPTER 2A:

COCOK UNTUK DIKENDALIKAN

 

 

 

Gi Eun membawa selembar kertas berisi jadwal pelajaran, buku catatan setengah kosong yang bari digunakannya di Dover untuk pelajaran Sejarah Eropa Lanjutan tahun lalu, dua pensil nomor dua, penghapus favoritnya, dan perasaan tidak nyaman yang muncul tiba-tiba bahwa Amber mungkin benar tentang kelas-kelas di Sword & Cross.

Gurunya belum datang, meja-meja rapuh ditata dalam barisan yang acak-acakan, dan lemari dinding terhalang susunan kardus berdebu yang ditumpuk didepannya.

Yang paling parah, tidak seorang pun dari murid-murid lain memdulikan kekacauan ini. Malahan, tak ada satu murid pun yang kelihatan menyadari mereka berada dalam kelas. Mereka semua berdiri bergerombol didekat jendela, mengisap rokok terakhir disini, membetulkan letak peniti besar pada kaus mereka. Hanya Chanyeol yang duduk dimeja belajar yang sebenarnya, mengukirkan sesuatu yang berliku-liku dipermukaannya dengan bolpoin. Tapi murid-murid baru yang lain kelihatannya sudah menemukan tempat masing-masing dalam kerumunan. Kris bersama pria-pria rapi yang mirip murid Dover. Mereka pasti sudah berteman ketika Kris masuk ke Sword & Cross. Hyori menyalami gadis dengan anting di lidah yang tadi bercumbu dengan pemuda yang lidahnya beranting di luar sana. Gi Eun merasa bodoh karena tidak punya cukup nyali untuk melakukan apapun selain duduk di dekat Chanyeol yang tidak berbahaya.

Amber menyelinap diantara murid-murid lain, membisikkan sesuatu yang tidak dimengerti Amber, seperti semacam putri goth. Ketika Amber melewati Kris, pria itu mengejek rambut barunya.

“Kain pel yang indah, Amber.” Kris nyengir, menarik helai rambut di tengkuk Amber. “Pujianku untuk penata rambutmu.”

Amber menepis tangan Kris. “Jangan sentuh, Kris. Atau dengan kata lain: Mimpi saja terus.” Amber menggerakkan kepala kea rah Gi Eun. “Dan kau bisa memberikan pujianmu pada piaraan baruku, yang ada di sana.”

Mata Kris bersinar memandang Gi Eun, yang kaku di tempatnya. “Kurasa aku akan melakukannya,” Kris berkata, dan mulai berjalan kea rah Gi Eun.

Ia tersenyum pada Gi Eun, yang duduk dengan pergelangan kaki disilangkan dibawah bangku dan kedua tangan dilipat rapi di meja yang penuh coretan.

“Kita sebagai murid baru harus bersatu,” kata Kris. “Tahu maksudku?”

“Tapi kukira kau pernah di sini.”

“Jangan percaya apapun yang dikatakan Amber.” Kris melirik Amber, yang berdiri didekat jendela, memperhatikan mereka dengan curiga.

“Oh, tidak, ia tak mengatakan apa-apa tentang kau,” Gi Eun berkata cepat, mencoba mengingat apakah kata-katanya memang benar. Jelas terlihat Kris serta Amber saling membenci, dan walaupun merasa berterima kasih pada Amber karena mengajaknya keliling tadi pagi, Gi Eun merasa belum siap untuk memihak pada siapa pun.

“Aku ingat ketika menjadi murid baru di sini… saat pertama kali.” Kris tertawa pada diri sendiri. “Band-ku baru saja bubar dan aku kehilangan arah. Aku tidak kenal siapapun. Aku membutuhkan seseorang yang tanpa”―ia melirik Amber―”maksud tersembunyi.”

“Ah, dan kau tidak punya maksud tersembunyi?” tanya Gi Eun, terkejut mendengar nada menggoda dalam suaranya sendiri.

Senyum lepas terkembang pada wajah Kris. Pemuda itu mengangkat sebelah alis pada Gi Eun. “Menyesal juga tadinya aku tidak mau kembali ke sini.”

Wajah Gi Eun merona. Ia biasanya tidak pernah berhubungan dengan anggota band rock―lagi pula, mereka tidak pernah menarik mejanya begitu dekat dengan meja Gi Eun, menjatuhkan diri di dekat Gi Eun, dan menatapnya dengan mata yang begitu hijau. Kris merogoh saku dan mengeluarkan pick gitar cokelat bertuliskan angka 44.

“Ini nomor kamarku. Datanglah kapan saja.”

Warna pick gitar itu tidak berbeda jauh dengan warna mata Kris, dan Gi Eun bertanya-tanya bagaimana dan kapan cowok itu membuat pick seperti itu, tapi sebelum Gi Eun bisa menjawab―dan entah apa  jawabannya―Amber mencengkeram bahu Kris dengan kasar. “Maaf, apa aku kurang jelas? Aku yang pertama kali melihat yang satu ini.”

Kris mendengus. Ia menatap tepat pada Gi Eun ketika berkata, “Dengar, kurasa masih ada yang namanya kebebasan memilih. Mungkin peliharaanmu punya pikiran sendiri.”

Gi Eun membuka mulut untuk mengatakan bahwa tentu saja ia punya pikiran sendiri, hanya saja ini baru hari pertamanya disini dan ia masih meraba-raba keadaan. Tapi tepat ketika ia sudah menemukan kata-kata sanggahan, bel peringatan berbunyi, dan kerumunan kecil di sekitar meja Gi Eun pun bubar.

Murid-murid yang lain duduk di bangku-bangku sekelilingnya, dan tak berapa lama tidak ada lagi yang bisa diperhatikan sehingga Gi Eun duduk rapid an manis dibangkunya, sambil memandangi pintu. Menunggu Lu Han.

Dari sudut matanya, ia bisa merasakan Kris mencuri pandang ke arahnya. Ia merasa tersanjung―dan gugup, lalu frustasi sendiri. Lu Han? Kris? Ia berada di sekolah ini selama kira-kira, empat puluh lima menit?―dan pikirannya sudah terombang-ambing pada dua pemuda yang berbeda. Alas an ia berada di sekolah ini adalah saat terakhit kali ia tertarik pada pria, segalanya jadi sangat kacau. Ia seharusnya tidak membiarkan dirinya menyukai (dua kali!) pada hari pertama di sekolah.

Ia menoleh kea rah Kris yang mengedip lagi padanya, lalu menepiskan rambut gelapnya dari mata. Dengan melupakan penampilannya yang sangat menarik―yeah, yang benar saja―Kris kelihatannya memang cukup berguna untuk dikenal. Seperti Gi Eun, Kris juga masih menyesuaikan diri dengan keadaan, tapi jelas pernah berkeliaran di bangunan-bangunan Sword & Cross. Dan Kris ramah pada Gi Eun. Gi Eun memikirkan pick gitar hijau bertuliskan nomor kamar Kris, berharap pria itu tidak menyebarkannya begitu saja. Mereka bisa menjadi… sahabat. Mungkin hanya itu yang Gi Eun butuhkan. Mungkin setelah itu Gi Eun tidak lagi merasa begitu asing di Sword & Cross.

Mungkin nanti ia akan bisa melupakan kenyataan bahwa satu-satunya jendela di ruang kelas ini hanya seukuran amplop, bernoda kapur, dan pemandangan yang bisa dilihat dari jendela itu hanya mausoleum besar di pemakaman.

Mungkin nanti ia akan bisa melupakan bau tidak enak peroksida yang menyengat dari rambut pirang wanita bergaya punk yang duduk di depannya.

Mungkin nanti ia bisa benar-benar menaruh perhatian pada guru killer berkumis yang baru saja berderap masuk ke ruangan, memerintahkan seisi kelas untuk tertib dan duduk, lalu dengan tegas menutup pintu.

Sedikit perasaan kecewa menusuk hatinya. Ia butuh waktu sesaat untuk menemukan alasannya. Hingga guru itu menutup pintu, ia masih menaruh harapan Lu Han akan berada dalam kelas pertamanya juga.

Apa pelajaran berikutnya, bahasa Perancis? Ia menunduk menatap jadwal untuk melihat pelajaran itu akan diadakan di kelas yang mana. Tepat ketika itu, pesawat kertas meluncur diatas jadwalnya, melewati meja, dan mendarat dilantai dekat tasnya. Ia menoleh untuk melihat siapa yang menyadari kejadian itu, tapi si guru sibuk menekankan sepotong kapur tulis keras-keras ketika menuliskan seustau di papan tulis.

Gi Eun melirik gugup ke kiri. Ketika melihat ke arahnya, Kris memberinya kedipan dan lambaian menggoda yang menyebabkan seluruh tubuh Gi Eun tegang. Tapi Kris kelihatannya tidak melihat atau bertanggung jawab atas pesawat kertas tadi.

“Psssst,” terdengar bisikan pelan dari belakang Kris. Rupanya Amber, yang mengisyaratkan dengan dagu kepada Gi Eun untuk memungut pesawat kertas itu. Gi Eun membungkuk untuk meraihnya dan melihat namanya tertera dalam huruf hitam kecil di sayap. Surat pertamanya!

 

Sudah mencari-cari jalan keluar?

                Bukan tindakan yang cerdas.

                Kita berada di lubang neraka ini hingga makan siang.

 

Itu pasti hanya lelucon. Gi Eun memeriksa ulang jadwalnya dan menyadari dengan ngeri bahwa tiga pelajaranpaginya berada di ruang kelas 1 yang sama―dan ketiganya akan diajar Mr. Lee.

Guru itu melepaskan diri dari papan tulis dan dengan malas-malasan berkeliling ruangan. Tidak ada perkenalan untuk murid-murid baru―dan Gi Eun tak bisa memutuskan apakah ia merasa lega atau tidak. Mr. Lee hanya membanting silabus ke meja empat murid baru. Ketika tumpukan kertas itu mendarat dihadapan Gi Eun, ia mencondongkan tubuh dengan tidak sabar untuk membacanya. sejarah Dunia, tertulis disana. Menghindari Kehancuran Umat Manusia. Hmmm, pelajaran sejarah memang selalu menjadi keahliannya, tapi menghindari kehancuran?

Dengan hanya memperhatikan silabus itu lebih teliti, Gi Eun bisa melihat bahwa Amber memang benar tentang lubang neraka ini: bahan bacaan yang tidak masuk akal banyaknya, UJIAN dalam huruf capital dan tebal setiap setelah pertemuan ketiga, dan tugas tiga puluh halaman mengenai―yang benar saja―tiran gagal pilihanmu. Tanda kurung tebal dituliskan dengan spidol hitam pada tugas-tugas yang belum dikerjakan GI Eun selama minggu-minggu awal tahun pelajaran. Di pinggirnya, Mr. Lee menuliskan  Temui aku untuk Tugas Penelitian Susulan. Jika ada cara yang lebih ampuh untuk menyedot semangat orang, Gi Eun ngeri untuk mencari tahu.

Setidaknya ada Amber yang duduk dibelakang pada deretan meja sebelah. Gi Eun lega karena mendapatkan petunjuk mengenai cara mengirim surat SOS. Ia dan Ji Hyun biasanya saling mengirimkan SMS diam-diam, tapi di sini, Gi Eun benar-benar harus belajar membuat pesawat kertas. Ia merobek selembar kertas dari buku catatan dan mencoba mencontoh pesawat kertas Amber.

Setelah ia beberapa menit mencoba membuat origami, pesawat kertas lain mendarat di mejanya. Ia menoleh kembali kea rah Amber, yang menggeleng dan memutar mata dengan gaya yang mengatakan masih banyak yang harus Gi Eun pelajari.

Gi Eun mengangkat bahu untuk meminta maaf dan berpura-pura kembali ke depan untuk membuka pesan kedua:

 

Oh, dan sampai kau sudah yakin pada ketepatan bidikanmu, sebaiknya kau tidak menerbangkan pesawat yang berhubungan dengan Lu Han kea rah ku. Pria dibelakangmu terkenal karena tangkapannya di lapangan bola

Info bagus. Ia bahkan tidak melihat teman Lu Han, Roland, berjalan dibelakangnya tadi. Kini ia menoleh pelan-pelan dari bangkunya hingga melihat sekilas rambut gimbal Roland dari sudut mata. Ia memberanikan diri melirik ke bawah, ke buku catatan yang terbuka di meja Roland, dan membaca nama lengkap pria itu. Roland Sparks.

“Tidak boleh kirim pesan,” Mr. Lee berkata tegas, menyebabkan Gi Eun menoleh cepat ke depan untuk memperhatikan. “Tidak boleh menyontek, dan tidak boleh melihat tugas orang lain. Aku capek-capek kuliah bukan untuk kalian perhatikan setengah-setengah.”

Gi Eun mengangguk berbarengan dengan murid-murid lain tepat saat pesawat kertas ketiga meluncur dan berhenti di tengah mejanya.

Hanya tinggal 172 menit lagi!

 

Seratus tujuh puluh dua menit penuh penyiksaan kemudian, Amber menuntun Gi Eun ke kantin. “Bagaimana menurutmu?” Amber bertanya.

“Kau benar,” kata Gi Eun datar, masih berusaha memulihkan diri dari kesuraman yang menyakitkan akibat tiga jam pelajaran yang pertama. “Kenapa ada orang yang mau mengajar topic yang begitu menyedihkan?”

“Ah, Mr. Lee akan melunak. Ia selalu memasang tampang jangan-protes setiap ada murid baru. Lagi pula,” kata Amber, menyikut Gi Eun, “bisa saja lebih parah. Kau bisa terjebak dengan Ms. Park.”

Gi Eun melirik jadwalnya. “aku bertemu dia pada pelajaran biologi di blok sore,” Gi Eun berkata dengan perasaan ciut.

Ketika Amber tergelak, Gi Eun merasakan benturan pada bahunya. Rupanya Kris, melewati mereka di lorong dalam perjalanan menuju kantin. Gi Eun mungkin akan tersungkur jika Kris tidak mengulurkan tangan untuk menahannya.

“Hati-hati.” Kris tersenyum sekilas pada Gi Eun, dan Gi Eun mengira-ngira apakah Kris sengaja menabraknya. Tapi pria tersebut kelihatannya tidak sekanak-kanak itu. Gi Eun melirik Amber untuk melihat apakah ia memperhatikan. Amber mengangkat alis, seakan mengisyaratkan Gi Eun untuk bicara, tapi keduanya tidak mengatakan apa-apa.

Ketika mereka melewati bagian dalam jendela-jendela berdebu yang memisahkan lorong suram dengan kantin yang lebih suram, Min-Young memgang siku Gi Eun.

“Hindari steak ayam goreng, apapun yang terjadi,” Amber memberitahu ketika mereka mengikuti rombongan ke dalam ruang makan yang hiruk pikuk. “Pizzanya enak, chili-nya oke, dan sebenarnya sup borscht-nya cukup lumayan. Apa kau suka daging giling?”

“Aku vegetarian,” sahut Gi Eun. Ia menyapu pandangan ke meja-meja, mencari dua oarng tertentu. Lu Han dan Kris. Ia hanya akan merasa lebih santai jika tahu dimana mereka berada supaya ia bisa pergi mengambil makan siang dan berpura-pura tidak melihat mereka. Tapi sejauh ini, tidak ada penampakan…

“Vegetarian ya?” Amber mengerutkan bibir. “Orangtua hippie  atau usaha payahmu untuk memberontak?”

“Uh, bukan dua-duanya, aku hanya tidak―”

“Suka daging?” Amber memutar bahu Gi Eun Sembilan puluh derajat sehingga Gi Eun melihat tepat kea rah Lu Han, yang duduk dimeja seberang ruangan. Gi Eun mengembuskan napas panjang. Ternyata pria itu disana. “Nah, apa itu termasuk daging?” senandung Amber keras-keras. “Kau pasti mau menancapkan gigi padanya, kan?”

Gi Eun mendorong Amber dan menyeretnya kea rah antrean makan siang. Amber hanya bergurau, tetapi Gi Eun tahu mukanya merah padam, yang dengan memalukannya akan terlihat jelas di bawah sinar lampu neon ini.

“Diam, ia pasti mendengarmu,” Gi Eun berbisik.

Sebagian diri Gi Eun lega bisa bergurau tentang pria dengan seorang teman. Dengan anggapan bahwa Amber temannya.

Ia masih kesal dengan apa yang terjadi tadi pagi ketika pertama kali melihat Lu Han. Perasaan tertariknya pada Lu Han―ia masih tidak mengerti dari mana datangnya perasaan itu, tetapi perasaan tersebut datang lagi. Ia memaksa diri mengalihkan pandangan dari rambut Lu Han, dari garis rahangnya yang mulus. Gi Eun tidak ingin tertangkap basah memperhatikan. Ia tidak mau memberikan alas an bagi Lu Han untuk mengacungkan jari padanya lagi.

“Terserah,” Amber mengejek. “Ia terlalu asyik dengan hamburgernya, sehingga takkan mendengar panggilan setan.” Amber memberi isyarat kea rah Lu Han, yang memang terlihat begitu focus mengunyah burger. Ralat yang tadi, ia terlihat seperti orang yang pura-pura focus mengunyah burger.

Gi Eun melirik ke seberang meja, ke arah Roland, teman Lu Han. Roland sedang mendang tepat kea rah Gi Eun. Ketika Roland menatap mata Gi Eun, ia menggerakkan alis dengan cara yang tidak dimengerti Gi Eun tapi tetap membuatnya agak ngeri.

Gi Eun berpaling lagi pada Amber. “Kenapa semua orang disekolah ini sangat aneh?”

“Aku memilih tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan itu,” balas Amber, mengambil nampan plastic dan menyerahkan satu pada Gi Eun. “Dan aku akan meneruskan penjelasan tentang seni memilih tempat duduk di kantin. Kau tahu, kau takkan pernah mau duduk dimana pun yang dekat dengan―Gi Eun, awas!”

Yang dilakukan Gi Eun hanyalah mengambil mundur selangkah, tapi begitu melakukannya, ia merasakan dorongan kasar dua tangan pada bahunya. Ia langsung tahu akan jatuh. Ia mengulurkan tangan ke depan untuk mencari pegangan, tapi yang bisa digapai kedua tangannya hanyalah nampan seseorang yang penuh makanan. Semuanya jatuh berantakan bersama dirinya. Ia mendarat dengan suara berdebum keras dilantai kantin, semangkuk penuh sup borscht tumpah ke wajahnya.

Ketika berhasil mengusap cukup banyak kuah bit yang kental dari matanya untuk melihat, Gi Eun mendongak. Pixie paling murka yang pernah ia lihat berdiri dihadapannya. Gadis itu memiliki rambut model runcing-runcing yang dicat, setidaknya sepuluh tindikan pada wajahnya, dan tatapan kematian. Ia menampakkan gigi pada Gi Eun dan mendesisi, “Jika tampangmu tidak merusak selera makanku, akan kusuruh kau membelikan aku makan siang baru.”

Gi Eun meminta maaf dengan tergagap-gagap. Ia mencoba berdiri, tapi gadis itu menjejakkan hak stiletto bot hitamnya ke kaki Gi Eun. Rasa sakit menjalr ke sepanjang kakinya, dan ia harus menggigit bibir agar tidak menjerit keras-keras.

“Nanti saja,” kata gadis itu.

“Cukup, Jin Hee,” Amber berkata dingin. Ia mengulurkan tangan ke bawah untuk membantu Gi Eun berdiri.

Gi Eun meringis. Hak lancip itu pasti akan membuat kakinya lebam.

Jin Hee memutar tubuh untuk menghadap Amber, dan Gi Eun punya firasat bahwa ini bukan pertama kalinya mereka bersitegang.

“Cepat akrab dengan anak baru, rupanya,” Jin Hee menggeram. ”Kebiasaan yang sangat buruk, A. bukankah kau dalam masa percobaan?”

Gi Eun menelan ludah. AMber tidak menyebut apapun tentang masa percobaan, dan sungguh tidak masuk akal jika hal itu melarangnya mencari teman baru. Tapi kata-kata itu sudah cukup untuk membuat Amber mengepalkan tangan dan melayangkan tinju keras yang mendarat di mata kanan Jin Hee.

Jin Hee terhuyung ke belakang, tapi Amber lah yang mencuri perhatian Gi Eun. Tubuh Amber kejang-kejang, kedua tangannya terangkat dan tersentak-sentak di udara.

Pasti gelang itu, Gi Eun menyadari dengan ngeri. Benda itu mengalirkan semacam listrik ke seluruh tubuh Amber. Keterlaluan. Ini jelas hukuman yang kejam dan tidak lumrah. Perut Gi Eun bergolak saat ia melihat sekujur tubuh temannya bergetar. Ia mengulurkan tangan untuk menangkap Amber tepat ketika gadis itu terjatuh ke lantai.

“Amber,” Gi Eun berbisik. “Kau tak apa-apa?”

“Luar biasa.” Kedua mata gelap Amber mengerjap terbuka, lalu tertutup.

Gi Eun tersentak. Lalu sebelah mata Amber kembali terbuka. “aku membuatmu khawatir ya? Oh, manis sekali. Jangan takut, listrik itu takkan membunuhku,” ia berbisik. “Hanya akan membuatku lebih kuat, lagi pula, imbalan yang cukup layak utnuk menghajar sapi itu, kau tahu?”

“Baiklah, hentikan. Hentikan,” suara parau menggelegar di belakang mereka.

SuHo berdiri di ambang pintu, dengan wajah merah padam dan terengah-engah. Agak terlambat untuk menghentikan apapun, pikir Gi Eun, tapi kemudian Jin Hee bergerak cepat ke arah mereka, hak sepatunya yang lancip berdetak di lantai kayu. Gadis itu benar-benar tidak punya rasa malu. Apakah ia akan menghabisi Amber sementara SuHo sudah berdiri disana?

 

To Be Continue

 

Buat yang udah baca part ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo^^

5 pemikiran pada “Fallen (Chapter 2A)

  1. tbc nya terlalu cepat muncul thor, ato malah kependekan chapter nya? hehe
    next chapter lebih panjang lagi donk thor, biar makin seru…
    masih banyak kata2/kalimat2 yg belum aku ngerti, berbelit2 gitu, pusing jadi nya thor…

    ditunggu ya chapter selanjut nya…

  2. Ini termasuk pendek kalo dibanding chap yg kmrn2. Sekarang aku udh ngerti ceritanya. Chap yg kmrn2 bahasanya terlalu berat, menurutku. Next chap ditunggu, jan lama2 thor, m0ah #najis :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s