Day by Day (Sequel of All Cries on Midnight)

Tittle                :  Day by Day  (Sequel of All Cries on Midnight)

Cat                  :  Chen (Exo M)  Lim (Yeoja)

Genre              :  Sad Romance

Length             :  Oneshot

Author             :  Yen Yen Mariti

Ini adalah sequel dari ff All Cries on Midnight. Setelah membaca komen para readers jadi saya memutuskan untuk membuat sequelnya. Maaf jika hasilnya hancur, salah sendiri maksa saya bikin sequel wkwk… oh ya di ff sebelumnya nama yeojanya tidak disebutkan, maka saya putuskan kali ini yeoja itu punya nama (?) jadilah namanya Lim.

All Cries on Midnight https://exofanfiction.wordpress.com/2012/09/25/all-cries-on-midnight/

 

 

Desember. Musim dingin semakin dingin dan salju turun semakin deras. Bunyi salju yang jatuh di atas genteng kadang mengusik. Udara hari ini dibawah 0 derajat. Semua orang menggigil kedinginan.

Di lain tempat, di waktu yang sama. Pria dan wanita itu sama-sama menatap langit yang pucat. Hembusan nafas mereka seakan membeku. Terlalu dingin. Dan dingin selalu mengingatkan kita akan kenangan.

Memories…

Bangun di pagi hari adalah hal yang paling di sukai Jongdae. Pria itu menyibak selimutnya, di sampingnya sudah kosong. Dengan cepat dia keluar kamar dan berjalan ke arah dapur. Di sana, tepat di depan kompor, berdiri seorang wanita muda yang tengah bergelut dengan wajannya.

“Kau masak apa?”

Lim hampir meloncat karena saking terkejutnya. Jongdae tahu-tahu sudah memeluknya dari belakang dengan sangat erat.

“Nasi goreng kimchi,” jawab Lim seadanya saja. Jongdae menenggelamkan wajahnya di lekukan leher wanita muda itu, menghirup aroma tubuh wanita itu sebanyak mungkin. Lim terkikik saat merasakan tengkuknya di geseki sesuatu, Jongdae menggosok-gosokan hidungnya di sana. “O-oppa…Jongdae oppa aku sedang masak,” gerutunya dengan nada kesal, tapi Jongdae tidak peduli sama sekali dan masih melanjutkan kegiatannya. “Oppa…”

“Kenapa hn?”

Lim membalik tubuhnya hingga menghadap suaminya, wajah mereka sangat dekat. Hanya batang hidung yang memisahkan mereka, “Aku sedang masak Oppa, jangan mengganggu”

Jongdae tertawa tanpa suara, “Baiklah, baiklah tapi berikan jatahku.”

“Jatah apa sih?”

Jongdae berdecak pelan, kemudian meletakkan satu telunjuknya di depan bibir, “Sini…” Lim mengernyitkan dahi. “Lim…morning kiss !” ujar Jongdae dengan nada kesal. Wajah Lim merona, dia menggaruk lehernya kemudian menutup mata dan menempelkan bibirnya pada bibir Jongdae. Ciuman manis dan hangat yang mereka lakukan setiap pagi. Momen yang sangat dinantikan Jongdae setiap dia berada di rumah.

“Kau asin…” Lim melepas ciuman secara sepihak, Jongdae tampak kecewa.

“Asin apanya?” decaknya sebal

“Kau pasti belum menggosok gigimu kan?”

“Oh iya, he-he,” Jongdae menggaruk belakang lehernya kemudian tertawa kikuk.

“Sikat gigi sana,” Suruh Lim cepat dan kembali menghadap wajannya, tapi Jongdae menarik tubuhnya lagi, pria itu menciumnya lagi. Dalam tempo yang lambat, sangat lama dan sangat intens. Hidung Lim mencium sesuatu yang berbau hangus, dengan cepat dia menarik diri dari Jongdae dan matanya terbelalak lebar saat mendapati wajannya mengeluarkan asap, nasi gorengnya gosong ! “JONGDAE !!” suaminya sudah terlebih dahulu melarikan diri.

“Aku akan mandi Lim,” ujar pria muda itu dengan cengiran tak berdosanya.

Ciuman hangat di setiap pagi. Keributan kecil di setiap pagi. Semuanya akan terekam di hati masing-masing. Akan tetap menjadi hal yang selalu dirindukan.

That Woman…

 

Lim membiarkan jendela kamarnya terbuka, tirainya menari-nari seakan ingin terbang. Udara winter masuk dengan bebasnya. Hidungnya memerah, dan sedikit tersumbat. Padahal ibunya selalu berpesan agar dia menutup jendela. Cuaca di bulan Desember sangat ekstrim, harus hati-hati agar tidak terkena pilek maupun demam.

Tapi ini bukan tentang pilek maupun demam yang ibunya katakan. Lim lebih memilih terserang pilek dan demam yang hebat, ada obat dan dalam tempo beberapa hari saja semua akan sembuh. Tapi bagaimana dengan hatinya ? tidak ada luka nyata di sana, jadi bagaimana caranya untuk mengobati luka itu ?

Lim turun dari ranjangnya dengan sempoyongan, berniat menutup jendela. Dia menatap sisi-sisi jendelanya yang bersalju. Cuaca dingin tak dia hiraukan. Mendadak lututnya lemas, dan pening menyerang kepalanya. Dia terduduk lemas di lantai kamarnya yang dingin. Dia terlalu lelah, bahkan untuk berdiri sekalipun. Jongdae membuatnya hancur dalam kejapan mata. Rindu ini terlalu menyiksanya, dan kenangan yang masih terekam oleh otaknya bagai menabur garam di atas lukanya.

 

That Man…

Jongdae berjalan terseok-seok ke arah dapur, meraih gelas dan menuang air putih untuk mengobati rasa sakit yang di derita tenggorokannya. Badannya terasa panas, dan peluh mengucur sejak beberapa jam yang lalu padahal saat ini cuaca sangat dingin.

Dia membuka beberapa laci dapur, berharap menemukan sesuatu yang dapat meredakan demamnya. Dan dia menemukan sebuah termometer lucu dengan gamba-gambar boneka. Termometer itu sudah ada di sana entah sejak beberapa tahun yang lalu, dia mendapatkannya dari Lim.

Tubuh Jongdae merosot kebawah, dia ingat banyak hal. Ketika dia sakit wanita itu akan menjaganya, wanita itu akan membuatkan bubur untuknya atau mengompres dahinya dengan handuk hangat. Wanita itu melakukan segalanya untuknya. Tapi sekarang wanita itu berada sangat jauh darinya. Hari-harinya hancur tanpa suara-suara Lim, mimpi buruk selalu membinasakan malamnya. Lim berpengaruh besar baginya dan dia baru menyadarinya sekarang. Rindu itu menerkam jantungnya.

Kris melihatnya merosot di lantai dapur yang dingin. Menghampirinya dan membantunya berdiri, tapi Jongdae tidak mampu berdiri lagi. “Aku akan mengantarmu kedokter, bertahanlah.”

Jongdae menggeleng lemah, “Aku tidak butuh dokter. Yang kubutuhkan hanyalah dia,” tangisnya pecah saat tiba-tiba wajah Lim membayanginya. “Aku membutuhkannya,” Jongdae menangis bagai bayi. Lim adalah segalanya baginya, dan dia baru menyadarinya sekarang? Kris memeluk Jongdae erat, membisikkan kata-kata yang bisa membuat pria itu tegar. Tapi sekeras apapun Kris mencoba membuat Jongdae merasa lebih baik, jawabnya tetap saja sama. Yang bisa melakukannya hanyalah Lim.

It’s crazy how much I miss you, I miss talking to you, I miss hearing your voice, I miss everything about you.

Memories…

 

Jongdae duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca buku, dan di sisi lain ruangan, Lim duduk di meja riasnya dengan wajah cemberut yang hampir membuat Jongdae tertawa saat melihatnya.

“Lim…” panggilnya hangat dan Lim masih saja dengan wajah kusutnya. “Hey Lim, jangan cemberut.”

“Oppa ! kau meneybalkan sekali,” Lim merenggut kesal, dan Jongdae menahan tawa. “Aku sangat malu, ibu bahkan sudah menelepon nenekku yang ada di Jepang demi memberitahunya akan berita palsu itu.”

Jongdae tertawa, wajahnya memerah. Tadi pagi istrinya muntah-muntah, dan dengan percaya dirinya dia mengatakan bahwa Lim sedang mengandung anaknya, dia bahkan menelepon ayah-ibu mereka untuk mengatakan hal itu. Namun setelah dibawa kedokter ternyata Lim hanya masuk angin.

Lim masih duduk di sana dengan wajah cemberutnya, “Lim…” panggil Jongdae pelan dan lembut, wanita itu hanya meliriknya sekilas. “Kemarilah…” Jongdae menepuk-nepuk sisi tempat tidur, meminta agar istrinya naik ke sana. Lim bergerak enggan ke atas tempat tidur. Jongdae membelai wajahnya dengan jari-jari panjangnya, “Maafkan aku,” ujarnya tulus dan membuat hati Lim luluh detik itu juga.

“Oppa tidak salah.”

Jongdae tersenyum lembut, meminta istrinya berbaring. Mereka berbaring bersama. Jongdae memeluk Lim dengan erat, dia menarik selimut dan mematikan lampu kamar mereka. “Aku hanya terlalu bersemangat, kau tahu kan aku sangat ingin memiliki bayi.” Lim emngangguk mengerti.

“Tapi mungkin belum waktunya bagi kita untuk memilikinya, Tuhan masih menundanya.”

Jongdae memeluk erat Lim, menciumi puncak kepala istrinya. Mereka ingin bayi, agar kehidupan rumah tangga mereka semakin terasa lengkap. Tapi sepertinya belum waktunya. Lagipula kehidupan rumah tangga mereka saat ini sangat bahagia, mereka saling mencintai dan itu melebihi segalanya kan?

Lim                 :  “Tahun baru telah berlalu, begitu juga dengan musim dingin. Bunga sakura sudah bermekaran dua hari yang lalu. Bagimana kabarmu. Kau pasti sangat sibuk sekarang. Aku tahu itu he-he. Oppa, aku pergi ke festival bunga sakura sendirian. Aku berdiri di bawah bunga sakura yang berjatuhan, orang bilang jika kita berdoa saat bunga sakura berjatuhan maka doa kita akan terkabul, aku berharap itu benar. Bisakah kita bertemu lagi, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku merindukanmu, aku masih…..mencintaimu.”

Jongdae          :   “Lim, apa seorang pria boleh menangis ? aku sudah menangis entah yang keberapa kalinya hari ini. Musim semi kali ini terasa sangat berbeda tanpamu. Aku sendirian di bawah pohon sakura yang berjatuhan. Kau bilang berdoa saat bunga sakura berjatuhan maka doa kita akan dikabulkan bukan ? Bisakah kita bertemu? Lim, aku merindukanmu. Sakit ini terus terasa dari hari ke hari. Aku memang salah Lim, maafkan aku. Manusia selalu berbuat salah dan berhak mendapat kesempatan kedua kan ? bolehkah aku memilikimu lagi. Aku sakit tanpamu, aku sudah terlalu biasa akan kehadiranmu. Kumohon…kembalilah.”

I miss how we share everything together

Lim bergegas masuk ke salah satu café, di luar sedang hujan dan dia tidak membawa payung maupun jaket. Dia memilih duduk di kursi yang berada di samping jendela, dia dapat melihat hujan ditemani dengan segelas cappucino hangat.

“Lim…” suara yang agak asing menyapa telinganya.  Lim mendongakkan kepala dan tersenyum.

“Minseok oppa,” sapanya pada Xiumin yang rambutnya juga agak basah, mungkin terkena hujan. “Apa yang oppa lakukan di sini, kapan oppa kembali ke korea?”

Xiumin mengedikkan bahu, “Seseorang memaksaku untuk menemaninya untuk kembali ke korea, dia sudah seperti orang gila karena merindukan seseorang di sini.”

“Eh?”

Xiumin tidak menjawab dan dia mengedikkan bahu lagi, ke arah seorang pria yang tengah berjalan ke arah mereka dengan membawa dua gelas kopi hangat. Mata Lim mendadak berair, dia menggigit bibirnya. Pria itu berjalan semakin mendekat, dan dalam hitungan detik mata mereka bertemu, waktu seakan terhenti begitu saja. Mereka saling menatap lama, mencoba melepas kerinduan yang selama bertahun-tahun mereka pendam.

“Jongdae Oppa…”

“Lim…”

Pada akhirnya Tuhan mempertemukan mereka kembali. Hanya perlu satu langkah lagi agar mereka bisa kembali hidup bersama.

“Aku merindukanmu..” Jongdae menjatuhkan dua gelas kopinya dan memeluk Lim sangat erat. “Jangan pergi, beri aku kesempatan kedua. Aku mencintaimu, kumohon.” Jongdae menangis di leher gadis itu, bibirnya tidak berhenti mengecupi leher Lim. Wanita itu tidak dapat menjawab apapun, tangisnya juga pecah. “Maafkan aku Lim…” Wanita itu menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Aku mencintai Oppa, jangan pergi….”

Hidup itu bagai roda. Ada saatnya kita berada di puncak kebahagiaan, dan ada kalanya kita berada di titik penderitaan. Manusia hanya harus menjalaninya. Hanya harus sabar dan percaya bahwa Kehidupan ini tidak kejam, Tuhan itu adil, dan cinta itu indah.

#The End

Maaf jika tidak memuaskan, akhir-akhir ini saya sulit mendapat inspirasi. Inipun hasil inspirasi di tengah malam saat tidak bisa tidur dan memutuskan untuk memetik gitar hingga terpikirlah yang seperti ini. Terima kasih untuk readers yang meninggalkan jejak  di ff sebelumnya dan ngotot minta sequel. Inilah hasilnya, saya persembahkan untuk kalian para istri Jongdae, jangan marah lagi ya. Yang kemarin itu Jongdae hanya sedikit khilaf (?)

24 pemikiran pada “Day by Day (Sequel of All Cries on Midnight)

  1. yeeeed happy endiiiinnnnnggggggggg!!!!

    aku tau chen tidak akan bisa melakukan hal itu, huahahahaha *angel laugh(?)

    karyamu bagus thor, ditunggu yg lain yaw^^

  2. wah,,,,,,,,,,,author, ini ffnya super duper daebak..^^

    apalagi main castnya jongdae oppa… hwaa, jongdae oppa memang lebih cocok dapat karakter yang berhati lembut…
    walaupun di all cries on midnight jongdae oppa terlihat jahat, tapi sebenernya hatinya lembut, atau lebih tepatnya mudah rapuh…

    jadi istri KIM JONGDAE ? hmm, MAAAAU BANGEEEEEET…

    author, ditunggu ya ff lainnya, terutama untuk ff yang main castnya jongdae oppa sangat sangat sangat ditunggu…

    FIGHTING…!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s