Love Tears (Chapter 1)

Title: love Tears (1 of 2)

Author: Calyxie

Rating: Teen, PG-13

Length: twoshot

Genre: Angst (maybe), Drama (maybe too)

Main Casts: -Seo joo Hyun

                    -Oh Se Hoon

                     -Park Chanyeol

                     -Choi Sooyoung

Other Cast: You’ll find them later..

Disclaimer: All of the casts belongs to God. But, the story is MINE. Don’t copy and paste. And this is just a fiction..! not happen in the real world. Hate plagiators. Ff ini bukan PLAGIAT!! Murni ceritaku sendiri. Jadi, kalau ada yang ngaku-ngaku FF aku plagiat, I DON’T CARE!

Pernah di terbitkan di IFK akhir Juli lalu.

Author Note:

Annyeong…! Ini FF pertama, jadi harap maklum kalau masih banyak typo dan kesalahan. oke, daripada banyak bacot, mending cekidot..! hope you’ll like it.. happy reading..

 

[1st Part]

Cinta itu seperti airmata. Semakin kau berusaha menahannya. Kau tak akan bisa. Kau harus mengungkapkannya. Jika tidak, itu hanya membuat hatimu sakit dan terluka. Seperti diriku. Cinta memang butuh airmata. Tapi, airmata tidak selalu butuh cinta

∞∞∞∞∞

Seohyun POV

Aku meraba laciku. Mencari sesuatu yang sangat berharga bagiku. “mana kacamataku ya? Tadi aku taruh sini.” Gumamku pada diri sendiri. Aku mulai panic. Aku gak bisa apa-apa tanpa itu. Huh, kayak apa ini?

“Kamu nyari apa?” suara berat namja mengagetkanku.

“Eh.. aku nyari kacamataku. Tadi aku taruh di sini. Aku gak bias apa-apa tanpa itu.” Aku sedikit mendongakkan kepalaku. Tampak namja itu juga memakai kacamata. Tapi, aku gak bisa melihat jelas siapa namja itu. Dia memandangku sedikit aneh.

“Kamu gak apa-apa kan? Berapa minusmu?” tanyanya

“Minus 6 silinder 2,5” kataku masih dengan sibuk mencari dimana keberadaan kacamataku.

“Stop! Pakai kacamataku aja. Memang, minusku gak sebesar punyamu. Tapi setidaknya bisamembantu kan?” katanya sambil memegang tanganku dan melepas kacamatanya.

“Gak usah, pasti kamu juga butuh!” kataku sambil melepaskan genggamannya. Aku yakin kali ini mukaku pasti sudah memerah seperti tomat.

BRUKK!

Aku tersandung ketika hendak mundur. “Aww..!” ringisku tertahan.

“Tuh kan, apanya yang baik-baik aja? Pakai ini.” Katanya sambil kacamatanya ke mataku, dan menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahku. “Gimana? Sudah lebih baik kan?” katanya. Sesaat mataku bertemu dengan mata hitamnya. Aku segera mengalihkan pandanganku. Entah kenapa jantungku seakan berdetak lebih kencang daripada biasanya.

“Ya, sedikit. Berapa minusmu?” Aku tersenyum sebagai tanda terima kasih.

“3.5 silinder 1” dia juga tersenyum padaku.

“Sebentar! Kalau aku pakai ini, kamu pakai apa dong?” aku lupa kalau dia juga pengguna kacamata.

“Tenang saja, aku bawa soflents kok, soalnya aku kurang terbiasa pakai kacamata.” Dia berkata masih dengan senyum yang sama. DEG! Apa yang kulakukan sih? Kenapa tiba-tiba aku merasa ada yang berbeda?

“Hai! Kamu kemana aja? Kita sudah ditunggu tau!” seru chanyeol sambil menepuk pundak namja itu. Chanyeol sering menyapaku hampir setiap hari  dan aku sering menangkap dia sedang memandangku dengan pandangan aneh.

“Benarkah? Apakah sudah waktunya” Tanya namja itu pada Chanyeol. “Ne, hai seohyun” sapanya padaku. Aku hanya tersenyum.

“Sehun, Kajja! Kau tak mau dimarahi Enhyuk Sunbae kan?” chanyeol kini menarik tangan namja itu dan menyeretnya keluar.

“Mian ya Seohhyun. Aku ada urusan dulu. Bye.” Namja itu yang bernama sehun masih sempatnya melambai dan tersenyum manis kepadaku.

Senyum yang manis, Sehun-ssi.

∞∞∞∞∞∞∞∞

22.30 KST

Aku membenamkan kepalaku di bantal kesayanganku. Sudah hampir satu jam aku mencoba tidur, tapi aku tak bias. Senyuman Sehun tadi siang masih membayangi pikiranku. Ya ampun! Apa yang kupikirkan sih? Uhh! Aku menjitak kepalaku sendiri. Sakit.

Tiba-tiba Taeyoen eonni masuk. Dia adalh kakak perempuanku.

“Hai, kau belum tidur, seohyun?” tanyanya.

“Belum, eonnie mau apa?” tanyaku. Tak biasanya eonnie ke kamarku.

“Belum. Aku mau minjam sisir. Sisirku hilang. Kau kenapa belum tidur?” dia balik menanyaiku.

“Aku sedang memikirkan seseorang.” Kataku pelan.

“eo. Rupanya adikku sedang jatuh cinta ya?” dia menggodaku. Aku mengambil bantal dan melemparkannya kearahnya. Dengan sigap dia menangkap bantal itu.

“Anhi!”

“Jinjja? Oh ya, mana kacamatamu? Biasanya kau selalu memakainya?”

“Mmm.. kacamataku hilang..” aku menunduk sedih.

“Kau sudah bilang eomma kan?” dia juga terlihat khawatir. Wajar saja. Eonni tahu aku sangat membutuhkan kacamata.

“Ne.”

“Sudahlah, eomma pasti akan membelikannya lagi kok! Sudah ya seohyun aku mau tidur huaaah!” eonnie menguap lebar. Kemudian dia keluar dan menutup pintu dengan sedikit keras. Aku masih termenung sambil memeluk boneka teddy bear-ku

Benarkah aku jatuh cinta?

∞∞∞∞∞∞∞∞

AUTHOR POV

Hari selasa ini jadwalnya pelajaran olahraga. Seohyun melirik singkat jam dinding mungil yang tergantung di dinding kamarnya. “Gawat!! Sudah hampir jam 7!” seru Seohyun. Dia segera memakai celana olahraga selutut kemudian menguncir rambutnya seperti ekor kuda. tak lupa dia mengenakan kacamata pinjaman Sehun kemarin. Walaupun belum terbiasa dan masih sering pusing jika memakainya. Tak lama, seohyun pun turun untuk sarapan.

“Pagi eomma..!” sapa Seohyun. Kemudian dia mengambil segelas susu yang memang dihidangkan untuknya lalu meneguk susu itu hingga tak bersisa.

“Pagi.. kau baik-baik saja kan jagi? Mukamu sedikt pucat” kata eomma seohyun yang khawatir dengan anaknya.

“Taka pa eomma. Seohyun hanya sedikit capek. Akhir-akhir ini banyak tugas. Sudah ya! Seohyun hampir terlambat, nih!” ujarku buru-buru sambil menyambar beberapa lembar roti.

“kau bawa obatnya kan, Jagi?”

“Ne, eomma tenang saja.” Teriak Seohyun  dari pintu.

∞∞∞∞∞∞∞∞

SEOHYUN POV

Hufft! Hampir saja aku terlambat. Untung aku datang 5 menit sebelum pemanasan dimulai.dengan sedikit kelelahan, aku segera mengambil posisi di baris pertama. Sambil menunggu Park Songsaenim memulai pemanasan, aku celingak-celinguk melihat keadaan. Sepertinya Sehun belum datang.

“Hai Seohyun” seseorang menepuk pundakku. Dengan kaget aku segera berbalik dan mendapati chanyeol tengah tersenyum lebar padaku.

“Ternyata kau. Bikin kaget saja.” Ujarku. Dia lalu mengambil posisi di sampingku.

“PRIIIIIIIIIT!!” Park songsaenim meniup peluit dengan kencang dan hampir membuat telingaku rusak.

“Ayo kita mulai pemanasannya. Dimulai dari.. kamu!” ucap Park Songsaenim sambil menunjuk kea rah Yoona yang berdiri di sebelah Chanyeol. Yoona adalah teman dekatku. Dia terkenal pintar dan cantik. Menguasai seluruh bidang mata pelajaran.

Setelah Yoona selesai menghitung, lanjut lagi ke Chanyeol dan akhirnya giliranku. Aku berhitung sambil mengangkat salah satu kakiku. “1..2..3..4..5..6..7..” ucapku sedikit kencang. Belum selesai aku menghitung, tiba-tiba Sehun masuk.

“Park Songsaenim, mianhamnida.. jeongmal mianhamnida saya terlambat..!” ucapnya sambil membungkuk dalam. Aku hanya tersenyum melihatnya. Dia lucu sekali dengan ekspresi wajahnya yang sedikit panic.

“Dasar! Sebagai hukumannya, kamu harus lari keliling lapangan 5x, terus kamu pemanasan sendiri di sini! Mengerti??” Tanya Songsaenim dengan nada tegas.

“MWO?? Sebanyak itukah diriku harus melakukannya?” Sehun berlagak puitis. Membuat Park songsaenim menjadi tidak terkendali.

“Cepat lakukan!!” bentak Park Songsaenim.

“N..ne.” sehun kemudian mulai berlari. Ha..ha.. dia lucu sekali. Tanpa sengaja aku melihatnya tersenyum ke arahku dan aku merasakan jantungku kembali berdetaklebih kencang.

OMO! Apa yang kau pikirkan Seohyun??

∞∞∞∞∞∞∞∞

SEHUN POV

Sudah kuduga aku terlambat. Dari jauh saja, aku sudah melihat barisan rapi anak-anak kelas XI-1 di lapangan. Matilah aku kena kutukan Park Songsaenim yang terkenal galak itu. Aku masuk ke lapangan ketika Seohyun-yeoja yang kupinjami kacamataku-tengah berhitung. Dia tampak sedikit kesulitan untuk berhitung sambil mengangkat salah satu kakinya. Tapi ada yang sedikit berbeda dari biasanya. Wajahnya terlihat sedikit pucat.

“Park Songsaenim, mianhamnida.. jeongmal mianhamnida saya terlambat..!” ucapku. Aku yakin, park Songsaenim akan menghukumku. Kemudian aku melihat Seohyun yang berdiri di samping Chanyeol. Huh, sepertinya dia ingin menertawaiku. T.T

“Dasar! Sebagai hukumannya, kamu harus lari keliling lapangan 5x, terus kamu pemanasan sendiri di sini! Mengerti??” kata Park Songsaenim. Apa?? 5x? mengelilingi lapangan Yong Dam High School yang begitu luas?!

“MWO?? Sebanyak itu?!”

“Cepat lakuakn!!” zlebb.. bentakan park songsaenim membuatku ingin segera lari dari hadapannya.

“N..ne..” aku mulai berlari. Ketika aku lewat di depan Seohyun, sepertinya dia ingin sekali menertawaiku. Ok! Kalau dia mau menertawaiku. Awas kau Seohyun, tunggu pembalasanku. Aku melemparkan sebuah senyum licik ke arahnya, kemudian segera berlari sebelum Park Songsaenim memarahiku lagi. Huh, kalau saja ini bukan karena Sooyoung Noona, aku pasti tak akan terlambat.

FLASHBACK POV

Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika kulihat Sooyoung Noona duduk di atas kasur King Size milikku yang empuk. Sooyoung Noona adalah kakak angkatku yang diadopsi oleh appa dan eomma ketika dia berumur 5 tahun dan umurku baru 4 tahun. Saat itu dia ditemukan sedang menangis di pinggir jalan karena terpisah dengan orangtuanya. Hingga sekarang, orangtuaku belum tahu siapa sebenarnya orangtua Sooyoung Noona karena waktu itu, Noona tak membawa identitas atau petunjuk apa-apa.

“Selamat Pagi oppa~” spanya dengan senyum manja yang di buat-buat. Kalau begini, pasti ada yang dia inginkan.

“Pagi Noona. Satu lagi. Jangan panggil aku oppa!” kataku dingin agar dia mau keluar dari kamarku.

“Wae? Itu panggilan yang bagus Sehun oppa..” katanya manja. Walaupun begitu, sebenarnya aku sangat menyayanginya. Karena, hanya Noona yang dapat mendengar keluh kesah tentang orangtuaku yang sangat sibuk dan jarang memperhatikanku dan Noona.

“Aku bukan namjachingu-mu. Bahkan aku lebih muda darimu, Noona.” Aku masih menggunakan nada dingin. Aku tahu, dia datang ke kamarku bukan karena ingin mengunjungiku. Paling juga, dia punya keinginan dan ingin aku mengabulkannya.

“Kau ini! Mm.. kau mau tidak, temani aku ke suatu tempat sebelum ke sekolah?” tanyanya. Aku mengambil softlens hitam lalu memasangnya.

“Hmm.. kenapa aku? Kenapa nggak Appa atau Eomma gitu?” jujur aku malas sekali mengabulkan permintaannya yang satu ini.

“Anhi.. aku tidak bisa. Kumohon Sehun.. aku janji hanya sebentar..?”

“Baiklah. Memangnya kau mau kemana?”

“rahasia. Kajja!” Dia menarik tanganku keluar kamar.

Kini, aku dan Noona sudah di garasi. Aku segera melangkahkan kakiku ke dalam mobil sedan putih hadiah ulangtahunku yang ke-16.

“Nah, sekarang kau mau kemana Noona?” kataku ketika mobil sudah keluar dari komplek perumahan.

“Ke kantor Imigrasi.” Jawabnya, dan sanggup membuatku terkejut. Mau apa dia ke sana?

“Kau mau keluar negeri, Noona?” tanyaku sinis.

“Aku akan memberitahumu dua atau tiga hari lagi. Otte?”

“Ya! Terserahlah.” Keadaan menjadi hening sesaat. Tak lama…

“sepertinya kita sudah sampai. Nah, kau tunggu di mobil aja. Aku janji nggak akan lama.” Katanya. Kemudian dia keluar dan dan menutup pintu sedikit keras.

“Ya! Mobilku bisa rusak!!” seruku keras. Dia hanya menjulurkan lidahnya. Huh, awas aja kalau dia lama. Sambil menunggu, aku mengeluarkan Ipod-ku dari dashbor dan memasang headset di kedua teligaku.

10 menit kemudian.. aku bosan

20 menit, aku resah. 5 menit lagi pasti bel sekolah akan berbunyi. Sedangkan jarak dari sini ke sekolah lumayan jauh.

Beberapa menit kemudian, akhirnya Sooyoung Noona kembali dengan wajah gembira.

“Hei! Kau bilang tak akan lama, kan?” aku berdecak kesal sambil menghidupkan mesin mobil.

“Mianhae, Sehun.” Ucapnya tanpa sedikitpun merasa bersalah.

“Kau tahu? Kita terlambat! Sebaiknya kencangkan sabuk pengamanmu itu. Kalau perlu, tulislah surat wasiat. Aku mau ngebut!” Ucapku dengan nada sadis nan kejam.

GLEKK!

Aku hanya mendengar dia menelan ludahnya dan bisa kupastikan sekarang wajahnya pucat.

FLASHBACK END

∞∞∞∞∞∞∞∞

AUTHOR POV

Setelah selesai pemansan, Park songsaenim mulai memberikan pengarahan.

“Nah, anak-anak, hari ini, olahraga kita adalah lari marathon 500 meter. Nanti kalian akan berlari di luar dari sekolah ini, melewati rumah penduduk, lalu kembali lagi ke sekolah ini. Yang pertama sampai akan dapat nilai tertinggi. Mengerti?!”kata Park songsaenim keras sambil modar-mandir di depan muridnya.

“Ne…”

“Semuanya ambil posisi!” Seohyun mengambil posisi di samping Yoona dan Chanyeol. “Bersiap.. Mulai.. priit..!”

∞∞∞∞∞∞∞∞

SEOHYUN POV

MWO?? Lari 500 meter? Itu bukan jarak yang dekat. Huh, mana hari ini kondisiku sedang tidak fit lagi. Baru sebentar saja pemansan, aku sudah kelelahan. Apakah penyakitku kambuh?

“Ya! Melamun aja!” yoona mengagetkanku. Aku Cuma cengar cengir nggak jelas. Kemudian mengambil posisi di samping Yoona.

“Bersiap..mulai..priiit..!” lagi-lagi park songsaenim meniup peluit dengan keras. Awalnya aku berlari dengan cepat dan hampir menyamai Chanyeol yang mempunyai kaki yang panjang. Tapi, lama-kelamaan tenagaku habis dan nafasku mulai terengah-engah. Aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di trotoar jalan. Mataku berkunang-kunang. Aku memeluk lututku dan membenamkan kepalaku di antaranya.

“Oh, jangan seperti ini lagi, jebal..” ucapku. Kepalaku terasa berat.

“Seohyun..!” seseorang memanggil namaku. Sejenak, aku menoleh. Di tampak berlari ke arahku. Setelah itu, semua gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

∞∞∞∞∞∞∞∞

SEHUN POV

Huh, capeknya lari keliling lapangan 5X. mana harus pemanasan lagi. Sudah panas, nih. Aku mengelap keringat yang membanjiri dahiku.

“Hei, kau sudah selesai pemanasan belum?” seru Park Songsaenim.

“N..ne.”ucapku tanpa berani menatap sorot matanya yang tajam.

“Yasudah. Sekarang kamu susul teman-temanmu yang lain sana..!”

“Ne..”

Dengan sedikit terengah-engah aku mulai berlari. Pasti nanti akulah yang mendapat nilai terendah. Aku mempercepat kecepatan lariku sambil sesekali memperhatikan sekeliling. Berharap masih ada yang tertinggal. Namun, harapanku sepertinya nihil, teman-teman yang lain pasti sudah jauh. Tapi tunggu! Dari jauh, aku melihat seorang yeoja berlari dengan lambat. Kesempatanku untuk menyusulnya. Tiba-tiba, yeoja itu duduk di trotoar jalan. Kenapa dia? Kemudian dia memeluk kedua lututnya dan merebahkan kepalanya di pelukan lututnya. Semakin dekat, aku dapat melihat yeoja itu adalah.. Seohyun? Dari rambutnya dan kacamata yang ia kenakan, tak salah lagi.

“Seohyun..!” Panggilku. Dia menoleh sebentar. Aku terkejut sekali melihat wajahnya yang semakin pucat. Kemudian dia terbaring di trotoar jalan. OMO! Dia pingsan. Aku segera mendekatinya dan menepuk-nepuk pipinya lembut. Tuhan, aku baru menyadari kalau dia cantik sekali. Babo! Apa yang kupikirkan sih?!

“Seohyun.. bangun..” percuma. Dengan perlahan, aku mengangkatnya dan segera kembali ke sekolah.

∞∞∞∞∞∞∞∞

AUTHOR POV

Seohyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Mencoba membuat matanya terbiasa dengan cahaya yang masuk. Sudah hampir satu jam dia pingsan. Seohyun kemudian bangun dan melihat ke seluruh ruangan.

“Ini di ruang kesehatan ya?” batin Seohyun. Kemudian dia menyandarkan punggungnya ke dinding di belakangnya. Dia tak habis piker, siapa yang berbaik hati membawanya ke ruang kesehatan karena penyakit yang ia derita sejak kecil. Seohyun memijat dahinya yang pening. Tapi, dia tersentak kaget ketika seorang namja yang tengah tertidur di sofa. Di telinganya masih tergantung headphone berwarna putih. Seohyun kemudian mengambil kacamata yang ditaruh oleh seseorang di atas meja yang ada di sampingnya.

“Kenapa aku tidak menyadarinya, sih?” rutuk seohyun. “Hei! Kau.. ireona..! hei.. Ireona..!” seru Seohyun sedikit keras.

“Hoaaamm…!” namja itu menguap lebar kemudian menoleh kearah Seohyun. “Kau sudah sadar rupanya. Bagaimana keadaanmu?” Tanya namja itu. Headphone yang awalnya tergantung di telinga, kini berpindah ke lehernya yang jenjang. Di tambah senyum manis andalannya untuk menaklukkan yeoja-yeoja. Tapi tidak untuk Seohyun.

“Chanyeol-ssi? Mm.. aku sudah sedikit membaik. Apa kau yang membawaku ke sini?” Chanyeol menarik sebuah kursi dan menempatkannya di samping ranjang Seohyun.

“Bukan aku. Tapi Sehun.”

“Sehun-ssi..?” Tanya seohyun tak percaya. Antara senang dan bingung. Kalau dia yang membawanya, kenapa malah Chanyeol yang sekarang ada di sini? Kenapa bukan Sehun sendiri?

“Ne.. dia menyuruhku untuk menemanimu. Soalnya dia masih ada urusan dengan Park Songsaenim. Kau tahu kan?” Chanyeol seakan bisa membaca pikiran Seohyun.

“Gomawo Chanyeol-ssi..”

“Cheonma. Memang sebenarnya kau sakit apa sih?” Chanyeol menatap mata Seohyun lurus.

‘aduh! Aku kasih tau gak ya?’ Seohyun tampak berpikir sejenak kemudian tersenyum sumringah kea rah Chanyeol. Chanyeol merasakan ada sesuatu yang berdesir dengan lembut di dadanya. Sama seperti yang ia rasakan setahun belakangan ini.

“Tapi, kau janji kan, tidak akan memberitahu Sehun?”

“Ne! I promise. Memang kau sakit apa?”

“Sebenarnya.. sejak kecil, aku sering sekali pingsan. Kata dokter, tubuhku tak bisa memproduksi sel darah merah dengan baik. Kalau tidak salah, nama penyakitnya anemia. Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu lelah dan kurang istirahat dan akhirnya menjadi seperti ini..” raut wajah Seohyun berubah semakin keruh. Chanyeol menatap seohyun prihatin. Ia tak tahu harus berbuat apa.

“Tenang saja, itu bukan penyakit parah, kan?”Chanyeol mengangkat wajah yeoja itu, dan membuatnya menatap mata Chanyeol.

“Ne. tapi tetap saja aku sedih..”

“Sudahlah. Bersemangatlah..!”

“Gomawo. Chanyeol-ssi, bisakah kau mengambilkan obat yang ada di tasku? Jebal..”

“Baiklah anak manis. Aku juga akan memanggil Sehun dulu.” Chanyeol mengacak rambut yeoja itu lembut kemudian mencium puncak kepalanya sekilas. Sementara, yeoja itu hanya mendengus kesal dengan rona merah di pipi.

Ketika Chanyeol baru saja keluar dari ruang kesehatan, dia mendapati Sehun yang berjalan ke arahnya.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Sehun.

“Dia baik-baik saja. Aku baru saja ingin menemuimu.” Chanyeol menepuk pundak sahabat karibnya itu.

“Baguslah. Gomawo Chanyeol.”

“Ne.” kemudian Chanyeol melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda.

∞∞∞∞∞∞∞∞

SEHUN POV

Akhirnya setelah aku menjalani hukuman—untuk kedua kalinya—karena aku tidak berlari ke garis finish melainkan berbalik arah dengan membawa yeoja pucat yang tengah pingsan.

“Sehun-ssi..!” siapa yang memanggilku? Oh, ternyata Yoona.

“Ne..”

“Kau tahu dimana Seohyun? Tadi aku tak melihatnya melewati garis finish. Padahal awalnya dia berlari tak jauh dariku.” Kata yeoja itu sedikit khawatir.*Oooooh*PLAKK*

“Tadi dia pingsan di trotoar jalan. Untung saja aku pelari terakhir, jadi aku membawanya ke ruang kesehatan.” Ucapku datar. Padahal sebenarnya aku khawatir sekali. Terlebih ketika melihat wajahnya yang pucat.

“Jinjja??”

“Ne.. aku mau ke sana. Kau mau ikut?”

“Anhi. Aku mau ganti baju dulu. Kau duluan saja. Nanti aku menyusul.”

“baiklah” kemudian Yoona pergi.

Sampai di depan ruang kesehatan, aku melihat pintunya sedikit terbuka dan sayup-sayup aku mendengar 2 orang yang sedang berbicara. Chanyeol dan Seohyun. Tadi, aku menyuruh Chanyeol menjaganya sebentar karena aku harus menjalani hukumanku.

“Tapi, kau janji kan, tidak akan memberitahu Sehun?” DEG! Itu suara Seohyun. Tak memberitahu apa? Aku jadi semakin penasaran dan menajamkan pendengaranku.

“Ne! I promise. Memang kau sakit apa?”

“Sebenarnya.. sejak kecil, aku sering sekali pingsan. Kata dokter, tubuhku tak bisa memproduksi sel darah merah dengan baik. Kalau tidak salah, nama penyakitnya anemia. Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu lelah dan kurang istirahat dan akhirnya menjadi seperti ini..”

Jadi, itu penyebab wajahnya yang sering pucat? Lalu, aku kurang bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dengan sedikit keberanian, aku mengintip ke dalam. Tampak Chanyeol sedang mengacak-acak rambut Seohyun, kemudian mencium puncak kepalanya sekilas. Uhh! Entah mengapa, dadaku sesak ketika melihatnya. Namun, aku buru-buru berlari sedikit menjauh kemudian kembali lagi berjalan ke ruang kesehatan seperti tak terjadi apa-apa.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku pada Chanyeol ketika kami berpapasan.

“Dia baik-baik saja. Aku baru saja ingin menemuimu.” Dia menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum tipis. Senyum palsu.

“Baguslah. Gomawo Chanyeol.” Aku segera memasuki ruang kesehatan dan mendapati Seohyun sedang memandang ke arah lapangan. Mukanya sudah tak sepucat tadi.

“EHEM” aku berdeham agar dia menyadari keberadaanku.

“Eh..oh..Sehun-ssi..”

“Ne.. apakah kau sudah pulih?” tanyaku dengan senyum yang sedikit kupaksakan. Dia memandangku aneh. Kenapa?

“Ne.. sedikit. Jeongmal Kamsahamnida” dia membungkukkan sedikit badannya sambil tersenyum tulus. Ah.. senyum itu.. senyum yang hangat.

“Gwehanna. Kau sakit apa?” kali ini aku ingin  menguji apakah ia mau menceritakannya kepadaku atau tidak.

“Anhi, aku hanya kelelahan.”

BOHONG! Kenapa kau tidak ingin menceritakannya padaku? Apakah Chanyeol orang yang special bagimu? Aku meruntuk dalam hati.

“Sebaiknya kau jangan terlalu meksakan diri. Banyak istirahat ya!”

CKLEK!

Chanyeol membuka pintu sambil menenteng kantong plastic berwarna putih, yang bisa kutebak isinya adalah obat.

“Seohyun.. aku permisi dulu, ya. Annyeong.” Aku tak punya pilihan lain. Aku tak mau memusingkan diri dengan perasaanku.

Ne. Just what I feel to you Seoh.

-TBC-

Jangan lupa RCL ya..  Gomawo udah baca.. *bow*

Iklan

4 pemikiran pada “Love Tears (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s