Fall (Chapter 3)

Title: Fall (Chapter 3)

Author: zelowifey

Length: Multi Chapter

Genre: Drama, Romance, Friendship

Main Cast: Luhan (EXO-M), Jinri (OC)

Support Cast: Sehun (EXO-K), Kai (EXO-K), Kris (EXO-M)

Note: Mianhe di publishnya lama, soalnya kan harus ngantri dulu huhu T.T hope you guys enjoy reading this chapter and don’t forget to leave a comment chingu! 😀

————————————

Fall Chapter 1 (exofanfiction.wordpress.com/2012/08/14/fall-chapter-1/)

Fall Chapter 2 (https://exofanfiction.wordpress.com/2012/09/25/fall-chapter-2/)

————————————

“Luhan-ssi sebenarnya kita mau kemana?” Jinri bertanya kepada Luhan dengan nafasnya yang terengah-engah akibat terlalu lama berlari, jujur saja saat ini Jinri merasa begitu lelah, bingung, dan juga takut, karena sejak awal Luhan tidak mengubris pertanyaannya sama sekali, sebenarnya kemana namja ini akan membawanya? sudah terlalu lama mereka berlari tanpa arah tujuan yang jelas. Rasa takut pun semakin menghampiri Jinri ketika dia telah menemukan dirinya berada di lingkungan yang begitu asing baginya, tidak terdapat banyak orang yang berada di tempat ini, dan karena hal itu Jinri pun benar-benar merasa ketakutan sekarang. Jinri menarik tangannya secara kasar dari ikatan tangan Luhan, kemudian dia menatap Luhan sambil mengerutkan kedua alisnya, kesal. Luhan balik menatapnya dengan ekspresi penuh tanda tanya, layaknya orang-orang yang tidak bersalah alias innocence.
“Luhan-ssi apa kau tuli? sebenarnya kau ingin berlari sampai kapan? mengapa kau selalu mengacuhkan pertanyaanku?” suara yang Jinri keluarkan terdengar begitu kesal, sama dengan rawut wajahnya saat ini, namun sebenarnya itu hanyalah cara bagaimana dia menyembunyikan rasa takutnya. Namun belum sempat Luhan berbicara, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang memanggil namanya, mereka berdua pun menoleh kearah sumber suara tersebut, dan ternyata suara tersebut berasal dari Sehun dan Kai yang sedang melambai dan tersenyum kearah mereka.

Setelah mengisi perut mereka, dan pergi menemani Sehun yang merengek minta dibelikan hot chocolate, akhirnya mereka semua (termaksud Jinri didalamnya, walaupun sejak awal dia tidak memiliki niat sama sekali untuk ikut membolos) memutuskan untuk kembali ke sekolah. Sesaat Jinri berpikir bahwa opininya memang benar, benar bahwa tidak seharusnya seseorang men-judge orang lain begitu saja, contohnya para namja di sekitarnya ini. Mereka terlihat begitu berbeda saat mereka berada di luar sekolah, mereka tidak terlihat begitu mainstream seperti apa yang selalu terlihat sebelumnya, dan jujur saja mereka adalah orang yang cukup menyenangkan baginya. Terlebih lagi Luhan, mungkin ini adalah sebabnya mengapa orang-orang seperti dirinya dapat diterima di keramaian dengan mudah. Namun bukan berarti Luhan berpura-pura menjadi orang lain agar dapat diterima dikeramaian, melainkan karena Luhan adalah orang yang dapat memberikan kesempatan kepada orang lain untuk masuk kedalam keramaian yang dia buat, dan bagaimana dia memiliki kemampuan untuk membuat orang lain disekitarnya merasa nyaman. Hal-hal tersebutlah yang dirasakan Jinri saat ini, Luhan adalah satu-satunya orang yang terlihat begitu berbeda dimatanya.

Hari demi hari berlalu, dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa nampaknya Jinri dan Luhan menjadi semakin dekat, selama menghabiskan banyak waktu bersama Luhan, Jinri belajar mengenai Luhan lebih dari dia belajar mengenai siapapun, dan hal yang spesial tentang pertemanan mereka ini adalah, mereka tidak perlu berbicara banyak hal. Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu mereka bersama pada jam istirahat sekolah di dalam kelas, namun hal tersebut sama sekali tidak pernah di rencanakan, karena nampaknya mereka berdua memang lebih senang menghabiskan waktu mereka di kelas. Saat jam istirahat dimulai, hal yang di lakukan Jinri tentu saja adalah membaca, dan hal yang Luhan lakukan adalah… tidur, namun hal tersebut lebih baik ketimbang membolos bukan.
Jinri menemukan dirinya yang telah begitu terbiasa dengan kehadiran Luhan disisinya, terkadang Jinri juga dengan senang hati menemani dan mendengarkan Luhan dikala masalah yang sedang dia hadapi belakangan ini, dan bisa dibilang Jinri semakin mengerti dan memahami diri Luhan lebih dari siapapun, begitu juga sebaliknya. Suatu ketika Jinri memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Luhan tentang masalah sebenarnya yang sedang dia hadapi, dan ternyata masalah yang dia hadapi bukanlah masalah kecil yang dapat dia selesaikan begitu saja. Orang tua Luhan baru saja bercerai, dan hyungnya Kris memaksanya untuk ikut pergi bersamanya dan ayahnya, karena dalam waktu dekat mereka berdua akan pergi ke Jepang dan tinggal disana untuk beberapa waktu. Disisi lain Luhan sama sekali tidak ingin pergi meninggalkan Seoul, apalagi pergi meninggalkan ibunya begitu saja, sedangkan hyungnya terus menerus memaksanya untuk ikut bersama dirinya dan ayahnya ke Jepang.

“Luhan-ssi, mungkin aku tidak bisa berbuat apapun untuk dapat membantumu, namun aku bisa berjanji bahwa kau tidak akan menghadapi semua ini sendirian” ujar Jinri dengan benar-benar tulus, sebenarnya kalimat yang baru saja dia ucapkan keluar begitu saja dari dalam mulutnya, namun Jinri punya keinginan yang begitu kuat untuk mengerti dan memahami Luhan, dan memang Jinri bisa dibilang sebagai orang yang telah mengerti dan memahami Luhan, hal tersebut bisa dilihat dari Luhan yang mau berbicara tentang masalah yang sedang dia hadapi dengan begitu terbuka kepada Jinri, karena Sehun dan Kai pun bahkan tidak tahu akan masalah ini. Mendengar hal tersebut keluar dari mulut Jinri, pandangan Luhan melembut, tersentuh pada setiap kata yang baru saja Jinri ucapkan, walaupun rawut wajahnya masih sama seperti sebelumnya, namun sebenarnya perasaannya saat ini sudah mulai membaik. “thank you” Luhan berkata kepada Jinri.

Dan sejak saat itu pertemanan diantara mereka benar-benar terjadi.

Suatu hari disaat jam istirahat sekolah, Jinri terlihat sedang membaca buku psikologi yang baru saja dia pinjam dari perpustakaan sekolah, dengan Luhan yang seperti biasa sedang tidur dikursinya. “kenapa kau suka membaca buku-buku seperti ini?” tanya Luhan yang secara tiba-tiba terbangun dari tidurnya, Jinri mengalihkan pandangannya kearah Luhan, dan setelah itu kembali memfokuskan pandangannya kembali kepada buku psikologinya seraya berkata, “buku-buku seperti ini memberikanku pelajaran mengenai kehidupan, serta membaca jalan pikir bahkan tingkah laku manusia itu sendiri” jelas Jinri. Setelah mendengar penjelasan Jinri barusan, seketika Luhan berpikir bahwa Jinri nampaknya memanglah berbeda dari kebanyakan orang, hal itu bisa dilihat dari selera musiknya yang berbeda, dan juga selera bukunya yang berbeda dari kebanyakan remaja seusianya. Tentu saja karena kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk membaca manga atau novel romantis dan lain sebagainya. Namun hal tersebut sama sekali bukanlah hal yang buruk, karena yeoja bernama Jinri ini nampaknya terlihat begitu mengenal dirinya sendiri lebih dari siapapun, dia selalu melakukan hal yang dia sukai tanpa memperdulikan apa yang orang lain katakan tentang dirinya, dia begitu asli dan juga apa adanya, pikir Luhan. Dan setelah itu dia tidak bisa berbuat apapun lagi kecuali tersenyum kecil sebelum kembali melanjutkan aktivitas tidurnya barusan.

Beberapa saat kemudian, Jinri mendongak dari buku psikologi yang sedang dia baca, lalu mengintip kearah namja tampan yang sedang tertidur disampingnya, dan melihat bagaimana mulut namja itu yang sedikit terbuka, hal tersebut merupakan salah satu kebiasaannya ketika dia sedang tertidur pulas. Jinri tidak bisa melakukan apapun kecuali merasakan daya tarik yang dia rasakan kepada Luhan. Jinri sama sekali tidak tahu, dia tidak tahu bahwa sebenarnya Luhan dengan perlahan telah masuk kedalam daftar orang yang begitu berarti bagi dirinya. Luhan yang belakangan ini telah mengisi udara kosong didekatnya, Luhan yang telah memasuki tempat yang sebelumnya tidak pernah berpenghuni didekatnya, dan Luhan yang juga telah menambal lubang kosong yang telah tumbuh didalam hatinya beberapa tahun terakhir ini. Jinri tidak bisa melakukan apapun kecuali merasakan perasaannya yang mulai tumbuh tanpa pernah dia rencanakan sebelumnya kepada namja satu ini, dan hal tersebut jelas bukan berasal dari feromon yang Luhan pancarkan atau semacamnya, melainkan karena namja bernama Luhan ini telah berhasil mendorong kesepian keluar dari dunianya. Perlahan tapi pasti, namja ini telah menjadi bagian dari orang yang begitu spesial bagi dirinya, namun sepertinya Jinri belum sadar akan hal-hal tersebut, hal yang menujukkan bahwa sebenarnya dia telah jatuh cinta kepada Luhan. Walaupun Luhan yang kini telah berbeda dengan Luhan yang Jinri kenal saat pertama kali mereka bertemu, Luhan yang selalu tersenyum dengan begitu menawan, Luhan yang selalu terlihat bersemangat, namun jelas Luhan yang sekarang sungguhlah berbeda, Luhan kini telah berubah.

Namun bukan berarti Luhan yang lama telah lenyap untuk selamanya bukan? pikir Jinri.

Semuanya baik-baik saja, sampai suatu ketika seseorang yang menjadi alasan mengapa Luhan ingin tetap tinggal di Seoul sudah tidak berada dipihaknya lagi, dan orang tersebut tidak lain adalah ibunya sendiri. Ibunya berkata kepada Luhan bahwa dia setuju akan rencana yang dibuat ayahnya serta hyungnya untuk membawanya pergi ke Jepang. Ibunya berpikir bahwa tidak ada salahnya bagi Luhan untuk ikut bersama mereka, namun Luhan sama sekali tidak setuju dengan apa yang dikatakan ibunya. Dia tidak bisa percaya bahwa ibunya tega melakukan hal tersebut kepadanya, karena sejak awal Luhan sama sekali tidak ingin pergi. Saat ini Luhan merasa begitu sedih dan juga marah, terlebih lagi dia merasa begitu kecewa, tidak ada seorang pun yang berada dipihaknya. Pertama ayahnya lalu hyungnya, mereka berdua mencoba menghentikan Luhan dari hal yang ingin dia lakukan, yaitu untuk tetap berada di Seoul. Kedua, orang yang merupakan alasannya untuk tetap tinggal, juga tidak berada dipihaknya lagi. Setelah itu Luhan tidak berkata apapun kepada ibunya lagi, dan dengan perasaan yang begitu berat, Luhan berjalan menuju kamarnya. Perasaan yang sekarang Luhan rasakan kali ini benar-benar tidak dapat diungkapkan, dimana kekecewaan dan amarah berkumpul menjadi satu.

Keesokan harinya, setelah sekolah usai dan sebelum libur akhir pekan dimulai, para murid dikelasnya termaksud Sehun dan Kai telah pergi meninggalkan kelas, sedangkan Jinri terlihat sedang merapikan barang-barangnya dari atas mejanya, namun langkahnya terhenti saat dia melihat Luhan yang sedang melamun tidak bergeming dari kursinya. Sejak tadi pagi tingkah Luhan begitu aneh, dia terlihat berbeda dari biasanya bahkan dia tidak tertidur sama sekali di dalam kelas hari ini, dan ada sedikit garis hitam terlukis dibawah matanya.
Dan hal tersebut sama sekali tidak membuat Jinri untuk tidak merasa khawatir.

Ponsel Luhan tiba-tiba saja berdering, dan ketika Luhan melihat siapa orang yang baru saja menghubunginya, tiba-tiba saja rawut wajahnya berubah dan amarah mulai merasuki jalan pikirnya, dan dalam sekejap Luhan telah membanting ponselnya kebawah lantai. Jinri terkesiap melihat hal tersebut, dan tanpa banyak pikir dia segera berjalan menghampiri Luhan.

“Luhan waeguraeyo? kenapa kau membanting ponselmu?” Jinri binggung mengapa Luhan tiba-tiba saja melakukan hal tersebut, dan mengapa rawut wajah namja ini seketika berubah menjadi begitu kesal. Luhan mendongakkan lehernya keatas menatap Jinri, dan senyuman licik perlahan terukir dari sudut bibirnya, “wae? apa kau juga akan menghentikanku dari hal yang ingin kulakukan?” Luhan bertanya sambil terkekeh pelan, nada suara yang dia keluarkan kali ini terdengar jahat. “mwo? apa ada sesuatu yang terjadi padamu Luhan?” Jinri binggung, dia yakin pasti ada suatu hal yang membuat Luhan berbicara seperti itu.

“jangan pernah berpikir seolah-olah kau telah mengenalku” Luhan berkata dengan nada suara yang sangat dingin dan angkuh, kata-kata yang baru saja diucapkan Luhan jelas bukan apa yang Jinri harapkan, kata-kata yang baru saja dia keluarkan seolah memukul Jinri dengan keras. Jinri mencoba mencari jawaban atas perkataan Luhan barusan, namun saat ini dia tidak dapat berbicara, dia tidak dapat berpikir, yang dapat Jinri lakukan hanyalah merasakan, dan ada sebuah emosi yang mulai mengambil alih jalan pikirnya.

“yah kau tidak menjawab pertanyaanku barusan” Jinri membuka mulutnya lagi  ketika Luhan berdiri dari kursinya. “jadi apakah aku harus menjawab pertanyaan darimu?” Luhan berkata dengan nada suara yang tidak kalah dingin dari sebelumnya, apakah namja yang sedang berada dihadapan Jinri kali ini benar-benar Luhan? ucapan yang baru saja dia keluarkan begitu kejam, bahkan menyakitkan. Luhan mendengus, dia menatap Jinri dengan tatapan rendah dan sinis, tatapan Luhan saat ini sama seperti tatapan orang-orang yang sebelumnya pernah men-judge Jinri karena dia begitu berbeda dari keramaian. Saat mendapatkan tatapan seperti itu dari orang lain, Jinri sama sekali tidak mengubris mereka, dia bahkan tidak peduli, namun ketika dia mendapatkan tatapan seperti itu dari Luhan, orang yang dia percaya berada dipihaknya, rasanya begitu menyakitkan.

“sesuatu pasti telah terjadi sehingga kau menjadi sepert ini bukan? sebenarnya apa yang terjadi padamu Luhan? apakah hal ini ada kaitannya dengan keluargamu lagi? ceritakan padaku Luhan, mungkin aku bisa membantu” Jinri berbicara senormal mungkin, mencoba meredakan ketegangan diantara mereka berdua, dan menyangkal bahwa namja dihadapannya kali ini benar-benar Luhan.

“anniyo,” Luhan berbisik, dia hanya diam, dan setelah beberapa detik Luhan kembali melanjutkan kalimatnya, “jangan pernah mencoba untuk mencampuri masalah orang lain ketika kau sendiri tidak bisa menyelesaikan masalahmu dengan baik, maka dari itu… gojjo“.

Darimana bahkan datangnya namja bernama Luhan ini? kata-kata yang baru saja dia ucapkan seolah meremas tenggorokan Jinri dan merobek jantungnya, namun Jinri tetap memasang wajah pokerfacenya, sebuah kebiasaan yang telah menjadi bagian dari dalam dirinya sejak berpura-pura untuk tidak mendengar ketika orang-orang disekitarnya berbisik kearahnya seperti “dia benar-benar aneh” dan “mengapa orang memboringkan seperti dia masih hidup di jaman ini?”.

“jadi menurutmu aku tidak bisa menyelesaikan masalahku dengan baik?” tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulut Jinri, Luhan sedikit tersentak saat mendengar hal itu.
Jinri tahu bahwa sebenarnya Luhan berkata hal-hal semacam itu hanya demi meluapkan kemarahannya saat ini, dan Jinri tahu bahwa Luhan yang dia sukai masih ada disana, Luhan yang sedang merasa begitu buruk karena telah begitu kejam terhadap dirinya beberapa saat yang lalu, namun sepertinya Luhan sendiri tidak akan meminta maaf dalam waktu dekat.

“sebenarnya ada apa Luhan? pasti ada suatu hal yang terjadi padamu bukan? mengapa kau menjadi seperti ini? mengapa kau begitu marah?” Jinri mencoba melembut sekali lagi, dia tahu bahwa sikap Luhan selalu berubah setiap kali dia memiliki masalah yang tidak dapat dia selesaikan. “jangan sok pintar,” bentak Luhan, kemudian dia melanjutkan kalimat kejamnya “jangan pernah berpikir seolah-olah kau telah mengenalku dengan baik, mungkin kau memang pintar, namun jangan pernah berpikir bahwa kau telah mengenalku sama seperti apa yang kau kira selama ini”.

Mereka berdua tahu bahwa itu adalah sebuah kebohongan, mereka berdua tahu bahwa Jinri mampu mengenal dan memahami Luhan lebih dari siapapun, begitu juga sebaliknya.
Walaupun begitu Luhan kembali melanjutkan kalimat kejamnya. “urus saja urusanmu sendiri, untuk apa kau memperdulikan urusan orang lain, lagipula percuma, tidak ada seorang pun disekelilingku yang dapat memahamiku!”

“tidak ada seorang pun disekelilingmu?” Jinri tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Luhan, “lalu bagaimana denganku Luhan? bagaimana dengan Sehun dan Kai? yang selalu menemanimu selama ini, apakah mereka bukan siapapun bagimu? apakah aku pun juga bukan siapapun bagimu? apakah itu berarti walaupun selama ini aku mencoba untuk mengerti berbagai hal tentangmu, namun aku tetap tidak berarti apapun dimatamu?!” Jinri meluapkan semuanya kepada Luhan, mencoba membuat suaranya terdengar semarah mungkin, dan dia memang berhasil melakukan hal tersebut, namun sebenarnya… hatinya hancur. Dan hatinya benar-benar hancur ketika Luhan gagal berkata apapun lagi, menandakan bahwa mungkin saja Jinri memang benar, benar bahwa sesungguhnya dia tidak berarti apapun dimata Luhan.

Dikala kesendiriannya selama ini, Jinri belajar dari buku-buku yang dia baca, bagaimana dia belajar mengenai kehidupan dan mencoba meneliti seseorang dari dalam bukunya, hanya dari dalam bukunya. Karena siapa orang yang dapat dia pelajari ketika dia selalu sendiri?. Hal tersebut mungkin yang membuatnya begitu senang dan tertarik saat dia bisa meneliti seseorang secara langsung untuk pertama kalinya.

Seseorang bernama Luhan, yang kini menarik tasnya dari atas meja lalu menendang meja tersebut sebelum dia keluar dari dalam kelas. Tanpa satu kata, tanpa ucapan selamat tinggal, bahkan tanpa kalimat ‘sampai jumpa besok’ yang biasa dia ucapkan kepada Jinri sebelum mereka berdua berpisah. Itulah bagaimana cara Luhan pergi meninggalkan Jinri kali ini, diamnya Luhan merupakan jawaban atas pertanyaan Jinri barusan, bahwa mungkin dia memang bukanlah siapapun bagi Luhan selama ini.

Sebelumnya, Jinri tahu bahwa pertemanan yang selama ini dia buat dengan orang lain tidak akan berlangsung lama, dan dia telah belajar untuk tidak terikat kepada mereka semua, karena cepat atau lambat, dia tahu bahwa teman-temannya pasti juga akan pergi meninggalkannya, sama seperti yang selalu terjadi sebelumnya.

Maka dari itu, dia sudah terbiasa dengan semua ini, terbiasa melakukan segala suatunya sendirian, dia memang telah terbiasa sendiri.

Namun ketika Jinri menduga bahwa Luhan akan berbeda dari mereka semua, dan ternyata dugaannya salah, hal tersebut sama sekali tidak membantunya untuk tidak menangis. Luhan telah pergi meninggalkan dirinya, kepergian Luhan juga telah meninggalkan sebuah luka. Luka didalam hati kecil Jinri, luka yang telah dibuat oleh Luhan dengan cara bagaimana dia telah menambal lubang dihati Jinri dengan begitu manis, kemudian dia membuat lubang tersebut terbuka, menganga, dan kosong kembali, bahkan lebih kosong dari sebelumnya.

Jinri bertanya-tanya di dalam benaknya saat ini, apakah dia masih bisa bertemu dengan Luhan setelah semua kejadian ini? tentu saja Jinri masih bisa melihat Luhan disekitar sekolah, bahkan didalam kelasnya. Namun apakah Luhan yang akan dia temui akan tetap sama seperti sebelumnya? akankah Luhan masih ingin menjadi temannya lagi? akankah Luhan memberikan senyum seringainya ketika mereka berpapasan lagi? atau akankah Luhan berada disisinya, mengisi kursi kosong disampingnya dan menemaninya lagi?.

Sepertinya tidak, Jinri tahu bahwa dia telah sendiri lagi, dia memang terbiasa dengan kesendirian, namun semuanya berubah ketika Luhan datang dan masuk kedalam hidupnya. Jinri tidak bisa melakukan apapun kecuali menyalahkan dirinya sendiri karena telah membiarkan dirinya begitu terikat kepada Luhan, dan berpikir mengapa dia begitu bodoh mengizinkan Luhan untuk memanifestasi seluruh perasaannya, padahal sebelumnya dia selalu berhati-hati untuk tidak terlalu terikat pada orang lain.

“pabo” Jinri berbisik kepada dirinya sendiri.

Jinri menjatuhkan tubuhnya ketanah dan memeluk erat dengkulnya, menangis terisak-isak untuk pertama kalinya sejak terakhir kali dia menangis ketika umurnya masih 6 tahun.
Sore itu Jinri mengeluarkan seluruh tangisannya, bersamaan dengan semua perasaan yang dia rasakan kepada namja bernama Luhan, dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak bertindak bodoh seperti ini lagi.

Falling for you was never the plan, I was never supposed to fall so hard, but you know what? I did and that’s the truth. That’s why it hurts like hell to let you go.

TBC

26 pemikiran pada “Fall (Chapter 3)

  1. Astaga…… luhan kenapa? Dan tokoh jinri…. kesannya kuat banget.. ya ampun
    No comment untuk ffnya.. tapi thor, dibuat banyakin percakapannya dong….. pengin lebih tahu lagi kalimat kalimat luhan sama jinri (:
    Have a nice day thor^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s