The Legend of The Knights (Chapter 2)

The Legend of The Knights :

The Tree of Live PART 2

Cast:

Lee Yoon Hee (OC)

Sehun Exo K as Lee Sehun (Nama marga diganti)

Suho Exo K

Kris Exo M/ Wu Yi Fan

Other Cast:

Find it!

Genre: Action, Sci-Fi, Fantasy, Romance, Friendship

Author: @riezka03

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Disclaimer: The Story isn’t all mine, maybe inspired by Exo’s MV MAMA and some other stories. The casts belongs to SMEnt. If you mant to copy, make sure you have my permit! No SIDERS! No PLAGIARISM!

Jreng! Part 2 akhirnya selesai. Dengan berbagai kesibukan author nih *sok sibuk*. Akhirnya part 2 selesai juga. Lama ga? Lama ya? Author lagi error. Dan lagi sepi ide

 Mian banyak typo. Author masih amatir.

Yaudah, daripada banyak omong. Chek this out! Semoga suka.. J

___________________________________

Seoul National University

“Yoon Hee awas! Ada motor!” pekik Seohyun.

Yoon Hee menoleh ke arah sumber suara. Lalu menoleh ke arah datangnya motor itu. Yoon Hee tak bisa berbuat apa-apa. Terlambat jika ia bergerak sekarang.

Yoon Hee hanya pasrah sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

CKIITT!!!

SRAK!!

Arkh!!!

~~~~~~~

“Sial! Sudah jam segini. Aku harus cepat-cepat.” Umpatku begitu aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 8.

Kugas motor yang kukendarai ini lebih cepat. Masa bodoh di area kampus. Yang penting aku tidak terlambat.

Aku terkaget begitu melihat seseorang berjongkok di tengah jalan.

Dengan cekatan, aku mengerem motorku dan melakukan manuver ekstrim. Dan..

CKIIT!!!

SRAK!

ARKG!!

“Fiuh, untung masih sempat.” Ujarku

Hampir saja motorku menabrak gadis itu. Bodohnya dia mengapa berjongkok di tengah jalan. Sebagai akibatnya, aku dan motorku terguling meskipun tidak terlalu keras.

Kulihat gadis itu menutupu wajahnya sambil berjongkok. Kenapa ia tidak segera pergi sih?

“Ya! Gadis gila! Kau mau mati hah?” bentakku pada yeoja itu. Ia berdiri perlahan sambil terus menutupi wajahnya.

“Ya! Kau dengar aku tidak sih?” tambahku.

Gadis itu membuka telungkupan wajahnya dan memandangku.

“Kau sendiri kenapa ngebut?” tanyanya balik.

Yeoja ini..!

“Aku sudah terlambat! Kau menghalangi jalanku saja! Minggir!” bentakku. Gadis itu tidak bergeming.

“Kau tuli, ya?!” tanyaku lagi. Aku bisa merasakan semua pasang mata memandangi kami. Masa bodoh!

“Yoo-ah.. minggirlah.” Seorang gadis lagi menarik-narik temannya itu agar minggir dari jalan. Namun gadis gila itu tak bergeming.

“Geez! Dasar!” umpatku pada gadis itu. Aku menyalakan mesin motorku dan segera pergi lewat jalan yang tidak dihadangnya. Dapat kulihat dari spion motorku dia memandang sadis ke arahku.

~~~~~~~

Yoon Hee berjalan dengan dongkol menuju gedung kampusnya. “Sial sekali sih. Sudah hak sepatuku copot, hampir ditabrak pula!” umpatnya pada diri sendiri.

“Sudahlah. Sabar. Kau sih, pake acara mau nolong anjing segala. Lagian mana ada anjing di sana sih?” jawab Seohyun.

Yoon Hee terhenti. Dia ingat alasannya pergi ke tengah jalan dengan tergesa-gesa dan membuat hak sepatunya copot juga membuatnya hampir tertabrak. Anjing itu!

“Anjing itu?!” gumamnya pelan.

“Anjing apa lagi sih.?” Kini giliran Seohyun yang mulai geram.

“Hyun-ah. Tadi kau lihat anjing itu tidak?” tanya Yoon Hee pada temannya itu.

“Anjing apa sih!? Aku tidak melihat apa-apa juga. Kau kenapa sih?” jawab Seohyun heran.

Yoon Hee terdiam. Seohyun tidak melihat anjing yang dimaksud olehnya. Apakah hanya dia yang melihatnya. Tapi tidak mungkin?

“Lagipula, sekarang yang perlu kau pikirkan adalah sepatumu itu yang patah. Memangnya kau mau jalan-jalan di kampus dengan sepatu rusak?” ucapan Seohyun membuyarkan lamunan Yoon Hee.

Ia melirik ke arah sepatunya yang sudah rusak itu.

“Hehe..” Yoon Hee hanya meringis.

“Sini.. ikut aku.”

Yoon Hee mengikuti Seohyun ke lokernya.

Seohyun membuka lokernya dan mengubek-ubek isi lokernya.

“Ah..” ujarnya ketika menemukan barang yang dicarinya.

“Igeo..” Seohyun menyodorkan sepasang sepatu kets berwarna biru.

“Eo..”

“Pakailah. Besok kau harus mengembalikannya!” ujar Seohyun lalu menyerahkan sepatunya pada Yoon Hee.

“Gomawo Seohyun-ssi. You are my best friend!” seru Yoon Hee lalu melepas sepatunya dan memakai sepatu kets Seohyun.

~~~~~~~

Aku masih sibuk dengan buku bacaan di depanku ketika Jungsoo mengetuk pintu ruang kerjaku.

“Harabeoji.. seseorang mencari anda.” Ujarnya.

“Nugu-ya?”

“…”

“Selamat pagi.. abeoji.” Terdengar suara seorang wanita. Disusul oleh sosoknya yang berdiri di belakang Jungsoo.

“K..kau?” ujarku.

“Lee Sooman abeoji.” Ujarnya membalas tatapan benciku.

“Mengapa kau di sini?” tanyaku pada wanita muda di depanku ini.

“Aku.. hanya ingin menyampaikan sesuatu… ayah.” Ucapnya pelan. Aku pikir dia akan membuat ulah lagi. Aku sedikit merasa lega. Mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu yang membuat segalanya kacau.

“Duduklah.” Pintaku. Dan wanita itu menuruti. Ia duduk di satu-satunya sofa di ruanganku ini.

“Jungsoo. Kau bisa pergi.” Ujarku pada Jungsoo yang setia menunggu perintahku itu. Ia pergi dan menutup pintu perlahan.

“Apa yang ingin kau sampaikan? Apakah kau kabur?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Sebenarnya aku masih ragu akan mengatakan ini.” ujarnya lemas. Aku memandangi seksama wajah menantuku itu.

“Abeoji. Aku ingin bertemu dengan anakku.” Pintanya yang langsung membuatku tersentak kaget.

“Tidak!” ujarku tegas.

“Bahaya akan mengejarnya jika kau bertemu dengannya.” Tambahku.

“Tapi, berita ini berhubungan dengannya.”

Aku terdiam. Benar firasatku jika hal ini akan terjadi. Kalung itu sudah menjadi miliknya.

“Abeoji..” pintanya memelas kepadaku.

“Katakan dulu apa yang terjadi..”

Dan dia bercerita kepadaku apa yang terjadi.

~~~~~

Yoon Hee dan Seohyun berjalan menyusuri koridor kampus. Mereka asyik bercanda. Dari kejauhan, seorang namja memperhatikan keduanya.

“Yoo-ah. Kau tahu tidak, namja yang hampir menabrakmu tadi?” tanya Seohyun di sela-sela perbincangan mereka.

Yoon Hee menggeleng. Ia duduk di salah satu sisi tembok pembatas koridor.

“Aku dengar.. dia itu orang yang berpengaruh di kampus ini.” tambah Seohyun.

“Ah.. biarlah. Toh dia yang menabrakku. Dan lagi. Salahnya mengapa mengebut..” jawab Yoon Hee dengan nada geram.

“Yoon Hee-ah!” terlihat seorang yeoja berlari menghampiri Yoon Hee dan Seohyun. Yeoja itu terlihat tergesa-gesa.

“Eo, Yuri? Waeyo?”

“Aduh, kemana aja sih. Dicariin juga?” balas gadis yang bernama Yuri itu.

“Mian, aku skip kelas pagi. Hehe.” Jawab Yoon Hee dengan meringis.

“Nah itu dia. Gara-gara kamu skip kelas pagi. Lee songsaenim marah besar!” ujar Yuri dengan menekan kata ‘marah besar’

“Jinjja?”. Yuri mengangguk.

“Cepatlah. Kau ditunggu di ruangannya.” Pinta Yuri. Yoon Hee segera meraih tasnya dan bergegas menuju ruangan songsaenimnya itu.

~~~~~~

Siang itu udara sangat panas. Di kantin SNU banyak berkumpul mahasiswa-mahasiswi SNU. Tak terkecuali Suho. Murid yang paling berpengaruh di SNU. Maklum, ayahnya adalah ketua yayasan.

“Ya! Kau tidak mengangkat teleponku kemana saja?” terdengar suara namja yang mengagetkan Suho.

“Ah, mian Baekhyun-ah. HP-ku ku silent.” Jawabnya polos.

“Sudahlah, sekarang yang terpenting mengapa kau tidak datang di kelas Lee Sungmin songsaenim?” tanya Baekhyun dengan geram.

“Ah, itu. Ada sesuatu gitu yang membuatku telat. Kau tahu? Gara-gara kemarin aku tidak ikut pelajaran tambahan. Vic songsaenim menyuruhku untuk membuat literatur tentang sejarah Inggris. Jadinya aku harus berangkat pagi-pagi untuk menemuinya.” Jelas Suho panjang lebar dengan ekspresi polosnya.

Baekhyun mendengus.

“Baguslah kau punya alasan. Sekarang kau dipanggil Lee songsaenim di ruangannya!”

“Mwo! Aku pikir Vic songsaenim mengizinkanku ke Lee songsaenim?!” ujar Suho shock.

“Kalau begitu tanyakan kepada orangnya. Sudahlah. Sekarang cepat pergi! Dia menunggumu” balas Baekhyun.

Dengan langkah cepat, Suho segera pergi menemui dosen mudanya yang satu itu.

At Lee Sungmin’s Office

Tok, tok

Aku mengetuk pintu ruangan itu perlahan. Terdengar suara seorang pria dari dalam.

“Masuk.”

Dan akupun membuka pintu kayu itu. “Permisi..” ujarku sopan.

“Ah, kau. Masuk.” Pintanya. Aku segera masuk dan duduk di dua kursi di depannya.

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Bersiap mendapatkan hukuman dari dosenku yang satu ini.

“Miss Lee Yoon Hee. Kau tahu kenapa kau aku panggil kemari?” tanyanya.

Aku hanya terdiam. Menimang kemungkinan yang ada. Tapi sudah pasti.

“Eh.. karena.. tadi pagi.. aku tidak mengikuti.. kelas pagi..” jawabku sedikit gugup.

Namun, Lee songsaenim hanya mengangguk angguk. Entah karena jawabanku benar atau karena hal lain. Aku berharap Lee songsaenim menjawabnya namun, seketika itu juga pintu ruangan terketuk.

Tok, tok

“Masuklah..” pintanya.

Seseorang membuka pintu dan masuk ruangan. Bisa kurasakan orang itu berjalan mendekat.

“Duduklah Suho..”

Orang yang dipanggil Suho oleh Lee songsaenim itu duduk di kursi sebelahku.

“Jadi, kalian berdua sudah di sini.” Ujar Lee songsaenim membuka percakapan.

“Kalianberdua sama-sama tidak mengikuti kelas pagi. Padahal, aku mengharapkan kalian hadir pagi ini. sebagai hukuman.. aku meminta kalian untuk membuat catatan mengenai permasalahan ekonomi di Korea dan solusinya. Kalian buat dalam bentuk makalah dan kumpulkan padaku dalam empat hari.” Jelas Lee songsaenim panjang lebar tanpa memberi kami celah untuk membela diri.

“Tapi..” namja di dekatku angkat bicara.

“Hm..?” Lee songsaenim mengangkat dagu.

“Eh.. tadi pagi. Vic songsaenim..”

“Aku tahu Suho.. meskipun kau mungkin merasa ini bukan kesalahanmu. Tapi, kenyataanya tadi pagi kau malah mengobrol dengan dosen muda itu kan? Dia hanya memintamu untuk mengumpulkan tugasmu padanya. Bukan mengobrol dengannya..” potong Lee songsaenim.

Aku memberanikan diriku untuk melihatnya. Dia terlihat sangat kesal. Saat itu mata kami saling bertemu.

“Neo..” ujarknya  menunjuk padaku.

Aku terdiam. Apa dia mengenalku? Nyatanya namja itu memandangiku seksama. Seakan aku baru saja melakukan kesalahan padanya.

“Ehem..” deheman Lee songsaenim menyadarkan kami berdua.

“Dan kalian harus bekerja sama untuk membuatnya.” Ujarnya menutup pembicaraan dan membiarkan kami berdua keluar.

~~~~~

“Cih, tugas lagi.. tugas lagi..” keluhku saat aku sudah keluar dari ruangan Lee songsaenim. Aku mendengus kesal dan segera berjalan meninggalkan koridor itu saat gadis tadi memanggilku.

“Suho-ssi!” teriaknya kepadaku. Aku menoleh.

“Eh.. apa kita.. pernah bertemu sebelumnya?” ujarnya polos.

Gees, ternyata dia tidak ingat. Dia orang yang hampir membuatku dan motorku terguling. Dan bahkan dia tidak mengingatnya. Tapi… masuk akal juga sih. Aku kan tadi memakai helm.

Aku berjalan mendekatinya.

“Kau adalah gadis yang berjongkok di tengah jalan dan membuatku hampir menabrakmu..” jari telunjukku menunjuknya.

Dia hanya termanggut. “Ah, kau..” hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.

“Cih. Salah sendiri ngebut..”. Hah? Tidak salah? Harusnya dia yang harus disalahkan.

“Tsk! Sudah salah malah menyalahkan orang lain..” gumamku geram.

“Ya! Saat itu.. saat itu..”

“Saat itu apa? Saat itu otakmu sedang berotasi hah? Jadi sembarangan berdiri di tengah jalan.” Potongku. Dia hanya terdiam dengan pandangan kesal padaku.

Kami saling diam, berharap salah satu dari kami angkat bicara.

“Wae?” dia memandang sadis ke arahku.

“Wae?” balasku.

“Kau harus minta maaf…” ujarnya.

“Hah? Aku? Minta maaf? Ya! Kau yang berada di tengah jalan dan menghalangi jalanku. Kalau aku tidak mengerem tepat waktu kau bisa tertabrak. Seharusnya kau yang berterima kasih plus minta maaf padaku.” Jawabku seraya menaikkan volume suaraku.

“Kok.. gitu?” jawabnya sok polos.

Ish! Gadis ini selain menyebalkan bodoh juga ya?

“Ah, sudahlah. Tak usah dipikirkan. Menyebalkan jika berdebat dengan gadis sepertimu..” ucapku datar lalu pergi meninggalkannya.

“Ya! Suho-ssi. Aku tidak peduli seberapa kesalnya dirimu padaku. Tapi kau harus tetap membantuku membuat makalah. Temui aku di perpus sepulang kuliah.!” Teriak gadis bodoh itu padaku saat aku berjalan meninggalkannya. Aku hanya mengangkat tanganku sebagai tanda mengerti.

~~~~~~

Sore menjelang. Langit mulai terlihat semakin gelap. Matahari telah siap untuk kembali ke peraduannya. Menyisakan semburat merah di langit kota Seoul.

Yoon Hee berjalan keluar dari kelasnya. Kelas terakhir yang didatanginya sore itu. Setelah melihat jam tangan yang melingkar manis di tangan kirinya. Gadis itu berjalan menuju ruang perpustakaan.

“Semoga dia ingat..” ujarnya pada diri sendiri.

Sesampainya di depan gedung perpusatakaan, Yoon Hee melangkah masuk ke gedung bercat putih itu. Gedung itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak yang menyempatkan diri mengunjungi perpus sebelum pulang.

Begitupun Yoon Hee. Meskipun di dalam benaknya ia menginginkan kamarnya dan kasurnya yang hangat. Namun ia masih memiliki beban menggarap makalahnya.

Yoon Hee merutuki dirinya sendiri yang lupa meminta nomor telepon namja itu. Dan hal ini membuatnya harus mencari di seluruh gedung perpus. Itupun jika namja itu memenuhi janjinya.

“Dimana ya?” Yoon Hee celingak-celingukan sendiri mencari sosok namja yang didaulat sebagai partner makalahnya itu. Merasa lelah, Yoon Hee memilih menyerah dan duduk di kursi perpus dan mulai menggarap makalahnya –sendiri-.

“Sendiri saja?” ujar seorang pria. Yoon Hee mendongak. Perasaannya sedikit lega karena bertemu orang yang dicarinya.

“Kenapa lama sekali? Kau lupa ya tugasmu?” gerutu Yoon Hee.

Namja itu hanya mencibir. Ia menarik kursi di sebelah Yoon Hee dan duduk.

“Sini, aku bantu.” Ujarnya menawarkan diri lalu mengambil alih buku tebal yang dipegang Yoon Hee.

“Kau cari bahannya di buku itu.  Aku cari di internet.” Pinta Yoon Hee.

“Ya, enak sekai kau mencari di internet. Sedangkan aku di buku?” kini namja ini yang menggerutu.

“Itu hukuman karena kau telat datang kemari.” Jawab Yoon Hee santai.

Mereka berdua dengan serius mengerjakan makalah tersebut. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa Suho sedang meati-matian menahan hasratnya untuk segera berlari keluar perpus dan mengambil alih motornya. Meskipun ia cukup pandai. Tapi kelemahannya adalah berada di ruangan yang penuh dengan buku.

Setelah 3 jam..

“Ah, sudah jam 7.” Ujar Suho. Suara namja itu menyadarkan Yoon Hee yang berkonsentrasi pada buku di hadapannya.

“Sebaiknya kita pulang.” Ujar Yoon Hee menyarankan.

Suho mengehelas nafas lega. Ia pikir yeoja itu akan menyuruhnya bekerja semalaman untuk menuntaskan makalah itu.

“Tapi besok seusai kuliah temui aku lagi disini.”

“Ah..” desah Suho. Baru saja ia merasa lega.

“Kenapa? Mengeluh?” tanya Yoon Hee dengan nada sarat akan ketidak sukaan.

“Ah.. ani.. aku.. hanya.. lupakan!” jawab Suho lalu melesat keluar dari perpus yang sudah mulai sepi.

Perpustakaan itu benar-benar sepi. Serasa hanya sang penjaga perpus dan Yoon Hee saja yang berada di ruangan itu.

“Gamsahamida songsaenim..” ucap Yoon Hee sopan pada wanita tua itu lalu pergi meninggalkan gedung perpus.

~~~~~~

“Ah.. dingin sekali.” desahku seraya menggosok-gosokkan tanganku.

Kulirik jam tanganku. “Pukul 7. Aku harus pulang sekarang.” Gumamku.

Aku berlari menuju gerbang kampus. Namun saat aku hendak melangkahkan kaki menuju halte yang letaknya tidak jauh dari kampus. Seseorang dengan sepedah motor hitamnya yang sepertinya familiar itu menghampiriku.

“Eo.. Suho?” gumamku memastikan bahwa sang pengemudi benar-benar Suho.

“Kau pikir siapa lagi?” jawabnya ketus lalu membuka kaca Helmnya.

“Naiklah.” Pintanya padaku.

“Aku?” ujarku cengo. Hah? Dia menyuruhku naik ke motornya?

Terbesit rasa curiga dan ragu di benakku. Yang benar saja. Kita baru kenal. Apakah ia akan mengantarkanku pulang?

“Akan kuantar pulang..” ujarnya sekali lagi.

Aku mengeleng. Hah, benar kan? Mengantarkanku pulang?! Sepede itukah dia berbicara seperti itu. Dia pikir aku percaya padanya?

“Ish.. sudahlah. Ini sebagai permintaan maafku karena hampir menabrakmu.” Tambahnya.

Aku masih saja diam mematung.

“Tenang saja. Aku orang baik-baik. Aku tak akan berbuat macam-macam padamu. Lagipula, kau bukan tipeku.” Ujarnya sedikit menyombong lalu membuang pandangannya ke arah jalanan.

“Mau tidak?” kini nadanya sedikit meninggi.

Dengan langkah ragu. Aku mulai mendekati motor Suho. Lalu dia menyodorkan helm padaku.

“Nah, begitu dong..” ujarnya.

Dengan canggung aku naik pada jok belakang motor Suho.

“Pegangan..” ujar Suho.

“Hah? Pegangan?” tanyaku sedikit lola.

Karena kelamaan mencari pegangan. Dan tentu saja aku tak menemukan pegangan yang pas disini. Dengan kasar Suho menarik tanganku dan mengalungkan tanganku pada perutnya.

“Daripada kau jatuh. Aku tak mau tanggung akibatnya.” Ujarnya ketus.

Dan dengan hitungan detik. Motor Suho sudah melesat melanggang keluar menuju jalanan kota Seoul yang padat. Satu hal yang membuatku takut, dia mengendarainya sangat kencang.

“Kau mau membunuhku huh? Ini terlalu kencang.” Keluhku dengan setengah berteriak.

“Hah? Apa? Aku tak dengar? Kau mau lebih kencang? Baiklah..” ucapnya.

Hah? What? Gila. Dia memang benar-benar ingin membunuhku. Suho mengegas motornya semakin kencang dan secara mendadak. Membuatku hampir terjengkang ke belakang. Reflek, aku memeluk Suho semakin erat. Mau bagaimana lagi? Tak ada pegangan yang pas selain badan Suho?

~~~~~~

At other place

Brugh!

Suara tubuh seorang pria terhempas menabrak kardus dan tong sampah di gang sempit itu. Darah segar mengucur deras dari hidungnya. Kulit wajahnya yang putih itu terlihat lebam.

“Heh? Hanya segitukah kemampuan kalian?” ujarnya dengan nada menantang pada dua orang pria bertubuh besar di depannya. Yang membuatnya menjadi seperti ini.

“Cih, benar-benar. Kau memang bernyali besar nak.” Jawab seorang pria bertubuh besar berjaket kulit.

“Habisi saja dia!” ujar pria yang satunya lagi.

Dengan serempak mereka mengangkat tubuh pria itu denga satu tangan lalu memukul perutnya. Membuat pria bertubuh lebih kecil dari mereka itu terhempas jatuh dengan darah yang lagi-lagi keluar dari mulutnya. Yang membuatnya tak sadarkan diri.

“Sudah. Dia sudah mampus. Ambil uangnya.” Ujar salah satu dari mereka setelah puas menghajar pria itu.

Kedua pria itu mengambil dompet yang berada di saku belakang celana pria malang itu.

“Cih.. orang cina rupanya. Xi Luhan..” gumam pria berjaket kulit sesaat setelah ia melihat kartu tanda pengenal milik pria bernama Luhan itu.

“Ambil uangnya. Tinggalkan dompetnya.” Pinta salah satu pria itu lalu keduanya pergi.

To Be Continue..

Part 2 selesai.. gimana nih readers? Makin bagus, atau makin ngebosenin? Mian kalo kepanjangan dan terkesan bertele-tele. Yang request supaya aak panjang. Author sudah berusaha nambah.. satu lembar ms word. Jadi totalnya 14.. hehehe.. gak ngaruh kalo cuman 1 lembar ya? Oke, setelah membaca. Pastikan comment ya readers..

14 pemikiran pada “The Legend of The Knights (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s