Oh! Duizhang! (Chapter 2)

Title : Oh! Duizhang!

Author : Anggra @AnggrainiHanafi

Genre : Romance, adventure

Cast : Kris EXO-M, Yiseul, Goo Hyun Jung

Length : multi-chapter

Rate : PG 16

 _________________________________________

PART 2

Duizhang, itu nama panggilanku yang baru untuk Kris. Duizhang berarti “pemimpin” dalam bahasa China. Kebetulan, dia seorang pebisnis muda dan sudah mempunyai perusahaan yang maju, tidak ada salahnya aku memanggilnya dengan duizhang.

Pagi ini aku masuk kerja, Kris masih ada pertemuan untuk hari ini. Setelah semalam kami baru sampai dari Gangwon, rasanya lelah sekali. Aku tidak tahu bila pagi ini Kris ada pertemuan, pasti dia masih sedikit lelah, seandainya saja aku tidak mengijinkannya ikut ke gunung Seoraksan. Aku sedang berpikir ketika pak Kim masuk, tepatnya pak Kim Sooro

“Yiseul, apa kau bisa terbang ke Jeju besok?” aku terkejut

“Jeju? Untuk apa pak” tanyaku

“mendadak kau harus mensurvei  pantai disana, pulau kelinci”

“lalu bagaimana dengan duizhang?” tanyaku pada pak Kim soal Kris

“duizhang? Siapa dia?”

“ahh” aku menepuk dahiku

“pengusaha muda dari China itu, Kevin Li, apa dia harus ikut?”

“tentu saja, aku akan mengurus semua akomodasinya, tinggal berangkat saja”

“benarkah? Berapa lama?” tanyaku sekali lagi

“2 hari, jangan khawatir, tiket kalian akan kusiapkan sebentar lagi”

“aah, iya baiklah pak Kim”

Baru saja kemarin kami dari Gangwon dan besok harus terbang ke Jeju selama 2 hari, apalagi dengan duizhang yang satu itu lagi. Aku akan memberi tahunya nanti ketika kami sudah bertemu. Tak berapa lama, pak Kim menyerahkan 2 buah tiket pesawat menuju pulau Jeju. Kulihat, kami akan terbang pukul 10 pagi, semoga dia tidak ada jadwal.

Ponselku bordering dan ada “duizhang” disana. Dia sudah selesai dengan pertemuannya. Aku segera minta izin pada pak Kim untuk meninggalkan kantor dan segera menuju ke hotel Shilla. Aku berencana mengunjungi Bukchon hanok Village di distrik Jongno, melihat tempat pembuatan toenjang dan gochujang, serta belajar membuat kimchi. Aku segera menuju hotel Shilla dengan mobilku.

Aku menunggu Kris di lobi hotel. Rupa-rupanya resepsionis sudah hapal bila aku akan menjemput Kris. Sekali lagi, resepsionis yang bernama nona Goo Hyun Jung itu mengira bila aku dan Kris adalah pasangan.

“duizhang” aku memanggil Kris, dia melihatku

“hai, apa aku oke masih dengan pakaian ini? Dia masih mengenakan pakaian resminya

“ah, tak apa, ayo kita berangkat!” ajakku

“hari ini kita akan kemana?” Tanya Kris ketika di dalam mobil

“ke Bukchon, distrik Jongno, kau akan belajar banyak disana”

“benarkah?” tanyanya

“iya, oh iya, apa 2 hari ke depan kau ada pertemuan?” tanyaku

“tidak, semua pertemuanku sudah selesai” jawabnya

“emm, mulai besok hingga lusa aku ditugaskan ke Jeju, kau mau ikut?” tanyaku

“Jeju? Tentu saja aku akan ikut” katanya antusias

“baiklah, tiket akan kuberikan setelah kita sampai di Bukchon”

“berapa banyak pakaian yang harus kubawa?”

“secukupnya saja”

Kami menuju distrik Jongno dengan mobil. Cuaca hari ini cerah dan tidak terik. Sekitar 30 menit perjalanan menuju distrik Jongno, pemandangan berbagai macam hanok, rumah tradisional Korea mulai tampak. Bukchon Hanok Village, yang paling terkenal. Banyak sekali hal yang bisa dilakukan disana, selain melihat keindahan hanok. Aku sudah mengagendakan untuk melihat berbagai jangdokdae, kuali besar untuk menyimpan toenjang si pasta kedelai dan gochujang si pasta cabai.

Dimulai dengan melihat-lihat hanok, perjalanan hari ini dimulai. Kris sudah mulai beraksi dengan kamera yang selalu dibawanya. Untungnya, kami tidak lagi mengenakan pakaian yang sama untuk hari ini. Aku meninggalkan sejenak Kris yang begitu asyik dengan dunia fotografinya dengan bermain ponselku dan mendengarkan musik. Setelah hampir satu jam disana, kami melanjutkan perjalanan dengan ke pusat pembuatan toenjang, gochujang, dan kimchi. Terpampang banyak sekali jangdokdae yang tertutup dan berisi toenjang dan gochujang.

“ayo, cobalah membuat kimchi” aku menyuruh Kris untuk belajar membuat kimchi

“aku?” Tanya Kris

“iya, kamu..biar aku yang membawa kameramu” jawabku

“baiklah” Kris menyerahkan kameranya padaku.

Dia juga sudah mulai dengan acara membuat kimchi. Aku iseng bermain dengan kameranya dan melihat beberapa hasil bidikannya. Karena aku memegang sebuah kamera, maka aku mengabadikan Kris yang sedang asyik belajar membuat kimchi dengan beberapa peserta lain. Beberapa kali aku mencoba mencari hasil yang terbaik, tapi selalu gagal, alias aku memang tidak berbakat dalam fotografi.

Setelah selesai, kami duduk di sebuah pavilion dan menikmati makan siang disana. Kris menyadari bila aku sudah bermain-main dengan kameranya ketika dia membuat kimchi. Wajahnya tampak serius, apa aku sudah membuat kerusakan pada kameranya? Aku khawatir.

“apa terjadi sesuatu pada kameramu? Maaf, aku tadi bermain dengan kameramu”

“tidak, apa ini hasil bidikanmu?” tanyanya

“eh? Yang mana?” aku bertanya penasaran

“ini” Kris menunjukkan beberapa permainan isengku

“emm, iya, sangat buruk..aku tidak berbakat dalam hal fotografi”

“masih pemula sekali” katanya santai

“memang, baru kali ini aku bermain dengan kamera” jawabku jujur

“apa kau mau belajar fotografi?” tanyanya

“eh? Mungkin aku sering tidak punya waktu untuk itu” jawabku

“kemarilah” dia menyuruhku untuk mendekat dan memegang kameranya.

Jadilah hari ini aku belajar fotografi dengan kamera SLR milik Kris. Kata-kata seperti aperture, shutter mulai beterbangan di kepalaku, namun butuh waktu lama untuk mencerna semua kata-kata itu. Aku hanya menganguuk sok paham dengan kalimat-kalimat Kris yang menurutuku rumit.

“jadi apa kau sudah lebih paham?” Tanya Kris ketika perjalanan pulang

“sedikit sekali” jawabku dengan tertawa

“sulit sekali mengajarimu” dia mengeluh

“aku jarang punya waktu untuk itu”

“ya ya, kau memang sibuk kesana kemari dengan pekerjaanmu”

“itu dia alasannya” aku membenarkan pernyataan Kris

“kau di Seoul sendirian?” Tanya Kris

“iya, keluargaku di Macau, mereka punya usaha disana”

“apa kau merindukan mereka?” tiba-tiba Kris bertanya seperti itu

“tentu saja, hampir setahun aku tidak melihat mereka” jawabku jujur

“heum”

Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Kali ini suasana distrik Jongno sangat pas untuk memikirkan betapa rindunya aku pada kedua orang tuaku di Macau. Mereka mempunyai bisnis hotel dan property disana, sehingga mereka harus menetap disana sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Selama di Seoul, aku benar-benar berusaha mandiri. Sibuk dengan pekerjaan sudah menjadi keseharianku selama di Seoul.

“Yiseul” namaku dipanggil tapi aku masih sibuk dengan pikiranku

“Yiseul” sekali lagi Kris memanggilku

“ahh, iya, maaf aku tidak memperhatikan..ada apa?” tanyaku

“apa kau sakit?”

“tidak, aku baik-baik saja kok, ayo kita kembali”

Kris memaksa untuk menyetir mobil ketika pulang, dengan memanfaatkan GPS, akhirnya aku memperbolehkannya menyetir, sementara aku duduk disebelahnya, sibuk dengan pikiranku. Mobil berhenti di depan hotel Shilla, aku mengingatkan Kris untuk besok bila kita berdua akan pergi ke Jeju

Membawa 1 buah koper berukuran sedang dan berisi pakaian serta beberapa file yang akan kubawa ke Jeju, sepertinya disana aku akan sekaligus liburan, walau masih dalam acara pekerjaan. Entah badanku sedikit demam ketika aku bangun pagi, tapi aku tidak menghiraukan sama sekali, aku harus bergegas. Jam 9 aku menuju hotel Shilla dengan taksi, aku tidak akan membawa mobil, tentu saja. Sebuah koper dan tas ransel kecil kubawa, dan siap.

Nona Goo Hyun Jung menyapaku dan menanyakan tujuanku hari ini. Resepsionis iu tampak cantik dengan setelan berwarna hitam ala hotel Shilla. Dia tampak penasaran dengan barang bawaanku hari ini yang lumayan.

“anda dan tuan Kevin Li akan kemana hari ini?”

“kami akan ke Jeju selama 2 hari, urusan pekerjaan mendadak”

“benarkah?” tanyanya

“iya, mendadak sekali” jawabku sambil mendesah

“berita tuan Kevin Li memang sedang gencar di China”

“benarkah?” tanyaku penasaran

“iya, sekarang di China orang-orang mulai menyadari bahwa dia tidak disana”

“heum??” aku hanya berkomentar seperti itu

“dia datang” kata nona Goo Hyun Jung, aku segara pamit

Kami segera bergegas ke bandara Gimpo di Seoul untuk menuju ke Jeju. Perjalanan Seoul-Jeju memakan waktu 2 jam. Aku masih merasakan bila badanku demam, tapi aku sengaja tidak mengatakannya pada Kris. Dia memakai pakaian casual dengan kacamata hitam, mungkin takut ketahuan, mungkin saja. Karena kemarin aku lupa memberikan tiketnya, maka langsung saja kuberikan pada petugas. Selama di pesawat, Kris hanya tidur, dia memang hobi sekali. Sementara aku masih dengan file-file tempat yang akan kusurvei sesampainya di Jeju. Walaupun kondisi badanku sedang tidak begitu baik, aku harus menyicilnya.

Sampai di Jeju, kami langsung menuju hotel Lotte yang populer. Makan siang dan segera melakukan survey. Siang ini kami menuju pantai Hyeopjae untuk survey yang pertama. Walaupun agak terik, namun pantai in tetap ramai. Aku mulai mengeluarkan peralatanku untuk survey tanpa banyak bicara. Mungkin Kris menyadari sesuatu, aku tidak banyak bicara, tapi dia pura-pura tidak tahu.

“Yiseul, kau baik-baik saja kan?” tanyanya

“heum, iya..” aku masih menyibukkan diri dengan pekerjaanku

“kau sedikit pucat” kalimatnya mengalihkan pikiranku

“ahh, kau tau juga rupanya” aku mulai berani mengatakannya

“kau sakit?”

“sedikit demam tepatnya, dari tadi pagi” jawabku jujur

“kenapa kau masih disini dan tidak istirahat?”

“kurang sedikit lagi, jangan khawatir” aku mencoba tenang

“setelah ini segeralah beristirahat, agar besok kau sudah sembuh”

“heum, aku mengerti, terima kasih sudah memperhatikan”

Kembali lagi pada file-file yang ada di depanku. Aku membiarkan Kris bermain-main dengan kameranya. Lama-kelamaan aku merasa kedinginan dan menggigil.

“Kris” panggilku

“heum, apa?” dia melirikku dan melihatku sudah menggigil

“Yiseul, ayo ke Hotel, biar aku yg menyetir”

Aku hanya mengangguk pasrah, setelah membereskan segala file-file yang berserakan, Kris membantuku menuju mobil. Kami menyewa mobil di Jeju agar lebih mudah. Aku menggigil dibalik jaket yang kupakai, oh sangat memalukan. Aku hanya memejamkan mataku selama perjalanan menuju hotel. Setelah menggigil, aku mulai merasakan pusing.

Sesampainya di hotel, Kris langsung membawaku ke kamarku. Aku merasa bersalah karena merusak waktunya hari ini di pantai Hyeopjae.

“Kris, maaf aku menyusahkanmu” kataku

“tidak, jangan kau pikirkan”

“bawa saja kunci mobilnya, jika kau ingin pergi” kataku

“aku mengerti, sekarang istirahatlah, jika ada apa-apa telpon aku”

“iya”

Setelah menempelkan plester pengurang demam ke dahiku, Kris meninggalkanku untuk beristirahat di kamar. Aku merasa bersalah sekali karena merusak acara di pantai Hyeopjae. Entah sudah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba aku bangun karena mendengar sujara ponselku. Dari Kris rupanya.

“halo, em iya aku sudah lebih baik”

“aku akan keluar untuk makan malam”

“eh? Baiklah, terima kasih”

Tak berapa lama, Kris datang ke kamar dengan seorang pelayan untuk mengantarkan makan malam. Aku masih belum beranjak dari tempat tidur dari tadi. Walaupun belum pulih betul, aku sudah merasa lebih baik.

“aku tak tahu makanan favoritmu, jadi aku memesan seperti ini”

“aku suka, jangan kau pikirkan, terima kasih”

Kris memesan bubur entah apa itu aku juga tidak tahu, serta beberapa pelengkap lain. Dia menemaniku makan di kamar sambil menonton tv yang disediakan hotel. Karena duizhang melarangku untuk pergi kemanapun, akhirnya aku hanya di kamar dan beristirahat. Setelah makan malam selesai, dia pamit untuk kembali ke kamarnya dan mengatakan bila dia akan keluar sebentar untuk menikmati suasana Jeju. Aku tak tahu, dia akan pergi kemana, GPS di mobil pasti akan membantunya untuk menemukan suatu lokasi dengan lebih mudah. Aku menonton tv dan seluruh badanku mendadak kaku melihat sebuah berita.

Aku sedang iseng mencari-cari channel yang menurutku menarik. Fasilitas hotel ini memang lengkap, aku bisa menonton saluran tv luar negeri dengan mudah. Sebuah stasiun tv China menayangkan soal Kris, terutama tentang kinerja pekerjaanya, kehidupannya dan kepopulerannya sebagai seorang eksekutif muda. Aku hanya terdiam selama menonton acara itu, walaupun semua yang diucapkan dalam acara itu sangat sulit dipahami oleh otakku.

Wu Yi Fan, atau lebih populer dengan Kevin Li, seorang pebisnis dan eksekutif muda yang sangat diperhitungkan di China. Kepiawaiannya dalam mengurusi perusahaan mulai dibicarakan banyak orang. Ayahnya, yang memang notabene sorang pebisnis China yang terkenal menularkan bakatnya pada anak laki-laki satu-satunya itu. Berawal dari perusahaan ayahnya, dia akhirnya mempunyai perusahaan sendiri yang tak kalah sukses dari ayahnya. Kehidupannya juga bersih dari berita buruk ataupun skandal, pebisnis yang baik. Dan yang paling menarik perhatianku adalah kenyataan bahwa dia sangat populer karena wajah dan penampilannya itu, tapi dia masih tidak mau bercerita soal kehidupan percintaanya. Aku ingin tertawa tapi tak bisa, entahlah.

Matahari mulai masuk ke kamar hotel yang kutempati, aku merasakan bila badanku sudah membaik. Aku segera mandi dan segera bersiap menuju tempat survey, pukul 4 sore aku dan Kris sudah harus kembali ke Seoul. Hari ini kami harus mengunjungi tanjung Seopkeoji, air terjun Cheonjiyeon, dan pulau kelinci. Aku sudah hendak keluar ketika Kris menelpon, hari ini dia yang akan menyetir mobil.

“apa kau sudah baikan?”

“iya, terima kasih karena kau sudah mau merawatku”

“sudah, jangan kau pikirkan, ayo kita bergegas”

“tentu”

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah air terjun Cheonjiyeon. Tempatnya memang sedikit masuk ke hutan, maka dari itu aku memutuskan untuk kesana terlebih dahulu. Kami harus berjalan kurang lebih selama 20 menit untuk menuju kesana, tapi rasa lelah akibat berjalan terbayar dengan pemandangan indah yang ada di air terjun itu.

Aku menulis beberapa hal yang penting sebagai bahan laporan untuk pekerjaanku. Sementara Kris asyik bermain dengan air.

“argh” sura Kris berteriak dan aku mendengarnya

“Kris, apa kau baik-baik saja?” tanyaku

“tangan kananku sedikit terkena ranting pohon” kulihat berdarah

Aku segera membereskan file-fileku dan segera mengambil plester yang biasa kubawa selalu di ransel kecil.

“sudah, ayo kita pergi dari sini” ajakku

“eh? Apa kau sudah selesai?” tanyanya

“sudah, ayolah kita pergi..aku tak ingin kau terluka lagi”

Kris mengalah dan kami pergi dari air terjun itu. Perjalanan selanjutnya, kami menuju tanjung Seopkeoji. Cuaca mulai terik dan kami harus segera bergegas pergi kesana. Ketika sampai disana, suasana tanjung itu lumayan ramai. Banyak pengunjung yang datang hari ini.

“aku akan bertanya pada beberapa pengunjung”

“apa aku perlu ikut?”

“tidak usah, nikmati dulu suasana disini okay”

“baiklah” Kris mengiyakan

Aku pergi dan bertanya pada beberapa pengunjung yang datang tentang tanjung ini. Semua jawaban mereka menunjukkan jawaban yang positif. Aku senang dan menyurvei beberapa ttempat yang ada.

“duizhang!” aku memanggil Kris

“apa?” jawabnya dari kejauhan

“ayo naik kapal” teriakku

“haa?” dia tak mendengarku dan berlari ke arahku

“apa?” tanyanya setelah berlari

“ayo, naik kapal dan ke pulau kelinci, waktu kita tak banyak”

“tentu”

Kami naik kapal dengan beberapa pengunjung yang datang. Tak aku duga ternyata di kapal itu ada sua orang wisatawan asal Beijing dan sepertinya mengenali Kris. Mereka berbicara dalam bahasa mandarin yang tidak kupahami. Kris terlihat mengelak akan pertanyaan dua orang itu. Aku hanya diam dan membiarkan mereka berbicara.

Sampai di pulau kelinci, waktu kami tak banyak. Aku memanfaatkan kesempatan yang singkat ini untuk segera menyurvei dan bergegas untuk kembali ke hotel dan pulang.

“tunggu sebentar” kata Kris tiba-tiba

“ada apa?”

“coba berdirilah ditengah padang itu”

“apa?”

“iya sudahlah berdiri disana, okay”

“okay”

“sudahhhh” aku berteriak ketika sampai di sebuah padang ilalang

“sekarang bermainlah”

Aku hanya mengikuti aturan main orang itu dan bermain dengan ilalang yang kupegang. Sungguh kurang kerjaan, pikirku.

“sudah, bagus”

“iya” aku keluar dari ilalang itu dan melihat hasil jepretan Kris, dia membuatku menjadi objeknya lagi.

Aku hanya diam dan benar-benar mengagumi hasil bidikannya.

“bagus kan”

“tentu saja”

“ayo, kita harus kembali ke hotel dan bergegas” Kris mengingatkanku

Selama perjalanan ke Hotel, Kris yang menyetir, aku hanya bermain dengan kameranya dan melihat hasil bidikannya selama di Jeju. Dia memang berbakat dalam hal fotografi, hampir semua hasil bidikannya mendekati sempurna, bagiku. Sampai di hotel, kami segera bergegas dan menuju ke bandara. Beruntungnya kami, masih mendapatkan penerbangan terakhir ke Seoul.

Kami menggunakan taksi untuk mengantar Kris untuk ke hotel. Dua hari di Jeju rasanya cukup melelahkan. Aku mengantar Kris hingga ke lobi. Nona Hyun Jung menyapaku. Aku memberikan sedikit oleh-oleh yang kubeli di Jeju.

“sepertinya tuan Kevin Li akan pulang lebih cepat”

“eh? Benarkah?” tanyaku

“iya, tadi ada beberapa orang dari Beijing yang mencarinya”

“hah?” aku terkejut

“mungkin lusa dia akan kembali ke Beijing” kata nona Hyun Jung lagi

“ahh, aku mengerti, baiklah aku pulang dulu”

Sampai di apartemen Kris menelponku. Aku berfirasat bila apa yang dikatakan oleh nona Hyun Jung tadi di horel itu adalah benar.

“halo duizhang?”

“ah? Benarkah?”

“ya aku tahu, besok akan menjadi hari terakhir, aku mengerti”

Benar apa yang dibicarakan oleh nona Hyun Jung, Kris akan kembali ke Beijing lusa. Rupanya ayahnya sudah menyuruhnya untuk pulang. Aku akan mengajak Kris untuk menikmati Seoul di hari terakhir besok.

Rasanya sulit, hanya beberapa hari aku bertemu dengannya tapi rasanya aku sudah mengenalnya sejak lama. Memang, sebagian ingatanku hilang setelah aku mengalami kecelakaan ketika aku masih berusia 7 tahun. Dokter pun mengatakan bila akan ada beberapa ingatanku yang hilang secara permanen. Setiap 2 bulan aku masih rutin menemui seorang dokter untuk mengecek dan menanyakan apakah ada kemungkinan untuk mengingat ingatan yang hilang itu.

Aku sibuk berpikir untuk mencari tempat-tempat yang menarik di Seoul sebelum Kris kembali ke Beijing lusa. Setelah berpikir, akhirnya aku menemukan beberapa tempat yang menarik. Aku hendak tidur ketika Kris mengirimiku pesan singkat ke ponselku

 

FROM : DUIZHANG

Maaf bila aku harus pulang lusa, sebenarnya aku masih ingin disini

Aku sibuk memikirkan apa yang akan aku tulis pada balasan pesan singkatnya. Tiba-tiba tubuhku terasa tak enak dan otakku terasa nyeri. Aku pun membalasnya

TO : DUIZHANG

Aku tak apa, besok akan kujemput jam 7.30 di hotel, see you

Ya, aku harus tetap menemuinya besok. Aku akan menjemputnya dulu dan mengajak ke kantor sebentar untuk menyerahkan beberapa berkas yang sudah selesai pada Pak Kim.

Hingga saat ini aku masih tidak menyerah untuk menemukan ingatanku yang hilang itu. Di dalam diriku masih ada keyakinan untuk mengingatnya, dan Kris, sepertinya aku mengenalnya, tetapi aku sulit untuk mengingatnya. Karena lelah, akhirnya aku tertidur

Tepat pukul 7.30 aku sudah berada di Lobi hotel. Nona Hyun Jung sudah terlihat di meja resepsionis hotel Shilla. Aku berbincang-bincang dengannya sambil menunggu duizhang sampai di Lobi.

“benar apa kata nona, Kevin Li akan pulang besok”

“ lalu, apa anda akan berjalan-jalan hari ini?”

“iya, tapi aku mampir ke kantor dahulu”

“ahh, terlihat dari pakaian anda”

“ehehehehe, begitulah”

“apakah anda akan memberikan hadiah perpisahan?”

“eh? Emmm, mungkin”

Aku akan memberi tahu nona Hyun Jung bila akan memberikan hadiah, tapi Duizhang sudah datang, sehingga percakapan kami terputus.

“apa kau mau ikut ke kantor sebentar?” tanyaku

“iya, boleh..lagipula aku ingin melihat tempatmu bekerja”

“oke”

Mobil menuju ke kantor tempatku bekerja. Hari ini aku akan menyerahkan hasil survey selama di Jeju kepada pak Kim, semoga dia sudah tiba dikantor. Benar saja, pak Kim sudah tiba di kantor. Dia terlihat terkejut dengan kedatangan kami, terlebih dengan Kris.

“Duizhang, apa kau kenal pak Kim”

“ahhh, aku baru kali ini bertemu dengannya” katanya gugup

“benarkah?” selidikku, ada yang tak beres diantara mereka

“senang bertemu denganmu Kevin Li” kata pak Kim memecah keheningan

“oh iya, ini hasil survey selama dua hari di Jeju”

“baiklah, terima kasih..silahkan kalian menikmati Seoul”

“tentu saja pak” jawabku ceria

“ayo kita pergi” ajakku pada Duizhang

Kami meninggalkan kantor dan menuju beberapa tempat di Seoul. Hari ini aku akan mengajak Duizhang untuk pergi ke Seoul Plaza, Luce Vista, kembali ke Dongdaemun lagi. Hari ini aku meletakkan  hiasan pada mobilku, sebuah foto yang kutemukan  dalam kotak di dalam laci kamar. Entah, sudah berapa lama foto itu tersimpan dan tak kubuka lagi.

“itu dirimu?” Tanya Kris

“iya, ketika umur 5 tahun kurasa”

‘lalu, anak laki-laki itu?”

“aku tak mengingatnya, beberapa ingatanku hilang setelah aku kecelakaan umur 7 tahun”

“maaf, aku bertanya”

“tidak apa-apa”

“apa kau berusaha untuk mencari tau siapa anak itu?”

“iya, tapi otakku masih butuh waktu, mungkin”

Kulihat, orang disebelahku menatap foto yang ada di dashboar mobil itu dengan serius sekali. Entah dia memikirkan apa, aku tak ingin tahu.

“sampai”

Kami berkeliling namdaemun dan melihat-lihat apa saja yang menarik. Membeli es krim, menikmati pertunjukan jalanan dan masih banyak lainnya.

“apa perlu besok kau kuantar ke bandara?”

“tak apa, jikau tak keberatan”

“tentu, jam berapa?”

“emm, pukul 7 pagi”

“baiklah, aku akan menjemputmu di lobi sebelum pukul 7 pagi”

“okey, akan kuingat”

“oh iya, ini untukmu” aku memberikan sebuah kotak yang berisi souvenir khas Korea yang kudapatkan di Namdaemun.

“memang tidak mahal, tapi semoga berkesan”

“terima kasih Yiseul”

“tentu saja J baiklah..kita ke Seoul Plaza”

Sesampainya di sana, kuajak Kris menuju sebuah air mancur yang terletak di Seoul Plaza, tepat di depan gedung Seoul City Hall. Banyak yang datang, hari ini sehingga ramai. Ada banyak murid-murid TK yang datang kesini.

“apa kau ingin bermain air?” tanyaku

“emm, sedikit”

Akhirnya Kris bermain air di air mancur itu, sementara aku memegang kameranya dan melihatnya dari jarak yang agak jauh. Aku tidak mau berbasah-basahan.

Cukup lama kami berada di air mancur itu dan menikmati suasana disana. Setelah puas menikmati suasana disana, kami lanjut menuju Luce Vista hingga petang.

“ayo kuantar kau ke Hotel, cepat istirahat untuk besok”

“heum, baiklah!”

Sampai di hotel, kulihat Nona Hyun Jung mengisyaratkan untuk berbicara dengannya.

“cepat istirahat, besok kujemput”

Setelah Kris naik lift, aku menemui nona Hyun Jung yang rupanya sudah siap untuk membicarakan sesuatu denganku.

“ada apa?”

“berita tuan Kevin Li sudah tersebar bila dia berada disini”

“benarkah? Waah dia seperti artis saja” aku tertawa

“lebih hebohnya lagi” kalimat nina Hyun Jung terputus

“apa?” aku semakin penasaran

“sepertinya public disana mengetahui bila dia bersama seorang wanita”

“apa?” aku meneggak ludah

“tapi mereka masih belum tahu bila itu anda”

“emm, baiklah..terima kasih atas infonya” aku segera ke apartemen dan akan menonton tv. Semoga berita itu tidak benar. Ini bisa menjadi sebuah kekacauan besar.

Sebelum pukul 7 aku sudah berada di hotel. Kulihat nona Hyun Jung belum datang, sehingga aku hanya duduk di sova yang disediakan. Tak berapa lama orang yang kutunggu sudah sampai di bawah. Dia terlihat memakai kacamata hitam.

“sudah siap?” tanyaku

“ehm, sudah” jawabnya

“kenapa memakai kacamata hitam?” tanyaku

“emm, sepertinya orang lain sudah tahu bila aku di Korea”

“ahahaha, kau sudah seperti artis”

“mungkin juga ada orang yang mengambil foto ketika kita berjalan-jalan”

“eh?”

“apa kau terusik?”

“tidak, aku tak memperdulikan mereka”

Sampai di bandara Incheon, aku mengantar Duizhang hingga ke dalam. Atas saran Duizhang, aku memakai topi dan kacamata hitam agar orang-orang tak mengenaliku. Dia juga memakai topi dan kacamata hitam. Aku ingin tertawa karena bagiku hal ini sangat lucu.

“hati-hati ya” kataku sambil sedikit tertawa

“kenapa kau tertawa?” Tanya Kris

“bagiku ini lucu, aku harus memakai kacamata dan topi”

“demi kebaikanmu” jawabnya

“ya, aku tau”

“baiklah, selamat tinggal, semoga kita bisa bertemu lagi”

“tentu, jaga kesehatanmu selama di China”

“oh iya, ini untukmu..buka ketika kau sudah berada di apartemen”

“apa ini?” tanyaku tentang sebuah amplop besar yang diberikan Kris

“buka saja ketika kau di apartemen, okey”

“okey”

“selamat tinggal” katanya

“heum” aku melambaikan tangan dan melihatnya masuk ke waiting room. Tak beberapa lagi pewat akan take off. Setelah take off, aku menuju kantor untuk kembali masuk kerja seperti biasa. Aku masih penasaran denga amplop yang diberikan Kris tadi, tapi aku sudah berjanji untuk membukanya ketika berada di apartemen.

 

 

 

nega isseul mire-eso
But in the future, which you will be in –

hoksi nega hemendamyon
By any chance, if I get lost and wander,

noreur-arabol su itge
So that I can recognize you,

ne ireumeul bullojwo

Please call out my name

 

===============TO BE CONTINUED===============

 

22 pemikiran pada “Oh! Duizhang! (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s