Fallen (Chapter 2B)

Tittle    : FALLEN | PART 2B: COCOK UNTUK DIKENDALIKAN

Author : Park Ji-Eun

Main Cast :     •    Xi Lu Han a.k.a EXO-M Lu Han
•    Wu Yi Fan a.k.a EXO-M Kris
•    Park Gi Eun (OC)
•    Amber Josephine Liu a.k.a f(x) Amber
•    Kim Hyun Jin —Miss Kim (OC)

•    Lee Sun Kyu a.k.a SNSD Sunny

Support Cast :       •    Choi Jin Hee (OC)
•    Park Chan Yeol a.k.a EXO-K Chanyeol
•    Lee Hyori (OC)
•    Kim Joon-myun a.k.a EXO-K SuHo

•    Jun Ji Hyun (OC)

Genre  : Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy, Western-Life

Ps  : FF ini aku nge remake novel karya Lauren Kate dan hanya mengganti nama cast nya. Dan maaf kalo ada pergantian nama, entah itu main cast atau support cast ^^

_____________________________________________________

“There are only two ways to live your life.

One is as though nothing is a miracle.

The other is as though everything is a miracle.”
Albert Einstein

 

 

 

CHAPTER 2B:

COCOK UNTUK DIKENDALIKAN

 

 

 

Untungnya kedua tangan SuHo yang kekar menyambar kepalan tangan Jin Hee. Gadis itu mencoba melepaskan diri dan mulai menjerit-jerit.

“Sebaiknya ada yang mulai bicara!” SuHo membentak, mencengkeram Jin Hee hingga gadis itu tidak berdaya. “Tapi setelah kupikir-pikir, kalian bertiga harus melapor untuk hukuman besok pagi. Pemakaman. Menjelang fajar!” SuHo menatap Jin Hee. “Apa kau sudah tenang?”

Jin Hee mengangguk kaku, dan SuHo melepaskannya. SuHo berjongkok di sisi Amber yang masih tergeletak di pengkuan Gi Eun, kedua tangan Amber bersilang di dada. Awalnya Gi Eun mengira Amber merajuk, seperti anjing yang marah karena mengenakan kalung kejut, tapi ia lalu merasakan sentakan pelan tubuh Amber dan menyadari gadis itu masih tersiksa gelangnya.

“Ayo,” kata SuHo, lebih lembut. “Mari kita padamkan listrikmu.”

SuHo mengulurkan tangan pada Amber dan membantu mengangkat tubuh kurusnya yang gemeteran, berpaling hanya satu kali di ambang pintu untuk mengulang perintahnya bagi Gi Eun dan Jin Hee.

“Menjelang fajar!”

“Tak sabar rasanya,” Jin Hee berkata manis, meraih ke bawah untuk memungut piring berisi daging giling yang tergelincir dari nampannya.

Gadis itu memgang piring tadi diatas kepala Gi Eun sedetik, lalu membalikannya dan menumpahkan makanan itu ke rambut Gi Eun. Gi Eun bagai bisa mendengar harga dirinya yang hancur ketika seluruh murid Sword & Cross menatap si gadis baru yang berlumuran daging giling.

“Tak ternilai,” kata Jin Hee, mengeluarkan kamera berwarna perak yang amat sangat kecil dari saku belakang celana jins hitamnya. “Katakan… daging giling,” ia bersenandung, mengambil beberapa foto close-up. “Foto-foto ini pasti bagus sekali untuk blog-ku”

“Topi yang indah,” seseorang mengejek dari sisi lain kantin. Lalu, dengan takut-takut, Gi Eun memutar mata kea rah Lu Han, berdoa agar entah bagaimana pria itu tidak melihat seluruh kejadian ini. Tapi tidak. Lu Han menggeleng. Ia kelihatan kesal.

Hingga saat ini, Gi Eun mengira punya kesempatan untuk berdiri dan menepiskan kejadian tadi—secara harfiah. Tapi melihat reaksi Lu Han—yah, akhirnya pertahanannya jebol.

Ia tidak akan menangis di hadapan orang-orang mengerikan ini. Ia menelan ludah dengan susah payah, berdiri, dan melarikan diri. Ia melesat ke pintu terdekat, ingin segera merasakan udara segar menerpa wajahnya.

Tetapi, justru udara lembap bulan September daerah selatan yang menyelubunginya, membuatnya tercekik, begitu ia berada di luar. Langitnya seolah tanpa warna, cokelat keabu-abuan yang begitu opresif sehingga bahkan sulit menemukan matahari. Gi Eun memperlambat langkah, sampai mencapai ujung tempat parkir, lalu benar-benar berhenti.

Ia sangat berharap bisa melihat mobilnya ada disana, membenamkan diri di jok mobil, menghidupkan mesin, menyalakan radio keras-keras, dan kabur sejauh mungkin dari tempat ini. Tapi saat ia berdiri di trotoar hitam yang panas itu, kenyataan menerpanya: Ia terjebak disini, dan sepasang gerbang besi yang menjulang memisahkannya dari dunia luar di Sword & Cross. Lagi pula, kalaupun ia menemukan jalan keluar… ke mana ia akan pergi?

Rasa tidak enak diperutnya memberitahukan semua yang perlu diketahuinya. Ia sudah berada di pemberhentian terakhir, dan segalanya terlihat begitu suram.

Walaupun menyedihkan, ini kenyataan: yang ia miliki hanyalah Sword & Cross.

Ia membenamkan wajah di telapak tangan, menyadari ia harus masuk kembali. Tapi ketika ia mengangkat kepala, sisa-sisa noda pada telapak tangannya mengingatkannya bahwa ia masih berlumuran daging giling Jin Hee. Uh. Tujuan pertama, kamar mandi terdekat.

Kembali ke dalam, Gi Eun menyerbu kamar mandi wanita tepat ketika pintunya berayun terbuka. Hyori, yang terlihat bahkan lebih pirang dan tanpa noda karena sekarang Gi Eun terlihat seperti baru saja terjun ke tempat sampah, menghindar dengan cepat.

“Ups, permisi, Sayang,” kata Hyori. Suaranya yang berlogat selatan terdengar ramah, tapi wajahnya berkerut melihat Gi Eun. “Oh Tuhan, kau tampak mengerikan sekali. Apa yang terjadi?”

Apa yang terjadi? Seakan seluruh sekolah belum tahu saja. Gadis ini mungkin berpura-pura bodoh agar Gi Eun mau menceritakan kembali seluruh kejadian yang amat memalukan tadi.

“Tunggu saja lima menit,” Gi Eun menjawab, dengan nada lebih ketus daripada yang ia inginkan. “Aku yakin gossip menyebar seperti wabah di tempat ini.”

“Kau mau meminjam tas bedakku?” tanya Hyori, mengangkat tas kosmetik biru pastel. “Kau belum melihat tampangmu, tapi kau bakal—“

“Terima kasih, tapi tidak.” Gi Eun memotong kalimat Hyori, masuk ke kamar mandi. Tanpa melihat dirinya pada cermin, Gi Eun memutar keran. Ia memercikkan air dingin pada wajahnya dan akhirnya melepaskan semua emosinya. Dengan air mata mengalir deras, ia menekan tempat sabun cuci tangan muarahan berwarna merah muda itu untuk menghilangkan bekas daging giling. Tapi masih ada sisa-sisa dirambutnya. Dan penampilan serta bau pakaiannya jelas lebih buruk. Bukannya ia masih perlu mempertahankan kesan pertama yang baik.

Pintu kamar mandi berderak terbuka dan Gi Eun langsung menempel di dinding seperti binatang yang terjebak. Ketika orang asing berjalan masuk, Gi Eun mematung dan menunggu yang terburuk.

Gadis itu bertubuh pendek dan gemuk, ditambah jumlah lapisan pakaiannya yang tidak normal. Wajahnya yang lebar dibingkai rambut cokelat keriting dan kacamata ungunya yang besar bergoyang ketika ia mengendus-endus. Wanita itu kelihatannya bukan ancaman, tetapi penampilan dapat menipu.

“Kau tahu, kau tidak boleh di sini tanpa izin,” kata gadis itu. Suaranya yang datar terdengar serius.

“Aku tahu.” Tatapan mata gadis itu menegaskan kecurigaan Gi Eun bahwa benar-benar mustahil menyendiri di tempat ini. Gi Eun menghela napas menyerah. “Aku hanya—“

“Aku bercanda.” Wanita itu tertawa, memutar mata, dan postur tubuhnya jadi rileks. “Aku mencuri shampoo dari ruang penyimpanan untukmu,” ia berkata, mengulurkan tangan ke depan untuk menunjukkan botol plastic shampoo dan kondisioner yang kelihatan tidak mencurigakan. “Ayo,” ia berkata, menarik kursi lipat butut. “Kita bersihkan dirimu. Duduk di sini.”

Suara separuh erangan, separuh tawa yang belum pernah dibuatnya keluar dari bibir Gi Eun. Wanita itu berbuat baik padanya—bukan hanya perbuatan baik ala sekolah anak nakal, tapi perbuatan baik manusia normal! Tanpa alas an apapun. Rasa terkejut karena kejadian ini nyaris terlalu hebat untuk diterima Gi Eun. “Terima kasih?” Gi Eun berhasil mengucapkannya, masih agak was-was.

“Oh, dan kau mungkin butuh baju ganti,” kata gadis itu, menunduk menatap baju hangat hitamnya dan menariknya ke atas kepala, memperlihatkan baju hangat yang sama persis di baliknya.

Ketika melihat reaksi terkejut pada wajah Gi Eun, ia berkata, “Kenapa? Aku punya system kekebalan tubuh yang buruk. Aku harus mengenakan pakaian berlapis-lapis.”

“Oh, yah, apa kau akan baik-baik saja tanpa baju satu ini?” Gi Eun memaksakan diri bertanya, walaupun sekarang akan melakukan apa saja agar bisa keluar dari lapisan daging yang dikenakannya saat ini.

“Tentu,” sahut wanita itu, melambaikan tangan. “Aku mengenakan tiga lapis lagi dibawah yang ini. Dan ada beberapa lagi dalam lokerku. Silahkan saja. Sedih rasanya melihat vegetarian berlumuran daging. Aku orang yang sangat berempati.”

Gi Eun ingin tahu bagaimana orang asing ini bisa tahu pilihan makanannya, tapi yang lebih penting ia harus bertanya, “Hmmm, kenapa kau baik sekali padaku?”

Gadis itu tertawa, menghela napas, lau menggelng. “Tidak semua orang di Sword & Cross wanita brengsek dan pria bajingan.”

“Hah?” kata Gi Eun.

“Sword & Cross… Wanita Brengsek dan Pria Bajingan.  Julukan norak di kota untuk sekolah ini. Pastinya tidak ada yang benar-benar bajingan disini. Aku takkan merusak telingamu dengan menyebutkan beberapa julukan lebih kejam yang mereka berikan.”

Gi Eun tertawa.

“Maksudku, tidak semua orang di sini benar-benar brengsek.”

“Hanya sebagian besar?” tanya Gi Eun, membenci dirinya karena sudah terdengar begitu negative. Tapi ia telah menjalani pagi yang panjang, mengalami banyak hal, dan mungkin gadis ini takkan menghakiminya karena bersikap begitu kasar.

Yang mengejutkannya, gadis itu tersenyum. “Tepat sekali. Dan mereke jelas memberi kami reputasi yang buruk.” Ia mengulurkan tangan.”Aku Sunny.”

“Baiklah,” kata Gi Eun. “Aku Gi Eun.”

“Kau dipndahkan dari sekolah swasta Dover di New Hampshire.”

“Bagaimana kau bisa tahu” Gi Eun bertanya perlahan.

“Tebakan mujur?” Sunny mengangkat bahu. “Aku bercanda, aku membaca data dirimu, duh. Itu hobiku.”

Gi Eun menatapnya dengan pandangan ksong. Mungkin ia terlalu terburu-buru menilai gadis ini bisa dipercaya. Bagaimana Sunny bisa mendapatkan data dirinya?

Sunny menyalakan keran air. Ketika airnya sudah cukup hangat, ia mengisyaratkan Gi Eun agar menundukkan kepala di atas wastafel.

“Nah, masalahnya,” Sunny menjelaskan, “aku tidak benar-benar gila.” Ia mendongakkan Gi Eun dengan menarik kepalanya yang basah. “Jangan tersinggung.” Lalu menurunkan kepala Gi Eun lagi. “Akulah satu-satunya murid di sekolah ini yang tanpa surat pengadilan. Dan kau mungkin tidak memikirkannya, tapi menjadi orang yang waras menurut hokum ada keuntungannya. Contohnya, aku juga satu-satunya murid yang mereka percaya untuk menjadi ajudan kantor. Tindakan yang bodoh. Aku jadi puny akses ke berbagai hal rahasia.”

“Tapi jika kau tidak harus berada disini—“

“Kalau ayahmu petugas kebersihan halaman sekolah, mereka sepertinys wajib menyekolahkanmu secara Cuma-Cuma. Jadi…” Sunny tidak meneruskan.

Ayah Sunny petugas kebersihan halaman? Dilihat dari penampilan tempat ini, tidak terlihat sedikit pun dalam benak Gi Eun bahwa mereka sebenarnya punya petugas kebersihan halaman.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” kata Sunny, membantu Gi Eun membersihkan sisa kuah terakhir dari rambutnya. “Bahwa halamannya tidak bisa dibilang terawat?”

“Tidak,” Gi Eun berbohong. Ia sangat ingin tetap berada di sisi baik gadis ini dan lebih ingin memancarkan sinyal berteman daripada kelihatan peduli dengan seberapa sering rumpur dihalaman Swrod & Cross dipangkas. “Halamannya, hm, sangat rapih.”

“Ayah meninggal dua tahun lalu,” Sunny berkata perlahan. “Yang bisa mereka lakukan hanyalah membuatku terikat pada Kepala Sekolah tua itu, menjadikannya waliku, tapi, uh, mereka tidak pernah benar-benar mencari pengganti ayah.”

“Aku turut sedih,” kata Gi Eun, merendahkan suara. Jadi ada orang disini yang tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang begitu penting.

“Tidak apa-apa,” kata Sunny, menekan kondisioner ke telapan tangan. “sebenarnya ini sekolah yang sangat bagus. Aku senang seklai berada di sini.”

Kali ini kepala Gi Eun terangkat cepat, memuncratkan air ke ujung kamar mandi. “Kau yakin tidak gila?” godanya.

“Aku bercanda. Aku benci disini. Benar-benar menyebalkan.”

“Tapi kau tidak bisa meninggalkan tempat ini,” Gi Eun berkata, memiringkan kepala, penasaran.

Sunny menggigit bibir. “Aku tahu ini tidak normal, tapi kalaupun aku tidak terjebak dengan pak tua itu, aku tidak bisa pergi. Ayahku ada disini.” Ia mengisyaratkan ke arah pemakaman, tidak tampa dari sini. “Hanya dirinya yang kumiliki.”

“Jadi kurasa kau memiliki lebih daripada orang-orang lain di sekolah ini,” sahut Gi Eun, teringat pada Amber. Benaknya berputar kembali ke saat Amber menyambar lengannya di lapangan hari ini, pandangan penuh harap dalam matanya ketika ia memaksakan Gi Eun berjanji datang ke kamar asramanya malam ini.

“Ia akan baik-baik saja,” kata Sunny. “Bukan hari Senin namanya jika Sunny tidak digotong ke ruang kesehatan setelah serangan sawan.”

“Tapi itu bukan sawan,” bantah Gi Eun. “Tapi karena gelangnya. Aku melihatnya. Gelang itu menyetrumnya.”

“Kami punya definisi sangat luas tentang apa yang disebut ‘serangan sawan’ di Sword & Cross. Musuh terbarumu, Jin Hee? Ia banyak mengalami serangan sawan yang melegenda. Mereka selalu bilang akan mengganti obatnya. Semoga kau mendapat kesempatan menyaksikan setidaknya satu serangan hebat sebelum mereka melakukannya.”

Pengetahuan Sunny luar biasa. Terbesit dalam benak Gi Eun untuk menanyakan kisah Lu Han, tapi rasa tertariknya yang besar dan rumit pada Lu Han mungkin sebaiknya tetap pada tahan ingin tahu dulu. Setidaknya hingga ia bisa mencari tahu sendiri.

Ia meraskan tangan Sunny memeras air dari rambutnya.

“Sudah selesai,” kata Sunny. “Kurasa akhirnya kau sudah tanpa daging.”

Gi Eun menatap cermin dan menyisirkan jemari ke rambut. Sunny benar. Selain luka emosi dan rasa sakit pada kaki kanannya, tidak ada lagi bekas pertengkarannya di kantin dengan Jin Hee tadi.

“Aku lega kau berambut pendek,” kata Sunny. “Jika masih sepanjangn foto data dirimu, ini akan menjadi operasi yang lebih lama.”

Gi Eun ternganga. “Aku harus mengawasimu baik-baik ya?”

Sunny melingkarkan lengannya ke lengan Gi Eun dan membimbingnya ke luar kamar mandi. “Cukup tinggal di sisi, baikku, maka takkan ada yang terluka.”

Gi Eun menatap Sunny dengan tampang khawatir, tapi wajah Sunny tidak menunjukkan apa-apa. “Kau bercanda, kan?” kata Gi Eun.

Sunny tersenyum, tiba-tiba riang. “Ayo, kita harus masuk kelas. Kau lega kan kita masuk blok sore yang sama?”

Gi Eun tertawa. “Kapan kau akan berhenti tahu segalanya tentangku?”

“Tidak untuk jangka waktu yang bisa diramalkan,” kata Sunny, menariknya kea rah aula dan kembali ke bangunan kelas yang berbentuk kubus kelabu. “Kau akan belajar menyukainya, aku janji. Aku teman yang sangat berkuasa.”

 

To Be Continue

 

Buat yang udah baca part ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo^^

Iklan

6 pemikiran pada “Fallen (Chapter 2B)

  1. Yahh, pendek thor, cerita nya sih udah seru …

    Kaya nya klo jadi murid baru di Sword & Cross bakal linglung n cepet tersesat, klo ga pinter2 pilih pegangan(?), hahaha

    Lanjut ke chapter selanjut nya thor (gtw 2C ato 3A, maka nya ga nyebutin chapter brp, kn sotoy, haha)

  2. Lanjutttt thor!
    Ceritanya agak sulit dipahami. Novel terjemahan yg pake british english emang kalo ditranslate ke bahasa jadi aneh ceritanya -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s